3.3.17

اللغة العربية - Raja Salman

Sengaja kata-kata yang menjadi judul tulisan ini, saya bedakan. Satu berbahasa Indonesia, satunya lagi berbahasa Arab. Setidaknya, agar mulai saat ini kita terbiasa dengan bahasa arab. Walaupun, sebagai seorang muslim, hendaknya bahasa arab bukan lagi bahasa asing. Toh, setiap hari ada lima kali setidaknya kita ber'cakap-cakap' dengan Tuhan menggunakan bahasa ini. Dimana negeri yang membolehkan shalat pakai bahasanya sendiri selain bahasa arab?

Jika beberapa tahun lalu saya bicara tentang 'bahasa arab', sebagian orang hanya akan menilai, hal ini sebagai bentuk ketidak puasan terhadap perlakuan yang diterima. Hanya terzalimi sistem, begitu saja. Barangkali hari ini, awal Maret tahun 2017 ini, tidak lagi demikian. Ya, barangkali. Kemungkinan pertama tetap saja masih ada. Walaupun, tinggal sedikit yang berpikiran demikian. Semoga saja.

Sebagai contoh, jangan jauh-jauh lah... atasan saya saja. Saat menghadap, hari pertama ditugasi di tempat saya bekerja, atasan saya justru berkata: "Barangkali pemerintah berpikir akan ada kerja sama ke Arab. Anak SMK kerja ke Arab, makanya ada bahasa arab di SMK."
Kalimat ini terucap sekitar tahun 2011. Dan tahun ini, saat siswa-siswa saya (yang pernah sedikit mengenal bahasa arab) itu telah berada di dunia kerja, mereka mampu memahami, dan walaupun sekedar berucap "ahlan wa sahlan, afwan, syukran, syekh, sayyid," dan percakapan sederhana lainnya. Di samping, mestinya ada perubahan bacaan shalat yang dilaksanakannya setidaknya lima kali dalam sehari. Kondisi siswa tamatan SMK ini, tentu lebih 'ramah', komunikatif dan 'lebih dekat' dengan konteks kunjungan King Salman ke Indonesia hari ini.

Lebih lanjut kita mengikuti informasi di media, bahwa kedatangan King Salman ini tak lepas dari tujuan kerjasama dalam segala bidang. Selain bersama memerangi terorisme dan radikalisme, bentuk kerjasama yang ingin diciptakan adalah di bidang pendidikan kebudayaan. Kabarnya ada sebelas nota kesepahaman (yang semoga saja berwujud MoU kerjasama itu), antara RI dengan Saudi Arabia. Dan, mengingkari adanya kemitraan Indonesia dengan Saudi Arabia, bagaikan mengingkari matahari di siang hari, demikian perumpamaannya kata King Faisal.

Pendidikan Kita Mesti Ramah Berbagai Bahasa Asing

Bahasa Arab dan kedatangan King Salman hari ini adalah contoh sederhana, bahwa pendidikan vokasi/ kejuruan perlu ramah terhadap bahasa asing. Setidaknya, tiga bahasa asing selain bahasa Inggris. Maksud saya, bukan setiap siswa menguasai bahasa itu keseluruhan, tidak. Tapi mereka mengenal dan merasakan dzuq berbahasa itu. Kelas sepuluh SMK perlu kenal tiga bahasa asing yang dekat dengan vocational yang mereka tekuni. Bahasa Jepang misalnya, atau Perancis, atau Mandarin, atau Korea, Belanda dll.

Saya pikir, anak-anak yang telah memilih sekolah kejuruan, tak akan kesulitan mengenal, menerima dan memperoleh bahasa kedua, ketiga dan seterusnya karena konsep dan sifat kreatif yang sudah melekat pada diri mereka. Tentu saja, jika berharap mereka menguasai, ya tak akan cukup dalam pertemuan dua kali semester. Toh, belajar bahasa Inggris sejak SD pun tak memperlihatkan hasil yang memuaskan jika hanya berpatokan pada pendidikan formalnya. Setidaknya, ada dzuq itu tadi. Dengan mudah, mereka bisa mendalami bahasa asing apapun yang mereka inginkan dan mereka sukai.

Saya screenshot salah satu berita online dengan judul yang menarik ini. "Kunjungan Raja Salman, Bali Belum Punya Pemandu Wisata Berbahasa Arab".





Tak perlu heran juga dengan realita sebagaimana yang terjadi hari ini. Apakah, selama ini kita kekurangan orang-orang dengan kualitas cakap berbahasa Arab? Tidak. Kita tak sedang mencari jarum di tumpukan jerami. Mungkin kita hanya mencari kambing ke kandang bebek. Ya, tak bersua. Ada banyak ma'had yang telah mewisuda mahasiswanya cakap berbahasa arab. Bahkan lembaga pendidikan khusus bahasa arab pun di Indonesia ada.

Dimana persoalannya? Saya berkesimpulan, beberapa hal ini memiliki keterkaitan satu sama lain.
Pertama, dunia pariwisata kita belum memandang perlu adanya bahasa arab sebagai skill dasar bagi pemandu wisata. Hal ini sebaiknya menjadi perhatian bagi pemerintah daerah yang akan mengembangkan wisata dengan istilah kita hari ini, "Wisata Halal Dunia", seperti Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. Gubernur dua daerah ini cukup paham akan hal ini, saya kira.

Kedua, selain pariwisata, perhatian terhadap keagamaan dan keberagamaan dalam dunia politik akhir-akhir ini menjadi hal yang sensitif. Maka, bila seorang pemimpin benar-benar menginginkan rakyatnya ber-Islam dengan baik, mulailah memperbaiki generasi muda. Ingin anak-anaknya shalat yang benar, bantulah memperbaiki bacaannya. Ingin mereka paham, mengerti dan peduli, ajarkan bahasa agamanya. Soal agama, jelas berkaitan dengan pendidikan.




Ketiga, Jauhkan dikotomi ilmu pengetahuan. Bahwa 'Bahasa Arab' adalah bahasa IAIN, madrasah atau pesantren, itu tidak lagi relevan. Dengan tujuan bahasa Arab selain sebagai bahasa internasional kedua, bahasa arab bahasa agama Islam, bahasa ini juga merupakan bahasa ekonomi, politik dan budaya. Jika bisa kita beri hukum wajibnya mahasiswa IAIN memahami bahasa Arab, apapun jurusannya, maka hukum itu menjadi dianjurkan pada jurusan-jurusan ekonomi, hubungan internasional, pariwisata, dan ilmu sosial lainnya. Pun demikian juga dengan sekolah-sekolah kejuruan. Arus globalisasi dan berpikir moderat mengantarkan bangsa-bangsa pada taraf berpikir dan pergaulan yang maju. Tak ada lagi yang terpinggirkan. Selagi ada nilai ekonomis, semua negara memiliki harga diri yang sama. Dulu sensi, sekarang selpi. Dulu anti, malah 'cie ciee' hari ini. *begitulah..

Keempat, Perubahan yang begitu cepat di negara ini, seiring dengan pergantian pejabat, pemimpin, penguasa dan isi kepalanya masing-masing, menuntut kita harus berdiri dengan kaki-kaki hukum. Apapun kebaikan yang tak ada standar hukumnya, menjadi termansukhkan oleh kebijakan yang datang kemudian. Maka apapun yang hendak kita ubah, ubahlah lewat sistem. Berteriak dari luar pagar, kadang tak memberi arti apa-apa pada si pemilik rumah. Terlalu tinggi sekat yang dibuatnya, mungkin. Tapi, bertamulah dengan hormat, elegan berpendapat, ikuti aturan main, dan bermain sesuai aturan, idealnya kebaikan-kebaikan bisa tersalurkan. *ehh..eh, ini apa maksudnya. :D

Eniwei, semua ini hanya cuap-cuap dan luapan kebanggaan saya sebagai rakyat Indonesia.
Saya bangga punya Presiden yang memuliakan tamunya, semoga senantiasa dilimpahi hidayahNya.
Saya hormat dan bangga pada Raja Salman, *terselip pesan: ada banyak pesan-pesan dari lubuk hati terdalam kami ummat Islam lewat spanduk-spanduk itu ya Malik Salman, :D dan semoga senantiasa dalam rahmat Allah swt.

أهلا و سهلا

** BIG Jempol buat Republika. Emang wokeh lah, halaman satunya, ga ada tandingan. Pake bahasa arab sih..

قدوما مباركا يا خادم الحرمين


28.2.17

Bagaimana Jika Saya Nikah dengan Pasangan Beda Agama?




Salah satu mata kuliah saya saat ini, adalah Masail Fiqhiyah. Saya lalu mendapat bagian pembahasan makalah terkait pandangan fiqh klasik dan sistem perundang-undangan Indonesia tentang kawin beda agama ini. Lebih khsususnya perkawinan antara muslim dengan non muslim. 

Setelah diskusi, saya ingin menulis di sini dengan judul “bagaimana jika saya kawin dengan pasangan beda agama?”, agar pembahasan ini menjadi sedikit sederhana. 

Oke, mari kita duduk-kan perkaranya satu per satu dulu.
  1. Beda agama dalam konteks ini, perlu dipahami terlebih dahulu. Dalam Alquran,  term digunakan adalah:
    1. Musyrik; Dalilnya adalah al Baqarah ayat 221. Mengacu ke ayat ini, jelas pria dan wanita muslim haram hukumnya kawin dengan orang musyrik.
    2. Kafir;  Dalam surat Al Mumtahanah ayat 10 disebutkan larangan kawin dengan orang kafir.
    3. Ahl kitab; Fiqh klasik berdasarkan surat Al Maidah ayat 51 disebutkan kebolehan kawinnya pria muslim dengan perempuan ahli kitab.
Ahl kitab adalah umat yang memeluk agama yang telah diturunkan sebelum Al Quran. Ahli kitab adalah Nasrani dan Yahudi.
Terdapat perbedaan pendapat, apakah Nasrani dan Yahudi hari ini, tergolong ahli kitab? Apakah keyakinan terhadap ‘tauhid’ masih bisa diukur dengan kitab suci yang dijadikannya patokan sekarang? Apakah masih ada yang terjaga keimanannya, sebagaimana agama itu diturunkan dahulu? Baiklah, kita tak akan berlama-lama dalam perdebatan siapa ahli kitab hari ini.
Kita hanya akan bicarakan, ‘kalaupun, nasrani Indonesia hari ini adalah ahli kitab, apa hukumnya pria muslim kawin dengan wanita Nasrani?’

  1. Dasar hukum Islam di Indonesia, salah satunya adalah Kompilasi Hukum Islam. Di dalam KHI dengan tegas disebutkan larangan menikahnya umat Islam dengan non Muslim.
Lalu, apakah dengan begitu, KHI tidak sesuai dengan Al Quran? Kenapa KHI melarang, sementara dalam fiqh klasik saja, boleh hukumnya pria muslim menikahi wanita ahl kitab.
Yang pertama, larangan kawin dalam KHI disebutkan dalam beberapa teks.
a.        “perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.”
b.      Pasal 40 point c, “dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam.”
c.  Kemudian dalam pasal 44 dinyatakan bahwa seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam.

Ini artinya, KHI benar-benar menutup peluang kawin dengan non muslim.
Jika saya adalah seorang perempuan muslim, maka tak ada satu celah pun bagi saya untuk menikah dengan/dinikahi oleh pria non muslim.
Jika saya pria? Saya ingin menikah dengan seorang wanita baik-baik (muhshanat) dari umat Nasrani (anggaplah ia ahl kitab). Bagaimana fiqh kontemporer memandangnya?

  1. Contoh kasus, dulu, ada kemungkinan kawinnya muslim dengan non muslim, melalui aturan ‘perkawinan campuran’, yang dianggap makna campuran itu, selain berbeda bangsa/kewarganegaraan, juga berbeda agama. Maka dengan alasan ini, ada yang berdalih untuk menikah beda agama.
Argumentasi yang dipakai adalah, pasal 57 tentang perkawinan campuran, yang menitikberatkan pada dua orang  di Indonesia yang tunduk pada hukum berlainan. Artinya, pasal ini juga mengatur perkawinan antara dua orang yang berbeda agama.
Jika agamanya, Islam, hal ini lebih lanjut diatur dengan : Ditolaknya permohonan kawin yang diajukan oleh pasangan beda agama (muslim dengan non muslim) di Kantor Urusan Agama. 

Sementara pada pasal 10 Peraturan Pemerintah No.9/1975 dinyatakan bahwa, perkawinan baru sah jika dilakukan di hadapan pegawai pencatat nikah dan dihadiri dua orang saksi. 

“Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk.”
Maka, dengan teks ini, jika pasangan beda agama yang salah satunya muslim, akan menikah, tak ada jalan selain salah satunya mengikut untuk tunduk dinikahkan menurut ajaran salah satu agama. 

Dari hal ini, dapat dilihat kualitas keberagamaan pasangan tersebut. Islam melarang kawin dengan non muslim sesuai Al quran surat Al baqarah 221. Sedangkan dalam ajaran Kristen juga ada larangan kawin beda agama (II Korintus 6: 14-18).

Maka pandangan fiqh kontemporer terhadap hal ini adalah:
1.      Kaidah fiqh
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
‘dar ul mafaasid, muqaddamun ‘ala  jalbil mashaalih’
mencegah kerusakan lebih diutamakan dari mencari kebaikan.

Tak dapat dipungkiri,  kecendrungan setiap pemeluk agama, ingin berdakwah untuk agamanya masing-masing. Dalam konteks pria muslim dengan wanita nasrani, kemungkinan dakwah memang ada. Tapi tak ada jaminan bahwa benar yang didakwahi akan sampai hidayah kepadanya.  Sementara, kemudharatan/kerusakan yang ditimbulkan oleh keputusan tersebut, berefek/berdampak terhadap banyak hal. 

Diantaranya adalah tujuan menciptakan keluarga yang memberi ketenangan (sakinah) sulit terwujud dalam rumah tangga yang memiliki tingkat perbedaan yang tinggi. Apakah lagi, perbedaan keyakinan. Dampak psikologis dan pendidikan yang akan dialami anak ke depannya, faktor sosial lingkungan keluarga, dll, adalah kerusakan-kerusakan yang mungkin ditimbulkan. 

Maka sesuai kaidah ushul ini, lebih diutamakan mencegah kerusakan daripada mencari satu kebaikan saja.

Hal ini sejalan dengan Fatwa MUI tanggal 1 Juni 1980, yang mengharamkan kawin beda agama. “setelah mempertimbangkan bahwa mafsadahnya lebih besar daripada maslahatnya, MUI memfatwakan perkawinan tersebut hukumnya haram”. 

2.      Dalam Islam, ada namanya maqaashid syariah. Dalam konteks nikah beda agama, dengan dikhawatirkannya kerusakan agama ini, bertentangan dengan prinsip maqaashid syariah, yaitu Menjaga Agama.

3.   Saad azzariah, sebagai salah satu metode istinbath hukum dalam Islam, dengan menutup jalan yang berpotensi menimbulkan kemudharatan. Hal ini dianggap sebagai tindakan preventif dalam menjaga Islam, dan diri ummat dari berbagai kemungkinan kemudharatan yang ada.

Maka, jika saya adalah penganut yang taat pada agama saya, (dalam hal ini, Islam), tentu saya akan mempertimbangkan segala kajian fiqh kontemporer ini. Saya tak mampu memikirkan dengan nalar pribadi, memahami maksud ayat dengan penafsiran sendiri, atau menduga-duga, ‘kenapa ayat menjadi kontradiktif dalam penetapan hukum, di sini dibolehkan, di ayat lain justru dilarang’.

Dan, sekalipun ada juga yang kemudian menikah beda agama, baik dengan tunduk pada salah satu agama, --walaupun untuk sementara--, atau, dilakukan juga menurut dengan agama masing-masing, atau menikah di luar negeri, atau.. atau lainnya, maka jelas sudah.. telah tertutupnya pandangan keislaman –hati dan nalar- saya. Dan mengutamakan ‘sesuatu yang tak berarti lebih abadi’ itu.

8.2.17

Trip Sehari ke Bintan

Welcome to Bintan! 
Yeye..akhirnya saya mendarat di pulau terbesar di antara 3000 pulau yang termasuk dalam daerah Riau Kepulauan. Akses yang dipilih menuju Bintan saat itu adalah menggunakan kapal Roro (Roll On Roll Off) dari pelabuhan Telaga Punggur, Batam. Sedangkan untuk kembali, dari Bintan ke Batam, kami (saya dan beberapa teman) menggunakan speedboat. 

Ini dia, kak Ve!
Jam tujuh pagi kami sudah sampai di pelabuhan Telaga Punggur. Maklum, karena saat itu, saya bukanlah murni sebagai pengunjung, turis, atau traveler bebas lah. Saat itu, saya ikut serta tim/rombongan trip yang dikelola kakak angkat di sana. Jadinya, harus cepat-cepat sampai, lalu ikut kakak - mari kita sebut saja, kak Ve-, memastikan tiket untuk 80 orang rombongan yang telah disepakatinya dengan agen travel daerah lain sebelumnya.
Nah, tentu saja saya ikut. Ikut-ikutan kesana kemari. Ikut juga diplomasi -yang ga bisa dikatakan diplomasi juga sih, karena petugas pelabuhan di sana sudah kenal semua dengan kak Ve-. Setelah memastikan peserta trip naik kapal, kami ikut naik kapal. Di sini, saya memilih berpisah dengan kak Ve.. saya mau menikmati suasana, mencari spot terbaik, duduk atau cari tempat pegangan yang tepat. haha. *beginilahh orang darat main ke pulau. :D 

Biasanya, kalau pakai kapal Roro, katanya kita butuh waktu satu jam perjalanan. Kita, kelamaan waktu itu menepi, karena harus nunggu kapal lain jalan dulu, yang masih parkir di pelabuhan Tanjung Uban Bintan. Kalau pakai speed, hanya butuh waktu 20 menitan. Selain beda waktu itu, juga beda harga, beda rasa. Saat hendak balik sore, cuaca lumayan gelap, hampir hujan. Dan menurut informasinya, ombak lagi tinggi. Ngeri juga rasanya diombang-ambing air di tengah laut dalam speed. Bikin pusing.

Oke, tujuan trip di sana adalah kolam renang terpanjang se Asia Tenggara (Treasure Island), Gurun Pasir, Lagoi Bay dan kulinernya. Di Bintan sebetulnya masih ada tujuan wisata lainnya, seperti Patung Seribu, Pantai Trikora, Nirwana resort, tapi kita ga jalan ke sana karena hanya sehari jalan. 

*Treasure Bay Bintan
 Inilah paket wisata air kekinian -katanya termegah se Asia Tenggara- yang berada di Bintan. Dia adalah kolam renang yang dikonsep menyerupai pantai. Air yang biru, dipadu dengan "pasir putih buatan" -sepertinya dari bahan fiber- yang bikin mata silau kalo tengah hari, disambung dengan pasir pantai beneran, yang ditata di sana pepohonan pantai dan area serta fasilitas buat berjemur, kursi pantai, payung-payung,dan tenda-tenda. 
Selayaknya wahana bermain di air, disini juga disediakan berbagai fasilitas. Mulai dari balon air, wahana water sport, donat tubing aneka rupa, kapal bertenaga surya dll. Di sekitar kolam renang, kita bisa menggunakan scooter berkeliling, disiapkan juga area bermain segway.  Dan tentunya, ada harga yang mesti dibayar untuk semua fasilitas tambahan itu. Secara umum, tarifna berkisar di 40ribu hingga 300ribuan per 30 atau 15 menit. 
Treasure Island




Ini loh, kolam renang terpanjang itu. Menyerupai laut ya. Padahal buatan loh.. buatan..

*Gurun Pasir
Ini adalah area bekas tambang, yang dikelola masyarakat setempat seakan adalah gurun pasir. Di sana disedikan juga onta-onta buatan (2 dimensi) untuk berfoto. Pengelolaannya masih sangat sederhana. 

*Lagoi Bay
 Berbeda dengan nuansa saat berada di Treasure Bay tadi, di Lagoi Bay, ini beneran pantainya. Bukan kolam renang, bukan pepasir putih fiber. Sekilas saya melihat tak ubahnya pantai ini dengan pantai-pantai yang ada di Sumbar, apalagi kawasan wisata di Pesisir Selatan yang juga cantik. Tapi bedanya ada pada taman yang tertata di sekitar pantai, area parkir yang gratis dan luas, petugas keamanan yang keren, dan pusat hiburan anak-anak dan perbelanjaan -Lagoi Bay Mall- yang dibangun gagah di sekitar pantai. Selain itu, ada Danau (sepertinya buatan sih) dan hotel -Swiss Bel Hotel Lagoi Bay- juga. 

Lagoi sepertinya bisa jadi pilihan menarik untuk wisata pantai di kawasan Batam, Bintan dan sekitarnya. Karena pengelolaannya yang lebih profesional, tampilan lebih modern, memberi warna internasional di pantai lokal ini.

Ada sewa jetski, kayak dan kano juga
Mumpung masi suasana imlek, banyak warna merah beredar di sini
Selpii
Saran saya, kalo jalan sendiri (atau berdua), maksudnya ya ga gabung sama agen travel, kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
* Informasi tiket. Dari Telaga Punggur ke Tanjung Uban, lebih hemat waktu naik speed. Pastikan saat beli tiket, kamu telah berada di bagian tiket dan pelabuhan yang tepat. Bukan di Roro.
** Kapal berangkat setiap setengah jam. Jadi, sepertinya ga masalah mau menyebrang jam berapa pun. (kalo cuaca aman ya). Asal ga ketinggalan kapal, kita pas mau balik, ga perlu beli atau booking tiket dulu, karena kita bisa bayar di speed langsung. 
*** Oya, transportasi selama di Bintan, boleh ditetapkan sejak awal. Karena akses kemana-mana bakalan susah tanpa kendaraan pribadi, dan tarif ojek di sana mahaall beut. Lebih baik sewa motor atau mobil, harganya standar juga kok. 

Dan, ini beberapa dokumentasi saya.
Pastikan pengunjung nyaman dulu
Berpose di depan bus para wisatwan.
*saya nyamar sbg co-tour leader lah kali ini. haha

Melaut kita lagi.. :)

30.1.17

Perjalanan

Memang tak pernah terpikirkan sebelumnya akan menempuh perjalanan itu. Jalan, yang sedari awal tak pernah dipilih, sebelas tahun lalu. Dan kemarin, adalah hari pertama langkah ke arahnya dimulakan. Bagaimana kemudian kesudahannya, kita juga belum bisa prediksi.

Haha, bingung? Saya hanya bercerita soal kuliah S1 kedua ini. Baru sehari belajar. Rasanya nano-nano. Memantik api tauhid di hati. Bahwa, benarlah apa yang selama ini rukun iman tersebut-sebut ada enam itu, adalah fondasi semua aktifitas kita di dunia ini.

Bukankah kita percaya bahwa Tuhan hanya satu. Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Bagaimana mungkin zat yang pantas -dan hanya satu-satunya yang pantas- disembah itu memiliki anak? Sedangkan Dia menciptakan -dari sesuatu yang tidak pernah ada, lalu menjadi ada-, yang akan dianggap sebagai anaknya itu? Ya, ya. Tak ada Tuhan selain Dia. Karena itulah hanya Dia-lah Illah yang patut disembah.

Keyakinan kepada malaikatNya, kepada para utusanNya di bumi, Nabi dan Rasul itu adalah keyakinan yang menuntut adanya perbaikan pada diri orang yang berserah diri (untuk itu), dalam kesehariannya. Kalo bukan karena yakin ada malaikat yang ngikutin terus, ga ada rasa bersalah untuk sekedar menyimpan hal-hal yang 'tak jelas' di rumah. Toh itu adalah rumah kita. Ga ada manusia yang tau kan. Tapi, malaikat yang kita yakini itu -menurut keyakinan kita- akan enggan mendekat. Atau, yakin akan dimudahkan dalam belajar, ketika terbayang, bahwa malaikat akan membentangkan sayapnya kepada orang yang terus belajar. Kabar dan risalah-risalah itu sampai secara bersambung hingga kini, karena ada utusan Pencipta itu. Nah, itu ada dimana di fisik kita ini? Otak? Atau hati?

Bahwa dengan meyakini segala yang tertakdir adalah bentuk perjanjian kita sejak dulu kepada Tuhan, memberi kekuatan menjalani hidup yang tak lama ini. Bila ini sedemikian rumitnya, berat, berlikunya, Tuhan sudah tetapkan begitu, karena dipercaya mampu.

Ohya, jika kalian berpikir saya menyoal rukun iman ini seperti pelajaran anak SD, yang baru belajar agama, mungkin sesekali kalian perlu melakukannya. Tanya lagi hati, dimana Allah dalam hati kita. Tanya lagi kenapa perlu ada malaikat, para nabi, peringatan tentang hari esok (hari semua kebaikan dihitung, ditimbang, dikasi reward dan punishment) dan perkara ketetapan Tuhan itu. Bertanyalah, agar kita memikirkannya. Buat apa? Buat merefresh keyakinan. Karena ada masanya keyakinan itu menguat, ada kalanya melemah. Iman, yang terkadang naik tersebab amalan dan terkadang turun karena kemaksiatan.

Sebagian kawan bertanya, apa yang ada di pikiran saya, mau-maunya kuliah lagi, di saat sudah bekerja,  sudah belajar lebih pula satu bidang -dasarnya-, kini mau buang-buang waktu, pikiran dan uang (lagi)? Kurang kerjaan. Hhm, mereka hanya tak mencoba menjadi saya, walau sehari. Haha. Bisakah kalian bayangkan, menjadi saya?

Kamu adalah saya. Mengajar di SMK dengan program keahlian teknologi informasi. Setiap hari kamu disibukkan dengan: belajar otodidak tentang keterampilan komputer (dasar2 sih, hihi), lalu mengajarkannya. Ya, mengajarkan itu semua, yang baru beberapa hari lalu kamu pelajari, di kelas, kepada siswa yang, yaaaa...sebagiannya lebih dulu tau dibanding kamu. (Sebagian.) Karena mereka telah belajar yang lebih rumit di tingkat sebelumnya. Nah, giliran ada hal-hal tak diduga di kelas, kesalahan ini, error ini, itu, kamu (pastilah..) panik, seperti kamu sedang zoom out dari kehidupan ini.

Kamu adalah saya. Yang empat tahun lalu ber-situngkin belajar tentang XX, yang ternyata hingga hari ini, tak berkesempatan menceritakan ulang, membagi tau, mengeksplor lagi, yang sudah kamu fokus dulu itu. Hari-hari kemudian adalah, melakukan hal baru, hal baru, hal baru. Bertemu kawan baru, dunia baru, dan aktifitas baru. Kadang, kita bukan tak butuh hal baru itu, tapi kita merasa belum ingin meninggalkan hal lama, belum ingin berpindah lebih tepatnya. *bukan belum move on, #eh!  Pernah begitu?

Nah, kalau gitu, kamu mau menjadi saya, walau sehari? Ayolah, kita bertukar peran. Mana tau saya ternyata adalah kamu yang tersesat di kehidupan ini. *hahaa, efek inih, efeek K-D****

Riilnya, semua ini dari hari ke hari adalah seperti perjalanan yang tidak bisa kita tebak kesudahannya. Kita hanya melewati, lalu menemukan makna kata "ohh " "ouu.."dan "owhhh". Tidak ingin terjebak menjadi hamba yang: meminta datang waktu sore, ketika hari masih pagi. Meminta disegerakan waktu-waktu. Seperti dalam kitab suci, keinginan sekelompok manusia yang ingin disegerakan baginya balasan, padahal hanyalah demi sebuah penyesalan. Menyesal: ia telah membiarkan semua berlalu sia-sia. *ini juga saya menghindari kesia-siaan.. menuliskan ini karena tak bisa tidur. haha

Dalam sebuah zikir pagi, seharusnya kita bisa ingat (dan sadari), kita baca tiap hari, semoga berefek dalam melalui 'perjalanan' ini. *lebih ngefek dong, dibanding K-D td..

"Kami telah memasuki wakatu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Illah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagiNya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Rabb ku, aku mohon kepadaMu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahny. Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelakan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur."
 Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan. Kalo kata om Ebiet G Ade sih begitu. Tapi tidak bagiku Kawan. Perjalanan ini biarlah menjadi catatan yang enggan terbuang di nimiasata saja. Tak perlu ada engkau di sini, Kawan. Karena kehidupanmu, mungkin saja tak lebih sederhana dari perjalananku ini. Hanya saja, kami tak tau (dan tak kau bagi tau). ya kan.. kan..

Wah. Ayam-ayam di sini mulai berkokok. *bukan fire rooster ya, bukan ayam elektrik juga, ini asli. Ori ayamnya, eh tapi bukan K*C juga lah. Pertanda pagi menjelang. Pertanda, saya harus kumpulkan sisa-sisa 'senjata'  masuk kelas tiga jam lagi. Mungkin sekian tahun lagi saya tak lakukan hal serupa. Mungkin sebulan lagi saya ga ngajar 'ini' lagi, atau mungkin besok tiba-tiba ada yang berbaik hati menggantikan saya masuk kelas. Haha. Iya, mana tau. Siapa yang bisa pastikan kehidupan setelah ini. O-saya maunya setahun lagi tetap di sini-begini lah. Tahun depan aja mutasi nya. O-saya mau terus belajar lah,, ga mau kerja. #hek. Tuhanmu adalah Tuhanmu. Tuhanku adalah yang mengaturku. Tuhan kita sudah merencanakan segalanya. Ga bakalan terjadi sesuatu pun, tanpa campur tanganNya. Dan kamu (saya) mau berlepas diri?

Yaa Hayyu ya Qayyum. Birahmatika astaghiis. Ashlih lii syakni kullahu. wa laa takilnii ila nafsi tharfata 'ain.
"Wahai Tuhan yang Maha Hidup, Yang Maha berdiri (sendiri, tak butuh segala sesuatu) dengan rahmatMu aku meminta pertolongan, perbaikilah urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dariMu).

Ya,, selamat pagi. Semoga ga pusing saat upacara.  :D

Catatan Tentang Perubahan CP PAI dari BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 ke BKPDM Nomor 020 Tahun 2026

Literasi Al-Qur'an Jangan Terlupakan dalam Capaian Pembelajaran PAI Pembaruan Capaian Pembelajaran (CP) Pendidikan Agama Islam melalui K...