29.6.26

Catatan Tentang Perubahan CP PAI dari BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 ke BKPDM Nomor 020 Tahun 2026

Literasi Al-Qur'an Jangan Terlupakan dalam Capaian Pembelajaran PAI



Pembaruan Capaian Pembelajaran (CP) Pendidikan Agama Islam melalui Kepmendikdasmen Nomor 020 Tahun 2026 patut diapresiasi sebagai upaya memperkuat kualitas pembelajaran PAI di sekolah. Namun, dalam sosialisasi pembaruan tersebut terdapat satu fakta yang layak menjadi perhatian bersama. Dipaparkan bahwa hanya sekitar 3,2 persen siswa muslim yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an menggunakan tulisan Arab.

Terlepas dari metodologi pengukuran data tersebut, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: literasi Al-Qur'an peserta didik masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SMK, saya tidak memandang data itu sebagai sekadar angka statistik. Saya melihat wajah peserta didik yang setiap awal semester saya identifikasi kemampuan membaca Al-Qur'annya. Dari sekitar tiga puluh siswa dalam satu kelas, hampir selalu ada satu atau dua siswa yang benar-benar belum mampu membaca Al-Qur'an. Ada pula beberapa siswa yang masih terbata-bata. Sebagian besar lainnya memang sudah dapat membaca, tetapi belum mencapai bacaan yang tartil sesuai kaidah tajwid.

Realitas tersebut membuat saya mengambil keputusan yang mungkin tidak selalu mudah dipahami. Pada setiap awal pembelajaran elemen Al-Qur'an dan Hadis, saya mengalokasikan waktu sekitar dua puluh menit untuk membaca Al-Qur'an. Saya memeriksa bacaan mereka secara bergiliran, mencatat perkembangannya, kemudian memberikan pembinaan khusus kepada peserta didik yang masih memerlukan pendampingan. Mereka belajar kembali menggunakan Iqra', dibimbing secara bertahap, bahkan melibatkan guru praktik lapangan dan guru Bimbingan dan Konseling yang memiliki kepedulian terhadap peningkatan kemampuan membaca Al-Qur'an.

Di sinilah saya merasakan adanya dilema.

Pernah muncul pertanyaan dari rekan sejawat, "Bukankah dalam Capaian Pembelajaran lebih banyak dibahas tentang etos kerja, akhlak, atau refleksi nilai-nilai Islam? Mengapa peserta didik masih diminta membaca Al-Qur'an di kelas?"

Pertanyaan tersebut sesungguhnya mencerminkan persoalan yang lebih mendasar. Rumusan Capaian Pembelajaran memang banyak menggunakan kata kerja seperti memahami, menganalisis, merefleksikan, dan mengamalkan. Semua itu merupakan kompetensi yang sangat penting. Namun, bagaimana peserta didik dapat memahami kandungan Al-Qur'an apabila kemampuan membaca Al-Qur'an saja belum mereka kuasai?

Bagi umat Islam, Al-Qur'an bukan sekadar bahan kajian akademik. Al-Qur'an adalah wahyu Allah, sumber ajaran, sekaligus pedoman hidup. Membacanya merupakan ibadah, sementara memahami kandungannya menjadi jalan menuju pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan. Oleh karena itu, kemampuan membaca Al-Qur'an bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan fondasi bagi tumbuhnya literasi keagamaan peserta didik.

Pengalaman di kelas menunjukkan bahwa pembiasaan membaca Al-Qur'an tidak selalu berjalan mulus. Sebagian peserta didik menjadi lebih disiplin dan termotivasi untuk belajar. Namun, ada pula yang merasa malu karena belum mampu membaca dengan baik. Tidak jarang ada yang datang terlambat, menghindari pelajaran, bahkan tidak masuk sekolah ketika jadwal PAI. Sebagai guru, saya pun pernah berada pada titik hampir menghentikan pembiasaan tersebut.

Namun, setiap kali keraguan itu muncul, saya selalu kembali pada satu pertanyaan sederhana: bekal apa yang sesungguhnya akan dibawa peserta didik setelah mereka meninggalkan bangku sekolah?

Nilai rapor tentu penting. Pemahaman tentang akhlak dan nilai-nilai Islam juga sangat penting. Akan tetapi, kemampuan membaca Al-Qur'an adalah bekal yang akan mereka gunakan sepanjang hidup. Tidak semua orang tua memiliki kemampuan atau kesempatan untuk mengajarkan anak-anak mereka membaca Al-Qur'an. Dalam kondisi demikian, sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk mengisi ruang yang belum mampu dipenuhi oleh keluarga.

Karena itu, pembaruan Capaian Pembelajaran semestinya juga menjadi momentum untuk memberikan penegasan yang lebih eksplisit terhadap kemampuan membaca, menulis, dan menghafal Al-Qur'an, khususnya pada elemen Al-Qur'an dan Hadis. Penegasan tersebut bukan dimaksudkan untuk menambah beban kurikulum ataupun menggeser orientasi pembelajaran menuju aspek teknis semata. Sebaliknya, hal itu akan memberikan legitimasi pedagogis bagi guru untuk membina kemampuan dasar yang masih sangat dibutuhkan oleh banyak peserta didik.

Pada akhirnya, Pendidikan Agama Islam tidak hanya diharapkan menghasilkan peserta didik yang mampu menjelaskan nilai-nilai Islam, tetapi juga generasi yang mampu membuka mushafnya sendiri, membaca ayat-ayat Allah dengan benar, kemudian memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Kemampuan membaca Al-Qur'an bukanlah tujuan akhir pembelajaran PAI. Namun tanpa kemampuan itu, tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih tinggi tentu akan jauh lebih sulit dicapai. Di sinilah pentingnya literasi Al-Qur'an memperoleh tempat yang lebih tegas dalam arah kebijakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.



28.4.26

Selamat Jalan Kuyut

 Malam hari di rumah kami kadang tidak selalu diisi dongeng sebelum tidur. Kadang, saya membacakan puisi kepada anak perempuan saya yang baru berusia tiga tahun. Buku puisi bergambar Ayam, -yang semula dia kira adalah Dinosaurus-, ternyata adalah buku puisi tentang identitas manusia di zaman ini. Dengung Tanah Goyah (2024), tentang kritik sosial dan ekologis, perspektif yang bergeser, budaya dan tradisi lokal dan macam lainnya. 

Puisi-puisi Iyut Fitra—atau Kuyut, begitu kami juga ikut memanggilnya—punya cara sendiri untuk sampai kepada kami, kepada anak 3 tahun kami. Ada pengulangan kata, bunyi-bunyi yang mirip, ejaan yang seperti sedang bermain, juga ujung kalimat yang terasa seperti berpetualang. Bagi orang dewasa, itu mungkin sekadar gaya bahasa. Tapi bagi anak tiga tahun, itu adalah taman bermain. Taman imajinasi.

Ia akan mengulanginya lagi. Tertawa lagi. Salah mengucapkannya, lalu merasa itu semakin lucu. 

Dan kami sering melakukan itu.

Lewat tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada Kuyut. Untuk kata-kata yang ia lahirkan. Untuk puisi-puisi yang diam-diam ikut tumbuh di rumah kami. Untuk sebuah buku kumpulan puisi yang kami dapatkan saat ia datang bertandang ke Padang Panjang, ketika penyakit sudah mulai mengintai tubuhnya yang tipis.

Saya memang harus berterima kasih pada Kuyut. Ia tidak pernah membedakan teman lama atau teman baru. Sama-sama teman. Sama-sama disambut hangat. Ada orang-orang yang hadirnya tidak ramai, tapi tinggalnya lama di ingatan. Kuyut salah satunya.

Karena itu, saya ikut berdoa untuk kesembuhannya. Berkabar kepada ibu Zarni Jamila, menanyakan keadaan, berharap ada kabar baik yang bisa sedikit menyenangkan.

Namun akhirnya, pada suatu sore yang dingin, saya menerima pesan itu.

“Kuyut dah pegi tmn2... mhn doanyaaa.”

Kalimat sederhana yang rasanya panjang sekali. Ada orang-orang yang kepergiannya tidak hanya meninggalkan kehilangan, tapi juga membuat kita sadar: ternyata seseorang bisa hidup lama lewat kata-katanya.

Selamat jalan, Kuyut.

Kini Kuyut sudah tidak sakit lagi.

Semoga Allah menghapus dan memaafkan segala kesalahan. Semoga semua sabar yang dijalani dalam menerima takdir-Nya menjadi jalan yang lapang menuju pulang terbaik.

Dan puisi-puisi itu, akan tetap dibacakan.

Pada malam-malam yang dingin.
Pada anak kecil yang tertawa-tawa.
Pada rumah yang masih menyimpan tulisanmu dengan hangat.


Ujian Matematika

Apakah fenomena ujian matematika tanpa butuh lembar buram dan pena massif dimana-mana saat ini?

Agak heran memang. Saat kita ujian-ujian setingkat SMA atau SMP,  sekira 20an tahun lalu, lembar buram itu jelas ada isinya. Semakin ke sini (waktu berlallu), semakin kita lihat lembar itu isinya macam-macam. Di jurusan tertentu, dulu-dulu masih bagus diisi dengan komik, gambar-gambar abstrak, dan kada-kadang memang ada yang bagus juga. Ada juga yang meminta maaf "Buk, saya semalam tidak bisa belajar, maaf ujian saya hanya seperti ini." 

Namun hari-hari ini, jangankan coretan dan permintaan maaf, lembar itu tak disentuhnya. Kita bertanya, "kenapa tak ada isinya, pencarian jawaban di sini?". Mereka menjawab "Ga ada pena buk."  Siswa yang lain menimpali, "Kalaupun  ada pena, juga tidak tau jawabannya buk."

Hmh. Menarik nafaslah kita dalam-dalam. Terbayang beban ini sudah lama menumpuk di pundak guru matematika. Sama seperti ketika masih ada siswa satu-dua yang belum mampu mengidentifikasi bacaan alquran, huruf-hurufnya, dan iqra zaman dulu itu. Sama terdengar deru nafas gurunya. 

Memprihatinkan.

Saat ujian, siswa mengerjakan soal begitu cepat. Tidak ada coretan di kertas, tidak ada hitung-hitungan panjang, bahkan pena kadang hanya dipakai untuk menghitamkan jawaban. Selesai.

Kadang saya merasa, kita sedang membiasakan anak-anak untuk lebih dekat dengan hasil daripada proses. Yang penting benar. Soal bagaimana sampai ke sana, itu urusan belakangan.

Padahal, bukankah matematika justru mengajarkan langkah?

Dulu kita akrab dengan kertas buram. Penuh coretan, kadang berantakan, kadang salah lalu dicoret lagi. Tapi dari situ terlihat cara berpikir. Terlihat usaha. Terlihat bahwa jawaban itu diperjuangkan, bukan ditebak. Sekarang, yang sering terlihat justru kecepatan. Cepat memilih, cepat selesai, cepat lupa. Dan tidak peduli apa-apa lagi. 

Ujian secara online, sebagian mereka punya "caranya" mencari jawaban dari berbagai jenis AI. Ujian dengan HP, baru 10 menit soal dibagikan sudah terdengar celetukan "selesai". Apa yang mereka cari? Apa yang mereka inginkan? Mengejar cepat selesai lalu "Push rank? Mobile legend??" 

Sebagai guru, kadang ini yang membuat gelisah. Jangan-jangan kita terlalu sibuk mengejar nilai, sampai lupa mengajarkan cara berpikir. Kita senang melihat angka tinggi, tetapi lupa bertanya: anak ini benar-benar paham, atau hanya hafal bentuk soal?

Hidup, sayangnya, tidak seperti ujian pilihan ganda. Hidup butuh "resistensi". Bagaimana bertahan di saat sulit. Hidup yang bukan sekedar matatika ini butuh logika. Butuh berpikir kritis. yang semua itu tidak lahir begitu saja. Sim salabim. Tidak ada jawaban A, B, C, atau D. Tidak ada kisi-kisi. Tidak ada kesempatan menebak lalu berharap beruntung. Yang ada mungkin buntung. 

Hidup meminta kita berpikir. Menimbang. Salah. Memperbaiki. Dan itu semua mirip sekali dengan proses mengerjakan matematika yang sebenarnya. Mungkin karena itu saya masih percaya, matematika bukan sekadar pelajaran hitung-hitungan. Ia adalah latihan hidup. Jangan menyerah, guru matematika dimana pun berada. Ujian memang, saat siswa kita divideokan lalu ditanya kali-kali-bagi-tambah-kurang, -yang dulu kita lakukan sebelum keluar kelas, di sekolah dasar- dan mereka gaya-gayaan, senyum-senyum ga tau. 

Aish. 

24.4.26

2026

 

Halo, ini sudah 2026 ternyata.
Tulisan di sini sudah lama terpendam, seperti halaman buku yang terselip di antara waktu—tidak hilang, hanya belum sempat dibuka kembali.

Kadang hidup memang seperti musim.
Ada masa kita berbunga, penuh semangat dan cerita. Ada masa kita sepeerti musim gugur, diam, butuh hibernasi dan memilih menyimpan segalanya sendiri. Blog ini pernah ramai oleh kata-kata, lalu diam.  Mood lagi, menulis lagi. Tetapi karena hidup sedang sibuk mengajarkan banyak hal dengan caranya sendiri.

Saya belajar bahwa manusia sering kali seperti rumah—dari luar terlihat kokoh, meski di dalamnya ada banyak ruang yang sedang direnovasi. Ada tembok yang retak, bagian yang ingin diganti, ada sudut-sudut yang lama dibiarkan berdebu, ada sisi yang memang sudah sepatutnya diganti.

Dan menulis, bagi saya, adalah cara membersihkan rumah itu.

Kadang kita terlalu sibuk dengan rutinitas hari-hari, sampai lupa duduk sebentar dan bertanya pada diri sendiri:
“Apakah semua baik-baik saja? Apa yang memberi makna dan apa yang perlu diabai-biarkan?”

Waktu mengajarkan saya bahwa tidak semua yang tertunda berarti gagal.
Seperti matahari yang tidak pernah benar-benar terlambat terbit, setiap orang hanya punya waktunya masing-masing untuk kembali bersinar. Hidup masing-masing yang tidak perlu dibanding-sandingkan. 

Jika kamu membaca ini, mungkin kita sama—sedang belajar melewati fase-fase kehidupan, menerima perubahan, dan memahami bahwa tumbuh tidak selalu terlihat seperti pencapaian besar. 

Mari kita mulai lagi.


22.8.19

Selendang Koto Gadang

Menyulam


Pernah dengar Sulaman Koto Gadang? 
Sulaman Koto Gadang, adalah sulaman spesifik Minangkabau yang berasal dari daerah Koto Gadang, IV Koto, Kabupaten Agam. Salah satu 'rumah produksi' sulaman itu zaman dahulu,  adalah di Kerajinan Amai Setia,  Koto Gadang. 

Di tulisan lain dalam blog ini pernah dibahas juga tentang Kerajinan Amai Setia yang didirikan oleh Rohana Koeddoes tahun 1911 lalu. Sepintas kita ulas lagi, di pusat Kerajinan Amai Setia itu, Rohana mengajarkan bermacam-macam keterampilan rumah tangga untuk perempuan. Lewat kawannya, hasil kerajinan hasil pelatihan keterampilan itu kemudian dipasarkan sampai kepada petinggi Belanda. Bahkan dikirim sampai ke Eropa. Maka terkenallah sulaman koto gadang,  hingga hari ini. 

Selendang Koto Gadang disulam dengan jenis sulam Suji Caia dan Kapalo Samek. Dengan ciri khas warna yang mencolok, bunga besar dan disulam dengan benang emas selendang ini tentu ada pasarnya. Harga sesuai dengan kerumitan dan keaslian sulaman itu. Semakin rumit dan detil sulaman, semakin tinggi harga. Tapi yang namanya produk budaya yang khas, betapapun mahalnya, ada selalu kolektor/penyukanya. 

Saya pribadi bukanlah penyuka hal-hal yang begitu tradisi. Karena kadang prinsipnya, yang lebih simpel, lebih mudah, lebih praktis lebih disukai. Namun ternyata, pada kondisi-kondisi tertentu kita wajib tahu dan mengerti atau bahkan mencoba hal-hal yang bersifat tradisi itu,  meskipun sedikit rumit atau unik. Bukan untuk tetap menjadi tradisional, namun siapa lagi yang akan melestarikan tradisi budaya kita kan. 

Jadilah, dalam suatu kegiatan, untuk pertama kalinya saya mengenakan Salendang Koto Gadang. Pasangannya untuk salendang yang dijadikan 'raok' itu, ya busana yang tepat mewakili budaya Minang, yakni Baju Kuruang atau Baju Basiba.



Katanya, kita akan bertemu hal-hal yang sedang berada dalam pikiran. Tiba-tiba saya bertemu ibu-ibu Bundo Kanduang yang sedang menyulam Selendang Koto Gadang. Indah tampaknya pemandangan itu. 

Di saat, hari-hari ini ibu-ibu yang duduk di halaman rumah, atau mengisi waktu santai dengan gadget, pemandangan ibu yang sedang menyulam ini menjadi unik. Padahal, sekian tahun lalu, menyulamlah tradisi para perempuan dalam mengisi waktu. Haha. Lama-lama saya kembali ke masa-masa foto yang hanya berwarna hitam-putih. 



Setelah bercerita dengan si ibu, ternyata ini bukanlah 'sulaman utuh' suji caia. Sulaman yang ada di foto itu, adalah versi kekinian yang dibantu sulam oleh mesin bordir komputer. Selanjutnya bunga-bunga bordirnya diperkuat dengan benang emas. Bagian pinggir selendang juga disulam dengan benang emas. Sekilas memang tampak mirip,  tapi jelas berbeda. 

Di satu sisi, teknologi memang memudahkan segalanya kan ya. Tapi di sisi lain, orisinalitas produk budaya dapat berkurang disebabkan penggunaan teknologi. hallaah. teori.   :D


Catatan Tentang Perubahan CP PAI dari BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 ke BKPDM Nomor 020 Tahun 2026

Literasi Al-Qur'an Jangan Terlupakan dalam Capaian Pembelajaran PAI Pembaruan Capaian Pembelajaran (CP) Pendidikan Agama Islam melalui K...