Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

14.6.17

Pantun Manyerak Bareh Kunik #1

Tradisi Manyerak Bareh Kunik, merupakan salah satu bagian upacara adat pernikahan di Nagari Gunung, Padang Panjang.


Berikut pantun yang dibacakan saat Bundo Kanduang manyerak bareh kunik kepada dua orang penganten. (Mohon izin publikasi kepada bu Asnimar, Bundo Kanduang Nagari Gunuang, Padang Panjang)

Assalamualaikum mulo di sabuik
dimintak maaf sarato reda
kapado hadirin nan rami nangko

Kok indak tapuji ka nan patuik
Maklumlah sifat si manusia
Salah jo khilaf sarato lupo

Asyhadu alla ilaaha illallah
wa asyhadu anna muhammadar Rasulullah

Adat basandi syarak
Syarak basandi kitabullah
Hutang di kito mamakaikan

Batu sangka balantai batu
Batu diambiak ka asahan
Niaik lah lamo nak batamu
Kini lah baru kasampaian

Lai bana baparak dasun
Dasun satambo duo tambo
Bukan pantun sumbarang pantun
Pantun bareh kunik payerak i marapulai jo anak daro

Lah kambang bungo kinango
Tumbuah sabatang di halaman
Kambangnyo di hari sanjo
Alah mah datang anak daro
Tagak sabanta di halaman
Salamo babincang jo babicaro

Ramilah urang di dapue
Rami sarato jo janangnyo
Janang nan tau jo padapuran
Ambo lah tagak ka manabue
Barilah izin di nan tuo
Barilah maaf handai jo tolan

Aso duo tigo jo ampek
Ampek limo anam jo tujuah
Turun naiak babilangan
Raso ka hilang hilang dapek
Bak marabuik di tangan musuah
Katiko sadang batunangan

Manangih mangadu-dudu
Karano pisang satandan
Sajak ketek di kasuah ibu
Lah gadang nyo carikan junjungan

Rumah gadang di Batipuah
Tiangnyo batang Silundang
Baukia bamego mego
Hujan labek nantian taduah
Ribuik rayo nantian tanang
Nan mukasuik sampaian juo

Daun jirak buah janjuri
Bungonyo bungo kasumbo
Lah panek kami mananti
Anak daro talambek tibo

Anak daro di gajah tanang
Ka baruah jalan ka tiku
Mako anak daro talambek datang
Jalan bakelok bakeh lalu

Kandakuik di ateh tubo
Kanikie di ateh pambatang
Nan dijapuik alah tabao
Nan dinanti alah mah datang




29.3.17

Mendidik Anak Multibahasa

Menguasai multibahasa (banyak bahasa) adalah impian sebagian orang, penyuka bahasa. Di samping, menguasai berbagai bahasa sebagai sebuah tuntutan kehidupan, -misalnya orang yang hidup di luar negeri, berbaur dengan orang dari berbagai negara-. Dalam keadaan demikian, bahasa yang digunakan tentunya tak hanya satu, 'bahasa ibu' saja. Berbeda dengan orang yang hanya hidup di satu wilayah sosial, penguasaan bahasa yang diperlukan hanyalah satu bahasa ibu, yang disertai dengan sejumlah dialek-dialek.

Di masyarakat Indonesia sendiri, menguasai multibahasa mungkin adalah hal yang lumrah. Dengan begitu kayanya bangsa ini -beragam suku bangsa, budaya dan juga bahasa-. Saya adalah salah satu yang menginginkan penguasaan multibahasa itu.

Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw, menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi, bahasa Suryani. Tujuan saat itu adalah untuk mengetahui beberapa kalimat yang terdapat dalam kitab umat Yahudi. Dalam riwayat lain kita masyhur pula mendengar, "siapa yang menguasai bahasa suatu kaum, maka ia selamat dari tipu daya kaum tersebut."

Sejarah juga telah mengajarkan kita, bagaimana pertukaran ilmu pengetahuan antara timur dan barat itu terjadi. Masing-masingnya menguasai bahasa tujuan ilmu itu dipelajari. Umat Islam mempelajari bahasa Yunani, lalu menerjemahkan kitab-kitab Yunani. Maka belajarlah orang Timur pendapat-pendapat Aristoteles, Socrates, Plato, Phytagoras dan sebagainya. Sebaliknya, zaman berganti, saat Barat dilanda masa kegelapan, mereka mempelajari bahasa arab, lalu menerjemahkan kitab-kitab yang lahir dari ilmuwan muslim abad itu, ke dalam bahasa mereka.

Terlepas dari semua itu, sebagai seorang muslim yang hidup di Indonesia, kita tentu 'terbiasa' dengan ibadah-ibadah yang hanya bisa dilaksanakan dengan bahasa Arab. Shalat misalnya. Ini tentu juga menjadi gambaran ke-multibahasa-an yang telah populer di kehidupan kita.

Lalu, bagaimana dengan mendidik anak multibahasa?

Sekolah RSBI, sekian tahun lalu telah menggunakan dua bahasa (bilingual) dalam pembelajarannya. Bagi saya, ini adalah salah satu perhatian pemerintah agar anak terbiasa menguasai bahasa selain bahasa ibu nya sejak dalam proses pembelajaran.

Sekolah-sekolah swasta bahkan, sejak usia kanak-kanak telah mengajarkab bahasa asing (kedua) secara intensif kepada anak-anaknya. Memang ada pro kontra terkait pendidikan multibahasa kepada anak. Ada yang berasumsi bahwa anak belum perlu belajar basaha selain bahasa ibu. Ada argumen lain yang menyatakan bahwa, semakin dini anak mengenal bahasa, semakin mudah penyerapannya. Menurut para ahli, masa paling ideal untuk mempelajari bahasa lain selain bahasa ibu adalah usia 6 – 12 tahun.

Dalam teori psikologi anak dikatakan bahwa, stimulasi awal pada usia perkembangan anak melalui pembelajaran bahasa akan memberikan keuntungan dalam perkembangan bernalarnya. Anak akan memiliki kesadaran sistem bahasa sebagai suatu gejala sosial.Tentunya semua ini baik, jika dilakukan dan dipelajari atas dasar kesukaan berbagai bahasa, bukan keterpaksaan.

Kita juga tidak setuju dengan pewajiban belajar bahasa kedua (asing) bagi anak di sekolah-sekolah, khususnya dasar. Hal ini hanya akan menambah beban kurikulum. Di lain sisi, justru mencederai eksistensi bahasa ibu si anak, Bahasa Indonesia.

Maka, rumah dan pendidikan keluarga adalah sarana yang tepat untuk mengajarkan anak berbagai bahasa. Sekali lagi, tentu dengan memperhatikan kecendrungan belajar anak. Bahwa ia memang juga menyukai banyak bahasa. Karena, orang tua hanyalah fasilitator bukan eksekutor. Tak baik pula rasanya hanya tersebab keinginan ibunya, -untuk menguasai berbagai bahasa- anak harus menjadi korban, les bahasa ini itu.

Maksud tulisan ini hanya: jika ada yang sependapat, menyukai berbagai bahasa, ajarkanlah anak-anak sejak dini multibahasa, sekalipun hidupnya di Indonesia. Jika muslim, tentu terbaik adalah mengenalkan bahasa agamanya, bahasa arab. Seperti kata Umar bin Khattab, "Hendaklah kamu sekalian tamak mempelajari Bahasa Arab, karena bahasa Arab itu merupakan bagian dari agamamu." Selanjutnya tentu bahasa-bahasa internasional lainnya. 

* Tulisan ini adalah hasil pikir-pikir saya di jalan menuju sekolah tadi pagi, saat seorang bocah usia dua tahun (kira-kira), menyebut cat dan menunjuk kucing.

** Oya. Bahasa arabnya cat itu ada qith-tun (قِطٌّ ) lho. Mirip ya?! :D

3.3.17

اللغة العربية - Raja Salman

Sengaja kata-kata yang menjadi judul tulisan ini, saya bedakan. Satu berbahasa Indonesia, satunya lagi berbahasa Arab. Setidaknya, agar mulai saat ini kita terbiasa dengan bahasa arab. Walaupun, sebagai seorang muslim, hendaknya bahasa arab bukan lagi bahasa asing. Toh, setiap hari ada lima kali setidaknya kita ber'cakap-cakap' dengan Tuhan menggunakan bahasa ini. Dimana negeri yang membolehkan shalat pakai bahasanya sendiri selain bahasa arab?

Jika beberapa tahun lalu saya bicara tentang 'bahasa arab', sebagian orang hanya akan menilai, hal ini sebagai bentuk ketidak puasan terhadap perlakuan yang diterima. Hanya terzalimi sistem, begitu saja. Barangkali hari ini, awal Maret tahun 2017 ini, tidak lagi demikian. Ya, barangkali. Kemungkinan pertama tetap saja masih ada. Walaupun, tinggal sedikit yang berpikiran demikian. Semoga saja.

Sebagai contoh, jangan jauh-jauh lah... atasan saya saja. Saat menghadap, hari pertama ditugasi di tempat saya bekerja, atasan saya justru berkata: "Barangkali pemerintah berpikir akan ada kerja sama ke Arab. Anak SMK kerja ke Arab, makanya ada bahasa arab di SMK."
Kalimat ini terucap sekitar tahun 2011. Dan tahun ini, saat siswa-siswa saya (yang pernah sedikit mengenal bahasa arab) itu telah berada di dunia kerja, mereka mampu memahami, dan walaupun sekedar berucap "ahlan wa sahlan, afwan, syukran, syekh, sayyid," dan percakapan sederhana lainnya. Di samping, mestinya ada perubahan bacaan shalat yang dilaksanakannya setidaknya lima kali dalam sehari. Kondisi siswa tamatan SMK ini, tentu lebih 'ramah', komunikatif dan 'lebih dekat' dengan konteks kunjungan King Salman ke Indonesia hari ini.

Lebih lanjut kita mengikuti informasi di media, bahwa kedatangan King Salman ini tak lepas dari tujuan kerjasama dalam segala bidang. Selain bersama memerangi terorisme dan radikalisme, bentuk kerjasama yang ingin diciptakan adalah di bidang pendidikan kebudayaan. Kabarnya ada sebelas nota kesepahaman (yang semoga saja berwujud MoU kerjasama itu), antara RI dengan Saudi Arabia. Dan, mengingkari adanya kemitraan Indonesia dengan Saudi Arabia, bagaikan mengingkari matahari di siang hari, demikian perumpamaannya kata King Faisal.

Pendidikan Kita Mesti Ramah Berbagai Bahasa Asing

Bahasa Arab dan kedatangan King Salman hari ini adalah contoh sederhana, bahwa pendidikan vokasi/ kejuruan perlu ramah terhadap bahasa asing. Setidaknya, tiga bahasa asing selain bahasa Inggris. Maksud saya, bukan setiap siswa menguasai bahasa itu keseluruhan, tidak. Tapi mereka mengenal dan merasakan dzuq berbahasa itu. Kelas sepuluh SMK perlu kenal tiga bahasa asing yang dekat dengan vocational yang mereka tekuni. Bahasa Jepang misalnya, atau Perancis, atau Mandarin, atau Korea, Belanda dll.

Saya pikir, anak-anak yang telah memilih sekolah kejuruan, tak akan kesulitan mengenal, menerima dan memperoleh bahasa kedua, ketiga dan seterusnya karena konsep dan sifat kreatif yang sudah melekat pada diri mereka. Tentu saja, jika berharap mereka menguasai, ya tak akan cukup dalam pertemuan dua kali semester. Toh, belajar bahasa Inggris sejak SD pun tak memperlihatkan hasil yang memuaskan jika hanya berpatokan pada pendidikan formalnya. Setidaknya, ada dzuq itu tadi. Dengan mudah, mereka bisa mendalami bahasa asing apapun yang mereka inginkan dan mereka sukai.

Saya screenshot salah satu berita online dengan judul yang menarik ini. "Kunjungan Raja Salman, Bali Belum Punya Pemandu Wisata Berbahasa Arab".





Tak perlu heran juga dengan realita sebagaimana yang terjadi hari ini. Apakah, selama ini kita kekurangan orang-orang dengan kualitas cakap berbahasa Arab? Tidak. Kita tak sedang mencari jarum di tumpukan jerami. Mungkin kita hanya mencari kambing ke kandang bebek. Ya, tak bersua. Ada banyak ma'had yang telah mewisuda mahasiswanya cakap berbahasa arab. Bahkan lembaga pendidikan khusus bahasa arab pun di Indonesia ada.

Dimana persoalannya? Saya berkesimpulan, beberapa hal ini memiliki keterkaitan satu sama lain.
Pertama, dunia pariwisata kita belum memandang perlu adanya bahasa arab sebagai skill dasar bagi pemandu wisata. Hal ini sebaiknya menjadi perhatian bagi pemerintah daerah yang akan mengembangkan wisata dengan istilah kita hari ini, "Wisata Halal Dunia", seperti Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. Gubernur dua daerah ini cukup paham akan hal ini, saya kira.

Kedua, selain pariwisata, perhatian terhadap keagamaan dan keberagamaan dalam dunia politik akhir-akhir ini menjadi hal yang sensitif. Maka, bila seorang pemimpin benar-benar menginginkan rakyatnya ber-Islam dengan baik, mulailah memperbaiki generasi muda. Ingin anak-anaknya shalat yang benar, bantulah memperbaiki bacaannya. Ingin mereka paham, mengerti dan peduli, ajarkan bahasa agamanya. Soal agama, jelas berkaitan dengan pendidikan.




Ketiga, Jauhkan dikotomi ilmu pengetahuan. Bahwa 'Bahasa Arab' adalah bahasa IAIN, madrasah atau pesantren, itu tidak lagi relevan. Dengan tujuan bahasa Arab selain sebagai bahasa internasional kedua, bahasa arab bahasa agama Islam, bahasa ini juga merupakan bahasa ekonomi, politik dan budaya. Jika bisa kita beri hukum wajibnya mahasiswa IAIN memahami bahasa Arab, apapun jurusannya, maka hukum itu menjadi dianjurkan pada jurusan-jurusan ekonomi, hubungan internasional, pariwisata, dan ilmu sosial lainnya. Pun demikian juga dengan sekolah-sekolah kejuruan. Arus globalisasi dan berpikir moderat mengantarkan bangsa-bangsa pada taraf berpikir dan pergaulan yang maju. Tak ada lagi yang terpinggirkan. Selagi ada nilai ekonomis, semua negara memiliki harga diri yang sama. Dulu sensi, sekarang selpi. Dulu anti, malah 'cie ciee' hari ini. *begitulah..

Keempat, Perubahan yang begitu cepat di negara ini, seiring dengan pergantian pejabat, pemimpin, penguasa dan isi kepalanya masing-masing, menuntut kita harus berdiri dengan kaki-kaki hukum. Apapun kebaikan yang tak ada standar hukumnya, menjadi termansukhkan oleh kebijakan yang datang kemudian. Maka apapun yang hendak kita ubah, ubahlah lewat sistem. Berteriak dari luar pagar, kadang tak memberi arti apa-apa pada si pemilik rumah. Terlalu tinggi sekat yang dibuatnya, mungkin. Tapi, bertamulah dengan hormat, elegan berpendapat, ikuti aturan main, dan bermain sesuai aturan, idealnya kebaikan-kebaikan bisa tersalurkan. *ehh..eh, ini apa maksudnya. :D

Eniwei, semua ini hanya cuap-cuap dan luapan kebanggaan saya sebagai rakyat Indonesia.
Saya bangga punya Presiden yang memuliakan tamunya, semoga senantiasa dilimpahi hidayahNya.
Saya hormat dan bangga pada Raja Salman, *terselip pesan: ada banyak pesan-pesan dari lubuk hati terdalam kami ummat Islam lewat spanduk-spanduk itu ya Malik Salman, :D dan semoga senantiasa dalam rahmat Allah swt.

أهلا و سهلا

** BIG Jempol buat Republika. Emang wokeh lah, halaman satunya, ga ada tandingan. Pake bahasa arab sih..

قدوما مباركا يا خادم الحرمين


Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...