Showing posts with label child. Show all posts
Showing posts with label child. Show all posts

27.8.17

Keluarga Lebay (?)

11.46

Hingga pukul 11 malam ini si mata masih enggan tidur. Pasalnya ini tentang 'menjaga rahasia'. Iya, rahasia yang membuat saya berpikir-pikir, apakah keluarga saya yang lebay, atau keluarga yang terbiasa merahasiakan banyak hal ini begitu 'dingin'?

Jika di keluarga saya, Imel batuk sedikit saja, laporannya sudah sampai kemana-mana. Atau jika ada keluarga yang sakit, lagi di dokter, atau dirawat di rumah sakit, keluarga besar (khususnya keluarga pihak ibu), sudah berbondong-bondong pula datang. Bagi kami yang sudah terbiasa dengan hal itu, menganggap bahwa kedatangan saudara-saudara itu adalah sebentuk keberkahan.

 Dari selepas zuhur, saya memastikan: "Apakah semua baik-baik saja? Lalu kenapa diteruskan ke rumah sakit lain, di kota lain? Apakah benar-benar tak diberitahu?"

Mungkin bagi sebagian keluarga, memberi tahu anggota keluarga tentang hal yang terjadi di 'rumah' adalah tindakan yang tidak perlu. Dalam cerita "Sabtu Bersama Bapak" juga saya temukan demikian. Bahwa, si ibu, bahkan akan operasi kanker, sudah di ruang rawat, tidak memberitahu anaknya yang jauh darinya. Alasannya adalah, jika ia beritahu, anaknya pasti akan pulang. Mau yang di Denmark, apalagi yang di Jakarta. Dan itu, si ibu khawatir akan mengganggu kehidupan anak-anaknya.

Oke. Itu mungkin cuma cerita. Tapi realitanya memang demikian. Ada keluarga yang berprinsip, setiap anggota keluarga harus mandiri. Menyelesaikan urusannya masing-masing, tanpa meminta bantuan dan pertolongan kepada saudara lainnya, juga ayah dan ibu. Alasannya, "ga enakan". Di saat yang terjadi adalah, keadaan ayah dan ibu yang dicemaskan, selama masih bisa diatasi orang-orang di rumah, anak-anaknya yang terbilang jauh, tidak perlu diberitahu.

Nah, inilah rahasia yang mengganggu pikiran saya, hingga betah-betahnya begadang sampai kini.

Saya mungkin mengukur keadaan itu, dengan timbangan yang terbiasa berlaku di rumah kami. Keluarga yang terbiasa keramaian. Setiap minggu ada saja alasan bertemu dan bertamu. Beberapa bulan sekali, ibu dan para saudaranya berkumpul, sekedar bercerita atau bepergian, bersilaturahim ke sanak famili yang lain.

Kebiasaan lain di rumah adalah makan bersama. Sejak kecil kami dibiasakan makan bersama selepas magrib. Konsekuensinya adalah, apapun kegiatan di luar rumah, jam 6 tentu sudah harus pulang. Mau pramuka, mau main, mau apa saja. Saat makan itu pula informasi beredar, apa kejadian seharian, adakah yang terlihat kurang sehat, atau besok mau apa. Sekedar begitu saja. Hal-hal lebih serius akan dibicarakan usai makan. Terbiasa seperti itu.  


Ke-lebay-an lainnya adalah komunikasi. Ibu harus menelpon saudara yang di Padang dan Bogor, mungkin nyaris tiap hari. Jika setelah beberapa hari ibu tak menelpon, mereka pasti akan bilang: "orang di rumah sombong".  Padahal yang dibicarakan ya itu-itu saja. Bercerita. Apa kegiatannya, gimana ketemu dosennya. Sebaliknya, mereka akan bertanya Imel lagi apa, ayah mana. Tentunya selain hal-hal wajib perkara kesehatan. Bahkan, sekedar bertukar, masak apa hari ini, dengan si Uni. Satu atau dua menit pun jadi. 

Ya sih, kadang-kadang saya berpikir, tidakkah cara itu sedikit lebay? Mungkin juga.

Kita melihat ada dua pola berbeda yang diterapkan dalam keluarga.
Pertama, keluarga yang beranggapan bahwa kehangatan keluarga diciptakan dari pentingnya komunikasi. Kedua, keluarga yang menciptakan kehangatan saat kumpul bersama. Secara fisik mereka dekat dulu, pasti ada kehangatan setelah itu. Masing-masingnya enggan merepotkan yang lain. Selama masih bisa diatasi, ya, bisa diselesaikan sendiri.

Pada kondisi kedua itu, tidakkah kita melihat ada sikap tertutup, atau ditutup tutupi? Benar, akan mandiri. Tapi bisa juga si anak malah menutup diri. Hingga tak ada bedanya, ia sedang memikirkan suatu masalah atau tidak. Ya, memang biasanya begitu. Selalu terlihat tanpa masalah, dan baik baik saja.

Hmm. Bagusnya seperti apa ya?! 
Inilah pertanyaan pengantar tidur malam ini.
Saya ingin bagi tahu, tapi...kalau tidak.. 
Nanti jika.. 
Tapi saya juga ingin tahu. 
Hahaa. 

*Tidakkah saya termasuk orang-orang lebay??

***

Oke. oke. Kita harus istirahat dulu. 
Semoga semua baik-baik saja. Thahuurun Insya Allah!

29.3.17

Mendidik Anak Multibahasa

Menguasai multibahasa (banyak bahasa) adalah impian sebagian orang, penyuka bahasa. Di samping, menguasai berbagai bahasa sebagai sebuah tuntutan kehidupan, -misalnya orang yang hidup di luar negeri, berbaur dengan orang dari berbagai negara-. Dalam keadaan demikian, bahasa yang digunakan tentunya tak hanya satu, 'bahasa ibu' saja. Berbeda dengan orang yang hanya hidup di satu wilayah sosial, penguasaan bahasa yang diperlukan hanyalah satu bahasa ibu, yang disertai dengan sejumlah dialek-dialek.

Di masyarakat Indonesia sendiri, menguasai multibahasa mungkin adalah hal yang lumrah. Dengan begitu kayanya bangsa ini -beragam suku bangsa, budaya dan juga bahasa-. Saya adalah salah satu yang menginginkan penguasaan multibahasa itu.

Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw, menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi, bahasa Suryani. Tujuan saat itu adalah untuk mengetahui beberapa kalimat yang terdapat dalam kitab umat Yahudi. Dalam riwayat lain kita masyhur pula mendengar, "siapa yang menguasai bahasa suatu kaum, maka ia selamat dari tipu daya kaum tersebut."

Sejarah juga telah mengajarkan kita, bagaimana pertukaran ilmu pengetahuan antara timur dan barat itu terjadi. Masing-masingnya menguasai bahasa tujuan ilmu itu dipelajari. Umat Islam mempelajari bahasa Yunani, lalu menerjemahkan kitab-kitab Yunani. Maka belajarlah orang Timur pendapat-pendapat Aristoteles, Socrates, Plato, Phytagoras dan sebagainya. Sebaliknya, zaman berganti, saat Barat dilanda masa kegelapan, mereka mempelajari bahasa arab, lalu menerjemahkan kitab-kitab yang lahir dari ilmuwan muslim abad itu, ke dalam bahasa mereka.

Terlepas dari semua itu, sebagai seorang muslim yang hidup di Indonesia, kita tentu 'terbiasa' dengan ibadah-ibadah yang hanya bisa dilaksanakan dengan bahasa Arab. Shalat misalnya. Ini tentu juga menjadi gambaran ke-multibahasa-an yang telah populer di kehidupan kita.

Lalu, bagaimana dengan mendidik anak multibahasa?

Sekolah RSBI, sekian tahun lalu telah menggunakan dua bahasa (bilingual) dalam pembelajarannya. Bagi saya, ini adalah salah satu perhatian pemerintah agar anak terbiasa menguasai bahasa selain bahasa ibu nya sejak dalam proses pembelajaran.

Sekolah-sekolah swasta bahkan, sejak usia kanak-kanak telah mengajarkab bahasa asing (kedua) secara intensif kepada anak-anaknya. Memang ada pro kontra terkait pendidikan multibahasa kepada anak. Ada yang berasumsi bahwa anak belum perlu belajar basaha selain bahasa ibu. Ada argumen lain yang menyatakan bahwa, semakin dini anak mengenal bahasa, semakin mudah penyerapannya. Menurut para ahli, masa paling ideal untuk mempelajari bahasa lain selain bahasa ibu adalah usia 6 – 12 tahun.

Dalam teori psikologi anak dikatakan bahwa, stimulasi awal pada usia perkembangan anak melalui pembelajaran bahasa akan memberikan keuntungan dalam perkembangan bernalarnya. Anak akan memiliki kesadaran sistem bahasa sebagai suatu gejala sosial.Tentunya semua ini baik, jika dilakukan dan dipelajari atas dasar kesukaan berbagai bahasa, bukan keterpaksaan.

Kita juga tidak setuju dengan pewajiban belajar bahasa kedua (asing) bagi anak di sekolah-sekolah, khususnya dasar. Hal ini hanya akan menambah beban kurikulum. Di lain sisi, justru mencederai eksistensi bahasa ibu si anak, Bahasa Indonesia.

Maka, rumah dan pendidikan keluarga adalah sarana yang tepat untuk mengajarkan anak berbagai bahasa. Sekali lagi, tentu dengan memperhatikan kecendrungan belajar anak. Bahwa ia memang juga menyukai banyak bahasa. Karena, orang tua hanyalah fasilitator bukan eksekutor. Tak baik pula rasanya hanya tersebab keinginan ibunya, -untuk menguasai berbagai bahasa- anak harus menjadi korban, les bahasa ini itu.

Maksud tulisan ini hanya: jika ada yang sependapat, menyukai berbagai bahasa, ajarkanlah anak-anak sejak dini multibahasa, sekalipun hidupnya di Indonesia. Jika muslim, tentu terbaik adalah mengenalkan bahasa agamanya, bahasa arab. Seperti kata Umar bin Khattab, "Hendaklah kamu sekalian tamak mempelajari Bahasa Arab, karena bahasa Arab itu merupakan bagian dari agamamu." Selanjutnya tentu bahasa-bahasa internasional lainnya. 

* Tulisan ini adalah hasil pikir-pikir saya di jalan menuju sekolah tadi pagi, saat seorang bocah usia dua tahun (kira-kira), menyebut cat dan menunjuk kucing.

** Oya. Bahasa arabnya cat itu ada qith-tun (قِطٌّ ) lho. Mirip ya?! :D

13.11.16

Komentar Iklan


Di antara acara televisi yang paling saya sukai adalah : IKLAN.

Ya, tak banyak acara televisi hari-hari ini yang menarik. Tidak seperti zaman-zaman SD dulu,, yang setiap jam 10 hari Sabtu ada film vampir yang selalu ditunggu-tunggu. Atau, jam lima sore, ada film-film anak-anak atau.. telenovela yang digandrungi remaja dan ibu-ibu. Entah sejak kapan bermulanya, acara TV tak lebih menarik daripada iklan-iklan yang terus kreatif, dan juga unik.

Saya termasuk yang suka menonton bagian iklan dari tayangan tv ini. Dari iklan lucu, iklan aneh tak jelas, iklan yang buat bingung, iklan tanpa suara, bahkan iklan yang hanya bermodal kata-kata yang ditayangkan berulang kali. Ada juga iklan mengharukan yang sering tayangnya jelang lebaran.

*yahhh..begitulah, para pembuat iklan terus berlomba menjual dagangannya, semenarik dan seunik mungkin. Namanya juga iklan..

Namun begitu, iklan yang mengandung unsur edukatif tetap ada kok ya, *secaraaa..zaman ini loh ya, yg semua dihitung untung rugi*. Yang paling banyak sih iklan edukatif itu ada di tipi 'negeri', pemersatu bangsa. Haha.

Tapi ada satu iklan, beberapa waktu lalu yang menarik. Karena ada adegan anak-anaknya kali ya, dan menjadi lucu saja. Pesan yang disampaikan pun baik. Bagaimana dengan hal kecil pun, kita bisa dapatkan kawan baru.
 *ini mungkin yang mulai langka hari-hari ini. Tak lagi ada rasa peduli. Jangankan menyapa orang baru, dengan orang yang sudah saling kenal pun, seperti ada tembok pembatas, tersibuk gadget yang ada di tangan.

Nah saya paling suka bagian ini:  
- Hi Man!  
- Cris.. --- can i tell u a story.. once upon a time.. there was a gold fish.. --- alone, the end!

*Hahaha, cerita macam apa itu... dahulu kala, ada seekor ikan emas, yang hidup sendiri, dan habis. :D 

ini dia linknya:

https://www.youtube.com/watch?v=sQS8SU98Pjg

So, "when did we forget how to connect with each other?"

Mungkin sejak kita terbiasa memandang curiga dan was-was tak jelas kepada setiap orang baru di sekitar. Melihat dengan sudut mata. Memasang tampang tidak peduli. Justru kemudian aneh, ketika ada orang-orang baru itu tersenyum, menyapa atau bahkan bertanya. Dan, tanggapan berikutnya adalah, kepo. Jadi serba salah kan?! 

"connecting with people is simple. With a little help."
Dalam iklan ini, begitu mudah untuk connecting dengan orang-orang baru. Realitanya, kita bahkan butuh waktu lebih lama dari sekedar menawarkan sesuatu. Orang-orang yang 'dingin tak jelas', merasa cool padahal cuek -bebek-, tidak pedulian, bahkan walau hanya dengan senyum pun, tak dipedulikan.

Untuk realita itu juga sudah ada videonya ternyataa.. hahaha. Parodi iklan m**tos. Begitulah kita. Keseharian kita. Mencoba terhubung dengan banyak orang, berkawan. Kawan lama, yang tergilas masa..tak lagi terjalin komunikasi dengan baik. Kehidupan dan kesibukan mempergulirkan orang-orang yang juga menjadi kawan.  Setiap hari akan bertemu orang baru, yang entah menjadi kawan, atau hanya figuran.

Belajar dulu sama anak-anak ini, how to connect with each other.. heheh.

25.10.16

Si Aku Siswaku (3)

Ini adalah bagian terakhir cerita 'Si Aku Siswaku', sepertinya. Di sini saya tak lagi dengan rasa yang bercampur aduk, mimpi dan harapan untuk membina, upaya-upaya mengajaknya sekolah lagi.

Sehari sebelum Selasa, minggu ini, si Aku tiba-tiba datang ke sekolah. Ia menemui kami, dan menyampaikan kebutuhannya, Rapor. Buku Laporan semester dan mid semester itu ia butuhkan untuk mendaftar di sekolahnya yang baru.

Saya lalu menyiapkan apa yang dimintanya. Meski ia terlihat gugup, sedikit khawatir, dan menjaga kata-kata yang terucap, tapi ada sesuatu yang sedang ia tahan-tahan. Semoga tak terucap, mungkin begitu.

Dari siswa lain, tetangganya, dan seorang guru yang masih di lingkungan rumahnya, saya dengar kabar, bahwa ia telah bersekolah di tempat yang baru. Itu adalah pilihannya. Sedikit kecewa tentu saja. Saya seperti tengah dikhianati. Masih ingat rasanya, bagaimana si nenek bercerita. Masih terbayang pula bagaimana "mendewasakannya' lewat pertemuan-pertemuan. Juga upaya menemuinya ke rumah, yang tak berujung pertemuan. Ya sudah. Sampai di sini rupanya.

Si Aku telah memilih, dengan begitu ia tetap memikirkan masa depannya. Syukurlah. Meski bukan di sini. Dan, bukankah tak hanya di sini ia akan sukses. Barangkali proses ini menjadikannya momen untuk berubah lebih baik. Meskipun, harus berkorban uang lebih.

Satu lagi kabar yang membahagiakan. Ayahnya yang tak kunjung bersua, setelah 17 tahun itu, kini bersedia membiayainya sekolah. Entah di kota lain, entah masih di sini. Informasinya masih belum pasti. Kabar ini langsung saya dengan darinya. Bukan dari tetangga. Tentu ini lebih valid ya.

Mari fokus pada yang dua puluh dua lainnya, bukan pada satu yang telah meninggalkan.
Selamat pada pilihannya, siswaku. Sampai jumpa pada sesi berikutnya kehidupan ini. Semoga telah lebih baik.

15.10.16

Anak Usia Dini Hari Ini



 Melihat dan mendengar berbagai kabar buruk terkait anak seringkali membuat hati kita miris. Di antara anak-anak itu, adalah mereka yang mengalami kekerasan verbal, kekerasan fisik, maupun kekerasan mental. Yang lebih memilukan lagi, adalah mereka yang menjadi korban pelecehan seksual. Setiap hari, media kita tak luput memberitakan hal itu. 

Ironisnya pelaku kekerasan terhadap anak, biasanya adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan si anak, seperti keluarga, guru maupun teman sepermainannya. Itu artinya, perlakuan buruk yang diterima si anak, terjadi di lingkungan kesehariannya berada. Di rumah, di lingkungan keluarga, di sekolah, di tempat belajar lainnya, dan di perjalanan menuju semua aktivitasnya itu. 

Menurut Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 1 angka 1,“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.” Di antara rentang usia tersebut, yang paling kecil ruang lingkupnya adalah anak pada usia 1-7 tahun. Mereka rata-rata baru berada di lingkungan keluarga, atau tempat penitipan anak, atau di tempat pendidikan anak usia dini (PAUD).

Sebagai masyarakat, kita memang wajib peduli kepada anak yang berada di mana saja lingkungannya. Karena semua anak adalah anak kita. Anak merupakan titipan masa depan. Dan, kita semua bertanggung jawab memberi rasa aman dan perlindungan demi masa depannya. 

Sekalipun, pada kenyataannya, masih ditemukan kesulitan dalam pembinaan anak yang mengalami perlakuan buruk di lingkungan keluarga, oleh orang tua atau keluarga intinya sendiri. Sebagiannya akan enggan melaporkan, karena menganggap itu adalah aib keluarga. Tidak perlu diperluas, dan keluarga akan menyelesaikan dengan caranya sendiri. 

Hal seperti inilah yang membuat proses hukum oleh pihak kepolisian menjadi lebih sulit. Lembaga-lembaga sosial peduli anak pun akan kesulitan karena informasi yang diberikan tidak maksimal. Atau bahkan ada yang ditutup-tutupi. Jika memang demikian, siapapun tentu tak banyak bisa berbuat. Kecuali, masyarakat setempat peduli, pemerintah lingkup terkecil daerah itu juga pro aktif menangani jika terjadi sesuatu. Kita hanya khawatir, ketidak amanan di lingkup keluarga itu, merembes dan memberi dampak yang lebih luas kepada masyarakat lainnya. 

Lain halnya dengan perlakuan buruk anak yang diterima di lingkungan PAUD atau tempat penitipan anak. Tidak sedikit berita tentang kelalaian pengasuh di tempat penitipan anak dan bayi, yang berefek merugikan anak, membahayakan anak, dan mengorbankan anak. 

Misalnya bayi yang tiba-tiba di rumahnya diketahui sudah ada bagian melepuh di jari kakinya. Seperti tersiram air panas. Ketika si ibu mengonfirmasi ke pihak TPA, semua berkilah, kalau itu tidak terjadi di tempat mereka. Atau, yang baru-baru ini saya dengar. Salah satu bayi di TPA “X”, ditemukan kejang, meninggal di tempat. Didapati ibunya, bayi di ruangan khusus bayi itu, tersungkur, jatuh dari ayunan, yang bayi itu ditinggal sendirian. Belum lagi, hal-hal yang merugikan lainnya seperti anak-anak yang digigit ulat, bayi-bayi dan anak-anak yang mendapat penyakit ‘seragam’ sepulangnya dari tempat itu. Menyedihkan.

Benar, bila semua itu bukanlah keinginan siapapun. Tapi kelalaian yang terjadi tersebab siapapun, tentu harus diantisipasi. Salah satunya adalah dengan adanya standar kelayakan bagi pihak pengelola tempat penitipan anak di mana saja adanya. PAUD/ tempat penitipan anak yang terstandar pun perlu dilakukan pembinaan berkala dan pengawasan oleh pemerintah. Perlu juga adanya sanksi yang jelas terhadap kelalaian tersebut. Berapa persen di antara pengelola dan bunda-bunda pengasuh PAUD itu, yang telah tersertifikasi untuk profesinya, atau telah lolos uji kompetensi, pengetahuan dan skil dalam pengasuhan anak. Apakah sudah dipublis? Bagaimana seorang ibu akan merasa aman menitipkan bayi dan anaknya?

Semuanya seperti upaya saling berkait dalam mewujudkan kesejahteraan sosial kita. Untuk membentuk bangsa yang kuat, perlu dipersiapkan generasi-generasi yang kuat pula. Generasi yang kuat memang bermula dari keluarga, tapi lingkungan kita jelas berperan pula dalam perlindungan dan penjagaan tumbuh kembang si anak.
Orang tua dan keluarga adalah  pihak yang bertanggung jawab penuh untuk anak-anaknya. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan bagi mereka yang memilih menjadi pendidik full di rumahnya, bagi anak-anaknya (saja). Ini jelas lebih baik. 

Namun kita tidak bisa menafikan kondisi sosial setiap orang yang berbeda satu dan lainnya. Pada keadaan ibu-ibu yang bekerja, tentu butuh orang lain. Menyikapi hal ini, pemerintah melalui kementrian PPPA telah berupaya dengan menganjurkan adanya ruang laktasi di setiap SKPD. Bahkan tahun 2014 lalu, mentri PAN-RB juga meminta setiap instansi pemerintah memiliki tempat penitipan anak.

Data di sebuah kota menyebutkan, PNS perempuan berjumlah 1523 orang dari 2490 pegawainya. Jelas lebih banyak perempuan. Kita lihat pula di sekolah-sekolah, semakin nampak perbandingan lebih banyaknya perempuan dibanding laki-laki. 

Di BUMN atau swasta pun hendaknya diperlakukan sama. Perlu ada yang memberi pengawasan ketersediaan ruang laktasi, atau tempat penitipan anak untuk kesejahteraan karyawan perempuannya. Ber(t)apa banyak perempuan yang hari ini bekerja dan menghabiskan hari dan waktunya di bank, misalnya. Apakah kita akan tutup mata untuk semua kebutuhan itu. 

Karena kita tidak bisa menutup peran perempuan di ruang publik, maka kita butuh kepedulian bersama untuk menselaraskan hak dan kewajiban yang diterimanya. Ketika bicara tentang anak, kita juga akan bicara tentang perempuan.

Pada mereka –para perempuan kepala keluarga- yang harus bekerja menaflkahi anak-anaknya, pengasuhan layaknya keluarga normal akan jauh dari sempurna. Atau anak yang hidup di tengah keluarga yang tidak harmonis, korban perceraian orang tua. Anak-anak yang bahkan ditelantarkan orang tuanya, dan diasuh di panti-panti asuhan. Anak-anak yang tertakdir hidup dalam kondisi itu, jelas tetap memiliki hak yang sama dengan anak lainnya. 

Akhirnya, semua kita harus peduli pada generasi masa depan yang hanya 20% dari populasi manusia hari ini. Mereka adalah 100%  kehidupan hari esok. Anak dan bayi dalam lingkungan tempat penitipan anak ini, harus dijaga bersama, diawasi pengasuhannya, dikontrol pengelolaannya, disiapkan sanksi kelalaian yang diterimanya dari pengelola itu. Oleh kita semua. Semua unsur masyarakat, lembaga-lembaga perlindungan anak dan pemerintah mesti bersinergi untuk itu. Ya, kita, siapa lagi?

6.10.16

Si Aku, Siswaku (1)

Siang itu waktu menunjukkan pukul 14.50 Wib. Saya bermaksud melakukan kunjungan rumah (home visit) ke rumah salah satu siswa. Ya, pada kasus-kasus tertentu, saya memang merasa butuh untuk melakukan kunjungan rumah siswa. Melihat langsung kehidupannya, mungkin juga merasakan, memberi makna dan mungkin juga kemudian mensyukuri banyak hal dari kunjungan tersebut. Dan, saya menyukai kegiatan ini. Bersama seorang guru kejuruan, kami berangkat menuju rumah si siswa.

Rumah itu, berjarak hanya beberapa kilometer dari sekolah kami. Nuansa desa yang damai begitu terasa saat saya sampai di rumah itu. Bayangkan saja, kita mendengar aliran gemericik air yang mengalir dari sawah, melintasi parit kecil tepat di depan rumah itu. Sisi kiri rumah itu dan bagian depan, dihadapkan dengan tanaman padi yang mulai menguning. Sisi kanan, selain bersebelahan dengan rumah tetangga, juga ada kolam ikan. Bagian samping rumah, adalah kandang ayam. Arah belakang rumah terdapat dapur kayu. Selain itu, rumah sederhana itu memiliki halaman yang dihampari oleh batu-batu kerikil. Aduhai, betapa ini benar-benar nuansa rumah nenek, saat saya mengarang cerita ketika SD dulu. Nyaman sekali untuk waktu siang yang tak begitu panas hari itu.

Suasana Depan Rumah si Aku
Perkenalkan, namanya adalah Aku. Atau, kita panggil saja dia si Aku. Dia adalah siswa laki-laki kelas dua sekolah menengah kejuruan. Si Aku, menurut wali kelas lamanya, bukan tergolong anak nakal. Dia juga bukan anak yang suka mencari perhatian dengan sikap usil terhadap kawan-kawannya. Ia hidup bersama seorang nenek. Ya, tepatnya mereka hidup berdua. Hanya berdua. 

Saya memperkenalkan diri. Saya bertanya, kemana si Aku. Si nenek menjelaskan, si Aku mengaku tidak sekolah, karena baru saja selesai ujian Mid semester. Jadi libur dulu, katanya. *wahai. saya menemukan satu kebohongan anak itu.

Menurut pengakuan nenek itu, si Aku telah bersamanya sejak ia berumur empat hari. Hanya bermodal kompeng, dot dan susu botol-lah ia membesarkan si Aku. Sebagai seorang nenek, katanya lagi, ia sungguh menyayangi cucunya itu. Ia juga menceritakan bagaimana pengorbanan yang dilakukannya untuk beberapa cucunya yang lain.

Nenek itu, meskipun kadang tak memasak, tapi ia meminta bantuan tetangga untuk memasakkan makanan untuk mereka. Dengan uang pensiunnya, si nenek mencoba memenuhi kebutuhan si Aku. Memberi ongkos dan uang jajan untuk si Aku.

"Tapi buk, payah bana manjagoan nyo." cerita si nenek tentang susahnya ia menjaga dan mendidik anak laki-laki yang bertumbuh remaja itu. "Kadang ia pulang jam dua malam, kadang jam tiga. Kemana anak itu, entahlah." Tambahnya lagi, "Kok pai-pai juo Ang, mati se den di rumah ko sia nan ka tau?" Suara si nenek mulai serak, matanya pun berkaca-kaca. 

Nah! Kebohongan kedua. Pengakuan si Aku, ia selalu di rumah. Bahkan untuk sekedar main bola sore pun, ia jarang lakukan, karena khawatir neneknya yang tinggal sendirian. 

Masalah yang mengantarkan saya ke rumahnya bukan tentang kebohongan itu. Sebabnya adalah, si Aku sudah lebih lima kali hari Selasa tak datang ke sekolah. Dan, hanya hari Selasa. Ada apa dengan hari Selasa?

Bersama si nenek
Ada beberapa kemungkinan yang melintas di pikiran saya, pertama, mungkinkah si Aku bekerja pada hari Senin, lalu ia kelelahan dan tidak bisa datang sekolah hari Selasa. *Senin adalah hari 'balai' di kota kami. Atau, kemungkinan kedua, ia ikut seseorang yang mengantar barang-barang pada malam Selasa itu. *Seperti kasus siswa saya sebelumnya, yang menyetir truk mengantarkan seng/atap ke daerah (kabupaten) lain. Atau, kemungkinan lainnya, apakah neneknya sakit setiap hari Senin? Atau ia tak punya uang untuk berangkat sekolah setiap hari Selasa? Atau, atau yang lain?

Hari itu, memang belum ditemukan, apa sebab si Aku tak kunjung datang sekolah hari Selasa. Tapi, saya menyimpulkan beberapa hal, tentang kebohongannya, tentang cerita-cerita si nenek, tentang mulai menipisnya *mungkin* motivasi sekolah si Aku. Atau, ia sedang menghadapi persoalan lain, yang tak diceritakan kepada si nenek.

Lalu, kami membuat kesepakatan, saya dan si nenek. "Nenek jangan beri tahu si Aku dulu, tentang kedatangan saya hari ini. Besok, di sekolah saya akan panggil lagi, dan tanyakan kabarnya. Mana tau, ia bisa bercerita." Si nenek setuju. 

***
Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya home visit saat itu. 

Pertama, Ini hanyalah bagian perjalanan takdir. Maka adakah yang pantas disalahkan dengan keadaan semacam ini? Si Aku mungkin tak pernah menginginkan terlahir menjadi anak yang tak dibesarkan ibunya. Diurus oleh nenek, yang yaa..bagaimanalah kasih sayang si nenek, yang tak sanggup 'berang' karena terlalu sayang. Seberapa mengertikah si nenek tentang tugas-tugas yang dibebankan sekolah. Ah, diceritakan pun, mungkinkah si nenek mengerti tentang rumitnya hal-hal berkaitan jaringan, matematika, dan bahasa inggris? Saat remaja seusia itu sakit, masih ada ibu tempat mengadukan yang terasa. Si Aku? Tanggunglah saja sendiri. Ceritakan ke puskesmas, antarkan sendiri sakitmu, dan mintalah obat jika kamu memang mau sehat kembali. Bukankah hanya begitu yang mau tidak mau, rela tidak rela, harus dihadapinya?

Kedua, persoalan yang dihadapi si Aku, pastinya tak hanya perkara kasih sayang yang tak sempurna ia peroleh sejak masa kecil. Melainkan juga karena hitung-hitungan keuangan. Kebutuhan anak remaja, apakah terpenuhi dengan gaji pensiunan yang telah potong sana-sini, dan tentunya memenuhi kebutuhan mereka berdua? 

Ketiga, tekanan yang dihadapi si Aku di sekolah, kasus ini itu, mengantarnya bercerita atau mengadu kepada siapa? Ibu jauh, sibuk pula mencari uang. Ayah? Ayah tak tau dimana. Kawan? Seberapalah pedulinya kawan.. Ia memang menjadi korban. Efek keadaan keluarga yang tidak normal. Namun, ketidak beruntungan nasib hendaknya bukan alasan baginya kemudian menjadi lemah.

Keempat, Kalau saja ada lembaga atau yayasan yang peduli pada urusan finansial, juga kasih sayang. Kalau saja, ada banyak orang tua asuh, kalau saja mamak, sanak famili dan keluarga masih peduli. Sayangnya, kita terlanjur tak sabar. Sayangnya, keadaan itu hanya "kalau saja". 

Kelima, si Aku tak boleh berhenti sekolah. Ia harus punya modal keterampilan untuk masa depannya. Tapi yang lebih utama, ia harus tahu : "Berpikirlah Aku. Begini hidup mengajarkan kita..Ya, Beginilah."

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...