Showing posts with label trip. Show all posts
Showing posts with label trip. Show all posts

16.5.17

On-The Mandeh!

Mungkin sedikit terlambat, di Nimiasata ada tulisan On The Mandeh ya. Tak apa,, kata orang biar terlambat, daripada tidak sama sekali. 
Awal Mei ini saya bersama kawan di sekolah, jalan ke Mandeh. 
Kawasan Mandeh merupakan paket komplit penyuka wisata bahari. 
View yang tampak dari Puncak Mandeh sungguh memanjakan mata. Tak heran, bila ia disebut-sebut sebagai Raja Ampat-nya Sumatera Barat. 

Dari Kota Padang, kita menempuh perjalanan sekitar 1 jam perjalanan. 
Tak jauh dari gerbang masuknya, akan banyak ditemui agen-agen sewa perahu. 
Dari tempat sewa perahu itu, butuh waktu sekitar 10-15 menit melalui jalur sungai untuk sampai laut. 
Di sisi kiri dan kanan anak sungai itu, ada tanaman bakau dan tanaman pesisir lainnya. 

Ada banyak pulau yang bisa dilihat, atau bahkan didatangi pengunjung ke Kawasan Mandeh ini. 
Di anataranya adalah Pulau Sironjong, Pulau Pagang, Pulau Sulthan/Setan, dan Pulau Marak. 
Ada juga Pulau Sikuai, dan beberapa pulau lain yang sepertinya akses ke sana cukup terbatas. 

Kami sempat mendaki puncak di Pulau Setan itu. Namanya Puncak Puvy. Barangkali sudah disiapkan sebagai salah satu spot berfoto bagi pengunjung. Dari pulau ini, perjalanan dilanjutkan ke pulau lain, yang air disekitarnya tidak terlalu dalam. Lumayan banyak ikan, terumbu karang dan biota laut lainnya. 
Sebagian teman saya snorkeling di pulau ini. Sayangnya, saya belum coba. Mungkin lain waktu ke sana lagi. Hehehe.

Karena cuaca yang kurang bersahabat, tak banyak yang bisa dilakukan, juga tak begitu 'rancak' diabadikan. 
:)

8.2.17

Trip Sehari ke Bintan

Welcome to Bintan! 
Yeye..akhirnya saya mendarat di pulau terbesar di antara 3000 pulau yang termasuk dalam daerah Riau Kepulauan. Akses yang dipilih menuju Bintan saat itu adalah menggunakan kapal Roro (Roll On Roll Off) dari pelabuhan Telaga Punggur, Batam. Sedangkan untuk kembali, dari Bintan ke Batam, kami (saya dan beberapa teman) menggunakan speedboat. 

Ini dia, kak Ve!
Jam tujuh pagi kami sudah sampai di pelabuhan Telaga Punggur. Maklum, karena saat itu, saya bukanlah murni sebagai pengunjung, turis, atau traveler bebas lah. Saat itu, saya ikut serta tim/rombongan trip yang dikelola kakak angkat di sana. Jadinya, harus cepat-cepat sampai, lalu ikut kakak - mari kita sebut saja, kak Ve-, memastikan tiket untuk 80 orang rombongan yang telah disepakatinya dengan agen travel daerah lain sebelumnya.
Nah, tentu saja saya ikut. Ikut-ikutan kesana kemari. Ikut juga diplomasi -yang ga bisa dikatakan diplomasi juga sih, karena petugas pelabuhan di sana sudah kenal semua dengan kak Ve-. Setelah memastikan peserta trip naik kapal, kami ikut naik kapal. Di sini, saya memilih berpisah dengan kak Ve.. saya mau menikmati suasana, mencari spot terbaik, duduk atau cari tempat pegangan yang tepat. haha. *beginilahh orang darat main ke pulau. :D 

Biasanya, kalau pakai kapal Roro, katanya kita butuh waktu satu jam perjalanan. Kita, kelamaan waktu itu menepi, karena harus nunggu kapal lain jalan dulu, yang masih parkir di pelabuhan Tanjung Uban Bintan. Kalau pakai speed, hanya butuh waktu 20 menitan. Selain beda waktu itu, juga beda harga, beda rasa. Saat hendak balik sore, cuaca lumayan gelap, hampir hujan. Dan menurut informasinya, ombak lagi tinggi. Ngeri juga rasanya diombang-ambing air di tengah laut dalam speed. Bikin pusing.

Oke, tujuan trip di sana adalah kolam renang terpanjang se Asia Tenggara (Treasure Island), Gurun Pasir, Lagoi Bay dan kulinernya. Di Bintan sebetulnya masih ada tujuan wisata lainnya, seperti Patung Seribu, Pantai Trikora, Nirwana resort, tapi kita ga jalan ke sana karena hanya sehari jalan. 

*Treasure Bay Bintan
 Inilah paket wisata air kekinian -katanya termegah se Asia Tenggara- yang berada di Bintan. Dia adalah kolam renang yang dikonsep menyerupai pantai. Air yang biru, dipadu dengan "pasir putih buatan" -sepertinya dari bahan fiber- yang bikin mata silau kalo tengah hari, disambung dengan pasir pantai beneran, yang ditata di sana pepohonan pantai dan area serta fasilitas buat berjemur, kursi pantai, payung-payung,dan tenda-tenda. 
Selayaknya wahana bermain di air, disini juga disediakan berbagai fasilitas. Mulai dari balon air, wahana water sport, donat tubing aneka rupa, kapal bertenaga surya dll. Di sekitar kolam renang, kita bisa menggunakan scooter berkeliling, disiapkan juga area bermain segway.  Dan tentunya, ada harga yang mesti dibayar untuk semua fasilitas tambahan itu. Secara umum, tarifna berkisar di 40ribu hingga 300ribuan per 30 atau 15 menit. 
Treasure Island




Ini loh, kolam renang terpanjang itu. Menyerupai laut ya. Padahal buatan loh.. buatan..

*Gurun Pasir
Ini adalah area bekas tambang, yang dikelola masyarakat setempat seakan adalah gurun pasir. Di sana disedikan juga onta-onta buatan (2 dimensi) untuk berfoto. Pengelolaannya masih sangat sederhana. 

*Lagoi Bay
 Berbeda dengan nuansa saat berada di Treasure Bay tadi, di Lagoi Bay, ini beneran pantainya. Bukan kolam renang, bukan pepasir putih fiber. Sekilas saya melihat tak ubahnya pantai ini dengan pantai-pantai yang ada di Sumbar, apalagi kawasan wisata di Pesisir Selatan yang juga cantik. Tapi bedanya ada pada taman yang tertata di sekitar pantai, area parkir yang gratis dan luas, petugas keamanan yang keren, dan pusat hiburan anak-anak dan perbelanjaan -Lagoi Bay Mall- yang dibangun gagah di sekitar pantai. Selain itu, ada Danau (sepertinya buatan sih) dan hotel -Swiss Bel Hotel Lagoi Bay- juga. 

Lagoi sepertinya bisa jadi pilihan menarik untuk wisata pantai di kawasan Batam, Bintan dan sekitarnya. Karena pengelolaannya yang lebih profesional, tampilan lebih modern, memberi warna internasional di pantai lokal ini.

Ada sewa jetski, kayak dan kano juga
Mumpung masi suasana imlek, banyak warna merah beredar di sini
Selpii
Saran saya, kalo jalan sendiri (atau berdua), maksudnya ya ga gabung sama agen travel, kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
* Informasi tiket. Dari Telaga Punggur ke Tanjung Uban, lebih hemat waktu naik speed. Pastikan saat beli tiket, kamu telah berada di bagian tiket dan pelabuhan yang tepat. Bukan di Roro.
** Kapal berangkat setiap setengah jam. Jadi, sepertinya ga masalah mau menyebrang jam berapa pun. (kalo cuaca aman ya). Asal ga ketinggalan kapal, kita pas mau balik, ga perlu beli atau booking tiket dulu, karena kita bisa bayar di speed langsung. 
*** Oya, transportasi selama di Bintan, boleh ditetapkan sejak awal. Karena akses kemana-mana bakalan susah tanpa kendaraan pribadi, dan tarif ojek di sana mahaall beut. Lebih baik sewa motor atau mobil, harganya standar juga kok. 

Dan, ini beberapa dokumentasi saya.
Pastikan pengunjung nyaman dulu
Berpose di depan bus para wisatwan.
*saya nyamar sbg co-tour leader lah kali ini. haha

Melaut kita lagi.. :)

4.10.16

Tips Tubing bagi Pemula

Petualangan menyusuri sungai, mengikuti alirannya dengan menggunakan ban karet, dikenal dengan river tubing. Ada banyak daerah di Indonesia yang sudah mengembangkan aktifitas ini sebagai bagian dari wisata daerahnya. Salah satunya, adalah Ombilin River Tubing yang ada di Ombilin, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 

Tubing santai [sumber foto: JR]
Dengan pilihan jalur santai dan level ektrim yang disediakan oleh operator wisata, Karambia Tours, pengunjung dapat menyesuaikan estimasi biaya dan waktunya. Untuk jarak mencapai 6 km, dibutuhkan waktu lebih dari dua jam. Tidak demikian dengan jalur santai. Tingkat tantangan yang diperoleh tentunya juga tidak sama.

Bagi Anda, yang baru pertama kali akan melakukan kegiatan ini, hendaknya memperhatikan beberapa tips berikut. 
  1. Pastikan Anda membawa kelengkapan peralatan dan kebutuhan pribadi.
  2. Terapkan dan gunakan sunblock sebelum memulai. Saat tubing, mengalir bersama aliran sungai, kita akan langsung diterpa sinar matahari. Jadi bila perlu, gunakanlah kacamata hitam (yang murah aja..biar kalo nanti hanyut terbawa arus, jatuh atau pecah, tak perlu bersedih. Haha) 
  3. Gunakan sandal yang nyaman, untuk kondisi air dan tak mudah lepas. Atau pakailah sepatu air, mungkin juga sepatu tua Anda, karena kita tak pernah tau seberapa ramah dasar sungai terhadap kaki kita.
  4. Pastikan Anda memilih pakaian yang tepat, nyaman dan menutup tubuh. (Bagi muslim/muslimah tau lah ya, batasannya.) Bagi yang khawatir warna kulit berubah lebih gelap *mungkin lebih eksotis*, tapi tidak merata, saya sarankan pakailah man(g)set atau baju lengan panjang. 
  5. Sebelum melakukan kegiatan, berdoa dulu tentunya. 
  6. Saat tubing, jangan menentang arus. Jika coba-coba menantang atau melawan arus, bersiap saja badan pegal nantinya. Ya, kira-kira pepatah 'biarkan seperti air mengalir' tepat sekali untuk kita bisa menikmati perjalanan. Biarkan, air yang mengantarkan, kita tinggal duduk nyaman di atas ban.
  7. Luruskan posisi tubuh tepat di atas ban saat berada di jeram. 

8. Dan, jika Anda tubing secara berkelompok, akan lebih seru untuk membentuk berbagai formasi menarik. Untuk bisa melakukannya, kekompakan adalah modal utama. 
9. Tubing secara berkoloni juga baik pada aliran arus deras, jika Anda khawatir akan meluncur sendiri, atau tertinggal sendirian.

Berkoloni lebih asik
  Itulah sembilan tips tubing bagi pemula yang saya dapatkan setelah tubing bareng Karambia Tours di Sungai Batang Ombilin beberapa waktu lalu. 
Jika merasa sudah mahir, dan bosan dengan medan yang itu-itu saja, silakan dicoba tubing berbagai cara dan gaya versi kamu yang lebih menantang. Selamat tubing!

22.6.16

Nagari Wisata Balimbiang

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sedikitnya 13 ribu pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Ada lima pulau besar, yang mempunyai keragaman suku bangsa serta kebudayaannya. Bahkan, untuk satu propinsi saja, ada perbedaan adat istiadat satu daerah dengan yang lainnya. Keragaman inilah yang menjadi keunggulan pariwisata negeri ini.

Demikian juga dengan wisata Sumatera barat. Saat ini yang menjadi ikon wisata Sumbar dikenal pada beberapa objek wisatanya, seperti Rumah Gadang Pagaruyung Batusangkar, Jam Gadang di Bukittinggi, Lembah Harau Payakumbuh, sejumlah danau, pulau-pulau dan wisata bahari di pesisirnya. Selain tempat-tempat kenamaan itu, sebetulnya Sumbar juga mempunyai konsep wisata seperti yang sedang digalakkan beberapa daerah wisata lainnya, seperti Bali, yaitu desa wisata.

Sumbar sendiri sudah punya desa wisata Rantih, dengan mengedepankan keindahan alam, air terjun dan pemandangan yang menarik di Kota Sawahlunto. Atau kawasan wisata kuliner di beberapa kelurahan di Kota Payakumbuh. Sayangnya, tak banyak yang muncul ketika kita lakukan pencarian google, dengan kata kunci desa wisata di Sumbar.

Wisata didefinisikan dengan bepergian bersama-sama baik untuk memperluas pengetahuan, atau bersenang-senang/bertamasya. Sedangkan desa wisata, merupakan  kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus yang layak untuk menjadi daerah tujuan wisata. Jika daerah-daerah di Sumbar dikelompokkan menjadi nagari-nagari, tentu tidak salah pula istilah tepatnya kemudian menjadi Nagari Wisata.

Adapun yang menjadikan desa wisata/nagari wisata itu berbeda dengan objek wisata, salah satunya adalah tentang pengelolaannya. Nagari wisata, dikelola oleh, untuk dan milik nagari. Secara bersama-sama desa itu dihidupkan budayanya, kulinernya, kendahan alamnya, dan hal-hal lain yang tak dimiliki daerah lain. Dilakukan oleh masyarakat setempat. Dinas pariwisata tentu juga terbantu dengan sistem terpadu tersebut.

Di antara ragam wisata yang dapat dikembangkan nagari, selain objek wisata alam dan sejarah yang telah ada, adalah dengan meningkatkan kreatifitas masyarakat setempat. Seperti wisata petualangan, wisata agro, wisata kuliner, wisata budaya, dan wisata kreatif. Dapat pula dikelompokkan kepada bentuk wisata sejarah, wisata edukatif, dan wisata kreatif. Selain itu, nagari juga bisa menciptakan sendiri /menemukan konsep wisata sesuai kebutuhan dengan pertimbangan potensi dimiliki.

Sekedar mengambil perbandingan, seperti dikutip dari Kompas.com, pemerintah provinsi Bali berupaya membangun 100 desa wisata sejak 2013 hingga 2018. Saat ini sudah terbentuk 56 desa wisata.
Bagi mereka, pembentukan desa wisata menjadi model terbaik di industri pariwisata. Budaya, adat, lingkungan, dan keterlibatan masyarakat lokal mampu terjaga dalam pengelolaan desa wisata ini.

Salah satu daerah yang telah dicanangkan menjadi kawasan wisata terpadu, adalah Nagari Balimbiang, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Hal ini dapat dilihat melalui, masterplan yang terdapat di Rumah Gadang Kampai Nan Panjang, Balimbiang.

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

Seorang warga, Hitler, menyebutkan masterplan itu telah sejak lama berada di sana. Turis-turis juga sudah sering datang dan berkunjung ke Balimbiang. Namun, belum sepertinya belum terberdayakan secara maksimal. Pertunjukan kebudayaan belum dikelola dengan apik, kulinernya juga belum begitu populer. Turi yang datang, hanya sebatas datang, mampir saja. Katanya, kita masyarakat sebetulnya bisa memberi lebih. Namun itu belum terlaksana.

Untuk menjadikannya sebagai kawasan nagari wisata terpadu, tentu tak cukup dengan menghadirkan cagar budaya Rumah Gadang 'hitam' itu saja. Beberapa kawan dari karambia.tour, melihat adanya potensi wisata petualangan/ adventure di sungai Batang Ombilin, yang melintas sampai ke Balimbiang.



Daerah ini juga memiliki masakan khas, yang tidak terdapat di daerah lain. Gulai Pucuak Palangeh, misalnya. Bahkan, Balimbiang diketahui sebagai daerah produsen Lamang Tapai yang dijual di pasar Batusangkar. Karena mengusung konsep tak perlu datang ke seluruh pelosok negeri, jika di satu tempat sudah menyediakan seluruhnya, Balimbiang bisa dimunculkan menjadi nagari wisata terpadu.


Pemandangan bukit dari sisi Sungai Ombilin

Wisata budaya juga ada, melalui pertunjukan-pertunjukan seni. Tak banyak daerah yang masih secara rutin melakukan pengkaderan, dan mengembangkan kegiatan seni untuk generasi muda daerahnya. Balimbiang adalah salah satunya yang masih melakukan acara pertunjukan Randai, Pidato Adat, Pencak Silat dan Tarian Minang yang digelar secara rutin.

Selain keuntungan finansial atas kunjungan wisatawan, daerah akan memperoleh keuntungan lainnya, seperti rumah, jalan, sarana MCK dan lingkungan yang menjadi bersih dan tertata. Kegiatan seni di daerah itu menjadi terpelihara. Ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat daerah tersebut. Dan yang pasti, meningkatnya kesadaran dan perhatian warga terhadap lingkungan sekitar, serta wawasan/sumber daya manusia setempat.

Seoang pemerhati pariwisata menjelaskan, pengelolaan kawasan wisata terpadu itu sesuai dengan 11 asas yang diamanatkan undang-undang ( UU No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan).  Asas itu adalah asas manfaat, kekeluargaan, adil dan merata, keseimbangan kemandirian, kelestarian, partisipatif, berkelanjutan, demokratis, kesetaraan, dan kesatuan. Uang yang masuk dari wisatawan kemudian dikelola masyarakat, diputar dalam lingkup itu lagi.
Sunset di Balimbiang
Kita tentunya juga ingin berbagai tradisi, budaya dan kesenian asli daerah sendiri diketahui dan dilestarikan oleh generasi muda. Ingin pula, keunggulan daerah itu dikenal banyak orang, didatangi wisatawan luar daerah, luar nagari, dan luar negeri. Wisata yang kreatif, bukan latah ikut-ikutan yang sedang tren. Wisata yang mengedukasi, memberi nilai-nilai kemanusiaan, bagi sebagian kita akan lebih berarti daripada sekedar bersenang-senang. Bukankah berwisata adalah bepergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan?  (*)

1.6.16

Tubing Bareng Karambia, Mau?

Sudah tidak diragukan lagi, kalau Sumatera Barat memiliki alam yang indah sebagai potensi wisatanya. Selain keindahan pesisir pantai, serta pulau-pulau kecil yang menawan, Sumatera Barat juga mempunyai sejumlah sungai yang bisa dikembangkan menjadi objek wisata air.
Diantaranya yaitu sungai Batang Ombilin. Batang Ombilin terletak di kabupaten Tanah Datar, berjarak 24 km dari kota Padang Panjang. Selain pemandangannya yang menyejukkan mata, sungai-sungai ini bisa dijadikan wisata adventure juga. Misalnya, river tubing, river rafting, dan lain sebagainya.
Salah satu agen wisata Sumbar yang menyediakan fasilitas dan jasa sewa tubing rafting adalah Karambia Tours. Saya juga coba mengikuti mereka tubing beberapa waktu lalu.

Rute yang disiapkan Karambia, mulai dari Siturah sampai Balimbiang, kira-kira totalnya berjarak 5 km yang akan ditempuh sekitar tiga jam perjalanan air. Jarak dari Kota Padang Panjang menuju titik akhir tubing, Balimbiang, lebih kurang 31 km. Atau, dapat ditempuh dengan waktu lebih kurang 45 menit perjalanan.
Saat itu, saya memilih rute indah. *ehm! Maksudnya, yaitu jalur yang cukup aman, nyaman, dan 'ramah' buat perempuan. Jalur lain sih ada, namun cukup terbilang ekstreme.  Meskipun airnya tidak terlalu dalam, tantangannya pada jalur ini adalah bebatuan. Jika merasa tidak aman menghanyutkan diri, saya kemudian lebih memilih berjalan, di sisi sungai. :D :D

Sepanjang perjalanan rute satu itu, kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang tidak kalah indahnya. Selain sawah-sawah yang menguning,  berjenjang ke sisi bukit, kita juga bisa menyaksikan beberapa kincir air.
tubing 3.JPG 
Kincir Air. View yang bisa kita nikmati pada rute satu.
Sebagai 'pemain baru', saya harus mencari posisi duduk paling nyaman se-alam raya. Mencoba merasakan keseimbangan. Sambil terus menikmati pemandangan. Dan yang paling seru adalah, membiarkan diri diseret hanyut oleh derasnya aliran air.
Mungkin itulah yang dimaksud orang-orang dengan, "biarkan mengalir seperti air". Ya, yang bisa dilakukan adalah membiarkan. Karena kita tak cukup kuat untuk menahan. Tak ada jalan lain, selain membiarkan air yang mengantarkan. Itu lebih baik.
Kita juga akan mengikuti arus jeram-jeram kecil. Mungkin juga didorong ke tengah sungai. Dan, sesekali terbalik, jatuh, lalu membentur 'sesuatu'. Hahaha. *ini justru ditunggu! Tak perlu khawatir, kita dibekali dengan life jacket dan helm kok!

Menuju ke titik kedua, dibutuhkan waktu sekitar 40 menit.  Saya butuh sekitar lima sampai sepuluh menit di awal, sebagai waktu perkenalan dengan alam dan alat tubing. Dan pada rute kedua, mestinya sudah tak butuh menit-menit perkenalan lagi. Ibarat jalan raya, ya inilah tol-nya.

Rute kedua ini cocok banget buat yang ingin merasakan tantangan lebih. *lebih...dan lebihhh.. Jarak dari start poin kedua ke Balimbiang adalah 3.8 km. Normalnya ini dapat dicapai dalam waktu lebih kurang dua jam perjalanan air (jika arus stabil).

Ada air terjun di sisi kiri sungai yang bisa kita saksikan. Ada juga beberapa titik jeram, yang tidak bisa dikatakan rendah yang *kamu pikir bisa* dilalui dengan berjalan saja. Karena air di jalur ini cukup dalam. Mengalirlah saja!

Ok. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum tubing. Dan, biasanya persiapan-persiapan semacam briefing, stretching ringan, diberikan langsung oleh pemandu yang sudah berpengalaman*. (Om Op@y dan Om Agriel mungkin adalah orang yang saya maksud, haha.)  Tidak lupa, perjalanan akan didokumentasikan oleh tim fotografer andalan Karambia Tours, Om Dani! Ya, tinggal urusan hitung-hitungannya di akhir. hehehe

tubing om taufik.JPG

       River tubing bareng Karambia yukk! ;) -- Om Tovik siap menemani.
---------- More information, bisa ke sini :http://www.karambia.id/ . --------

4.1.16

Sedikit oleh-oleh dari Bandung Selatan

Sebagai rumah, rasanya saya perlu coretkan sedikit oleh-oleh sisa perjalanan dari Bandung Selatan beberepa waktu lalu.
Jika berlibur ke Bandung Selatan,  menginaplah di sana. Merasakan sensasi dingin ruarr biasa malam hingga pagi. Menikmati embun yang tak kunjung berakhir, meski telah datang mentari. Memandang kejauhan bukit-bukit rapi perkebunan teh. Rancabali! Subhanallah.

Mendakilah, lalu menurun sedikit. Sekedar tahu, bahwa gunung pun habis masa jaya. Tapi ia tak serta merta mati, hanya mengubah diri menjadi kawah. Dialah Kawah Putih.

Bila berkesempatan, jangan lewatkan memetik stroberi dari sekelompok tanaman itu langsung di kebunnya. Kalau memetik stroberi di rumah sendiri, ya biasaa.. Bagaimana rasanya memetik dan merasakan asam manis merahnya di sana? Ciwidey. 

Oya. Jangan lupa, dokumentasikan! :)) 

7.10.15

Sehari ke NLS

Pagi itu suasana sekitar Victoria street, Singapore tidak begitu ramai. Ada beberapa orang  yang berlalu lalang, dengan langkah tegap besar-besar seakan dikejar waktu. Saat sampai di depan gedung Lee Kong Chian, saya tidak menduga bahwa itu adalah sebuah gedung perpustakaan. Jauh sekali dari bayangan, jika perpustakaan adalah bangunan tua, kuno dan berdebu.

Di lantai dasar terdapat pojok cafe dan "papan" informasi. Lee Kong Chian Reference Library sendiri ada di level 7 gedung itu. Level 5 adalah bagian drama dan koleksinya. Ada lagi level 9, yang memuat koleksi berbahasa melayu.

"papan informasi" :)

Secara keseluruhan, buku di sini tercakup atas bahasa inggris, cina dan koleksi asia tenggara lainnya. Menurut informasinya, perpustakaan ini dibuka sejak tahun 2005. Dengan jumlah buku lebih dari 600 ribu judul, baik klasik maupun terbaru.

These are the collections found at each level of the Lee Kong Chian Reference Library
Level 7 – Business, Science and Technology Collections
Level 10 – Donors' Collections, Asian Children's Collection
Levels 12 and 13 – Rare Materials Collection (limited access, only with permission)
Lantai dasar, bagian registrasi dan pusat informasi

Bangunan bergaya modern ini, diarsiteki oleh mr. Ken Yeang, jelas berbeda dengan tampilan luar perpustakaan negara malaysia, yang klasik dan sudah pernah kita bicarakan. NLS terlihat gagah dan megah.

Ruang baca National Library Singapore
Ada banyak koleksi buku berbahasa Inggris dan Asia di ruang bacanya. Di salah satu pojok ada bagian khusus majalah, rata-rata berbahasa inggris, meskipun sedikit-sedikit ada yang berbahasa cina dan melayu. Majalah yang dibagi berdasarkan usia pembaca, ada untuk anak-anak, dan dewasa itu, disiapkan secara gratis untuk pengunjung. Sayangnya, saya tidak bisa mengabadikan banyak saat di dalam, karena dilarang membawa kamera. Untuk bisa mengambil gambar ini (Ruang baca nls) pun saya meminta izin dulu, dengan menjelaskan keperluan dan mengenalkan diri serta asal.



Rangka
Tak hanya memiliki bangunan yang megah, fasilitasnya pun modern. Di antaranya adalah adanya jasa mesin penerima buku bookdrops yang bisa diakses 24 jam. Mesin ini bekerja memilah-pilah buku yang dikembalikan sesuai bagian masing-masingnya. Tentu saja, jika bukan buku koleksi perpus tersebut, mesin akan menolak. Untuk bisa mengetahui koleksi yang dibutuhkan juga dapat diakses dengan katalog online, Online Public Access Catalog.


Menjadi pengunjung perpus modern ini, ternyata membuat saya grogi. Pertama denga loker yang dikunci dengan kode/ password yang tersistem komputer. Lah, saya biasanya menggunakan loker dengan kunci yang digantung. Maka jadilah saat itu, saya harus menghafal beberapa kode, untuk setiap barang yang saya simpan, sekaligus menghafal kode loker teman seperjalanan dengan saya. hahaha.

Bersama petugas perpustakaan NLS
Dan, masalah terjadi saat saya hendak mengambil barang dari satu di antara empat loker yang saya dan teman gunakan. Saya lupa salah satu kodenya, dan kebetulan itu adalah loker yang isinya keperluan teman seperjalanan. Saya lalu melapor kepada petugas. Seorang Bapak petugas itu menjelaskan dengan ramah, apa yang harus saya lakukan.

Saya melapor lagi ke bagian resepsionis, lalu membuat surat pernyataan bahwa benar saya adalah pengunjung, dan isi dari loker nomor sekian adalah barang milik saya. Disebutkan pula apa isinya. Dilampirkan (tentu saja) identitas dan passport saya. --hallaah. Leganyaa, saat akhirnya proses itu berakhir. Namun saya mendapat pelajaran berharga dari cara-cara itu. Thanks mr and mrs petugas.. hehehe.

Kata si petugas lagi, NLS mendapat penghargaan sebagai perpus terbaik tahun 2013. Oh tentu saja, saya juga mengira demikian. Baik tampilan fisik yang menarik, plus koleksi yang banyak dan beragam, wajar saja jika ini menjadi tongkrongan anak-dan keluarga yang mencerdaskan.
Kita butuh adanya yang 'seperti ini' di sini. Kita butuh petugas yang ramah, fasilitas yang mudah. Kita akan bangga di negeri kita punya yang serupa. Namun kita akan lebih bangga, jika membaca, mengantri untuk membaca, menyediakan jadwal-jadwal membaca adalah budaya kita dari kana-kanak hingga dewasa. Pasti bangga. :)

Pemandangan Vict street dari lantai 5 Lee Kong Chian Library
membaca
Dan, informasi rute ini penting di simpan lebih dulu  :)

Melawat ke "Jendela Dunia" Negeri Jiran


Melawat ke "Jendela Dunia" Negeri Jiran

Pagi itu, Kuala Lumpur masih sepi. Belum banyak kendaraan berlalu lalang di Bukit Bintang. Barangkali, gemerlap malam tadi masih menyisakan lelah pelancong negeri jiran itu. Kehidupan yang begitu ramai menjelang tengah malam. Berbagai makanan justru tesedia waktu-waktu itu. Pengunjung dari berbagai negara, berbagai ras dan warna kulit menyatu di sana.

Saya menyusuri pinggiran toko dan hotel yang masih tertutup. Cukup sepi. Hanya ada petugas toko yang mulai membersishkan kaca, atau petugas kebersihan yang membersihkan sekitar toko. Saya justru menikmati pagi dengan kendaraan yang tak begitu ramai ini. Lebih leluasa memandang, menikmati. Tujuan saya hari ini tak begitu jauh dari penginapan. Saya juga telah menyiapkan catatan-catatan kecil hasil searching, bekal perjalanan. Rute, titik-titik stesyen, dan jenis-jenis transportasi untuk pulang, sudah dalam catatan. Kamera, pasport, ringgit dan makanan kecil juga sudah aman dalam tas.

Saya berjalan santai, meninggalkan area ramai turis itu menuju Titiwangsa. Kira-kira jaraknya 7 km. Dalam perjalanan lancar, bisa ditempuh hanya dalam waktu lebih kurang 15 menit. Karena tidak terburu-buru, saya menikmati setiap perhentian, persimpangan. Lalu sedikit mengingat, kenapa seperti Pasar Raya Padang di pagi hari ya? *ups.

Dan ya, target saya adalah melawat dan melihat, bagaimana rupa perpustakaan negara di negeri itu. National Library of Malaysia itu ada di 232, Jalan Tun Razak, Titiwangsa, 53200 Kuala Lumpur. Dari KL sentral kita bisa menggunakan monorail menuju "TKP". Bisa juga dengan taksi yang langsung turun tepat di depan gedungnya. Namun saya lebih memilih kendarahaan umum yang di Indonesia, masih dalam rencana pembuatannya. Mungkin karena masih minim transportasi jenis ini, jadi lebih menarik saja.

Perpustakaan itu bertetangga dengan Museum Sejarah. Bangunan dengan atap khas itu terdiri dari tujuh lantai. Lantai dasar, terdapat perpustakaan khusus anak-anak. Dari pintu masuk di lantai satu, kita dihadapkan pada ruang terbuka dengan pemandangan area pendaftaran dan sofa/tempat duduk yang bersisian.
Pemandangan dari lantai satu

Buku-buku yang dipamerkan
Si Miniatur Kapal yang Tak Mini



Ada pula bagian ruangan yang digunakan untuk pameran. Ada miniatur *cukup besar* kapal di tengah-tengahnya. Di dalam kapal terdapat foto-foto dan patung -orang-orangan kapal-. Hati-hati menyusuri ruangan gelap di sana. Kalau kata saya, ya jangan sendiri jalan ke dalam kapal itu. Jangan pula kaget dengan kemiripan dan kengerian asli "penghuninya". Cukup horor. Hiiii...

Di dalam kapal
 Lebih ke sisi kiri ruangan di lantai itu, ada pojok samsung smart library. Di sini kita dibebaskan mengakses e-book yang telah disediakan di dalam tablet, dan tersusun rapi di setiap meja. Pengunjung juga difasilitasi headset untuk mendengar music atau audio dari e-book itu.
Registrasi
Smart Library

Tampilan Layar Tablet

Di lantai satu itu, saya disapa petugas perpustakaan. Ditanya dan ditawari untuk ditemani. Saya perkenalkan diri sedikit, dan jelaskan tujuan bertandang ke sana. Mereka menyambut ramah. Kata mereka, bagian peminjamannya ada di lantai tiga dan empat. Jika berkenan, mereka mau antar ke lantai khusus membaca.

PNM
Secara fisik, tampilan perpus ini lebih terkesan klasik. Meskipun di dalam, tetap ada nuansa modern dan ramah teknologinya. Mungkin beberapa perpustakaan di Indonesia dapat bersaing dengan yang satu ini. Sedangkan dari segi kelengkapan isi, ketersediaan beragam buku dan fasilitas, saya tak bisa pastikan. Pasalnya, kita orang belum baca dan telusuri lebih.. hehe

Cukup berpusing-pusing di perpustakaan itu. Tak bisa berlama-lama. Agaknya, seronok lah bila dapat membaca dan berkunjung ke sana seringkali. Kapan lagi ya? Hahaha.


20.5.14

Pulau Angso Duo; Destinasi Cantik Saat Cuaca Cerah



Pulau Angso Duo
Okay. Tujuan liburan singkat saya beberapa waktu lalu adalah Pulau Angso Duo, Pariaman, Sumatera Barat. Pulau Angso Duo merupakan salah satu pulau di antara beberapa pulau kecil di seberang Pantai Gondoriah Pariaman. Keberadaan tempat wisata ini cukup strategis, dekat dengan sumber makanan bagi yang menyukai wisata kuliner, dan dekat pula dengan sarana transportasi publik, stasiun kereta. 


Di antara pantai-pantai nan elok di wilayah Pariaman ini adalah Pantai Kata. Namun pantai di sekeliling Pulau Angso Duo jauh lebih elok. Cantik sekali saat cuaca cerah. Pantulan langit biru ke laut sungguh indah. Pasir putih, air jernih dan ombak yang ‘ramah’ menjadikan pulau ini cocok untuk wisata keluarga.

Tepian pantai


How do we get there?
Nah, seperti yang saya katakan tadi, akses ke pantai ini cukup mudah dan murah. Dengan merogoh kocek tak cukup 50ribu dari wilayah Padang dan sekitarnya, kita dapat menikmati liburan singkat seharian. 


 Budget

Jika kita berada di kota Padang, cukup merapat ke Stasiun Kereta, Simpang Haru atau Stasiun Tabing. Harga tiket pagi, jam 06.00 WIB  adalah Rp.2500. Usahakan beli tiket sehari sebelum keberangkatan. Karena biasanya beli tiket saat pagi itu, terlebih hari libur, kita bakal tak kebagian.  Dan solusinya, jika Anda ketinggalan kereta atau kehabisan tiket, cukup bersabar saja, masih ada kereta jam 08.30 berikutnya. Namun, harga tiketnya juga berbeda, Rp. 13 ribu.  


 Setelah menikmati perjalanan Padang-Pariaman, kita akan sampai di Stasiun yang tepat berada di depan Pantai Gondoriah. Sebelum menyeberang ke pulau, ada baiknya kita menyiapkan bekal air  minum dan makanan kecil untuk di pulau. Tak perlu mencari-cari, kita justru akan ditanyai oleh penjual makanan pinggir pantai, dan ditawari menyeberang dengan menggunakan perahunya. Tarif penyeberangan menggunakan perahu kayu ini adalah sebesar 30ribu rupiah (PP). Jangan lupa simpan nomor hp pemilik perahu yang dapat dihubungi, untuk dapat kembali ke pantai Gondoriah.
Perjalanan dengan perahu tak lama, kira-kira 15 menit.
Dan.. kita akan mendarat di pulau yang berpasir putih ini…





Selanjutnya, kita dapat mengelilingi pulau ini. Tidak butuh waktu lama untuk dapat kembali ke tempat semula. Di pulau ini, juga ada makam Panglimo Kacang Hitam (seorang penyebar agama Islam). Makam sepanjang 3 meter ini terletak di tengah-tengah Pulau Angso Duo. Di dekat makam juga berdiri Surau Katik Sangko.Bila sudah siap kembali ke pantai Gondoriah, tinggal calling si Uda yang bawa perahu tadi. Mudah kan? :) 

Menikmati keindahan Pulau Angso Duo akan lebih terasa jika cuaca juga mendukung.(*)



>>> Sesi narsis..  



Melaut kita melauttt... :D
Raran dan Fa :)
sehaaa...begaya :p





Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...