Showing posts with label catatan jalan. Show all posts
Showing posts with label catatan jalan. Show all posts

16.5.17

On-The Mandeh!

Mungkin sedikit terlambat, di Nimiasata ada tulisan On The Mandeh ya. Tak apa,, kata orang biar terlambat, daripada tidak sama sekali. 
Awal Mei ini saya bersama kawan di sekolah, jalan ke Mandeh. 
Kawasan Mandeh merupakan paket komplit penyuka wisata bahari. 
View yang tampak dari Puncak Mandeh sungguh memanjakan mata. Tak heran, bila ia disebut-sebut sebagai Raja Ampat-nya Sumatera Barat. 

Dari Kota Padang, kita menempuh perjalanan sekitar 1 jam perjalanan. 
Tak jauh dari gerbang masuknya, akan banyak ditemui agen-agen sewa perahu. 
Dari tempat sewa perahu itu, butuh waktu sekitar 10-15 menit melalui jalur sungai untuk sampai laut. 
Di sisi kiri dan kanan anak sungai itu, ada tanaman bakau dan tanaman pesisir lainnya. 

Ada banyak pulau yang bisa dilihat, atau bahkan didatangi pengunjung ke Kawasan Mandeh ini. 
Di anataranya adalah Pulau Sironjong, Pulau Pagang, Pulau Sulthan/Setan, dan Pulau Marak. 
Ada juga Pulau Sikuai, dan beberapa pulau lain yang sepertinya akses ke sana cukup terbatas. 

Kami sempat mendaki puncak di Pulau Setan itu. Namanya Puncak Puvy. Barangkali sudah disiapkan sebagai salah satu spot berfoto bagi pengunjung. Dari pulau ini, perjalanan dilanjutkan ke pulau lain, yang air disekitarnya tidak terlalu dalam. Lumayan banyak ikan, terumbu karang dan biota laut lainnya. 
Sebagian teman saya snorkeling di pulau ini. Sayangnya, saya belum coba. Mungkin lain waktu ke sana lagi. Hehehe.

Karena cuaca yang kurang bersahabat, tak banyak yang bisa dilakukan, juga tak begitu 'rancak' diabadikan. 
:)

28.2.17

Bagaimana Jika Saya Nikah dengan Pasangan Beda Agama?




Salah satu mata kuliah saya saat ini, adalah Masail Fiqhiyah. Saya lalu mendapat bagian pembahasan makalah terkait pandangan fiqh klasik dan sistem perundang-undangan Indonesia tentang kawin beda agama ini. Lebih khsususnya perkawinan antara muslim dengan non muslim. 

Setelah diskusi, saya ingin menulis di sini dengan judul “bagaimana jika saya kawin dengan pasangan beda agama?”, agar pembahasan ini menjadi sedikit sederhana. 

Oke, mari kita duduk-kan perkaranya satu per satu dulu.
  1. Beda agama dalam konteks ini, perlu dipahami terlebih dahulu. Dalam Alquran,  term digunakan adalah:
    1. Musyrik; Dalilnya adalah al Baqarah ayat 221. Mengacu ke ayat ini, jelas pria dan wanita muslim haram hukumnya kawin dengan orang musyrik.
    2. Kafir;  Dalam surat Al Mumtahanah ayat 10 disebutkan larangan kawin dengan orang kafir.
    3. Ahl kitab; Fiqh klasik berdasarkan surat Al Maidah ayat 51 disebutkan kebolehan kawinnya pria muslim dengan perempuan ahli kitab.
Ahl kitab adalah umat yang memeluk agama yang telah diturunkan sebelum Al Quran. Ahli kitab adalah Nasrani dan Yahudi.
Terdapat perbedaan pendapat, apakah Nasrani dan Yahudi hari ini, tergolong ahli kitab? Apakah keyakinan terhadap ‘tauhid’ masih bisa diukur dengan kitab suci yang dijadikannya patokan sekarang? Apakah masih ada yang terjaga keimanannya, sebagaimana agama itu diturunkan dahulu? Baiklah, kita tak akan berlama-lama dalam perdebatan siapa ahli kitab hari ini.
Kita hanya akan bicarakan, ‘kalaupun, nasrani Indonesia hari ini adalah ahli kitab, apa hukumnya pria muslim kawin dengan wanita Nasrani?’

  1. Dasar hukum Islam di Indonesia, salah satunya adalah Kompilasi Hukum Islam. Di dalam KHI dengan tegas disebutkan larangan menikahnya umat Islam dengan non Muslim.
Lalu, apakah dengan begitu, KHI tidak sesuai dengan Al Quran? Kenapa KHI melarang, sementara dalam fiqh klasik saja, boleh hukumnya pria muslim menikahi wanita ahl kitab.
Yang pertama, larangan kawin dalam KHI disebutkan dalam beberapa teks.
a.        “perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.”
b.      Pasal 40 point c, “dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam.”
c.  Kemudian dalam pasal 44 dinyatakan bahwa seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam.

Ini artinya, KHI benar-benar menutup peluang kawin dengan non muslim.
Jika saya adalah seorang perempuan muslim, maka tak ada satu celah pun bagi saya untuk menikah dengan/dinikahi oleh pria non muslim.
Jika saya pria? Saya ingin menikah dengan seorang wanita baik-baik (muhshanat) dari umat Nasrani (anggaplah ia ahl kitab). Bagaimana fiqh kontemporer memandangnya?

  1. Contoh kasus, dulu, ada kemungkinan kawinnya muslim dengan non muslim, melalui aturan ‘perkawinan campuran’, yang dianggap makna campuran itu, selain berbeda bangsa/kewarganegaraan, juga berbeda agama. Maka dengan alasan ini, ada yang berdalih untuk menikah beda agama.
Argumentasi yang dipakai adalah, pasal 57 tentang perkawinan campuran, yang menitikberatkan pada dua orang  di Indonesia yang tunduk pada hukum berlainan. Artinya, pasal ini juga mengatur perkawinan antara dua orang yang berbeda agama.
Jika agamanya, Islam, hal ini lebih lanjut diatur dengan : Ditolaknya permohonan kawin yang diajukan oleh pasangan beda agama (muslim dengan non muslim) di Kantor Urusan Agama. 

Sementara pada pasal 10 Peraturan Pemerintah No.9/1975 dinyatakan bahwa, perkawinan baru sah jika dilakukan di hadapan pegawai pencatat nikah dan dihadiri dua orang saksi. 

“Pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk.”
Maka, dengan teks ini, jika pasangan beda agama yang salah satunya muslim, akan menikah, tak ada jalan selain salah satunya mengikut untuk tunduk dinikahkan menurut ajaran salah satu agama. 

Dari hal ini, dapat dilihat kualitas keberagamaan pasangan tersebut. Islam melarang kawin dengan non muslim sesuai Al quran surat Al baqarah 221. Sedangkan dalam ajaran Kristen juga ada larangan kawin beda agama (II Korintus 6: 14-18).

Maka pandangan fiqh kontemporer terhadap hal ini adalah:
1.      Kaidah fiqh
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
‘dar ul mafaasid, muqaddamun ‘ala  jalbil mashaalih’
mencegah kerusakan lebih diutamakan dari mencari kebaikan.

Tak dapat dipungkiri,  kecendrungan setiap pemeluk agama, ingin berdakwah untuk agamanya masing-masing. Dalam konteks pria muslim dengan wanita nasrani, kemungkinan dakwah memang ada. Tapi tak ada jaminan bahwa benar yang didakwahi akan sampai hidayah kepadanya.  Sementara, kemudharatan/kerusakan yang ditimbulkan oleh keputusan tersebut, berefek/berdampak terhadap banyak hal. 

Diantaranya adalah tujuan menciptakan keluarga yang memberi ketenangan (sakinah) sulit terwujud dalam rumah tangga yang memiliki tingkat perbedaan yang tinggi. Apakah lagi, perbedaan keyakinan. Dampak psikologis dan pendidikan yang akan dialami anak ke depannya, faktor sosial lingkungan keluarga, dll, adalah kerusakan-kerusakan yang mungkin ditimbulkan. 

Maka sesuai kaidah ushul ini, lebih diutamakan mencegah kerusakan daripada mencari satu kebaikan saja.

Hal ini sejalan dengan Fatwa MUI tanggal 1 Juni 1980, yang mengharamkan kawin beda agama. “setelah mempertimbangkan bahwa mafsadahnya lebih besar daripada maslahatnya, MUI memfatwakan perkawinan tersebut hukumnya haram”. 

2.      Dalam Islam, ada namanya maqaashid syariah. Dalam konteks nikah beda agama, dengan dikhawatirkannya kerusakan agama ini, bertentangan dengan prinsip maqaashid syariah, yaitu Menjaga Agama.

3.   Saad azzariah, sebagai salah satu metode istinbath hukum dalam Islam, dengan menutup jalan yang berpotensi menimbulkan kemudharatan. Hal ini dianggap sebagai tindakan preventif dalam menjaga Islam, dan diri ummat dari berbagai kemungkinan kemudharatan yang ada.

Maka, jika saya adalah penganut yang taat pada agama saya, (dalam hal ini, Islam), tentu saya akan mempertimbangkan segala kajian fiqh kontemporer ini. Saya tak mampu memikirkan dengan nalar pribadi, memahami maksud ayat dengan penafsiran sendiri, atau menduga-duga, ‘kenapa ayat menjadi kontradiktif dalam penetapan hukum, di sini dibolehkan, di ayat lain justru dilarang’.

Dan, sekalipun ada juga yang kemudian menikah beda agama, baik dengan tunduk pada salah satu agama, --walaupun untuk sementara--, atau, dilakukan juga menurut dengan agama masing-masing, atau menikah di luar negeri, atau.. atau lainnya, maka jelas sudah.. telah tertutupnya pandangan keislaman –hati dan nalar- saya. Dan mengutamakan ‘sesuatu yang tak berarti lebih abadi’ itu.

8.2.17

Trip Sehari ke Bintan

Welcome to Bintan! 
Yeye..akhirnya saya mendarat di pulau terbesar di antara 3000 pulau yang termasuk dalam daerah Riau Kepulauan. Akses yang dipilih menuju Bintan saat itu adalah menggunakan kapal Roro (Roll On Roll Off) dari pelabuhan Telaga Punggur, Batam. Sedangkan untuk kembali, dari Bintan ke Batam, kami (saya dan beberapa teman) menggunakan speedboat. 

Ini dia, kak Ve!
Jam tujuh pagi kami sudah sampai di pelabuhan Telaga Punggur. Maklum, karena saat itu, saya bukanlah murni sebagai pengunjung, turis, atau traveler bebas lah. Saat itu, saya ikut serta tim/rombongan trip yang dikelola kakak angkat di sana. Jadinya, harus cepat-cepat sampai, lalu ikut kakak - mari kita sebut saja, kak Ve-, memastikan tiket untuk 80 orang rombongan yang telah disepakatinya dengan agen travel daerah lain sebelumnya.
Nah, tentu saja saya ikut. Ikut-ikutan kesana kemari. Ikut juga diplomasi -yang ga bisa dikatakan diplomasi juga sih, karena petugas pelabuhan di sana sudah kenal semua dengan kak Ve-. Setelah memastikan peserta trip naik kapal, kami ikut naik kapal. Di sini, saya memilih berpisah dengan kak Ve.. saya mau menikmati suasana, mencari spot terbaik, duduk atau cari tempat pegangan yang tepat. haha. *beginilahh orang darat main ke pulau. :D 

Biasanya, kalau pakai kapal Roro, katanya kita butuh waktu satu jam perjalanan. Kita, kelamaan waktu itu menepi, karena harus nunggu kapal lain jalan dulu, yang masih parkir di pelabuhan Tanjung Uban Bintan. Kalau pakai speed, hanya butuh waktu 20 menitan. Selain beda waktu itu, juga beda harga, beda rasa. Saat hendak balik sore, cuaca lumayan gelap, hampir hujan. Dan menurut informasinya, ombak lagi tinggi. Ngeri juga rasanya diombang-ambing air di tengah laut dalam speed. Bikin pusing.

Oke, tujuan trip di sana adalah kolam renang terpanjang se Asia Tenggara (Treasure Island), Gurun Pasir, Lagoi Bay dan kulinernya. Di Bintan sebetulnya masih ada tujuan wisata lainnya, seperti Patung Seribu, Pantai Trikora, Nirwana resort, tapi kita ga jalan ke sana karena hanya sehari jalan. 

*Treasure Bay Bintan
 Inilah paket wisata air kekinian -katanya termegah se Asia Tenggara- yang berada di Bintan. Dia adalah kolam renang yang dikonsep menyerupai pantai. Air yang biru, dipadu dengan "pasir putih buatan" -sepertinya dari bahan fiber- yang bikin mata silau kalo tengah hari, disambung dengan pasir pantai beneran, yang ditata di sana pepohonan pantai dan area serta fasilitas buat berjemur, kursi pantai, payung-payung,dan tenda-tenda. 
Selayaknya wahana bermain di air, disini juga disediakan berbagai fasilitas. Mulai dari balon air, wahana water sport, donat tubing aneka rupa, kapal bertenaga surya dll. Di sekitar kolam renang, kita bisa menggunakan scooter berkeliling, disiapkan juga area bermain segway.  Dan tentunya, ada harga yang mesti dibayar untuk semua fasilitas tambahan itu. Secara umum, tarifna berkisar di 40ribu hingga 300ribuan per 30 atau 15 menit. 
Treasure Island




Ini loh, kolam renang terpanjang itu. Menyerupai laut ya. Padahal buatan loh.. buatan..

*Gurun Pasir
Ini adalah area bekas tambang, yang dikelola masyarakat setempat seakan adalah gurun pasir. Di sana disedikan juga onta-onta buatan (2 dimensi) untuk berfoto. Pengelolaannya masih sangat sederhana. 

*Lagoi Bay
 Berbeda dengan nuansa saat berada di Treasure Bay tadi, di Lagoi Bay, ini beneran pantainya. Bukan kolam renang, bukan pepasir putih fiber. Sekilas saya melihat tak ubahnya pantai ini dengan pantai-pantai yang ada di Sumbar, apalagi kawasan wisata di Pesisir Selatan yang juga cantik. Tapi bedanya ada pada taman yang tertata di sekitar pantai, area parkir yang gratis dan luas, petugas keamanan yang keren, dan pusat hiburan anak-anak dan perbelanjaan -Lagoi Bay Mall- yang dibangun gagah di sekitar pantai. Selain itu, ada Danau (sepertinya buatan sih) dan hotel -Swiss Bel Hotel Lagoi Bay- juga. 

Lagoi sepertinya bisa jadi pilihan menarik untuk wisata pantai di kawasan Batam, Bintan dan sekitarnya. Karena pengelolaannya yang lebih profesional, tampilan lebih modern, memberi warna internasional di pantai lokal ini.

Ada sewa jetski, kayak dan kano juga
Mumpung masi suasana imlek, banyak warna merah beredar di sini
Selpii
Saran saya, kalo jalan sendiri (atau berdua), maksudnya ya ga gabung sama agen travel, kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
* Informasi tiket. Dari Telaga Punggur ke Tanjung Uban, lebih hemat waktu naik speed. Pastikan saat beli tiket, kamu telah berada di bagian tiket dan pelabuhan yang tepat. Bukan di Roro.
** Kapal berangkat setiap setengah jam. Jadi, sepertinya ga masalah mau menyebrang jam berapa pun. (kalo cuaca aman ya). Asal ga ketinggalan kapal, kita pas mau balik, ga perlu beli atau booking tiket dulu, karena kita bisa bayar di speed langsung. 
*** Oya, transportasi selama di Bintan, boleh ditetapkan sejak awal. Karena akses kemana-mana bakalan susah tanpa kendaraan pribadi, dan tarif ojek di sana mahaall beut. Lebih baik sewa motor atau mobil, harganya standar juga kok. 

Dan, ini beberapa dokumentasi saya.
Pastikan pengunjung nyaman dulu
Berpose di depan bus para wisatwan.
*saya nyamar sbg co-tour leader lah kali ini. haha

Melaut kita lagi.. :)

22.6.16

Nagari Wisata Balimbiang

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sedikitnya 13 ribu pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Ada lima pulau besar, yang mempunyai keragaman suku bangsa serta kebudayaannya. Bahkan, untuk satu propinsi saja, ada perbedaan adat istiadat satu daerah dengan yang lainnya. Keragaman inilah yang menjadi keunggulan pariwisata negeri ini.

Demikian juga dengan wisata Sumatera barat. Saat ini yang menjadi ikon wisata Sumbar dikenal pada beberapa objek wisatanya, seperti Rumah Gadang Pagaruyung Batusangkar, Jam Gadang di Bukittinggi, Lembah Harau Payakumbuh, sejumlah danau, pulau-pulau dan wisata bahari di pesisirnya. Selain tempat-tempat kenamaan itu, sebetulnya Sumbar juga mempunyai konsep wisata seperti yang sedang digalakkan beberapa daerah wisata lainnya, seperti Bali, yaitu desa wisata.

Sumbar sendiri sudah punya desa wisata Rantih, dengan mengedepankan keindahan alam, air terjun dan pemandangan yang menarik di Kota Sawahlunto. Atau kawasan wisata kuliner di beberapa kelurahan di Kota Payakumbuh. Sayangnya, tak banyak yang muncul ketika kita lakukan pencarian google, dengan kata kunci desa wisata di Sumbar.

Wisata didefinisikan dengan bepergian bersama-sama baik untuk memperluas pengetahuan, atau bersenang-senang/bertamasya. Sedangkan desa wisata, merupakan  kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus yang layak untuk menjadi daerah tujuan wisata. Jika daerah-daerah di Sumbar dikelompokkan menjadi nagari-nagari, tentu tidak salah pula istilah tepatnya kemudian menjadi Nagari Wisata.

Adapun yang menjadikan desa wisata/nagari wisata itu berbeda dengan objek wisata, salah satunya adalah tentang pengelolaannya. Nagari wisata, dikelola oleh, untuk dan milik nagari. Secara bersama-sama desa itu dihidupkan budayanya, kulinernya, kendahan alamnya, dan hal-hal lain yang tak dimiliki daerah lain. Dilakukan oleh masyarakat setempat. Dinas pariwisata tentu juga terbantu dengan sistem terpadu tersebut.

Di antara ragam wisata yang dapat dikembangkan nagari, selain objek wisata alam dan sejarah yang telah ada, adalah dengan meningkatkan kreatifitas masyarakat setempat. Seperti wisata petualangan, wisata agro, wisata kuliner, wisata budaya, dan wisata kreatif. Dapat pula dikelompokkan kepada bentuk wisata sejarah, wisata edukatif, dan wisata kreatif. Selain itu, nagari juga bisa menciptakan sendiri /menemukan konsep wisata sesuai kebutuhan dengan pertimbangan potensi dimiliki.

Sekedar mengambil perbandingan, seperti dikutip dari Kompas.com, pemerintah provinsi Bali berupaya membangun 100 desa wisata sejak 2013 hingga 2018. Saat ini sudah terbentuk 56 desa wisata.
Bagi mereka, pembentukan desa wisata menjadi model terbaik di industri pariwisata. Budaya, adat, lingkungan, dan keterlibatan masyarakat lokal mampu terjaga dalam pengelolaan desa wisata ini.

Salah satu daerah yang telah dicanangkan menjadi kawasan wisata terpadu, adalah Nagari Balimbiang, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Hal ini dapat dilihat melalui, masterplan yang terdapat di Rumah Gadang Kampai Nan Panjang, Balimbiang.

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

Seorang warga, Hitler, menyebutkan masterplan itu telah sejak lama berada di sana. Turis-turis juga sudah sering datang dan berkunjung ke Balimbiang. Namun, belum sepertinya belum terberdayakan secara maksimal. Pertunjukan kebudayaan belum dikelola dengan apik, kulinernya juga belum begitu populer. Turi yang datang, hanya sebatas datang, mampir saja. Katanya, kita masyarakat sebetulnya bisa memberi lebih. Namun itu belum terlaksana.

Untuk menjadikannya sebagai kawasan nagari wisata terpadu, tentu tak cukup dengan menghadirkan cagar budaya Rumah Gadang 'hitam' itu saja. Beberapa kawan dari karambia.tour, melihat adanya potensi wisata petualangan/ adventure di sungai Batang Ombilin, yang melintas sampai ke Balimbiang.



Daerah ini juga memiliki masakan khas, yang tidak terdapat di daerah lain. Gulai Pucuak Palangeh, misalnya. Bahkan, Balimbiang diketahui sebagai daerah produsen Lamang Tapai yang dijual di pasar Batusangkar. Karena mengusung konsep tak perlu datang ke seluruh pelosok negeri, jika di satu tempat sudah menyediakan seluruhnya, Balimbiang bisa dimunculkan menjadi nagari wisata terpadu.


Pemandangan bukit dari sisi Sungai Ombilin

Wisata budaya juga ada, melalui pertunjukan-pertunjukan seni. Tak banyak daerah yang masih secara rutin melakukan pengkaderan, dan mengembangkan kegiatan seni untuk generasi muda daerahnya. Balimbiang adalah salah satunya yang masih melakukan acara pertunjukan Randai, Pidato Adat, Pencak Silat dan Tarian Minang yang digelar secara rutin.

Selain keuntungan finansial atas kunjungan wisatawan, daerah akan memperoleh keuntungan lainnya, seperti rumah, jalan, sarana MCK dan lingkungan yang menjadi bersih dan tertata. Kegiatan seni di daerah itu menjadi terpelihara. Ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat daerah tersebut. Dan yang pasti, meningkatnya kesadaran dan perhatian warga terhadap lingkungan sekitar, serta wawasan/sumber daya manusia setempat.

Seoang pemerhati pariwisata menjelaskan, pengelolaan kawasan wisata terpadu itu sesuai dengan 11 asas yang diamanatkan undang-undang ( UU No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan).  Asas itu adalah asas manfaat, kekeluargaan, adil dan merata, keseimbangan kemandirian, kelestarian, partisipatif, berkelanjutan, demokratis, kesetaraan, dan kesatuan. Uang yang masuk dari wisatawan kemudian dikelola masyarakat, diputar dalam lingkup itu lagi.
Sunset di Balimbiang
Kita tentunya juga ingin berbagai tradisi, budaya dan kesenian asli daerah sendiri diketahui dan dilestarikan oleh generasi muda. Ingin pula, keunggulan daerah itu dikenal banyak orang, didatangi wisatawan luar daerah, luar nagari, dan luar negeri. Wisata yang kreatif, bukan latah ikut-ikutan yang sedang tren. Wisata yang mengedukasi, memberi nilai-nilai kemanusiaan, bagi sebagian kita akan lebih berarti daripada sekedar bersenang-senang. Bukankah berwisata adalah bepergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan?  (*)

1.6.16

Perempuan Kepala Keluarga

Namanya Kak Del. Sore itu, Kak Del terlihat begitu aktif jepret-jepret pengunjung Kelok Sembilan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Dengan hormat dan santun, ia mengatur posisi pengunjung, memunggungi jalan atau jembatan baru yang bergelung macam ular. Sesekali, ia mengarahkan agar sedikit bergeser ke kanan atau kiri.

Jepret! Kak Del memperlihatkan hasil jepretannya kepada beberapa orang ibu-ibu muda. Tidak terdengar jelas apa yang dibicarakan Kak Del dengan ibu-ibu itu. Yang jelas, setelah berbicara mereka terlihat mengangguk. Kak Del berjalan ke arah bahu jalan, sedikit memanjat batas besi pinggir jalan. Di jalan itu, telah berjejer beberapa motor dengan box di bagian belakangnya. Itulah motor, dengan fungsi stan cetak foto milik para fotografer Kelok Sembilan itu.

 
***

Box printer milik Kak Del
Kak Del adalah salah satu perempuan yang menjadi kepala keluarga di dalam rumah tangganya. Saya tidak tahu pasti, apa sebab, bagaimana kronologisnya ia kemudian menjadi kepala keluarga hari ini. Barangkali itu adalah privasi yang tabu ia ungkap, kepada saya yang baru ia kenali beberapa menit sebelumnya.

Kak Del memiliki seorang anak perempuan. Usianya kira-kira tujuh tahun, katanya. Anak semata wayang inilah yang menjadi kekuatannya melakukan apa saja demi kehidupan mereka berdua. Di samping ia tetap harus mengabdi kepada ibunya yang mulai tua.

Setiap pagi Kak Del berangkat dari rumahnya, yang berjarak lebih kurang setengah jam perjalanan motor, ke lokasi Kelok Sembilan itu. Rutinintas ini ia jalani baru sekitar dua bulan lalu. Bersama lima orang kawan lainnya, ia membentuk kelompok fotografer Kelok Sembilan. Meskipun belum berbentuk oganisasi resmi, saat ini para fotografer itu telah terlihat kompak dengan baju seragam Hitam-merah yang mereka gunakan.

Hari ini, menurut Ade- fotografer lainnya, ada sekitar 10 orang fotografer yang mangkal di sana. Karena hari sudah menjelang senja, "mereka sudah pada pulang," kata Ade. Dari 10 orang itu, ada tiga orang fotografer perempuan. Salah satunya adalah Kak Del.

"Saya termasuk yang awal-awal berdiri di sini," kata Kak Del.
"Saya mementingkan hasil", lanjut dia. Saya tak ingin nama fotografer Kelok Sembilan ini buruk, setelah pengunjung melihat foto-fotonya tak bagus, dan mereka bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Dalam sehari, Kak Del bisa mendapatkan lebih kurang sepuluh pelanggan foto, artinya sepuluh kali cetak. Biaya cetak foto ukuran besar (kertas A4), adalah 15ribu rupiah. Sedangkan ukuran kecil, harganya 10rb rupiah.

"Ini harga yang murah! Kawan-kawan fotografer di tempat wisata lain sampai marah ke kami", kata Kak Del lagi.

Menurut pengakuannya, ia pulalah yang mengajak kawan-kawannya untuk membuat baju seragam itu. Ia juga bertekad membentuk kesatuan, semacam organisasi. Dengan kelompok itu, mereka akan lebih terorganisir lagi. Ada asuransi, jaminan keselamatan kerja juga. Demikian ia berharap.

 ***
Sejak tahun 2000, Indonesia mulai memperhatikan keberadaan Perempuan sebagai kepala keluarga. Data dari Komnas Perempuan menyebutkan, alasan dibentuknya Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) adalah sebagai upaya mendokumentasikan kehidupan para janda di wilayah konflik, seperti Aceh.

Perempuan yang ditinggal mati suaminya di wilayah konflik jelas membutuhkan kepedulian bersama, khususnya negara.  Dalam PEKKA sendiri, selain janda yang ditinggal mati suaminya, juga termasuk istri yang memiliki pasangan hidup cacat tetap, atau perempuan yang menikah, dengan status tidak jelas, setelah ditelantarkan suaminya. Inilah fenomena yang ada saat ini. Mereka, adalah perempuan yang dititipi amanah menghidupi keluarganya. Dibebankan tanggung jawab sebagai pencari nafkah, pengelola rumah tangga, dan pengambil keputusan.

Menurut data Sekretariat Nasional PEKKA, perempuan kepala keluarga umumnya berada di usia 20–60 tahun. Mereka menghidupi antara 1-6 orang tanggungan. Sebagian dari mereka mengalami trauma karena tindak kekerasan dalam rumah tangga. Di antara mereka ada yang bekerja sebagai buruh tani, keryawan, dan sektor informal lainnya. Dan, Kak Del adalah salah satunya.


Apa yang bisa kita lakukan?
Membaca data tertulis dan melihat realitanya, tidak sedikit perempuan yang menjadi kepala keluarga di lingkungan sekitar kita. Mereka lebih memilih bekerja, -apa saja- agar tetap menjaga martabat keluarganya.
Apa jadinya, jika pilihan pekerjaannya adalah dunia tak baik?!

Membantu secara materi, mungkin bukan solusi bijak. Tapi membukakan lapangan kerja yang layak, atau ikut membantu mengembangkan usaha yang telah dirintisnya, bisa kita lakukan. Atau, memberikan pendidikan soft skill, keterampilan, agar ia mau berwirausaha. Bisa pula dengan berteman dan berbagi wawasan tentang hukum. Agar mereka tetap percaya diri pada peran dan posisinya di tengah masyarakat.

Keadaan menjadi kepala keluarga, tentu bukan keinginan mereka. Tapi bagaimana hendak menghadang takdir? Sedang mereka juga berhak sejahtera. 

Tubing Bareng Karambia, Mau?

Sudah tidak diragukan lagi, kalau Sumatera Barat memiliki alam yang indah sebagai potensi wisatanya. Selain keindahan pesisir pantai, serta pulau-pulau kecil yang menawan, Sumatera Barat juga mempunyai sejumlah sungai yang bisa dikembangkan menjadi objek wisata air.
Diantaranya yaitu sungai Batang Ombilin. Batang Ombilin terletak di kabupaten Tanah Datar, berjarak 24 km dari kota Padang Panjang. Selain pemandangannya yang menyejukkan mata, sungai-sungai ini bisa dijadikan wisata adventure juga. Misalnya, river tubing, river rafting, dan lain sebagainya.
Salah satu agen wisata Sumbar yang menyediakan fasilitas dan jasa sewa tubing rafting adalah Karambia Tours. Saya juga coba mengikuti mereka tubing beberapa waktu lalu.

Rute yang disiapkan Karambia, mulai dari Siturah sampai Balimbiang, kira-kira totalnya berjarak 5 km yang akan ditempuh sekitar tiga jam perjalanan air. Jarak dari Kota Padang Panjang menuju titik akhir tubing, Balimbiang, lebih kurang 31 km. Atau, dapat ditempuh dengan waktu lebih kurang 45 menit perjalanan.
Saat itu, saya memilih rute indah. *ehm! Maksudnya, yaitu jalur yang cukup aman, nyaman, dan 'ramah' buat perempuan. Jalur lain sih ada, namun cukup terbilang ekstreme.  Meskipun airnya tidak terlalu dalam, tantangannya pada jalur ini adalah bebatuan. Jika merasa tidak aman menghanyutkan diri, saya kemudian lebih memilih berjalan, di sisi sungai. :D :D

Sepanjang perjalanan rute satu itu, kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang tidak kalah indahnya. Selain sawah-sawah yang menguning,  berjenjang ke sisi bukit, kita juga bisa menyaksikan beberapa kincir air.
tubing 3.JPG 
Kincir Air. View yang bisa kita nikmati pada rute satu.
Sebagai 'pemain baru', saya harus mencari posisi duduk paling nyaman se-alam raya. Mencoba merasakan keseimbangan. Sambil terus menikmati pemandangan. Dan yang paling seru adalah, membiarkan diri diseret hanyut oleh derasnya aliran air.
Mungkin itulah yang dimaksud orang-orang dengan, "biarkan mengalir seperti air". Ya, yang bisa dilakukan adalah membiarkan. Karena kita tak cukup kuat untuk menahan. Tak ada jalan lain, selain membiarkan air yang mengantarkan. Itu lebih baik.
Kita juga akan mengikuti arus jeram-jeram kecil. Mungkin juga didorong ke tengah sungai. Dan, sesekali terbalik, jatuh, lalu membentur 'sesuatu'. Hahaha. *ini justru ditunggu! Tak perlu khawatir, kita dibekali dengan life jacket dan helm kok!

Menuju ke titik kedua, dibutuhkan waktu sekitar 40 menit.  Saya butuh sekitar lima sampai sepuluh menit di awal, sebagai waktu perkenalan dengan alam dan alat tubing. Dan pada rute kedua, mestinya sudah tak butuh menit-menit perkenalan lagi. Ibarat jalan raya, ya inilah tol-nya.

Rute kedua ini cocok banget buat yang ingin merasakan tantangan lebih. *lebih...dan lebihhh.. Jarak dari start poin kedua ke Balimbiang adalah 3.8 km. Normalnya ini dapat dicapai dalam waktu lebih kurang dua jam perjalanan air (jika arus stabil).

Ada air terjun di sisi kiri sungai yang bisa kita saksikan. Ada juga beberapa titik jeram, yang tidak bisa dikatakan rendah yang *kamu pikir bisa* dilalui dengan berjalan saja. Karena air di jalur ini cukup dalam. Mengalirlah saja!

Ok. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum tubing. Dan, biasanya persiapan-persiapan semacam briefing, stretching ringan, diberikan langsung oleh pemandu yang sudah berpengalaman*. (Om Op@y dan Om Agriel mungkin adalah orang yang saya maksud, haha.)  Tidak lupa, perjalanan akan didokumentasikan oleh tim fotografer andalan Karambia Tours, Om Dani! Ya, tinggal urusan hitung-hitungannya di akhir. hehehe

tubing om taufik.JPG

       River tubing bareng Karambia yukk! ;) -- Om Tovik siap menemani.
---------- More information, bisa ke sini :http://www.karambia.id/ . --------

7.10.15

Sehari ke NLS

Pagi itu suasana sekitar Victoria street, Singapore tidak begitu ramai. Ada beberapa orang  yang berlalu lalang, dengan langkah tegap besar-besar seakan dikejar waktu. Saat sampai di depan gedung Lee Kong Chian, saya tidak menduga bahwa itu adalah sebuah gedung perpustakaan. Jauh sekali dari bayangan, jika perpustakaan adalah bangunan tua, kuno dan berdebu.

Di lantai dasar terdapat pojok cafe dan "papan" informasi. Lee Kong Chian Reference Library sendiri ada di level 7 gedung itu. Level 5 adalah bagian drama dan koleksinya. Ada lagi level 9, yang memuat koleksi berbahasa melayu.

"papan informasi" :)

Secara keseluruhan, buku di sini tercakup atas bahasa inggris, cina dan koleksi asia tenggara lainnya. Menurut informasinya, perpustakaan ini dibuka sejak tahun 2005. Dengan jumlah buku lebih dari 600 ribu judul, baik klasik maupun terbaru.

These are the collections found at each level of the Lee Kong Chian Reference Library
Level 7 – Business, Science and Technology Collections
Level 10 – Donors' Collections, Asian Children's Collection
Levels 12 and 13 – Rare Materials Collection (limited access, only with permission)
Lantai dasar, bagian registrasi dan pusat informasi

Bangunan bergaya modern ini, diarsiteki oleh mr. Ken Yeang, jelas berbeda dengan tampilan luar perpustakaan negara malaysia, yang klasik dan sudah pernah kita bicarakan. NLS terlihat gagah dan megah.

Ruang baca National Library Singapore
Ada banyak koleksi buku berbahasa Inggris dan Asia di ruang bacanya. Di salah satu pojok ada bagian khusus majalah, rata-rata berbahasa inggris, meskipun sedikit-sedikit ada yang berbahasa cina dan melayu. Majalah yang dibagi berdasarkan usia pembaca, ada untuk anak-anak, dan dewasa itu, disiapkan secara gratis untuk pengunjung. Sayangnya, saya tidak bisa mengabadikan banyak saat di dalam, karena dilarang membawa kamera. Untuk bisa mengambil gambar ini (Ruang baca nls) pun saya meminta izin dulu, dengan menjelaskan keperluan dan mengenalkan diri serta asal.



Rangka
Tak hanya memiliki bangunan yang megah, fasilitasnya pun modern. Di antaranya adalah adanya jasa mesin penerima buku bookdrops yang bisa diakses 24 jam. Mesin ini bekerja memilah-pilah buku yang dikembalikan sesuai bagian masing-masingnya. Tentu saja, jika bukan buku koleksi perpus tersebut, mesin akan menolak. Untuk bisa mengetahui koleksi yang dibutuhkan juga dapat diakses dengan katalog online, Online Public Access Catalog.


Menjadi pengunjung perpus modern ini, ternyata membuat saya grogi. Pertama denga loker yang dikunci dengan kode/ password yang tersistem komputer. Lah, saya biasanya menggunakan loker dengan kunci yang digantung. Maka jadilah saat itu, saya harus menghafal beberapa kode, untuk setiap barang yang saya simpan, sekaligus menghafal kode loker teman seperjalanan dengan saya. hahaha.

Bersama petugas perpustakaan NLS
Dan, masalah terjadi saat saya hendak mengambil barang dari satu di antara empat loker yang saya dan teman gunakan. Saya lupa salah satu kodenya, dan kebetulan itu adalah loker yang isinya keperluan teman seperjalanan. Saya lalu melapor kepada petugas. Seorang Bapak petugas itu menjelaskan dengan ramah, apa yang harus saya lakukan.

Saya melapor lagi ke bagian resepsionis, lalu membuat surat pernyataan bahwa benar saya adalah pengunjung, dan isi dari loker nomor sekian adalah barang milik saya. Disebutkan pula apa isinya. Dilampirkan (tentu saja) identitas dan passport saya. --hallaah. Leganyaa, saat akhirnya proses itu berakhir. Namun saya mendapat pelajaran berharga dari cara-cara itu. Thanks mr and mrs petugas.. hehehe.

Kata si petugas lagi, NLS mendapat penghargaan sebagai perpus terbaik tahun 2013. Oh tentu saja, saya juga mengira demikian. Baik tampilan fisik yang menarik, plus koleksi yang banyak dan beragam, wajar saja jika ini menjadi tongkrongan anak-dan keluarga yang mencerdaskan.
Kita butuh adanya yang 'seperti ini' di sini. Kita butuh petugas yang ramah, fasilitas yang mudah. Kita akan bangga di negeri kita punya yang serupa. Namun kita akan lebih bangga, jika membaca, mengantri untuk membaca, menyediakan jadwal-jadwal membaca adalah budaya kita dari kana-kanak hingga dewasa. Pasti bangga. :)

Pemandangan Vict street dari lantai 5 Lee Kong Chian Library
membaca
Dan, informasi rute ini penting di simpan lebih dulu  :)

Melawat ke "Jendela Dunia" Negeri Jiran


Melawat ke "Jendela Dunia" Negeri Jiran

Pagi itu, Kuala Lumpur masih sepi. Belum banyak kendaraan berlalu lalang di Bukit Bintang. Barangkali, gemerlap malam tadi masih menyisakan lelah pelancong negeri jiran itu. Kehidupan yang begitu ramai menjelang tengah malam. Berbagai makanan justru tesedia waktu-waktu itu. Pengunjung dari berbagai negara, berbagai ras dan warna kulit menyatu di sana.

Saya menyusuri pinggiran toko dan hotel yang masih tertutup. Cukup sepi. Hanya ada petugas toko yang mulai membersishkan kaca, atau petugas kebersihan yang membersihkan sekitar toko. Saya justru menikmati pagi dengan kendaraan yang tak begitu ramai ini. Lebih leluasa memandang, menikmati. Tujuan saya hari ini tak begitu jauh dari penginapan. Saya juga telah menyiapkan catatan-catatan kecil hasil searching, bekal perjalanan. Rute, titik-titik stesyen, dan jenis-jenis transportasi untuk pulang, sudah dalam catatan. Kamera, pasport, ringgit dan makanan kecil juga sudah aman dalam tas.

Saya berjalan santai, meninggalkan area ramai turis itu menuju Titiwangsa. Kira-kira jaraknya 7 km. Dalam perjalanan lancar, bisa ditempuh hanya dalam waktu lebih kurang 15 menit. Karena tidak terburu-buru, saya menikmati setiap perhentian, persimpangan. Lalu sedikit mengingat, kenapa seperti Pasar Raya Padang di pagi hari ya? *ups.

Dan ya, target saya adalah melawat dan melihat, bagaimana rupa perpustakaan negara di negeri itu. National Library of Malaysia itu ada di 232, Jalan Tun Razak, Titiwangsa, 53200 Kuala Lumpur. Dari KL sentral kita bisa menggunakan monorail menuju "TKP". Bisa juga dengan taksi yang langsung turun tepat di depan gedungnya. Namun saya lebih memilih kendarahaan umum yang di Indonesia, masih dalam rencana pembuatannya. Mungkin karena masih minim transportasi jenis ini, jadi lebih menarik saja.

Perpustakaan itu bertetangga dengan Museum Sejarah. Bangunan dengan atap khas itu terdiri dari tujuh lantai. Lantai dasar, terdapat perpustakaan khusus anak-anak. Dari pintu masuk di lantai satu, kita dihadapkan pada ruang terbuka dengan pemandangan area pendaftaran dan sofa/tempat duduk yang bersisian.
Pemandangan dari lantai satu

Buku-buku yang dipamerkan
Si Miniatur Kapal yang Tak Mini



Ada pula bagian ruangan yang digunakan untuk pameran. Ada miniatur *cukup besar* kapal di tengah-tengahnya. Di dalam kapal terdapat foto-foto dan patung -orang-orangan kapal-. Hati-hati menyusuri ruangan gelap di sana. Kalau kata saya, ya jangan sendiri jalan ke dalam kapal itu. Jangan pula kaget dengan kemiripan dan kengerian asli "penghuninya". Cukup horor. Hiiii...

Di dalam kapal
 Lebih ke sisi kiri ruangan di lantai itu, ada pojok samsung smart library. Di sini kita dibebaskan mengakses e-book yang telah disediakan di dalam tablet, dan tersusun rapi di setiap meja. Pengunjung juga difasilitasi headset untuk mendengar music atau audio dari e-book itu.
Registrasi
Smart Library

Tampilan Layar Tablet

Di lantai satu itu, saya disapa petugas perpustakaan. Ditanya dan ditawari untuk ditemani. Saya perkenalkan diri sedikit, dan jelaskan tujuan bertandang ke sana. Mereka menyambut ramah. Kata mereka, bagian peminjamannya ada di lantai tiga dan empat. Jika berkenan, mereka mau antar ke lantai khusus membaca.

PNM
Secara fisik, tampilan perpus ini lebih terkesan klasik. Meskipun di dalam, tetap ada nuansa modern dan ramah teknologinya. Mungkin beberapa perpustakaan di Indonesia dapat bersaing dengan yang satu ini. Sedangkan dari segi kelengkapan isi, ketersediaan beragam buku dan fasilitas, saya tak bisa pastikan. Pasalnya, kita orang belum baca dan telusuri lebih.. hehe

Cukup berpusing-pusing di perpustakaan itu. Tak bisa berlama-lama. Agaknya, seronok lah bila dapat membaca dan berkunjung ke sana seringkali. Kapan lagi ya? Hahaha.


Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...