Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts

29.9.17

Mantan Perempuan Inspiratif

Aung San Suu Kyi. Penerima hadiah nobel perdamaian itu beberapa waktu lalu sempat ramai dibincangkan dunia. Pasalnya, sikap politis tokoh demokrasi Myanmar itu, dinilai tidak berpihak pada kemanusiaan. Ia diam di saat salah satu etnis minoritas di negaranya mendapat penindasan sistematis oleh etnis lainnya. Padahal, tahun 90-an justru ketika berada dalam penjara, ia menggaunggkan dan mendesak pemerintah Myanmar agar menerapkan keadilan dan penghormatan hak asasi manusia.

Berselang beberapa waktu sebelumnya lagi, Anniesa Hasibuan seorang desainer muslimah yang telah membawa nama Indonesia di panggung fesyen internasional, harus menerima status tersangka pada usianya yang masih 31 tahun ini. Sekian bilangan rupiah ia gelontorkan agar Indonesia turut serta dalam ajang bergengsi itu. Tentu bukan tindakan mudah, murahan atau bodoh yang ia lakukan demi persiapan semua  mimpinya tersebut. Namun sayangnya, kebijakan perusahaannya untuk menggunakan dana jamaah umroh untuk kepentingan pribadi itu, sangat tidak 'perempuan'.

Dari dunia politik, baru-baru ini kita dengar nama Rita Widyasari, bupati perempuan di daerah terkaya Indonesia -menurut salah satu media-, yang ditetapkan sebagai tersangka penerima gratifikasi oleh KPK. Sebelumnya, Rita adalah penerima penghargaan dari presiden karena dinilai berkomitmen tinggi atas pembangunan kesejahteraan keluarga dan kependudukan di daerahnya. Rita juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai tokoh inovatif dalam menciptakan kreativitas maupun usaha pembangunan, bidang pendidikan, sosial, kreativitas, hingga tercipta kesetaraan dalam gender. Ia menerima penghargaan sebagai wanita berpengaruh di Indonesia, yaitu kategori penghargaan Spesial Mention as Best Influential Women of The Year 2017.

Kalaulah bukan karena seorang yang 'inspiratif', tentu perempuan cantik ini tak akan menjadi bupati, lalu menerima berbagai penghargaan. Dan entah karena godaan setan yang bagaimana kita tak pernah tahu, ia melepaskan nama 'inspiratif'nya kini. 

Nama-nama ini adalah perempuan-perempuan hebat, pada masanya. Waktu dan keadaan membuktikan seberapa lama kehebatan itu bertahan. Dan media lah yang berperan melambungkan namanya, atau menjatuhkan lagi, dan menghapus mereka dari catatan sejarah.

Betapa  usaha dan kerja keraslah yang  telah dilakukan demi memperjuangkan apa yang mereka impikan. San Suu Kyi, melanjutkan mimpi ayahnya, Aung San. Dengan idealisme ia rela dipenjara. Tapi kasus Rohingya, memperlihatkan kepada dunia, 'masihkah' pantas ia tercatat sebagai penerima nobel perdamaian.


Sedangkan Anniesa, merintis karirnya dari titik nol. Tidak mudah baginya merintis bisnis travel dan desain pakaian hingga mencapai puncaknya, tercatat sebagai perempuan inspiratif, tak hanya Indonesia tapi dunia internasional. Lalu nama cemerlangnya kian pudar. Kesuksesannya sebagai desainer harus terhenti. (Terhenti: bukan berakhir. Karena kita tak pernah tahu, apakah musibah ini adalah akhir, atau ujian dan peringatan Tuhan terhadapnya.) Tapi doa dan kekecewaan 35.000 jemaah umroh yang belum diberangkatkannya, lebih menyedihkan.

Inspiratif
Jika kita runut lagi, tidak sedikit pula nama perempuan inspiratif, yang kemudian menjadi mantan. Saat mengikuti kasus Anggelina Sondakh, saya terpikir bagaimana anak-anaknya menjalani hidup. Ibu dalam penjara, dan ayahnya baru saja berpulang. Seperti apa kesedihan yang akan mewarnai hari-hari tumbuh dan berkembang mereka.
Aniesa Hasibuan, saat berpindah ruang dari istananya ke penjara, anaknya masih berusia tiga minggu. Tiga minggu! Hak apalah yang mungkin ia terima kemudian?
Lalu kita berpikir, apalah artinya sebuah label inspiratif, jika orang-orang terdekatnya tidak merasakan efek dari label itu.
Kalau begitu, setiap ibu yang melahirkan, mendidik, membesarkan dan memenuhi hak-hak keluarganya, itulah selayaknya mendapat label inspiratif. Dan, tentu saja jumlahnya banyak! Di setiap rumah, ada ibu yang berjuang untuk semua itu. Ada yang bahkan, dalam kesendiriannya, memerankan dua peran utama rumah tangga, menjadi ibu, sekaligus kepala keluarga.
Kalau begitu lagi, masihkah perlu ada ajang-ajang bergengsi pemilihan perempuan inspiratif itu? Logika kita tetap menjawab: Tentu saja. Jangan karena "marah ke tikus, lumbung dibakar". Tapi,, bukankah karena "nila setitik ini, telah rusak susu sebelanga."


Hhh.. Membincang perempuan itu, memang tak ada habisnya. Membaca realita, mencari idealnya, dan menemukan ketidakharmonisan semuanya. Bahkan, nama inspiratif pun kini telah menjadi mantan. Perempuan.

25.10.16

Si Aku Siswaku (3)

Ini adalah bagian terakhir cerita 'Si Aku Siswaku', sepertinya. Di sini saya tak lagi dengan rasa yang bercampur aduk, mimpi dan harapan untuk membina, upaya-upaya mengajaknya sekolah lagi.

Sehari sebelum Selasa, minggu ini, si Aku tiba-tiba datang ke sekolah. Ia menemui kami, dan menyampaikan kebutuhannya, Rapor. Buku Laporan semester dan mid semester itu ia butuhkan untuk mendaftar di sekolahnya yang baru.

Saya lalu menyiapkan apa yang dimintanya. Meski ia terlihat gugup, sedikit khawatir, dan menjaga kata-kata yang terucap, tapi ada sesuatu yang sedang ia tahan-tahan. Semoga tak terucap, mungkin begitu.

Dari siswa lain, tetangganya, dan seorang guru yang masih di lingkungan rumahnya, saya dengar kabar, bahwa ia telah bersekolah di tempat yang baru. Itu adalah pilihannya. Sedikit kecewa tentu saja. Saya seperti tengah dikhianati. Masih ingat rasanya, bagaimana si nenek bercerita. Masih terbayang pula bagaimana "mendewasakannya' lewat pertemuan-pertemuan. Juga upaya menemuinya ke rumah, yang tak berujung pertemuan. Ya sudah. Sampai di sini rupanya.

Si Aku telah memilih, dengan begitu ia tetap memikirkan masa depannya. Syukurlah. Meski bukan di sini. Dan, bukankah tak hanya di sini ia akan sukses. Barangkali proses ini menjadikannya momen untuk berubah lebih baik. Meskipun, harus berkorban uang lebih.

Satu lagi kabar yang membahagiakan. Ayahnya yang tak kunjung bersua, setelah 17 tahun itu, kini bersedia membiayainya sekolah. Entah di kota lain, entah masih di sini. Informasinya masih belum pasti. Kabar ini langsung saya dengan darinya. Bukan dari tetangga. Tentu ini lebih valid ya.

Mari fokus pada yang dua puluh dua lainnya, bukan pada satu yang telah meninggalkan.
Selamat pada pilihannya, siswaku. Sampai jumpa pada sesi berikutnya kehidupan ini. Semoga telah lebih baik.

4.10.16

Sosok Perempuan Inspiratif (1)

Yessi Endriani Ramlan N.
  
Indonesia memiliki begitu banyak perempuan inspiratif. Perempuan inspiratif itu, tak hanya punya kepercayaan diri yang kuat tetapi juga mampu menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya. Kota Bukittinggi memiliki sosok perempuan inspiratif yang tak sekedar mandiri secara ekonomi, tetapi juga menjadi teladan dalam membina rumah tangganya. Dialah Yessi Endriani. Seorang perempuan kelahiran Bukik Kulirik, pada tanggal 24 Desember tahun 1967. Yesi merupakan anak dari bapak Y. Dt. Rajo Mogo.

Yessi berpandangan bahwa seorang perempuan tidak boleh melupakan kodratnya selaku istri dan juga ibu. Di samping itu, perempuan tentu saja boleh berkarir, berkarya dan berprofesi di bidang apapun. Tugas terberat dari seorang perempuan adalah menjadi ibu dan teladan bagi anak-anaknya. Perempuan sebagai pendamping suami, lebih bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya untuk menjadi generasi terbaik penerus bangsa.

Pandangan seperti itu, tidak terlepas dari proses pendidikan yang telah dilalui Yessi. Setelah melalui pendidikan Sekolah Dasar di SD Benteng Lamo, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, pada tahun 1981, Yessi lalu melanjutkan ke SMP Pakan Kamih, tamat pada tahun 1985. Ia menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 1988 juga di SMAN Pakan Kamih, Kabupaten Agam.

Setelah lulus dari SMA, Yessi melanjutkan kuliahnya di Universitas Putra Indonesia (UPI YPTK) Padang. Semasa kuliah atas prestasi nilai tertinggi di kelas ia mendapat beasiswa berupa bebas uang kuliah untuk semester berikutnya. Hal itu menjadi motivasinya dari semester ke semester untuk tetap menjadi ‘juara kelas’ di kampusnya. Pengalaman lain yang diperoleh dengan juara itu adalah Yessi difasilitasi jalan-jalan ke Jakarta dan Bandung dari pihak kampus.  

Pada tahun 1990 ia memulai karirnya di Bank Bukopin Padang. Yessi terus belajar dalam tugas barunya saat itu. Tercatat ia mengikuti beberapa training yang diselenggarakan Bank Bukopin. Salah satunya basic credit training yang dilaksanakan di Ciloto Indah Permai, Puncak Bogor, pada tanggal 27 Mei sampai dengan 8 Juni 1996. 

Atas dedikasi dan kesungguhannya, ia kemudian dipercaya menjadi kepala bagian SDM di bank tersebut. Namun pada tahun 2004 ia memilih keluar, atas pertimbangan keluarga. Demi mengiringi perkembangan anak-anaknya yang saat itu masih kecil, Yessi meninggalkan karirnya.

Yessi dan Pola Mendidik Anak

Hal yang sempai saat ini masih diteruskan Yessi dalam mendidik anaknya adalah kegiatan magrib mengaji.  Sejak kecil Yesi sudah dibiasakan oleh orang tuanya untuk mengaji/membaca Al quran setiap selesai shalat magrib. Kebiasaan itu ia ‘wajibkan’ pula kepada anak-anaknya. Menurut Yessi, membaca Alqruan rutin selepas shalat maghrib tak hanya sebagai tradisi yang baik saja, melainkan juga berdampak positif pada perkembangan perilaku dan kecerdasan anak. Itulah salah satu bentuk teladan Yessi di tengah keluarganya.

Bagi Yessi, masing-masing anak memiliki keistimewaan yang tak bisa disamaratakan penilaiannya satu dengan lainnya. Perlakuan yang diberikannya terhadap anak-anaknya juga dengan memperhatikan keistimewaan masing-masing anak tersebut. Hal itu seperti yang pernah didapatkan oleh Yessi melalui Seminar Anak Nasional yang diikuti Yessi pada tahun 2000 lalu di Bukittinggi, dengan tema “Menemukan Pola Strategis Pengoptimalan Multi Potensi Anak Secara Dini Menuju Manusia Yang Utuh.”

Ibunda dari Sultan Fazbir dan Agung Farasky ini, tidak memaksakan anak-anaknya harus menjadi ‘Sang Juara’ di sekolahnya.  Tetapi ia terus mengajarkan anak-anaknya untuk terus berproses menjadi lebih baik. Kepada mereka, Yesi sering sampaikan bahwa berprestasi itu memang suatu keharusan. Untuk mencapainya diperlukan daya juang yang tinggi dan usaha yang maksimal. Sementara untuk bisa menerima hasil akhirnya, dibutuhkan rasa percaya pada ketetapan Allah. Setelah berusaha, hasil selanjutnya diserahkan kepada Allah, katanya.

Tentang kepintaran anak, baginya bukanlah selalu perkara nilai dan nilai, tetapi juga tentang bagaimana pintar bersosial dengan kawan. Saat ia bersekolah dulu, Yessi juga bukan anak yang selalu juara 1 di kelasnya. Katanya, ia hanyalah siswa biasa yang senang berteman. Namun demikian, ia terus belajar dan berusaha menjadi lebih baik. Usaha itu terbukti dengan pencapaiannya menjadi siswa dengan nilai Ebtanas Terbaik di sekolahnya saat itu. Cara seperti itu juga dia ajarkan kepada anak-anaknya.

Selain bimbingan dan perhatian yang senantiasa ia berikan, Yessi berprinsip untuk memberikan makanan yang halal lagi baik, demi kecerdasan dan perkembangan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan tuntunan dalam Islam. Makanan yang baik merupakan awal bagi kebaikan seseorang.

Menurut Yessi, jika ingin anak-anak tumbuh dengan baik, berikan makanan yang halal dan baik untuk tumbuh kembang anak tersebut. Kita perlu memperhatikan apa yang dimakan oleh anak-anak kita, kehalalannya dan kebermanfaatannya bagi mereka.

Jika sudah memberikan perhatian penuh terhadap anak, membimbing dan mendidiknya secara baik, serta memperhatikan makanan mereka, kemungkinan anak akan tumbuh menjadi anak yang baik tentu lebih besar. Lebih jauh lagi, visi perlindungan anak, yakni menjadikan anak Indonesia yang sehat, tumbuh dan berkembang, cerdas-ceria, berkahlak mulia, terlindungi dan aktif berpartisipasi, bisa diwujudkan bersama. Di situlah menurut Yessi, peran besar  seorang ibu dalam rumah tangganya.

Memasuki Dunia Bisnis
Sumber foto : Bukittinggi info
Yessi kemudian memulai usaha mandirinya, dalam bidang konveksi di Pasar Aur Kuning Bukittinggi. Dalam perkembangannya, ia beralih membuka usaha jahit jilbab dan mukena mesin hitam, yang merupakan produk andalan khas ranah minang.

Bagi Yessi, tujuannya berwirausaha selain mengisi waktu luang dalam mendampingi suami, adalah memberi motivasi bagi perempuan di sekitarnya. Bahwa perempuan harus mandiri dan memiliki kepercayaan diri akan peran dan tanggung jawabnya di lingkungan keluarga dan juga masyarakat. Untuk mewujudkan mimpinya itu, Yessi juga membantu gadis-gadis di kampungnya, diajak berdagang di tokonya di Pasar Aur Kuning. 

Dalam hal keagamaan, Yessi tak ketinggalan untuk berpartisipasi aktif mengikuti kelompok pengajian dengan perempuan-perempuan yang berwirausaha. Ia juga membentuk kelompok arisan yang kemudian menggalang dana sosial, untuk disumbangkan ke panti asuhan, panti jompo, dan lingkungan masyarakat yang membutuhkan.

Sebagai wakil ketua di Ikatan Alumni SMA nya, Yessi bersama teman-temannya setiap sebulan sekali mengadakan kegiatan sosial, diantaranya membantu pembangunan mesjid, donator ke panti-panti sosial. Hal lain yang rutin dilakukan Yessi adalah melakukan pendampingan seorang pasien keterbelakangan mental ke psikiater. 

Sebagai seorang istri, Yessi berperan aktif mendampingi suami yang berprofesi sebagai pengusaha. Ketika suaminya diberi amanah sebagai Ketua KPU Kota Bukittinggi, Yessi ikut serta membantu dalam hal administrasinya. Selanjutnya terhitung bulan Februari tahun 2016, Yesi ikut mendampingi dan memberi dukungan penuh kepada suaminya, bapak Muhammad Ramlan Nurmatias, SH yang diamanahi menjadi Walikota Bukittinggi. 

Di antara konstribusi berarti dalam pembangunan bidang sosialnya, adalah keterlibatan langsung Yessi dalam mengelola, mengurus dan memimpin Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bukittinggi. Ia juga mengetuai Gabungan Organisasi Wanita Kota Bukittinggi.

Mimpi Yessi terhadap perempuan di kota Bukittinggi tak muluk-muluk. Ia hanya ingin, perempuan bisa maksimal dengan peran yang dipilihnya. Bila posisinya sebagai istri dan ibu, tentu keluarga merupakan hal utama yang perlu diselamatkan perempuan itu. Karena bangsa yang kuat itu berawal dari keluarga bahagia. Dan perempuan memiliki peran besar untuk mewujudkannya. Di samping itu, dengan kelebihan dan kemampuan yang dimiliki perempuan, ia pantas dan perlu menyuarakan pendapat dan aspirasinya di ruang publik, melalui kegiatan-kegiatan sosial dan karirnya.

___
Berdasarkan wawancara, 26 Agustus 2016

29.6.16

Resensi Kumpulan Puisi: Pesta Bulan Air Karya Ade Faulina


Judul buku      : Pesta Bulan Air
Pengarang       : Ade Faulina
Penerbit           : Kabarita
Tahun terbit     : Cetakan I, Mei 2016
Tebal buku      : 118 hlm
           
         Puisi menjadi gambaran pikiran seorang penciptanya. Penyair melalui puisinya kadang kala menyampaikan gagasan, kritikan, kenangan, atau impian lewat kata-kata yang indah. Demikian juga dengan, penyair perempuan Ade Faulina.         
            Buku yang berjudul Pesta Bulan Air ini hadir sebagai bentuk pembicaraan panjang seorang Ade Faulina. Rentang penciptaan puisi dari tahun 2007 hingga 2014, menggambarkan kompleksitas hal yang tengah dibicarakannya. Ia berbicara kepada dirinya, kepada sahabatnya, kepada alam. Puisi-puisi inilah yang menjadi cerita perjalanan dan rasa yang mengalir di kehidupannya.
            Sebagai buku pertama, mengenali dan menyelami puisi-puisi Ade Faulina bisa dilakukan pembaca lewat 111 puisi pilihannya. Seperti halnya kutipan puisi yang berjudul Menjelma Air, Ade menyampaikan keyakinan dan kemampuannya melalui episode hidup.

Menjelma Air

Aku datang dengan gelombang kuasa rampas segala
Riak debur gelombang mendera rasa
Manusia-manusia lugu yang bernyanyi tanpa suara
aku datang dengan kuasa membuang segala
mengembalikan arus-arus congkak
dalam tubuh beku tak tertahankan
hingga ruh-ruh itu menjauh
aku datang dengan kuasa mengubah diri menjadi segala
cair ataukah beku dalam waktu yang tiada diketahui
menggenangkan mimpi menghanyutkan nasib
masa silam akan datang
yang tiada bertepi hingga jelma
sebuah rahasia abadi
aku datang dengan kuasa atas segala
selalu menjelma air
padang, 18/1/2010 
            
          Ade mengibaratkan dirinya menjadi air lewat puisi Menjelma Air. Ada warna emosional yang berbeda dalam setiap bait yang tertulis. Puisi menjadi sebenarnya Ade, mengaliri kehidupan.
            Pada puisi-puisi lain, Ade bercerita tentang rasa yang mengaliri jantungnya. Rasa cinta dengan makna yang jamak. Beberapa nama dengan sengaja disebut, menunjukkan betapa mereka memberi rasa yang dalam bagi Ade.
            Air, kesunyian, berkata-kata dengan alam, orang-orang tertentu, dan dengan dirinya sendiri adalah pilihan-pilihan di antara puisi Ade.

Cuaca

Tak ada yang bertanam di lading kata
Hanya ada tanah sunyi
dan desir angin
yang diam-diam menghilang
merapat dalam cuaca
yang sulit ditebak
entah hujan ataukah kemarau
yang akan bertandang

Padang, 8/4/2013
           
Melalui buku ini kita bisa melihat apa dan bagaimana aliran perjalanan hidup, dan rasa cinta seorang Ade. Tak hanya sekedar hiburan. Buku ini bisa menjadi cermin bagi mereka yang juga tengah mengaliri sungai kehidupan yang berliku dan bergelombang ini.


 

18.11.15

yang tersisa dari #han tahun ini

With irvan


Duo bocah TK yang malu-malu pas diajak berfoto

Ada yang kenal nama si Om ini? Hehe

#yang tersisa dari peringatan han kota kami tahun ini.. :)

7.10.15

Review Buku: Bulan Nararya

Lebih Dekat dengan "Schizophrenia"
 
Bulan Nararya
Secara medis, schizophrenia merupakan kumpulan kelainan otak yang membuat penderitanya menafsirkan kenyataan secara berbeda. Orang yang menderita schizophrenia ini, seringkali berhalusinasi. Dengan halusinasi dan penyimpangan cara berpikir dan bertindak, penderitanya sulit membaur dengan masyarakat umum. Banyak pula yang menganggap penderita schizophrenia memiliki kepribadian ganda. 

Secara bahasa, kata ‘schizophrenia’ sendiri memang berarti ‘pemikiran yang terpisah’, tapi lebih condong kepada gangguan keseimbangan emosi dan cara berpikir. Schizophrenia adalah kondisi kronis yang memerlukan perawatan seumur hidup. 

Sebagai seorang psikolog, Sinta Yudisia, novelis perempuan FLP, menceritakan tentang penderita schizophrenia dalam novelnya Bulan Nararya (Indiva, 2015). Dengan latar belakang keilmuan yang dimiliki, penulis mengantar pembaca lebih dekat mengenal penderita salah satu jenis "penyakit gila" yang ada di masyarakat kita. 

Dalam kehidupan sosial, penderita schizophrenia pada dasarnya sangat membutuhkan kehadiran dan peran orang-orang terdekatnya untuk proses penyembuhan. Meskipun, perawatan yang disebut medis -sepanjang waktu- itu, membuat tipis peluang sembuh dan normal secara total bagi penderitanya. Rara- si tokoh utama dalam novel, mencoba menjelaskan secara ilmiah teori dan temuan barunya -metode transpersonal- demi upaya penyembuhan tersebut. 

Selain Rara, tokoh lain yang memberi kesan ilmiah, dan menambah pengetahuan pembaca soal penyakit ini adalah Bu Sausan. Dosen sekaligus senior Rara dalam dunia terapis. Bahwa ketulusan membagi ilmu, terus mengembangkan diri, merawat klien terapis menjadi ciri tradisi intelektual. 

Selaku terapis, Rara dan Bu Sausan juga pernah mengalami konflik dengan pikirannya sendiri. Masalah-masalah pribadi yang tidak luput dari kehidupan seorang terapis, menuntut Rara mampu menyelesaikan masalahnya sebagaimana ia lakukan kepada orang-orang yang diterapinya. 

Cerita yang tidak dapat diprediksi. Alurnya benar di luar dugaan. Pergolakan kisah tentang cinta antar sepasang suami istri, yang diwarnai dengan kepercayaan - sekaligus kekecewaan. Rara dan Angga. Cinta dua orang sahabat yang saling salut, juga ada cemburu. Rara dan Moza. Mencipta keluarga dari kasih sayang dan rasa sesama penderita. Yudhis- Sania dan Pak Bulan. Tentang pengorbanan dan pengkhianatan. Tentang cara mencintai yang tak serupa-semakna. Tentang melepaskan, perih dan cinta yang sesungguhnya. 

Novel ini jauh sekali dari kesan "cerita anak-anak" yang saya tangkap pertama kali dari melihat sampulnya.
Pertama melihat sampulnya, saya mengira novel itu seperti novel petualanga remaja/anak-anak. 

Novel ini, tidak terkesan #FLP banget. Sedikit ilmiah, untuk mengenal schizoprhenia, tapi tidak membosankan. Buku ini, recemended lah. :)



18.2.15

Tentang Ayahnya

Bukankah setiap kita memiliki kenangan bersama Ayah? 

**
Sore itu, saya mendapati rumahnya tampak sepi. Setelah dua kali mengucap salam, sambil sedikit menjulurkan kepala ke dalam rumah kayu sangat sederhana itu, terdengar jawaban dari dalam.
Seorang remaja laki-laki muncul dari bagian dalam rumah. Ia tengah memegang telinga periuk nasi. Lalu ditaruhnya di meja. Mengelap tangannya dan bersegera menuju pintu. Saya berdiri di pintu, ibu gurunya.

Sebagai wali kelasnya, saya merasa perlu melakukan kunjungan rumah siswa, untuk mengetahui perihal apa yang menyebabkan si siswa di sekolah "bermasalah".
Kita sebut saja "R". R adalah anak tunggal di keluarganya. Ayahnya, kira-kira berusia di atas enam puluh tahun. Dulu, ayahnya bekerja sebagai karyawan sebuah tempat pangkas rambut. Saat saya ke rumah R ketika itu, ayahnya terlihat berbaring di kamar yang hanya pas untuk satu dipan tempat tidur. Sambil batuk-batuk, ia masih menyempatkan menyapa saya, guru anaknya.
Si ayah, mencoba keluar kamar, menemui saya. Mencoba bergabung dalam pembicaraan. Saya jongkok di pintu. Bukan karena tak dipersilahkan masuk, tapi memang tak ada tempat untuk duduk di dalam ruang  kecil yang disebut "rumah" itu.
Dari sisi meja dekat kamar, keluar pula si Ibu. Ibu R kira-kira berusia 50 tahunan. Perempuan itu duduk di lantai. Lalu beringsut ke arah saya. Ia bersuara. Seperti menggumam, tak jelas. Tapi tampak dari wajahnya kesedihan. 

Keadaan itu, telah 'menceritakan' banyak hal kepada saya. Wajar, R yang baru kelas dua SMK, harus sekolah dan bekerja bersamaan. Di saat pagi harus pergi sekolah, sore pulang, lalu mengurus kedua ayah dan ibunya. Malam hari ia harus pergi ke pasar sayur, bekerja menjadi tukang parkir hingga menjelang pagi lagi. Demikian hari-harinya.

Kapan ia tidur? Itulah kenapa saya katakan wajar. Wajar ia seringkali tertidur di kelas. Wajar ia sering tak masuk jam pelajaran pertama pada hari-hari tertentu setiap minggunya. 
Namun tak wajar, dengan kesulitan itu, ia tetap peduli penampilan. Tak kurang gagahnya, dengan wajah bersih dan baju rapinya. 


***
Tengah hari Jumat itu, saya mendatangi rumah sakit. Entah kenapa, saat pertama mendengar kabar kawan-kawan sekelasnya, -tentu saja bersama wali kelas barunya-, mengumpulkan dana untuk membantu biaya perawatan Ayahnya, saya merasa harus membesuk mereka siang itu juga.

Sepertinya hari kesedihan itu tak mampu diberi warna. Mungkin saja kelabu, mungkin ungu, atau juga biru. Baginya, Jumat itu jelas saja memberikan nilai kedewasaan yang tak dimiliki remaja lain seusianya.

Saya masuk ruang itu. Dia kaget. Heran dan barangkali tak menduga kedatangan saya. Ada dua tempat tidur di ruang itu. Tempat tidur ayahnya, tepat bersebelahan dengan jendela. Mestinya tak akan terasa gerah di siang yang tak terlalu panas itu. Namun, Ayahnya terlihat begitu gelisah.

Saya tersenyum, menyapa beberapa laki-laki muda yang berada di sekitarnya. Dia menyalami saya, sedikit tersenyum.
"Sudah makan?" saya bertanya.
"Sudah Buk." ujarnya.
"Tadi pagi kah?" saya menebak.
"Hehe..iya buk".
Saya melihatnya mencoba santai dengan senyuman itu. Namun, terlihat jelas kecemasannya.

Murattal Yasin, sayup-sayup terdengar dalam pembicaraan kami.
"Ingatkan Ayahmu syahadat. Bisikkan ke telinganya."
Dia lalu membacakan syahadat sedikit berbisik di telinga Ayahnya. Sekali-dua kali, diulanginya. Lalu, ia matikan murattal, dan membungkuk selama beberapa menit, membacakan syahadat. Dia tampak terisak. Air matanya menetes jatuh ke sisi kanan Ayahnya.
Tuhan, akan Engkau jadikan apa anak ini.. Sungguh hebat kehidupannya. Berikanlah ia keikhlasan Ya Rabb..

Hampir seperempat jam saya di tempat itu. Memperhatikan gelagat-gelagat malaikat yang tampaknya kian dekat. Orang tua yang terbaring di tempat itu, berusaha menyingkap perutnya, membuka selimut. Dia masih dengan sabar membisikkan kata "Allah". Sedang laki-laki yang katanya saudara tirinya itu, hanya mematung, memperhatikan saja. Entah apa yang dipikirkannya.

Saya lalu pamit, mengajak dia berbicara di luar ruangan sebentar. Mengingatkan dia, bahwa kita tak pernah tau, kapan akan dipanggil olehNya. Anak laki-laki itu menangis. Terisak. 


***
Saya dalam perjalanan pulang. Sebuah pesan singkat masuk. 
"Buk, ayah wak lah pai salamo-lamonyo buk..."
(13.10)

Selang waktu tak sampai satu jam. Malaikat benar-benar bekerja untuk TuhanNya. Mengantar hamba menemui Rabb-nya. 


1.10.14

Berjodoh

Jodoh

Kali ini, saya tertarik mengomentari kata 'berjodoh'. Tampaknya beberapa waktu belakangan, kata ini begitu populer di telinga. Entah tertuju pada kawan, atau pada diri sendiri.

Dalam bahasa Arab, kata berjodoh barangkali yang lebih dekat adalah zauj-azwaj yang bermakna pasangan. Sedangkan dalam KBBI, jodoh adalah orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan. Jodoh dalam makna lebih luas, berarti cocok dan tepat.

Maka jodoh bukanlah sebatas suami, atau istri. Karena pada kalimat-kalimat tertentu, kedua kata itu tidak digunakan secara semakna. Jodoh tidak hanya sekedar pasangan hidup. Dalam pembahasan hukum pernikahan, terdapat istilah ( زَوْجٌ ) atau ( بَعْلٌ ) untuk suami, dan ( زَوْجَةٌ ) atau ( امْرَأَةٌ ) untuk istri. Istilah-istilah itu berkonotasi “netral” tanpa ada penekanan sifat tertentu sebagaimana kata suami, istri, atau pasangan hidup dalam bahasa Indonesia. (eramuslim.com)

Persoalan menentukan pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan. Seperti tersurat dalam Al quran : Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (An-Nisa;4). Ini mengindikasikan bahwa menentukan pasangan hidup adalah pilihan, yang dengannya terdapat konsekuensi. Ada tanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Untuk sementara, kita sepakat, Allah menentukan pasangan manusia, dan memberikan pilihan-pilihan kepada manusia tersebut untuk menjadi jodohnya.

Dalam pemahaman masyarakat umum, laki-laki berhak memilih calon istrinya. Dan, sejatinya seorang perempuan juga berhak memilih siapa yang ia rasa cocok dijadikan calon suami. Bahkan, seorang gadis diberikan hak untuk menentukan pilihannya, tanpa ada intervensi dari keluarga, mamak (saudara laki-laki ibu), atau saudara, dan lain sebagainya.

عن بن بريدة عن أبيه قال جاءت فتاة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت ثم إن أبي زوجني بن أخيه ليرفع بي خسيسته قال فجعل الأمر إليها فقالت قد أجزت ما صنع أبي ولكن أردت أن تعلم النساء أن ليس إلى الآباء من الأمر شيء.
 (رواه ابن ماجه)
Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata: Seorang gadis datang kepada Nabi Saw. Kemudian ia berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan putra saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui aku. Maka Nabipun menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka gadis itu berkata: Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan ini.  
(HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i).

 Dari hadis tersebut, dipahami bahwa perempuan memilik hak penuh menentukan pilihannya. Bahkan, saat menikah, adanya syariat talak. Ini mengindikasikan bahwa pilihan-pilihan tersebut juga berada di tangan manusia. Maka berjodoh, adalah atas upaya seseorang, laki-laki dan perempuan, bukan sekedar ketentuan Tuhan.

Berjodoh, dekat dengan kata sekufu. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa sekufu adalah sepadan, semisal, dan sesuai. Sepadan mencakup pada berbagai aspek. Adakalanya sepadan dalam hal fisik, laki-laki yang gagah akan berjodoh dengan perempuan cantik.

Berikut pandangan berbagai imam mazhab tentang sekufu:

Dalam Madzhab Hanafi yang dimaksud dengan sekufu adalah kesepadanan antara perempuan dan laki-laki dalam enam hal: Nasab, Islam, pekerjaan, merdeka atau budak, kualitas beragama, dan strata ekonomi.


Dalam Madzhab Maliki yang dimaksud dengan sekufu di sini adalah kesamaan (al-mumatsalah) dalam dua hal, yaitu kesamaan dalam kualitas beragama dimana seorang muslim harusnya berjodoh bukan dengan yang fasik, dan yang kedua kesamaan dalam kesehatan jasmani. Keterangan seperti ini bisa ditemukan dalam kitab Taj Al-Iklil (jilid 3, ha.  460)


Adapun dalam madzhab Syafi’i seperti yang dijelaskan dalam Al-Majmu’ (jilid 2, hal. 39) yang dimasuk dengan sekufu’ adalah kesamaan dalam empat hal; kesamaan dalam nasab, agama, strata sosial (merdeka atau budak), dan pekerjaan.


Sedangkan dalam madzhab Hanbali , Al-Mawardi dalam Al-Inshaf (jilid 8, hal. 108) sekufu’ yang dimaksud adalah kesamaan dalam lima hal: Agama, pekerjaan, strata ekonomi, status sosial (merdeka atau budak), dan nasab. (rumahfikih.com)


jodoh yang rumit
Bila sudah ada rasa hormat dalam hubungan yang dijaga, ada kesamaan dalam garis nasab (keluarga baik-baik), sama baiknya dalam hal agama, juga demikian dengan strata sosial, apalagi memiliki pekerjaan yang seide, sejalan dan bisa saling memahami, itulah mungkin yang dinamakan berjodoh. Berjodoh, mungkin bukan cinta. Entahlah nanti, setelah berjodoh itu akan ada cinta. 


Wallahu a'lam. Semua kriteria sekufu itu seakan terhapus entah karena alasan apa. Suatu kali, saya menemukan kisah seorang perempuan berani mengambil keputusan untuk menikah dengan pilihannya, dengan mengenyampingkan pilihan-pilihan orang tua. Sekalipun melintas batas usia. Berbagai alasannya. Apakah itu juga berjodoh? Pilihan yang dipilih si perempuan itu, memunculkan desas desus di lingkungannya. Adanya desas desus itu masihkah dapat disebut sekufu? 

Ataukah, demikian berlaku cinta? Cinta yang tak mengenal jauh dalam kamusnya, tak mengenal sulit dalam perjuangannya, hingga "demimu kita hadapi bersama segala halang merintang". Wallahu a'lam. Saya sebenarnya sangat penasaran dengan ending kisah ini. Hanya Allah saja yang tahu, apakah ini kehendakNya,  wajar saja orang tua tak menyetujui atau bagaimana. Apapun alasan dan cara menidakkan, jika Dia berkata "Ya", maka tak ada kata ketidak-normalan. Sebaliknya, berbagai upaya dilakukan agar berjodoh, sedang Dia menidakkan, tak akan pula pernah bersua.

Demikian, berjodoh.

Radang Tenggorokan


Kadang, sakit itu bernilai baik untuk kita. Prosesi wisuda ful-ful-an yang tidak dibarengi dengan suplai gizi dan pola istirahat yang baik membuat sistem imun tubuh saya akhirnya menyerah. Alarm dilengkingkannya lewat tenggorokan. Ya, saya diserang radang tenggorokan. Nilai baiknya, saya akhirnya sempat buka blog ini. hihi

Seorang teman di sekolah bertanya, saya teriak-teriak dimana, hingga diserang radang tenggorokan. Haha. Tidak, tidak. Radang tenggorokan merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Katanya, tertular virusnya sekitar 2-7 hari sebelumnya. Adapula yang disebabkan oleh bakteri streptokokus.  Infeksi tersebab bakteri ini perlu penanganan serius dari dokter, karena dikhawatirkan dapat menjalar ke katup jantung dan dapat menyebabkan penyakit Demam Rhematik.

Saat terasa sakit ketika menelan, saya berpikir kalau itu adalah amandel yang meradang. Dulu sewaktu masih SD saya pernah sakit itu sih. Hihi. Isu yang terekam oleh saya dari dulu, penyakit itu karena sering makan permen karet dan es. Ya, akhir-akhir ini saya memang tidak memperdulikan pantangan itu lagi. Dan, ternyata sakit yang saya rasakan bukanlah akibat amandel yang meradang, tapi radang tenggorokan. Setelah cari-cari di internet, wow! mengerikan. gambar-gambar akibat radang tenggorokan itu amat mengerikan.
Merah, bintik putih, dan adapula yang lebih parah.

Ciri-ciri lain dari penyakit ini adalah bagian tenggorokan berwarna merah cerah. Suhu badan meningkat atau demam dan sering kali disertai dengan menggigil. Malam sebelumnya memang saya rasakan dingin sangat.

FG Troches
Solusinya, setelah saya konsultasikan ke dokter, katanya perbanyaklah minum air putih hangat. Berkumur dengan air garam juga bisa dan makan permen mint. Sedang antibiotik yang saya konsumsi saat ini adalah FG Troches.

Selain itu, yang lebih utama adalah menjaga pola makan yang lebih teratur, pola istirahat dan hal-hal yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun.



So, untuk ke sekian kalinya, saya menghimbau, mariiiiii.... makan teratur, suplai gizi cukup, istirahat yang cukup, dannn bagi teman-teman saya yang masih merokok, untuk menghentikan kebiasaan merokoknya. ITU! 

:)

17.11.13

"Ke Carocok Ngapain Aja?" :)

Pulau Cingkuak dilihat dari Pantai Carocok, Painan
Ceria bersama
  
Kita lagi di motor boat/perahu. -tetep eksis- :D

Kalau kamu punya waktu untuk refreshing, ga ada salahnya mencoba mampir ke Painan Sumatera Barat.
Painan, kota yang terletak
60 km dari kota Padang ini, memiliki pantai yang tidak hanya indah dipandang, tapi juga mempunyai sarana bermain yang seru.

Ke Pantai Carocok ngapain aja? *udah kaya tulisan di baju kaos versi Bukittinggi atau Jogja aja nih* :D
Oke, berikut saya sarankan, yang bisa dilakukan menikmati liburan sehari ke Painan.

1. Datanglah pada pagi hari. Sekitaran pukul 9 s/d 10 pagi itu, laut masih sangat cantik dan udara bersih untuk jepret-jepret. Mau poto-poto narsis, atau mengabadikan indahnya salah satu pantai di Pesisir Pulau Sumatera ini juga oke.

2. Dan, petualangan pun bermula. Kamu bisa berjalan-jalan menuju Pulau Batu Kereta melewati jembatan apung. Jembatan itu memanjang dari tepi Pantai Carocok menjorok ke laut. Ada halte2nya juga.  Pada tiap persimpangan jembatan ada gazebo tempat bersantai. Di pulau Batu Kereta, kita bisa nikmati keindahan batu-batu dan karang laut. Saya pernah liat kura-kura ninja juga. Eh, bukan, penyu kali ya. :D

3. Dari bibir pantai Carocok kita juga bisa ke Pulau Cingkuak. Di pulau ini, bagi yang suka tantangan adrenalin boleh mencoba permainan donut. *katanya sih donut, tapi bentuknya tidak bulat, persegi*
Permainan ini untuk empat atau enam orang. Cukup aman, karena ada tali pegangan. si donut akan ditarik oleh motor boat dan berayun di atas air. Boleh direquest juga kecepatannya. Adapula yang lebih aman, duduk manis di atas banana boat. Banana boat ini juga bisa direquest, mau jatuh dan basah-basahan atau tidak. hahaha. satu lagi, permainan seperti motorboat, jetsky (?). masing-masing tarif untuk permainan itu beragam, sekitar Rp 25ribuan. Bisa juga naik flyingfox. 

4. Masih di lingkungan Pantai Carocok, kita bisa menuju Puncak Langkisau. Dari puncak itu terlihat kota Painan, laut dan pesisir pantai daerah pesisir selatan.

5. Bagi yang suka senja, jangan lupa menikmati pesona keindahan alam matahari terbenamnya, jepret-jepret. *Cek-reeett*

6. Nyari makanan, aksesoris, oleh-oleh dan cemilan juga tidak susah, ada di sekitaran area pantai Carocok. Satu lagi, jangan khawatir, parkir pantai ini, -sekarang- udah makin luas.


Jadi, ke Carocok ngapain aja? :)


Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...