Showing posts with label suka. Show all posts
Showing posts with label suka. Show all posts

13.11.16

Komentar Iklan


Di antara acara televisi yang paling saya sukai adalah : IKLAN.

Ya, tak banyak acara televisi hari-hari ini yang menarik. Tidak seperti zaman-zaman SD dulu,, yang setiap jam 10 hari Sabtu ada film vampir yang selalu ditunggu-tunggu. Atau, jam lima sore, ada film-film anak-anak atau.. telenovela yang digandrungi remaja dan ibu-ibu. Entah sejak kapan bermulanya, acara TV tak lebih menarik daripada iklan-iklan yang terus kreatif, dan juga unik.

Saya termasuk yang suka menonton bagian iklan dari tayangan tv ini. Dari iklan lucu, iklan aneh tak jelas, iklan yang buat bingung, iklan tanpa suara, bahkan iklan yang hanya bermodal kata-kata yang ditayangkan berulang kali. Ada juga iklan mengharukan yang sering tayangnya jelang lebaran.

*yahhh..begitulah, para pembuat iklan terus berlomba menjual dagangannya, semenarik dan seunik mungkin. Namanya juga iklan..

Namun begitu, iklan yang mengandung unsur edukatif tetap ada kok ya, *secaraaa..zaman ini loh ya, yg semua dihitung untung rugi*. Yang paling banyak sih iklan edukatif itu ada di tipi 'negeri', pemersatu bangsa. Haha.

Tapi ada satu iklan, beberapa waktu lalu yang menarik. Karena ada adegan anak-anaknya kali ya, dan menjadi lucu saja. Pesan yang disampaikan pun baik. Bagaimana dengan hal kecil pun, kita bisa dapatkan kawan baru.
 *ini mungkin yang mulai langka hari-hari ini. Tak lagi ada rasa peduli. Jangankan menyapa orang baru, dengan orang yang sudah saling kenal pun, seperti ada tembok pembatas, tersibuk gadget yang ada di tangan.

Nah saya paling suka bagian ini:  
- Hi Man!  
- Cris.. --- can i tell u a story.. once upon a time.. there was a gold fish.. --- alone, the end!

*Hahaha, cerita macam apa itu... dahulu kala, ada seekor ikan emas, yang hidup sendiri, dan habis. :D 

ini dia linknya:

https://www.youtube.com/watch?v=sQS8SU98Pjg

So, "when did we forget how to connect with each other?"

Mungkin sejak kita terbiasa memandang curiga dan was-was tak jelas kepada setiap orang baru di sekitar. Melihat dengan sudut mata. Memasang tampang tidak peduli. Justru kemudian aneh, ketika ada orang-orang baru itu tersenyum, menyapa atau bahkan bertanya. Dan, tanggapan berikutnya adalah, kepo. Jadi serba salah kan?! 

"connecting with people is simple. With a little help."
Dalam iklan ini, begitu mudah untuk connecting dengan orang-orang baru. Realitanya, kita bahkan butuh waktu lebih lama dari sekedar menawarkan sesuatu. Orang-orang yang 'dingin tak jelas', merasa cool padahal cuek -bebek-, tidak pedulian, bahkan walau hanya dengan senyum pun, tak dipedulikan.

Untuk realita itu juga sudah ada videonya ternyataa.. hahaha. Parodi iklan m**tos. Begitulah kita. Keseharian kita. Mencoba terhubung dengan banyak orang, berkawan. Kawan lama, yang tergilas masa..tak lagi terjalin komunikasi dengan baik. Kehidupan dan kesibukan mempergulirkan orang-orang yang juga menjadi kawan.  Setiap hari akan bertemu orang baru, yang entah menjadi kawan, atau hanya figuran.

Belajar dulu sama anak-anak ini, how to connect with each other.. heheh.

31.10.16

Resep Kue Bolu Koja

Kali ini saya mau share resep Kue Bolu Koja khas Rang Agam, khususnya dari daerah Koto Gadang. Berhubung ini resep turun temurun, maka takaran dan langkah yang dilakukan juga se-adanya, tanpa saya modifikasi. *demi menjaga orisinalitas.. Hehehe.

Siapkan dulu bahan - bahannya, sbb:

Bahan-bahan
santan 4 gelas (ukuran standar)
1/2  kg gula
1/2 kg tepung terigu
2 butir telur
2 sdm margarin/ mentega, lelehkan
daun pandan
essen pandan
1 sdt garam

Cara :
1. Potong cincang dan blender daun pandan, tambah sedikit air. Ambil sarinya.
2. Campurkan sari pandan dengan santan, jadikan 4 gelas saja.
3. Kocok telur, -tanpa menggunakan mixer- diamkan
4. Siapkan di wadah lain, campuran gula, tepung (yang sudah diayak), dan garam
5. Sirami bahan tepung tadi dengan campuran santan+ pandan. (*bahan tepung yang disiramkan santan ya, bukan sebaliknya. Tujuannya agar tepung tidak menggumpal.) Aduk rata. Tambahkan essen (pewarna pandan, sedikit saja)
6. Tambahkan mentega yang sudah dilelehkan. Tambahkan telur. Aduk.
7. Pindahkan ke loyang yang sudah diolesi mentega. Panggang. 

Kue Bolu Koja Versi saya, tanpa kulit

* Jika mau buat lapisan kulit lebih tebal dan renyah, tambahkan sedikit tepung pada loyang
** Kalo saya, memanggangnya ga pakai oven. Yang praktis saja, pakai hakashima. Trus waktunya disesuaikan saja.. sampai lidi buat nge-cek kematangan udah ga basah, ya udah, matang berarti. hihi
Ini kue favorit saya. Dari dulu, taunya ini namanya Kue Bolu Koja, Khas dari Koto Gadang. Eh tapi kemudian malah jadi oleh-oleh dari kampung tetanggaa... kok bisa ya. Hehee.

4.10.16

Tips Tubing bagi Pemula

Petualangan menyusuri sungai, mengikuti alirannya dengan menggunakan ban karet, dikenal dengan river tubing. Ada banyak daerah di Indonesia yang sudah mengembangkan aktifitas ini sebagai bagian dari wisata daerahnya. Salah satunya, adalah Ombilin River Tubing yang ada di Ombilin, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 

Tubing santai [sumber foto: JR]
Dengan pilihan jalur santai dan level ektrim yang disediakan oleh operator wisata, Karambia Tours, pengunjung dapat menyesuaikan estimasi biaya dan waktunya. Untuk jarak mencapai 6 km, dibutuhkan waktu lebih dari dua jam. Tidak demikian dengan jalur santai. Tingkat tantangan yang diperoleh tentunya juga tidak sama.

Bagi Anda, yang baru pertama kali akan melakukan kegiatan ini, hendaknya memperhatikan beberapa tips berikut. 
  1. Pastikan Anda membawa kelengkapan peralatan dan kebutuhan pribadi.
  2. Terapkan dan gunakan sunblock sebelum memulai. Saat tubing, mengalir bersama aliran sungai, kita akan langsung diterpa sinar matahari. Jadi bila perlu, gunakanlah kacamata hitam (yang murah aja..biar kalo nanti hanyut terbawa arus, jatuh atau pecah, tak perlu bersedih. Haha) 
  3. Gunakan sandal yang nyaman, untuk kondisi air dan tak mudah lepas. Atau pakailah sepatu air, mungkin juga sepatu tua Anda, karena kita tak pernah tau seberapa ramah dasar sungai terhadap kaki kita.
  4. Pastikan Anda memilih pakaian yang tepat, nyaman dan menutup tubuh. (Bagi muslim/muslimah tau lah ya, batasannya.) Bagi yang khawatir warna kulit berubah lebih gelap *mungkin lebih eksotis*, tapi tidak merata, saya sarankan pakailah man(g)set atau baju lengan panjang. 
  5. Sebelum melakukan kegiatan, berdoa dulu tentunya. 
  6. Saat tubing, jangan menentang arus. Jika coba-coba menantang atau melawan arus, bersiap saja badan pegal nantinya. Ya, kira-kira pepatah 'biarkan seperti air mengalir' tepat sekali untuk kita bisa menikmati perjalanan. Biarkan, air yang mengantarkan, kita tinggal duduk nyaman di atas ban.
  7. Luruskan posisi tubuh tepat di atas ban saat berada di jeram. 

8. Dan, jika Anda tubing secara berkelompok, akan lebih seru untuk membentuk berbagai formasi menarik. Untuk bisa melakukannya, kekompakan adalah modal utama. 
9. Tubing secara berkoloni juga baik pada aliran arus deras, jika Anda khawatir akan meluncur sendiri, atau tertinggal sendirian.

Berkoloni lebih asik
  Itulah sembilan tips tubing bagi pemula yang saya dapatkan setelah tubing bareng Karambia Tours di Sungai Batang Ombilin beberapa waktu lalu. 
Jika merasa sudah mahir, dan bosan dengan medan yang itu-itu saja, silakan dicoba tubing berbagai cara dan gaya versi kamu yang lebih menantang. Selamat tubing!

18.9.16

Bunga

Dia yang Mekar di Saat Terik
Bulan di Atas Bunga Kala Senja
Menunduklah.

28.6.16

Kembali




Kembara ini kemudian berakhir

Engkau mungkin berpikir, air akan berhenti pada lubuk-lubuk sepanjang aliran sungai.
Burung akan membuat sarang, dan menetap di sana, menetaskan telurnya.
manusia, akan mengingat di bumi mana ia lahir
tapi, tidak untuk selamanya

air akan terus mencari tempat yang lebih rendah, hingga ke muara
menyatu tawar dan asinnya laut
burung-burung kecil akan ditinggalkan induknya, lalu memulai kembaranya
dan manusia, manusia akan mencari belahan lain bumi, selain tanah kelahirannya

ada yang tak berubah dari kembara itu
perjalanan yang mesti punya akhir
pergi yang harus ada pulang
seperti ingin, yang tak pernah puas memenuhi
garis-garis takdir yang kemudian bersua pangkal dengan ujung
berhenti.

kembara itu pun kembali,
kepada ibu yang terus menanti.









7.10.13

Tips Membimbing LKTI



Jika Anda seorang guru/pendidik, ada kalanya akan diberikan tugas pada bidang yang tidak menjadi tanggung jawab Anda. Seperti saya. (hallaah..curhat mode on). Jangan khawatir. Dan ini serius, sesuatu yang saya dapat hanya lewat pengalaman berharga. Barangkali jika bukan saya yang saat itu dipercaya membimbing dan mendampingi, tentu hal-hal yang akan saya bagi ini tak pernah ada. 
 
Saya bertugas di sekolah menengah, kejuruan dengan bidang keahlian Teknologi informasi. Jurusan yang ada di sekolah itu adalah yang berkaitan dengan software, hardware dan media-desain. Dengan hobi membaca dan menulis yang dimiliki, juga pengalaman aktif di lembaga pers mahasiswa, yang notabene berhubungan langsung dengan dunia tulis menulis, saya terpilih membimbing lomba yang masuk beberapa bulan lalu. 

Pertama kali, saat ada iven Pekan Konstitusi yang diselenggarakan Universitas Andalas, Padang. Sebelumnya, sekolah kami sempat menjuarai lomba cerdas cermas IV pilar berbangsa sampai ke semifinal di provinsi. Atas prestasi itu, -barangkali- sekolah kami kemudian diundang pada pekan konstitusi tersebut. Selain cerdas cermat tentang Hukum dan perundangan, ada satu lomba Karya Tulis Ilmiah. Itulah kali pertama saya belajar lebih fokus mengenal, dan membimbing KTI. Kali pertama ikut, dengan dua utusan peserta KTI, yang satu kita beroleh juara II (judulnya : Monopoli Hukum Sebagai Sarana Untuk Pembentukan Karakter Generasi Muda Indonesia), satunya lagi (Osis KVK), belum beruntung. hehehe. 



Setelah itu, setiap kali undangan lomba kepenulisan kreatif, populer dan KTI masuk, saya ambil peran untuk berbagi pengalaman-pengalaman dari kemenangan pertama kami. Jika menang, memanglah senang. Jika tak lolos, saya harus bersiap dengan tisu. 

Dari cerita saya barusan, apakah kita senasib? Kalau begitu,,saya akan bagi beberapa tips membimbing LKTI berikut:
  1. Perhatikan dan pahami aturan lomba. Setiap penyelenggara memiliki aturan main sendiri. Memahami term/tur kegiatan adalah penting. Sebagian panitia menyiapkan sampai detil penulisan, kita tinggal mengikuti versi yang ditentukan. Yang utama, adalah pertimbangkan tema
  2. Perhatikan deadline. Jika kita merasa mampu membimbing dengan tema yang telah ditentukan, bisa belajar dan ada gambaran ide, selanjutnya adalah... 
  3. Kumpulkan siswa. Saat mengumpulkan siswa, saya selalu awali dengan gambaran ide yang sudah saya stok sebelumnya. Lalu, memberi kesempatan mereka berpikir lebih kreatif, beri waktu satu atau dua hari, searching dan mempersiapkan ide mereka masing-masing.  
  4.  Setelah waktu yang dijanjikan, bahaslah tema pilihan mereka itu, diskusikan.
  5. Setelah tema oke, barulah kita masuk bagian kepenulisan. Berikan gambaran sebuah tulisan ilmiah, bagaimana membuat outline. Kenalkan dan ulang-ulang lagi soal EYD yang kadang dianggap sepele
  6. Menulis, beri deadline beberapa hari. (ini sih kondisional)
  7. Diskusikan dan perjelas kesalahan-kesalahan dalam menulis ilmiah. Ketepatan sasaran, perjelas tujuan dari tulisan. Edit terakhir. Lalu, mereka yang print, atau kirim softnya. Tetap dengan pantauan kita. 

Jika diminta melampirkan sejumlah data, seperti fotokopi kartu pelajar, fotokopi bukti transfer registrasi, fotokopi lain-lainnya, maka pastikan satu siswa yang menghandle urusan administrasi ini.

Jika masuk final, persiapkan presentasi. Langkahnya:
1.       Berikan gambaran beda presentasi dan tulisan, tujuan masing-masingnya
2.       Bagi kepada beberapa hal, pendahuluan berupa latar belakang,  isi gagasan, dan penutup
3.       Selipkan gambar/desain agar audiens lebih paham
4.       Presentasi bukan untuk memindahkan tulisan yang ada pada KTI, tapi membuatkan kerangka yang dijelaskan oleh presentator
5.       Jika slide sudah selesai, siswa diminta membuatkan apa yang akan disampaikannya
6.       Memperbaiki dan mengoreksi bahasa lisan
7.       Latihan mempresentasikan karya tulis ilmiah
8.       Hindari menggunakan kata mungkin, barangkali, dan ragu-ragu. Jangan pula terkesan sombong dan arogan. Kebenaran yang diteliti, boleh jadi milik kita. Tapi tidak tertutup kemungkinan orang lain menemukan kebenaran lainnya.
9.       Sebelum presentasi jangan lupa memperkenalkan diri
10.   Perhatikan pembagian waktu. Biasanya, waktu 15 menit. Atau, waktu yang ditentukan panitia, jangan terlalu kurang atau berlebih.
11.   Perhatikan bodylanguage saat presentasi, senyum dan sapaan kepada dewan juri dan hadirin.
12.   Perhatikan posisi berdiri, Jangan membelakangi audiens. 
13. Jika tim terdiri dari dua orang, tentukan peran masing-masingnya, sebagai presentator dan operator. Jika lebih, bagi tugas agar tidak didominasi satu orang saja.

Saat tanya jawab dengan juri:
Ada berbagai gaya juri dalam memberikan pertanyaan. Pahami maksud dan cari kata-kata inti dalam kalimat juri itu. Hindari menentang dan mendebat juri.Ketahui, apakah maksud pertanyaan juri adalah menguji -baik pengetahuan, daya pertahanan gagasan/ide, kestabilan- atau benar-benar butuh penjelasan lebih tentang gagasan yang dipaparkan.
Dan, tentu saja gunakan kata sapaan sebelum presentasi dan menjawab pertanyaan juri. Istilah Minangnya, mangecek ba ujuang ba pangka. Itu adalah tambahan yang memberi arti, santun. 

 Dan, saya mulai menyukai pekerjaan ini. Setelah beberapa prestasi, kita tertantang mencari lomba LKTI, dalam dan luar propinsi, lagi dan lagi. Hehehe. Semoga bermanfaat. :)

4.4.13

Tentang de Journal

Saia menambahkan kata de journal of Nimiasata pada bagian judul blog ini karena satu alasan.

Alasannya berkaitan dengan kondisi terkini di lingkungan tempat saia bekerja. Tampaknya, saia akan terbiasa dengan kata journal/jurnal ini. Catatan harian saja.  Ya, sekedar catatan kedatangan saya ke tempat bekerja. Lalu jam kepulangan. Boleh juga catatan pekerjaan yang dilakukan selama di tempat kerja.

Bagi saya, tuntutan akan 'jurnal' ini terlihat sedikit lucu. Harus mencatat detail waktu. Menuliskan berbagai hal, khususnya tentang pekerjaan. Saia agak menilai ini semua ribet.

Hm.. karena orang-orang besar rata-rata punya catatan harian, maka baiklah, saia akan biasakan menuliskan kegiatan harian itu dari sekarang. Catatan waktu-ke waktu, aktifitas ke aktifitas. Hahahaha. rempong ya.

Begitulah. Sistem yang mengikat kita berlaku demikian. Saya hanya ingin miliki bukti atas asumsi yang boleh jadi nanti sembarangan dilontarkan. Nah, kalau saya sudah punya jurnal sendiri, so what, apalagi masalahnya. Bukti tertulis akan lebih kuat dari pada lisan toh?

Yuuu..mariii membiasakan diri dengan de journal. :D 
Membuat laporan pribadi, yang bisa juga digunakan sebagai patokan untuk evaluasi diri.
Sama halnya, di laman ini akan ada tulisan de journal of nimiasata, sekarang dan seterusnya. 

Akhirnya, saia harus berterima kasih kepada "sistem" yang telah mewajibkan ini semua kepada saia. Saia akan lakukan sebisanya. Chayyooo..! ^__^

7.11.12

Mengeja Kata



Kalau kau sulit mengeja kata, belajarlah dulu mengenal huruf. Kenali detailnya. Perlahan, satu persatu, gabungkan huruf-huruf itu. Menjadi kata. Satu kata kau cerna. Kembali analisa, huruf-huruf yang ada di dalamnya. Kenali kata itu. Kau baca. Baca lagi. Baca lagi. Sampai kau menjadi sangat kenal. Bahkan lelah. Sudah, berhenti.
Lalu apa? 

Lalu, kau beranikan diri merangkai kata-kata itu menjadi sebuah idiom. Gabungkan saja. Apa artinya, bagaimana maksudnya. Pahami lagi. Terus pahami. Tidak mudah? Kau bisa.

Kemudian kau coba rangkaikan idiom dan kata-kata itu menjadi sebuah kalimat. Terus begitu. Rangkai terus. Jadilah ia kalimat. Apa susahnya?

Jika kau telah membaca kalimatmu sendiri, sadarilah bahwa kalimat itu adalah susunan huruf dan gabungan kata-kata yang sejak awal telah kau kenali. 

Dengan mengenal sesuatu yang dari dasar membuat kau benar paham hal-hal kecil sebelum menjadikannya sesuatu yang besar. 

Singkatnya, ide besar adalah rangkaian proses dari ide-ide kecil dan sederhana yang biasa kau ciptakan, gabungkan dan rangkaikan. 

Lalu, apa kau masih kesulitan mengeja kata? :)
 

2.5.12

Buhua Sentak Atau Mati?



Suatu malam, saya ditanya seseorang. “Buhua Sentak atau Mati?” 

“Kalau buhua sentak masih bisa gantiang kan, “ lanjutnya. 

Hahaha. Kemudian barulah saya mengerti maksud ajakannya. Sebelumnya ia mengajak saya berdebat, diskusi.

“Ada acara apa, debat tentang apa, dan dimana?” saya ingin tahu.

Personal, katanya. Wah, diskusi apa tuh, yang cuma berdua?  Jalan pula?!  Pikir saya.
Dia memang tak salah, ya, diskusi berdua yang ia maksud itu rupanya diskusi “masa depan”. 

“wah, kalau baduo, ndak dapek ijin dari Uda wak do kawan. Sadang lai rami-rami di organisasi se lai diliek-liek juo dulu.” Saya jawab santai. 

“yolah, wak mangarati..bla.bla.bla.” lanjutnya.

**
Jeng.jengg……
Apa pentingnya saya tulis ini??

Penting dong! Ini pelajaran! :D
Banyak diantara kita yang kadang tidak menyadari tentang ‘pembatasan’. Kita perlu membatasi jika ingin tetap ada sekat. Dan, saya kira selagi belum ada yang menghalalkan atau langkah pasti menuju ke sana, tetap perlu ada sekat. 

Kita bukan tak baik. Toh kita menghagai mereka sebagai kawan, sahabat, saudara. Semua tetap dijaga silaturahimnya. Tapi, jika yakin tak akan menempuh jalan itu, jangan coba dekati dan coba main-main. Kita atau orang lain akan tersasar dibuatnya. Nah, siapa yang akan berbalik dan tahu jalan keluarnya?
Atau, jika belum waktunya bersimpang, kenapa harus berbelok? Jalan lurus saja terus, kalau dirasa sudah harus berkelok, pilihlah simpang untuk berkelok. Dan pilihan itu hanyalah soal waktu.  

Masalahnya, saya dapati seorang teman yang terkesan dengan mudah memberi harap. Tak tegas dalam bersikap. Ia runtuhkan citra positifnya sendiri. Itu dulu, dan saya tak tahu bagaimana dengan hari ini. Saya sempat jelaskan, dengan bersikap begitu ia malah akan kehilangan semua sahabatnya. Jadi lebih baik memilih sahabat-sahabat yang banyak secara ‘profesional’ dari pada mem’personal’kan sahabat-sahabat yang telah lama dibina.

Maka, malam itu, saya jawab mantap. “Buhua mati, ndak buhua sentak lai do.”

***

Dan, sedikit dalih (bukan dalil) malam itu, saya bermohon ampun kepada Tuhan. Bukan maksud menyakiti, tapi ya begitulah, karena hati saya tak memilih Anda.  Itu saja, sederhana bukan?! Buhua mati bukan buhua sentak!  :)

6.4.12

My luvly books!


---> ini bagian koleksi buku di perpus kecil aku..yaaa, yang lagi -in gitu deh.. hehehe

#sekali2 narsis boleh dunk... :D

4.4.12

Kodrat Air


Ini tulisan bukanlah syair/ Hanya coretan malam yang menanti sepi/ Menunggu senyap merubah mimpi. 

Bukan legenda hanya sisa air rasa/ pada sesiapa akan tertumpah/ hendak hati diri tersalah

Berbilang cerita senja/Bertahun kisah purnama/kita masih duduk di hamparan/

Kapan beranjak tinggal meninggal/Gelayut sudah di pangkalnya/ hati enggan tangan kuasa  

Penat sudah/perih pun pernah/ manis jua yang menyisa

Ini satu titik/ Yang telah aku tekan dalam kalam/ 

tak hendak gerak, maju apalah lagi mundur/Biar Dia yang menggubahnya/

Mempertemukan titik ke garis-garis/Lukisan berbau takdir.

Bisa saja diputarnya masa/Berbalik kita sekelana/Menyabik roman biar tak kejam/

Sungguh heran/Tak penatkah ia terjaga/Meyakini lalu berjaga/

Dan aku/ sungguh telah kuhitung sekian purnama/ tak usak, purnama tak menghisapnya. 

Hanyalah kodrat air/ seperti pasang yang sekali naik/sekian kali surut

Jika kelak telah mampu menerimanya/yakinkan aku/ kau akan memberi pula/ Entah pada sesiapa.


Nimiasata, 2012

13.3.12

Antara #Kau dan #Aku




#Kau : Sudah kau semai serbuk itu? 

#Aku : Ya.

#Kau : Dan bunga tak kan tumbuh dalam sehari, Kawan. Bersabarlah. Penantian dan proses yang mesti kau lalui itu akan indah pada akhirnya. Percayalah

#Aku : Angin telah mengusiknya. Menerbangkan  serbuk lemah itu, berhamburan. Entah, masih tersisa.

#Kau : Lahanmu tanah hitam kesabaran. Padanya terkandung cinta yang menyuburkan. Di sisinya mengalir air dari telaga ketulusan. Hingga suatu masa, kau akan terkejut dengan segala yang tak pernah kau sangka. Ikhlaslah.

#Aku : Bagaimanalah aku percaya kata-katamu.

#Kau : Aku hanya ingin menjadikan segalanya baik. Jika kau sudah tak menginginkan bunga itu nanti, biarkan saja ia tumbuh. Biarkan mekar. Lalu tinggalkan. Ia akan hidup di tempatnya, bukan di kehidupanmu. Mudah bukan? 

#Aku : Biarkan ia mati.

#Kau : Sekali jangan kau sengajakan ia mati. Karena suatu ketika, kau akan bahagia memandangi bunga itu mekar, mesti kau tak sempat memetiknya. Itulah kebahagiaan. 

#Aku : Jenis apa hatimu terbuat, Puan?

#Kau : Bukan jenis hati kita yang berbeda. Kebijakan itu buah kehidupan, yang masing-masing kita berbeda menikamati dan memaknainya. 


30.12.11

My Word



...ada banyak pertanyaan, banyak hal, banyak masalah yang hanya bisa di'selesaikan' oleh waktu...





...tidak semua hal bisa kita cari, ada yang mesti diciptakan sendiri, salah satunya: Kesetiaan... :)

...hanya agar kita mengerti satu masalah dari sudut pandang berbeda... :)



2011
nimiasata.blogspot.com
^_^

BULAN AYAH


Bagi saya, Desember itu adalah bulan Ayah. Meskipun hari Ibu diperingati kebanyakan orang juga di bulan Desember. Di pikiran saya dan mungkin keluarga (uni dan adik saya) sudah tertanam “hari besar” untuk Ibu adalah di bulan Juli. Jadi, Desember tetaplah bulan Ayah. 

Baiklah, mumpung masih berada di Bulan Ayah, kita sedikit bercerita tentang Ayah. 

Sore itu, sudah saatnya pulang. Seusai melaksanakan shalat ashar, saya berkemas meninggalkan sekolah. Ah, hujan turun pula. Deras. Saya menuliskan ini.


***
Hari sudah pukul 16.32. Hujan deras. Langit kelam. Saya masih di sekolah. 

Ya, saya sedang merindukan Ayah. Walaupun tadi pagi, saya masih mencium punggung tangannya yang ya, sedikit kasar, namun terlalu lembut untuk saya bertutur apalagi berlaku kasar padanya.  Hari ini Ayah ulang tahun. Tepatnya 12 desember 1955 beliau lahir. Di Lasi, Ampek Angkek, sebuah desa kecil di perut Gunung Merapi.  

Saya teringat waktu mengaji di TPA dulu. Jika hujan deras, Ayah akan menjemput kami ke mesjid. Menjemput saya dan Uni. Selain payung, tak lupa Ayah juga membawa perlengkapan keamanan lainnya, seperti jaket dan kantong plastik. Kantong plastik digunakan untuk menggabungkan tas plastik saya dan tas uni yang berisi Al quran. Dulu, kami belum memakai tas (sandang) pergi mengaji. Baru uni yang punya tas agak bagus. Tas kertas bergambar kartun. Sedang saya, memakai plastik kantong toko. Sisa beli sepatu, baju atau yang lainnya. Bukan masalah.

Mesjid dan rumah kami dibatasi oleh banda (parit) besar. Jika hujan deras, air banda akan tinggi. Bahkan tak jarang meluap. Karena banda dekat rumah kami itu, adalah aliran air dari Rumah Potong Hewan. Padahal di rumah potong itu juga telah dibagi alirannya, ke daerah Jangkak dan ke Pasa Jawi/Tembok. Jika hujan deras, saya melihat bendungan yang ada di Rumah Potong itu, seperti air terjun Niagara. Teringat pelajaran IPS kelas empat SD. 

Kami tak akan melewati banda. Tapi, memutar ke jalan gadang. Berjalan di trotoar lebih aman. Ayah akan berpayung sendiri. Payung bermerk Teh Bendera. Ayah juga yang membawakan tas gadang, gabungan tas Al quran saya dan punya Uni. Kadang-kadang, ada kawan dekat rumah yang menumpang berpayung. Saya dan uni yang semula berdua, akan berdesakan sepayung bertiga. Tak masalah. Payung kami, payung Antan. Payung hitam datuk-datuk itu.Cukup untuk bertiga.

***

Kami terbiasa makan malam (selepas magrib) bersama. Sambil makan biasanya Ayah akan memberikan nasehat-nasehat ringan. Tata krama. Sopan santun. Cara bertutur dan sebagainya. Atau Ayah akan mengeluarkan pepatah atau pantunnya terkait tema yang disinggung. 

Kudo palajang bukik agar kami mendengarkan dulu orang lain bicara, baru ditanggapi, bukan memotong pembicaraan, misalnya.

Sewaktu SD, Ayah akan menemani saya dan uni belajar malam hari. Sambil membaca koran yang tidak tuntas mungkin dibaca Ayah di kedai. Jika mau ujian, ayah akan merautkan pencil kami. Kami tidak menggunakan peruncing. "kalian tak pandai memakai peruncing, patah-patah jadinya," kata Ayah.

Ayah sedikit nyinyir untuk urusan pe-er, tugas, ma-apa (menghafal) dan urusan sekolah lainnya. Barangkali, karena cita-cita Ayah yang tak sampai, ia begitu ingin anak-anaknya sukses. Tidak main-main dalam urusan sekolah. Maka, selepas magrib, kami terbiasa ma-macik (memegang) buku. Tentunya tidak hanya dipegang, tapi juga dibaca. 

Ketika kecil dulu, Ayah akan berdendang jika saya merengek ingin tidur di dekat Ayah. Itulah kenapa, setiap kali mendengar lagu Usah Diratoki - Tiar Ramon ini, hati saya selalu lintuah. Bagi saya ini lagu Ayah. :)

Anak urang si Kubang Putiah
Pai ka balai, hari sanjo
Mamakai baju guntiang cino, guntiang cino
Ulah rayu si daun siriah
Bacarai pinang jo tampuaknyo
Apo katenggang si carano, si carano

Reff:
Urang Kapau pai ka ladang
Sarupo kodek jo bajunyo
Iyo buruak lakunyo alang
Ayam tapauik disembanyo

Urang Sariak babaju ganiah
Pai manggaleh ka Padang Lua
Iyo sarik ba ayam putiah
Kok indak sikok alang manyemba

Jikok mandi denai di hulu
Aia nan usah adiak sauak,
Disauak usah dikaruahi, dikaruahi

Jikok mati denai dahulu
Mati nan usah adiak janguak,
Dijanguak usah diratoki, diratoki
***

Begitulah Ayah saya. Ayah kami. Sebuah cerita singkat menutup Bulan Ayah tahun ini. ^_^

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...