28.4.26

Selamat Jalan Kuyut

 Malam hari di rumah kami kadang tidak selalu diisi dongeng sebelum tidur. Kadang, saya membacakan puisi kepada anak perempuan saya yang baru berusia tiga tahun. Buku puisi bergambar Ayam, -yang semula dia kira adalah Dinosaurus-, ternyata adalah buku puisi tentang identitas manusia di zaman ini. Dengung Tanah Goyah (2024), tentang kritik sosial dan ekologis, perspektif yang bergeser, budaya dan tradisi lokal dan macam lainnya. 

Puisi-puisi Iyut Fitra—atau Kuyut, begitu kami juga ikut memanggilnya—punya cara sendiri untuk sampai kepada kami, kepada anak 3 tahun kami. Ada pengulangan kata, bunyi-bunyi yang mirip, ejaan yang seperti sedang bermain, juga ujung kalimat yang terasa seperti berpetualang. Bagi orang dewasa, itu mungkin sekadar gaya bahasa. Tapi bagi anak tiga tahun, itu adalah taman bermain. Taman imajinasi.

Ia akan mengulanginya lagi. Tertawa lagi. Salah mengucapkannya, lalu merasa itu semakin lucu. 

Dan kami sering melakukan itu.

Lewat tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada Kuyut. Untuk kata-kata yang ia lahirkan. Untuk puisi-puisi yang diam-diam ikut tumbuh di rumah kami. Untuk sebuah buku kumpulan puisi yang kami dapatkan saat ia datang bertandang ke Padang Panjang, ketika penyakit sudah mulai mengintai tubuhnya yang tipis.

Saya memang harus berterima kasih pada Kuyut. Ia tidak pernah membedakan teman lama atau teman baru. Sama-sama teman. Sama-sama disambut hangat. Ada orang-orang yang hadirnya tidak ramai, tapi tinggalnya lama di ingatan. Kuyut salah satunya.

Karena itu, saya ikut berdoa untuk kesembuhannya. Berkabar kepada ibu Zarni Jamila, menanyakan keadaan, berharap ada kabar baik yang bisa sedikit menyenangkan.

Namun akhirnya, pada suatu sore yang dingin, saya menerima pesan itu.

“Kuyut dah pegi tmn2... mhn doanyaaa.”

Kalimat sederhana yang rasanya panjang sekali. Ada orang-orang yang kepergiannya tidak hanya meninggalkan kehilangan, tapi juga membuat kita sadar: ternyata seseorang bisa hidup lama lewat kata-katanya.

Selamat jalan, Kuyut.

Kini Kuyut sudah tidak sakit lagi.

Semoga Allah menghapus dan memaafkan segala kesalahan. Semoga semua sabar yang dijalani dalam menerima takdir-Nya menjadi jalan yang lapang menuju pulang terbaik.

Dan puisi-puisi itu, akan tetap dibacakan.

Pada malam-malam yang dingin.
Pada anak kecil yang tertawa-tawa.
Pada rumah yang masih menyimpan tulisanmu dengan hangat.


Ujian Matematika

Apakah fenomena ujian matematika tanpa butuh lembar buram dan pena massif dimana-mana saat ini?

Agak heran memang. Saat kita ujian-ujian setingkat SMA atau SMP,  sekira 20an tahun lalu, lembar buram itu jelas ada isinya. Semakin ke sini (waktu berlallu), semakin kita lihat lembar itu isinya macam-macam. Di jurusan tertentu, dulu-dulu masih bagus diisi dengan komik, gambar-gambar abstrak, dan kada-kadang memang ada yang bagus juga. Ada juga yang meminta maaf "Buk, saya semalam tidak bisa belajar, maaf ujian saya hanya seperti ini." 

Namun hari-hari ini, jangankan coretan dan permintaan maaf, lembar itu tak disentuhnya. Kita bertanya, "kenapa tak ada isinya, pencarian jawaban di sini?". Mereka menjawab "Ga ada pena buk."  Siswa yang lain menimpali, "Kalaupun  ada pena, juga tidak tau jawabannya buk."

Hmh. Menarik nafaslah kita dalam-dalam. Terbayang beban ini sudah lama menumpuk di pundak guru matematika. Sama seperti ketika masih ada siswa satu-dua yang belum mampu mengidentifikasi bacaan alquran, huruf-hurufnya, dan iqra zaman dulu itu. Sama terdengar deru nafas gurunya. 

Memprihatinkan.

Saat ujian, siswa mengerjakan soal begitu cepat. Tidak ada coretan di kertas, tidak ada hitung-hitungan panjang, bahkan pena kadang hanya dipakai untuk menghitamkan jawaban. Selesai.

Kadang saya merasa, kita sedang membiasakan anak-anak untuk lebih dekat dengan hasil daripada proses. Yang penting benar. Soal bagaimana sampai ke sana, itu urusan belakangan.

Padahal, bukankah matematika justru mengajarkan langkah?

Dulu kita akrab dengan kertas buram. Penuh coretan, kadang berantakan, kadang salah lalu dicoret lagi. Tapi dari situ terlihat cara berpikir. Terlihat usaha. Terlihat bahwa jawaban itu diperjuangkan, bukan ditebak. Sekarang, yang sering terlihat justru kecepatan. Cepat memilih, cepat selesai, cepat lupa. Dan tidak peduli apa-apa lagi. 

Ujian secara online, sebagian mereka punya "caranya" mencari jawaban dari berbagai jenis AI. Ujian dengan HP, baru 10 menit soal dibagikan sudah terdengar celetukan "selesai". Apa yang mereka cari? Apa yang mereka inginkan? Mengejar cepat selesai lalu "Push rank? Mobile legend??" 

Sebagai guru, kadang ini yang membuat gelisah. Jangan-jangan kita terlalu sibuk mengejar nilai, sampai lupa mengajarkan cara berpikir. Kita senang melihat angka tinggi, tetapi lupa bertanya: anak ini benar-benar paham, atau hanya hafal bentuk soal?

Hidup, sayangnya, tidak seperti ujian pilihan ganda. Hidup butuh "resistensi". Bagaimana bertahan di saat sulit. Hidup yang bukan sekedar matatika ini butuh logika. Butuh berpikir kritis. yang semua itu tidak lahir begitu saja. Sim salabim. Tidak ada jawaban A, B, C, atau D. Tidak ada kisi-kisi. Tidak ada kesempatan menebak lalu berharap beruntung. Yang ada mungkin buntung. 

Hidup meminta kita berpikir. Menimbang. Salah. Memperbaiki. Dan itu semua mirip sekali dengan proses mengerjakan matematika yang sebenarnya. Mungkin karena itu saya masih percaya, matematika bukan sekadar pelajaran hitung-hitungan. Ia adalah latihan hidup. Jangan menyerah, guru matematika dimana pun berada. Ujian memang, saat siswa kita divideokan lalu ditanya kali-kali-bagi-tambah-kurang, -yang dulu kita lakukan sebelum keluar kelas, di sekolah dasar- dan mereka gaya-gayaan, senyum-senyum ga tau. 

Aish. 

24.4.26

2026

 

Halo, ini sudah 2026 ternyata.
Tulisan di sini sudah lama terpendam, seperti halaman buku yang terselip di antara waktu—tidak hilang, hanya belum sempat dibuka kembali.

Kadang hidup memang seperti musim.
Ada masa kita berbunga, penuh semangat dan cerita. Ada masa kita sepeerti musim gugur, diam, butuh hibernasi dan memilih menyimpan segalanya sendiri. Blog ini pernah ramai oleh kata-kata, lalu diam.  Mood lagi, menulis lagi. Tetapi karena hidup sedang sibuk mengajarkan banyak hal dengan caranya sendiri.

Saya belajar bahwa manusia sering kali seperti rumah—dari luar terlihat kokoh, meski di dalamnya ada banyak ruang yang sedang direnovasi. Ada tembok yang retak, bagian yang ingin diganti, ada sudut-sudut yang lama dibiarkan berdebu, ada sisi yang memang sudah sepatutnya diganti.

Dan menulis, bagi saya, adalah cara membersihkan rumah itu.

Kadang kita terlalu sibuk dengan rutinitas hari-hari, sampai lupa duduk sebentar dan bertanya pada diri sendiri:
“Apakah semua baik-baik saja? Apa yang memberi makna dan apa yang perlu diabai-biarkan?”

Waktu mengajarkan saya bahwa tidak semua yang tertunda berarti gagal.
Seperti matahari yang tidak pernah benar-benar terlambat terbit, setiap orang hanya punya waktunya masing-masing untuk kembali bersinar. Hidup masing-masing yang tidak perlu dibanding-sandingkan. 

Jika kamu membaca ini, mungkin kita sama—sedang belajar melewati fase-fase kehidupan, menerima perubahan, dan memahami bahwa tumbuh tidak selalu terlihat seperti pencapaian besar. 

Mari kita mulai lagi.


Selamat Jalan Kuyut

 Malam hari di rumah kami kadang tidak selalu diisi dongeng sebelum tidur. Kadang, saya membacakan puisi kepada anak perempuan saya yang bar...