Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

7.7.17

Review Buku: Hakikat Harta Karun Santiago (Sang Alkemis; Paulo Coelho)

Judul       : Sang Alkemis // The Alchemist
Penulis    : Paulo Coelho
Penerbit  : Gramedia
Tahun terbit: 2005
Cetakan  : XX, 2016
Tebal      : 216 hlm
Sang Alkemis


Santiago adalah bocah penggembala domba  yang terus membaca. Ia menceritakan apa yang dibacanya kepada domba-domba yang selalu ia panggil dengan nama-nama mereka. Suatu kali, Santiago bercerita tentang seorang gadis, anak saudagar di suatu desa, yang setahun lebih telah ia lewati dan temui. Si gadis menjadi istimewa, karena ia bisa menjadi kawan bercerita Santiago.

Layaknya kehidupan seorang penggembala, hidup seseorang terus berjalan seiring bergulirnya waktu. Dari novel ini, pembaca menyadari, bahwa hidup jangan hanya membiarkan waktu berlalu. Hidup harus ada tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan hidup seorang Santiago adalah berkelana. Untuk mencapai tujuannya itu, setiap hari ia menempuh jalan baru demi mendapatkan pengalaman baru. Manusia jelas berbeda dengan domba gembalaan. Domba tak peduli apapun, tentang perjalanan baru, selain dari ketersediaan makanan dan air.

Santiago teringat akan dirinya, yang tak ubahnya domba itu. Semenjak berjumpa dengan gadis anak saudagar itu, dirinya tak pernah memikirkan perempuan lain. Tak ada tujuan lain baginya, selain meminang gadis itu. "Bisa saja si gadis itu menikah dengan seorang penjual roti yang mempunyai rumah", pikirnya. Lalu ia kembalikan kepada takdir, bahwa tujuannya adalah berkelana.
"Yang membuat hidup menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan"-- Santiago, h. 19
Suatu kali Santiago bermimpi tentang domba-domba dan seorang anak kecil yang menarik tangannya ke Piramida-piramida Mesir. Si anak kecil dalam mimpi itu, mengatakan bahwa kalau Santiago datang ke sana, maka ia akan menemukan harta karun. Demi memecahkan tafsir mimpi itu, Santiago datang ke perempuan tua, Gipsi, si tukang ramal.

"Sudah kukatakan mimpimu sulit. Dalam hidup ini, justru hal-hal sederhanala yang paling luar biasa; hanya orang-orang yang bijak yang dapat memahaminya." -- Perempuan Gipsi,

Dalam perjalanannya menuju Mesir, tidak sedikit rintangan yang harus dilalui Santiago. Ia dipertemukan dengan Raja Salem, yang mengajarkan banyak hal tentang takdir dan kehidupan.

"Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka" : "Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya." --Raja Salem. h. 32-33

Santiago sempat ditipu oleh seorang pemuda, yang kemudian mengantarkannya untuk bekerja dengan salah satu pedagang kristal. Manusia perlu menerima segala yang kemudian terjadi padanya, bahwa semua itu adalah 'yang telah tertulis' atau "maktub". Ia juga bertemu dan menjadi teman perjalanan dengan seorang peneliti asal Inggris.

"Segala sesuatu dalam hidup ini adalah pertanda" -- Orang Inggris, h. 92

"Dalam alkimia, itu namanya Jiwa Dunia. Kalau kau menginginkan sesuatu sepenuh hatimu, saat itulah kau berada amat sangat dekat dengan Jiwa Dunia. Dan ini selalu merupakan daya positif."

Pembahasan dengan Orang Inggris inilah ditemukan kata-kata Alkemis/Alkimia. Tujuan mereka adalah bertemu dengan Sang Alkemis yang terkenal bijak dan memiliki ilmu yang tinggi. Santiago juga belajar bahwa dunia ini memiliki jiwa, dan siapa pun yang memahami jiwa ini juga bisa memahami bahasa benda-benda."Aku belajar bahwa banyak alkemis berhasil mewujudkan takdir mereka, dan pada akhirnya menemukan Jiwa Dunia, Batu Filsuf, dan ramuan Kehidupan."

Di Al-Fayoum, dalam perjalannya menuju Piramida, Santiago bertemu dengan Fatima. Tak lengkap bila novel Paulo Coelho, tak dibarengi dengan kisah cinta. Santiago jatuh hati kepada gadis itu. Setelah perjalanan panjangnya sampai di Piramida, lalu menemukan harta karun, ia mewujudkan takdirnya. Ia kembali, menemui Fatima. Harta karunnya yang paling berharga.



Secara umum, novel terjemahan dengan judul asli O Alguimista (Spanyol, 1988) ini, diterjemahkan dengan baik oleh Tanti Lesmana. Kalimat-kalimatnya ringan, dan nyaman dibaca. 

Meskipun kesimpulan kisah ada di halaman 214, "Memang benar, hidup ini sangat murah hati pada orang-orang yang mau mengejar takdir mereka", tapi tak akan semenarik mengikuti kisah petualangan Santiago ini.

Novel petualangan yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Tentang Takdir dan usaha manusia, tentang kebijaksanaan, tentang cinta dan kesetiaan. Bacalah, mungkin akan mengubah pikiran Anda tentang hidup!

***
Berikut kutipan-kutipan menarik dalam novel ini:

"Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya." Raja Salem.

"Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal yang menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu." Orang Bijak. h. 45

"Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, harta benda kita, ataupun tanah kita. Tapi rasa takut ini menguap begitu kita memahami abhwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama." Pemandu Karavan, h. 101

"Setiap orang punya cara masing-masing untuk mempelajari sesuatu" Orang Inggris.


5.4.17

Review Buku: For One More Day (Satu Hari Bersamamu)

For One More Day



Judul buku   : For One More Day
Penulis         : Mitch Albom
Alih bahasa  : Olivia G
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2006
Hlm             : 248 hlm


"Biar kutebak, Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri." --kata-kata pertama Chick Benneto untukku.

---
Demikian tertulis kalimat pertama dalam buku ini. Saat membelinya, saya tertarik dengan buku terjemahan ini, karena tertulis "Pemenang Penghargaan "La Pluma de Plata" Spanyol. Sebuah penghargaan terhadap karya sastra di Spanyol. Dengan judul versi terjemahan, Satu Hari Bersamamu, disertai gambar seorang ibu dengan anaknya, juga menjadi alasan awal memilih buku ini. Setelah begitu lama buku ini di tangan, baru dibaca tuntas dan direview kali ini. *telaat..

Mitch Allom, mengisahkan tentang Chick Benetto alias Charles benetto, ibunya memanggil Charley alias Chikadoo, panggilan khusus Miss Thelma kepada tokoh utama. Charley adalah ayah dari Maria, suami dari Catherine, saudara Roberta, dan anak laki-laki dari pasangan Posey atau Pauline Benetto dengan Leonard. Ia dibesarkan dengan pola asuh masa kecil yang berbeda antara ayah dan ibunya. Ayahnya dengan latar kehidupan dan jiwa keras mengajarkan bagaimana seharusnya laki-laki bersikap. Sedangkan ibunya, sebagaimana layaknya seorang ibu yang terus mengajarkan dan mendidik dengan kasih sayang, kemudian dianggap 'lebay- bahasa sekarang' olehnya.
 Ibu merusak hidupku! teriakku. --- hal.53
Kisah dalam buku merupakan waktu yang singkat. Yaitu ketika Chick tidak sadarkan diri, setelah upaya bunuh dirinya yang tidak berhasil. Chick merasa tak ada lagi orang yang akan mempedulikannya. Anaknya yang telah menikah, tanpa sepengetahuannya. Kehidupan kacau balau. Saat itu ia merindukan ibunya. Ia pun memilih bunuh diri.

"Dan menjadi tak terdengar adalah dasar bagi seseorang untuk menyerah, dan menyerah adalah titik awalmu melepaskan diri" --- h. 16
 
Dalam masa tidak sadar itulah, pikiran Chick berkelana dan bertemu dengan kehidupan masa lalunya. Ia seakan benar-benar hidup dengan ibunya, Posey untuk waktu yang cukup mengembalikan kerinduannya. Ia mengikuti kehidupan Posey yang selama ibunya hidup, tidak berarti apa-apa baginya. Ia menyesali keadaan -kehangatan itu tak sejak ibunya hidup disadarinya. Kalau saja sehari saja, seseorang yang engkau cintai itu telah pergi, bisa bersama denganmu kembali, apa yang akan kau lakukan?

Pelajaran berharga melalui kisah Chick adalah, bagaimana seorang anak dipahami dengan jiwa anak-anaknya, memiliki ingatan kuat dengan kehidupan masa kecilnya. Chick yang dibesarkan dengan kondisi single parent, seperti menolak keadaan tersebut. Psikologis anak yang dibesarkan orang tua tunggal, hanya menuntut bagaimana mestinya ia diperlakukan tanpa mencoba mengerti bagaimana yang dirasakan oleh orang tua tunggalnya itu.

Chick tak pernah mengetahui alasan berpisahnya ayah dan ibunya. Yang ia tahu, ia tidak menyukai keadaan itu. Tak pernah ingin memilih, harus menjadi anak siapa. (("Seorang anak tidak seharusnya memilih." ---Posey. h.234)) Ia ingin menjadi anak keduanya.
Beberapa kisah masa lalu, di saat Chick selalu dibela, diurus dengan baik oleh ibunya pun ada dalam cerita ini. Sebaliknya, bagaimana sejatinya, seorang ibu rela melakukan apa saja demi anaknya. Apalagi dalam kondisi single parent, dan ia bertahan untuk kondisi tersebut hingga membesarkan anak-anaknya. Tapi Chick punya kisah, ia tak membela ibunya.

Barulah ketika pikiran Chick kembali bersama dengan Posey, pasca upaya bunuh diri itu, ia mengetahui alasan perpisahan ibu dan ayahnya. Ayah Chick seorang Katolik dan ibunya Protestan. Ayahnya ikut pasukan militer ke Italy, ketika akan menikah dengan ibu Chick. Karena buruknya situasi, ayah Chick menikah di Italy dengan perempuan setempat. Dan, saat kembali ia menikahi Posey. Dalam perjalanan rumah tangganya, perempuan Italy itu mencari ayah Chick, dan mereka hidup di kota yang tak jauh dari kota keluarga Chick. Di sinilah bermula keretakan keluarga Chick.

Posey mengetahui suaminya memiliki istri yang lain, dan keluarga lain. Dalam ajaran mereka tidak dibenarkan seorang suami memiliki dua istri. Posey memilih berpisah. Ia tidak menceritakan keadaan dan keburukan situasi kepada anak-anaknya. Berbagai kesulitan hidup dijalani Posey demi mendidik anak-anaknya. Menguliahkan Chick juga.

Satu hal yang menyatukan Chick dengan ayahnya adalah baseball. Saat ia kuliah, ayah Chick menemuinya di asrama. Memberitahu dan memotivasi Chick untuk ikut pertandingan dan laga-laga. Akhirnya Chick meninggalkan bangku kuliah. Sebentuk kekecewaan mendalam bagi ibunya.

Kisah paling mengharukan bagi saya adalah, saat Chick pergi, berbohong pada orang-orang. Ia mengatakan ada urusan pekerjaan, padahal hanya untuk pertandingan reuni baseballnya di kota lain. Chick pergi tepat ketika ibunya sedang merayakan ulang tahun. Besoknya, Posey meninggal.

Buku ini sangat direkomendasikan. Siap-siap ya, meneteskan air mata, membandingkan dengan pengalaman pribadi bersama ibumu!

Seorang anak harus mensyukuri keadaan keluarganya, apapun dan bagaimanapun ibunya. Norak, lebay, dan alasan apapun, seorang ibu telah sepenuh jiwa melahirkan dan membesarkan sang anak. Bagi yang sudah kehilangan ibunya, pastilah merindukan saat-saat bersama ibu. Adalah waktu yang tak tergantikan dengan dan oleh siapapun. Bagi yang masih memiliki ibu, bersamanya dan terus membahagiakannya adalah hal yang tepat untuk dijadikan bagian kehidupan.



28.3.17

Review Buku: Veronika Memutuskan Mati

Judul          : Veronika Memutuskan Mati 
                     Veronika Decides to Die
Penulis       : Paulo Coelho
Penerbit     : Gramedia 
Tebal buku : 236 hlm


"Gadis itu akan menganggap setiap hari sebagai keajaiban -dan sebenarnya memang demikian jika kita melihat betapa banyak hal tak terduga yang bisa terjadi setiap detik dalam hidup kita yang rapuh ini." -- Dr. Igor ; hlm. 236

Dr. Igor; psikiater yang menangani berbagai kasus kejiwaan di Vilette.
Mari; mantan pengacara yang bermasalah dengan kemampuan dirinya mengelola ketakutan. Gangguannya disebut panic attack.
Zedka Mendel; penderita depresi yang menjalani perjalanan astral, setelah diberi pengobatan insulin shock. Sebuah terapi terlarang (tahun 1930) di rumah sakit jiwa yang dipakai kembali, untuk menekan kapasitas mental pasien depresi.
Eduard; pemuda yang mengalami jenis kegilaan, skizofrenia. Ia ingin menjadi pelukis, ayah dan ibunya merencanakannya menjadi diplomat.

Dan, tentu saja ada si tokoh utama, Veronika.
Gadis 24 tahun, yang memiliki kehidupan normal, bekerja sebagai pegawai perpustakaan, memiliki orang tua yang lengkap dan sempurna. Ia menginginkan kebebasan. Menurutnya, segala sesuatu itu akan berakhir dengan kematian. Kebebasan itu bisa didapat hanya dengan mati. Ia memutuskan bunuh diri dengan menenggak empat bungkus pil tidur.

Apakah ia kemudian langsung mati? Tidak. Semua berproses. 

 Apa yang akan kita lakukan sembari menanti kamatian?

Inilah cerita 236 halaman karya Paulo Coelho yang memberikan banyak informasi, lintas ilmu pengetahuan, memberi inspirasi serta motivasi kehidupan dengan hikmah beragam.

***
Veronika memutuskan mati. Ia akan bunuh diri dengan cara elegan. Lalu mengirimkan surat ke koran, memberi tahu dunia, bahwa ia akan bunuh diri di Slovenia. Kota asing yang dijadikan seorang wartawan, sebagai judul tulisannya dalam sebuah majalah. Veronika membaca majalah itu, tersebab ia tak kunjung mati setelah menenggak pil tidur. 


Ia kemudian, harus melalui lima hari lebih untuk mengetahui, bahwa ternyata ia pun memiliki hidup yang bermakna, tak sia-sia. Semuanya justru diperoleh melalui banyak orang "gila", di rumah sakit jiwa. 

"Apakah sesuatu dianggap normal, melulu karena diikuti oleh mayoritas?" Pertanyaan ini diajukan Paulo Coelho lewat novel ini. Dia yang pernah menjadi bagian rumah sakit jiwa, tentu memahami betul bagaimana rasanya menjadi yang dianggap "tidak normal" itu. 

Orang-orang yang hidup di dunia mereka sendiri, kemudian disebut gila. 'Orang gila' dibebaskan dari hal-hal yang berkaitan dengan aturan, juga hukuman. Ketika diberi kesempatan menjadi bagian orang 'gila', tokoh utama melakukan hal-hal gila. Tidak harus patuh. Tidak mesti menyenangkan orang lain. Bebas menjadi yang dirinya mau. Mencoba hal-hal yang menurut selama ini terlarang.

Teori-teori berkaitan psikologi, kejiwaan, pengobatan medis terhadap penyakit jiwa dijelaskan di buku ini melalui penjelasan Dr. Igor. Si Dr. Igor bertekad menemukan obat untuk menyembuhkan kegilaan. Salah satu penelitiannya adalah terhadap Veronika.

"Diperkirakan, satu dari lima individu menderita beberapa gangguan psikiatri dan satu dari delapan warga Kanada akan mengalami perawatan, setidaknya sekali dalam seumur hidup akibat gangguan mental." ---h. 87

Pesan lain dalam buku ini adalah, pandangan penulis tentang hukum. Melalui pendapat Mari, dikatakan bahwa "keadaan sulit bukan akibat kekacauan atau anarki, melainkan akibat terlalu banyak aturan. Di masyarakat semakin banyak kaidah, hukum bertentangan dengan kaidah dan kaidah baru bertentangan dengan hukum. Orang takut keluar dari kaidah yang mengendalikan seluruh hidupnya." Salah satu keahlian pengacara, -katanya- adalah mengulu-ulur persoalan. 

Satu tema di akhir, tentang perkenalan Veronika dan Eduard. Masing-masingnya kemudian jatuh cinta. Bagi Veronika, meskipun ia kemudian mati, -setelah lima hari penantian kematian itu-, ia akan mati dengan penuh cinta. Ia tidak lagi menjadi : "Veronika yang bunuh diri karena merasa tak ada lagi artinya hidup. Yang merasa bahwa semua tugasnya sudah tuntas." 

**
Menyimak kisah-kisah orang yang dianggap gila, atau benar-benar menderita gangguan mental, sesekali perlu dilakukan. Agar kita sadar, betapa mahalnya anugerah akal dan kewarasan yang dimiliki saat ini. 



4.9.16

Review Buku: Singgah



Komentar buku      : Singgah (antologi cerpen)
Penulis                   : Jia Effendie, dkk


“Karena hidup adalah persinggahan.”

Kalimat yang tertera di halaman awal buku dengan judul Singgah ini, menarik perhatian saya untuk terus membalik ke daftar isi. Mencoba mengira-ngira, di judul manakah terletaknya quote tersebut. Karena, buku ini merupakan kumpulan cerita bertemakan tempat-tempat persinggahan yang ada. Baik stasiun kereta, terminal, bandara, pelabuhan atau dermaga.

Di tempat-tempat itu, banyak terukir kenangan, tercipta harapan. Sedih maupun senang. Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Disanalah tempat persinggahan, perhentian dan keberangkatan.

Beberapa cerita berkisah tentang imajinasi. Lainnya tentu seperti kisah nyata. Seakan ada, atau pernah dirasakan banyak kita. Di antara kisah-kisah itu, yang berkesan bagi saya adalah tulisan Anggun Prameswari, dengan judul Rumah Untuk Pulang.

Latar cerita Rumah Untuk Pulang, adalah stasiun kereta. Seorang perempuan muda, senantiasa duduk di peron stasiun, memikirkan kemana ia harus pulang. Arum namanya. Perempuan yang terjebak dalam rasa bersalah, yang terus menghantui. Rumah, tempat kebahagiaan dicipta bersama ibu dan ayahnya, bukan lagi menjadi tempat pulang. Karena ia terlalu bersalah untuk kembali.

Rumah, tempat ia, suami dan anak-anaknya berada, bagi Arum bukanlah tempat untuk pulang. Ia terus diliputi rasa bersalah dan menyesal pada masa lalu. Ia ingin memutar waktu. Menemukan dirinya, sebagaimana anak/gadis berkehidupan saat itu.

Meskipun disisipi bagian-bagian imajinasi, namun cerita ini sarat makna. Bagaimana pikiran bisa membentuk perilaku seseorang. Terjebak dengan penyesalan dan pikiran-pikiran sendiri, membuatnya merasakan rumah dan tempat tinggal tak pernah sama. Bisa saja, raganya kembali dan menetap di satu tempat. Tapi pikiran dan harapannya menerawang, mencari-cari tempat yang nyaman dan aman.

Saya pernah bertemu orang serupa itu. Lelaki, yang saat ini mungkin sudah berusia separuh baya. Lelaki itu, setiap pagi menjelang, selalu berbenah. Ia berjalan dari kampungnya ke kota. Sekedar entah mencari apa. Lalu, kira-kira dua jam berikutnya ia kembali pulang. Kira-kira waktu dhuha.

Ia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang disibukkan mencari sesuatu. Bukan. Melainkan, ia adalah seorang yang melakukan rutinitas perjalanan pagi. Dengan rapi, mengenakan sarung ia berjalan. Sesekali ia juga menyandang tas.

Menurut informasi yang didapat, lelaki itu terganggu dengan pikiran masa lalu. Ia lalu berjalan sangan jauh. Dari ibukota proinsi lain, ke kampungnya. Masalahnya adalah, ia tak cukup berani sampaikan penolakan yang diberikan kakaknya, atas permintaannya. Ia hanya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dan, terkendala biaya.

Ia hanya tak bisa menerima keadaan tersebut. Terus menerus terjebak dengan pikiran dan harapannya. Begitu juga dengan Arum. Menjebak dirinya dengan pikiran dan harapan imajainasinya. Dan, mungkin juga banyak di antara kita saat ini yang hampir-hampir juga terjebak dengan harapan-harapan dan mimpi yang belum tercapai. Atau tak bisa keluar dari rasa bersalah  yang terus menghantui.

Hidup benarlah sebuah persinggahan. Kalau bahasa Komaruddin Hidayat, Hidup adalah perjalanan. Tak ada yang menetap, dan kita tak akan menetap.

Secara umum, buku ini menarik. Kisah-kisah tentang kenangan dan rindu dikumpul jadi satu buku, oleh sebelas orang penulis. Ke sebelas cerita itu, diawali dengan cerita horor Jia Effendie, "Jantung". Lalu, Dermaga Semesta, tulisan Taufan Gio. Alvin Agastia Zirtaf, menulis cerpen dengan judul Menunggu Dini. Moksha, karya Yuska Vonita. Kemenangan Apuk, oleh Bernard Batubara. Dian Harigelita dengan cerpennya Semanis Gendhis. Rumah Untuk Pulang. Memancing Bintang karya Aditia Yudis. Para Hantu dan Jejak-jejak di Atas Pasir, Koper, Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita, dan Pertemuan di Dermaga.

Dermaga, tempat orang-orang menunggu yang datang, menjemput yang pergi.
Terminal, tempat dimana pertemuan dan perpisahan harus terjadi.
Stasiun, sayangnya bersedia memberi ruang untuk terus menanti, menanti. Meski yang ditunggu entah akan kembali atau tak akan pernah lagi.
Dan, bandara bisa menjadi tempat pertemuan tak terduga. 

* Jadi, "Karena hidup adalah persinggahan.”ada di halaman berapa.

24.8.16

29.6.16

Review Buku: Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis


Judul buku  :  DI TEPI SUNGAI PIEDRA AKU DUDUK DAN MENANGIS
                     NA MARGEM DO RIO PIEDRA EU SENTEI E CHOREI
Penulis       :   Paulo Coelho
Penerbit     :   Gramedia Pustaka Utama
Tebal         :    224 halaman

Hiduplah. Mengenang hanya untuk orang-orang tua.  

Mungkin cinta membuat kita menua sebelum waktunya -atau menjadi muda, jika masa muda telah lewat. Namun mana mungkin aku tidak mengenang saat-saat itu? Itulah sebabnya aku menulis---mencoba mengubah getir menjadi rindu, sepi jadi kenangan. Sehingga ketika aku selesai menceritakan kisah ini pada diriku sendiri, aku bisa melemparkannya ke Piedra. [h. 14]

***
Paulo Coelho. Nama yang mengingatkan saya, atas jasa besarnya yang tak terduga, untuk Sonia adiknya. Sonia memenangkan lomba esai hanya dengan bermodalkan tulisan kakaknya, yang sudah dibuang ke tong sampah. Namanya sejak lama, digandeng dengan Sang Alchemist. Buku yang banyak dibaca di seluruh dunia.

Ada legenda bahwa segala sesuatu yang jatuh ke Sungai Piedra ini seperti dedaunan, serangga, ataupun bulu burung akan berubah menjadi batu yang membentuk dasar sungai. Kalau saja aku dapat mengeluarkan hatiku dan melemparkannya ke arus, maka kepedihan dan rinduku akan berakhir, dan akhirnya aku melupakan semuanya. Demikian ditulis Paulo Coelho di bagian awal novel ini. 

Ditepi sungai Piedra aku duduk dan menangs ini, berkisah tentang Pilar dan  teman lelaki masa kecilnya, yang mengikuti perjalanan takdir. Mempertemukan, lalu menyatukan. Memberi konflik, lalu mengikhlaskan. Memahami makna cinta yang lebih agung, daripada hasrat dan nafsu manusiawi.

Latar belakang Coelho bertemu dengan Christina Oiticica, seorang teman lama yang kemudian menjadi istrinya, barangkali menjadi ide utama kisah ini. Sastrawan Brasil ini, melalui novel-novelnya begitu piawai merangkai kata memberi definisi dan makna rasa. Baik rasa indah bagi orang yang tengah jatuh cinta, maupun kepedihan yang dirasakan orang yang sedang patah hati.

“Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.”

Seorang Pilar, sedang melanjutkan sekolahnya di Zaragosa. Dan, si Lelaki yang tak pernah disebutkan namanya, menyibukkan diri dengan kegiatan keagamaan Kristen dan seringkali memberi 'kuliah'. Pertemanan masa kecil mereka terus berlanjut, melalui surat-surat di antara mereka.

“Namun cinta itu mirip bendungan: jika kau membiarkan satu celah kecil yang hanya bisa dirembesi sepercik air, percikan itu akan segera meruntuhkan seluruh bendenungan, dan tak lama kemudian tak seorang pun bisa mengendalikan kekuatan arusnya. Setelah bendungan itu runtuh, cinta pun mengambil kendali, dan apa yang mungkin ataupun tidak, tak lagi berarti; bahkan bukan masalah apakah orang yang kita cintai itu tetap di sisi kita atau tidak. mencintai berarti kehilangan kendali.” 
Pilar dan lelaki itu dihadapkan pada konflik. Pilar, menolak hatinya dan mengedepankan logika. Sedangkan si lelaki, diharuskan memilih, melanjutkan kehidupan religiusnya atau memilih hidup normal dengan wanita yang sejak lama ia cintai. Masing-masingnya hanya mencoba mengikuti, bagaimana takdir mengantarkan. 

Perjalanan pun dimulai. Ada banyak tempat-tempat suci dan ritual reliji yang disebutkan dalam bagian ini.

Akhir dari perjalanan mereka seperti memberi konklusi bahwa, si lelaki tak perlu meninggalkan 'tanggung jawab' yang diberikan Tuhan kepadanya, memberi pelayanan, dan memilih wanita itu. Atau sebaliknya, memilih aktifitas agamanya, dan melupakan cinta yang sejak lama ia simpan dan terus inginkan. Ia akhirnya diberi kesempatan, melayani Tuhan justru dengan mengikuti hatinya, yakni mencintai Pilar. Di sini terlihat begitu kental nuansa beragama si Penulis.
"Cintamu menyelamatkan aku dan mengembalikan aku ke mimpiku." 

**
“Cinta sejati adalah penyerahan diri seutuhnya. Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya.” 
Novel ini secara umum bercerita tentang keikhlasan /penyerahan diri. Saya membaca buku ini tanpa jeda melakukan apa-apa selain ingin meneruskan ke halaman berikutnya, halaman berikutnya lagi. Bukan karena penasaran bagaimana ending kisahnya. Tapi karena merasa ikut hadir bersama, mendengarkan percakapan-percakapan. Ditambah lagi dengan perlunya membaca berulang. Disebabkan banyaknya kutipan dan quote tentang makna, dengan bahasa sastrawi yang perlu dibaca lagi, agar tak rancu memahami. Ya, seperti novel terjemahan lainnya. (*)


22.6.16

Review Buku: Merantau Ke Deli




gambar : priceza.co
Inilah salah satu karya sastra Hamka yang akan kita bicarakan kali ini, Merantau ke Deli. 

***


Leman si pemuda Minang, pergi merantau ke tanah Deli. Dalam perjalanan berniaganya, Leman bertemu dengan Poniem. Poniem seorang perempuan jawa, yang sudah lebih banyak mengalami sisi pahit kehidupan. Leman, menyukai Poniem. Mereka lalu menikah. 

Konflik muncul. Alasan adat, posisi dan porsi Leman sebagai laki-laki Minang yang merantau menjadi pemicu keretakan rumah tangganya. Klimaksnya terjadi pada tahun ke sepuluh mereka bersama. Poniem, saat itu juga belum memberinya keturunan. Campur tangan “orang kampung” turut mempengaruhi kehidupan rumah tangga Leman. 

Leman dijodohkan dengan gadis asal kampungnya, Mariatun. Meski sulit mendapat izin Poniem, Leman akhirnya bisa menikahi Mariatun. Dengan satu permintaan, agar Leman tidak akan menceraikan Poniem. Lalu Leman bersumpah untuk itu.

Tentu saja kehidupan “dua kapal, satu nahkoda” tak berjalan sebaik yang diinginkan. Konflik pecah. Persaingan mendapatkan perhatian Leman, terjadi antara Poniem dan Mariatun. Selain perang kata, mulai ada keributan fisik. Istri muda vs istri tua. Poniem ditalak tiga, diceraikan Leman. Lemang tak sadar telah mengingkari sumpahnya. 

Poniem pergi. Suyono, pembantu di toko Leman, yang telah lama ikut dengannya berdagang, turut serta, “mengikut kemana Mbak Yu pergi “, katanya. Dalam kehidupan bersama, yang memiliki pengalaman masa lalu yang sulit, dan cita-cita kebahagiaan masa depan, Poniem dan Yono yang sudah menemukan rasa nyaman satu sama lain pun menikah. Kehidupan mereka membaik. Terniat bagi mereka untuk kembali ke kota yang sama dengan Leman. 

Kontra sekali dengan kehidupan Leman. Setelah ditinggal istri tua dan pembantu setianya, usaha Leman jatuh bangkrut. Kongsi pun pecah. Ia miskin. Bersamanya tetap ada tanggung jawab membesarkan anak perempuannya dengan Mariatun. 

Poniem dan Yono, setelah bertemu kembali dengan Leman tetap saja tulus dan kasihan kepada Leman. Sudahlah mengkaji masa lalu, katanya. Leman meminta maaf kepada Poniem. Leman, telah beroleh pelajaran dari apa yang dilakukannya di saat kaya, gagah, muda dan beristri dua. Ia yang telah melanggar sumpahnya. Leman pulang kampung bersama Mariatun dengan kemiskinannya.

**
Karya sastra penuh ibrah. Tentang kritik terhadap adat Minang. Benturan adat budaya asli dengan kehidupan rantau. Tentang ketulusan dan kesetiaan. Tentang orang kedua dalam rumah tangga. Kecurangan, iri hati dan dengki. Tentang perjalanan nasib/takdir.


28.10.15

Review Buku: DILAN



DILAN
Dia Adalah Dilanku tahun 1990


Tak ada yang disampaikan buku ini, selain kebanggaan si Aku kepada  laki-laki nakal, usil, tapi asik bernama Dilan. Si Aku bangga, karena Dilan selain sebagai penggemarnya, juga merupakan anggota geng motor yang juara kelas.
Dilan suka bersosial. Jago menggambar. Suka bermain gitar dan cuek terhadap anak perempuan. (lho, jangan-jangan itu karakter penulis pas SMA. hehe)


Dilan dan Melia, dalam buku Dilan (I), mestinya dibaca para guru, pengajar SMA sekarang. Dengan demikian, terlihat perbandingan, bahwa “anak jaman 90-an” saja, “unik”nya sudah minta ampun. Maka, tak perlu menyalahkan diri, mengutuk zaman, “anak sekarang begini dan begitu”.

Bahwa, “setiap zaman ada anaknya atau setiap anak ada zamannya” mesti kita terima. Karena saya juga guru SLTA, khususnya Kejuruan, dengan perbandingan anak perempuan dan laki-laki adalah 70 banding 30. Artinya, tidak sedikit kisah romantis anak se-usia Dilan yang dihadapi. Apalagi kisah “heroik”, pertarungan antar geng, kelompok, komunitas dan lain sebagainya.

Dan, novel Dilan hadir sebagai jalan tengah, solusi menenangkan diri, dan membuat tawa dan senyum-senyum sendiri sampai akhir cerita. Dilan yang nakal tapi asik, Melia dengan gaya “anak Jakarta”nya, pertemanan dan dunia saling naksir zaman SMA yang kocak.

Penulisnya, Pidi Baiq pantas berbangga, Dilan yang ia ciptakan benar-benar membuat jatuh cinta para gadis remaja usia SMA. Barangkali, penulisnya ingin menyampaikan, “gini loh..cowo keren itu. Bukan yang kayak zaman sekarang, si cowo pemberi harapan palsu, nah si cewe-cewenya mudah digombalin”.

Over all, buku Dilan menjadi buku ringan, enak dibaca, seru dan cukup sekali baca. Hehehe. Karena, sebagai generasi 90an, saya cukup kenal dengan beberapa dialog Dilan dan Melia. Ya, memang begitulah anak 90-an. Meskipun ada beberapa bagian dari dialag yang membuat  bingung, dan bertanya, apa zaman itu sudah biasa begini, atau begitu?

Pidi Baiq bercerita sebagai Melia. Penulis laki-laki yang menjadikan “Aku” si tokoh utamanya adalah perempuan, itu hebat menurut saya. Sama hebatnya seperti penulis favo saya, Dee Lestari yang bisa menjadi laki-laki dalam tokoh-tokoh “aku” di ceritanya.

Buku yang anak SMA banget. Mengajarkan cara-cara elegan mendapatkan yang ditaksir, cara unik dan asik dalam berkawan. Dan, terlalu banyak ha ha ha dan he he he nya.
Katanya, setelah Dilan (1991) mau ada cerita versinya Dilan ya? Kita tunggu saja, gimana seniman Pidi Baiq cerita dari sisi Dilan-nya. 

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...