Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

29.9.17

Sosok: Ayah-nya SMA 1 Padang Panjang


Suatu hari, di sela-sela perkuliahan, saya dan beberapa teman terlibat pembicaraan tentang guru masa kini. Bahwa guru, adalah sosok panutan, yang digugu dan ditiru, agaknya mulai ternodai dengan oknum-oknum yang menciderai makna itu. Namun begitu, setiap sekolah tentu memiliki seorang atau bahkan lebih sosok guru panutan, idola, favorit yang dinanti-nanti siswa di kelas. Tersebutlah nama seorang 'Pak Yamin SMAN 1 Padang Panjang". Seorang guru legend, humoris, yang mengajar penuh hikmah. 

Saya lalu berkesempatan bertemu langsung, dan bercerita sedikit dengan "Ayah-nya" anak-anak SMA unggulan Sumatera Barat ini.

**
Kita harus mendidik dari hati.

Demikian beliau mulai becerita. Namanya bapak M Yamin. Anak-anak asrama, semenjak generasi ke 3 SMAN 1 Padang Panjang memanggilnya, Ayah. Pria kelahiran Tanjung (Sarolangun) 3 April 1958 ini, sejak semula memang mencintai profesinya sebagai guru.  Menurut beliau, kenapa guru-guru hari ini tak lagi begitu disegani oleh siswa, salah satunya tentu disebabkan oleh sikap guru itu sendiri.   
"Guru harus menjadi idola" tuturnya. Guru idola bukan juga yang membiarkan kesalahan ada pada siswa. Guru idola tetap menegur jika itu adalah suatu kesalahan. Hanya saja, cara menegur itulah yang membedakan rasa segan, hormat dan patuhnya siswa. 
Sebagian siswa memang memiliki kecendrungan 'pesan lebih sampai bila disentuh". Maksudnya, anak-anak yang masih main, kumpul-kumpul ketika azan sudah dikumandangkan, tidak ada efek apa-apa jika arahan disampaikan guru lewat mikrofon saja. 
"Pada situasi itu, hendaknya si guru, mendatangi siswa, lalu menyentuh bahunya dan merangkulnya -langsung- ke mesjid. Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengelak."      

"Ada lagi kesalahan umum yang terjadi di kelas, oleh seorang guru," sambung beliau.
Sebagian kita mengungkap hal-hal rahasia si anak, di dekat orang banyak. 
"Ini tidak etis." tegasnya.
Misalkan, si guru memarahi siswa untuk kesalahan yang telah diperbuatnya di depan kelas, di hadapan teman-temannya. Atau, guru memanggil siswa ke depan kelas, meskipun sudah secara personal, tetap saja siswa lain akan ikut nimbrung ingin tahu. Ada lagi, guru memanggil siswa bersalah itu, ke ruang majelis guru, yang guru lain ikut dalam kasus tersebut. Ini tentu tidak adil bagi siswa. 

Dalam proses pembelajaran, Ayah terbiasa dengan cerita/kisah penuh hikmah. Menurutnya, mengajar itu, jangan hanya sebatas transfer materi ajar semata. Harus ada nilai-nilai, yang akan terpakai di sepanjang hidup si anak hendaknya.
"Lewat kisah, kita ajarkan tanggung jawab sebagai hamba Allah, kegigihan selayaknya manusia ingin mencapai mimpi-mimpinya, dan etika-etika dalam hubungan sosial lainnya. Bukan dari teori yang dibaca di buku, tapi kisahkan dari hati, agar sampainya juga ke hati." 

Sebagai seorang guru, idealnya guru mengajar dengan passionnya. Mengajar dari hati, itulah passion yang dituntut. Guru perlu menyiapkan diri sebelum masuk kelas. Sebagian siswa lebih kritis, dan guru tidak perlu malu untuk mengakui jika memang masih ragu dengan jawaban pertanyaan siswa. Guru yang sok tahu  akan menunggu waktu untuk tidak lagi dihormati. Karena itu, salah satu kesalahan fatal sebagian guru adalah mengganggap dirinya paling pandai, selalu benar, dan segala tahu. 
**
Dari dua kali cerita saya dengan beliau, setidaknya poin-poin di atas sudah memberi wawasan dan bekal bagaimana menjadi guru yang disegani siswa. Meskipun, lain lubuk lain ikannya ya,  maksudnya,, lain sekolah lain siswanya. Beda SMA beda SMK, *perlakuannya. Hehehee.

7.7.17

Review Buku: Hakikat Harta Karun Santiago (Sang Alkemis; Paulo Coelho)

Judul       : Sang Alkemis // The Alchemist
Penulis    : Paulo Coelho
Penerbit  : Gramedia
Tahun terbit: 2005
Cetakan  : XX, 2016
Tebal      : 216 hlm
Sang Alkemis


Santiago adalah bocah penggembala domba  yang terus membaca. Ia menceritakan apa yang dibacanya kepada domba-domba yang selalu ia panggil dengan nama-nama mereka. Suatu kali, Santiago bercerita tentang seorang gadis, anak saudagar di suatu desa, yang setahun lebih telah ia lewati dan temui. Si gadis menjadi istimewa, karena ia bisa menjadi kawan bercerita Santiago.

Layaknya kehidupan seorang penggembala, hidup seseorang terus berjalan seiring bergulirnya waktu. Dari novel ini, pembaca menyadari, bahwa hidup jangan hanya membiarkan waktu berlalu. Hidup harus ada tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan hidup seorang Santiago adalah berkelana. Untuk mencapai tujuannya itu, setiap hari ia menempuh jalan baru demi mendapatkan pengalaman baru. Manusia jelas berbeda dengan domba gembalaan. Domba tak peduli apapun, tentang perjalanan baru, selain dari ketersediaan makanan dan air.

Santiago teringat akan dirinya, yang tak ubahnya domba itu. Semenjak berjumpa dengan gadis anak saudagar itu, dirinya tak pernah memikirkan perempuan lain. Tak ada tujuan lain baginya, selain meminang gadis itu. "Bisa saja si gadis itu menikah dengan seorang penjual roti yang mempunyai rumah", pikirnya. Lalu ia kembalikan kepada takdir, bahwa tujuannya adalah berkelana.
"Yang membuat hidup menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan"-- Santiago, h. 19
Suatu kali Santiago bermimpi tentang domba-domba dan seorang anak kecil yang menarik tangannya ke Piramida-piramida Mesir. Si anak kecil dalam mimpi itu, mengatakan bahwa kalau Santiago datang ke sana, maka ia akan menemukan harta karun. Demi memecahkan tafsir mimpi itu, Santiago datang ke perempuan tua, Gipsi, si tukang ramal.

"Sudah kukatakan mimpimu sulit. Dalam hidup ini, justru hal-hal sederhanala yang paling luar biasa; hanya orang-orang yang bijak yang dapat memahaminya." -- Perempuan Gipsi,

Dalam perjalanannya menuju Mesir, tidak sedikit rintangan yang harus dilalui Santiago. Ia dipertemukan dengan Raja Salem, yang mengajarkan banyak hal tentang takdir dan kehidupan.

"Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka" : "Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya." --Raja Salem. h. 32-33

Santiago sempat ditipu oleh seorang pemuda, yang kemudian mengantarkannya untuk bekerja dengan salah satu pedagang kristal. Manusia perlu menerima segala yang kemudian terjadi padanya, bahwa semua itu adalah 'yang telah tertulis' atau "maktub". Ia juga bertemu dan menjadi teman perjalanan dengan seorang peneliti asal Inggris.

"Segala sesuatu dalam hidup ini adalah pertanda" -- Orang Inggris, h. 92

"Dalam alkimia, itu namanya Jiwa Dunia. Kalau kau menginginkan sesuatu sepenuh hatimu, saat itulah kau berada amat sangat dekat dengan Jiwa Dunia. Dan ini selalu merupakan daya positif."

Pembahasan dengan Orang Inggris inilah ditemukan kata-kata Alkemis/Alkimia. Tujuan mereka adalah bertemu dengan Sang Alkemis yang terkenal bijak dan memiliki ilmu yang tinggi. Santiago juga belajar bahwa dunia ini memiliki jiwa, dan siapa pun yang memahami jiwa ini juga bisa memahami bahasa benda-benda."Aku belajar bahwa banyak alkemis berhasil mewujudkan takdir mereka, dan pada akhirnya menemukan Jiwa Dunia, Batu Filsuf, dan ramuan Kehidupan."

Di Al-Fayoum, dalam perjalannya menuju Piramida, Santiago bertemu dengan Fatima. Tak lengkap bila novel Paulo Coelho, tak dibarengi dengan kisah cinta. Santiago jatuh hati kepada gadis itu. Setelah perjalanan panjangnya sampai di Piramida, lalu menemukan harta karun, ia mewujudkan takdirnya. Ia kembali, menemui Fatima. Harta karunnya yang paling berharga.



Secara umum, novel terjemahan dengan judul asli O Alguimista (Spanyol, 1988) ini, diterjemahkan dengan baik oleh Tanti Lesmana. Kalimat-kalimatnya ringan, dan nyaman dibaca. 

Meskipun kesimpulan kisah ada di halaman 214, "Memang benar, hidup ini sangat murah hati pada orang-orang yang mau mengejar takdir mereka", tapi tak akan semenarik mengikuti kisah petualangan Santiago ini.

Novel petualangan yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Tentang Takdir dan usaha manusia, tentang kebijaksanaan, tentang cinta dan kesetiaan. Bacalah, mungkin akan mengubah pikiran Anda tentang hidup!

***
Berikut kutipan-kutipan menarik dalam novel ini:

"Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya." Raja Salem.

"Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal yang menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu." Orang Bijak. h. 45

"Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, harta benda kita, ataupun tanah kita. Tapi rasa takut ini menguap begitu kita memahami abhwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama." Pemandu Karavan, h. 101

"Setiap orang punya cara masing-masing untuk mempelajari sesuatu" Orang Inggris.


13.11.16

Belajar Sabar


Kenapa tak jua belajar kepada sabar

Baru saja terlintas potongan tulisan yang pernah saya tulis dulu. Yang kembali hendak mengulang-ulang pertanyaan itu. Kenapa tak jua belajar (kepada) sabar. Sedangkan Tuhan telah sekian kali banyaknya mengajarkan kita, bersabarlah.. bersabarlah.. Bahwa Dia menyukai orang-orang yang bersabar, bahwa dengan bersabar, itulah yang terbaik.

Jika dihitung melalui Alquran fathurrahman, setidaknya ada 101 kata  صبر dengan berbagai bentuk katanya di dalam Alquran. Ada yang berbentuk pertanyaan, ada pula pernyataan, bahkan ada juga berbentuk kalimat perintah. Dengan begitu banyaknya perintah sabar, kenapa kita tak jua belajar kepada sabar. 

Tentu. Tentu saja kita senantiasa belajar. Tapi menerapkannya, tak semudah membacanya.

Saya sedikit berkesimpulan, kenapa ada anggapan perempuan lebih sabar dibanding laki-laki. Dugaan jawabannya muncul setelah dua minggu lebih ini, saya belajar sabar lewat pekerjaan-pekerjaan perempuan. *--jiah. Ini bukan maksud memunculkan tema gender loh ya. :D

Ketika memasak misalnya, bisa dihitung berapa kali gagal dulu, baru bisa enak masakannya. Menjahit juga, harus belajar dari menggambar, mempola, melakukan hal-hal remeh temeh,, yang wow..benar-benar melatih kesabaran. Harus sabar, untuk tak langsung bisa. *eh! Harus sabar menunggu tahapan demi tahapan pelajarannya. Berkebun pun demikian, menanam, menyirami tiap hari, memberi pupuk, menyiangi dari rerumput, haruslah sabar. Dan hasil untuk semuanya? Hasilnya adalah bahagia.

Barangkali itulah sebabnya, pendidikan perempuan zaman dulu, dari kecil hingga remaja, anak perempuan haruslah melakukan pekerjaan yang detail, seperti tiga contoh saya sebelumnya. Tanpa matang/sukses dalam tiga hal itu, mungkin kesabarannya belum cukup untuk bekerja pada bidang/ranah yang lebih luas.

Sekarang? Tak ada bedanya pendidikan bagi laki-laki dan perempuan. Hal yang merupa kearifan lokal ini pun seakan sirna, dianggap tak berguna barangkali. Atau, karena tersibuk dengan pendidikan yang sifatnya bermanfaat pada ranah publik, maka abailah pada ranah domestik itu. Terlupa belajar memasak, menjahit, beberes rumah dan berkebun, terlupa pula belajar sabar. Tak punya kualifikasi sabar jadinyaa. *hihii. analisa abal2.

Bagaimana kalau kita munculkan pendidikan dasar yang menyesuaikan pada kebutuhan berdasar gender? Anak perempuan harus bisa begini begitu, dan anak laki-laki harus bisa begitu begini. Agar sabar dan tanggung jawab pada masing-masing bisa tumbuh sejak dini. *walaah... mari kembali ke tema semula, belajar (kepada) sabar.

Dalam Alquran surat Al Kahfi, ada banyak pengulangan kata صبر. Misalnya, dalam kisah Musa dan Khidir pada ayat 60-82. Dalam kisah ini, sabar yang diceritakan adalah bagaimana bersabar dalam belajar. Bagaimana menahan diri dari keraguan dan pertanyaan-pertanyaan. Pada waktunya, pada kesudahannya orang yang berilmu itu akan menjelaskan sebab dan karenanya. 

18 : 66 : Musa berkata kepadanya (Khidir), "Bolehkah aku mengikutimu, agar kamu mengajarkanku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
18 : 67 : Dia menjawab: "Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku."

*Nabi Musa saja, terancam tidak sabar. Begitu benarlah sulitnya ilmu sabar.

Dalam qs Ali Imran ayat 200, kita juga diperintahkan untuk bersabar. 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” 

 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153)
 

Kehidupan sudahlah teramat pelik. Mari sejukkan hati dan latih diri terus bersabar..Baik itu bersabar dan konsisten dalam ketaatan padaNya, menahan diri dari segala yang diharamkanNya, dan bersabar atas segala yang telah menjadi ketentuanNya.


Lalu, sore tadi, seorang senior bertanya : Masih betah di SMK?

*hiks!

 فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Al-Insaan:24)

16.10.16

Efek Sebuah Diskusi

Keresahan seorang kawan dalam sebuah diskusi suatu kali, membuat saya penasaran dan membaca lebih tentang tema-tema ekonomi, politik, dan hubungannya dengan persoalan pemerintahan hari-hari ini. 

Dari kawan lain saya diberi link ke sebuah blog.. Pustaka Pohon Bodhi.
  http://pohonbodhi.blogspot.co.id/

Apakah semua yang tercantum di sana hanyalah teori konspirasi, atau tidak. Merujuk ekonomi kapitalis atau apa. Menyimpulkan peran negara menjadi korporatisme atau ko***isme. Entahlah. Membaca jelas, lebih baik. Masing-masing kita berhak atas kesimpulan pribadi. 

Ini saya copy, salah satu tulisan dari blog tersebut..

Hasil Akhir

Hasil dari kredit-sebagai-uang dan gabungannya dengan sistem fractional reserve banking memastikan terjadinya kemiskinan di sebuah populasi.

Tak ada ilmuan / genius manapun yang bisa mengingkari hukum matematika. Filosofi berpikir positif, bertindak positif, dan positif-positif lain apapun juga takkan bisa membatalkan hasil matematika ini.

Setiap tahun, sedikit demi sedikit jumlah orang miskin bertambah, sedikit demi sedikit masalah yang harus diambilalih pemerintah pun ikut bertambah.

Pemerintah berada di tengah-tengah antara rakyat dan masalah yang ingin diselesaikan.

"Rakyat ------ Pemerintah -------- Masalah"

Untuk menyelesaikan masalah, rakyat "membayar" pemerintah (dalam bentuk pajak). Semakin banyak masalah yang harus diselesaikan, semakin banyak pajak yang harus "dibayar" rakyat.

Di negara manapun juga, akan tiba suatu waktu di mana rakyat yang terus membayar akan kelelahan...

Dari seorang kapitalis yang bekerja mencari nafkah dan membayar pajak...
berubah mentalnya menjadi "jadi pegawai pemerintah saja," bekerja setelah meminta pajak...

Pemerintah, yang awalnya eksis sebagai sebuah institusi sederhana untuk melayani rakyat, perlahan-lahan menjadi kambing hitam dan "tukang cuci piring" atas masalah ekonomi dan sosial yang terjadi.

Semakin banyak masalah, semakin besar skala pemerintah.. sampai suatu saat...

Pemerintah berubah sepenuhnya sebagai parasit, sebagai penodong rakyatnya sendiri. Rakyat eksis untuk membayar pajak, itulah yang terjadi.

Perusahaan yang tersisa, yang sekarang menjadi tulang punggung negara tersebut, menjadi kelompok "pemberi makan" satu-satunya. Pegawai perusahaan tergantung pada mereka... Pajak untuk membiayai pemerintahan pun tergantung pada mereka...

Hasil akhir cuma ada 2:
1. Perusahaan / korporasi mengambil alih negara (KORPORATISME). Perusahaan akan menyusupkan orang-orangnya ke pemerintahan, keseluruhan peraturan dan keputusan pemerintah adalah untuk membela kepentingan kelompoknya...

atau....

2. Negara mengambil alih semua perusahaan tersisa (KOMUNISME). Negara menolak untuk "meminta makan" kepada pengusaha, dan memutuskan agar Negara = Pengusaha itu sendiri.

Tidak ada ilmuan / genius manapun yang bisa membatalkan hasil akhir ini. Tidak ada.
Usaha terbaik yang mungkin dilakukan hanyalah menunda hasil akhir...

Tanpa mereformasi sistem penciptaan uang, tanpa pelarangan terhadap fractional reserve banking, tak ada usaha perbaikan kesejahteraan rakyat apapun yang perlu dibicarakan. Semuanya sia-sia belaka.

18.9.16

Bunga

Dia yang Mekar di Saat Terik
Bulan di Atas Bunga Kala Senja
Menunduklah.

17.5.16

Kamu adalah Usahamu

(إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ * فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ * وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ * وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ * فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ)

[Surat Al-Layl 4 - 10]

Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

Kita adalah apa yang kita usahakan. Setiap hal baik yang disemai, pasti akan kembali kepada kita. Mungkin bukan hari ini, bisa jadi besok, lusa atau waktu yang tak kita duga. 
Senantiasa menjaga semangat kebaikan, kerja keras dan bersabar.

12.5.14

MY "mei" WORD #5

"Someone truely love u never really leave u"

>> finnally.. she/he got married.. setelah berpetualang kian kemari... ah, kalo jodoh ga kemanaa sodarah.. :D selamatt yaa.. berkah insha allah. :)


"Hati manusia berada di antara dua jemari Tuhan, Dia membolak-balikkannya menurut kehendakNya"

"Love is one long sweet dream, and marriage is the alarm clock."

>>>  Still about Mei... saia dapat undangan banyak banget Mei ini.. haha. apa karna tanggal merahnya juga banyak ya? :D

Kayanya : May become "love month" dehh..selamat yaaa...
;)


7.10.13

Tips Membimbing LKTI



Jika Anda seorang guru/pendidik, ada kalanya akan diberikan tugas pada bidang yang tidak menjadi tanggung jawab Anda. Seperti saya. (hallaah..curhat mode on). Jangan khawatir. Dan ini serius, sesuatu yang saya dapat hanya lewat pengalaman berharga. Barangkali jika bukan saya yang saat itu dipercaya membimbing dan mendampingi, tentu hal-hal yang akan saya bagi ini tak pernah ada. 
 
Saya bertugas di sekolah menengah, kejuruan dengan bidang keahlian Teknologi informasi. Jurusan yang ada di sekolah itu adalah yang berkaitan dengan software, hardware dan media-desain. Dengan hobi membaca dan menulis yang dimiliki, juga pengalaman aktif di lembaga pers mahasiswa, yang notabene berhubungan langsung dengan dunia tulis menulis, saya terpilih membimbing lomba yang masuk beberapa bulan lalu. 

Pertama kali, saat ada iven Pekan Konstitusi yang diselenggarakan Universitas Andalas, Padang. Sebelumnya, sekolah kami sempat menjuarai lomba cerdas cermas IV pilar berbangsa sampai ke semifinal di provinsi. Atas prestasi itu, -barangkali- sekolah kami kemudian diundang pada pekan konstitusi tersebut. Selain cerdas cermat tentang Hukum dan perundangan, ada satu lomba Karya Tulis Ilmiah. Itulah kali pertama saya belajar lebih fokus mengenal, dan membimbing KTI. Kali pertama ikut, dengan dua utusan peserta KTI, yang satu kita beroleh juara II (judulnya : Monopoli Hukum Sebagai Sarana Untuk Pembentukan Karakter Generasi Muda Indonesia), satunya lagi (Osis KVK), belum beruntung. hehehe. 



Setelah itu, setiap kali undangan lomba kepenulisan kreatif, populer dan KTI masuk, saya ambil peran untuk berbagi pengalaman-pengalaman dari kemenangan pertama kami. Jika menang, memanglah senang. Jika tak lolos, saya harus bersiap dengan tisu. 

Dari cerita saya barusan, apakah kita senasib? Kalau begitu,,saya akan bagi beberapa tips membimbing LKTI berikut:
  1. Perhatikan dan pahami aturan lomba. Setiap penyelenggara memiliki aturan main sendiri. Memahami term/tur kegiatan adalah penting. Sebagian panitia menyiapkan sampai detil penulisan, kita tinggal mengikuti versi yang ditentukan. Yang utama, adalah pertimbangkan tema
  2. Perhatikan deadline. Jika kita merasa mampu membimbing dengan tema yang telah ditentukan, bisa belajar dan ada gambaran ide, selanjutnya adalah... 
  3. Kumpulkan siswa. Saat mengumpulkan siswa, saya selalu awali dengan gambaran ide yang sudah saya stok sebelumnya. Lalu, memberi kesempatan mereka berpikir lebih kreatif, beri waktu satu atau dua hari, searching dan mempersiapkan ide mereka masing-masing.  
  4.  Setelah waktu yang dijanjikan, bahaslah tema pilihan mereka itu, diskusikan.
  5. Setelah tema oke, barulah kita masuk bagian kepenulisan. Berikan gambaran sebuah tulisan ilmiah, bagaimana membuat outline. Kenalkan dan ulang-ulang lagi soal EYD yang kadang dianggap sepele
  6. Menulis, beri deadline beberapa hari. (ini sih kondisional)
  7. Diskusikan dan perjelas kesalahan-kesalahan dalam menulis ilmiah. Ketepatan sasaran, perjelas tujuan dari tulisan. Edit terakhir. Lalu, mereka yang print, atau kirim softnya. Tetap dengan pantauan kita. 

Jika diminta melampirkan sejumlah data, seperti fotokopi kartu pelajar, fotokopi bukti transfer registrasi, fotokopi lain-lainnya, maka pastikan satu siswa yang menghandle urusan administrasi ini.

Jika masuk final, persiapkan presentasi. Langkahnya:
1.       Berikan gambaran beda presentasi dan tulisan, tujuan masing-masingnya
2.       Bagi kepada beberapa hal, pendahuluan berupa latar belakang,  isi gagasan, dan penutup
3.       Selipkan gambar/desain agar audiens lebih paham
4.       Presentasi bukan untuk memindahkan tulisan yang ada pada KTI, tapi membuatkan kerangka yang dijelaskan oleh presentator
5.       Jika slide sudah selesai, siswa diminta membuatkan apa yang akan disampaikannya
6.       Memperbaiki dan mengoreksi bahasa lisan
7.       Latihan mempresentasikan karya tulis ilmiah
8.       Hindari menggunakan kata mungkin, barangkali, dan ragu-ragu. Jangan pula terkesan sombong dan arogan. Kebenaran yang diteliti, boleh jadi milik kita. Tapi tidak tertutup kemungkinan orang lain menemukan kebenaran lainnya.
9.       Sebelum presentasi jangan lupa memperkenalkan diri
10.   Perhatikan pembagian waktu. Biasanya, waktu 15 menit. Atau, waktu yang ditentukan panitia, jangan terlalu kurang atau berlebih.
11.   Perhatikan bodylanguage saat presentasi, senyum dan sapaan kepada dewan juri dan hadirin.
12.   Perhatikan posisi berdiri, Jangan membelakangi audiens. 
13. Jika tim terdiri dari dua orang, tentukan peran masing-masingnya, sebagai presentator dan operator. Jika lebih, bagi tugas agar tidak didominasi satu orang saja.

Saat tanya jawab dengan juri:
Ada berbagai gaya juri dalam memberikan pertanyaan. Pahami maksud dan cari kata-kata inti dalam kalimat juri itu. Hindari menentang dan mendebat juri.Ketahui, apakah maksud pertanyaan juri adalah menguji -baik pengetahuan, daya pertahanan gagasan/ide, kestabilan- atau benar-benar butuh penjelasan lebih tentang gagasan yang dipaparkan.
Dan, tentu saja gunakan kata sapaan sebelum presentasi dan menjawab pertanyaan juri. Istilah Minangnya, mangecek ba ujuang ba pangka. Itu adalah tambahan yang memberi arti, santun. 

 Dan, saya mulai menyukai pekerjaan ini. Setelah beberapa prestasi, kita tertantang mencari lomba LKTI, dalam dan luar propinsi, lagi dan lagi. Hehehe. Semoga bermanfaat. :)

11.4.13

Kebetulan dan Kesengajaan

Fakta berikut ini saya baca di sebuah majalah milik Nana, (cucu ibu kos saia). Majalah tersebut didapatnya sebagai hadiah lomba menulis surat kepada walikota. Wuihh...mantap. Kecil-kecil begitu, sudah lancar menulis ya Nana. :)

Ada banyak hal menarik dalam buku tersebut, namun satu diantaranya, mengantarkan saya untuk berpikir lebih, menimbulkan pertanyaan lain: Apakah segala kebetulan yang kita hadapi adalah kesengajaan Tuhan?  Kalau begitu, mungkin saja kebetulan-kebetulan itu berupa kesempatan kedua, pengulangan cerita, dan lain sebagainya. Selanjutnya, jika benar semua kebetulan konsep Tuhan itu adalah kesengajaan, boleh jadi prediksi-prediksi, ramalan-ramalan dan dugaan berlaku.

Namun, bila kebetulan itu adalah kebetulan Tuhan, apakah Tuhan punya konsep kebetulan? (*)

**

Abraham Lincoln dan JF Kennedy adalah dua presiden Amerika. Keduanya mati terbunuh.

Abraham Lincoln

Abraham Lincoln (lahir di Hardin County, tahun 1809, meninggal pada tahun 1865, pada usia 56 tahun). Ia adalah Presiden ke-16 Amerika Serikat.

Ia lalu digantikan oleh Andre Johnson yang lahir tahun 1808.

JF Kennedy
JF Kennedy

Sedangkan Kennedy digantikan oleh Lindon Johnson yang lahir pada tahun 1908.

Pembunuh Lincoln lahir pada tahun 1939, dan pembunuh Kennedy lahir tahun 1939. 
Sekretaris Lincoln bernama Kennedy, dan pembunuh Kennedy bernama Lincoln.



***
Apakah semua kebetulan itu juga kesengajaan Tuhan?

Menurut saia: Yap. Semua kebetulan versi kita adalah kesengajaan Tuhan. Tidak ada kata 'kebetulan' dalam konsep Tuhan. (*)


2.4.13

Arti Ketulusan Cinta #1


Ketika aku mencintai seseorang, aku ingin yang terbaik bagi kebahagian seseorang itu. Walau itu berarti, dia berbahagia dengan orang selain diriku. Bagiku itu bukan suatu masalah. Malah aku merasa senang, bahagia yang sulit untuk dijelaskan.
Seseorang yang aku cintai pernah bertanya kepadaku, mengapa aku selalu meminta dia untuk menyukai seseorang yang sedang dia cintai? Dalam artian, mengapa aku tidak memintanya untuk mencintai diriku sendiri.
Aku cuma ingin dia mencintaiku dengan setulus hati. Ketika di dalam hatinya aku mampu meraba ada orang lain di dalam sana, aku ingin dia menuntaskan dulu segala kegilaannya. Aku ingin dia mencerna, dia berpuas berjuang untuk cintanya. Saat dia telah lelah, saat dia telah berputus asa, saat itu ada aku di sana. Masih terus mencintainya.
Bagiku tidak masalah, ketika aku mencintai seseorang tanpa orang itu mencintai diriku. Sama sekali bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kami sudah saling berikrar untuk sehidup-semati atas jawaban cinta, ketika itu dalam hati-hati kami muncul pengkhianatan. Itu yang menjadi masalah. Namun, sebelum ucap kata itu tiba, aku ingin segalanya menjadi jelas, terang, dan sejujur-jujurnya.
Aku tidak pernah meminta dia mencintai diriku. Yang aku ingin cuma satu, dia tahu bahwa aku mencintai dirinya.
Dulu sekali, ketika aku mencintai dirinya. Saat itu dia tidaklah mencintai diriku. Saat itu, seseorang telah merambas satu bagian dari hatinya. Bagiku itu bukan suatu masalah.
Saat ini, ketika aku mencintai dirinya. Dan ada desiran-desiran hati yang sama juga ada di hatinya namun dia ragu dengan rasa itu. Walau di dalam hatinya nama yang dulu masih begitu menjajah. Mengapa sekarang bagiku menjadi masalah? Tidak! Itu sama sekali bukan masalah.
Dulu ketika aku mencintai tanpa engkau mencintaiku, sekarang juga sama ketika engkau belum juga mampu tulus mencintaiku, bagiku bukan masalah. Akulah yang mencintaimu tanpa harus engkau belajar mencintaiku.
Kalau pun engkau bertanya, mengapa aku mencintaimu? Apa yang harus aku jawab, selain bahwa namamu telah tertulis dalam catatan takdirku.
Ketika alasan-alasan kecantikan hadir, atau ketika kebaikan, atau kepintaran, kesempurnaan, itu hanyalah alasan-alasan yang hadir ketika suatu takdir tersedia untuk dibentuk.
Kadang aku berpikir. Ribuan kilometer jarak kita. Wajahmu dan wajahku tak pernah saling bertemu. Namun, mengapa aku bisa cinta? Terkadang, takdir memang teramat gila.
Aku akan tetap sama: mencintaimu tanpa harus engkau cintai.


dari baiquni.net



***
nemu tulisan ini lagiii...
jadi, "bila rindu bacalah aku" tepat sekali sebagai judul  
De Jurnal of Nimiasata versi tulisan bukunya. :D

17.2.13

In memoriam Arif Adi Putra



****
Belum lagi setengah jam dia meninggalkan rumahnya pagi Jumat itu. Berpamitan dengan ibu. Berangkat, berniat mencari ilmu. Ia lekas menuju sekolah. 

Di perjalanan menuju sekolah, yang tak terlalu jauh dari rumahnya itu, dia teringat akan ‘sesuatu’ yang tertinggal di rumah. Diputarnya motor, melaju kembali ke rumah. 

Sesampai di rumah, segera diambilnya apa yang dimaksudkannya menjemput tadi. Lalu bergegas lagi. Menstarter motor, memacu kendaraan itu melaju lebih cepat. Berharap ia tidak terlambat sampai di sekolah. Karena pagi ini ada kegiatan muhadarah. Ia tak mau berbaris terpisah. 

Belum lagi satu kilometer dari rumahnya. Si dia itu terjatuh sendirinya. Kata orang sekitar, dia jatuh, bukan tertabrak. 

Kadang memang benar kata orang tua dulu, “air tenang menghanyutkan”. Juga pada lirik lagu Minang tempo dulu, “Usah takuik Nak, di ombak gadang. Aia nan tanang, oi Nak kanduang, mambaok karam”. Barangkali, juga demikian berlakunya dalam urusan jalan. Jalan datar itu membahayakan. 

Kata masyarakat sekitar lagi, dulu, ketika jalan masih berbatu, tak banyak kecelakaan di daerah itu. Justru sekarang, setelah jalan itu diaspal, ada saja kecelakaan. 

Memang banyak orang ‘kena’ justru pada hal yang tidak dikhawatirkannya. Ia barangkali menganggap pada posisi aman. Padahal, apa saja, pada siapa saja, waspada mesti selalu ada. Kalau bukan akan disebut curiga atau ekstra cemas. 

Dia terjatuh sendirinya. Memang di jalan menurun. Meski bagus, mungkin jalannya licin.
Di sana dia sedang berdebat dengan malaikat maut. Bahwa ia masih ingin sampai ke sekolah. Ingin belajar. Ingin menuntut ilmu. Tapi tidak, kata malaikat itu.

Sesaat, ketika kepalanya retak, dan mengucurkan darah yang super hebat, mengaliri jalanan menurun itu, ia terus mencoba mendebat malaikat. Tunggulah. Ia hanya hendak berpamitan dengan sanak saudaranya. Ia hanya ingin pesta perpisahan kecil dengan sahabat-sahabatnya. Ia lalu juga ingin bersalaman, mencium punggung tangan yang selama ini mendidik dan mengasuhnya. Ia hanya ingin meminta tenggang waktu. Tunggulah. Tapi, lagi-lagi, tidak demikian kehendak malaikat.

Tidak, tidak. Itu bukan kehendak malaikat. Itu aturanNya. Hal itu sudah disiapkanNya dan menjadi ketetapan yang malaikat hanya menjalankan. Si dia bisa apa. Semua itu sudah baku. Sudah tertulis di alam sana, sejak ia ditiupkan ke dalam perut ibunya. Lalu siapa yang bisa mencegah dan menghentikan? Siapa yang mampu menolak permintaanNya?

Darah pekat kepalanya masih mengucur hebat. Pada aliran darah segar itu, barangkali turut mengalir rumus matematika yang diterimanya kemarin, lalu digunakannya menyelesaikan tugas tadi malam. Dalam kemerahan darah itu, ada klorofil –yang berwarna hijau-, beragam jenis tanaman obat keluarga, tanaman hias, dan tanaman lainnya yang ia turut tanam dan tata screen house sekolah sore kemarin. Bersama pekatnya darah itu, mengalir pula semangat. Semangat bahwa kelak, ia akan bahagiakan orang tuanya, mencapai cita-cita, dan hidup lebih baik. Itu saja, tak pula rumit. 

Darah terus mengucur deras. Tapi orang-orang sekitar hanya terpana dan bingung melihatnya terkapar di aspal itu. Mereka hanya berdiri mematung. Atau juga membiarkan. 

Apa yang ada di kepala mereka? Tidakkah ada lagi kemanusiaan itu hari ini? Kenapa dia dibiarkan begitu saja? Bukankah yang dilihat mereka itu adalah manusia? Dia bukan kucing, yang setelah tertabrak saja masih dicoba mengemasinya, menggulung dengan kain, lalu menguburnya jika mati. 

Tidakkah mereka tahu, bahwa dia adalah anak manusia? Dia anak sekolah, sama seperti anak-anak mereka. Dia bujang dari kampung mereka juga. Dia anak tetangga mereka. Bahkan boleh jadi, dia adalah kemenakan mereka. Dia masih dibiarkan begitu saja. Mungkin di pikiran mereka ada takut. Takut menjadi saksi. Takut dengan yang namanya darah. Mungkin saja.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. 

Untung saja, diantara yang membiarkan itu, masih ada yang ‘berotak’ untuk memberitahukan pada keluarga si dia. Memanggilkan saudara dan keluarganya. 

Sekonyong-konyong datang keluarga. Tidak pula langsung membawa si dia ke rumah sakit yang jaraknya tak berapa kilometer itu. Tak ada kendaraan. Mungkin lebih tepatnya, tak ada kendaraan yang mau. 

Si dia masih terbaring. Kepalanya masih mengucurkan darah. Darah yang mengalir, bersamaan dengan jiwanya yang ia relakan dibawa malaikat. Ia menyerah. Bawalah. Pergilah.

Tubuhnya dibawa ke rumah sakit. Turut bersamanya si ibu, si kakek, si uda dan juga beberapa tetangga. Di sana rupanya sudah menanti, si Dayat, sahabat kentalnya. Konco bermain bola. Semua menangis melihat tubuhnya. 

Dia lalu diperiksa dokter. Dokter meminta ada pihak keluarga yang menyaksikan. Tak ada. Kenapa tak ada? Si nenek, sudah terjatuh, pingsan di luar sana. Si ibu, berdiri saja tak kuasa, menangis menahan pilu, tak sanggup mencerna kata-kata dokter. Hanya terduduk lemas tak bertenaga, dipegangi tetangga di kursi luar sana. 

Hanya Dayat, yang sedari tadi menangis di balik kaca, menjawab tegas. “Saya”. Lalu masuk bersama dokter itu. Menyaksikan si dokter mengancah kepala sahabatnya. Melihat langsung retak dan rengkah kepala kawannya. Hanya bisa terisak dan mengucap doa.

Tapi, sungguh, doa kadang tak berperan apa-apa pada takdir. Doa yang bisa untuknya, adalah kerelaan. Merelakan si dia pergi, lalu diterima di sisiNya. Dokter pun menyerah. Kita hanya bisa berusaha. Ketetapan jua di tanganNya. 

Kepergiannya, lalu disadari. Semua yang diluar kembali menangis. Dia ditutup dengan kain putih. Mukanya memucat. Tubuhnya dingin. Tak ada lagi rona kehidupan di jasad itu. Dia benar-benar telah berada di dimensi yang berbeda. Di alam sana. Entah di mana.

***
Dia. Arif Adi Putra. Siswa kelas X jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, SMK Teknologi Informasi yang bercita-cita menjadi Polisi. Ia dikenal santun oleh guru-guru. Baik pula bergaulannya dengan teman-teman. 

Saya pribadi, tepat dua hari menjelang kepergiannya, ada pengalaman yang berkesan.
Saat kegiatan kerja bakti, Arif duduk di kelasnya sambil memegang gitar. Seperti sebelum-sebelumnya, saya mengontrol siswa untuk membersihkan ruangan kelas. Jika ada yang tak bekerja, saya pikir mereka tak ada inisiatif, dan perlu diberitahukan pekerjaan yang bisa mengasah jiwa sosial, kerja sama, dan tanggung jawabnya. 

Saya lalu memintanya mengantarkan bunga ke bagian screen house yang berdekatan dengan toga. Di sana telah ada guru lain. Saya lalu hubungi guru yang di bagian toga. Bahwa saya sudah menyuruh siswa ke sana. Berikan ia pekerjaan lanjutan. Karena tampaknya ia tak tahu apa yang akan dikerjakannya. 

Arif lalu sendirian ke kebun itu. Bahkan, sampai saya datangi kebun itu, ia masih di sana. Ia tengah mengangkat pot besar berisi bunga panah asmara. Masih di sana? Setelah sekian lama? Saya berubah pikiran. Tersenyum menyapanya. Ia bilang, kalau ia menyukai tanaman.
Itulah benarnya, dont judge the book by its cover. Dia hanya tak tahu apa yang akan dilakukannya. Dan memberitahu itulah tugas guru. Lalu mengenali karakter, selanjutnya mendidiknya menjadi pribadi yang lebih baik. Itu saja.

Ia adalah anak yang bertanggung jawab. Hanya kurang ide dan inisiatif untuk mengerjakan apa. Namun, jika diminta, ia akan patuhi dan laksanakan semampunya. Cukup bertanggung jawab.

**

Sayang, kita pantas bersyukur, karena kita masih beruntung. Kita dikehendaki hadir di dunia ini oleh ibu dan keluarga sederhana kita. Lalu, di saat kita pergi, lihatlah, betapa menyedihkannya kehidupan bagi mereka, yang meski berat harus diterima. Mereka menangisi jenazah kita. Kita tak seperti bayi-bayi tak beruntung itu. Mereka tak dikehendaki hadir di dunia ini, justru oleh ibu mereka sendiri. Mereka ‘disuruh’ dan diusir agar pergi. 

Kita masih beruntung. Diberinya kesempatan untuk menikmati kehidupan yang singkat ini. Menikmati siang bersama teman-teman. Berprestasi dan berkompetisi. Mengisi malam yang dingin di tengah-tengah keluarga sederhana yang menghangatkan. Mengisi kekosongan jiwa dengan nikmat iman. Itu yang utama. 

Apakah hanya sampai di sana? Tidak Sayang. Tak hanya sampai di sana. Bahkan, ketika kita pergi, berpisah nyawa dan badan, berbeda alam, kita masih saja beruntung. Beruntung hidup di lingkungan baik, yang terus mengalirkan doa untuk kehidupan kita di alam sana kepadaNya. Selalu, mengalir doa untuk kita.


*
Selamat jalan Arif. Selamat memasuki alam jeda-sementara untuk kehidupan baru kelak. Semoga, di sana baik-baik saja. Kita hanya bisa kirimkan doa. Dan suatu masa, mungkin nanti, besok, lusa atau kapan saja, kami juga ke sana.



17.1.13

Kaum Muda Kita



Seminggu yang lalu, saya menerima kabar duka tentang kepergian seorang sahabat. Boy Fitra Ad namanya. Kabar duka itu saya dapat lewat pembicaraan kawan-kawan di jejaring sosial, facebook. Meskipun saya tak berkesempatan langsung hadir saat pemakaman jenazah, namun saya bisa turut merasakan suasana duka mendalam di keluarga besar angkatan muda Muhammadiyah Sumatera Barat saat itu. 

Boy [Tepat di samping kanan saya; sisi kanan], Foto : Dok. IMM, 2010

Boy, demikian panggilan akrabnya, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di daeran Pasaman, setelah menghadiri acara Musyawarah Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pasaman Barat. Kecelakaan itu terjadi pagi harinya, saat Boy bermaksud kembali ke Padang. 

Boy, memang telah dulu berpindah alam. Ia –seperti kata Habibie-, telah berada di dimensi lain, dimensi baru kehidupannya, yang kelak kita pun akan ke dimensi itu. Tapi bagi saya, dan kawan-kawan lain, masih merasakan kehadiran Boy, lewat semangatnya yang tertulis di majalah Lorong, atau status dan komen facebook, atau kata-katanya yang sempat singgah dan menetap di memori kami masing-masing. Sekarang, kami hanya bisa mengenang semua itu. 
Bukan saja tentang Boy, saya juga tengah mengenang semangat ber-IMM yang telah berangsur pudur di diri saya. Barangkali bukan saja soal IMM nya. Lebih tepatnya semangat berorganisasi.

Konon kabarnya, semangat berorganinasi itu yang juga kian hambar di kalangan muda Indonesia. Tak ada lagi aktivis. Tak ada gejolak. Yang ada hanya tudingan. Saling tuding satu dan lainnya. Saling memojokkan. Saling mencela. 

Boleh jadi inilah pendidikan tidak langsung yang didapat kaum muda menjelang 2014 ini. Ya, kita tahu, tahun-tahun ini kita disibukkan dengan persiapan pilpres mendatang. Jelas saja tidak mudah menghadapi semua itu. Yang namanya politik tentu bermain taktik. Memilih atau menjaring kader. Bahkan sampai ke tingkat ranting. Menata partai dan mengganti pemimpinnya. Boleh juga bermain-main dengan internalnya. Guling menggulingkan. Menemu letak koalisi atau oposisi. Inilah, setidaknya pendidikan politis kaum muda sekarang itu.

Lalu senior mereka akan berkata, “Kalau tak busuk itu bukan politik Bung!”, ketika salah seorang mereka kemudian ‘dikhianati’ atau mencoba bermain di sana. 

Ada juga yang akan menyemangati, “Teruslah! Ini belum akhir segalanya. Tujuan kita belum sampai.” Saat kader mereka mulai putus asa dengan berbagai problema. Mereka hanya menyemangati. Ya, sampai di sana, lalu berhenti. Yang mengalami dan menanggung segala resiko, toh juga bukan mereka. 

“Maaf ya, resiko tanggung sendiri”, ujar mereka ketika hal yang dikhawatirkan itu kemudian benar terjadi.

Persoalan kendurnya semangat dan dinamika organisasi kaum muda, rupanya tidak hanya di lingkungan saya saja. Ketika berbincang dengan seorang teman dari organisasi lain, ia juga mengeluhkan hal serupa. Tidak ada lagi dinamika pergerakan. Tidak ada debat yang hangat. Tidak ada perang pemikiran lewat tulisan yang pedas dan tajam.  

Oh ya, soal tulisan itu, sudah lama saya dengar. Bahkan ketika saya masih mahasiswa pun, para senior juga berujar demikian. 

“Kalian menang di retorika, kalah di tulisan. Lemah!” Begitu katanya. Tapi, setidaknya, ada juga satu dan dua yang terus menulis di media. Menyampaikan pikiran dan ide lewat cara ilmiah itu. Walaupun, realitanya memang lebih didominasi dengan diskusi dan bicara semata. 

Hari ini, kita terkenang akan seorang teman yang masih menyisakan semangat perubahan. Sama halnya terkenang akan semangat perubahan mahasiswa, kaum muda kita yang kian melemah. 

Sayang, saya tidak lagi berada di jalur aktivis itu. Jalur yang dipilihkan takdir sekarang ini tidak memungkinkan untuk terus bersama mereka –para aktivis-, yang masih semangat berorganisasi. Jalur ini lebih banyak diam. “Nggeh..”, kata orang Jawa-nya. 

Saya hanya komentator. Hanya ingin berkomentar. Dan jika dilihat di dunia persepakbolaan, komentator selalu merasa lebih hebat dari pemain, bahkan juga pelatih. Maklum saja. Hahaha.
Kaum muda, teruslah bersemangat. Biar hidup dalam dinamika, daripada mati pada stagnasi ide, pikiran dan gerakan. Teruslah bersemangat. Sebelum ada penyesalan, terlambat. Selagi masih ada kesempatan. Dan tentu saja, selagi masih ada kehidupan. 

*
Selamat jalan kawan. Jangan bawa serta semangatmu. Sisakan untuk kami, untuk mereka. :)

**
Nimiasata_2013

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...