Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

27.9.26

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

 

Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana bagi GTK sasaran dari lima satuan pendidikan, dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang.

Kegiatan ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar tiba-tiba. Sekitar satu minggu sebelumnya, saya mengikuti kelas Training of Trainers (TOT). Sebelumnya lagi, saya juga sudah mendapatkan pelatihan singkat di instansi induk. Saat mengikuti TOT, sebenarnya kami sudah menyadari bahwa setelah pelatihan, tugas kami adalah mengimbaskan pengetahuan yang diperoleh di satuan pendidikan masing-masing.

Tetapi ternyata, praktiknya tidak sesederhana itu. Ketika menjadi peserta, mungkin kita cukup memahami dan mengikuti. Tetapi ketika menjadi fasilitator, kita dituntut untuk memahami lebih dalam. Kita harus tahu bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi juga mengapa hal itu penting, bagaimana menerapkannya, dan apa yang mungkin terjadi jika bagian tersebut terlewat. Kita merasa hal kecil saja, lalu terabaikan, ternyata terlihat saat praktik dan simulasi.


Fasilitator kelas C 


Tentang keberanian mencoba sesuatu yang baru

Hal lain yang saya catat adalah tentang melatih diri menjadi pembicara. Berbicara di depan orang baru, yang tidak mengenal kita, dan berbicara di depan orang lama, rekan kerja sehari-hari yang sudah akrab, jelas tidak sama. Menjadi apa adanya, lebih jujur, membuat beban fasilitator terasa lebih ringan. Namun tidak dapat dipungkiri, bagian mula-mula selalu ada gugup yang dikuat-kuatkan. Haha.

Kalau tentang ini, saya teringat pada masa-masa menjadi mahasiswa, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Masa ketika banyak hal untuk pertama kalinya kita lakukan.

Pertama kali melakukan wawancara. Sampai sekarang kita mungkin masih ingat siapa yang kita wawancarai, apa yang dibicarakan, bahkan bagaimana rasanya ketika harus membuka percakapan.

Pertama kali melakukan siaran radio. Rasanya seperti sebuah hari bersejarah. Kata-kata yang sudah disiapkan berhari-hari, bagian pembuka yang dilatih berulang-ulang, bahkan mungkin latihan berbicara di depan cermin. Haha. Semua terasa begitu mengesankan.

Atau ketika pertama kali turun menjadi relawan. Saat itu yang kita punya mungkin hanya keberanian. Teori sudah diberikan saat latihan dan briefing bersama mentor. Tetapi ketika benar-benar berada di lapangan, ternyata situasinya tidak selalu berjalan sesuai skenario. Ada saja hal baru yang muncul dan membutuhkan inisiatif, kreativitas, serta keberanian untuk mengambil keputusan.

Dulu kita melihat bagaimana tim medis bertindak, bagaimana proses evakuasi dilakukan, bagaimana koordinasi berlangsung, bagaimana pendataan dilakukan, dan bagaimana keputusan-keputusan harus diambil.

Sebagai bagian dari media, saya menyaksikan semua itu.

Tetapi saya tidak benar-benar melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Hari ini saya memiliki satu penyesalan kecil:

"Mengapa dulu saya tidak coba hal itu?"

Seolah-olah setiap orang hanya memiliki satu peran dan tidak perlu mengetahui peran yang lain.

Hari ini saya justru melihatnya dengan perspektif yang berbeda.

Ternyata tidak ada yang salah dengan mempelajari banyak hal.

Dan saya merasa, pengalaman dulu berada di pusaran tim dalam situasi bencana, meskipun hanya di bagian media dan trauma healing, ternyata cukup membantu saya hari ini ketika menjadi memahami kesiapsiagaan bencana. Setidaknya saya pernah melihat dan merasakan suasana di lapangan. Pernah melihat bagaimana tim bekerja, bagaimana koordinasi dilakukan, dan bagaimana situasi bencana bisa menghadirkan banyak hal di luar skenario.

Hal lain yang saya catat dari kegiatan ini adalah bahwa bencana tidak pilah pilih. Jika bencana terjadi pada kita, maka kita adalah korban. Bencana tidak memilih siapa kita, apa profesi kita, atau apa peran kita di sekolah.

Maka tugas tim siaga bencana di sekolah bukan hanya membangun pengetahuan tentang bencana, namun juga perlu membangun kesiapsiagaan bagi semua warga sekolah. Lebih baik lagi ada kesiapan menjadi bagian dari "relawan" ketika bencana terjadi.

Karena bencana bisa datang kepada siapa saja, maka belajar tentang kesiapsiagaan bencana bukan hanya tugas tim siaga bencana, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab seluruh warga satuan pendidikan.

Foto dengan sebagian peserta di SMAN 1 Padang Panjang





11.3.19

Perempuan Pilih Caleg Perempuan



Mendekati masa-masa pilleg dan pilpres, kita disuguhi berbagai baliho, spanduk dengan foto dan data nama caleg dan capres. Ada banyak caleg yang foto dan nama dirinya terpampang di pinggir-pinggir jalan, di depan toko, di pasar dan dimana saja. Bahkan pada dinding tebing yang nun jauh di atas bukit. Butuh kacamata, eh kaca pembesar untuk membaca namanya. Yang menarik dari berbagai caleg bagi saya, adalah para caleg perempuan. 
Apa yang menarik? Setiap nama itu saya coba ingat-ingat lalu mencari tahu –dengan kehidupannya. Tidak hanya kehidupan karier, namun juga kehidupan keluarga. Lho, apa pentingnya? Jelas penting. Selama yang menjadi caleg itu berkerudung, saya memang selalu mementingkan kehidupan pribadi mereka untuk dikenali. Bukan untuk hal sumber infotainment, melainkan sebagai patokan: adakah ini seorang perempuan yang inspiratif?
Perempuan inspiratif sudah seringkali dibahas di media. Ada banyak tokoh perempuan inpiratif dengan berbagai bidang inspirasi kerja dan kebaikan yang mereka tanam. Lembaga pemerhati perempuan juga banyak yang melakukan seleksi atau semacam kompetisi untuk menjaring nama-nama perempuan inspiratif itu. Kementrian pemberdayaan perempuan sendiri, secara resmi juga menjaring perempuan inspiratif dari berbagai daerah. Hasilnya ya, tentu saja sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh pihak penyelenggara. Dan saya, punya standar sendiri tentang perempuan inspiratif itu.
Seorang perempuan dapat dikatakan inpspiratif ketika berbuat kebaikan terhadap masyarakat banyak, menjadi teladan kehidupannya baik secara pribadi maupun karier/pekerjaan. Dalam Islam, dua hal ini dikenal dengan dua sektor yang perlu diperhatikan oleh seorang perempuan. Yaitu, sektor domestik dan sektor publik. Sektor domestik adalah kehidupan khusus yang dijalani seorang perempuan yang menyebabkan dirinya hidup di rumahnya, di antara anggota keluarga yang lainnya. Sementara sektor publik adalah ketika perempuan menjalani kehidupan umum, yang memungkinkan dirinya hidup di anatar sejumlah individu dalam masyarakat, baik taraf kampung, kota atau negara.
  Sektor domestik memiliki institusi yang disebut dengan keluarga. Di sini bermula peran yang beragam; sebagai hamba Allah, sebagai anak/istri/ibu. Dalam kehidupan domestik ini, kehidupan laki-laki dan perempuan terdapat pola kemitraan dimana kewajiban masing-masingnya menunjukkan prioritas keberadaan. Laki-laki dengan kewajiban menafkahi keluarga memungkinkan keberadaannya lebih banyak di sektor publik (Q.S. Al-Baqarah:23, An-Nisaa: 3). Sementara perempuan –khususnya istri- adalah mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya yang memungkinkan dirinya lebih banyak berada di sektor domestik (Q.S. Al-Baqarah: 233, Ar-Ruum: 21)
Maka caleg yang menginspirasi itu, bagi saya adalah yang sudah membereskan urusan domestiknya. Jika dia adalah seorang Ibu, yang sudah membesarkan anak-anaknya. Bagaimana anak-anak mereka itu tumbuh dan menjadi dewasa? Jika menjadi istri, bagaimana mereka membagi tugas kemitraan dengan para suami mereka dalam mengelola institusi keluarganya. Jika dia adalah perempuan kepala keluarga/ single parent,  maka baginya kewajiban yang utama adalah dalam keluarganya. Oke, ini semua bukan fatwa. Ini adalah kesimpulan saya sebagai pemerhati dan penyuka bahasan pendidikan, perempuan dan anak.
Jika sudah tuntas urusan domestiknya, barulah memasuki ranah publik. Dalam hal ini, perempuan juga termasuk yang menerima seruan Allah untuk ber-amar makruf nahi mungkar, diizinkan melakukan jual beli, muamalah lainnya, dan bekerja di luar rumah dalam rangka pembangunan masyarakat. Perkara ini, jelas tak ada urusannya dengan kesenjangan gender. Hanya saja aturan yang diberikan adalah bagaimana bisa memposisikan diri sebaik mungkin dalam urusan yang melibatkan interaksi laki-laki dan perempuan.
Islam memandang perempuan sebagai bagian dari masyarakat untuk mewujudkan kesadaran politik. Perempuan yang berpotensi untuk itu, perlu mewakili kaumnya untuk hal-hal yang pro terhadap perempuan. Langkah yang dapat ditempuh bisa saja dengan bergabung dengan partai yang sama visi dengan kehidupannya.
Ketika ia menerima amanah dalam bidang publik/politik, penting bagi mereka untuk menyuarakan dan mewujudkan kebijakan-kebijakan yang ramah perempuan-ramah anak. Jadi, wahai para perempuan, pilihlah caleg perempuan yang inspiratif yang sudah membereskan urusan domestiknya. Perempuan dengan sesamanya tentu akan lebih saling memahami.



29.9.17

Catatan Diskusi: Ego dan Individualitas Anak

Dalam sebuah forum yang difasilitasi P2TP2A Kota Bukittinggi, Bang Aad (Adrian Rusfi, seorang Psikolog dan Konsultan Pendidikan) menyampaikan materinya tentang bagaimana menguatkan ego dan individualitas Anak. Menurutnya, ada kesalahan istilah yang digunakan dalam lingkup keilmuan psikologi, yang tidak tepat dengan istilah Islam, yakni penggunaan kata remaja. Dalam Islam, tidak ditemukan istilah remaja. Yang ada, adalah pemuda (red. fataa atau syabab). Penggunaan istilah ini berdampak pada pola pendidikan yang diterapkan kemudian. Banyak dikenal istilah, Remaja Mesjid, Remaja Muslim, dan lain sebagainya.

***
Benar juga. Saya teringat, tidak ada hadis yang menggunakan istilah remaja. Yang ada, adalah pemuda. Yaa ma'syaras syabaab...man istathaa'a minkum.. (wahai pemuda.. dst) --Siswa kelas 3 MAPK pasti sudah populer dengan hadis ini. Hadis yang menyarankan agar para pemuda yang belum mampu untuk menikah, agar berpuasa.

Iya, betul. Barulah sekarang terpikir, bahwa Islam tidak menempatkan usia kelas 3 setara SMA itu sebagai seorang remaja lagi. Melainkan sudah pemuda. Siswa angkatan kami saat itu, termasuk yang berani menikah di usia muda. Dua teman kami yang akan melanjutkan pendidikan ke Cairo, saat itu memutuskan menikah setamat sekolah, dan bersama-sama melanjutkan pendidikannya. Kita akui, itu langkah berani. Tapi, di sana terlihat jelas, bahwa mereka siap menjadi seorang dewasa. Di saat remaja seusianya (seperti kebanyakan--dan termasuk saya) yang masih ingin kesana-kemari, wara wiri, main ini itu, membiarkan waktu berlalu sia-sia, menunggu kiriman orang tua, dan mungkin belum punya mimpi yang sangat ingin untuk diwujudkan.

Pemuda dan remaja, tentu dapat kita bedakan, sekalipun tanpa menggunakan kamus bahasa indonesia. Apa jadinya, jika dulu Presiden Soekarno berkata: "Berikan saya 10 remaja..." Masihkah mampu bapak presiden mengguncang dunia? Yang ada adalah, sepuluh remaja itu dikarantina dulu, disiapkan intelektual, mental dan spiritualnya, baru mungkin sekian tahunsetelah itu, ia mengguncang dunia.

Pemuda dan remaja, boleh jadi secara usia biologisnya mereka sama. Mungkin sama-sama 17 atau 18 tahun. Tapi akan berbeda dari kematangan, kedewasaan dan konsep dirinya.

Atau, dalam hadis lain, laisal fataa man qala hadza abi, walakin al fataa man qaala, ha-ana -dza. Bukanlah seorang pemuda, yang mengatakan ini Bapakku, melainkan seorang pemuda itu, adalah yang berkata: Inilah Aku. Dari sini tergambar, bahwa pemuda adalah seorang yang sudah bisa membanggakan dirinya kepada masyarakat luas. Bahwa ia telah bisa menentukan sikap, memilih sesuai pertimbangannya, atau menolak apa yang tidak sependapat dengannya.

Berbeda dengan istilah remaja. Remaja -bagi saya- agak identik dengan kegalauan, kelabilan, ketidak percayaan diri dan persoalan lainnya. Remaja seperti berada dalam posisi tanggung. Diajak berpendapat, belum matang. Ditinggalkan, usianya hampir dewasa. Akhirnya, jika sudah punya KTP, datanglah para politisi itu kepada mereka. Pilih Bapak ya. Sudah berhak memilih, tapi apakah sudah matang menentukan pilihan. Entahlah.

Maka, fenomena-fenomena hari ini, kasus sodomi, pelecehan seksual, LGBT, dan lain sebagainya, tidak lagi bisa diselesaikan pada usia remaja. Semua itu harus dari usia anak-anak. Di sinilah perlunya ego dan individualitas anak, agar saat ia tumbuh menjadi pemuda, lalu dewasa, ia sudah matang baik secara fisiologis maupun psikologis.

Realita hari ini, kita temukan anak-anak usia 10 tahun, tapi cara pandang, cerita dan sikapnya sudah seperti orang dewasa. Diantara sebabnya adalah, anak-anak itu terlalu cepat terjadi padanya aktifasi hormon seksualitas, baik dengan tontonan yang tidak pantas, bacaan, atau pengetahuan-pengetahuan yang berseliweran di antara mereka. Bisa juga karena ransangan, over protein/gizi. Mereka baligh dini.

Secara fisik, anak usia itu sudah baligh, tapi belum 'akil. Data Bang Aad menyebutkan, bahwa seorang laki-laki atau perempuan yang berusia 25 tahun, belum bisa memilah dan memilih yang terbaik untuknya. Mereka belum bisa matang dan dewasa. Baik secara sikap maupun finansial. Pada usia itu, masih tersibuk kuliah-kuliah, tapi belum bisa merasakan mencari dan menghasilkan uang dengan tangan sendiri. Secara finansial masih sangat tergantung dengan orang lain/orang tuanya. Jadilah, nafsu dengan kedewasaan mentalnya tidak sejalan.

Itulah kenapa dalam Islam, usia kita dipilah menjadi tiga. Pertama, usia 0-15 tahun, adalah character building. Ini dibagi lagi, usia 2-7 tahun anak diajarkan kebaikan-kebaikan. Usia 7-15 tahun diajarkan sanksi atas kesalahan. 

Kedua, usia 15-40 tahun adalah capacity building. Seseorang pada usia ini, dipersilakan untuk mengisi kapasitas dirinya. Bahwa intelektualitas seseorang itu puncaknya berada pada usia 25 tahun. Maka belajarlah banyak hal. Sebagian orang berkata, latihlah banyak hal, namun fokuslah pada satu saja, agar bisa sukses. Tapi menurut Bang Aad lagi, ia justru tidak bisa fokus pada satu hal pada usia mudanya. (Sama seperti saya nih.. hihii). Katanya, memang ada sebagian orang yang justru tidak bisa fokus pada satu hal, hingga mencapai usia kematangan.

Dan, ketiga, adalah usia 40 tahun, semacam waktu unjuk gigi lah. Kata orang, Life begin at 40. Di sinilah puncak keseimbangan. Bahwa dalam Islam, usia kematangan seorang Nabi Muhammad itu adalah 40 tahun, dilihat dari usia beliau diangkat menjadi Rasul.

Nah, persoalan kita hari ini adalah kita mesti peduli, anak-anak kita perlu dididik dengan baik, agar ego dan individualitasnya tepat dan bermanfaat. Lho, ego? Individualitas? Ya. Saya juga sempat berpikir, bahwa di TK dan Paud kita, anak-anak diajarkan berbagi. Bahkan di lingkungan rumah. Ayah akan berkata: "Kak,,bagi sama adeknya." Padahal, pada usia kanak-kanaklah kita perlu bekali si anak dengan: apa yang dia punya, apa yang harus dia jaga, hingga ia berani katakan "tidak" untuk hal-hal yang menurutnya beresiko untuk dirinya.

Kenapa anak-anak TK bisa menjadi korban pelecehan? Bisa jadi karena mereka tidak siap katakan 'tidak', atau bersikap lebih berani untuk menjaga dirinya sendiri. Atau karena kebaikan telah terpupuk dengan baik, mereka biasa berbagi.

Usia kanak-kanak juga adalah usia kebebasan. Anak dibentuk konsep dirinya. Saya ini seperti apa ya, bukan seperti yang maunya papa. Biarkan anak menari, karena dalam Islam sendiri tidak ada larangan bagi anak-anak untuk menari. Biarkan rambutnya dikepang, dipakaikan bando dan pita-pita, toh jika kelak disampaikan kepadanya ajaran, ia sudah siap menerima. Biarkan anak bermain. Play yang bukan game. Saat play, mereka melakukan sesukanya, sedangkan game, mereka harus sudah ikut aturan. Dan itu akan membosankan.

Betul juga. Saya ingat, ada seorang siswa TK yang enggan ke sekolah, karena bosan. Ia lebih suka melakukan apapun sekehendaknya, tanpa aturan. Kalau di TK sudah banyak aturan, selayaknya TK dan PAUD itu diganti nama saja dengan Game Group, bukan play group. Bahwa usia ini, anak-anak tidak suka kalah. Mau main apa saja, maunya menang. Dan menangnya bukan dia seorang. Mereka akan senang, jika semuanya menang. Tidak ada yang kalah. Karena kalah artinya kesedihan.

Maka untuk membekali anak dengan perlindungan dirinya, bekalilah dengan individualitas. Bahwa setiap individu berbeda, ia bisa menerima perbedaan itu. Tidak ingin menjadi orang lain, dan menerima keadaan dirinya. Bisa tampil percaya diri, dan menunjukkan eksistensinya. Bila di satu sisi ia memiliki kekurangan, oh, ia masih punya sisi lain yang bisa diunjuk aksikan. Ia bisa bilang "Ini kan punya saya" pada hal-hal yang ia rasa miliki, dan harus dia jaga. Tapi ya, tidak keterusan. Nanti bisa egois juga. Batasnya adalah usia 7 tahun. Setelah itu, tentu si anak perlu dikenalkan dengan berbagi, dan berbagai kebaikan lainnya.

Seberapalah kita mampu menjaga anak-anak, jika mereka tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Dan, yang perlu kita sadari, kita akan terus menua, menjadi tua, dan mereka akan tumbuh menjadi dewasa. Bila individualitas itu tak tertanam baik pada dirinya, jadi pribadi yang lemahlah mereka. Menjadi remaja-remaja galau, labil, latah, mudah terpengaruh dan tidak percaya diri.



Rendang Kini Tak Cuma Padang


Siapa yang tak suka rendang?

Makanan khas Ranah Minang ini tak hanya digemari oleh lidah-lidah asli Minangkabau. Tetapi juga menjadi favorit bagi yang sama sekali tidak berdarah Minang.
Rendang kini tak hanya menjadi nama bagi olahan daging, yang dimasak lama, dibuat enak dengan santan, dicampur dengan bumbu-bumbu dan rempah khas. Rendang kini, adalah cita rasa. Apapun yang diolah, diberikan cita rasa rendang, meskipun bahan utamanya bukanlah daging. 

Ada banyak masakan siap saji yang melabeli dengan rasa rendang, misalnya mie goreng rasa rendang. Ada juga bakso, yang aslinya berasal dari Jawa ini kini diolah dengan campuran daging rendang di dalamnya. Nampaknya rendang kini tak cuma Padang ya.

Jadi ceritanya si rendang itu dalam bahasa Minang adalah randang. Proses ma-randang secara umum adalah memasak seperti disangrai, berlama-lama untuk mendapatkan hasil maksimal. Misalnya, kopi yang direndang, disangrai berlama-lama agar dapat ekstrak kopi yang terbaik. Atau, orang tua kita juga menyebut ma-randang kacang, untuk aktifitas sangrai kacang di kuali, sampai benar-benar matang.

doc. pribadi


Istilah rendang menjadi lebih spesifik untuk sebuah nama masakan Minang, olahan dari daging, dengan bumbu-bumbu khas Minangkabau. Soal bumbu khas ini, sedikit kita tilik sejarah Minang. Masuknya Islam ke nusantara dan juga daerah Minangkabau pada abad-abad dulu tidak terlepas dari kedatangan pedagang dari Arab/Yaman dan Gujarat India. Diketahui, masakan dari daerah tersebut kaya akan bumbu dan rempah-rempah. terlepas dari benar atau tidaknya, kesamaan masakan Minang denga dua daerah itu, adalah kekuatan bumbu dan rempahnya. Hal ini pulalah yang menjadikan kuliner Minang ini tetap berada di posisi satu, masakan paling enak versi CNN dan Unesco.

Rendang adalah samba adat. Setiap ada acara adat di Minangkabau, mesti ada rendang. Walaupun akan ada perbedaaan rendang di suatu daerah dengan daerah lainnya. Misalnya, rendang di Agam Barat/ Maninjau yang masih basah seperti kalio, sedangkan untuk Agam Timur, seperti daerah Ampek Angkek, rendang mestilah kering, bahkan sebagiannya hitam. Itu baru satu kabupaten yang sama, Agam. Tentu saja ada berbagai ragam rendang di daerah lain di Ranah Minang. 

Di daerah pesisir misalnya, rendang tak lagi olahan daging saja. Ada yang namanya Rendang Lokan (daging kerang). Di Payakumbuh lebih beragam lagi. Mulai dari Rendang Talua (telur), Rendang Ayam, Rendang Baluik/belut. Di daerah lain, salah satunya Tanah Datar, dikenal Randang Cubadak/ nangka dan Rendang Paku/pakis. Di sejumlah daerah darek/daratan lainnya bahkan Jengkol/jariang  tak hanya dimasak kalio saja tapi juga jadi Randang Jariang. Berbagai jenis olahan rendang ini sesuai dengan kearifan lokal daerah masing-masing. Yang sama dari semuanya adalah proses masaknya adalah direndang, dengan bumbu-bumbu khas seperti rendang daging. 

Selain itu, rendang juga dinamakan sesuai dengan jenis/bagian daging sapi yang diolah dan proses pengolahannya. Rendang Paru misalnya. Atau Rendang Jagung, Rendang Ati, Rendang Itiak. Dari segi pengolahannya, ada yang namanya Rendang Suir (dagingnya disuri-suir, dan kering) juga Rendang Tumbuak. Atau rendang dengan campuran teri dan karupuak cancang. Atau, masih ada rendang lainnya? 

Kalau di luar sana yang populer adalah Padang, sebetulnya kita lebih enak mendengar Rendang dengan spesifikasi jenis dan olahannya itu sendiri. Karena tak pernah kita dengar Rendang Batusangka, meskipun asal mula orang Minangkabau, dan daerah tuo  itu dikenal adalah Pariangan, Tanah Datar. 
Oke, terlepas dari semuanya, rendang apa favoritmu?  
Rendang Lokan? 

28.3.17

Review Buku: Veronika Memutuskan Mati

Judul          : Veronika Memutuskan Mati 
                     Veronika Decides to Die
Penulis       : Paulo Coelho
Penerbit     : Gramedia 
Tebal buku : 236 hlm


"Gadis itu akan menganggap setiap hari sebagai keajaiban -dan sebenarnya memang demikian jika kita melihat betapa banyak hal tak terduga yang bisa terjadi setiap detik dalam hidup kita yang rapuh ini." -- Dr. Igor ; hlm. 236

Dr. Igor; psikiater yang menangani berbagai kasus kejiwaan di Vilette.
Mari; mantan pengacara yang bermasalah dengan kemampuan dirinya mengelola ketakutan. Gangguannya disebut panic attack.
Zedka Mendel; penderita depresi yang menjalani perjalanan astral, setelah diberi pengobatan insulin shock. Sebuah terapi terlarang (tahun 1930) di rumah sakit jiwa yang dipakai kembali, untuk menekan kapasitas mental pasien depresi.
Eduard; pemuda yang mengalami jenis kegilaan, skizofrenia. Ia ingin menjadi pelukis, ayah dan ibunya merencanakannya menjadi diplomat.

Dan, tentu saja ada si tokoh utama, Veronika.
Gadis 24 tahun, yang memiliki kehidupan normal, bekerja sebagai pegawai perpustakaan, memiliki orang tua yang lengkap dan sempurna. Ia menginginkan kebebasan. Menurutnya, segala sesuatu itu akan berakhir dengan kematian. Kebebasan itu bisa didapat hanya dengan mati. Ia memutuskan bunuh diri dengan menenggak empat bungkus pil tidur.

Apakah ia kemudian langsung mati? Tidak. Semua berproses. 

 Apa yang akan kita lakukan sembari menanti kamatian?

Inilah cerita 236 halaman karya Paulo Coelho yang memberikan banyak informasi, lintas ilmu pengetahuan, memberi inspirasi serta motivasi kehidupan dengan hikmah beragam.

***
Veronika memutuskan mati. Ia akan bunuh diri dengan cara elegan. Lalu mengirimkan surat ke koran, memberi tahu dunia, bahwa ia akan bunuh diri di Slovenia. Kota asing yang dijadikan seorang wartawan, sebagai judul tulisannya dalam sebuah majalah. Veronika membaca majalah itu, tersebab ia tak kunjung mati setelah menenggak pil tidur. 


Ia kemudian, harus melalui lima hari lebih untuk mengetahui, bahwa ternyata ia pun memiliki hidup yang bermakna, tak sia-sia. Semuanya justru diperoleh melalui banyak orang "gila", di rumah sakit jiwa. 

"Apakah sesuatu dianggap normal, melulu karena diikuti oleh mayoritas?" Pertanyaan ini diajukan Paulo Coelho lewat novel ini. Dia yang pernah menjadi bagian rumah sakit jiwa, tentu memahami betul bagaimana rasanya menjadi yang dianggap "tidak normal" itu. 

Orang-orang yang hidup di dunia mereka sendiri, kemudian disebut gila. 'Orang gila' dibebaskan dari hal-hal yang berkaitan dengan aturan, juga hukuman. Ketika diberi kesempatan menjadi bagian orang 'gila', tokoh utama melakukan hal-hal gila. Tidak harus patuh. Tidak mesti menyenangkan orang lain. Bebas menjadi yang dirinya mau. Mencoba hal-hal yang menurut selama ini terlarang.

Teori-teori berkaitan psikologi, kejiwaan, pengobatan medis terhadap penyakit jiwa dijelaskan di buku ini melalui penjelasan Dr. Igor. Si Dr. Igor bertekad menemukan obat untuk menyembuhkan kegilaan. Salah satu penelitiannya adalah terhadap Veronika.

"Diperkirakan, satu dari lima individu menderita beberapa gangguan psikiatri dan satu dari delapan warga Kanada akan mengalami perawatan, setidaknya sekali dalam seumur hidup akibat gangguan mental." ---h. 87

Pesan lain dalam buku ini adalah, pandangan penulis tentang hukum. Melalui pendapat Mari, dikatakan bahwa "keadaan sulit bukan akibat kekacauan atau anarki, melainkan akibat terlalu banyak aturan. Di masyarakat semakin banyak kaidah, hukum bertentangan dengan kaidah dan kaidah baru bertentangan dengan hukum. Orang takut keluar dari kaidah yang mengendalikan seluruh hidupnya." Salah satu keahlian pengacara, -katanya- adalah mengulu-ulur persoalan. 

Satu tema di akhir, tentang perkenalan Veronika dan Eduard. Masing-masingnya kemudian jatuh cinta. Bagi Veronika, meskipun ia kemudian mati, -setelah lima hari penantian kematian itu-, ia akan mati dengan penuh cinta. Ia tidak lagi menjadi : "Veronika yang bunuh diri karena merasa tak ada lagi artinya hidup. Yang merasa bahwa semua tugasnya sudah tuntas." 

**
Menyimak kisah-kisah orang yang dianggap gila, atau benar-benar menderita gangguan mental, sesekali perlu dilakukan. Agar kita sadar, betapa mahalnya anugerah akal dan kewarasan yang dimiliki saat ini. 



30.1.17

Perjalanan

Memang tak pernah terpikirkan sebelumnya akan menempuh perjalanan itu. Jalan, yang sedari awal tak pernah dipilih, sebelas tahun lalu. Dan kemarin, adalah hari pertama langkah ke arahnya dimulakan. Bagaimana kemudian kesudahannya, kita juga belum bisa prediksi.

Haha, bingung? Saya hanya bercerita soal kuliah S1 kedua ini. Baru sehari belajar. Rasanya nano-nano. Memantik api tauhid di hati. Bahwa, benarlah apa yang selama ini rukun iman tersebut-sebut ada enam itu, adalah fondasi semua aktifitas kita di dunia ini.

Bukankah kita percaya bahwa Tuhan hanya satu. Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Bagaimana mungkin zat yang pantas -dan hanya satu-satunya yang pantas- disembah itu memiliki anak? Sedangkan Dia menciptakan -dari sesuatu yang tidak pernah ada, lalu menjadi ada-, yang akan dianggap sebagai anaknya itu? Ya, ya. Tak ada Tuhan selain Dia. Karena itulah hanya Dia-lah Illah yang patut disembah.

Keyakinan kepada malaikatNya, kepada para utusanNya di bumi, Nabi dan Rasul itu adalah keyakinan yang menuntut adanya perbaikan pada diri orang yang berserah diri (untuk itu), dalam kesehariannya. Kalo bukan karena yakin ada malaikat yang ngikutin terus, ga ada rasa bersalah untuk sekedar menyimpan hal-hal yang 'tak jelas' di rumah. Toh itu adalah rumah kita. Ga ada manusia yang tau kan. Tapi, malaikat yang kita yakini itu -menurut keyakinan kita- akan enggan mendekat. Atau, yakin akan dimudahkan dalam belajar, ketika terbayang, bahwa malaikat akan membentangkan sayapnya kepada orang yang terus belajar. Kabar dan risalah-risalah itu sampai secara bersambung hingga kini, karena ada utusan Pencipta itu. Nah, itu ada dimana di fisik kita ini? Otak? Atau hati?

Bahwa dengan meyakini segala yang tertakdir adalah bentuk perjanjian kita sejak dulu kepada Tuhan, memberi kekuatan menjalani hidup yang tak lama ini. Bila ini sedemikian rumitnya, berat, berlikunya, Tuhan sudah tetapkan begitu, karena dipercaya mampu.

Ohya, jika kalian berpikir saya menyoal rukun iman ini seperti pelajaran anak SD, yang baru belajar agama, mungkin sesekali kalian perlu melakukannya. Tanya lagi hati, dimana Allah dalam hati kita. Tanya lagi kenapa perlu ada malaikat, para nabi, peringatan tentang hari esok (hari semua kebaikan dihitung, ditimbang, dikasi reward dan punishment) dan perkara ketetapan Tuhan itu. Bertanyalah, agar kita memikirkannya. Buat apa? Buat merefresh keyakinan. Karena ada masanya keyakinan itu menguat, ada kalanya melemah. Iman, yang terkadang naik tersebab amalan dan terkadang turun karena kemaksiatan.

Sebagian kawan bertanya, apa yang ada di pikiran saya, mau-maunya kuliah lagi, di saat sudah bekerja,  sudah belajar lebih pula satu bidang -dasarnya-, kini mau buang-buang waktu, pikiran dan uang (lagi)? Kurang kerjaan. Hhm, mereka hanya tak mencoba menjadi saya, walau sehari. Haha. Bisakah kalian bayangkan, menjadi saya?

Kamu adalah saya. Mengajar di SMK dengan program keahlian teknologi informasi. Setiap hari kamu disibukkan dengan: belajar otodidak tentang keterampilan komputer (dasar2 sih, hihi), lalu mengajarkannya. Ya, mengajarkan itu semua, yang baru beberapa hari lalu kamu pelajari, di kelas, kepada siswa yang, yaaaa...sebagiannya lebih dulu tau dibanding kamu. (Sebagian.) Karena mereka telah belajar yang lebih rumit di tingkat sebelumnya. Nah, giliran ada hal-hal tak diduga di kelas, kesalahan ini, error ini, itu, kamu (pastilah..) panik, seperti kamu sedang zoom out dari kehidupan ini.

Kamu adalah saya. Yang empat tahun lalu ber-situngkin belajar tentang XX, yang ternyata hingga hari ini, tak berkesempatan menceritakan ulang, membagi tau, mengeksplor lagi, yang sudah kamu fokus dulu itu. Hari-hari kemudian adalah, melakukan hal baru, hal baru, hal baru. Bertemu kawan baru, dunia baru, dan aktifitas baru. Kadang, kita bukan tak butuh hal baru itu, tapi kita merasa belum ingin meninggalkan hal lama, belum ingin berpindah lebih tepatnya. *bukan belum move on, #eh!  Pernah begitu?

Nah, kalau gitu, kamu mau menjadi saya, walau sehari? Ayolah, kita bertukar peran. Mana tau saya ternyata adalah kamu yang tersesat di kehidupan ini. *hahaa, efek inih, efeek K-D****

Riilnya, semua ini dari hari ke hari adalah seperti perjalanan yang tidak bisa kita tebak kesudahannya. Kita hanya melewati, lalu menemukan makna kata "ohh " "ouu.."dan "owhhh". Tidak ingin terjebak menjadi hamba yang: meminta datang waktu sore, ketika hari masih pagi. Meminta disegerakan waktu-waktu. Seperti dalam kitab suci, keinginan sekelompok manusia yang ingin disegerakan baginya balasan, padahal hanyalah demi sebuah penyesalan. Menyesal: ia telah membiarkan semua berlalu sia-sia. *ini juga saya menghindari kesia-siaan.. menuliskan ini karena tak bisa tidur. haha

Dalam sebuah zikir pagi, seharusnya kita bisa ingat (dan sadari), kita baca tiap hari, semoga berefek dalam melalui 'perjalanan' ini. *lebih ngefek dong, dibanding K-D td..

"Kami telah memasuki wakatu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Illah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagiNya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Rabb ku, aku mohon kepadaMu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahny. Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelakan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur."
 Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan. Kalo kata om Ebiet G Ade sih begitu. Tapi tidak bagiku Kawan. Perjalanan ini biarlah menjadi catatan yang enggan terbuang di nimiasata saja. Tak perlu ada engkau di sini, Kawan. Karena kehidupanmu, mungkin saja tak lebih sederhana dari perjalananku ini. Hanya saja, kami tak tau (dan tak kau bagi tau). ya kan.. kan..

Wah. Ayam-ayam di sini mulai berkokok. *bukan fire rooster ya, bukan ayam elektrik juga, ini asli. Ori ayamnya, eh tapi bukan K*C juga lah. Pertanda pagi menjelang. Pertanda, saya harus kumpulkan sisa-sisa 'senjata'  masuk kelas tiga jam lagi. Mungkin sekian tahun lagi saya tak lakukan hal serupa. Mungkin sebulan lagi saya ga ngajar 'ini' lagi, atau mungkin besok tiba-tiba ada yang berbaik hati menggantikan saya masuk kelas. Haha. Iya, mana tau. Siapa yang bisa pastikan kehidupan setelah ini. O-saya maunya setahun lagi tetap di sini-begini lah. Tahun depan aja mutasi nya. O-saya mau terus belajar lah,, ga mau kerja. #hek. Tuhanmu adalah Tuhanmu. Tuhanku adalah yang mengaturku. Tuhan kita sudah merencanakan segalanya. Ga bakalan terjadi sesuatu pun, tanpa campur tanganNya. Dan kamu (saya) mau berlepas diri?

Yaa Hayyu ya Qayyum. Birahmatika astaghiis. Ashlih lii syakni kullahu. wa laa takilnii ila nafsi tharfata 'ain.
"Wahai Tuhan yang Maha Hidup, Yang Maha berdiri (sendiri, tak butuh segala sesuatu) dengan rahmatMu aku meminta pertolongan, perbaikilah urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dariMu).

Ya,, selamat pagi. Semoga ga pusing saat upacara.  :D

27.1.17

2017 !

Hi! temans.. :)
Permisi dulu, numpang bersih-bersih ya. Maklum, terasa lama tak pulang ke rumah. Kata orang Nimiasata udah gersang, berlumut dan sepiii.  hehe.

Kenapa punya terlalu banyak media sosial, orang-orang justru kehilangan rasa sosialnya ya?

Berteman di facebook, tapi hanya liat-liat statusnya.
Satu group di BBM, cuma numpang posting berita. 
Ada nomor WA, jarang cerita.
Berada di group WA dan telegram yang sama, paling cuma jadi silent reader aja.
Itu sih di dunia mayaa. Okelah ya.

Nah, di kehidupan nyata. Berangkat kerja pepagian.. mau nyapa tetangga "Selamat pagi..", belum pada bangun.
Hari juga masih rada gelap. Cuma ayam yang balas klakson motor dengan kokokannya.
Giliran pulang, udah sesorean. Hampi-hampir gelap.
Orang-orang yang tadinya mengisi sore di simpang-simpang jalan, gang, dan tanah lapang, mulai pada pulang.
Juga ayam. Ayam mulai ga liat, dia juga pulang ke kandang. Takut ketabrak motor kali ya.
Dan, orang-orangan senja, adalah mereka yang dikejar masa.
Maunya buru-buru sampai rumah. Ga perlu disapa, apalagi mau menyapa.
"Selamat sore.."

Ini udah 2017 loh! Medsos adalah teman (hari-hari) paling baik.
Dulu sih iya, "Buku adalah teman duduk paling baik"
sekarang, jangankan duduk, lagi jalan (ga peduli nubruk orang atau ketabrak, hape tetap di tangan, medsosan), lagi motoran juga, lagi nyetir sambil update-an, ngetwit, nge-path, posting tumblr.

Ini udah 2017 loh! Medsos bikin sesak. Berita-berita bikin mata lelah. Broadcast ini itu, ga jelas lagi hoax apa beneran. Yang penting share dulu. Mancing kerusuhan, aksi damai, aksi demo, aksi apa aja ga lagi di depan kantor pemerintahan, ya cuma di tangan. Modal gadget doank. Group-group kebaikan sih ada, seliweran juga dimana-mana. Sebagiannya menyoal, ini bid'ah-ini isbal, ini syiah-ini kanibal. Atau, cring-cring di telegram, pengingat aktifitas, dzikir pagi juga sore, ceramah harian, motivasi diri, tugas-tugas dari tempat kerja, ga lupa gosip juga ada di sana.

Ini udah 2017 loh.. Tuntut ini itu, ga harus sarjana hukum lah, ga perlu nyari pengacara dulu. Sebar sana sini, ribut ini itu, viral dimana-mana, ya udah, gitu aja. Dilaporkan-ditangkap. Kasus naik. Pengadilan rame. Berita banyak. Bikin komunitas A sampai Zet. Medsos dong, andalannya.

Haiiya! Medsos.. pertarungan sosial dunia maya dan nyata.

Ini baru awal 2017 kawan, mari peduli. Medsos bisa jadi ajang bersosial yang baik sih, asal bisa memilih dan memilah milah waktu dan tempat yang tepat, agar tak kehilangan kawan di dunia nyata.  

Dan, ini udah 2017 loh! Masi gagal move-on?!*
#eh!!

------


*Hahaa. Maafkeun.. keluar tema nih kayanya.
*Untuk waktu panjang, tujuh ***** itu, wow lah ya! :p

16.10.16

Efek Sebuah Diskusi

Keresahan seorang kawan dalam sebuah diskusi suatu kali, membuat saya penasaran dan membaca lebih tentang tema-tema ekonomi, politik, dan hubungannya dengan persoalan pemerintahan hari-hari ini. 

Dari kawan lain saya diberi link ke sebuah blog.. Pustaka Pohon Bodhi.
  http://pohonbodhi.blogspot.co.id/

Apakah semua yang tercantum di sana hanyalah teori konspirasi, atau tidak. Merujuk ekonomi kapitalis atau apa. Menyimpulkan peran negara menjadi korporatisme atau ko***isme. Entahlah. Membaca jelas, lebih baik. Masing-masing kita berhak atas kesimpulan pribadi. 

Ini saya copy, salah satu tulisan dari blog tersebut..

Hasil Akhir

Hasil dari kredit-sebagai-uang dan gabungannya dengan sistem fractional reserve banking memastikan terjadinya kemiskinan di sebuah populasi.

Tak ada ilmuan / genius manapun yang bisa mengingkari hukum matematika. Filosofi berpikir positif, bertindak positif, dan positif-positif lain apapun juga takkan bisa membatalkan hasil matematika ini.

Setiap tahun, sedikit demi sedikit jumlah orang miskin bertambah, sedikit demi sedikit masalah yang harus diambilalih pemerintah pun ikut bertambah.

Pemerintah berada di tengah-tengah antara rakyat dan masalah yang ingin diselesaikan.

"Rakyat ------ Pemerintah -------- Masalah"

Untuk menyelesaikan masalah, rakyat "membayar" pemerintah (dalam bentuk pajak). Semakin banyak masalah yang harus diselesaikan, semakin banyak pajak yang harus "dibayar" rakyat.

Di negara manapun juga, akan tiba suatu waktu di mana rakyat yang terus membayar akan kelelahan...

Dari seorang kapitalis yang bekerja mencari nafkah dan membayar pajak...
berubah mentalnya menjadi "jadi pegawai pemerintah saja," bekerja setelah meminta pajak...

Pemerintah, yang awalnya eksis sebagai sebuah institusi sederhana untuk melayani rakyat, perlahan-lahan menjadi kambing hitam dan "tukang cuci piring" atas masalah ekonomi dan sosial yang terjadi.

Semakin banyak masalah, semakin besar skala pemerintah.. sampai suatu saat...

Pemerintah berubah sepenuhnya sebagai parasit, sebagai penodong rakyatnya sendiri. Rakyat eksis untuk membayar pajak, itulah yang terjadi.

Perusahaan yang tersisa, yang sekarang menjadi tulang punggung negara tersebut, menjadi kelompok "pemberi makan" satu-satunya. Pegawai perusahaan tergantung pada mereka... Pajak untuk membiayai pemerintahan pun tergantung pada mereka...

Hasil akhir cuma ada 2:
1. Perusahaan / korporasi mengambil alih negara (KORPORATISME). Perusahaan akan menyusupkan orang-orangnya ke pemerintahan, keseluruhan peraturan dan keputusan pemerintah adalah untuk membela kepentingan kelompoknya...

atau....

2. Negara mengambil alih semua perusahaan tersisa (KOMUNISME). Negara menolak untuk "meminta makan" kepada pengusaha, dan memutuskan agar Negara = Pengusaha itu sendiri.

Tidak ada ilmuan / genius manapun yang bisa membatalkan hasil akhir ini. Tidak ada.
Usaha terbaik yang mungkin dilakukan hanyalah menunda hasil akhir...

Tanpa mereformasi sistem penciptaan uang, tanpa pelarangan terhadap fractional reserve banking, tak ada usaha perbaikan kesejahteraan rakyat apapun yang perlu dibicarakan. Semuanya sia-sia belaka.

15.10.16

Anak Usia Dini Hari Ini



 Melihat dan mendengar berbagai kabar buruk terkait anak seringkali membuat hati kita miris. Di antara anak-anak itu, adalah mereka yang mengalami kekerasan verbal, kekerasan fisik, maupun kekerasan mental. Yang lebih memilukan lagi, adalah mereka yang menjadi korban pelecehan seksual. Setiap hari, media kita tak luput memberitakan hal itu. 

Ironisnya pelaku kekerasan terhadap anak, biasanya adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan si anak, seperti keluarga, guru maupun teman sepermainannya. Itu artinya, perlakuan buruk yang diterima si anak, terjadi di lingkungan kesehariannya berada. Di rumah, di lingkungan keluarga, di sekolah, di tempat belajar lainnya, dan di perjalanan menuju semua aktivitasnya itu. 

Menurut Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 1 angka 1,“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.” Di antara rentang usia tersebut, yang paling kecil ruang lingkupnya adalah anak pada usia 1-7 tahun. Mereka rata-rata baru berada di lingkungan keluarga, atau tempat penitipan anak, atau di tempat pendidikan anak usia dini (PAUD).

Sebagai masyarakat, kita memang wajib peduli kepada anak yang berada di mana saja lingkungannya. Karena semua anak adalah anak kita. Anak merupakan titipan masa depan. Dan, kita semua bertanggung jawab memberi rasa aman dan perlindungan demi masa depannya. 

Sekalipun, pada kenyataannya, masih ditemukan kesulitan dalam pembinaan anak yang mengalami perlakuan buruk di lingkungan keluarga, oleh orang tua atau keluarga intinya sendiri. Sebagiannya akan enggan melaporkan, karena menganggap itu adalah aib keluarga. Tidak perlu diperluas, dan keluarga akan menyelesaikan dengan caranya sendiri. 

Hal seperti inilah yang membuat proses hukum oleh pihak kepolisian menjadi lebih sulit. Lembaga-lembaga sosial peduli anak pun akan kesulitan karena informasi yang diberikan tidak maksimal. Atau bahkan ada yang ditutup-tutupi. Jika memang demikian, siapapun tentu tak banyak bisa berbuat. Kecuali, masyarakat setempat peduli, pemerintah lingkup terkecil daerah itu juga pro aktif menangani jika terjadi sesuatu. Kita hanya khawatir, ketidak amanan di lingkup keluarga itu, merembes dan memberi dampak yang lebih luas kepada masyarakat lainnya. 

Lain halnya dengan perlakuan buruk anak yang diterima di lingkungan PAUD atau tempat penitipan anak. Tidak sedikit berita tentang kelalaian pengasuh di tempat penitipan anak dan bayi, yang berefek merugikan anak, membahayakan anak, dan mengorbankan anak. 

Misalnya bayi yang tiba-tiba di rumahnya diketahui sudah ada bagian melepuh di jari kakinya. Seperti tersiram air panas. Ketika si ibu mengonfirmasi ke pihak TPA, semua berkilah, kalau itu tidak terjadi di tempat mereka. Atau, yang baru-baru ini saya dengar. Salah satu bayi di TPA “X”, ditemukan kejang, meninggal di tempat. Didapati ibunya, bayi di ruangan khusus bayi itu, tersungkur, jatuh dari ayunan, yang bayi itu ditinggal sendirian. Belum lagi, hal-hal yang merugikan lainnya seperti anak-anak yang digigit ulat, bayi-bayi dan anak-anak yang mendapat penyakit ‘seragam’ sepulangnya dari tempat itu. Menyedihkan.

Benar, bila semua itu bukanlah keinginan siapapun. Tapi kelalaian yang terjadi tersebab siapapun, tentu harus diantisipasi. Salah satunya adalah dengan adanya standar kelayakan bagi pihak pengelola tempat penitipan anak di mana saja adanya. PAUD/ tempat penitipan anak yang terstandar pun perlu dilakukan pembinaan berkala dan pengawasan oleh pemerintah. Perlu juga adanya sanksi yang jelas terhadap kelalaian tersebut. Berapa persen di antara pengelola dan bunda-bunda pengasuh PAUD itu, yang telah tersertifikasi untuk profesinya, atau telah lolos uji kompetensi, pengetahuan dan skil dalam pengasuhan anak. Apakah sudah dipublis? Bagaimana seorang ibu akan merasa aman menitipkan bayi dan anaknya?

Semuanya seperti upaya saling berkait dalam mewujudkan kesejahteraan sosial kita. Untuk membentuk bangsa yang kuat, perlu dipersiapkan generasi-generasi yang kuat pula. Generasi yang kuat memang bermula dari keluarga, tapi lingkungan kita jelas berperan pula dalam perlindungan dan penjagaan tumbuh kembang si anak.
Orang tua dan keluarga adalah  pihak yang bertanggung jawab penuh untuk anak-anaknya. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan bagi mereka yang memilih menjadi pendidik full di rumahnya, bagi anak-anaknya (saja). Ini jelas lebih baik. 

Namun kita tidak bisa menafikan kondisi sosial setiap orang yang berbeda satu dan lainnya. Pada keadaan ibu-ibu yang bekerja, tentu butuh orang lain. Menyikapi hal ini, pemerintah melalui kementrian PPPA telah berupaya dengan menganjurkan adanya ruang laktasi di setiap SKPD. Bahkan tahun 2014 lalu, mentri PAN-RB juga meminta setiap instansi pemerintah memiliki tempat penitipan anak.

Data di sebuah kota menyebutkan, PNS perempuan berjumlah 1523 orang dari 2490 pegawainya. Jelas lebih banyak perempuan. Kita lihat pula di sekolah-sekolah, semakin nampak perbandingan lebih banyaknya perempuan dibanding laki-laki. 

Di BUMN atau swasta pun hendaknya diperlakukan sama. Perlu ada yang memberi pengawasan ketersediaan ruang laktasi, atau tempat penitipan anak untuk kesejahteraan karyawan perempuannya. Ber(t)apa banyak perempuan yang hari ini bekerja dan menghabiskan hari dan waktunya di bank, misalnya. Apakah kita akan tutup mata untuk semua kebutuhan itu. 

Karena kita tidak bisa menutup peran perempuan di ruang publik, maka kita butuh kepedulian bersama untuk menselaraskan hak dan kewajiban yang diterimanya. Ketika bicara tentang anak, kita juga akan bicara tentang perempuan.

Pada mereka –para perempuan kepala keluarga- yang harus bekerja menaflkahi anak-anaknya, pengasuhan layaknya keluarga normal akan jauh dari sempurna. Atau anak yang hidup di tengah keluarga yang tidak harmonis, korban perceraian orang tua. Anak-anak yang bahkan ditelantarkan orang tuanya, dan diasuh di panti-panti asuhan. Anak-anak yang tertakdir hidup dalam kondisi itu, jelas tetap memiliki hak yang sama dengan anak lainnya. 

Akhirnya, semua kita harus peduli pada generasi masa depan yang hanya 20% dari populasi manusia hari ini. Mereka adalah 100%  kehidupan hari esok. Anak dan bayi dalam lingkungan tempat penitipan anak ini, harus dijaga bersama, diawasi pengasuhannya, dikontrol pengelolaannya, disiapkan sanksi kelalaian yang diterimanya dari pengelola itu. Oleh kita semua. Semua unsur masyarakat, lembaga-lembaga perlindungan anak dan pemerintah mesti bersinergi untuk itu. Ya, kita, siapa lagi?

14.10.16

Apakah

Manusia dalam hidupnya, jelas memiliki tujuan. Tapi tak semua manusia yang 'hidup' memiliki tujuan yang jelas.
Apakah tujuan hidup manusia.
Apakah tujuan manusia hidup adalah kaya.
Apakah tujuan manusia hidup adalah kerja.
Atau, uang.

Apakah manusia inginkan dampak baik setelah hidupnya.
Apakah manusia inginkan hidupnya hari ini, ya hari ini. Kenapa memikirkan dampak.
Mari kita ganti, manusia dengan kita.
Apakah kita memiliki tujuan yang jelas.
Apakah tujuan kita adalah bahagia.
Apakah tujuan kita adalah surga.
Bukankah bahagia dan surga, adalah dampak dari kehidupan manusia.
Bagaimana sekiranya tak ada surga kelak.
Bagaimana jika, bahagia tidak bertemu simpulnya.
Apakah kita inginkan ternama.
Apakah kita ingin, dampak kehidupan kita berjasa bagi sesama.
Bukankah,, manusia mati meninggalkan nama, tersebab jasanya pada sesama.
Apakah setiap hela nafas dan semua aktifitas kita bermuara pada kehendak sang Pencipta.
Apakah Sang Pencipta memudahkan harapan-harapan dan mimpi-mimpi kebaikan kita.
Bukankah, Dia tak pernah sia-sia pada usaha hambaNya.
Tutuplah mata, jika melihat justru membuat kita buta.
Tutup telinga, biar tak mendengar apa yang menyisakan gelisah di dada.
Berhenti, peduli. Pada siapa yang hanya akan menertawakan.
Apakah itu sebabnya Rabiah, memilih satu-satunya alasan kehidupan adalah cinta kepada Tuhan.
Bukan kewajiban. Bukan kaya. Bukan kerja. Bukan bahagia. Bukan surga.

11.10.16

Belajar Kepada Air

Baru beberapa hari lalu saya melihat postingan seorang pejabat daerah, yang melakukan serah terima dengan pihak propinsi, terkait pemindahan guru SLTA dari kabupaten kota ke propinsi. Saat itu, saya langsung berpikir, kapan akan melanjutkan perjuangan yang tengah terhenti ini. Rencana demi rencana pun disusun ulang. Saya akan datangi kantor X propinsi, pada hari itu, lalu menunggu kabar lagi, apakah bahan tersebut diteruskan ke pusat atau bagaimana. Sudah terbayang jalan-jalan dan pos-posnya.

Tapi, dalam bayang itu yang belum terlaksana, sudah keluar lagi aturan baru. Tentang Ali*fungsi. Katanya, semua guru yang terdampak K-13 direkomendasikan untuk ikut program itu. Dan saya, -yang entah terdampak k-13 atau terdampak sistem yang lahir prematur/ tak sempurna kelahirannya-, mencari lebih banyak referensi tentang program al*h f*ngsi itu.

Ada beberapa hal yang saya pahami, pertama, saya termasuk dalam kategori guru bahasa asing, kedua, saya mengampu mata pelajaran yang termasuk dalam program itu, dan ketiga, usia saya pun masih dalam batasan yang ditentukan. Saya berpikir, baiklah.. jalan ini mungkin bisa ditempuh. Saya bertanya kepada pengawas, beliau memberi nomor kontak yang lain yang dinilai lebih mengerti hal itu. Setelah dihubungi, saya dan seorang kawan disarankan untuk menunggu dan mengikuti pembicaraan tentang hal itu pada hari Selasa depan. Baiklah, kami bersabar.

Dan, inilah hari Selasa itu. Baru saja saya kembali dari ruang pertemuan singkat terkait a-f itu. Tahukah, kesimpulannya? Kesimpulan itu tidak berdampak lebih baik ke pikiran saya. Pihak dns *dk katakan, mereka merekomendasikan orang-orang yang diundang untuk memilih program tersebut. Sedangkan saya yang tidak termasuk dalam kelompok itu, diminta bersabar. Mungkin akan tiba gilirannya tahun depan, katanya. Oh Tuhan, ini kata 'baiklaahh' ke berapa yang harus dikeluarkan. 

Lalu, saya berpikir-pikir saja. Katanya, setahun lalu juga begitu. Bersabar saja dulu, akan ada kebijakan ini itu. Kata dia hari ini, nanti persoalan nasib yang akan menjawab. hmm.

Jadi, apa yang harus dilakukan sementara itu? Harus mengantarkan bahan dan audiensi lagi, untuk jalan penyeberangan? Atau, mengikuti 'belajar' lagi ke kampung sebelah. Atau, menjalani kegiatan hari-hari yang -sesungguhnya dijalani hanya sebagai kewajiban semata, bukan bidang saya, tak cukup ilmu-, ituu..hingga tahun depan? Sementara, mereka yang 'mengajak' memasuki bidang itu, terus mensejajarkan profesionalisme saya dengan mereka.

Kita mungkin kembali belajar kepada alam. Belajar kepada air. Mengalir, mengalir dan mengalir. Kita harus menempatkan diri, dalam keadaan yang tak perlu disesali lagi. Toh kita telah berada di anak sungai kehidupan itu.

Apa saya memilih jalan ini sejak 2010 lalu, dengan sepenuh hati? Tidak. Tapi ya dijalani, disyukuri pada banyak hal. Jika beberapa tahun belakangan, keadaannya menjadi seperti tikungan yang bertubi-tubi, tentu jalan satu-satunya, ya tetap dijalani. Apa yang saya syukuri? Syukurnya, saya bisa melakukan berbagai hal selain 'di situ' saja. Jadi lebih banyak 'dunia'. Meski setiap kali kembali ke dunia itu, rasanya ingin menutup buku saja. Air mengalir sampai jauh ya..bahan saya mengalir sampai mana (?)

Mereka yang berkata, tunggulah, setahun lalu itu, ada dimana kini. Mereka yang mengembalikan bahan, mengundur dan mengundur. Membuat menunggu dan bersabar hingga Oktober. Saat oktober tiba, kita dimana. Bukan lagi bersama mereka. Lepas sudah urusannya. Dikatakan jalan lain, dan jalan itu,,tak pula bapak berikan saya hak untuk melewati. Baiklah..

Bolehkah, mengangkat tangan pada kamera. Atau memilih keluar dari permainan ini. 

** ini sebuah c*rh*tan (?) hm..

Si Aku, Siswaku (2)

Masih ingat kisah si Aku, siswa saya yang bermasalah dengan hari Selasa? Ya, mari kita lanjutkan ceritanya.

Perkara si Aku, sampai ke pejabat sekolah. Laporan para guru, -khususnya guru hari Selasa- memberi peringatan 'keras' kepada si Aku pasca mid semester ini. Ia juga terancam tidak dapat mengikuti kegiatan praktek kerja industri awal tahun depan. Itu sama halnya dengan ia tidak dapat naik ke kelas dua belas.

Saya dan guru kejuruan yang waktu itu ke rumahnya, memanggil lagi si Aku. Bergantian kami bertanya. Berbagai cara. Dari seperti berbicara dengan orang dewasa, serius, dan to the point sampai ke yang paling lembut dan langsung TAP ke hati. Semua jurus dikeluarkan. Dari emosi marah sampai hampir-hampir menyerah menunggu tanggapannya. Aduh... beginilah. Berhadapan dengan anak terlanjur dewasa oleh masalah, tapi tetap saja butuh,,butuh keadaan dia diterima sebagaimana seorang anak.  

Saya terpikir, dalam aturan sistem saat ini, ia sudah sepatutnya menandatangani surat perjanjian tingkat tiga. Dimana pada surat itu tertera materai 6000, dekat tanda tangannya. Juga diketahui oleh wali kelasnya, guru konselingnya, kepala sekolah dan tentunya orang tua atau walinya. Nah, siapa yang akan menjadi wali? Dirinya sendirikah? Nenek, hmm, entahlah.

Kalau hal itu terjadi, maka dalam rapat penentuan nanti, ia akan terkendala untuk bisa prakerin. Kehadiran dan syarat-syarat lain tak terpenuhi. Konsekuensinya adalah tak naik kelas. Seterusnya? Akan kecil sekali kemungkinan ia akan bersekolah sebagaimana hari ini. Kalau ia tak sekolah lagi, bagaimana. Akankah ia jadi preman simpang, tak tau kerjaan. Padahal, komplain dari guru-guru lain tak ada berkaitan dengan kenakalan yang diperbuatnya. Juga masalah kemampuan, ia tak begitu 'payah' untuk standar sekolah kami. Si Aku tak boleh berhenti sekolah.

Kepala sekolah didatangkan. Setelah memahami keadaan si Aku, didapat kesepakatan. Surat perjanjian tingkat tiga dipending dulu. Ia tetap membuat pernyataan, yang tetap berjanji, tapi di buku bimbingan walas saja.


Sabtu itu, perjanjian ditulis. Setelah beberapa hari tak datang, ia datang ke sekolah hari Sabtu. Hari Senin, kelasnya belajar dengan saya. Si Aku tak datang. Sebuah surat bertanda tangankan dia dan neneknya diberikan siswa lain. Ia sakit.

Si Aku pernah bercerita, di telinganya tumbuh semacam benjolan. Setelah diobati bagian kanan, benjolan itu tumbuh lagi di sebelah kiri. Katanya lagi, keadaan serupa telah terjadi beberapa kali. Waktu kelas sepuluh, penyakit itu sempat singgah pula. Karena menurutnya, pelayanan puskesmas dan dokter yang kurang bersahabat, ia malas datang lagi ke dokter. Jadilah, ia menahan sakit, dan meminta 'pencet' benjolan itu, kepada temannya saja. Bagaimana bila anak lain seusianya sakit? Pastilah merengek kepada ibu. Ditemani berobat, disiapkan makanan lebih baik tentunya. 

Minggu ini jadwal pelajaran berganti. Mata pelajaran saya dijadwalkan hari Selasa di kelas si Aku. Maka jadilah saya masuk kelasnya lagi hari itu, Selasa. Dan si Aku, masih tak datang.

Saya mengajar di kelasnya, Hari Selasa. Tapi saya menunggu kabarnya setiap hari, tak hanya Selasa. 
Apa kabar dia hari ini..

9.10.16

Limit

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (Q.S. Al-A’raf: 34).

Setiap umat ada masanya. Setiap alat ada expirenya. Setiap anak ada zamannya. Setiap zaman ada anak zamannya.
Dan kita, tak akan berada pada keadaan serupa, tempat yang sama, posisi yang tetap, peran yang sama, selamanya.
Mesti ada yang berganti. Tentang perubahan itu, ya wajarlah..
Hm.hm.
Yang lalu, ya akan berlalu. Dan tak  akan kembali siapa yang telah mati.
Itulah limitnya. 

6.10.16

Si Aku, Siswaku (1)

Siang itu waktu menunjukkan pukul 14.50 Wib. Saya bermaksud melakukan kunjungan rumah (home visit) ke rumah salah satu siswa. Ya, pada kasus-kasus tertentu, saya memang merasa butuh untuk melakukan kunjungan rumah siswa. Melihat langsung kehidupannya, mungkin juga merasakan, memberi makna dan mungkin juga kemudian mensyukuri banyak hal dari kunjungan tersebut. Dan, saya menyukai kegiatan ini. Bersama seorang guru kejuruan, kami berangkat menuju rumah si siswa.

Rumah itu, berjarak hanya beberapa kilometer dari sekolah kami. Nuansa desa yang damai begitu terasa saat saya sampai di rumah itu. Bayangkan saja, kita mendengar aliran gemericik air yang mengalir dari sawah, melintasi parit kecil tepat di depan rumah itu. Sisi kiri rumah itu dan bagian depan, dihadapkan dengan tanaman padi yang mulai menguning. Sisi kanan, selain bersebelahan dengan rumah tetangga, juga ada kolam ikan. Bagian samping rumah, adalah kandang ayam. Arah belakang rumah terdapat dapur kayu. Selain itu, rumah sederhana itu memiliki halaman yang dihampari oleh batu-batu kerikil. Aduhai, betapa ini benar-benar nuansa rumah nenek, saat saya mengarang cerita ketika SD dulu. Nyaman sekali untuk waktu siang yang tak begitu panas hari itu.

Suasana Depan Rumah si Aku
Perkenalkan, namanya adalah Aku. Atau, kita panggil saja dia si Aku. Dia adalah siswa laki-laki kelas dua sekolah menengah kejuruan. Si Aku, menurut wali kelas lamanya, bukan tergolong anak nakal. Dia juga bukan anak yang suka mencari perhatian dengan sikap usil terhadap kawan-kawannya. Ia hidup bersama seorang nenek. Ya, tepatnya mereka hidup berdua. Hanya berdua. 

Saya memperkenalkan diri. Saya bertanya, kemana si Aku. Si nenek menjelaskan, si Aku mengaku tidak sekolah, karena baru saja selesai ujian Mid semester. Jadi libur dulu, katanya. *wahai. saya menemukan satu kebohongan anak itu.

Menurut pengakuan nenek itu, si Aku telah bersamanya sejak ia berumur empat hari. Hanya bermodal kompeng, dot dan susu botol-lah ia membesarkan si Aku. Sebagai seorang nenek, katanya lagi, ia sungguh menyayangi cucunya itu. Ia juga menceritakan bagaimana pengorbanan yang dilakukannya untuk beberapa cucunya yang lain.

Nenek itu, meskipun kadang tak memasak, tapi ia meminta bantuan tetangga untuk memasakkan makanan untuk mereka. Dengan uang pensiunnya, si nenek mencoba memenuhi kebutuhan si Aku. Memberi ongkos dan uang jajan untuk si Aku.

"Tapi buk, payah bana manjagoan nyo." cerita si nenek tentang susahnya ia menjaga dan mendidik anak laki-laki yang bertumbuh remaja itu. "Kadang ia pulang jam dua malam, kadang jam tiga. Kemana anak itu, entahlah." Tambahnya lagi, "Kok pai-pai juo Ang, mati se den di rumah ko sia nan ka tau?" Suara si nenek mulai serak, matanya pun berkaca-kaca. 

Nah! Kebohongan kedua. Pengakuan si Aku, ia selalu di rumah. Bahkan untuk sekedar main bola sore pun, ia jarang lakukan, karena khawatir neneknya yang tinggal sendirian. 

Masalah yang mengantarkan saya ke rumahnya bukan tentang kebohongan itu. Sebabnya adalah, si Aku sudah lebih lima kali hari Selasa tak datang ke sekolah. Dan, hanya hari Selasa. Ada apa dengan hari Selasa?

Bersama si nenek
Ada beberapa kemungkinan yang melintas di pikiran saya, pertama, mungkinkah si Aku bekerja pada hari Senin, lalu ia kelelahan dan tidak bisa datang sekolah hari Selasa. *Senin adalah hari 'balai' di kota kami. Atau, kemungkinan kedua, ia ikut seseorang yang mengantar barang-barang pada malam Selasa itu. *Seperti kasus siswa saya sebelumnya, yang menyetir truk mengantarkan seng/atap ke daerah (kabupaten) lain. Atau, kemungkinan lainnya, apakah neneknya sakit setiap hari Senin? Atau ia tak punya uang untuk berangkat sekolah setiap hari Selasa? Atau, atau yang lain?

Hari itu, memang belum ditemukan, apa sebab si Aku tak kunjung datang sekolah hari Selasa. Tapi, saya menyimpulkan beberapa hal, tentang kebohongannya, tentang cerita-cerita si nenek, tentang mulai menipisnya *mungkin* motivasi sekolah si Aku. Atau, ia sedang menghadapi persoalan lain, yang tak diceritakan kepada si nenek.

Lalu, kami membuat kesepakatan, saya dan si nenek. "Nenek jangan beri tahu si Aku dulu, tentang kedatangan saya hari ini. Besok, di sekolah saya akan panggil lagi, dan tanyakan kabarnya. Mana tau, ia bisa bercerita." Si nenek setuju. 

***
Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya home visit saat itu. 

Pertama, Ini hanyalah bagian perjalanan takdir. Maka adakah yang pantas disalahkan dengan keadaan semacam ini? Si Aku mungkin tak pernah menginginkan terlahir menjadi anak yang tak dibesarkan ibunya. Diurus oleh nenek, yang yaa..bagaimanalah kasih sayang si nenek, yang tak sanggup 'berang' karena terlalu sayang. Seberapa mengertikah si nenek tentang tugas-tugas yang dibebankan sekolah. Ah, diceritakan pun, mungkinkah si nenek mengerti tentang rumitnya hal-hal berkaitan jaringan, matematika, dan bahasa inggris? Saat remaja seusia itu sakit, masih ada ibu tempat mengadukan yang terasa. Si Aku? Tanggunglah saja sendiri. Ceritakan ke puskesmas, antarkan sendiri sakitmu, dan mintalah obat jika kamu memang mau sehat kembali. Bukankah hanya begitu yang mau tidak mau, rela tidak rela, harus dihadapinya?

Kedua, persoalan yang dihadapi si Aku, pastinya tak hanya perkara kasih sayang yang tak sempurna ia peroleh sejak masa kecil. Melainkan juga karena hitung-hitungan keuangan. Kebutuhan anak remaja, apakah terpenuhi dengan gaji pensiunan yang telah potong sana-sini, dan tentunya memenuhi kebutuhan mereka berdua? 

Ketiga, tekanan yang dihadapi si Aku di sekolah, kasus ini itu, mengantarnya bercerita atau mengadu kepada siapa? Ibu jauh, sibuk pula mencari uang. Ayah? Ayah tak tau dimana. Kawan? Seberapalah pedulinya kawan.. Ia memang menjadi korban. Efek keadaan keluarga yang tidak normal. Namun, ketidak beruntungan nasib hendaknya bukan alasan baginya kemudian menjadi lemah.

Keempat, Kalau saja ada lembaga atau yayasan yang peduli pada urusan finansial, juga kasih sayang. Kalau saja, ada banyak orang tua asuh, kalau saja mamak, sanak famili dan keluarga masih peduli. Sayangnya, kita terlanjur tak sabar. Sayangnya, keadaan itu hanya "kalau saja". 

Kelima, si Aku tak boleh berhenti sekolah. Ia harus punya modal keterampilan untuk masa depannya. Tapi yang lebih utama, ia harus tahu : "Berpikirlah Aku. Begini hidup mengajarkan kita..Ya, Beginilah."

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...