Showing posts with label asik. Show all posts
Showing posts with label asik. Show all posts

9.4.13

Hati-hati dengan (peng)-Ghibah

Saia kutip tulisan ini... tentang ghibah/gosssiip.. yang katanya makin digosok, makin siip. 

Hmm. Mari menjaga diri.. dari sikap ini, dari orang-orang yang terbiasa dengan hal ini, dan dari tema-tema yang memungkinkan terjadinya ghibah. :D

***

 
Jujur saja, orang umumnya senang bergosip. Tempat kerja pun tak lepas menjadi sarang penggosip. Ada saja yang digosipkan, mulai dari masalah rumah tangga rekan kerja sampai kelakukan si bos yang doyan marah-marah.

Sebenarnya tak heran juga. Jika Anda menghabiskan lebih dari delapan jam sehari dengan orang-orang yang sama, tentu banyak hal yang bisa diceritakan. Sebagian dari percakapan berlangsung sehat, tapi sisanya bisa jadi berupa gosip yang berdampak negatif bagi lingkungan kerja.

Jika dipilah-pilah, ada beberapa tipe penggosip. Kenali tipe penggosip apa saja yang ada di kantor Anda, dan pelajari cara terbaik untuk menghadapinya:

Tape recorder
Suatu hari, Anda mencurahkan keprihatinan tentang atasan yang kurang fokus pada pekerjaan selama beberapa minggu terakhir. Keesokan harinya, Anda mendengarkan versi cerita Anda dari rekan kerja lain yang tidak berada di sana ketika percakapan terjadi.

Jika berhadapan dengan orang seperti ini, jaga percakapan agar tetap fokus pada proyek bisnis dan pekerjaan. Hindari membicarakan persoalan pribadi atau hal-hal sensitif lain, jika tidak ingin perkataan Anda diputar ulang olehnya ke semua orang.

Agen ganda
Inidividu seperti ini senang mengadu domba. Dia bergosip tentang atasan di depan Anda, lalu berbalik dan menggosipkan Anda di depan atasan. Hal serupa juga dilakukannya terhadap rekan-rekan kerja lain.

Jika menemui orang seperti ini, simpan saja semua perasaan negatif soal individu lain di perusahaan untuk diri sendiri. Jangan mencurahkan pendapat atau perasaan Anda padanya. Sebab, semua itu berisiko diputarbalikkan olehnya. Jika menjadi korbannya, konfrontasikan saja langsung tindakan tercelanya itu. Dia mungkin tidak akan berubah, tapi setidaknya tahu Anda bukan target yang mudah ditundukkan.

Si pengeluh
Jenis orang satu ini hobi mengeluh tentang apa saja. Rasanya, tiap hari ada saja yang dikeluhkannya, mulai dari atasan yang memberikan terlalu banyak pekerjaan, sampai anak baru yang tidak becus bekerja. Wajar memang seseorang mengeluh jika merasa frustrasi. Tapi, jika dilakukan setiap waktu kelewatan namanya.

Si pengeluh umumnya suka bergosip dengan sesama pengeluh pula. Oleh karena itu, taktik terbaik adalah menolak terlibat dalam percakapan ketika dia mulai bergosip tentang korban terbarunya. Anda hanya akan menyiramkan bensin ke atas api jika ikut-ikutan menjelek-jelekkan orang yang digosipkannya. Sebaliknya, sebutkan hal-hal positif tentang orang itu untuk menutup mulutnya. (LI/OL-06/mediaindonesia.com)

4.4.13

Tentang de Journal

Saia menambahkan kata de journal of Nimiasata pada bagian judul blog ini karena satu alasan.

Alasannya berkaitan dengan kondisi terkini di lingkungan tempat saia bekerja. Tampaknya, saia akan terbiasa dengan kata journal/jurnal ini. Catatan harian saja.  Ya, sekedar catatan kedatangan saya ke tempat bekerja. Lalu jam kepulangan. Boleh juga catatan pekerjaan yang dilakukan selama di tempat kerja.

Bagi saya, tuntutan akan 'jurnal' ini terlihat sedikit lucu. Harus mencatat detail waktu. Menuliskan berbagai hal, khususnya tentang pekerjaan. Saia agak menilai ini semua ribet.

Hm.. karena orang-orang besar rata-rata punya catatan harian, maka baiklah, saia akan biasakan menuliskan kegiatan harian itu dari sekarang. Catatan waktu-ke waktu, aktifitas ke aktifitas. Hahahaha. rempong ya.

Begitulah. Sistem yang mengikat kita berlaku demikian. Saya hanya ingin miliki bukti atas asumsi yang boleh jadi nanti sembarangan dilontarkan. Nah, kalau saya sudah punya jurnal sendiri, so what, apalagi masalahnya. Bukti tertulis akan lebih kuat dari pada lisan toh?

Yuuu..mariii membiasakan diri dengan de journal. :D 
Membuat laporan pribadi, yang bisa juga digunakan sebagai patokan untuk evaluasi diri.
Sama halnya, di laman ini akan ada tulisan de journal of nimiasata, sekarang dan seterusnya. 

Akhirnya, saia harus berterima kasih kepada "sistem" yang telah mewajibkan ini semua kepada saia. Saia akan lakukan sebisanya. Chayyooo..! ^__^

7.11.12

Ringtone Aneh Untuk Orang Aneh


 

Siang itu, perjalanan kota kuliah pulang ke rumah, saya mendengar tangis perempuan di bus yang saya tumpangi. 

“Hiks.hiks.“
“Huhuu.. huhuu..” Terdengar suara sedu sedan, tangis 

Aduh, saya kaget alang kepalang. Tangis perempuan dari manalah sumbernya ini.
Berhenti sejenak, lalu menangis lagi. Saya mulai berpikir, apakah ada yang menghuni bus ini? Atau, si sopir berani-beraninya menyimpan perempuan yang diikat, dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan di bagasi belakang? 

Atau kalau bukan begitu, lalu darimana sumber suara ini? 

‘Perempuan’ itu menangis lagi. Makin lama semakin keras, jelas terdengar sedu sedannya. Lalu berhenti. 

Alamak. Apa-apaan ini. Saya saling lihat dengan mahasiswa yang duduk di samping kiri. Lalu bertanya,
“Ringtone hape?”

Si Mahasiswa tersenyum dan mengangguk.

Sumpah, heran deh! Masa sih orang se-macho  itu ringtone hapenya suara tangis perempuan?
Tangisan itu masih berbunyi lebih dari tujuha kali berikutnya. Lalu si  ‘macho’ itu mengangkat hapenya, 

“Halo?!”  Suara berat, khas lelaki perokok berat.
Arrghhh….Plis deh! Saya minta ampun, dunia ini emang aneh. Jangan sekali-kali menebak hal-hal ‘aneh’ jika tak mempunyai kemampuan membaca pikiran. Hahaha. 

Heran ya, lelaki dewasa bisa saja iseng menjadikan tangis perempuan dengan suasana horror dan mencekam itu menjadi ringtone hapenya. 

Atau jangan-jangan, ada pula perempuan manis, kemayu, anggun dan bitipul-lah, yang mau-maunya menjadikan suara tawa raksasa jadi ringtone hapenya? Atau, salakan anjing galak, atau, klakson mobil suasana macet, atau, lolongan serigala malam yang mencekam?

Hahaha. Ada-ada saja, memang di dunia ini selalu saja yang masuk kategori minal gharaaibil makhluqaat ( di antara makhluk aneh) wa ‘ajaaibil maujudaat (hal/sesuatu yang ajaib). 

Ringtone aneh hanya untuk mereka yang mau tampil aneh. :D 

*sensasidoank*

13.8.12

Kerja.Kerja.Kerja



Banyak orang sepakat dengan slogan yang dipopulerkan Dahlan Iskan ini. Termasuk saya. Saya suka kata-kata itu. Mungkin hanya orang-orang yang tidak ingin sukses saja yang tak menyukainya. Atau, mereka yang tak mau bekerja keras,tak ingin berusaha maksimal saja yang tak inginkan kata-kata ajaib itu menjadi motto. 

Hari ini, hari terakhir pesantren ramadhan dilaksanakan. Saya kemudian memahami kenapa orang-orang memilih suka dan sebagiannya tidak suka dengan motto ‘kerja.kerja.kerja” tersebut.
Kebetulan, Ramadhan kali ini saya termasuk yang di-SK kan walikota menjadi koordinator pelaksanaan Pesantren Ramadhan. Sesuai instransi, saya mengkoordinir satu mesjid dengan peserta yang terdiri dari 285 orang siswa kelas X sekolah saya. Plus, bekerja sama dengan tujuh orang panitia dari pengurus mesjid dan empat belas guru pembimbing lainnya. 

Meski sudah bertekad kuat dan memasang motto “kerja.kerja.kerja” itu, tetap tidak mudah rupanya melaksanakan tugas secara maksimal. 

Saat rapat koordinasi dengan panitia pada hari pertama dilaksanakan, saya menyambut baik beberapa hal –berupa kemudahan/bantuan- yang ditawarkan oleh pihak panitia. Tentu saja yang lebih disenangkan dengan tawaran tersebut adalah guru pembimbing. Apalagi saya. Saya yang membutuhkan waktu pulang 3 sampai 4 kali lipat teman-teman lain. Wah, beruntungnya kami bisa bekerja sama dengan panitia di sini. Begitu kesimpulan awal. :D

Hari pertama dilewati sudah. Semua persiapan administrasi dilakukan dengan baik. Terkait hal ini, ada sedikit kesalahan saya selaku koordinator yang disebut-sebut panitia. “Kenapa tidak ada koordinasi sejak sehari sebelum pelaksanaan kegiatan.” Mestinya bisa lebih lancar, jika semua data sudah diinput sehari sebelum pelaksanaan. Saya menjelaskan alasan, dan meminta maaf atas hal itu.
Maka tak heran jika pada hari kedua, saya kecewa berat –isitilah orang sekarang-. 

Benarlah, ketika berharap pada hamba, bersiaplah akan dikecewakan. Berapapun kita percaya pada orang itu. Hari itu, saya pegang kata-kata panitia. Saya sedikit terlambat datang pada hari tersebut, kira-kira 20 menit. Dalam pikiran saya, saat itu, sesuai pembahasan dalam rapat koordinasi, akan dihandel oleh panitia. Rupanya tidak. Nihil! Untung saja, saya sudah sampaikan keterlambatan tersebut pada dua orang teman, dan meminta mereka datang lebih awal. 

Okelah, sudah berlalu, pikir saya. Tapi, saya justru ingin membuktikan kata-kata panitia itu untuk siang harinya. Menurut mereka dalam rapat koordinasi, siang, seusai tahfiz, akan dihandel pula oleh mereka. Dan, apa yang terjadi? Alhamdulillah mereka menepati kata-katanya. Panitia yang menghandel. 

Setiap hari laporan diberikan kepada tim monitoring kota yang orangnya selalu berganti. Saya dan teman-teman lain, selalu berusaha memperbaiki kegiatan agar lancar dan berjalan efektif full manfaat setiap harinya. Bagaimana tidak full, pekerjaan menjadi wali kelas itu tidak mudah. 

Menjadi wali kelas untuk 15 sampai dengan 20 orang anak, setiap hari jelas tidak mudah. Mendampingi. Jika tidak ikhlas melakukannya, merugilah dengan semua kepenatan yang didapat. Untuk pembimbing  saya kira ada sekitar 85 % menggunakan motto “kerja.kerja.kerja” itu untuk kegiatan ini. 

Pertama, mereka harus mendata kehadiran siswa. Mendata kemampuan bacaan al quran siswa. Lalu, merekap praktek ibadahnya. Saat materi berlangsung, guru pendamping juga mengikuti perkembangan keaktifan dna partisipasi siswa. Bagaimana akhlak keseharian siswa. Mencek evaluasi materi siswa. Menilai. Tasmi’ atau mendengarkan bacaan al quran siswa satu per satu. Menuliskan jumlahnya. Merekap jumlah setoran hafalannya. Terakhir, mengatur pelaksanaan shalat zuhur. Usai zuhur itulah saat yang diantikan, acara dihandel oleh panitia, -keputusan dalam rapat koordinasi memang bagitu-, tapi.. tak bisa disebut 80 % semua terlaksana sesuai perkataan. 

Bekerja menjadi pembimbing tahun ini, jelas saja berbeda dengan tahun-tahun sebelum ini. Begitu concern-nya pemko dengan kegiatan ini. Saya sangat bangga dan apresiasi dengan langkah dan kebijakan ini. Tapi, memang, tak ada gading yang tak retak. Bagaimanapun maksimal persiapan dan perencanaan, tidak begitu juga dalam pelaksanaannya. Sayang, tak semua berpartisipasi penuh untuk kegiatan ini. Masih saja ada yang culas, curang, kurang bertanggung jawab pada amanah yang diberikan, atau menyepelekan aturan dan kebaikan yang disampaikan. Ah, manusia memang berbeda. J

Kerj.kerja. kerja, itu belum menjiwa bagi sebagian kita. Masih saja ada yang berpikir bagaimana agar ‘ringkas’ –tapi tak tuntas-, atau ‘cepat’ -tapi tak tepat-, atau komen dan protes –asalan- tapi tak paham, atau juga, suka sekali menyebut kekurangan dan menyudutkan orang lain. Ah, manusia memang berbeda. Dari segi motto saja sudahlah berbeda, tak semua inginkan kerja dan hasil yang maksimal. Ada saja, yang inginnya santai, walau hasilnya tak memuaskan, yang penting sudah dilakukan. Begitulah.

Hari berlalu, ini hari terakhir pelaksanaan kegiatan. Evaluasi sudah dilakuakan setiap harinya. Evaluasi terakhir sudah dilaksanakan dengan guru pembimbing. Siswa terbaik, terbanyak hafalan al qurannya, terbaik akhlak dan besar partisipasi dan keaktifannya pun sudah diperoleh datanya. Hadiah pun sudah disiapkan panitia. Reward dari kepala sekolah dan guru-guru pembimbing sudah dikumpulka. Tinggal membagikan saja. 

Lalu saya, konfirmasi ke posko, terkait dengan acara penutupan gabungan yang disebutkan di awal kegiatan. Siswa terbaik masing-masing tempat akan menerima penghargaan dan hadiah dari kota. Begitu serius dan perhatiannya kota saya ini terhadap kegiatan ini. Hal ini sungguh membanggakan dan patut dicontoh oleh kota/ kabupaten lain. (recomended!) 

Hanya, catatan saya ini menyoal tentang motto kerja.kerja.kerja-nya Pak Mentri, tidak semua menyukainya. Menurut saya, keinginan menghandel acara usai zuhur itu, adalah bagian dari bantuan yang ditawarkan. Memudahkan sesama. Tapi lain halnya dengan ketidak optimalan pelaksanaan dengan kata-kata, hanya akan menyisakan ketidakpercayaan. Atau, mengubah jadwal secara sepihak, setelah beberapa jam sebelumnya semua masih seperti yang dibicarakan, dan disepakati. Yang saya dan mereka sepakati. Tau-tau, secara sepihak semua berganti. Dan yang lucunya, ketika saya konfirmasi, pihak tersebut menjawab singkat, “oh ya, lupa mengabari Ibu guru.” Wah..wah.. sayang sekali, begitukah akhir kegiatan yang dipersiapkan tingkat kota ini diperlakukan oleh ‘pihak’ ini?! Pikir saya. 

Saya konfirmasi lagi soal muhasbah, acara terakhir yang juga akan dihandel oleh panitia. Jika tidak ada kegiatan tersebut, dan jika disepakati, kegiatan penutup adalah materi tambahan –yang penetapan adanya materi ini dalam rapat koordinasi juga secara sepihak-, adalah penutup kegiatan, bagi saya, sih oke saja. Tidak masalah. Tapi, pihak tersebut malah menekankan, agar menunggunya kembali ke TKP, ybs akan menghandel langsung muhasabah. Bahkan, berpesan, jika pembimbing tidak bisa hadir, boleh saja, silakan meninggalkan TKP. 

Saya pribadi dan teman-teman, tidak bermaksud curang, tak ada yang ingin meninggalkan TKP. Saya lagi-lagi ingin buktikan kebenaran kata-kata itu dengan kerjanya. Siang itu, usai shalat zuhur, saya langsung konfirmasi pada panitia. Bagaimana dengan acara muhasabah. Masya Allah, jawabannya bertolak belakang lagi dengan kata-katanya beberapa jam yang lalu. Muhasabah di-cancel!
Saya bukannya tak ingin cepat menutup acara, tapi sungguh mengherankan. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba di-cancel, dibatalkan. Dijawab dengan alasan singkat tak memuaskan, dari hasil acara penutupan gabungan yang diikuti barusan di mesjid lain di kota. 

Telusur punya telusur (istilah baru, :D), rupanya ‘pihak’ saya tak senang dengan keputusan dan hasil akhir penetapan yang terbaik. Aih... rupanya tak hanya saya yang kecewa dengan ‘pihak’ itu, ‘pihak’ saya itu rupanya juga memperoleh kekecewaan dari kerja.kerja.kerja  yang sudah beberapa waktu ini disiapkan. Terbaik belum jatuh ke tangan. Bagi saya sih tak masalah, toh siswa dan kegiatan sudah saya dan teman-teman lakukan secara maksimal sejak awal, tanpa embel-embel harap apalah.
Maka jadilah, acara tersebut ditutup dengan wajah lesu sebelah pihak, dan wajah semangat dan seperti biasanya dari pihak saya, guru pembimbing dan siswa.  :D

Kerja.kerja.kerja itu disukai juga oleh sebagian kita, dengan kesalahan sedikit, yaitu terlalu berharap pada ‘sesuatu’ yang bukan Tuhan. Pada nama yang tertulis dan disebut, pada selembar penghargaan, pada jumlah nominal lembaran uang kertas, dan pada apa saja, yang menghapus keikhlasan dari Kerja.Kerja.Kerja yang dilakukannya. 

Saya bangga dengan 85% guru pembimbing saya yang mengikuti perkenalan, acara penutupan dengan slide foto, dan film singkat, yang dibuat mendadak oleh seorang guru. Saya bangga dengan siswa yang menyampaikan target hafalannya setiap hari walau belum sempurna. Saya bangga dengan siswa yang saya dan guru lain hukum, karena kesalahan mereka. 

Saya yakin, siswa-siswa saya itu juga bangga dengan guru pembimbingnya yang 85% -yang bekerja maksimal itu-. Mereka juga bangga dengan diri mereka sendiri. Sudah susah payah seminggu ini, disuruh hafal ini itu, diajari terus-terusan baca al quran, ditanyai ini itu, disuguhi materi ini itu, yang pasti saja melawan kantuk dan rasa bosan. Suatu saat, mereka akan bangga pada diri mereka sendiri. Ketika tersadar, apapun dapat dilakukan, dapat dicapai, jika kesungguhan, pengorbanan, kerja keras menjadi satu sikap dasar diri mereka. Menjadikan Kerja.Kerja.Kerja motto hari-hari belajar dan bekerja mereka. 

Maka, Kerja.Kerja.Kerja itu akan berbuah manis bagi siapa saja yang tulus dan ikhlas melakukannya. Bagi yang menginginkan hasil maksimal, terbaik, itu saja. Tanpa berharap nama dan predikat dan  sebagainya. Itulah yang akan merasakan nikmatnya motto Kerja.Kerja.Kerja tersebut, kesimpulan saya.

Faidza faraghta fanshab, wa ilaa rabbika farghab!
(Al Quran Surat Asy Syarh : ayat 7-8)
“maka jika kamu telah selesai  (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap”

7.8.12

Lelaki Kertas



Pernah kau tanyakan padaku tentang lelaki kertas. Aku menjawab, ia hanya akan memenangkan perempuan batu. Kertas dan batu, menanglah kertas. Kertas menggulung batu.

Tak ingat aku, sejak tahun ke berapa di hidupku aku begitu membenci jenis makhluk ini. Yang pasti tak lebih dari usia sepuluh tahun. Saat itu aku duduk di kelas empat sekolah dasar. 

Masa-masa itu adalah bagian sulit di hidupku. Eh, memang bukan yang tersulit. Karena sampai saat ini aku masih merasakan kesulitan-kesulitan pada banyak hal di kehidupanku. 
Bapak. Ia termasuk lelaki kertas. Betapapun seorang anak menyayangi ayah dan ibunya, seringkali ia merasa lebih sayang pada ibu. Begitu pun aku. Aku sangat sayang pada ibuku, dengan kadar yang jauh, jauh lebih banyak, lebih besar daripada bapak. Lebih-lebih lagi, kemudian ada kejadian yang membuat simpati dan sayangku ke Bapak makin berkurang. Memudar. 
Saat kecil dulu, kami hidup bahagia. Seperti yang orang-orang pahami tentang kebahagiaan. Kami dilingkup kemewahan. Bapak yang sifatnya royal, memanjakan kami. Aku dan kedua adikku selalu mendapatkan yang kami inginkan. Tinggal meminta, tanpa harus menangis. Jangankan menangis, merengek saja sudah hal langka. 
Mungkin dengan begitu, kami terbiasa keras. Memaksa. Pasti dapat. Maka, ketika kemudian Ibuk mulai menjaga kami dari foya-foya, kami berontak. Menganggap orang tua sudah tidak sayang lagilah. Kami memaksakan semua keinginan. Uang belum terlalu menjadi masalah ketika itu. 
Masalah saat itu yang kulihat adalah Bapak. Bapakku jauh dari agama. Hidupnya dunia saja. Walaupun ibuk sudah seringkali coba ajak, tetap tak ia hiraukan. Kadang Bapak menjawab keras. Tak jarang pula menghardik, kasar ke Ibuk. Aku masih siswa SD saat itu. Hanya geram dan tak melawan atau berontak. 
Kami hidup di kampung. Masyarakat kampung ini pun mengajarkan foya-foya dan orientasi gaya. Sangat mementingkan strata sosial. Buruk. 
Bagi mereka, sekolah agama hanya jadi olok-olok saat itu. “kenapa masuk sekolah agama?? “ pasti akan ditanya dengan pertanyaan yang tak perlu dijawab itu. Tapi Ibuk memasukkan aku ke sekolah agama,  berharap kehidupanku kelak dapat lebih baik dengan dasar agama yang “setidaknya” dibekalkan sekolah itu. Dua adikku tak mengikuti. Ia memilih sekolah umum unggulan kampung kami. Dan, tentu saja, juga terpengaruh gaya hidup mereka. 
Sementara, saat itu kondisi ekonomi keluarga mulai memburuk. Perusahaan Bapak tutup. CV mati. Anak buah pergi. Mereka meninggalkan Bapak, dan hanya beberapa orang yang setia saja yang tetap bertahan. Walau begitu, Bapak terus bekerja tanpa perusahaan sendiri. Artinya, Bapak tidak mungkin mendapatkan tender besar. Palingan hanya bangun rumah orang komplek dekat kami. Itu saja. 
Tidak ada lagi foya-foya. Hidup susah. Anak buah balik minta gaji. Berhutang sana sini. Ibuk mulai berdagang di pasar kampung kami untuk menyiasati hidup. Semua sulit.
Saking sulitnya kehidupan kami, aku dikirim ke kota lain, tempat bibi. Aku hidup bersama mereka, melanjutkan pendidikan SMA jauh dari orang tua. Kehidupan keluargaku ditopang oleh penghasilan Ibuk yang mulai membaik. Herannya, Bapak masih saja keras. Tak mau ‘tunduk’ pada agama. Kadang juga masih membentak Ibuk. Aku tak tahu pasti, apakah tanpa sepengetahuanku Bapak ada ‘main’di luar, atau minum, atau berjudi, atau..atau.. lainnya. Atau, semoga itu hanya kecemasanku saja. 
Aku mulai berpikir tentang kebahagiaan. Mengingat-ingat, lelaki dan perempuan. Terbandingkan Bapak dengan paman. Jauh. Jauh sekali bedanya. Ya, pendidikan mereka berbeda. Pergaulan juga berbeda. Satu hal yang penting, sikap dan penghormatannya terhadap perempuan sangat berbeda. Paman sangat memperhatikan dan menghormati  bibi. Terlihat jelas sayangnya. Sedang Bapak? Ah, entahlah. 
Aku tak pernah dibekali tentang kehidupan. Yang diberi tahu Bapak sepertinya hanya uang, bahagia, uang lagi, kehormatan. Itu saja. 
Maka, tak salah rasanya, jiwa remajaku begitu berontak dengan semua ini. Aku tak bisa menerima DIA adalah Bapakku. Lelaki itu adalah Bapak yang harus aku hormati dan sayangi. Ia tak pernah perlihatkan sayangnya padaku. Ia seringkali berkata kasar. Membentak Ibukku. Ini masalah besarnya. 
Tak salah pula bagiku, pagi tadi kata-kata kasarku pun meloncat untuknya.
Brengsek! Dia menghardik Ibukku! 
“Buk, mana lelaki setan tadi?!” aku beringas. 
Lelaki setan. Aku menyebutnya begitu. Untuk ia yang tak bertanggung jawab terhadap keluarganya ini. Dia yang hanya santai dengan kehidupannya, tiduran, saat aku dan Ibuk berdagang di pasar. Berdiri. Bertudung payung. 
Lelaki setan itu hanya menyulut api rokoknya, saat kami dari sore sudah berpanas-panas memanggang kue. Menggoreng kacang. Mencari-cari tambahan untuk hidup. 
Lelaki setan itu duduk bermenung, saat kami tersedu di ujung doa, usai shalat.
Lelaki setan itu tetap makan, saat puasa. Saat seharusnya ia mengayomi kami tentang ketaatan. Ah, lelaki setan apalagi, yang akan aku ceritakan.  
Semua tambah berubah, setelah adikku meracau kehidupan kami. Sok bisnis besar-besaran. Buat lubang hutang sebesar entah. Ratusan juta. Bilangan yang tak pernah tercatat dalam rekeningku, yang hanya seorang buruh negara. Apalagi yang akan aku lakukan untuknya? Sudah. Sudahku ku gadaikan semuanya. Semua jaminan itu aku berikan untuknya. Menutupi lubang besar itu. Itulah salah satu tanggung jawabku sebagai kakak. Sebagai KAKAK yang malang! 
Aku bukan BAPAKnya. Bukan orang yang bertanggung jawab atasnya. Aku tak berdosa karena dia salah langkah begitu. Tapi, akhirnya aku yang lakukan semua itu. Oke, semua itu aku relakan. Barangkali Tuhan mengajarkanku keikhlasan. 
Tak hanya sekali rupanya, adikku juga membuat lubang lagi. Entah atas bisnis apa lagi. Aku ragu itu hanya soal bisnis dan hutang –piutang dengan rentenir. Itu lebih besar. Penyekutuan Tuhan. Tuhan marah padanya. Tambah lagi gaya hidup yang sudah mendarah daging itu. Foya-foya. Sok kaya. Masih menyangka dirinya anak siapa. Padahal semua sudah masa lalu. 
Dan. Dimana Bapakku saat itu? Ia ada. Ada di rumah kami. Makan. Merokok. Kencing. Memancing. Ya, itu saja kerjanya lelaki setan itu. Sesekali ia pergi ke kontrakan adikku yang turunan setan itu juga. Berdua mereka. Ber-iya-iya entah tentang apa lagi. Memperbincangkan keburukan keluarga. Menyebut-nyebut orang yang tak peduli. Ah, setan. Aku benci sekali. 
“Dasar kau!” Plak!! Itulah puncak setahun ini. Aku menampar adikku. Tak tahan rasanya. Ia membentak Ibuk. Ibuku!! 
“Apa kau bilang?? Kau yang sopan ya bicara pada ibuku, SETAN! Kau, berani-beraninya bicara begitu pada ibuku hah! Sekali lagi kau begitu, kubunuh kau. Dan, kalian. Siapa saja yang berani kasar pada ibuku, ku bunuh!” Aku juga menjambak rambutnya.
Tak menyangka aku. Kata-kata itu keluar begitu saja. Adikku sesak. Menangis. Berlari.
“Tahan setan itu! Kunci pintu!” aku berteriak pada siapa saja. Kalap.
“Hei, mau kemana kau hah?! Kau mau keluar? Pergi dengan kondisi ini? Lalu kecelakaan? Kau tinggalkan hutang-hutangmu pada kami? Setan!” aku mencekiknya.
Oh Tuhan! Sebegitunyakah sesak yang aku rasa selama ini? Sampai sebegini kasarnya aku. Aku terisak. Ikut menangis. Berdua beradik ini menangis.  
Bapak dimana?
Bapak datang. Mendekat. Dengan langkah patah-patah setelah kecelakaan kemarin. Pagi kemarin itu Bapak terjatuh dari motor, menghindari anak kecil yang menyeberang sembarangan. Bapak menatapku, membentak. 
“Hentikan. Sudah. Sudah!”
Aku tak peduli. Leher setan yang satu itu masih dalam genggamanku walau sudah melemah. Ia terisak. Mengungu. Tak jelas lagi apa yang ia katakan. 
“Sudah apa? Kau jangan ikut campur urusanku!” aku balik membentak Bapak.
Lelaki setan yang satu lagi itu meninggalkan kami. Ia juga tergugu. Terisak. Menangis di ruang tamu. 
Apa? Apa kalian?? Mari kita tuntaskan kesengsaraan ini... Aku membatin. Satu sesak berubah lapang di dadaku. 
Adikku makin sesak. Susah sekali ia bernafas. Aku cemas. Aku raih al quran. Ingin meruqyahnya. Aku bacakan Yaasin. Ku pikir saat itu, ‘setan’ yang mengikutinya itu sedang masuk. Sedang di tubuhnya. Karena tatapan adikku bukan lagi dia. Tangan dan kakinya kaku. Sungguh, aku benar mencemaskannya. 
Aku sebetulnya sayang dia. Aku hanya ingin ‘setan’nya pergi. Ia terlalu berani untuk semua ini, pastilah karna ada ‘setan’ itu. Aku hanya inginkan adikku yang baik. Bukan dibawah kendali setan-setan itu. 
Ibuk meraih tangan adikku. Berkata lemah lembut padanya. Mengajaknya berdiri. Berwudhu. Ia lemah. Berdiri pun tak sanggup. 
Aku membiarkan semuanya berlalu dengan diam. Membiarkan setan-setan itu berkeliaran. Membiarkan pula, diriku kalah, dirasuki setan itu.

***
Bukankah bulan Ramadhan setan itu dibelenggu? Pertanyaan adikku saat belajar agama di sekolah dasar dulu.


26.7.12

Pengamen




Dont judge the book by its cover, kalimat tersebut sudah biasa kita dengar atau baca kan?
Nah, tulisan saya ini bukan bercerita tentang buku, tapi tentang pengamen. Persamaannya adalah, kesimpulan agar kita tidak kita menilai seorang pengamen dari penampilannya saja. Dengar dulu suara dan lagunya, baru tutup mata, atau pura-pura tidur, pura-pura sibuk nelpon, atau sms-an, atau..atau..lainnya. Jika Anda terhibur apalagi terkesima dengan penampilannya, sisihkanlah barang seberapa rupiah untuk harga suara dan kocokan gitarnya untuk Anda. #edisi-membela-pengamen! :D

**
Baru kali ini saya mendengar seorang pengamen bus menyanyikan nasyid (makna umum, lagu islami). Maksudnya, bukan lagu-lagu pop indonesia biasa, dari grup band umum. Kali ini dari grup nasyid yang menurut saya tidak dikenal banyak orang (kalangan umum). Wah, susah menggambarkan sesuatu untuk menghindari bahasa-bahasa khusus ya! :D

Sederhananya, saya menyimak lagu islami -yang tidak populer di kalangan umum- itu dari pengamen yang gaul secara penampilan. Pengamen itu adalah seorang lelaki penyandang gitar.. (terinspirasi : Gadis penjual korek api). J

Biasa saja penampilannya. Memakai celana jins kucol lagi belel, kantong di sana-sini, kedodoran. Atasannya kaos oblong berwarna merah. Walaupun saya suka kaos warna merah, tapi sungguh yang dipakai pengamen itu sangat tidak menarik bagi saya. Karena warna merah darahnya itu menakutkan, apalagi ada gambar entah wajah siapa di bagian depan. Entah tokoh –pemberontakan- apa, saya tak kenal.  

Saya kemudian tak memperhatikan bagian wajah si pengamen, karena ia sudah memulai aksinya. Gejreng-gejreng..-Selamat siang bapak ibu sodara sodari penumpang bus XX jurusan xx.. ; prolog-.
Yang jelas, ia memakai topi pet. Ya, biasalah. Sama seperti gaya anak muda lainnya. *eh!*
            “Ia ibarat kaca yang berdebu...” ia memulai.

Dug! Saya terkejut. Lalu, mematut-matut pengamen itu lagi.
“Masak sih, pengamen segini “keren”, mau-maunya laguin nasyid itu? Tau darimana juga?” Saya membatin. *Lha, saya apa pula? Heran-heran begitu! Suka-suka pengamen dunk!

“Ia ibarat kaca yang berdebu/jangan terlalu keras membersihkannya/Karena ia mudah retak dan pecah/”
Waw! Keren! Hebat pula mungkin ya, kalau pengamen ini diberikan pendidikan mengamen ya. Wah, tentunya pendidikan itu akan berguna sekali buat para pengamen. Bisa dilihat keprofesionalannya dalam mengamen. Nanti, bisa-bisa pengamen ini  juga disertifikasi. Pengamen yang tersertifikasi adalah yang jam mengamennya sesuai standar. Atau, jumlah peminat yang mendengarkan ia mengamen sesuai standar. Pelayanan primanya sesuai standar. Dan standar-standar lainnya. *ngawur!*

“Dia ibarat kaca yang berdebu/jangan terlalu lembut membersihkannya/nanti ia mudah keruh dan ternoda/”
Bukankah begitu lebih baik, daripada asal-asalan. Setiap pekerjaan jika dilakukan secara profesional; bekerja se-terbaik mungkin, tentu akan menjadikan kita berbeda dengan yang lainnya. Beda inilah nilai jualnya Bung!

Mengamen ibaratnya berdagang, kan tidak cuma : saya jual anda beli, tapi lebih dari itu. Melihat kebutuhan pasar. Kesesuaian barang dengan harga yang ditawarkan. Jika barang berkualitas, pembeli pun tak segan membeli dengan harga standarnya. Anda butuh apa? Saya jual dengan harga segini. Anda jadi beli? Kalau tidak, tak apa. Saya bisa jual pada yang lain. –tawar-menawar-.  Berdagang, tak sekedar untung rugi. Tapi juga mengerti peluang dan kebutuhan pasar.

“Ia bagai permata keindahan/Sentuhlah hatinya dengan kelembutan/Ia sehalus sutera di awan/Jagalah hatinya dengan kesabaran.”

Begitu juga dengan mengamen. Tidak sekedar nyanyi-nyanyi. Imej pengamen yang sudah begitu hendaknya dikembalikan. Kembali menjadi : Pengamen adalah kerja/profesi menghibur orang lain dengan membawakan sebuah lagu. Sederhananya ia adalah pemusik jalanan.

Bukan sekedar sandang gitar, asal gejreng-gejreng, lirik atau syair lagunya pun sangat jauh dari yang namanya menghibur. Mana sebagiannya juga tak ‘menghibur’ dari segi penampilan. Okelah, kalau rapi dan wangi. Yang menyebalkan sekali adalah bau tak sedap itu. Waduhh!

Bagi penonton/pendengar, mau dibayar enggan, tak dibayar juga susah. Karena di penutup kata-katanya, di pengujung penampilannya, tak sedikit pula pengamen yang ‘mengutuk’ mereka yang tidak memberi sedikit uangnya.  Huh.

Saya lanjutkan mendengar Lelaki penyandang gitar...
 “/Lemah lembutlah kepadanya? Namun jangan terlalu memanjakannya/Tegurlah bila ia tersalah/Tapi janganlah lukai hatinya/”

Satu lagi, mengamen sebetulnya bisa juga berdakwah. Coba setiap pengamen bisa menyampaikan beberapa hadis tentang adab ini – itu. Dengan catatan, ya, dia sendiri juga lebih dulu beradab. Bisa ingatkan tentang kepedulian sosial. Kan bermanfaat. Orang tak akan pura-pura tidur, atau bermuka masam padanya.

Hm..satu lagi..(kedua), saya hanya menyarankan, kalau-kalau ada pengamen yang baca blog saya ini. Masing-masing kita diberi kelebihan oleh Sang Pencipta. Nah, jika kelebihan kita adalah suara yang merdu, indah dan menyenangkan, tak masalah jika menjadi pengamen. Namun seandainya kelebihan itu bukanlah pada suara, mungkin pada otot kawat tulang besi,  dan tenaga sakti mandraguna *lebay*, ada baiknya kita menyalurkan kelebihan tersebut untuk profesi lain. Bertukang misalnya. Mengangkat di pasar misalnya. Dan profesi lain yang memanfaatkan kekuatan.

Kalaupun akan tetap menjadi pengamen, jadilah pengamen yang berbeda. Seperti pengamen yang saya ceritakan di awal misalnya. Jadilah pengamen yang penuh sopan santun, bersih, rapi, wangi, lagu-lagunya pun bermakna. Kan keren! Setidaknya, dengan itu orang masih mendengarkan walau tak terhibur secara utuh. Dan, jika nanti ada sertifikasi pengamen, mana tau itulah kriterianya.

“Bersabarlah menghadapinya/terimalah ia dengan keikhlasan/karena ia kaca yang berdebu/semoga kau temukan dirinya/bercahayakan iman/”

Saya pun mengeluarkan selembar uang kertas untuk pengamen itu. Lelaki penyandang gitar. Karena merasa terhibur dengan dendangan nasyid Kaca Yang Berdebu – Maidany di siang yang terik itu. Ikhlas. *dan, akhirnya saya tidak menerima kutukan pengamen*
  ^_*

5.7.12

Maninjau


Danau Maninjau terlihat dari Puncak Lawang


Seorang teman meminta saya memvisualisasikan keindahan Danau Maninjau lewat kata-kata. Barangkali, ada banyak tulisan di internet yang lebih mantap dan jelas visualisasinya. Tapi, yang saya tuliskan ini gambaran sebagai ‘urang danau’, saja. 

Bagi saya Maninjau itu sejak 24 tahun yang lalu selalu terlihat indah. Apapun yang terjadi padanya. Setelah dinding-dinding bukitnya tergores longsor akibat gempa 2009 lalu, ia kini kembali cantik. Gores-gores itu kini kembali ditumbuhi tanaman, hijau. Yang jelas, suasana ‘Danau Kawah’-nya masih terasa. 

Saya ingat pernah membaca sebuah kutipan kalimat HAMKA, -asli dari Nagari Sungai Batang, Maninjau- yang menyatakan, banyak pun negeri yang didatanginya, Maninjau tetaplah yang paling indah. 

Barangkali orang-orang yang datang berkunjung, atau sekedar lewat pun sepakat menyebut Maninjau itu danau yang indah. Maka, tepatlah kiranya warga Maninjau dan mungkin juga pemerintah daerah saat itu, menetapkan sebuah area hotel / lokasi wisata tepat di dekat kantor Camat Maninjau, bernama Maninjau Indah. 

Jika datang dari arah Matur, Puncak Lawang, Ambun Pagi, kita akan menyaksikan Danau Maninjau seperti sebuah kawah. Kawah besar yang terisi air dalam sebuah gunung. Konon, Danau Maninjau terbentuk memang karena letusan gunung berapi. Gunung itu bernama Gunung Tinjau. 

Ketika kanak-kanak dulu, seorang tua menceritakan kepada saya Legenda Danau Maninjau. (akan diceritakan di bagian lain J )

Seperti sebuah kawah, bagian tepi danau dikelilingi bukit.  Akses menuju Maninjau pun, menuruni sebuah bukit. Adalah empat puluh empat kelok / liku yang akan dilewati menuju Pasar Maninjau.

Ambun Pagi merupakan bagian tertinggi diantara bukit-bukit yang mengitari Danau Maninjau. Ke kiri memandang tampak sederetan bukit yang berbelakangan dengan daerah Malalak, Gunung Singgalang, dan Pariaman. 

Diantara bukit itu ada yang bernama Bukik Kuduak Bantiang. Disebut demikian, karena bentuk bukit itu memang seperti pundak sapi/banteng. Bagian melingkar ke kanan lagi, ada bukit W. Puncak bukit ini memang menyerupai huruf W. Sampai di bukit yang berseberangan langsung dengan daerah puncak kelok-kelok ini, tepat pertemuan dua bukit yang di sanalah akses keluar dari Maninjau arah ke Lubuk Basung. 

Sedang ke kanan menengok, berjejerlah perbukitan daerah Palembayan, dan berbatas dengan daerah Palupuah. Saya tidak tahu pasti nama-nama bukit daerah tersebut. Hanya saja, ada sebuah daerah di kaki bukit arah Nagari Pasa Rabaa, Pakan Akaik dan Bayur itu bernama Data. Sementara daerah tersebut terletak di perbukitan. 

Melihat ke tepi-tepi danau ada dua buah pulau kecil di daerah Muko-muko. Di perairan Pakan Akaik, Akaik Nan Koto, juga ada sebuah pulau kecil, bernama Pulau Tungkuih Nasi. Dinamakan demikian karena memang pulau itu menyerupai bentuk bungkusan nasi khas yang dibawa orang yang pergi berburu. Tidak ada yang hidup menetap di pulau tersebut. Cuma sekedar persinggahan menggunakan motor boat atau perahu saja. Sekedar sebagai aset / objek wisata.
Suasana pagi hari, kita bisa menikmati keindahan danau seperti air panas yang beruap. Mandilah di waktu subuh, tidak terasa dinginnya. Tapi, jika mandi pukul sembilan ke atas, dingin rasa airnya. Sampai menjelang siang, air akan tetap tenang.

Suasana tengah hari, danau biasanya masih terlihat tenang. Damai. Bukit-bukit biru, memantul ke air danau. Dari arah atas bukit akan terlihat warna putih di bagian tengah danau, pantulan dari awan atau mungkin warna asal dari dalam danau. 

Sedang jika menikmati sore di tepi danau, lihatlah airnya mulai beriak. Angin berhembus. Orang-orang banyak berada di ‘air’nya. Di tepiannya. Mandi, mencuci, atau sekedar mematut keramba, menarik jala dan mengamati ikan. 

Kita bisa menyaksikan bapak –bapak mendayung sampan dari tepian danau. Duduk di atas batu tepi danau. Atau, naiklah rakit-rakit yang terbuat dari bambu itu, merapat ke keramba. Duduk bersila di dalam pondok tengah keramba. Indahnya danau makin terasa. 

Semakin senja, riak air semakin terasa. Keramba akan bergoyang. Di langit kelelawar berterbangan dari dalam rimba perbukitan. Berkicauan bunyi burung. Riuh rendah bunyinya.
Matahari beranjak dari sisi satu danau ke sisi seberangnya. Beranjak dari belakang bukit Kelok-Kelok, lalu meninggi, turun dan tenggelam di balik bukit batas antara daerah Pandan dan Muko-Muko. Di sisi itu celah terakhir matahari akan menyirami danau. Cahaya senjanya akan memanjang membentuk garis berwarna kuning keemasan atau orange, membelah danau.

Dulu, kita bisa menyeberangi danau, menikmati keindahannya dari Muko-muko sampai ke dermaga Sungai Batang. Bisa juga berputar ke Maninjau Indah. Tapi sekarang, dermaga di Sungai Batang sudah lenyap. Tak ada kayu dan pelabuhan kecilnya lagi. Mungkin di Maninjau Indah, Pasar maninjau, masih tersisa. Saya sudah jarang menyaksikan orang-orang berperahu atau motorboat. Terakhir, Lebaran tahun lalu masih, entahlah untuk tahun ini. 

Nimiasata_2012

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...