Showing posts with label cuap2. Show all posts
Showing posts with label cuap2. Show all posts

27.8.17

Keluarga Lebay (?)

11.46

Hingga pukul 11 malam ini si mata masih enggan tidur. Pasalnya ini tentang 'menjaga rahasia'. Iya, rahasia yang membuat saya berpikir-pikir, apakah keluarga saya yang lebay, atau keluarga yang terbiasa merahasiakan banyak hal ini begitu 'dingin'?

Jika di keluarga saya, Imel batuk sedikit saja, laporannya sudah sampai kemana-mana. Atau jika ada keluarga yang sakit, lagi di dokter, atau dirawat di rumah sakit, keluarga besar (khususnya keluarga pihak ibu), sudah berbondong-bondong pula datang. Bagi kami yang sudah terbiasa dengan hal itu, menganggap bahwa kedatangan saudara-saudara itu adalah sebentuk keberkahan.

 Dari selepas zuhur, saya memastikan: "Apakah semua baik-baik saja? Lalu kenapa diteruskan ke rumah sakit lain, di kota lain? Apakah benar-benar tak diberitahu?"

Mungkin bagi sebagian keluarga, memberi tahu anggota keluarga tentang hal yang terjadi di 'rumah' adalah tindakan yang tidak perlu. Dalam cerita "Sabtu Bersama Bapak" juga saya temukan demikian. Bahwa, si ibu, bahkan akan operasi kanker, sudah di ruang rawat, tidak memberitahu anaknya yang jauh darinya. Alasannya adalah, jika ia beritahu, anaknya pasti akan pulang. Mau yang di Denmark, apalagi yang di Jakarta. Dan itu, si ibu khawatir akan mengganggu kehidupan anak-anaknya.

Oke. Itu mungkin cuma cerita. Tapi realitanya memang demikian. Ada keluarga yang berprinsip, setiap anggota keluarga harus mandiri. Menyelesaikan urusannya masing-masing, tanpa meminta bantuan dan pertolongan kepada saudara lainnya, juga ayah dan ibu. Alasannya, "ga enakan". Di saat yang terjadi adalah, keadaan ayah dan ibu yang dicemaskan, selama masih bisa diatasi orang-orang di rumah, anak-anaknya yang terbilang jauh, tidak perlu diberitahu.

Nah, inilah rahasia yang mengganggu pikiran saya, hingga betah-betahnya begadang sampai kini.

Saya mungkin mengukur keadaan itu, dengan timbangan yang terbiasa berlaku di rumah kami. Keluarga yang terbiasa keramaian. Setiap minggu ada saja alasan bertemu dan bertamu. Beberapa bulan sekali, ibu dan para saudaranya berkumpul, sekedar bercerita atau bepergian, bersilaturahim ke sanak famili yang lain.

Kebiasaan lain di rumah adalah makan bersama. Sejak kecil kami dibiasakan makan bersama selepas magrib. Konsekuensinya adalah, apapun kegiatan di luar rumah, jam 6 tentu sudah harus pulang. Mau pramuka, mau main, mau apa saja. Saat makan itu pula informasi beredar, apa kejadian seharian, adakah yang terlihat kurang sehat, atau besok mau apa. Sekedar begitu saja. Hal-hal lebih serius akan dibicarakan usai makan. Terbiasa seperti itu.  


Ke-lebay-an lainnya adalah komunikasi. Ibu harus menelpon saudara yang di Padang dan Bogor, mungkin nyaris tiap hari. Jika setelah beberapa hari ibu tak menelpon, mereka pasti akan bilang: "orang di rumah sombong".  Padahal yang dibicarakan ya itu-itu saja. Bercerita. Apa kegiatannya, gimana ketemu dosennya. Sebaliknya, mereka akan bertanya Imel lagi apa, ayah mana. Tentunya selain hal-hal wajib perkara kesehatan. Bahkan, sekedar bertukar, masak apa hari ini, dengan si Uni. Satu atau dua menit pun jadi. 

Ya sih, kadang-kadang saya berpikir, tidakkah cara itu sedikit lebay? Mungkin juga.

Kita melihat ada dua pola berbeda yang diterapkan dalam keluarga.
Pertama, keluarga yang beranggapan bahwa kehangatan keluarga diciptakan dari pentingnya komunikasi. Kedua, keluarga yang menciptakan kehangatan saat kumpul bersama. Secara fisik mereka dekat dulu, pasti ada kehangatan setelah itu. Masing-masingnya enggan merepotkan yang lain. Selama masih bisa diatasi, ya, bisa diselesaikan sendiri.

Pada kondisi kedua itu, tidakkah kita melihat ada sikap tertutup, atau ditutup tutupi? Benar, akan mandiri. Tapi bisa juga si anak malah menutup diri. Hingga tak ada bedanya, ia sedang memikirkan suatu masalah atau tidak. Ya, memang biasanya begitu. Selalu terlihat tanpa masalah, dan baik baik saja.

Hmm. Bagusnya seperti apa ya?! 
Inilah pertanyaan pengantar tidur malam ini.
Saya ingin bagi tahu, tapi...kalau tidak.. 
Nanti jika.. 
Tapi saya juga ingin tahu. 
Hahaa. 

*Tidakkah saya termasuk orang-orang lebay??

***

Oke. oke. Kita harus istirahat dulu. 
Semoga semua baik-baik saja. Thahuurun Insya Allah!

13.11.16

Komentar Iklan


Di antara acara televisi yang paling saya sukai adalah : IKLAN.

Ya, tak banyak acara televisi hari-hari ini yang menarik. Tidak seperti zaman-zaman SD dulu,, yang setiap jam 10 hari Sabtu ada film vampir yang selalu ditunggu-tunggu. Atau, jam lima sore, ada film-film anak-anak atau.. telenovela yang digandrungi remaja dan ibu-ibu. Entah sejak kapan bermulanya, acara TV tak lebih menarik daripada iklan-iklan yang terus kreatif, dan juga unik.

Saya termasuk yang suka menonton bagian iklan dari tayangan tv ini. Dari iklan lucu, iklan aneh tak jelas, iklan yang buat bingung, iklan tanpa suara, bahkan iklan yang hanya bermodal kata-kata yang ditayangkan berulang kali. Ada juga iklan mengharukan yang sering tayangnya jelang lebaran.

*yahhh..begitulah, para pembuat iklan terus berlomba menjual dagangannya, semenarik dan seunik mungkin. Namanya juga iklan..

Namun begitu, iklan yang mengandung unsur edukatif tetap ada kok ya, *secaraaa..zaman ini loh ya, yg semua dihitung untung rugi*. Yang paling banyak sih iklan edukatif itu ada di tipi 'negeri', pemersatu bangsa. Haha.

Tapi ada satu iklan, beberapa waktu lalu yang menarik. Karena ada adegan anak-anaknya kali ya, dan menjadi lucu saja. Pesan yang disampaikan pun baik. Bagaimana dengan hal kecil pun, kita bisa dapatkan kawan baru.
 *ini mungkin yang mulai langka hari-hari ini. Tak lagi ada rasa peduli. Jangankan menyapa orang baru, dengan orang yang sudah saling kenal pun, seperti ada tembok pembatas, tersibuk gadget yang ada di tangan.

Nah saya paling suka bagian ini:  
- Hi Man!  
- Cris.. --- can i tell u a story.. once upon a time.. there was a gold fish.. --- alone, the end!

*Hahaha, cerita macam apa itu... dahulu kala, ada seekor ikan emas, yang hidup sendiri, dan habis. :D 

ini dia linknya:

https://www.youtube.com/watch?v=sQS8SU98Pjg

So, "when did we forget how to connect with each other?"

Mungkin sejak kita terbiasa memandang curiga dan was-was tak jelas kepada setiap orang baru di sekitar. Melihat dengan sudut mata. Memasang tampang tidak peduli. Justru kemudian aneh, ketika ada orang-orang baru itu tersenyum, menyapa atau bahkan bertanya. Dan, tanggapan berikutnya adalah, kepo. Jadi serba salah kan?! 

"connecting with people is simple. With a little help."
Dalam iklan ini, begitu mudah untuk connecting dengan orang-orang baru. Realitanya, kita bahkan butuh waktu lebih lama dari sekedar menawarkan sesuatu. Orang-orang yang 'dingin tak jelas', merasa cool padahal cuek -bebek-, tidak pedulian, bahkan walau hanya dengan senyum pun, tak dipedulikan.

Untuk realita itu juga sudah ada videonya ternyataa.. hahaha. Parodi iklan m**tos. Begitulah kita. Keseharian kita. Mencoba terhubung dengan banyak orang, berkawan. Kawan lama, yang tergilas masa..tak lagi terjalin komunikasi dengan baik. Kehidupan dan kesibukan mempergulirkan orang-orang yang juga menjadi kawan.  Setiap hari akan bertemu orang baru, yang entah menjadi kawan, atau hanya figuran.

Belajar dulu sama anak-anak ini, how to connect with each other.. heheh.

14.10.16

Apakah

Manusia dalam hidupnya, jelas memiliki tujuan. Tapi tak semua manusia yang 'hidup' memiliki tujuan yang jelas.
Apakah tujuan hidup manusia.
Apakah tujuan manusia hidup adalah kaya.
Apakah tujuan manusia hidup adalah kerja.
Atau, uang.

Apakah manusia inginkan dampak baik setelah hidupnya.
Apakah manusia inginkan hidupnya hari ini, ya hari ini. Kenapa memikirkan dampak.
Mari kita ganti, manusia dengan kita.
Apakah kita memiliki tujuan yang jelas.
Apakah tujuan kita adalah bahagia.
Apakah tujuan kita adalah surga.
Bukankah bahagia dan surga, adalah dampak dari kehidupan manusia.
Bagaimana sekiranya tak ada surga kelak.
Bagaimana jika, bahagia tidak bertemu simpulnya.
Apakah kita inginkan ternama.
Apakah kita ingin, dampak kehidupan kita berjasa bagi sesama.
Bukankah,, manusia mati meninggalkan nama, tersebab jasanya pada sesama.
Apakah setiap hela nafas dan semua aktifitas kita bermuara pada kehendak sang Pencipta.
Apakah Sang Pencipta memudahkan harapan-harapan dan mimpi-mimpi kebaikan kita.
Bukankah, Dia tak pernah sia-sia pada usaha hambaNya.
Tutuplah mata, jika melihat justru membuat kita buta.
Tutup telinga, biar tak mendengar apa yang menyisakan gelisah di dada.
Berhenti, peduli. Pada siapa yang hanya akan menertawakan.
Apakah itu sebabnya Rabiah, memilih satu-satunya alasan kehidupan adalah cinta kepada Tuhan.
Bukan kewajiban. Bukan kaya. Bukan kerja. Bukan bahagia. Bukan surga.

11.10.16

Belajar Kepada Air

Baru beberapa hari lalu saya melihat postingan seorang pejabat daerah, yang melakukan serah terima dengan pihak propinsi, terkait pemindahan guru SLTA dari kabupaten kota ke propinsi. Saat itu, saya langsung berpikir, kapan akan melanjutkan perjuangan yang tengah terhenti ini. Rencana demi rencana pun disusun ulang. Saya akan datangi kantor X propinsi, pada hari itu, lalu menunggu kabar lagi, apakah bahan tersebut diteruskan ke pusat atau bagaimana. Sudah terbayang jalan-jalan dan pos-posnya.

Tapi, dalam bayang itu yang belum terlaksana, sudah keluar lagi aturan baru. Tentang Ali*fungsi. Katanya, semua guru yang terdampak K-13 direkomendasikan untuk ikut program itu. Dan saya, -yang entah terdampak k-13 atau terdampak sistem yang lahir prematur/ tak sempurna kelahirannya-, mencari lebih banyak referensi tentang program al*h f*ngsi itu.

Ada beberapa hal yang saya pahami, pertama, saya termasuk dalam kategori guru bahasa asing, kedua, saya mengampu mata pelajaran yang termasuk dalam program itu, dan ketiga, usia saya pun masih dalam batasan yang ditentukan. Saya berpikir, baiklah.. jalan ini mungkin bisa ditempuh. Saya bertanya kepada pengawas, beliau memberi nomor kontak yang lain yang dinilai lebih mengerti hal itu. Setelah dihubungi, saya dan seorang kawan disarankan untuk menunggu dan mengikuti pembicaraan tentang hal itu pada hari Selasa depan. Baiklah, kami bersabar.

Dan, inilah hari Selasa itu. Baru saja saya kembali dari ruang pertemuan singkat terkait a-f itu. Tahukah, kesimpulannya? Kesimpulan itu tidak berdampak lebih baik ke pikiran saya. Pihak dns *dk katakan, mereka merekomendasikan orang-orang yang diundang untuk memilih program tersebut. Sedangkan saya yang tidak termasuk dalam kelompok itu, diminta bersabar. Mungkin akan tiba gilirannya tahun depan, katanya. Oh Tuhan, ini kata 'baiklaahh' ke berapa yang harus dikeluarkan. 

Lalu, saya berpikir-pikir saja. Katanya, setahun lalu juga begitu. Bersabar saja dulu, akan ada kebijakan ini itu. Kata dia hari ini, nanti persoalan nasib yang akan menjawab. hmm.

Jadi, apa yang harus dilakukan sementara itu? Harus mengantarkan bahan dan audiensi lagi, untuk jalan penyeberangan? Atau, mengikuti 'belajar' lagi ke kampung sebelah. Atau, menjalani kegiatan hari-hari yang -sesungguhnya dijalani hanya sebagai kewajiban semata, bukan bidang saya, tak cukup ilmu-, ituu..hingga tahun depan? Sementara, mereka yang 'mengajak' memasuki bidang itu, terus mensejajarkan profesionalisme saya dengan mereka.

Kita mungkin kembali belajar kepada alam. Belajar kepada air. Mengalir, mengalir dan mengalir. Kita harus menempatkan diri, dalam keadaan yang tak perlu disesali lagi. Toh kita telah berada di anak sungai kehidupan itu.

Apa saya memilih jalan ini sejak 2010 lalu, dengan sepenuh hati? Tidak. Tapi ya dijalani, disyukuri pada banyak hal. Jika beberapa tahun belakangan, keadaannya menjadi seperti tikungan yang bertubi-tubi, tentu jalan satu-satunya, ya tetap dijalani. Apa yang saya syukuri? Syukurnya, saya bisa melakukan berbagai hal selain 'di situ' saja. Jadi lebih banyak 'dunia'. Meski setiap kali kembali ke dunia itu, rasanya ingin menutup buku saja. Air mengalir sampai jauh ya..bahan saya mengalir sampai mana (?)

Mereka yang berkata, tunggulah, setahun lalu itu, ada dimana kini. Mereka yang mengembalikan bahan, mengundur dan mengundur. Membuat menunggu dan bersabar hingga Oktober. Saat oktober tiba, kita dimana. Bukan lagi bersama mereka. Lepas sudah urusannya. Dikatakan jalan lain, dan jalan itu,,tak pula bapak berikan saya hak untuk melewati. Baiklah..

Bolehkah, mengangkat tangan pada kamera. Atau memilih keluar dari permainan ini. 

** ini sebuah c*rh*tan (?) hm..

9.10.16

Limit

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (Q.S. Al-A’raf: 34).

Setiap umat ada masanya. Setiap alat ada expirenya. Setiap anak ada zamannya. Setiap zaman ada anak zamannya.
Dan kita, tak akan berada pada keadaan serupa, tempat yang sama, posisi yang tetap, peran yang sama, selamanya.
Mesti ada yang berganti. Tentang perubahan itu, ya wajarlah..
Hm.hm.
Yang lalu, ya akan berlalu. Dan tak  akan kembali siapa yang telah mati.
Itulah limitnya. 

28.6.16

Kembali




Kembara ini kemudian berakhir

Engkau mungkin berpikir, air akan berhenti pada lubuk-lubuk sepanjang aliran sungai.
Burung akan membuat sarang, dan menetap di sana, menetaskan telurnya.
manusia, akan mengingat di bumi mana ia lahir
tapi, tidak untuk selamanya

air akan terus mencari tempat yang lebih rendah, hingga ke muara
menyatu tawar dan asinnya laut
burung-burung kecil akan ditinggalkan induknya, lalu memulai kembaranya
dan manusia, manusia akan mencari belahan lain bumi, selain tanah kelahirannya

ada yang tak berubah dari kembara itu
perjalanan yang mesti punya akhir
pergi yang harus ada pulang
seperti ingin, yang tak pernah puas memenuhi
garis-garis takdir yang kemudian bersua pangkal dengan ujung
berhenti.

kembara itu pun kembali,
kepada ibu yang terus menanti.









13.1.16

Tetiba

Tetiba kita menjadi sesuatu yang tak pernah kita ingin menjadi. Melakukan apa yang tak terpikirkan sebelumnya untuk dilakukan. Mungkin juga mengatakan atau menyatakan, sesuatu yang bukan gambaran diri kita yang berkata.

Semuanya bisa saja, tiba-tiba berubah. Berubah belok kanan, tiba-tiba harus ke kiri. Maunya jalan terus, lalu harus berhenti. Atau, inginnya berdiam tapi keadaan memaksa berlari. Bisa saja, tiba-tiba.

Kenapa tiba-tiba bisa terjadi?
Karena kita selalu men-sett rencana demi rencana. Kita terlalu menuhankan agenda dan agenda. Kita terlalu berfokus pada target dan program-program. Lalu, perubahan hadir dengan tiba-tiba.

Kita mungkin lupa, rencana yang lebih besar dari sederet panjang rencana kita. Kita seakan memiliki segalanya. Memiliki waktu, memiliki energy, memiliki potensi, memiliki masa depan. Tidak, tidak. Bahkan kita tak memiliki apa-apa. Sekalipun diri kita.

Kita mungkin enggan merenung, jalan panjang dan titik capai yang kita rela berlelah-lelah mengejarnya itu, untuk apa. Demi siapa. Kita sendiri tak pasti. Maka wajar saja 'tiba-tiba' itu menggantung di langit mimpi kita. Membangunkan. "Hei, ini jalan yang telah ditentukan. Kembalilah."

Maka ketika dikatakan demikian, adakah kita mampu menjawab, "fa aina tazhabun". Kemana lagi engkau akan pergi..
Satu detik pun tak bisa kita menanti. Satu senti ingin memindahkan jarak, tak kuasa. Konon lagi berkata, lari dari kehidupan yang tak selalu ramah dengan rencana-rencana.

Lalu, tetiba kita harus berhenti. Saat kaki hendak berlari kencang.  Kembalilah.

Ya Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah.
Irji’i ila rabbiki raa dhiyatam mardhiyyah.
Fadkhuli fi ’ibadi. Wadkhuli jannatii…”

“Wahai jiwa yang tenang…
Kembalillah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhoi-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.
Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
( Qs Al Fajr : 27-30)

Masihkah ada yang terjadi tiba-tiba selain dalam rencana-Nya?

7.12.15

Saat Bicara Gak Nyambung yang Sesuatu Banget

[google pic.]

Pernah dong kamu merasa gak nyambung banget dengan tema pembicaraan?
Beberapa waktu lalu, saya justru memfasilitasi pembicaraan yang gak nyambung. Dan, itu.. buat saya menjadi rasa yang sesuatu banget. Rasa campur aduk, kesel, nyesel, bosenin plus bikin bingung sendiri.

Sebagai seorang tenaga pengajar, mestinya kita biasa dan -hasrunya lagi- bisa berkomunikasi yang baik. Komunikasi efektif itu, di antara ciri-cirinya adalah gak bertele-tele, dapet inti/poinnya, menarik, disertai humor mungkin, disampaikan secara tulus juga, bahasa mudah, dan cara penyampaian baik, tentunya dengan tujuan pembicaraan yang jelas. Komunikasi efektif itulah yang buat nyambung atau tidaknya seorang pembicara dengan audiensnya,

Nah, kalau posisi kamu jadi seorang penengah, antara pembicara dan audiens, dihadapkan pada keadaan yang,
1. dikasi tau tentang tema pembicaraan
2. dikasi slide pembicara satu
3. dikasi slide pembicara dua
yang, antara satu, dua dan tiga rada ga nyambung gitu. Ibarat jari-jemari, yang mertinya klop, saling silang kelima jarinya, dan itu jelas banget ketercapaian apa yang dibicarakan. Ada arah timbal balik antara kedua tangan. Maka si jari itu, sukses buat nyambung keduanya.
Kalau ilustrasinya, jari telunjuk nempel ke jari telunjuk, buat saya itu belum efektif. Cuma ketemu aja, gak nyambung.
Yang satu ngomongin ABCDE, satunya lagi ngomongin A aja. Sedangkan secara garis besar arah pembicaraan yang ditetapkan itu adalah "Huruf-Huruf Vokal". A-I-U-E-O. Yang tukang nyambungin itu pun, taunya cuma I -E, gimana nyambungnya...

Dan, kalau pembicaraan yang sejak awal udah rada ga enak hati, tersebab apalah misalnya, kondusif tidaknya sarana-prasarana, terang aja ngaruh sama pembicaraannya.
So that, butuh waktu cukup lama, saya menghibur diri atas ketidakmaksimalan saya memfasilitasi hal itu semua. Itu tadi, rasanya mulai dari kebanyakan "loh, kok...?", "duh, kok gini,,", hmm..hmm., monoton, gimana nyambunginnya, kasi komen, bosen, kesel, jadi bingung, dan ujung-ujungnya nyesel. Saya bener-bener KZL beratz sama diri sendiri waktu itu. Hahaha.

Karena, saya tau banget, bagaimanapun itu adalah kesalahan saya. Persentase terbesar, kegagalan komunikasi itu adalah kesalahan saya. #ITU!
Kenapa saya ga bisa bikin suasana cool jadi adem, akrab. Kenapa ga bisa nyari benang merah apa yang dibicarain untuk difloor- lagi ke audiens. Kenapa ga bisa menetralisir kebingungan sendiri dengan lebih baik. #hallah, ini salah ding, bingung kok dinetralisir#. Dan lain-lain,, dan lain-lain.

hmh.

Dulu, juga saya pernah mengantar sebuah acara sakral, yang sampai berhari-hari setelah acara itu selesai, saya tetap uring-uringan, KZL. Masalahnya waktu itu, saya udah siapin urutan acara, udah dikasi tau panitia, di fix kan yang hadir, yang bicara dan udah ready gitu. Lah, emang dasarnya amatiraann...saya nya justru belum nyambung kalo yang hadir belakangan itu adalah pejabat kota itu [bukan kota saya tinggal sih, jadi ga kenal]. Saya kira cuma tamu penting, siapalah, taunyaaa...plat merah 1 nya.

Panitia buru-buru datangi saya, bilang ini-itu dan marah-marah, di sisi ruang yang kelihatan banget sama orang banyak. DUH!! itu rasanya, KZL kelas internasional. Rasanya, mau pulang aja. "Selesaikan sendiri acaramu." mau bilang gitu sih, tapi "ya allaahh... ampuni, ampuni. Save me. :(" Trus, coba lagi, senyum, tarik nafas, senyum, istighfar. Dan lanjutin acara sampai selesai.

Setelah itu? Setelah acara selesai, saya cabut. Pamit dikit, basa basi. Udah. Nyari kopi, coklat dan kripik. Hahaha. #makananadalahpelampiasanemosipalingbaik.

Gituu deh, cuap-cuapnya, gak nyambung yang rasanya sesuatu banget!!
Buat saya, nulis yang semacam ini, di blog juga jadi penyalur emosi yang lebih baik. Tapi ga langsung saat rasa KZL itu hadir, didiamin dulu beberapa waktu, biar otak dan hatinya terkoneksi dulu dengan baik. Beres. #tarikk nafas... plong.

Jadi, kesimpulan saya atas cuap-cuap ini:
1. kalau kamu mau "berbicara" jangan lupa doa dulu. Ini bener banget, Rabbisy rahli shadri, wa yassirli amri, wah lul 'uqdatan min lisaani. Karna gimana pun persiapannya, kalo dalam hati ada rasa 'sepele, anggap enteng, dll, Allah punya cara ingetin keangkuhan kita.
2. setelah persiapan, jangan diburu stres, atau merasa tertekan baik oleh waktu, orang-orang atau pun ketakutan sendiri. Yakinkan diri, bismillah, niatnya bantu lancarin acara orang, udah.
3. buat dirimu rileks dengan yang kamu suka. Dengan senyum, liat orang yang kamu percaya, dan all things gonna be okay.
4. tambah jam terbang. Coba lagi belajar lagi. kalau udah lama ga coba, awal-awalnya ya biasa aja, grogi dikit mungkin. *oh. ITU AKU..* #s07lirik# hehehe.

Daan, udah dulu cuap-cuapnya, udah pagii, ga enak sama mentari, telat keluar rumah. :D 
Komunikasi Efektif adalah saling bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan dan sikap antara dua orang atau kelompok yang hasilnya sesuai dengan harapan. - See more at: http://chalouiss.blogspot.co.id/2011/12/pengertian-tujuan-bentuk-dan-unsur.html#sthash.XnOBa8Na.dpuf
Komunikasi Efektif adalah saling bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan dan sikap antara dua orang atau kelompok yang hasilnya sesuai dengan harapan. - See more at: http://chalouiss.blogspot.co.id/2011/12/pengertian-tujuan-bentuk-dan-unsur.html#sthash.XnOBa8Na.dpuf
Komunikasi Efektif adalah saling bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan dan sikap antara dua orang atau kelompok yang hasilnya sesuai dengan harapan. - See more at: http://chalouiss.blogspot.co.id/2011/12/pengertian-tujuan-bentuk-dan-unsur.html#sthash.XnOBa8Na.dpuf

13.10.14

Pengalaman Hebat :D

Dari Lantai Satu Mesjid Asy Syifa Bukittinggi, saya memberitakan..
 Saya teringat opening salah satu radio muslim kota Padang, sekitar tahun 2008-an. Kira-kira seperti itulah, ada "lantai satu"nya, ada nama jalan pula. Tapi sekarang saya tidak berada di sana. Saya tengah sendirian, di alamat pembuka yang saya tulis seperti bahasa opening itu. Saya sedang menunggu di tempat ini, sendiri pula, maka pikiran pun jadi kian kemari dibuatnya. Hehehe.

Apa sebab? Sebab, tampaknya berbaur pula koleris yang ada dalam diri saya ini dengan melankolis. Tiba-tiba rasa percaya diri itu berubah menjadi was-was, tidak yakin, dan butuh persetujuan. Persetujuan yang sudah saya tanda tangani sebelum ini, sebetulnya. Operasi kecil yang akan dilakukan nanti malam. Lalu, di mesjid ini, menjelang datang waktu shalat ashar, saya berpikir-pikir lagi, seperti inikah kejadiannya? Bukan soal yang telah saya putuskan untuk tanda tangani tadi itu, tapi skenarionya seringkali berlaku seperti ini. Apa memang demikian betul Tuhan berkehendak? (Nah...mulai kan? :D ) 

Bingungkah, saya bercerita apa? Hehehe. Jadi ceritanya begini...

Yarsi, 01/10

Saya datang ke ruang THT untuk memeriksakan radang tenggorokan, hasil diagnosa dokter di puskesmas tempat sehari sebelumnya. Setelah makan obat dari puskesmas, ternyata tidak ada perubahan. Saya lalu memutuskan untuk datang ke yarsi sepulang sekolah. Oleh dokter spesialis tht di sini, saya justru didiagnosa dengan tonsil akut, (amandel). Padahal sejak SD, rasanya segala pantang 'anak amandel' sudah saya lakukan.  (read: bukan tinggalkan). Nah, kenapa, baru giliran saya makan segelas nutrisari dingin semua ini bermula. jiah.

Dokter spesialis THT itu lalu menyarankan agar tonsil yang masih menggantung di tenggorokan itu, dibuang saja. Sarang kuman, penyebab radang saja itu, katanya. Dulu sewaktu radang amandel waktu SD, saya memang telah disarankan dokter untuk mengangkatnya. Namun saat itu, saya tak siap mental. Setelah sembuh radangnya, tidak lagi demam, saya rasa aman pula, saya pikir balik ke dokter untuk operasi itu seperti langkah cari 'mati' saja. Sudah aman, kok mauu lagi ke dokter.  Maka efeknya itu adalah sekarang. Saat tak banyak lagi pasien tonsil yang seusia saya. Hahah. Sekarang pula, saya timbang sebagai waktu yang tepat. Di sekolah sedang ujian tengah semester, tak perlu 'bersuara' menjelaskan di depan kelas.

Yarsi, 9/10

Sepulang sekolah, saya kontrol lagi tapi tidak dengan dokter yang sama. Rencananya, jika direkomendasikan malam itu, saya siap untuk masuk kamar bedah siangnya. Karena dokter ybs akan berangkat seminar ke luar negeri malam itu, diundurlah 'agenda' saya. Jumat-nya saya balik lagi, dengan urusan administrasi yang sudah fix, sudah cek darah dan hasilnya oke, sudah 'booking kamar' inap, sudah puasa pula. Maka dipastikanlah jadwal 'pengangkatan' itu jam 9 malam. Setelah semua oke, barulah saya kabari orang di rumah, kabari ibu dan keluarga.

****
Saya sudah di ruang inap. Beberapa jam lagi akan masuk ruang berlampu merah itu. Deg-degan juga rasanya. Hahaha. Pikiran saya termakan isu, kalau operasi tonsil itu merusak jaringan dan pita suara, bisa ini dan itu, dan aneh-aneh saja. Tapi tak terlalu mengkhawatirkan, saya siap lahir bathin sepertinya. Jiah.

***
Malam itu, infus dipasang. Itulah kali perdana saya dipasangi infus. Alhamdulillah sebelumnya belum pernah dirawat di rumah sakit, apalagi pasang-pasang infus segala. Mungkin masih mengerikan. Tapi, tak mengapa, semua baik-baik saja. Satu jam jelang operasi, saya berganti kostum.

Saatnya tiba, saya didorong terlentang menghadap langit-langit lorong rumah sakit. OMG!! pengalaman itu seperti di film-film saja. Menikmati dentang-dentang roda tempat tidur itu bertemu dengan lantai keramik. Memasuki pintu ruang berlampu merah. Diangkat, dipindahkan ke ranjang berikutnya. Menjumpai orang-orang dengan baju hijau pekat, bertutup kepala, masing-masingnya tengah menyiapkan alat-alat yang terbuat dari besi/stenlis. Di ruang lain, terlihat kerumunan dokter dan perawat berbaju hijau, sedang melakukan operasi pula.

Dokter datang, ia mengucap assalamualaikum. Meraba nadi lengan kanan saya. Diusapnya kepala saya yang bertutup sesuatu berwarna biru itu, "Tak apa, jangan khawatir." katanya. hahaha. Saya memang mulai khawatir, dan berusaha tenang. Serasa digigit semut, dekat infus terasa. Rupanya sedang disuntikkan bius.  Saya menyaksikan semuanya. Ikut pula tersenyum mendengar cerita lucu perjuangan kuliah si dokter ke luar negeri. Setelah itu, tak sadar lagi.

Saya terbangun, jam dinding ruangan itu menunjukkan pukul 11 malam. Artinya pengaruh bius itu kira-kira satu setengah jam. Mungkin operasi hanya berlangsung beberapa menit saja, atau setengah jam paling lama. Setelah sadar, saya ditanya perawat di sana, "Adiknya dokter R ya?", saya jawab singkat, "ya". (suara susah keluar, tenggorokan terasa berat, tapi tidak sakit. hanya terasa berbeda saja. "kenapa tidak jadi dokter pula?" lanjutnya. Saya hanya tersenyum, "hehe". Lalu saya dibawa lagi ke ruang inap.

Terlelap, tapi terbangun tiap jam. Mulai terasa sakit di tenggorokan, tapi tak terlalu. Semalam di RS, saya kontrol dengan dokter, katanya baik-baik saja. Saya ditanya, 'mau pulang?", "iya pak", saya bergegas menjawab. haha. Cukuplah semalam di rumah sakit, perdana itu. Tak nak laahhhh.. kecuali nanti, saat saya memilih untuk melahirkan (amin) di rumah sakit. hehehe

**
Saya menuliskan pengalaman ini, karena merasa ingin berbagi saja dengan orang-orang dewasa yang takut, dan khawatir untuk diangkat tosilnya. Jika itu disarankan dokter, ada baiknya kita menurut Kawan..maka siapkanlah mental. Bukankah dokter telah diberikan ilmu yang cukup untuk itu. Tak repot. Siapkan pula administrasi dengan BPJS (promosi), :) . Siapkan waktu untuk istirahat. Insya allah baik-baik saja.

Saat menulis ini, saya masih makan bubur. Sehari sebelumnya masih minum susu. Sehari setelah ini, insya allah, perlahan mulai makan dengan nasi lunak, dan seperti biasa. Dan, enaknya, sekarang justru disiapkan es krim, banyak-banyak. haha. Perbanyak saja minum air putih. Tak perlu khawatir, oke?

12.10.14

Berlayar

Tulisan sebelumnya itu tentang berjodoh, kali ini saya ingin cuap-cuap tentang berlayar. Sebelumnya, nih, saya kutip lirik lagunya Sheila On 7

Berlayar Denganku 

hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani
cobaan bukan tuk ditakuti
cobaan harus kita hadapi
bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai
pilih perahu tidaklah mudah
kita tentu tak mau tenggelam
perahu ini milik kita
naiklah jangan pernah kau turun
bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai, menghadapi ombak badai

reff:
berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku
bersamaku engkau tak perlu ragu
tatap mataku maka kau kan tahu
semuanya kan baik saja
hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani
berlayarlah denganku, bertumpulah di pundakku [2x]
tatap mataku maka kau kan tahu
semuanya kan baik saja [2x]

***

hidup bukan tuk berdiam diri
hidup ada tuk kita jalani
cobaan bukan tuk ditakuti
cobaan harus kita hadapi
bagai mengarungi lautan lepas
menghadapi ombak badai

Agaknya demikian betul adanya tekad, semangat dan keinginan kuat dari si dia. Apapun halangan dan rintangan kita hadapi bersama, katanya. Dan, benar. Saya telah menjadi saksi untuk semua usaha itu. Entahlah, logis atau tidak, adakah ketidak normalan dan kejanggalan pada kisah itu. Kita tak tau. Yang saya tau, kesimpulan semua yang diusahakan dengan sungguh-sungguh, tak akan bermuara pada kesia-siaan. Akan ada hasil yang maksimal. 

Si dia itu lalu, hanya akan menunggu hari. Buah dari kesabaran dan perjuangannya. Dia akan berlayar dengan pujaan hatinya, pilihan hidupnya kemudian. Setelah setahun lebih mungkin, ia berdoa siang dan malam, agar Dzat yang membolak-balik hati itu meneguhkan hatinya, dan hati dambaannya. Agar, orang-orang yang ada di sekitarnya meridhoi, merestui dan mendoakan kebahagiaan padanya. Bukan justru mengolok-olok, mencemeeh, memandang aneh, dan lain sebagainya. 

Si dia, dengan keputusannya untuk memilih itu bukan pula tanpa konsekuensi dan tantangan. Itulah, kata Sheila on 7,  "cobaan bukan tuk ditakuti, cobaan harus kita hadapi". Disiapkanlah mental bajanya, keberanian yang melebihi bagaimana beraninya dia selama ini. Disiapkan pula segala kebutuhan, perencanaan masa depan, dikondisikan pula 'keridhoan' orang-orang sekitarnya. Dia bersabar dan bersungguh-sungguh untuk itu. Maka, barangkali ketetapan Tuhan yang berlaku adalah memberikan pada yang meminta, mengabulkan pada yang berdoa. Tentunya pada yang lebih sungguh-sungguh mengupayakan, yang lebih ikhlas dan baik menurutNya, dan itulah kehendakNya. 

Si dia, dan si dia lagi, pada waktunya mungkin akan bersama. Berjodohlah namanya. (Saya tak katakan di sini ada cinta? Mungkin lebih tepat mengistilahkan dengan berjodoh.) Apa hendak dikata, Tuhanlah yang Maha Segalanya. Namun bisa jadi, beberapa bagian kehidupannya tak utuh (lagi). Tak selamanya yang telah bersama, itu lantas terus bersama. Demikian pula, Dia yang telah menyatukan yang terserak di antara kita, dengan kehendakNya. Kita hamba, mau berbuat apa. Suatu ketika, mungkin bisa kembali seperti semula, atau tidak akan kembali sampai akhir masa. Tak semua senyuman orang-orang berarti suka, tak semua tangis itu pertanda sedih, apapun sikap orang-orang sekitarnya bukan tanpa alasan. Yang pasti, semua menginginkan kebaikan bagi si dia, dan si dia. Ah!

**
Saya, akhirnya mesti sampaikan, selamat berlayar. 
Sekali lagi, Selamat. Semoga sampai pada tujuan. Bukankah hadis telah membenak pada kita,
“ Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung dengan niatnya “ (HR Muslim)
maka yang akan didapatkan hanyalah apa yang telah diniatkan. Bila sejak semula yang diharap adalah kebahagiaan, ketenangan (sakinah) dan kasih sayang (rahmah), semoga itu pula yang didapat.

Selamat,  karena..
“Setiap orang yang berbuat telah dimudahkan untuk melakukan perbuatan (yang telah ditakdirkan baginya -pen).” (HR. Muslim, bab Al-Qadar, no.2648)

Karena, kita masih mampu mennalar, bahwa :“…Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak…” (Qs. An–Nisa': 19)

Dan begitulah Dia berkehendak.
من ملأ قلبه من الرضى بالقدر : ملأ الله صدره غنى وأمنا وقناعة وفرغ قلبه لمحبته والإنابة إليه والتوكل عليه
“Barangsiapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman, dan qana’ah, serta mengosongkan hati orang tersebut untuk mencintaiNya, kembali kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan Allah  dan bertawakkal kepadaNya.” (Madarij As-Salikin)

Selamat atas optimisme selama ini..“Aku menurut persangkaan hambaKu terhadapKu.”

selamat pula karena telah bersabar..
مَنْ اسْتَعْجَلَ شَيْءً قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ
(Barangsiapa yang tergesa – gesa terhadap sesuatu sebelum waktunya, akan diberi hukuman -berupa- tidak boleh mendapatkannya).

Dan, berlayarlah, karena itu adalah pilihanmu. Karena telah siap dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi. Karena telah cukup persiapan yang hendak dibawa. Semoga tak lupa membawa kompas dan peta penunjuk arah. Kapal yang kokoh, mesin yang kuat, tentu sudah disiapkan. Saya teringat, kata orang menjaga akan lebih susah daripada mendapatkan. Semoga semua yang telah diusahakan dengan maksimal ini, bernar-benar demi keridhoanNya. 

Ah, berlayarlah kawan... 
Itu saja yang bisa kemudian terucap. 

1.10.14

Berjodoh

Jodoh

Kali ini, saya tertarik mengomentari kata 'berjodoh'. Tampaknya beberapa waktu belakangan, kata ini begitu populer di telinga. Entah tertuju pada kawan, atau pada diri sendiri.

Dalam bahasa Arab, kata berjodoh barangkali yang lebih dekat adalah zauj-azwaj yang bermakna pasangan. Sedangkan dalam KBBI, jodoh adalah orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan. Jodoh dalam makna lebih luas, berarti cocok dan tepat.

Maka jodoh bukanlah sebatas suami, atau istri. Karena pada kalimat-kalimat tertentu, kedua kata itu tidak digunakan secara semakna. Jodoh tidak hanya sekedar pasangan hidup. Dalam pembahasan hukum pernikahan, terdapat istilah ( زَوْجٌ ) atau ( بَعْلٌ ) untuk suami, dan ( زَوْجَةٌ ) atau ( امْرَأَةٌ ) untuk istri. Istilah-istilah itu berkonotasi “netral” tanpa ada penekanan sifat tertentu sebagaimana kata suami, istri, atau pasangan hidup dalam bahasa Indonesia. (eramuslim.com)

Persoalan menentukan pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan. Seperti tersurat dalam Al quran : Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (An-Nisa;4). Ini mengindikasikan bahwa menentukan pasangan hidup adalah pilihan, yang dengannya terdapat konsekuensi. Ada tanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Untuk sementara, kita sepakat, Allah menentukan pasangan manusia, dan memberikan pilihan-pilihan kepada manusia tersebut untuk menjadi jodohnya.

Dalam pemahaman masyarakat umum, laki-laki berhak memilih calon istrinya. Dan, sejatinya seorang perempuan juga berhak memilih siapa yang ia rasa cocok dijadikan calon suami. Bahkan, seorang gadis diberikan hak untuk menentukan pilihannya, tanpa ada intervensi dari keluarga, mamak (saudara laki-laki ibu), atau saudara, dan lain sebagainya.

عن بن بريدة عن أبيه قال جاءت فتاة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت ثم إن أبي زوجني بن أخيه ليرفع بي خسيسته قال فجعل الأمر إليها فقالت قد أجزت ما صنع أبي ولكن أردت أن تعلم النساء أن ليس إلى الآباء من الأمر شيء.
 (رواه ابن ماجه)
Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata: Seorang gadis datang kepada Nabi Saw. Kemudian ia berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan putra saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui aku. Maka Nabipun menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka gadis itu berkata: Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan ini.  
(HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i).

 Dari hadis tersebut, dipahami bahwa perempuan memilik hak penuh menentukan pilihannya. Bahkan, saat menikah, adanya syariat talak. Ini mengindikasikan bahwa pilihan-pilihan tersebut juga berada di tangan manusia. Maka berjodoh, adalah atas upaya seseorang, laki-laki dan perempuan, bukan sekedar ketentuan Tuhan.

Berjodoh, dekat dengan kata sekufu. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa sekufu adalah sepadan, semisal, dan sesuai. Sepadan mencakup pada berbagai aspek. Adakalanya sepadan dalam hal fisik, laki-laki yang gagah akan berjodoh dengan perempuan cantik.

Berikut pandangan berbagai imam mazhab tentang sekufu:

Dalam Madzhab Hanafi yang dimaksud dengan sekufu adalah kesepadanan antara perempuan dan laki-laki dalam enam hal: Nasab, Islam, pekerjaan, merdeka atau budak, kualitas beragama, dan strata ekonomi.


Dalam Madzhab Maliki yang dimaksud dengan sekufu di sini adalah kesamaan (al-mumatsalah) dalam dua hal, yaitu kesamaan dalam kualitas beragama dimana seorang muslim harusnya berjodoh bukan dengan yang fasik, dan yang kedua kesamaan dalam kesehatan jasmani. Keterangan seperti ini bisa ditemukan dalam kitab Taj Al-Iklil (jilid 3, ha.  460)


Adapun dalam madzhab Syafi’i seperti yang dijelaskan dalam Al-Majmu’ (jilid 2, hal. 39) yang dimasuk dengan sekufu’ adalah kesamaan dalam empat hal; kesamaan dalam nasab, agama, strata sosial (merdeka atau budak), dan pekerjaan.


Sedangkan dalam madzhab Hanbali , Al-Mawardi dalam Al-Inshaf (jilid 8, hal. 108) sekufu’ yang dimaksud adalah kesamaan dalam lima hal: Agama, pekerjaan, strata ekonomi, status sosial (merdeka atau budak), dan nasab. (rumahfikih.com)


jodoh yang rumit
Bila sudah ada rasa hormat dalam hubungan yang dijaga, ada kesamaan dalam garis nasab (keluarga baik-baik), sama baiknya dalam hal agama, juga demikian dengan strata sosial, apalagi memiliki pekerjaan yang seide, sejalan dan bisa saling memahami, itulah mungkin yang dinamakan berjodoh. Berjodoh, mungkin bukan cinta. Entahlah nanti, setelah berjodoh itu akan ada cinta. 


Wallahu a'lam. Semua kriteria sekufu itu seakan terhapus entah karena alasan apa. Suatu kali, saya menemukan kisah seorang perempuan berani mengambil keputusan untuk menikah dengan pilihannya, dengan mengenyampingkan pilihan-pilihan orang tua. Sekalipun melintas batas usia. Berbagai alasannya. Apakah itu juga berjodoh? Pilihan yang dipilih si perempuan itu, memunculkan desas desus di lingkungannya. Adanya desas desus itu masihkah dapat disebut sekufu? 

Ataukah, demikian berlaku cinta? Cinta yang tak mengenal jauh dalam kamusnya, tak mengenal sulit dalam perjuangannya, hingga "demimu kita hadapi bersama segala halang merintang". Wallahu a'lam. Saya sebenarnya sangat penasaran dengan ending kisah ini. Hanya Allah saja yang tahu, apakah ini kehendakNya,  wajar saja orang tua tak menyetujui atau bagaimana. Apapun alasan dan cara menidakkan, jika Dia berkata "Ya", maka tak ada kata ketidak-normalan. Sebaliknya, berbagai upaya dilakukan agar berjodoh, sedang Dia menidakkan, tak akan pula pernah bersua.

Demikian, berjodoh.

Radang Tenggorokan


Kadang, sakit itu bernilai baik untuk kita. Prosesi wisuda ful-ful-an yang tidak dibarengi dengan suplai gizi dan pola istirahat yang baik membuat sistem imun tubuh saya akhirnya menyerah. Alarm dilengkingkannya lewat tenggorokan. Ya, saya diserang radang tenggorokan. Nilai baiknya, saya akhirnya sempat buka blog ini. hihi

Seorang teman di sekolah bertanya, saya teriak-teriak dimana, hingga diserang radang tenggorokan. Haha. Tidak, tidak. Radang tenggorokan merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Katanya, tertular virusnya sekitar 2-7 hari sebelumnya. Adapula yang disebabkan oleh bakteri streptokokus.  Infeksi tersebab bakteri ini perlu penanganan serius dari dokter, karena dikhawatirkan dapat menjalar ke katup jantung dan dapat menyebabkan penyakit Demam Rhematik.

Saat terasa sakit ketika menelan, saya berpikir kalau itu adalah amandel yang meradang. Dulu sewaktu masih SD saya pernah sakit itu sih. Hihi. Isu yang terekam oleh saya dari dulu, penyakit itu karena sering makan permen karet dan es. Ya, akhir-akhir ini saya memang tidak memperdulikan pantangan itu lagi. Dan, ternyata sakit yang saya rasakan bukanlah akibat amandel yang meradang, tapi radang tenggorokan. Setelah cari-cari di internet, wow! mengerikan. gambar-gambar akibat radang tenggorokan itu amat mengerikan.
Merah, bintik putih, dan adapula yang lebih parah.

Ciri-ciri lain dari penyakit ini adalah bagian tenggorokan berwarna merah cerah. Suhu badan meningkat atau demam dan sering kali disertai dengan menggigil. Malam sebelumnya memang saya rasakan dingin sangat.

FG Troches
Solusinya, setelah saya konsultasikan ke dokter, katanya perbanyaklah minum air putih hangat. Berkumur dengan air garam juga bisa dan makan permen mint. Sedang antibiotik yang saya konsumsi saat ini adalah FG Troches.

Selain itu, yang lebih utama adalah menjaga pola makan yang lebih teratur, pola istirahat dan hal-hal yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun.



So, untuk ke sekian kalinya, saya menghimbau, mariiiiii.... makan teratur, suplai gizi cukup, istirahat yang cukup, dannn bagi teman-teman saya yang masih merokok, untuk menghentikan kebiasaan merokoknya. ITU! 

:)

25.2.14

Well, I'm Back!!

dari : vipwords
Hello..
finally i found 'the keys of my way' guys...
Aku temukan pasword blogku lagi Sodarah2!!
Alhamdulillah... ^__^

Lama ingin kembali, tapi rumah tak ada kunci. Jadi rasanya, tidak ngeblog hitungan bulan itu... sesuatu banget ya?! November, Desember, Januari, dan kini di pengujung Februari, semestinya ada banyak laporan yang bisa ada di laman ini. Ada banyak cerita hebat dan kelas berat yang bisa ditutur. Ada berbagai materi, makalah n catatan yang mungkin dibagi. 
Sayangnya,,, diriku sikit sibuk temans.. Saat itu, adalah waktu-waktu yang bisa disebut 'padat merayap'. *jiah , lebih tepatnya aku memilih menyibukkan diri saat itu. 

Saat ingin membagi, OMG..giliran si pasword yang sulit aku ingat.
Jadilah laman ini, bagaikan rumah yang dtinggal lama oleh pemiliknya. Rumput di halaman yang sudah tinggi, bebatuan yang mulai berlumut. Air sumur pun menjadi keruh. Ah, sudahlah.

By the way.. did u miss me?? Hahaha..

so, seterusnya,,akan tetap di sini, my Nimiasata's blog.
Berjumpa saia di sini untuk sejuta cerita berikutnya yaa.
CUB! c -u - bye... :)

7.10.13

Tips Membimbing LKTI



Jika Anda seorang guru/pendidik, ada kalanya akan diberikan tugas pada bidang yang tidak menjadi tanggung jawab Anda. Seperti saya. (hallaah..curhat mode on). Jangan khawatir. Dan ini serius, sesuatu yang saya dapat hanya lewat pengalaman berharga. Barangkali jika bukan saya yang saat itu dipercaya membimbing dan mendampingi, tentu hal-hal yang akan saya bagi ini tak pernah ada. 
 
Saya bertugas di sekolah menengah, kejuruan dengan bidang keahlian Teknologi informasi. Jurusan yang ada di sekolah itu adalah yang berkaitan dengan software, hardware dan media-desain. Dengan hobi membaca dan menulis yang dimiliki, juga pengalaman aktif di lembaga pers mahasiswa, yang notabene berhubungan langsung dengan dunia tulis menulis, saya terpilih membimbing lomba yang masuk beberapa bulan lalu. 

Pertama kali, saat ada iven Pekan Konstitusi yang diselenggarakan Universitas Andalas, Padang. Sebelumnya, sekolah kami sempat menjuarai lomba cerdas cermas IV pilar berbangsa sampai ke semifinal di provinsi. Atas prestasi itu, -barangkali- sekolah kami kemudian diundang pada pekan konstitusi tersebut. Selain cerdas cermat tentang Hukum dan perundangan, ada satu lomba Karya Tulis Ilmiah. Itulah kali pertama saya belajar lebih fokus mengenal, dan membimbing KTI. Kali pertama ikut, dengan dua utusan peserta KTI, yang satu kita beroleh juara II (judulnya : Monopoli Hukum Sebagai Sarana Untuk Pembentukan Karakter Generasi Muda Indonesia), satunya lagi (Osis KVK), belum beruntung. hehehe. 



Setelah itu, setiap kali undangan lomba kepenulisan kreatif, populer dan KTI masuk, saya ambil peran untuk berbagi pengalaman-pengalaman dari kemenangan pertama kami. Jika menang, memanglah senang. Jika tak lolos, saya harus bersiap dengan tisu. 

Dari cerita saya barusan, apakah kita senasib? Kalau begitu,,saya akan bagi beberapa tips membimbing LKTI berikut:
  1. Perhatikan dan pahami aturan lomba. Setiap penyelenggara memiliki aturan main sendiri. Memahami term/tur kegiatan adalah penting. Sebagian panitia menyiapkan sampai detil penulisan, kita tinggal mengikuti versi yang ditentukan. Yang utama, adalah pertimbangkan tema
  2. Perhatikan deadline. Jika kita merasa mampu membimbing dengan tema yang telah ditentukan, bisa belajar dan ada gambaran ide, selanjutnya adalah... 
  3. Kumpulkan siswa. Saat mengumpulkan siswa, saya selalu awali dengan gambaran ide yang sudah saya stok sebelumnya. Lalu, memberi kesempatan mereka berpikir lebih kreatif, beri waktu satu atau dua hari, searching dan mempersiapkan ide mereka masing-masing.  
  4.  Setelah waktu yang dijanjikan, bahaslah tema pilihan mereka itu, diskusikan.
  5. Setelah tema oke, barulah kita masuk bagian kepenulisan. Berikan gambaran sebuah tulisan ilmiah, bagaimana membuat outline. Kenalkan dan ulang-ulang lagi soal EYD yang kadang dianggap sepele
  6. Menulis, beri deadline beberapa hari. (ini sih kondisional)
  7. Diskusikan dan perjelas kesalahan-kesalahan dalam menulis ilmiah. Ketepatan sasaran, perjelas tujuan dari tulisan. Edit terakhir. Lalu, mereka yang print, atau kirim softnya. Tetap dengan pantauan kita. 

Jika diminta melampirkan sejumlah data, seperti fotokopi kartu pelajar, fotokopi bukti transfer registrasi, fotokopi lain-lainnya, maka pastikan satu siswa yang menghandle urusan administrasi ini.

Jika masuk final, persiapkan presentasi. Langkahnya:
1.       Berikan gambaran beda presentasi dan tulisan, tujuan masing-masingnya
2.       Bagi kepada beberapa hal, pendahuluan berupa latar belakang,  isi gagasan, dan penutup
3.       Selipkan gambar/desain agar audiens lebih paham
4.       Presentasi bukan untuk memindahkan tulisan yang ada pada KTI, tapi membuatkan kerangka yang dijelaskan oleh presentator
5.       Jika slide sudah selesai, siswa diminta membuatkan apa yang akan disampaikannya
6.       Memperbaiki dan mengoreksi bahasa lisan
7.       Latihan mempresentasikan karya tulis ilmiah
8.       Hindari menggunakan kata mungkin, barangkali, dan ragu-ragu. Jangan pula terkesan sombong dan arogan. Kebenaran yang diteliti, boleh jadi milik kita. Tapi tidak tertutup kemungkinan orang lain menemukan kebenaran lainnya.
9.       Sebelum presentasi jangan lupa memperkenalkan diri
10.   Perhatikan pembagian waktu. Biasanya, waktu 15 menit. Atau, waktu yang ditentukan panitia, jangan terlalu kurang atau berlebih.
11.   Perhatikan bodylanguage saat presentasi, senyum dan sapaan kepada dewan juri dan hadirin.
12.   Perhatikan posisi berdiri, Jangan membelakangi audiens. 
13. Jika tim terdiri dari dua orang, tentukan peran masing-masingnya, sebagai presentator dan operator. Jika lebih, bagi tugas agar tidak didominasi satu orang saja.

Saat tanya jawab dengan juri:
Ada berbagai gaya juri dalam memberikan pertanyaan. Pahami maksud dan cari kata-kata inti dalam kalimat juri itu. Hindari menentang dan mendebat juri.Ketahui, apakah maksud pertanyaan juri adalah menguji -baik pengetahuan, daya pertahanan gagasan/ide, kestabilan- atau benar-benar butuh penjelasan lebih tentang gagasan yang dipaparkan.
Dan, tentu saja gunakan kata sapaan sebelum presentasi dan menjawab pertanyaan juri. Istilah Minangnya, mangecek ba ujuang ba pangka. Itu adalah tambahan yang memberi arti, santun. 

 Dan, saya mulai menyukai pekerjaan ini. Setelah beberapa prestasi, kita tertantang mencari lomba LKTI, dalam dan luar propinsi, lagi dan lagi. Hehehe. Semoga bermanfaat. :)

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...