Showing posts with label catatan mahasiswa. Show all posts
Showing posts with label catatan mahasiswa. Show all posts

29.9.13

Apakah Golongan Darah Anda B?

[sumber: teknikdiet.com]



Apakah Anda bergolongan darah B? Sepintas, pertanyaan ini terkesan sok menebak, tapi begitulah, saya ingin mengantarkan catatan dalam sebuah pelatihan berkaitan dengan mengetahui karakter melalui golongan darah. Narasumber kami saat itu, sebetulnya diberikan materi berkaitan tentang komunikasi efektif, namun materi tersebut disampaikan dengan pendekatan psikologi. Jadilah, setengah hari membahas karakter dan tipologi manusia. Karena, menurut pemateri, komunikasi yang terdiri dari unsur komunikan, komunikator dan pesan itu perlu memperhatikan unsur psikologi agar dapat terjalin efektif.

Pemateri itu menyampaikan, seorang peneliti Jepang telah melakukan penelitian selama 80 tahun untuk membuktikan adanya keterkaitan antara golongan darah dengan karakter. Namanya Nomi Masahiko, yang menulis buku What Blood Types Reveal About Compability. Dalam versi bahasa indonesia, buku itu ditulis oleh Anton Dermawan, dengan judul Horoskop Darah pengungkap Watak dan Sikap Manusia.

Oke, saya ulangi pertanyaannya, apakah golongan darah Anda B? Bila jawabannya adalah ya, maka karakter yang *rata-rata* dimiliki orang dengan golongan darah ini –menurut buku yang saya sebutkan tadi- adalah individualistis, kuat, optimis, kreatif, fleksibel. Benarkah??

Tentu saja semua kebenaran itu tidak ada yang bisa memastikannya. Tapi, saya lebih bisa menerima keterkaitan karakter dengan golongan darah dibandingkan dengan tanggal dan bulan lahir, shio, dengan jodoh. *EH? :D

Katanya, orang-orang B cenderung memiliki banyak hobi, banyak kemauan, banyak ingin. Namun hebatnya, mereka bisa menomorsatukan salah satu keinginan itu, lalu konsentrasi *untuk tidak menggunakan kata-kata FOKUS, saya menggantinya dengan KONSENTRASI* dengan keinginan itu. Mereka terkesan antusias, memiliki semangat yang kuat dan menggebu. Sejatinya, mereka lebih menyukai kesendirian. Dalam pergaulan, mereka dikenal seorang yang fleksibel, berani mendobrak hal-hal yang statis, tidak menyukai sesuatu yang berbau adat istiadat.

Emosi orang B, seringkali tidak stabil dan tidak konsisten. Ketidak stabilan itu tidak berkaitan dengan tekanan dari lingkungannya, seperti orang dengan golongan darah O. Karena santainya, berhati-hatilah berjanji dengan orang B, mereka paling gampang ngaret soal waktu. Hahahaha. Orang-orang B, paling mudah ngantuk dan paling cepat tertidurnya. Sekali tertidur, paling susah dibangunkan. Lagi-lagi, ini hanya soal kebiasaan toh?

Benarkah prediksi karakter Anda? Sekali lagi saya sampaikan, kebenaran mutlak itu hanya milik Tuhan. Jadi, tidak perlu khawatir dan berbangga dengan tebak-tebakan ini. Penelitian itu dilakukan di satu wilayah dunia, dengan latar belakang budaya, kebiasaan dan konsumsi makanan yang berbeda dengan banyak wilayah lainnya di dunia. Hanya saja, untuk tujuan komunikasi dengan orang-orang yang memiliki golongan darah tertentu,  kita dapat menerima keadaan, bersiap dengan karakter kebanyakan orang dengan golongan darah tersebut,  kemudian menyesuaikan diri lebih mudah dengan mereka.

Lalu, bagaimana dengan karakter orang dengan golongan darah A, AB dan O??  >> to be continued... Bersambung pada edisi berikutnya.... Hehehehe. Saya harus lanjutkan kuliah Semantik dulu.  Siii yaa.. :D  

Hadiah dan Petunjuk



  
Apa itu hadiah? Hadiah adalah sesuatu yang didapat, diterima, diperoleh dari orang lain sebagai bentuk penghargaan, ucapan terima kasih atas suatu hal/prestasi yang telah dilakukan. Seorang anak mendapat hadiah dari orang tua, atas prestasi juara kelas yang telah diraihnya. Seorang pegawai/karyawan mendapat hadiah dari atasan karena prestasi kerja yang telah dilakukannya. Seseorang yang bermurah hati, memberikan hadiah kepada sahabat, saudara atau orang-orang spesialnya yang tanpa prestasi apa-apa. Hanya sebagai penguat silaturahim, penguat hubungan batin.

Hadiah, adalah sesuatu yang membahagiakan. Bahagia  bagi yang menerima, juga kebahagiaan bagi yang memberi. Dalam sebuah hadis, Rasul saw menganjurkan agar umat Islam saling memberi hadiah.  "Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati."

Pada hadis lain, disebutkan, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (HR. Thabrani). Begitulah, hadiah adalah sesuatu yang menggembirakan. Sekalipun kecil. Sebuah pepatah juga mengatakan, sesuatu yang berasal/dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati pula.
 
Kata hadiah berasal dari bahasa Arab, hadaa, hadyan, hudan, hidayatan, yang berarti irsyad/petunjuk. Hudan,  dipahami sebagai mengarahkan , menunjukkan kepada jalan yang benar. Lebih spesifik lagi kata al-huda, merupakan tuntunan untuk bertaqwa dan keutamaan.  Petunjuk diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada manusia. Petunjuk diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki, tanpa adanya intervensi. Sedangkan hadiyah/hadaayaa, sesuatu yang diberikan untuk tujuan memuliakan. Sama halnya dengan hadiah, petunjuk diberikan sebagai reward atas kebaikan yang telah dilakukan oleh seseorang. 

[sumber: dari aboutmiracle.wordpress.com]
Allah swt telah menghadiahi umat Islam dengan petunjuk terbesar sepanjang zaman, Alquran. Yang dengan alquran itu, tidak saja muttaqiin/ orang-orang yang bertaqwa, tapi juga menjadi petunjuk untuk semua manusia. Hudan lil muttaqin, pada kesempatan lain disebut pula hudan lin nas.  Hadiah, tentu saja tidak dipaksakan. Demikian juga petunjuk yang terdapat dalam Alquran, tidak dipaksakan kepada manusia. Alquran disampaikan secara baik, perlahan, bahasa yang indah, lemah lembut, tidak memaksakan. 

Dengan tidak adanya keterpaksaan itu, maka petunjuk yang terdapat dalam alquran akan diperoleh dengan jalan, dicari, dipelajari, digali, diupayakan dan dipahami. Hal yang mutlak ada untuk semua usaha itu adalah, kemauan/keinginan. Karena Alquran dapat dipahami oleh orang yang awam, asalkan mau membaca, dan ingin mencari petunjuk-petunjuk yang terdapat padanya.  

Alquran memang tidak melulu menjelaskan hal secara detail, tapi alquran memberikan petunjuk untuk sesuatu hal tersebut. Alquran benar, tidak menjelaskan tentang tata cara ibadah, tapi memberikan petunjuk. Alquran tidak menjelaskan cara mengatur negara, tapi memberikan petunjuk . Demikianlah hadiah-hadiah itu diberikan.


Mari, mencari hadiah/petunjuk sebanyak-banyaknya dalam Alquran.  Syarat utama untuk semua itu adalah, kemauan untuk mencarinya. (*)

25.7.13

Tentang Lafaz Ijab Qabul



Suatu malam di pertengahan Ramadhan ini, saya dan kawan-kawan Suara Kampus terlibat pembicaraan hangat seputar ijab dan qabul dalam pernikahan. Diantara yang hadir, ada yang berpendapat bahwa lafaz ijab qabul di negeri ini, -sebagiannya- perlu ditinjau ulang, ia juga sampaikan lafaz ijab yang sah menurutnya, yang lain bahkan ada yang berpendapat, tidak ada lafaz ijab qabul yang sah.

Para fuqaha sepakat bahwa boleh menggunakan kata zawwajtuka, juga boleh ankahtuka, yang meskipun secara detail berbeda, namun keduanya menunjukkan makna kawin/nikah. Sedangkan perbedaan pendapat para pakar fiqih itu pada pembolehan menggunakan kata lain, seperti saya sedekahkan, saya milikkan, dan sebagainya. Pembolehan itu terdapat pada golongan Hanafi, Tsauri, dan Abu Daud. Mereka beralasan bahwa, ijab yang utama adalah niatnya, dan tidak disyaratkan menggunakan kata-kata khusus. Menurut kelompok ini, bahkan segala lafaz yang dianggap cocok asalkan maknannya secara hukum dapat dimengerti, maka hukum ijab qabul itu sah. 

Saya lalu tertarik untuk menuliskan hal berkaitan tema tersebut, di blog ini.
Ijab qabul merupakan  syarat nikah yang telah menjadi ketetapan dalam Islam. Ijab secara bahasa merupakan keharusan/kewajiban, adapula diartikan dengan penetapan. Ijab juga dipahami sebagai pemberian tawaran. Sementara kata Qabul secara makna  disepadankan dengan ridha dan muwaafaqah, yaitu perelaan, penerimaan dan persetujuan. 

Rukun pokok dalam pernikahan adalah ridhanya laki-laki dan perempuan, serta setuju untuk mengikat hidup dalam hubungan berkeluarga. Keridhaan –yang bersifat kejiawaan- tersebut perlu diperjelas lagi, yakni melalui lafaz ijab dan qabul.  Pada pelaksanaannya, ijab yaitu pernyataan tentang kemauan untuk membentuk hubungan suami-istri, sedangkan qabul yaitu pernyataan pihak yang secara ridha menerima dan menyetujui tawaran tersebut. 

Lafas yang digunakan dalam ijab dan qabul tentunya adalah bahasa yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak. Orang Arab tentu akan menggunakan bahasanya dalam melakukan ijab qabul. Orang Indonesia juga dibolehkan menggunakan bahasa indonesia dalam ijab dan qabul. Dengan demikian, orang Indonesia yang memahami bahasa arab, tentu saja dibolehkan menggunakan bahasa tersebut, selama kedua belah pihak yang berakad, sama-sama memahami maksud dari lafaz yang diucapkannya.
Muslim Indonesia, yang mayoritas bermazhab Syafii, lebih memilih menggunakan lafas zawwajtuka dan ankahtuka. Sementara pada mazhab Hanafi, jika kata dalam ijab qabul dapat diganti dengan kiasan, maka hukumnya tetap sah. Sama halnya dengan sahnya kiasan dalam menyatakan cerai. Juga ijab qabul orang bisu yang dibolehkan dengan isyarat, yang sama-sama dapat dimengerti. 

Terlepas dari persoalan, mengerti bahasa arab dan kewajiban mengucapkan ijab oleh orang yang paham bahasa arab –dengan bahasa arab-, tulisan ini, hanya ditujukan untuk membantah pendapat akad menjadi tidak perlu, kalau akad nikah kebanyakan itu menjadi tidak sah.
Kenapa tidak sah? Ada yang berpendapat, pada alquran surat Annisa ayat 3 digunakan kata fankihuu yang merupakan fiil amar yang ditujukan kepada laki-laki. Laki-laki yang mengawini perempuan, sedangkan wali adalah pihak perempuan. 

Sementara lafaz ijab qabul di indonesia ada yang menggunakan, “aku nikahkan engkau dengan anak kandungku...dst” yang diucapkan oleh wali. Sehingga, dipahami bahwa yang dinikahkan wali (pihak perempuan) adalah laki-laki dengan anaknya. Kesalahan struktur kata ini, dalam bahasa indonesia menyebabkan perbedaan makna. Lafaz lainnya, “aku nikahkan ... anak kandungku, dengan engkau...dst”, ini lebih sesuai dengan pemahaman bahasa indonesia. 

Dan, agama Allah itu mudah dan tidak untuk dimudah-mudahkan.  Yang pokok dalam pernikahan/ijab qabul itu adalah kerelaan. Bahasa/lafaz yang diucapkan dalam ijab qabul itu adalah perlambangnya. Sama dengan akad lain, seperti jual beli misalnya, selama ada kerelaan, akad dapat dipahami, boleh jadi sah, tapi tentu harus mengikut pada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. Mari rujuk kembali, peraturan-peraturan itu, Kawan.    :)

11.6.13

Tugas Resensi



Mempelajari Perjuangan Politik Bung Hatta

Judul buku               : Berjuang dan Dibuang
Penulis                      : Mohammad Hatta
Editor                         : Mulyawan Karim
Penerbit                     : Kompas
Tahun                        : Februari 2011
Peresensi                   : Miftahul Hidayati


Mohammad Hatta adalah seorang tokoh proklamator Indonesia. Sebagai wakil presiden pertama Republik Indonesia, namanya sering bergandeng dengan nama presiden, Soekarno. Hatta, juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, karena pemikiran ekonomisnya sudah ada sejak awal.
Otobiografi adalah riwayat hidup seorang tokoh yang ditulis sendiri oleh subjeknya. Sebuah otobiografi tidak hanya bermanfaat bagi penulis dan keluarganya saja, melainkan juga bermanfaat bangsanya. Melalui otobiografi, pemikiran-pemikiran penulis, pengalaman hebat, catatan dan opini penulis dapat disampaikannya tentang berbagai bidang. Demikian juga dengan otobiografi Mohammad Hatta, yang banyak bercerita tentang perjalanan politik dalam hidupnya.
Semenjak pendidikan doktoralnya tahun 1929 di Belanda, Hatta sudah mempersiapkan diri untuk organisasi politik. Semula ia bermaksud menempuh ujian doktoral di bidang ilmu ekonomi pada tahun 1925. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu karena minatnya yang besar di bidang politik.
Berkaitan dengan politik dan pemikirannya, Hatta bercerita melalui tulisan-tulisan yang dikirimnya ke media daulat Ra’jat, Pemandangan, dan Nationale Commentaren.
“Politik di negeri jajahan terutama berarti pendidikan. Politik mengenai pengertian biasa tidak dapat dijalankan, kalau raykat tidak mempunyai keinsafan dan pengertian. Sebab itu, didikan harus jalan dahulu. Dan didikan tidak akan sempurna, kalau ia tidak memaki asas yang terang” (hal. 27)
Demikian sepenggal tulisan Hatta yang disiapkannya untuk Harian Daulat Ra’jat No. 37 tanggal 20 September 1932. Melalui tulisan itu Hatta menyampaikan alasannya kenapa setelah ia kembali dari pendidikan di Belanda, ia langsung memilih bergabung dengan Pendidikan Nasional Indonesia. Melalui tulisan-tulisan itulah Hatta dikenal sebagai seorang tokoh pemuda yang berani.
Sikap kritis dan berani seperti Hatta ini berbeda dengan realitas pemuda (mahasiswa) Indonesia hari ini. Jika diamati, semenjak meletusnya gerakan reformasi tahun 1998 lalu, pemuda Indonesia lebih memilih untuk menyatakan pemikirannya melalui aksi (demo) di lapangan dibandingkan melalui tulisan. Aksi lapangan itu, menurut sebagian kalangan tak berarti apa-apa. Seperti anekdot yang berkembang, tulisan kadang lebih tajam dari pedang. Pada aksi lapangan, tenaga dan massa terbuang percuma, ide dan tuntutan kadang tak dihiraukan.
Bahkan beberapa waktu lalu, Indonesia dikenalkan dengan tokoh kritis mahasiswa Universitas Bung Karno. Sondang Hutagalung. Sondang lebih memilih aksi bakar diri untuk mengungkapkan berbagai keresahan politis yang bergejolak pada pikirannya. Terlepas dari pro dan kontra sikap itu, satu yang pasti, bahwa beragam aksi selain menulis kritikan (tajam) lebih dipilih pemuda hari ini. Tapi, Hatta membuktikan, bahwa pikiran dan idenya sampai ke berbagai kalangan lewat tulisan masa itu.
Setelah sampai di Indonesia, Hatta dan Soekarno yang tetap saling menghargai, meskipun berbeda aliran politik, terus berjuang menyiapkan konsep kemerdekaan Indonesia. Melalui pertemuan dan diskusi dengan sejumlah tokoh penting, Hatta menyampaikan pikiran-pikirannya. Ia juga mendirikan organisasi-organisasi kepemu-daan di daerah.
Selain berjuang, Hatta juga siap dibuang. Seperti Soekarno, Haji Mochtar, Bondan dan Sutan Sjahrir ia pernah ditangkap. Hatta sendiri juga pernah diasingkan ke Digul, Papua, saat ia ditawari oleh kepala pemerintahan di sana agar ia mau bekerja untuk kolonial dengan upah 40 sen sehari. Namun Hatta menolaknya. Ia lebih memilih dibuang, lalu hidup dari honorarium menulisnya di surat kabar Pemandangan. Pasca perang pasifik, yang banyak mengubah keadaan dan suasana di seluruh Hindia Belanda, pada tahun 1942 Hatta dipindahkan ke Sukabumi.
Menarik. Meskipun Hatta bercerita detail dalam buku otobiografinya ini, namun tetap saja tidak membosankan. Bahasa tulis yang dengan cara bertutur ini menjadikan persoalan persiapan kemerdekaan yang dibahas menjadi ringan dan jelas. Bahkan pada beberapa cerita perjalanan, ia bertutur terlalu polos. Sehingga pembaca merasa seakan tidak sedang ‘dekat’ dengan Sang Proklamator Indonesia. Seperti pada bagian cerita berikut, yang mengisahkan bahwa seorang Bung Hatta juga mengalami masa-masa sulit menjelang ujian.
“Tiap-tiap hari aku minum Tonikum untuk memperkuat badan dan pikiran.”Akhirnya, semua buku itu dibaca juga. Dan benar, Hatta sama halnya dengan pelajar/mahasiswa sekarang, pusing berhadapan dengan buku. “karena itu, kuhentikan belajar. Tiap-tiap hari aku berjalan-jalan saja dengan meminum Tonikum. Ini rupanya menolong sangat. Kira-kira dua hari sebelum ujian kucoba membalik-balik buku pelajaran, dan segala yang kupelajari sejak empat bulan itu banyak yang teringat kembali dalam otakku.”
Alur cerita dalam buku ini adalah runut kejadian, sehingga memudahkan pembaca memahami peristiwa secara historis. Namun, sedikit kekurangannya adalah kurangnya gambar dan foto kejadian yang bisa menguatkan cerita perjalanan sang penulis. Buku ini pantas menjadi bacaan pemuda, pelajar dan mahasiswa Indonesia ini. Jika ingin mempelajari perjuangang politik Bung Hatta, maka buku ini layak menjadi solusi.


Referensi
Ray Mungo.                                                                                                                            1999    Pedoman Menulis Otobiografi. Jakarta : Pustaka Tangga.
Mohammad Hatta.                                                                                                                  2011    Berjuang dan Dibuang. Jakarta: Kompas Media Nusantara
Yunita T. Winarto, Tatok Suhardiyanto, Ezra M. Choesin.                                       2007    Karya tulis Ilmiah Sosial. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...