Showing posts with label Catatan Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Catatan Sekolah. Show all posts

27.9.26

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

 

Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana bagi GTK sasaran dari lima satuan pendidikan, dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang.

Kegiatan ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar tiba-tiba. Sekitar satu minggu sebelumnya, saya mengikuti kelas Training of Trainers (TOT). Sebelumnya lagi, saya juga sudah mendapatkan pelatihan singkat di instansi induk. Saat mengikuti TOT, sebenarnya kami sudah menyadari bahwa setelah pelatihan, tugas kami adalah mengimbaskan pengetahuan yang diperoleh di satuan pendidikan masing-masing.

Tetapi ternyata, praktiknya tidak sesederhana itu. Ketika menjadi peserta, mungkin kita cukup memahami dan mengikuti. Tetapi ketika menjadi fasilitator, kita dituntut untuk memahami lebih dalam. Kita harus tahu bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi juga mengapa hal itu penting, bagaimana menerapkannya, dan apa yang mungkin terjadi jika bagian tersebut terlewat. Kita merasa hal kecil saja, lalu terabaikan, ternyata terlihat saat praktik dan simulasi.


Fasilitator kelas C 


Tentang keberanian mencoba sesuatu yang baru

Hal lain yang saya catat adalah tentang melatih diri menjadi pembicara. Berbicara di depan orang baru, yang tidak mengenal kita, dan berbicara di depan orang lama, rekan kerja sehari-hari yang sudah akrab, jelas tidak sama. Menjadi apa adanya, lebih jujur, membuat beban fasilitator terasa lebih ringan. Namun tidak dapat dipungkiri, bagian mula-mula selalu ada gugup yang dikuat-kuatkan. Haha.

Kalau tentang ini, saya teringat pada masa-masa menjadi mahasiswa, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Masa ketika banyak hal untuk pertama kalinya kita lakukan.

Pertama kali melakukan wawancara. Sampai sekarang kita mungkin masih ingat siapa yang kita wawancarai, apa yang dibicarakan, bahkan bagaimana rasanya ketika harus membuka percakapan.

Pertama kali melakukan siaran radio. Rasanya seperti sebuah hari bersejarah. Kata-kata yang sudah disiapkan berhari-hari, bagian pembuka yang dilatih berulang-ulang, bahkan mungkin latihan berbicara di depan cermin. Haha. Semua terasa begitu mengesankan.

Atau ketika pertama kali turun menjadi relawan. Saat itu yang kita punya mungkin hanya keberanian. Teori sudah diberikan saat latihan dan briefing bersama mentor. Tetapi ketika benar-benar berada di lapangan, ternyata situasinya tidak selalu berjalan sesuai skenario. Ada saja hal baru yang muncul dan membutuhkan inisiatif, kreativitas, serta keberanian untuk mengambil keputusan.

Dulu kita melihat bagaimana tim medis bertindak, bagaimana proses evakuasi dilakukan, bagaimana koordinasi berlangsung, bagaimana pendataan dilakukan, dan bagaimana keputusan-keputusan harus diambil.

Sebagai bagian dari media, saya menyaksikan semua itu.

Tetapi saya tidak benar-benar melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Hari ini saya memiliki satu penyesalan kecil:

"Mengapa dulu saya tidak coba hal itu?"

Seolah-olah setiap orang hanya memiliki satu peran dan tidak perlu mengetahui peran yang lain.

Hari ini saya justru melihatnya dengan perspektif yang berbeda.

Ternyata tidak ada yang salah dengan mempelajari banyak hal.

Dan saya merasa, pengalaman dulu berada di pusaran tim dalam situasi bencana, meskipun hanya di bagian media dan trauma healing, ternyata cukup membantu saya hari ini ketika menjadi memahami kesiapsiagaan bencana. Setidaknya saya pernah melihat dan merasakan suasana di lapangan. Pernah melihat bagaimana tim bekerja, bagaimana koordinasi dilakukan, dan bagaimana situasi bencana bisa menghadirkan banyak hal di luar skenario.

Hal lain yang saya catat dari kegiatan ini adalah bahwa bencana tidak pilah pilih. Jika bencana terjadi pada kita, maka kita adalah korban. Bencana tidak memilih siapa kita, apa profesi kita, atau apa peran kita di sekolah.

Maka tugas tim siaga bencana di sekolah bukan hanya membangun pengetahuan tentang bencana, namun juga perlu membangun kesiapsiagaan bagi semua warga sekolah. Lebih baik lagi ada kesiapan menjadi bagian dari "relawan" ketika bencana terjadi.

Karena bencana bisa datang kepada siapa saja, maka belajar tentang kesiapsiagaan bencana bukan hanya tugas tim siaga bencana, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab seluruh warga satuan pendidikan.

Foto dengan sebagian peserta di SMAN 1 Padang Panjang





25.10.16

Si Aku Siswaku (3)

Ini adalah bagian terakhir cerita 'Si Aku Siswaku', sepertinya. Di sini saya tak lagi dengan rasa yang bercampur aduk, mimpi dan harapan untuk membina, upaya-upaya mengajaknya sekolah lagi.

Sehari sebelum Selasa, minggu ini, si Aku tiba-tiba datang ke sekolah. Ia menemui kami, dan menyampaikan kebutuhannya, Rapor. Buku Laporan semester dan mid semester itu ia butuhkan untuk mendaftar di sekolahnya yang baru.

Saya lalu menyiapkan apa yang dimintanya. Meski ia terlihat gugup, sedikit khawatir, dan menjaga kata-kata yang terucap, tapi ada sesuatu yang sedang ia tahan-tahan. Semoga tak terucap, mungkin begitu.

Dari siswa lain, tetangganya, dan seorang guru yang masih di lingkungan rumahnya, saya dengar kabar, bahwa ia telah bersekolah di tempat yang baru. Itu adalah pilihannya. Sedikit kecewa tentu saja. Saya seperti tengah dikhianati. Masih ingat rasanya, bagaimana si nenek bercerita. Masih terbayang pula bagaimana "mendewasakannya' lewat pertemuan-pertemuan. Juga upaya menemuinya ke rumah, yang tak berujung pertemuan. Ya sudah. Sampai di sini rupanya.

Si Aku telah memilih, dengan begitu ia tetap memikirkan masa depannya. Syukurlah. Meski bukan di sini. Dan, bukankah tak hanya di sini ia akan sukses. Barangkali proses ini menjadikannya momen untuk berubah lebih baik. Meskipun, harus berkorban uang lebih.

Satu lagi kabar yang membahagiakan. Ayahnya yang tak kunjung bersua, setelah 17 tahun itu, kini bersedia membiayainya sekolah. Entah di kota lain, entah masih di sini. Informasinya masih belum pasti. Kabar ini langsung saya dengan darinya. Bukan dari tetangga. Tentu ini lebih valid ya.

Mari fokus pada yang dua puluh dua lainnya, bukan pada satu yang telah meninggalkan.
Selamat pada pilihannya, siswaku. Sampai jumpa pada sesi berikutnya kehidupan ini. Semoga telah lebih baik.

11.10.16

Belajar Kepada Air

Baru beberapa hari lalu saya melihat postingan seorang pejabat daerah, yang melakukan serah terima dengan pihak propinsi, terkait pemindahan guru SLTA dari kabupaten kota ke propinsi. Saat itu, saya langsung berpikir, kapan akan melanjutkan perjuangan yang tengah terhenti ini. Rencana demi rencana pun disusun ulang. Saya akan datangi kantor X propinsi, pada hari itu, lalu menunggu kabar lagi, apakah bahan tersebut diteruskan ke pusat atau bagaimana. Sudah terbayang jalan-jalan dan pos-posnya.

Tapi, dalam bayang itu yang belum terlaksana, sudah keluar lagi aturan baru. Tentang Ali*fungsi. Katanya, semua guru yang terdampak K-13 direkomendasikan untuk ikut program itu. Dan saya, -yang entah terdampak k-13 atau terdampak sistem yang lahir prematur/ tak sempurna kelahirannya-, mencari lebih banyak referensi tentang program al*h f*ngsi itu.

Ada beberapa hal yang saya pahami, pertama, saya termasuk dalam kategori guru bahasa asing, kedua, saya mengampu mata pelajaran yang termasuk dalam program itu, dan ketiga, usia saya pun masih dalam batasan yang ditentukan. Saya berpikir, baiklah.. jalan ini mungkin bisa ditempuh. Saya bertanya kepada pengawas, beliau memberi nomor kontak yang lain yang dinilai lebih mengerti hal itu. Setelah dihubungi, saya dan seorang kawan disarankan untuk menunggu dan mengikuti pembicaraan tentang hal itu pada hari Selasa depan. Baiklah, kami bersabar.

Dan, inilah hari Selasa itu. Baru saja saya kembali dari ruang pertemuan singkat terkait a-f itu. Tahukah, kesimpulannya? Kesimpulan itu tidak berdampak lebih baik ke pikiran saya. Pihak dns *dk katakan, mereka merekomendasikan orang-orang yang diundang untuk memilih program tersebut. Sedangkan saya yang tidak termasuk dalam kelompok itu, diminta bersabar. Mungkin akan tiba gilirannya tahun depan, katanya. Oh Tuhan, ini kata 'baiklaahh' ke berapa yang harus dikeluarkan. 

Lalu, saya berpikir-pikir saja. Katanya, setahun lalu juga begitu. Bersabar saja dulu, akan ada kebijakan ini itu. Kata dia hari ini, nanti persoalan nasib yang akan menjawab. hmm.

Jadi, apa yang harus dilakukan sementara itu? Harus mengantarkan bahan dan audiensi lagi, untuk jalan penyeberangan? Atau, mengikuti 'belajar' lagi ke kampung sebelah. Atau, menjalani kegiatan hari-hari yang -sesungguhnya dijalani hanya sebagai kewajiban semata, bukan bidang saya, tak cukup ilmu-, ituu..hingga tahun depan? Sementara, mereka yang 'mengajak' memasuki bidang itu, terus mensejajarkan profesionalisme saya dengan mereka.

Kita mungkin kembali belajar kepada alam. Belajar kepada air. Mengalir, mengalir dan mengalir. Kita harus menempatkan diri, dalam keadaan yang tak perlu disesali lagi. Toh kita telah berada di anak sungai kehidupan itu.

Apa saya memilih jalan ini sejak 2010 lalu, dengan sepenuh hati? Tidak. Tapi ya dijalani, disyukuri pada banyak hal. Jika beberapa tahun belakangan, keadaannya menjadi seperti tikungan yang bertubi-tubi, tentu jalan satu-satunya, ya tetap dijalani. Apa yang saya syukuri? Syukurnya, saya bisa melakukan berbagai hal selain 'di situ' saja. Jadi lebih banyak 'dunia'. Meski setiap kali kembali ke dunia itu, rasanya ingin menutup buku saja. Air mengalir sampai jauh ya..bahan saya mengalir sampai mana (?)

Mereka yang berkata, tunggulah, setahun lalu itu, ada dimana kini. Mereka yang mengembalikan bahan, mengundur dan mengundur. Membuat menunggu dan bersabar hingga Oktober. Saat oktober tiba, kita dimana. Bukan lagi bersama mereka. Lepas sudah urusannya. Dikatakan jalan lain, dan jalan itu,,tak pula bapak berikan saya hak untuk melewati. Baiklah..

Bolehkah, mengangkat tangan pada kamera. Atau memilih keluar dari permainan ini. 

** ini sebuah c*rh*tan (?) hm..

Si Aku, Siswaku (2)

Masih ingat kisah si Aku, siswa saya yang bermasalah dengan hari Selasa? Ya, mari kita lanjutkan ceritanya.

Perkara si Aku, sampai ke pejabat sekolah. Laporan para guru, -khususnya guru hari Selasa- memberi peringatan 'keras' kepada si Aku pasca mid semester ini. Ia juga terancam tidak dapat mengikuti kegiatan praktek kerja industri awal tahun depan. Itu sama halnya dengan ia tidak dapat naik ke kelas dua belas.

Saya dan guru kejuruan yang waktu itu ke rumahnya, memanggil lagi si Aku. Bergantian kami bertanya. Berbagai cara. Dari seperti berbicara dengan orang dewasa, serius, dan to the point sampai ke yang paling lembut dan langsung TAP ke hati. Semua jurus dikeluarkan. Dari emosi marah sampai hampir-hampir menyerah menunggu tanggapannya. Aduh... beginilah. Berhadapan dengan anak terlanjur dewasa oleh masalah, tapi tetap saja butuh,,butuh keadaan dia diterima sebagaimana seorang anak.  

Saya terpikir, dalam aturan sistem saat ini, ia sudah sepatutnya menandatangani surat perjanjian tingkat tiga. Dimana pada surat itu tertera materai 6000, dekat tanda tangannya. Juga diketahui oleh wali kelasnya, guru konselingnya, kepala sekolah dan tentunya orang tua atau walinya. Nah, siapa yang akan menjadi wali? Dirinya sendirikah? Nenek, hmm, entahlah.

Kalau hal itu terjadi, maka dalam rapat penentuan nanti, ia akan terkendala untuk bisa prakerin. Kehadiran dan syarat-syarat lain tak terpenuhi. Konsekuensinya adalah tak naik kelas. Seterusnya? Akan kecil sekali kemungkinan ia akan bersekolah sebagaimana hari ini. Kalau ia tak sekolah lagi, bagaimana. Akankah ia jadi preman simpang, tak tau kerjaan. Padahal, komplain dari guru-guru lain tak ada berkaitan dengan kenakalan yang diperbuatnya. Juga masalah kemampuan, ia tak begitu 'payah' untuk standar sekolah kami. Si Aku tak boleh berhenti sekolah.

Kepala sekolah didatangkan. Setelah memahami keadaan si Aku, didapat kesepakatan. Surat perjanjian tingkat tiga dipending dulu. Ia tetap membuat pernyataan, yang tetap berjanji, tapi di buku bimbingan walas saja.


Sabtu itu, perjanjian ditulis. Setelah beberapa hari tak datang, ia datang ke sekolah hari Sabtu. Hari Senin, kelasnya belajar dengan saya. Si Aku tak datang. Sebuah surat bertanda tangankan dia dan neneknya diberikan siswa lain. Ia sakit.

Si Aku pernah bercerita, di telinganya tumbuh semacam benjolan. Setelah diobati bagian kanan, benjolan itu tumbuh lagi di sebelah kiri. Katanya lagi, keadaan serupa telah terjadi beberapa kali. Waktu kelas sepuluh, penyakit itu sempat singgah pula. Karena menurutnya, pelayanan puskesmas dan dokter yang kurang bersahabat, ia malas datang lagi ke dokter. Jadilah, ia menahan sakit, dan meminta 'pencet' benjolan itu, kepada temannya saja. Bagaimana bila anak lain seusianya sakit? Pastilah merengek kepada ibu. Ditemani berobat, disiapkan makanan lebih baik tentunya. 

Minggu ini jadwal pelajaran berganti. Mata pelajaran saya dijadwalkan hari Selasa di kelas si Aku. Maka jadilah saya masuk kelasnya lagi hari itu, Selasa. Dan si Aku, masih tak datang.

Saya mengajar di kelasnya, Hari Selasa. Tapi saya menunggu kabarnya setiap hari, tak hanya Selasa. 
Apa kabar dia hari ini..

6.10.16

Si Aku, Siswaku (1)

Siang itu waktu menunjukkan pukul 14.50 Wib. Saya bermaksud melakukan kunjungan rumah (home visit) ke rumah salah satu siswa. Ya, pada kasus-kasus tertentu, saya memang merasa butuh untuk melakukan kunjungan rumah siswa. Melihat langsung kehidupannya, mungkin juga merasakan, memberi makna dan mungkin juga kemudian mensyukuri banyak hal dari kunjungan tersebut. Dan, saya menyukai kegiatan ini. Bersama seorang guru kejuruan, kami berangkat menuju rumah si siswa.

Rumah itu, berjarak hanya beberapa kilometer dari sekolah kami. Nuansa desa yang damai begitu terasa saat saya sampai di rumah itu. Bayangkan saja, kita mendengar aliran gemericik air yang mengalir dari sawah, melintasi parit kecil tepat di depan rumah itu. Sisi kiri rumah itu dan bagian depan, dihadapkan dengan tanaman padi yang mulai menguning. Sisi kanan, selain bersebelahan dengan rumah tetangga, juga ada kolam ikan. Bagian samping rumah, adalah kandang ayam. Arah belakang rumah terdapat dapur kayu. Selain itu, rumah sederhana itu memiliki halaman yang dihampari oleh batu-batu kerikil. Aduhai, betapa ini benar-benar nuansa rumah nenek, saat saya mengarang cerita ketika SD dulu. Nyaman sekali untuk waktu siang yang tak begitu panas hari itu.

Suasana Depan Rumah si Aku
Perkenalkan, namanya adalah Aku. Atau, kita panggil saja dia si Aku. Dia adalah siswa laki-laki kelas dua sekolah menengah kejuruan. Si Aku, menurut wali kelas lamanya, bukan tergolong anak nakal. Dia juga bukan anak yang suka mencari perhatian dengan sikap usil terhadap kawan-kawannya. Ia hidup bersama seorang nenek. Ya, tepatnya mereka hidup berdua. Hanya berdua. 

Saya memperkenalkan diri. Saya bertanya, kemana si Aku. Si nenek menjelaskan, si Aku mengaku tidak sekolah, karena baru saja selesai ujian Mid semester. Jadi libur dulu, katanya. *wahai. saya menemukan satu kebohongan anak itu.

Menurut pengakuan nenek itu, si Aku telah bersamanya sejak ia berumur empat hari. Hanya bermodal kompeng, dot dan susu botol-lah ia membesarkan si Aku. Sebagai seorang nenek, katanya lagi, ia sungguh menyayangi cucunya itu. Ia juga menceritakan bagaimana pengorbanan yang dilakukannya untuk beberapa cucunya yang lain.

Nenek itu, meskipun kadang tak memasak, tapi ia meminta bantuan tetangga untuk memasakkan makanan untuk mereka. Dengan uang pensiunnya, si nenek mencoba memenuhi kebutuhan si Aku. Memberi ongkos dan uang jajan untuk si Aku.

"Tapi buk, payah bana manjagoan nyo." cerita si nenek tentang susahnya ia menjaga dan mendidik anak laki-laki yang bertumbuh remaja itu. "Kadang ia pulang jam dua malam, kadang jam tiga. Kemana anak itu, entahlah." Tambahnya lagi, "Kok pai-pai juo Ang, mati se den di rumah ko sia nan ka tau?" Suara si nenek mulai serak, matanya pun berkaca-kaca. 

Nah! Kebohongan kedua. Pengakuan si Aku, ia selalu di rumah. Bahkan untuk sekedar main bola sore pun, ia jarang lakukan, karena khawatir neneknya yang tinggal sendirian. 

Masalah yang mengantarkan saya ke rumahnya bukan tentang kebohongan itu. Sebabnya adalah, si Aku sudah lebih lima kali hari Selasa tak datang ke sekolah. Dan, hanya hari Selasa. Ada apa dengan hari Selasa?

Bersama si nenek
Ada beberapa kemungkinan yang melintas di pikiran saya, pertama, mungkinkah si Aku bekerja pada hari Senin, lalu ia kelelahan dan tidak bisa datang sekolah hari Selasa. *Senin adalah hari 'balai' di kota kami. Atau, kemungkinan kedua, ia ikut seseorang yang mengantar barang-barang pada malam Selasa itu. *Seperti kasus siswa saya sebelumnya, yang menyetir truk mengantarkan seng/atap ke daerah (kabupaten) lain. Atau, kemungkinan lainnya, apakah neneknya sakit setiap hari Senin? Atau ia tak punya uang untuk berangkat sekolah setiap hari Selasa? Atau, atau yang lain?

Hari itu, memang belum ditemukan, apa sebab si Aku tak kunjung datang sekolah hari Selasa. Tapi, saya menyimpulkan beberapa hal, tentang kebohongannya, tentang cerita-cerita si nenek, tentang mulai menipisnya *mungkin* motivasi sekolah si Aku. Atau, ia sedang menghadapi persoalan lain, yang tak diceritakan kepada si nenek.

Lalu, kami membuat kesepakatan, saya dan si nenek. "Nenek jangan beri tahu si Aku dulu, tentang kedatangan saya hari ini. Besok, di sekolah saya akan panggil lagi, dan tanyakan kabarnya. Mana tau, ia bisa bercerita." Si nenek setuju. 

***
Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya home visit saat itu. 

Pertama, Ini hanyalah bagian perjalanan takdir. Maka adakah yang pantas disalahkan dengan keadaan semacam ini? Si Aku mungkin tak pernah menginginkan terlahir menjadi anak yang tak dibesarkan ibunya. Diurus oleh nenek, yang yaa..bagaimanalah kasih sayang si nenek, yang tak sanggup 'berang' karena terlalu sayang. Seberapa mengertikah si nenek tentang tugas-tugas yang dibebankan sekolah. Ah, diceritakan pun, mungkinkah si nenek mengerti tentang rumitnya hal-hal berkaitan jaringan, matematika, dan bahasa inggris? Saat remaja seusia itu sakit, masih ada ibu tempat mengadukan yang terasa. Si Aku? Tanggunglah saja sendiri. Ceritakan ke puskesmas, antarkan sendiri sakitmu, dan mintalah obat jika kamu memang mau sehat kembali. Bukankah hanya begitu yang mau tidak mau, rela tidak rela, harus dihadapinya?

Kedua, persoalan yang dihadapi si Aku, pastinya tak hanya perkara kasih sayang yang tak sempurna ia peroleh sejak masa kecil. Melainkan juga karena hitung-hitungan keuangan. Kebutuhan anak remaja, apakah terpenuhi dengan gaji pensiunan yang telah potong sana-sini, dan tentunya memenuhi kebutuhan mereka berdua? 

Ketiga, tekanan yang dihadapi si Aku di sekolah, kasus ini itu, mengantarnya bercerita atau mengadu kepada siapa? Ibu jauh, sibuk pula mencari uang. Ayah? Ayah tak tau dimana. Kawan? Seberapalah pedulinya kawan.. Ia memang menjadi korban. Efek keadaan keluarga yang tidak normal. Namun, ketidak beruntungan nasib hendaknya bukan alasan baginya kemudian menjadi lemah.

Keempat, Kalau saja ada lembaga atau yayasan yang peduli pada urusan finansial, juga kasih sayang. Kalau saja, ada banyak orang tua asuh, kalau saja mamak, sanak famili dan keluarga masih peduli. Sayangnya, kita terlanjur tak sabar. Sayangnya, keadaan itu hanya "kalau saja". 

Kelima, si Aku tak boleh berhenti sekolah. Ia harus punya modal keterampilan untuk masa depannya. Tapi yang lebih utama, ia harus tahu : "Berpikirlah Aku. Begini hidup mengajarkan kita..Ya, Beginilah."

31.5.16

14 Hak Anak Versi Perda Provinsi Sumbar

Provinsi Sumatera Barat memiliki peraturan daerah terkait perlindungan perempuan dan anak, yaitu Perda nomor 5 tahun 2013 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak. Perda ini tidak hanya memuat bagaimana penanganan korban kekerasan, tapi juga mencakup pencegahan. Juga penyelenggaraan perlindungan perempuan dan anak sesuai Standar Pelayanan Minimal, penanganan, pemberdayaan, pembinaan dan pengawasan.

Hak-hak tersebut tercantum dalam bagian kedua, Hak Anak, pasal enam. Diantaranya:

Setiap anak berhak:
a. Untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan
b. memperoleh perlindungan dari tindakan diskriminasi
c. memperoleh perlindungan dari eksploitasi ekonomi dan eksploitasi seksual
d. memperoleh perlindungan dari kekerasan fisik, prikologis, seksual dan penelantaran
e. atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan
f. memperoleh akta kelahiran secara bebas biaya
g. untuk memeluk agama dan beribadah menurut ajaran agamanya dengan bimbingan orang tua / wali
h. untuk tidak dipaksa berganti agama oleh orang tua asuh, orang tua angkat dan oleh siapapun
i. untuk diakui dan mengetahui orang tuanya, dibesarkan dan diasuh oleh orang tuanya sendiri
j. memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial
k. memperoleh pendidikan dan pengajaran sesuai dengan minat dan bakatnya
l. memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, meningkatkan diri dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi anak penyandang disabilitas fisik, mental dan berkebutuhan khusus
m. menyampaikan dan didengar pendapatnya
n. beristirahat dan memanfaatkan waktu luang dalam pengembangan diri.

***
Adakah anak-anak di sekitarmu memperoleh hak-haknya sebagaimana mestinya?

21.9.14

Wacana Bus Gratis Pelajar

Perhatian Pemerintah Kota Pariaman, menyikapi tingginya angka kecelakaan di kalangan pelajar agaknya perlu diacungi jempol. Pemko Pariaman terhitung 22 September ini memberlakukan pelayanan bus gratis untuk pelajar di wilayah pinggiran kota. (PadEk) Hal ini merupakan bentuk kepedulian nyata untuk kenyamanan transportasi pelajar kota itu.

Merujuk pada data Liputansumbar angka kecelakaan di Sumatera Barat meningkat 10 persen terhitung tahun 2013. Diketahui, 71 persen dari kecelakaan itu adalah pengguna sepeda motor. dan rata-rata terjadi sepanjang pukul 12.00 -18.00. Bili dilihat lagi, waktu  tersebut merupakan jam-jam sibuk, termasuk aktifitas pulang sekolah para pelajar.


Kota Padang Panjang yang hanya seluas 23 km persegi memiliki tiga SMA, dua SMK dan lima SMP. Sebagian besar pelajar menggunakan kendaraan roda dua sebagai alat transportasinya. Besarnya kebutuhan terhadap sarana transportasi publik yang nyaman, hendaknya juga menjadi prioritas pemko.

Pemko Bandung sudah memberikan fasilitas bus gratis sejak akhir tahun 2013 lalu. Meskipun gratis yang diberikan Damri, untuk sekitar 10 ribu pelajar hanya setiap hari Senin. Dana itu disponsori tunggal oleh salah satu bank syariah. Nah, bagaimana kiranya 'kota serambi mekah' ini, bisa bekerja sama pula dengan lembaga-lembaga atau baitul mal sejenis?

Dampak Terhadap Angkutan Kota

Salah satu dampak dari adanya kebijakan bus gratis pelajar adalah kepada angkutan kota. Jika nanti kebijakan tersebut diberlakukan, barangkali tidak akan berdampak besar kepada pengusaha angkutan umum. Karena pelayanan bus ini ditujukan kepada pelajar saja, dan pada waktu-waktu tertentu. Seperti membagi shift dan jatah rute.

Pola pembagian shift dan jatah rute itu memungkinkan pelajar untuk lebih disiplin mengatur waktu berangkat sekolah, meminimalisir keterlambatan sampai di sekolah. Di samping mendisiplinkan dengan aturan razia pol PP juga dapat membantu kebiasaan baik tersebut. Shift dan rute hanya sebagai pengganti penggunaan kendaraan roda dua siswa, sekedar pembatasan saja.



Perhatian terhadap pengadaan bus gratis pelajar ini barangkali dinilai lebih positif oleh masyarakat dibandingkan dengan ide modifikasi mobil dinas 'keren' lapis stiker black dov.

#ehem


7.10.13

Tips Membimbing LKTI



Jika Anda seorang guru/pendidik, ada kalanya akan diberikan tugas pada bidang yang tidak menjadi tanggung jawab Anda. Seperti saya. (hallaah..curhat mode on). Jangan khawatir. Dan ini serius, sesuatu yang saya dapat hanya lewat pengalaman berharga. Barangkali jika bukan saya yang saat itu dipercaya membimbing dan mendampingi, tentu hal-hal yang akan saya bagi ini tak pernah ada. 
 
Saya bertugas di sekolah menengah, kejuruan dengan bidang keahlian Teknologi informasi. Jurusan yang ada di sekolah itu adalah yang berkaitan dengan software, hardware dan media-desain. Dengan hobi membaca dan menulis yang dimiliki, juga pengalaman aktif di lembaga pers mahasiswa, yang notabene berhubungan langsung dengan dunia tulis menulis, saya terpilih membimbing lomba yang masuk beberapa bulan lalu. 

Pertama kali, saat ada iven Pekan Konstitusi yang diselenggarakan Universitas Andalas, Padang. Sebelumnya, sekolah kami sempat menjuarai lomba cerdas cermas IV pilar berbangsa sampai ke semifinal di provinsi. Atas prestasi itu, -barangkali- sekolah kami kemudian diundang pada pekan konstitusi tersebut. Selain cerdas cermat tentang Hukum dan perundangan, ada satu lomba Karya Tulis Ilmiah. Itulah kali pertama saya belajar lebih fokus mengenal, dan membimbing KTI. Kali pertama ikut, dengan dua utusan peserta KTI, yang satu kita beroleh juara II (judulnya : Monopoli Hukum Sebagai Sarana Untuk Pembentukan Karakter Generasi Muda Indonesia), satunya lagi (Osis KVK), belum beruntung. hehehe. 



Setelah itu, setiap kali undangan lomba kepenulisan kreatif, populer dan KTI masuk, saya ambil peran untuk berbagi pengalaman-pengalaman dari kemenangan pertama kami. Jika menang, memanglah senang. Jika tak lolos, saya harus bersiap dengan tisu. 

Dari cerita saya barusan, apakah kita senasib? Kalau begitu,,saya akan bagi beberapa tips membimbing LKTI berikut:
  1. Perhatikan dan pahami aturan lomba. Setiap penyelenggara memiliki aturan main sendiri. Memahami term/tur kegiatan adalah penting. Sebagian panitia menyiapkan sampai detil penulisan, kita tinggal mengikuti versi yang ditentukan. Yang utama, adalah pertimbangkan tema
  2. Perhatikan deadline. Jika kita merasa mampu membimbing dengan tema yang telah ditentukan, bisa belajar dan ada gambaran ide, selanjutnya adalah... 
  3. Kumpulkan siswa. Saat mengumpulkan siswa, saya selalu awali dengan gambaran ide yang sudah saya stok sebelumnya. Lalu, memberi kesempatan mereka berpikir lebih kreatif, beri waktu satu atau dua hari, searching dan mempersiapkan ide mereka masing-masing.  
  4.  Setelah waktu yang dijanjikan, bahaslah tema pilihan mereka itu, diskusikan.
  5. Setelah tema oke, barulah kita masuk bagian kepenulisan. Berikan gambaran sebuah tulisan ilmiah, bagaimana membuat outline. Kenalkan dan ulang-ulang lagi soal EYD yang kadang dianggap sepele
  6. Menulis, beri deadline beberapa hari. (ini sih kondisional)
  7. Diskusikan dan perjelas kesalahan-kesalahan dalam menulis ilmiah. Ketepatan sasaran, perjelas tujuan dari tulisan. Edit terakhir. Lalu, mereka yang print, atau kirim softnya. Tetap dengan pantauan kita. 

Jika diminta melampirkan sejumlah data, seperti fotokopi kartu pelajar, fotokopi bukti transfer registrasi, fotokopi lain-lainnya, maka pastikan satu siswa yang menghandle urusan administrasi ini.

Jika masuk final, persiapkan presentasi. Langkahnya:
1.       Berikan gambaran beda presentasi dan tulisan, tujuan masing-masingnya
2.       Bagi kepada beberapa hal, pendahuluan berupa latar belakang,  isi gagasan, dan penutup
3.       Selipkan gambar/desain agar audiens lebih paham
4.       Presentasi bukan untuk memindahkan tulisan yang ada pada KTI, tapi membuatkan kerangka yang dijelaskan oleh presentator
5.       Jika slide sudah selesai, siswa diminta membuatkan apa yang akan disampaikannya
6.       Memperbaiki dan mengoreksi bahasa lisan
7.       Latihan mempresentasikan karya tulis ilmiah
8.       Hindari menggunakan kata mungkin, barangkali, dan ragu-ragu. Jangan pula terkesan sombong dan arogan. Kebenaran yang diteliti, boleh jadi milik kita. Tapi tidak tertutup kemungkinan orang lain menemukan kebenaran lainnya.
9.       Sebelum presentasi jangan lupa memperkenalkan diri
10.   Perhatikan pembagian waktu. Biasanya, waktu 15 menit. Atau, waktu yang ditentukan panitia, jangan terlalu kurang atau berlebih.
11.   Perhatikan bodylanguage saat presentasi, senyum dan sapaan kepada dewan juri dan hadirin.
12.   Perhatikan posisi berdiri, Jangan membelakangi audiens. 
13. Jika tim terdiri dari dua orang, tentukan peran masing-masingnya, sebagai presentator dan operator. Jika lebih, bagi tugas agar tidak didominasi satu orang saja.

Saat tanya jawab dengan juri:
Ada berbagai gaya juri dalam memberikan pertanyaan. Pahami maksud dan cari kata-kata inti dalam kalimat juri itu. Hindari menentang dan mendebat juri.Ketahui, apakah maksud pertanyaan juri adalah menguji -baik pengetahuan, daya pertahanan gagasan/ide, kestabilan- atau benar-benar butuh penjelasan lebih tentang gagasan yang dipaparkan.
Dan, tentu saja gunakan kata sapaan sebelum presentasi dan menjawab pertanyaan juri. Istilah Minangnya, mangecek ba ujuang ba pangka. Itu adalah tambahan yang memberi arti, santun. 

 Dan, saya mulai menyukai pekerjaan ini. Setelah beberapa prestasi, kita tertantang mencari lomba LKTI, dalam dan luar propinsi, lagi dan lagi. Hehehe. Semoga bermanfaat. :)

11.4.13

Siswa 'Manga'

Halaman satu

Aduh. Saya mesti marah atau gimana. Bingung. Saat pertama kali membuka halaman buku tulis ini.


Buku tulis itu memang bukanlah buku catatan mata pelajaran yang saya asuh. Tapi, di bagian belakang buku ini, dipakai siswa saya sebagai catatan bacaan (tulisan bahasa indonesia) teks membawakan acara dalam bahasa arab.


 Saya paham bila tidak mudah bagi mereka berceloteh dalam bahasa Alquran itu. Apalagi status sekolah kejuruan. Tapi, setidaknya bagi saya, mereka mampu mengantarkan acara dalam bahasa tersebut. Sebagai bentuk ketercapaian saya mengajarkan bahasa asing yang kabarnya internasional kedua itu.


Kalau sekarang kondisinya, saya berhadapan dengan 'siswa manga', yaa...mesti ikhlas. Itulah hobinya. Saya akan support terus. Sama seperti memberikan fasilitas dan support buat hobi-hobi lain yang berkembang lewat pengembangan diri. Terlebih yang berkaitan dengan jurnalistik dan broadcasting. :D

Halaman Dua

9.4.13

Hati-hati dengan (peng)-Ghibah

Saia kutip tulisan ini... tentang ghibah/gosssiip.. yang katanya makin digosok, makin siip. 

Hmm. Mari menjaga diri.. dari sikap ini, dari orang-orang yang terbiasa dengan hal ini, dan dari tema-tema yang memungkinkan terjadinya ghibah. :D

***

 
Jujur saja, orang umumnya senang bergosip. Tempat kerja pun tak lepas menjadi sarang penggosip. Ada saja yang digosipkan, mulai dari masalah rumah tangga rekan kerja sampai kelakukan si bos yang doyan marah-marah.

Sebenarnya tak heran juga. Jika Anda menghabiskan lebih dari delapan jam sehari dengan orang-orang yang sama, tentu banyak hal yang bisa diceritakan. Sebagian dari percakapan berlangsung sehat, tapi sisanya bisa jadi berupa gosip yang berdampak negatif bagi lingkungan kerja.

Jika dipilah-pilah, ada beberapa tipe penggosip. Kenali tipe penggosip apa saja yang ada di kantor Anda, dan pelajari cara terbaik untuk menghadapinya:

Tape recorder
Suatu hari, Anda mencurahkan keprihatinan tentang atasan yang kurang fokus pada pekerjaan selama beberapa minggu terakhir. Keesokan harinya, Anda mendengarkan versi cerita Anda dari rekan kerja lain yang tidak berada di sana ketika percakapan terjadi.

Jika berhadapan dengan orang seperti ini, jaga percakapan agar tetap fokus pada proyek bisnis dan pekerjaan. Hindari membicarakan persoalan pribadi atau hal-hal sensitif lain, jika tidak ingin perkataan Anda diputar ulang olehnya ke semua orang.

Agen ganda
Inidividu seperti ini senang mengadu domba. Dia bergosip tentang atasan di depan Anda, lalu berbalik dan menggosipkan Anda di depan atasan. Hal serupa juga dilakukannya terhadap rekan-rekan kerja lain.

Jika menemui orang seperti ini, simpan saja semua perasaan negatif soal individu lain di perusahaan untuk diri sendiri. Jangan mencurahkan pendapat atau perasaan Anda padanya. Sebab, semua itu berisiko diputarbalikkan olehnya. Jika menjadi korbannya, konfrontasikan saja langsung tindakan tercelanya itu. Dia mungkin tidak akan berubah, tapi setidaknya tahu Anda bukan target yang mudah ditundukkan.

Si pengeluh
Jenis orang satu ini hobi mengeluh tentang apa saja. Rasanya, tiap hari ada saja yang dikeluhkannya, mulai dari atasan yang memberikan terlalu banyak pekerjaan, sampai anak baru yang tidak becus bekerja. Wajar memang seseorang mengeluh jika merasa frustrasi. Tapi, jika dilakukan setiap waktu kelewatan namanya.

Si pengeluh umumnya suka bergosip dengan sesama pengeluh pula. Oleh karena itu, taktik terbaik adalah menolak terlibat dalam percakapan ketika dia mulai bergosip tentang korban terbarunya. Anda hanya akan menyiramkan bensin ke atas api jika ikut-ikutan menjelek-jelekkan orang yang digosipkannya. Sebaliknya, sebutkan hal-hal positif tentang orang itu untuk menutup mulutnya. (LI/OL-06/mediaindonesia.com)

17.2.13

In memoriam Arif Adi Putra



****
Belum lagi setengah jam dia meninggalkan rumahnya pagi Jumat itu. Berpamitan dengan ibu. Berangkat, berniat mencari ilmu. Ia lekas menuju sekolah. 

Di perjalanan menuju sekolah, yang tak terlalu jauh dari rumahnya itu, dia teringat akan ‘sesuatu’ yang tertinggal di rumah. Diputarnya motor, melaju kembali ke rumah. 

Sesampai di rumah, segera diambilnya apa yang dimaksudkannya menjemput tadi. Lalu bergegas lagi. Menstarter motor, memacu kendaraan itu melaju lebih cepat. Berharap ia tidak terlambat sampai di sekolah. Karena pagi ini ada kegiatan muhadarah. Ia tak mau berbaris terpisah. 

Belum lagi satu kilometer dari rumahnya. Si dia itu terjatuh sendirinya. Kata orang sekitar, dia jatuh, bukan tertabrak. 

Kadang memang benar kata orang tua dulu, “air tenang menghanyutkan”. Juga pada lirik lagu Minang tempo dulu, “Usah takuik Nak, di ombak gadang. Aia nan tanang, oi Nak kanduang, mambaok karam”. Barangkali, juga demikian berlakunya dalam urusan jalan. Jalan datar itu membahayakan. 

Kata masyarakat sekitar lagi, dulu, ketika jalan masih berbatu, tak banyak kecelakaan di daerah itu. Justru sekarang, setelah jalan itu diaspal, ada saja kecelakaan. 

Memang banyak orang ‘kena’ justru pada hal yang tidak dikhawatirkannya. Ia barangkali menganggap pada posisi aman. Padahal, apa saja, pada siapa saja, waspada mesti selalu ada. Kalau bukan akan disebut curiga atau ekstra cemas. 

Dia terjatuh sendirinya. Memang di jalan menurun. Meski bagus, mungkin jalannya licin.
Di sana dia sedang berdebat dengan malaikat maut. Bahwa ia masih ingin sampai ke sekolah. Ingin belajar. Ingin menuntut ilmu. Tapi tidak, kata malaikat itu.

Sesaat, ketika kepalanya retak, dan mengucurkan darah yang super hebat, mengaliri jalanan menurun itu, ia terus mencoba mendebat malaikat. Tunggulah. Ia hanya hendak berpamitan dengan sanak saudaranya. Ia hanya ingin pesta perpisahan kecil dengan sahabat-sahabatnya. Ia lalu juga ingin bersalaman, mencium punggung tangan yang selama ini mendidik dan mengasuhnya. Ia hanya ingin meminta tenggang waktu. Tunggulah. Tapi, lagi-lagi, tidak demikian kehendak malaikat.

Tidak, tidak. Itu bukan kehendak malaikat. Itu aturanNya. Hal itu sudah disiapkanNya dan menjadi ketetapan yang malaikat hanya menjalankan. Si dia bisa apa. Semua itu sudah baku. Sudah tertulis di alam sana, sejak ia ditiupkan ke dalam perut ibunya. Lalu siapa yang bisa mencegah dan menghentikan? Siapa yang mampu menolak permintaanNya?

Darah pekat kepalanya masih mengucur hebat. Pada aliran darah segar itu, barangkali turut mengalir rumus matematika yang diterimanya kemarin, lalu digunakannya menyelesaikan tugas tadi malam. Dalam kemerahan darah itu, ada klorofil –yang berwarna hijau-, beragam jenis tanaman obat keluarga, tanaman hias, dan tanaman lainnya yang ia turut tanam dan tata screen house sekolah sore kemarin. Bersama pekatnya darah itu, mengalir pula semangat. Semangat bahwa kelak, ia akan bahagiakan orang tuanya, mencapai cita-cita, dan hidup lebih baik. Itu saja, tak pula rumit. 

Darah terus mengucur deras. Tapi orang-orang sekitar hanya terpana dan bingung melihatnya terkapar di aspal itu. Mereka hanya berdiri mematung. Atau juga membiarkan. 

Apa yang ada di kepala mereka? Tidakkah ada lagi kemanusiaan itu hari ini? Kenapa dia dibiarkan begitu saja? Bukankah yang dilihat mereka itu adalah manusia? Dia bukan kucing, yang setelah tertabrak saja masih dicoba mengemasinya, menggulung dengan kain, lalu menguburnya jika mati. 

Tidakkah mereka tahu, bahwa dia adalah anak manusia? Dia anak sekolah, sama seperti anak-anak mereka. Dia bujang dari kampung mereka juga. Dia anak tetangga mereka. Bahkan boleh jadi, dia adalah kemenakan mereka. Dia masih dibiarkan begitu saja. Mungkin di pikiran mereka ada takut. Takut menjadi saksi. Takut dengan yang namanya darah. Mungkin saja.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. 

Untung saja, diantara yang membiarkan itu, masih ada yang ‘berotak’ untuk memberitahukan pada keluarga si dia. Memanggilkan saudara dan keluarganya. 

Sekonyong-konyong datang keluarga. Tidak pula langsung membawa si dia ke rumah sakit yang jaraknya tak berapa kilometer itu. Tak ada kendaraan. Mungkin lebih tepatnya, tak ada kendaraan yang mau. 

Si dia masih terbaring. Kepalanya masih mengucurkan darah. Darah yang mengalir, bersamaan dengan jiwanya yang ia relakan dibawa malaikat. Ia menyerah. Bawalah. Pergilah.

Tubuhnya dibawa ke rumah sakit. Turut bersamanya si ibu, si kakek, si uda dan juga beberapa tetangga. Di sana rupanya sudah menanti, si Dayat, sahabat kentalnya. Konco bermain bola. Semua menangis melihat tubuhnya. 

Dia lalu diperiksa dokter. Dokter meminta ada pihak keluarga yang menyaksikan. Tak ada. Kenapa tak ada? Si nenek, sudah terjatuh, pingsan di luar sana. Si ibu, berdiri saja tak kuasa, menangis menahan pilu, tak sanggup mencerna kata-kata dokter. Hanya terduduk lemas tak bertenaga, dipegangi tetangga di kursi luar sana. 

Hanya Dayat, yang sedari tadi menangis di balik kaca, menjawab tegas. “Saya”. Lalu masuk bersama dokter itu. Menyaksikan si dokter mengancah kepala sahabatnya. Melihat langsung retak dan rengkah kepala kawannya. Hanya bisa terisak dan mengucap doa.

Tapi, sungguh, doa kadang tak berperan apa-apa pada takdir. Doa yang bisa untuknya, adalah kerelaan. Merelakan si dia pergi, lalu diterima di sisiNya. Dokter pun menyerah. Kita hanya bisa berusaha. Ketetapan jua di tanganNya. 

Kepergiannya, lalu disadari. Semua yang diluar kembali menangis. Dia ditutup dengan kain putih. Mukanya memucat. Tubuhnya dingin. Tak ada lagi rona kehidupan di jasad itu. Dia benar-benar telah berada di dimensi yang berbeda. Di alam sana. Entah di mana.

***
Dia. Arif Adi Putra. Siswa kelas X jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, SMK Teknologi Informasi yang bercita-cita menjadi Polisi. Ia dikenal santun oleh guru-guru. Baik pula bergaulannya dengan teman-teman. 

Saya pribadi, tepat dua hari menjelang kepergiannya, ada pengalaman yang berkesan.
Saat kegiatan kerja bakti, Arif duduk di kelasnya sambil memegang gitar. Seperti sebelum-sebelumnya, saya mengontrol siswa untuk membersihkan ruangan kelas. Jika ada yang tak bekerja, saya pikir mereka tak ada inisiatif, dan perlu diberitahukan pekerjaan yang bisa mengasah jiwa sosial, kerja sama, dan tanggung jawabnya. 

Saya lalu memintanya mengantarkan bunga ke bagian screen house yang berdekatan dengan toga. Di sana telah ada guru lain. Saya lalu hubungi guru yang di bagian toga. Bahwa saya sudah menyuruh siswa ke sana. Berikan ia pekerjaan lanjutan. Karena tampaknya ia tak tahu apa yang akan dikerjakannya. 

Arif lalu sendirian ke kebun itu. Bahkan, sampai saya datangi kebun itu, ia masih di sana. Ia tengah mengangkat pot besar berisi bunga panah asmara. Masih di sana? Setelah sekian lama? Saya berubah pikiran. Tersenyum menyapanya. Ia bilang, kalau ia menyukai tanaman.
Itulah benarnya, dont judge the book by its cover. Dia hanya tak tahu apa yang akan dilakukannya. Dan memberitahu itulah tugas guru. Lalu mengenali karakter, selanjutnya mendidiknya menjadi pribadi yang lebih baik. Itu saja.

Ia adalah anak yang bertanggung jawab. Hanya kurang ide dan inisiatif untuk mengerjakan apa. Namun, jika diminta, ia akan patuhi dan laksanakan semampunya. Cukup bertanggung jawab.

**

Sayang, kita pantas bersyukur, karena kita masih beruntung. Kita dikehendaki hadir di dunia ini oleh ibu dan keluarga sederhana kita. Lalu, di saat kita pergi, lihatlah, betapa menyedihkannya kehidupan bagi mereka, yang meski berat harus diterima. Mereka menangisi jenazah kita. Kita tak seperti bayi-bayi tak beruntung itu. Mereka tak dikehendaki hadir di dunia ini, justru oleh ibu mereka sendiri. Mereka ‘disuruh’ dan diusir agar pergi. 

Kita masih beruntung. Diberinya kesempatan untuk menikmati kehidupan yang singkat ini. Menikmati siang bersama teman-teman. Berprestasi dan berkompetisi. Mengisi malam yang dingin di tengah-tengah keluarga sederhana yang menghangatkan. Mengisi kekosongan jiwa dengan nikmat iman. Itu yang utama. 

Apakah hanya sampai di sana? Tidak Sayang. Tak hanya sampai di sana. Bahkan, ketika kita pergi, berpisah nyawa dan badan, berbeda alam, kita masih saja beruntung. Beruntung hidup di lingkungan baik, yang terus mengalirkan doa untuk kehidupan kita di alam sana kepadaNya. Selalu, mengalir doa untuk kita.


*
Selamat jalan Arif. Selamat memasuki alam jeda-sementara untuk kehidupan baru kelak. Semoga, di sana baik-baik saja. Kita hanya bisa kirimkan doa. Dan suatu masa, mungkin nanti, besok, lusa atau kapan saja, kami juga ke sana.



15.2.13

Fenomena Bahasa Indonesia #1



Ada berbagai fenomena bahasa yang nyata terjadi di lingkungan berbahasa Indonesia kita. Salah satunya adalah yang muncul lewat dialog antara saya dengan Fachry di awal bulan Februari ini. Fachry adalah adik sepupu saya yang masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar di kampung kami.

***
--terdengar lirik lagu : kulihat ibu pertiwi/sedang bersusah hati/ air matanya berlinang/....dst
Fachry   : Uni, si pertiwi itu adiknya Kartini ya?
Saya       : ha? –Terkejut. Melihat ke arah Fachry. Lalu tertawa.-
Fachry   : iya ni?
Saya       : Bukan Ai. Tidak ada hubungannya antara Pertiwi dengan Kartini. Ai mungkin beranggapan begitu karena ada TK Pertiwi, juga ada TK Kartini ya?
Fachry   : iya. –mengangguk-
Saya       : Baiklah. Pertiwi itu bukan nama orang, bukan nama perempuan hebat, bukan nama ibu-ibu seperti halnya Kartini. Pertiwi itu istilah yang digunakan sebagai pengganti nusantara-Indonesia ini. Ibu pertiwi berarti wilayah nusantara kita.
Fachry   : oo. –meng-o seadanya-.

***
Sumber gambar : google/wahyusiswaningrum.blogspot

Sungguh, saya cukup kesulitan menjelaskan hal itu. Mencari perbedaan kongkrit antara ibu kartini dengan ibu pertiwi, yang secara bahasa -nyata- sama-sama menggunakan kata IBU. Sementara pengertiannya sangat jauh berbeda. 

Ada banyak kosa kata lain dalam bahasa Indonesia yang juga sulit –bagi saya- dicarikan penjelasannya. Misalnya soal akronim dan singkatan. Bagaimana sebenarnya kaidah dalam bahasa indonesia mengatur? 
Ada kalanya singkatan itu diambil dari huruf pertama dari setiap katanya. Seperti, SD singkatan dari Sekolah Dasar. Atau BI : Bank Indonesia. Atau BPSNT : Badan Pusat Sejarah dan Nilai Tradisi. 

Ada kalanya singkatan itu diambil bukan dari satu huruf pertama, melainkan dari sembarang kata yang terdapat pada kata itu. Seperti Bawaslu: Badan Pengawas Pemilu. Sementara PEMILU  sendiri juga kata yang sudah disingkat Pemilihan Umum. 

Semakin hari singkatan itu semakin “keren” saja. Entah sengaja dibuat keren atau tren bahasa sekaranglah yang menuntun menjadi “ke-keren-keren-an”. Contohnya seperti lalin: lalu lintas.

Barangkali menyingkat-nyingkat kata itu sudah menjadi candu bagi pengguna bahasa saat ini. Katanya agar lebih efektif. Tapi menurut saya, tidak pula susah menyebut kata itu baik-baik. Menyelesaikan kata itu sebagaimana mestinya. Yang ada kini, biar terlihat keren (mungkin), disingkatlah kata-kata itu. Walau tanpa aturan tertentu. Sembarang(an) saja.

Ada pula singkatan dari bahasa asing yang tak jelas penggunaannya, seperti WC yaitu water-closet. Padahal ada padanan kata dalam bahasa Indonesia seperti jamban. Sayangnya kebanyakan masyarakat terbiasa menggunakan WC.
 

Contoh lain seperti (maaf) BH : bustehouder yang jika diterjemahkan menjadi penyangga payudara. Berbeda dengan jamban, yang bahasa Indonesia-nya terkesan lebih baik, untuk BH ini, masyarakat (menurut saya) tidak salah jika memilih menggunakan kata tersebut, daripada versi Indonesianya; kutang.  

Singkatan kata itu juga –kadang- tidak menghargai. Seperti singkatan MITA untuk Minyak Tanah. Apa alasannya coba? Padahal ada banyak orang bernama demikian bukan? Judul media pun kadang “main-main” dengan kata ini, seperti “Mita kembali bergejolak”, atau “Taslim: Tindak Penyelundup Mita”, atau “Mita langka, harga pun melambung di Dharmasraya”. Aih! Risih dengan judul berita usil seperti itu -kalau tidak akan disebut kreatif-. Hahaha.

Nah, baru-baru ini saya dengar di media istilah baru lagi, Sprindik. Kata yang cukup sulit mengejanya, sama seperti spritus. Sprindik adalah Surat perintah penyidikan. Kenapa bukan SPP saja? Bukankah ada banyak kata lain yang juga merupakan singkatan yang sama, tapi kepanjangannya berbeda. Kita bisa mengetahui maknanya dari konteks pembicaraan kata tersebut. Seperti LPM. Ada banyak LPM. Lembaga Pengabdian Masyarakat, atau Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, atau juga Lembaga Pers Mahasiswa. Mudah saja bukan?   

Kita tentu berbangga dengan keragaman bahasa yang dimiliki bangsa ini. Semakin hari semakin bertambah istilah yang muncul lewat media. Namun ada kekhawatiran, jika tidak ada aturan yang jelas tentang akronim dan singkatan itu. 

Barangkali jika para pakar bahasa dan pemerhati bahasa terus mengikuti perkembangan itu,  akan kesulitan meng-input (Bahasa Indonesianya: memasukkan) kosa kata baru tanpa aturan itu ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau, semua kata yang semakin begaram tak beraturan ini tak perlu saja dikumpulkan dalam KBBI? (eh? akhirnya, saya pakai singkatan juga nih!)

Dan, seperti itulah fenomena bahasa kita sehari-hari.  Ini baru satu soal akronim dan singkatan saja, belum lagi jika kita komentari tentang bahasa alay, lebay, dan gaul anak muda sekarang. (ceileee, berasa tua aja! :D) Akan semakin membingungkan. Saya juga. Selamat ber-bingung-bingung-lah kalau begitu. :)
                                                       

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...