Showing posts with label catatan perempuan. Show all posts
Showing posts with label catatan perempuan. Show all posts

24.4.26

2026

 

Halo, ini sudah 2026 ternyata.
Tulisan di sini sudah lama terpendam, seperti halaman buku yang terselip di antara waktu—tidak hilang, hanya belum sempat dibuka kembali.

Kadang hidup memang seperti musim.
Ada masa kita berbunga, penuh semangat dan cerita. Ada masa kita sepeerti musim gugur, diam, butuh hibernasi dan memilih menyimpan segalanya sendiri. Blog ini pernah ramai oleh kata-kata, lalu diam.  Mood lagi, menulis lagi. Tetapi karena hidup sedang sibuk mengajarkan banyak hal dengan caranya sendiri.

Saya belajar bahwa manusia sering kali seperti rumah—dari luar terlihat kokoh, meski di dalamnya ada banyak ruang yang sedang direnovasi. Ada tembok yang retak, bagian yang ingin diganti, ada sudut-sudut yang lama dibiarkan berdebu, ada sisi yang memang sudah sepatutnya diganti.

Dan menulis, bagi saya, adalah cara membersihkan rumah itu.

Kadang kita terlalu sibuk dengan rutinitas hari-hari, sampai lupa duduk sebentar dan bertanya pada diri sendiri:
“Apakah semua baik-baik saja? Apa yang memberi makna dan apa yang perlu diabai-biarkan?”

Waktu mengajarkan saya bahwa tidak semua yang tertunda berarti gagal.
Seperti matahari yang tidak pernah benar-benar terlambat terbit, setiap orang hanya punya waktunya masing-masing untuk kembali bersinar. Hidup masing-masing yang tidak perlu dibanding-sandingkan. 

Jika kamu membaca ini, mungkin kita sama—sedang belajar melewati fase-fase kehidupan, menerima perubahan, dan memahami bahwa tumbuh tidak selalu terlihat seperti pencapaian besar. 

Mari kita mulai lagi.


22.8.19

Selendang Koto Gadang

Menyulam


Pernah dengar Sulaman Koto Gadang? 
Sulaman Koto Gadang, adalah sulaman spesifik Minangkabau yang berasal dari daerah Koto Gadang, IV Koto, Kabupaten Agam. Salah satu 'rumah produksi' sulaman itu zaman dahulu,  adalah di Kerajinan Amai Setia,  Koto Gadang. 

Di tulisan lain dalam blog ini pernah dibahas juga tentang Kerajinan Amai Setia yang didirikan oleh Rohana Koeddoes tahun 1911 lalu. Sepintas kita ulas lagi, di pusat Kerajinan Amai Setia itu, Rohana mengajarkan bermacam-macam keterampilan rumah tangga untuk perempuan. Lewat kawannya, hasil kerajinan hasil pelatihan keterampilan itu kemudian dipasarkan sampai kepada petinggi Belanda. Bahkan dikirim sampai ke Eropa. Maka terkenallah sulaman koto gadang,  hingga hari ini. 

Selendang Koto Gadang disulam dengan jenis sulam Suji Caia dan Kapalo Samek. Dengan ciri khas warna yang mencolok, bunga besar dan disulam dengan benang emas selendang ini tentu ada pasarnya. Harga sesuai dengan kerumitan dan keaslian sulaman itu. Semakin rumit dan detil sulaman, semakin tinggi harga. Tapi yang namanya produk budaya yang khas, betapapun mahalnya, ada selalu kolektor/penyukanya. 

Saya pribadi bukanlah penyuka hal-hal yang begitu tradisi. Karena kadang prinsipnya, yang lebih simpel, lebih mudah, lebih praktis lebih disukai. Namun ternyata, pada kondisi-kondisi tertentu kita wajib tahu dan mengerti atau bahkan mencoba hal-hal yang bersifat tradisi itu,  meskipun sedikit rumit atau unik. Bukan untuk tetap menjadi tradisional, namun siapa lagi yang akan melestarikan tradisi budaya kita kan. 

Jadilah, dalam suatu kegiatan, untuk pertama kalinya saya mengenakan Salendang Koto Gadang. Pasangannya untuk salendang yang dijadikan 'raok' itu, ya busana yang tepat mewakili budaya Minang, yakni Baju Kuruang atau Baju Basiba.



Katanya, kita akan bertemu hal-hal yang sedang berada dalam pikiran. Tiba-tiba saya bertemu ibu-ibu Bundo Kanduang yang sedang menyulam Selendang Koto Gadang. Indah tampaknya pemandangan itu. 

Di saat, hari-hari ini ibu-ibu yang duduk di halaman rumah, atau mengisi waktu santai dengan gadget, pemandangan ibu yang sedang menyulam ini menjadi unik. Padahal, sekian tahun lalu, menyulamlah tradisi para perempuan dalam mengisi waktu. Haha. Lama-lama saya kembali ke masa-masa foto yang hanya berwarna hitam-putih. 



Setelah bercerita dengan si ibu, ternyata ini bukanlah 'sulaman utuh' suji caia. Sulaman yang ada di foto itu, adalah versi kekinian yang dibantu sulam oleh mesin bordir komputer. Selanjutnya bunga-bunga bordirnya diperkuat dengan benang emas. Bagian pinggir selendang juga disulam dengan benang emas. Sekilas memang tampak mirip,  tapi jelas berbeda. 

Di satu sisi, teknologi memang memudahkan segalanya kan ya. Tapi di sisi lain, orisinalitas produk budaya dapat berkurang disebabkan penggunaan teknologi. hallaah. teori.   :D


11.3.19

Perempuan Pilih Caleg Perempuan



Mendekati masa-masa pilleg dan pilpres, kita disuguhi berbagai baliho, spanduk dengan foto dan data nama caleg dan capres. Ada banyak caleg yang foto dan nama dirinya terpampang di pinggir-pinggir jalan, di depan toko, di pasar dan dimana saja. Bahkan pada dinding tebing yang nun jauh di atas bukit. Butuh kacamata, eh kaca pembesar untuk membaca namanya. Yang menarik dari berbagai caleg bagi saya, adalah para caleg perempuan. 
Apa yang menarik? Setiap nama itu saya coba ingat-ingat lalu mencari tahu –dengan kehidupannya. Tidak hanya kehidupan karier, namun juga kehidupan keluarga. Lho, apa pentingnya? Jelas penting. Selama yang menjadi caleg itu berkerudung, saya memang selalu mementingkan kehidupan pribadi mereka untuk dikenali. Bukan untuk hal sumber infotainment, melainkan sebagai patokan: adakah ini seorang perempuan yang inspiratif?
Perempuan inspiratif sudah seringkali dibahas di media. Ada banyak tokoh perempuan inpiratif dengan berbagai bidang inspirasi kerja dan kebaikan yang mereka tanam. Lembaga pemerhati perempuan juga banyak yang melakukan seleksi atau semacam kompetisi untuk menjaring nama-nama perempuan inspiratif itu. Kementrian pemberdayaan perempuan sendiri, secara resmi juga menjaring perempuan inspiratif dari berbagai daerah. Hasilnya ya, tentu saja sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh pihak penyelenggara. Dan saya, punya standar sendiri tentang perempuan inspiratif itu.
Seorang perempuan dapat dikatakan inpspiratif ketika berbuat kebaikan terhadap masyarakat banyak, menjadi teladan kehidupannya baik secara pribadi maupun karier/pekerjaan. Dalam Islam, dua hal ini dikenal dengan dua sektor yang perlu diperhatikan oleh seorang perempuan. Yaitu, sektor domestik dan sektor publik. Sektor domestik adalah kehidupan khusus yang dijalani seorang perempuan yang menyebabkan dirinya hidup di rumahnya, di antara anggota keluarga yang lainnya. Sementara sektor publik adalah ketika perempuan menjalani kehidupan umum, yang memungkinkan dirinya hidup di anatar sejumlah individu dalam masyarakat, baik taraf kampung, kota atau negara.
  Sektor domestik memiliki institusi yang disebut dengan keluarga. Di sini bermula peran yang beragam; sebagai hamba Allah, sebagai anak/istri/ibu. Dalam kehidupan domestik ini, kehidupan laki-laki dan perempuan terdapat pola kemitraan dimana kewajiban masing-masingnya menunjukkan prioritas keberadaan. Laki-laki dengan kewajiban menafkahi keluarga memungkinkan keberadaannya lebih banyak di sektor publik (Q.S. Al-Baqarah:23, An-Nisaa: 3). Sementara perempuan –khususnya istri- adalah mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya yang memungkinkan dirinya lebih banyak berada di sektor domestik (Q.S. Al-Baqarah: 233, Ar-Ruum: 21)
Maka caleg yang menginspirasi itu, bagi saya adalah yang sudah membereskan urusan domestiknya. Jika dia adalah seorang Ibu, yang sudah membesarkan anak-anaknya. Bagaimana anak-anak mereka itu tumbuh dan menjadi dewasa? Jika menjadi istri, bagaimana mereka membagi tugas kemitraan dengan para suami mereka dalam mengelola institusi keluarganya. Jika dia adalah perempuan kepala keluarga/ single parent,  maka baginya kewajiban yang utama adalah dalam keluarganya. Oke, ini semua bukan fatwa. Ini adalah kesimpulan saya sebagai pemerhati dan penyuka bahasan pendidikan, perempuan dan anak.
Jika sudah tuntas urusan domestiknya, barulah memasuki ranah publik. Dalam hal ini, perempuan juga termasuk yang menerima seruan Allah untuk ber-amar makruf nahi mungkar, diizinkan melakukan jual beli, muamalah lainnya, dan bekerja di luar rumah dalam rangka pembangunan masyarakat. Perkara ini, jelas tak ada urusannya dengan kesenjangan gender. Hanya saja aturan yang diberikan adalah bagaimana bisa memposisikan diri sebaik mungkin dalam urusan yang melibatkan interaksi laki-laki dan perempuan.
Islam memandang perempuan sebagai bagian dari masyarakat untuk mewujudkan kesadaran politik. Perempuan yang berpotensi untuk itu, perlu mewakili kaumnya untuk hal-hal yang pro terhadap perempuan. Langkah yang dapat ditempuh bisa saja dengan bergabung dengan partai yang sama visi dengan kehidupannya.
Ketika ia menerima amanah dalam bidang publik/politik, penting bagi mereka untuk menyuarakan dan mewujudkan kebijakan-kebijakan yang ramah perempuan-ramah anak. Jadi, wahai para perempuan, pilihlah caleg perempuan yang inspiratif yang sudah membereskan urusan domestiknya. Perempuan dengan sesamanya tentu akan lebih saling memahami.



29.9.17

Catatan Diskusi: Ego dan Individualitas Anak

Dalam sebuah forum yang difasilitasi P2TP2A Kota Bukittinggi, Bang Aad (Adrian Rusfi, seorang Psikolog dan Konsultan Pendidikan) menyampaikan materinya tentang bagaimana menguatkan ego dan individualitas Anak. Menurutnya, ada kesalahan istilah yang digunakan dalam lingkup keilmuan psikologi, yang tidak tepat dengan istilah Islam, yakni penggunaan kata remaja. Dalam Islam, tidak ditemukan istilah remaja. Yang ada, adalah pemuda (red. fataa atau syabab). Penggunaan istilah ini berdampak pada pola pendidikan yang diterapkan kemudian. Banyak dikenal istilah, Remaja Mesjid, Remaja Muslim, dan lain sebagainya.

***
Benar juga. Saya teringat, tidak ada hadis yang menggunakan istilah remaja. Yang ada, adalah pemuda. Yaa ma'syaras syabaab...man istathaa'a minkum.. (wahai pemuda.. dst) --Siswa kelas 3 MAPK pasti sudah populer dengan hadis ini. Hadis yang menyarankan agar para pemuda yang belum mampu untuk menikah, agar berpuasa.

Iya, betul. Barulah sekarang terpikir, bahwa Islam tidak menempatkan usia kelas 3 setara SMA itu sebagai seorang remaja lagi. Melainkan sudah pemuda. Siswa angkatan kami saat itu, termasuk yang berani menikah di usia muda. Dua teman kami yang akan melanjutkan pendidikan ke Cairo, saat itu memutuskan menikah setamat sekolah, dan bersama-sama melanjutkan pendidikannya. Kita akui, itu langkah berani. Tapi, di sana terlihat jelas, bahwa mereka siap menjadi seorang dewasa. Di saat remaja seusianya (seperti kebanyakan--dan termasuk saya) yang masih ingin kesana-kemari, wara wiri, main ini itu, membiarkan waktu berlalu sia-sia, menunggu kiriman orang tua, dan mungkin belum punya mimpi yang sangat ingin untuk diwujudkan.

Pemuda dan remaja, tentu dapat kita bedakan, sekalipun tanpa menggunakan kamus bahasa indonesia. Apa jadinya, jika dulu Presiden Soekarno berkata: "Berikan saya 10 remaja..." Masihkah mampu bapak presiden mengguncang dunia? Yang ada adalah, sepuluh remaja itu dikarantina dulu, disiapkan intelektual, mental dan spiritualnya, baru mungkin sekian tahunsetelah itu, ia mengguncang dunia.

Pemuda dan remaja, boleh jadi secara usia biologisnya mereka sama. Mungkin sama-sama 17 atau 18 tahun. Tapi akan berbeda dari kematangan, kedewasaan dan konsep dirinya.

Atau, dalam hadis lain, laisal fataa man qala hadza abi, walakin al fataa man qaala, ha-ana -dza. Bukanlah seorang pemuda, yang mengatakan ini Bapakku, melainkan seorang pemuda itu, adalah yang berkata: Inilah Aku. Dari sini tergambar, bahwa pemuda adalah seorang yang sudah bisa membanggakan dirinya kepada masyarakat luas. Bahwa ia telah bisa menentukan sikap, memilih sesuai pertimbangannya, atau menolak apa yang tidak sependapat dengannya.

Berbeda dengan istilah remaja. Remaja -bagi saya- agak identik dengan kegalauan, kelabilan, ketidak percayaan diri dan persoalan lainnya. Remaja seperti berada dalam posisi tanggung. Diajak berpendapat, belum matang. Ditinggalkan, usianya hampir dewasa. Akhirnya, jika sudah punya KTP, datanglah para politisi itu kepada mereka. Pilih Bapak ya. Sudah berhak memilih, tapi apakah sudah matang menentukan pilihan. Entahlah.

Maka, fenomena-fenomena hari ini, kasus sodomi, pelecehan seksual, LGBT, dan lain sebagainya, tidak lagi bisa diselesaikan pada usia remaja. Semua itu harus dari usia anak-anak. Di sinilah perlunya ego dan individualitas anak, agar saat ia tumbuh menjadi pemuda, lalu dewasa, ia sudah matang baik secara fisiologis maupun psikologis.

Realita hari ini, kita temukan anak-anak usia 10 tahun, tapi cara pandang, cerita dan sikapnya sudah seperti orang dewasa. Diantara sebabnya adalah, anak-anak itu terlalu cepat terjadi padanya aktifasi hormon seksualitas, baik dengan tontonan yang tidak pantas, bacaan, atau pengetahuan-pengetahuan yang berseliweran di antara mereka. Bisa juga karena ransangan, over protein/gizi. Mereka baligh dini.

Secara fisik, anak usia itu sudah baligh, tapi belum 'akil. Data Bang Aad menyebutkan, bahwa seorang laki-laki atau perempuan yang berusia 25 tahun, belum bisa memilah dan memilih yang terbaik untuknya. Mereka belum bisa matang dan dewasa. Baik secara sikap maupun finansial. Pada usia itu, masih tersibuk kuliah-kuliah, tapi belum bisa merasakan mencari dan menghasilkan uang dengan tangan sendiri. Secara finansial masih sangat tergantung dengan orang lain/orang tuanya. Jadilah, nafsu dengan kedewasaan mentalnya tidak sejalan.

Itulah kenapa dalam Islam, usia kita dipilah menjadi tiga. Pertama, usia 0-15 tahun, adalah character building. Ini dibagi lagi, usia 2-7 tahun anak diajarkan kebaikan-kebaikan. Usia 7-15 tahun diajarkan sanksi atas kesalahan. 

Kedua, usia 15-40 tahun adalah capacity building. Seseorang pada usia ini, dipersilakan untuk mengisi kapasitas dirinya. Bahwa intelektualitas seseorang itu puncaknya berada pada usia 25 tahun. Maka belajarlah banyak hal. Sebagian orang berkata, latihlah banyak hal, namun fokuslah pada satu saja, agar bisa sukses. Tapi menurut Bang Aad lagi, ia justru tidak bisa fokus pada satu hal pada usia mudanya. (Sama seperti saya nih.. hihii). Katanya, memang ada sebagian orang yang justru tidak bisa fokus pada satu hal, hingga mencapai usia kematangan.

Dan, ketiga, adalah usia 40 tahun, semacam waktu unjuk gigi lah. Kata orang, Life begin at 40. Di sinilah puncak keseimbangan. Bahwa dalam Islam, usia kematangan seorang Nabi Muhammad itu adalah 40 tahun, dilihat dari usia beliau diangkat menjadi Rasul.

Nah, persoalan kita hari ini adalah kita mesti peduli, anak-anak kita perlu dididik dengan baik, agar ego dan individualitasnya tepat dan bermanfaat. Lho, ego? Individualitas? Ya. Saya juga sempat berpikir, bahwa di TK dan Paud kita, anak-anak diajarkan berbagi. Bahkan di lingkungan rumah. Ayah akan berkata: "Kak,,bagi sama adeknya." Padahal, pada usia kanak-kanaklah kita perlu bekali si anak dengan: apa yang dia punya, apa yang harus dia jaga, hingga ia berani katakan "tidak" untuk hal-hal yang menurutnya beresiko untuk dirinya.

Kenapa anak-anak TK bisa menjadi korban pelecehan? Bisa jadi karena mereka tidak siap katakan 'tidak', atau bersikap lebih berani untuk menjaga dirinya sendiri. Atau karena kebaikan telah terpupuk dengan baik, mereka biasa berbagi.

Usia kanak-kanak juga adalah usia kebebasan. Anak dibentuk konsep dirinya. Saya ini seperti apa ya, bukan seperti yang maunya papa. Biarkan anak menari, karena dalam Islam sendiri tidak ada larangan bagi anak-anak untuk menari. Biarkan rambutnya dikepang, dipakaikan bando dan pita-pita, toh jika kelak disampaikan kepadanya ajaran, ia sudah siap menerima. Biarkan anak bermain. Play yang bukan game. Saat play, mereka melakukan sesukanya, sedangkan game, mereka harus sudah ikut aturan. Dan itu akan membosankan.

Betul juga. Saya ingat, ada seorang siswa TK yang enggan ke sekolah, karena bosan. Ia lebih suka melakukan apapun sekehendaknya, tanpa aturan. Kalau di TK sudah banyak aturan, selayaknya TK dan PAUD itu diganti nama saja dengan Game Group, bukan play group. Bahwa usia ini, anak-anak tidak suka kalah. Mau main apa saja, maunya menang. Dan menangnya bukan dia seorang. Mereka akan senang, jika semuanya menang. Tidak ada yang kalah. Karena kalah artinya kesedihan.

Maka untuk membekali anak dengan perlindungan dirinya, bekalilah dengan individualitas. Bahwa setiap individu berbeda, ia bisa menerima perbedaan itu. Tidak ingin menjadi orang lain, dan menerima keadaan dirinya. Bisa tampil percaya diri, dan menunjukkan eksistensinya. Bila di satu sisi ia memiliki kekurangan, oh, ia masih punya sisi lain yang bisa diunjuk aksikan. Ia bisa bilang "Ini kan punya saya" pada hal-hal yang ia rasa miliki, dan harus dia jaga. Tapi ya, tidak keterusan. Nanti bisa egois juga. Batasnya adalah usia 7 tahun. Setelah itu, tentu si anak perlu dikenalkan dengan berbagi, dan berbagai kebaikan lainnya.

Seberapalah kita mampu menjaga anak-anak, jika mereka tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Dan, yang perlu kita sadari, kita akan terus menua, menjadi tua, dan mereka akan tumbuh menjadi dewasa. Bila individualitas itu tak tertanam baik pada dirinya, jadi pribadi yang lemahlah mereka. Menjadi remaja-remaja galau, labil, latah, mudah terpengaruh dan tidak percaya diri.



Sosok: Ayah-nya SMA 1 Padang Panjang


Suatu hari, di sela-sela perkuliahan, saya dan beberapa teman terlibat pembicaraan tentang guru masa kini. Bahwa guru, adalah sosok panutan, yang digugu dan ditiru, agaknya mulai ternodai dengan oknum-oknum yang menciderai makna itu. Namun begitu, setiap sekolah tentu memiliki seorang atau bahkan lebih sosok guru panutan, idola, favorit yang dinanti-nanti siswa di kelas. Tersebutlah nama seorang 'Pak Yamin SMAN 1 Padang Panjang". Seorang guru legend, humoris, yang mengajar penuh hikmah. 

Saya lalu berkesempatan bertemu langsung, dan bercerita sedikit dengan "Ayah-nya" anak-anak SMA unggulan Sumatera Barat ini.

**
Kita harus mendidik dari hati.

Demikian beliau mulai becerita. Namanya bapak M Yamin. Anak-anak asrama, semenjak generasi ke 3 SMAN 1 Padang Panjang memanggilnya, Ayah. Pria kelahiran Tanjung (Sarolangun) 3 April 1958 ini, sejak semula memang mencintai profesinya sebagai guru.  Menurut beliau, kenapa guru-guru hari ini tak lagi begitu disegani oleh siswa, salah satunya tentu disebabkan oleh sikap guru itu sendiri.   
"Guru harus menjadi idola" tuturnya. Guru idola bukan juga yang membiarkan kesalahan ada pada siswa. Guru idola tetap menegur jika itu adalah suatu kesalahan. Hanya saja, cara menegur itulah yang membedakan rasa segan, hormat dan patuhnya siswa. 
Sebagian siswa memang memiliki kecendrungan 'pesan lebih sampai bila disentuh". Maksudnya, anak-anak yang masih main, kumpul-kumpul ketika azan sudah dikumandangkan, tidak ada efek apa-apa jika arahan disampaikan guru lewat mikrofon saja. 
"Pada situasi itu, hendaknya si guru, mendatangi siswa, lalu menyentuh bahunya dan merangkulnya -langsung- ke mesjid. Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengelak."      

"Ada lagi kesalahan umum yang terjadi di kelas, oleh seorang guru," sambung beliau.
Sebagian kita mengungkap hal-hal rahasia si anak, di dekat orang banyak. 
"Ini tidak etis." tegasnya.
Misalkan, si guru memarahi siswa untuk kesalahan yang telah diperbuatnya di depan kelas, di hadapan teman-temannya. Atau, guru memanggil siswa ke depan kelas, meskipun sudah secara personal, tetap saja siswa lain akan ikut nimbrung ingin tahu. Ada lagi, guru memanggil siswa bersalah itu, ke ruang majelis guru, yang guru lain ikut dalam kasus tersebut. Ini tentu tidak adil bagi siswa. 

Dalam proses pembelajaran, Ayah terbiasa dengan cerita/kisah penuh hikmah. Menurutnya, mengajar itu, jangan hanya sebatas transfer materi ajar semata. Harus ada nilai-nilai, yang akan terpakai di sepanjang hidup si anak hendaknya.
"Lewat kisah, kita ajarkan tanggung jawab sebagai hamba Allah, kegigihan selayaknya manusia ingin mencapai mimpi-mimpinya, dan etika-etika dalam hubungan sosial lainnya. Bukan dari teori yang dibaca di buku, tapi kisahkan dari hati, agar sampainya juga ke hati." 

Sebagai seorang guru, idealnya guru mengajar dengan passionnya. Mengajar dari hati, itulah passion yang dituntut. Guru perlu menyiapkan diri sebelum masuk kelas. Sebagian siswa lebih kritis, dan guru tidak perlu malu untuk mengakui jika memang masih ragu dengan jawaban pertanyaan siswa. Guru yang sok tahu  akan menunggu waktu untuk tidak lagi dihormati. Karena itu, salah satu kesalahan fatal sebagian guru adalah mengganggap dirinya paling pandai, selalu benar, dan segala tahu. 
**
Dari dua kali cerita saya dengan beliau, setidaknya poin-poin di atas sudah memberi wawasan dan bekal bagaimana menjadi guru yang disegani siswa. Meskipun, lain lubuk lain ikannya ya,  maksudnya,, lain sekolah lain siswanya. Beda SMA beda SMK, *perlakuannya. Hehehee.

Rendang Kini Tak Cuma Padang


Siapa yang tak suka rendang?

Makanan khas Ranah Minang ini tak hanya digemari oleh lidah-lidah asli Minangkabau. Tetapi juga menjadi favorit bagi yang sama sekali tidak berdarah Minang.
Rendang kini tak hanya menjadi nama bagi olahan daging, yang dimasak lama, dibuat enak dengan santan, dicampur dengan bumbu-bumbu dan rempah khas. Rendang kini, adalah cita rasa. Apapun yang diolah, diberikan cita rasa rendang, meskipun bahan utamanya bukanlah daging. 

Ada banyak masakan siap saji yang melabeli dengan rasa rendang, misalnya mie goreng rasa rendang. Ada juga bakso, yang aslinya berasal dari Jawa ini kini diolah dengan campuran daging rendang di dalamnya. Nampaknya rendang kini tak cuma Padang ya.

Jadi ceritanya si rendang itu dalam bahasa Minang adalah randang. Proses ma-randang secara umum adalah memasak seperti disangrai, berlama-lama untuk mendapatkan hasil maksimal. Misalnya, kopi yang direndang, disangrai berlama-lama agar dapat ekstrak kopi yang terbaik. Atau, orang tua kita juga menyebut ma-randang kacang, untuk aktifitas sangrai kacang di kuali, sampai benar-benar matang.

doc. pribadi


Istilah rendang menjadi lebih spesifik untuk sebuah nama masakan Minang, olahan dari daging, dengan bumbu-bumbu khas Minangkabau. Soal bumbu khas ini, sedikit kita tilik sejarah Minang. Masuknya Islam ke nusantara dan juga daerah Minangkabau pada abad-abad dulu tidak terlepas dari kedatangan pedagang dari Arab/Yaman dan Gujarat India. Diketahui, masakan dari daerah tersebut kaya akan bumbu dan rempah-rempah. terlepas dari benar atau tidaknya, kesamaan masakan Minang denga dua daerah itu, adalah kekuatan bumbu dan rempahnya. Hal ini pulalah yang menjadikan kuliner Minang ini tetap berada di posisi satu, masakan paling enak versi CNN dan Unesco.

Rendang adalah samba adat. Setiap ada acara adat di Minangkabau, mesti ada rendang. Walaupun akan ada perbedaaan rendang di suatu daerah dengan daerah lainnya. Misalnya, rendang di Agam Barat/ Maninjau yang masih basah seperti kalio, sedangkan untuk Agam Timur, seperti daerah Ampek Angkek, rendang mestilah kering, bahkan sebagiannya hitam. Itu baru satu kabupaten yang sama, Agam. Tentu saja ada berbagai ragam rendang di daerah lain di Ranah Minang. 

Di daerah pesisir misalnya, rendang tak lagi olahan daging saja. Ada yang namanya Rendang Lokan (daging kerang). Di Payakumbuh lebih beragam lagi. Mulai dari Rendang Talua (telur), Rendang Ayam, Rendang Baluik/belut. Di daerah lain, salah satunya Tanah Datar, dikenal Randang Cubadak/ nangka dan Rendang Paku/pakis. Di sejumlah daerah darek/daratan lainnya bahkan Jengkol/jariang  tak hanya dimasak kalio saja tapi juga jadi Randang Jariang. Berbagai jenis olahan rendang ini sesuai dengan kearifan lokal daerah masing-masing. Yang sama dari semuanya adalah proses masaknya adalah direndang, dengan bumbu-bumbu khas seperti rendang daging. 

Selain itu, rendang juga dinamakan sesuai dengan jenis/bagian daging sapi yang diolah dan proses pengolahannya. Rendang Paru misalnya. Atau Rendang Jagung, Rendang Ati, Rendang Itiak. Dari segi pengolahannya, ada yang namanya Rendang Suir (dagingnya disuri-suir, dan kering) juga Rendang Tumbuak. Atau rendang dengan campuran teri dan karupuak cancang. Atau, masih ada rendang lainnya? 

Kalau di luar sana yang populer adalah Padang, sebetulnya kita lebih enak mendengar Rendang dengan spesifikasi jenis dan olahannya itu sendiri. Karena tak pernah kita dengar Rendang Batusangka, meskipun asal mula orang Minangkabau, dan daerah tuo  itu dikenal adalah Pariangan, Tanah Datar. 
Oke, terlepas dari semuanya, rendang apa favoritmu?  
Rendang Lokan? 

Mantan Perempuan Inspiratif

Aung San Suu Kyi. Penerima hadiah nobel perdamaian itu beberapa waktu lalu sempat ramai dibincangkan dunia. Pasalnya, sikap politis tokoh demokrasi Myanmar itu, dinilai tidak berpihak pada kemanusiaan. Ia diam di saat salah satu etnis minoritas di negaranya mendapat penindasan sistematis oleh etnis lainnya. Padahal, tahun 90-an justru ketika berada dalam penjara, ia menggaunggkan dan mendesak pemerintah Myanmar agar menerapkan keadilan dan penghormatan hak asasi manusia.

Berselang beberapa waktu sebelumnya lagi, Anniesa Hasibuan seorang desainer muslimah yang telah membawa nama Indonesia di panggung fesyen internasional, harus menerima status tersangka pada usianya yang masih 31 tahun ini. Sekian bilangan rupiah ia gelontorkan agar Indonesia turut serta dalam ajang bergengsi itu. Tentu bukan tindakan mudah, murahan atau bodoh yang ia lakukan demi persiapan semua  mimpinya tersebut. Namun sayangnya, kebijakan perusahaannya untuk menggunakan dana jamaah umroh untuk kepentingan pribadi itu, sangat tidak 'perempuan'.

Dari dunia politik, baru-baru ini kita dengar nama Rita Widyasari, bupati perempuan di daerah terkaya Indonesia -menurut salah satu media-, yang ditetapkan sebagai tersangka penerima gratifikasi oleh KPK. Sebelumnya, Rita adalah penerima penghargaan dari presiden karena dinilai berkomitmen tinggi atas pembangunan kesejahteraan keluarga dan kependudukan di daerahnya. Rita juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai tokoh inovatif dalam menciptakan kreativitas maupun usaha pembangunan, bidang pendidikan, sosial, kreativitas, hingga tercipta kesetaraan dalam gender. Ia menerima penghargaan sebagai wanita berpengaruh di Indonesia, yaitu kategori penghargaan Spesial Mention as Best Influential Women of The Year 2017.

Kalaulah bukan karena seorang yang 'inspiratif', tentu perempuan cantik ini tak akan menjadi bupati, lalu menerima berbagai penghargaan. Dan entah karena godaan setan yang bagaimana kita tak pernah tahu, ia melepaskan nama 'inspiratif'nya kini. 

Nama-nama ini adalah perempuan-perempuan hebat, pada masanya. Waktu dan keadaan membuktikan seberapa lama kehebatan itu bertahan. Dan media lah yang berperan melambungkan namanya, atau menjatuhkan lagi, dan menghapus mereka dari catatan sejarah.

Betapa  usaha dan kerja keraslah yang  telah dilakukan demi memperjuangkan apa yang mereka impikan. San Suu Kyi, melanjutkan mimpi ayahnya, Aung San. Dengan idealisme ia rela dipenjara. Tapi kasus Rohingya, memperlihatkan kepada dunia, 'masihkah' pantas ia tercatat sebagai penerima nobel perdamaian.


Sedangkan Anniesa, merintis karirnya dari titik nol. Tidak mudah baginya merintis bisnis travel dan desain pakaian hingga mencapai puncaknya, tercatat sebagai perempuan inspiratif, tak hanya Indonesia tapi dunia internasional. Lalu nama cemerlangnya kian pudar. Kesuksesannya sebagai desainer harus terhenti. (Terhenti: bukan berakhir. Karena kita tak pernah tahu, apakah musibah ini adalah akhir, atau ujian dan peringatan Tuhan terhadapnya.) Tapi doa dan kekecewaan 35.000 jemaah umroh yang belum diberangkatkannya, lebih menyedihkan.

Inspiratif
Jika kita runut lagi, tidak sedikit pula nama perempuan inspiratif, yang kemudian menjadi mantan. Saat mengikuti kasus Anggelina Sondakh, saya terpikir bagaimana anak-anaknya menjalani hidup. Ibu dalam penjara, dan ayahnya baru saja berpulang. Seperti apa kesedihan yang akan mewarnai hari-hari tumbuh dan berkembang mereka.
Aniesa Hasibuan, saat berpindah ruang dari istananya ke penjara, anaknya masih berusia tiga minggu. Tiga minggu! Hak apalah yang mungkin ia terima kemudian?
Lalu kita berpikir, apalah artinya sebuah label inspiratif, jika orang-orang terdekatnya tidak merasakan efek dari label itu.
Kalau begitu, setiap ibu yang melahirkan, mendidik, membesarkan dan memenuhi hak-hak keluarganya, itulah selayaknya mendapat label inspiratif. Dan, tentu saja jumlahnya banyak! Di setiap rumah, ada ibu yang berjuang untuk semua itu. Ada yang bahkan, dalam kesendiriannya, memerankan dua peran utama rumah tangga, menjadi ibu, sekaligus kepala keluarga.
Kalau begitu lagi, masihkah perlu ada ajang-ajang bergengsi pemilihan perempuan inspiratif itu? Logika kita tetap menjawab: Tentu saja. Jangan karena "marah ke tikus, lumbung dibakar". Tapi,, bukankah karena "nila setitik ini, telah rusak susu sebelanga."


Hhh.. Membincang perempuan itu, memang tak ada habisnya. Membaca realita, mencari idealnya, dan menemukan ketidakharmonisan semuanya. Bahkan, nama inspiratif pun kini telah menjadi mantan. Perempuan.

27.8.17

Keluarga Lebay (?)

11.46

Hingga pukul 11 malam ini si mata masih enggan tidur. Pasalnya ini tentang 'menjaga rahasia'. Iya, rahasia yang membuat saya berpikir-pikir, apakah keluarga saya yang lebay, atau keluarga yang terbiasa merahasiakan banyak hal ini begitu 'dingin'?

Jika di keluarga saya, Imel batuk sedikit saja, laporannya sudah sampai kemana-mana. Atau jika ada keluarga yang sakit, lagi di dokter, atau dirawat di rumah sakit, keluarga besar (khususnya keluarga pihak ibu), sudah berbondong-bondong pula datang. Bagi kami yang sudah terbiasa dengan hal itu, menganggap bahwa kedatangan saudara-saudara itu adalah sebentuk keberkahan.

 Dari selepas zuhur, saya memastikan: "Apakah semua baik-baik saja? Lalu kenapa diteruskan ke rumah sakit lain, di kota lain? Apakah benar-benar tak diberitahu?"

Mungkin bagi sebagian keluarga, memberi tahu anggota keluarga tentang hal yang terjadi di 'rumah' adalah tindakan yang tidak perlu. Dalam cerita "Sabtu Bersama Bapak" juga saya temukan demikian. Bahwa, si ibu, bahkan akan operasi kanker, sudah di ruang rawat, tidak memberitahu anaknya yang jauh darinya. Alasannya adalah, jika ia beritahu, anaknya pasti akan pulang. Mau yang di Denmark, apalagi yang di Jakarta. Dan itu, si ibu khawatir akan mengganggu kehidupan anak-anaknya.

Oke. Itu mungkin cuma cerita. Tapi realitanya memang demikian. Ada keluarga yang berprinsip, setiap anggota keluarga harus mandiri. Menyelesaikan urusannya masing-masing, tanpa meminta bantuan dan pertolongan kepada saudara lainnya, juga ayah dan ibu. Alasannya, "ga enakan". Di saat yang terjadi adalah, keadaan ayah dan ibu yang dicemaskan, selama masih bisa diatasi orang-orang di rumah, anak-anaknya yang terbilang jauh, tidak perlu diberitahu.

Nah, inilah rahasia yang mengganggu pikiran saya, hingga betah-betahnya begadang sampai kini.

Saya mungkin mengukur keadaan itu, dengan timbangan yang terbiasa berlaku di rumah kami. Keluarga yang terbiasa keramaian. Setiap minggu ada saja alasan bertemu dan bertamu. Beberapa bulan sekali, ibu dan para saudaranya berkumpul, sekedar bercerita atau bepergian, bersilaturahim ke sanak famili yang lain.

Kebiasaan lain di rumah adalah makan bersama. Sejak kecil kami dibiasakan makan bersama selepas magrib. Konsekuensinya adalah, apapun kegiatan di luar rumah, jam 6 tentu sudah harus pulang. Mau pramuka, mau main, mau apa saja. Saat makan itu pula informasi beredar, apa kejadian seharian, adakah yang terlihat kurang sehat, atau besok mau apa. Sekedar begitu saja. Hal-hal lebih serius akan dibicarakan usai makan. Terbiasa seperti itu.  


Ke-lebay-an lainnya adalah komunikasi. Ibu harus menelpon saudara yang di Padang dan Bogor, mungkin nyaris tiap hari. Jika setelah beberapa hari ibu tak menelpon, mereka pasti akan bilang: "orang di rumah sombong".  Padahal yang dibicarakan ya itu-itu saja. Bercerita. Apa kegiatannya, gimana ketemu dosennya. Sebaliknya, mereka akan bertanya Imel lagi apa, ayah mana. Tentunya selain hal-hal wajib perkara kesehatan. Bahkan, sekedar bertukar, masak apa hari ini, dengan si Uni. Satu atau dua menit pun jadi. 

Ya sih, kadang-kadang saya berpikir, tidakkah cara itu sedikit lebay? Mungkin juga.

Kita melihat ada dua pola berbeda yang diterapkan dalam keluarga.
Pertama, keluarga yang beranggapan bahwa kehangatan keluarga diciptakan dari pentingnya komunikasi. Kedua, keluarga yang menciptakan kehangatan saat kumpul bersama. Secara fisik mereka dekat dulu, pasti ada kehangatan setelah itu. Masing-masingnya enggan merepotkan yang lain. Selama masih bisa diatasi, ya, bisa diselesaikan sendiri.

Pada kondisi kedua itu, tidakkah kita melihat ada sikap tertutup, atau ditutup tutupi? Benar, akan mandiri. Tapi bisa juga si anak malah menutup diri. Hingga tak ada bedanya, ia sedang memikirkan suatu masalah atau tidak. Ya, memang biasanya begitu. Selalu terlihat tanpa masalah, dan baik baik saja.

Hmm. Bagusnya seperti apa ya?! 
Inilah pertanyaan pengantar tidur malam ini.
Saya ingin bagi tahu, tapi...kalau tidak.. 
Nanti jika.. 
Tapi saya juga ingin tahu. 
Hahaa. 

*Tidakkah saya termasuk orang-orang lebay??

***

Oke. oke. Kita harus istirahat dulu. 
Semoga semua baik-baik saja. Thahuurun Insya Allah!

5.4.17

Review Buku: For One More Day (Satu Hari Bersamamu)

For One More Day



Judul buku   : For One More Day
Penulis         : Mitch Albom
Alih bahasa  : Olivia G
Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2006
Hlm             : 248 hlm


"Biar kutebak, Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri." --kata-kata pertama Chick Benneto untukku.

---
Demikian tertulis kalimat pertama dalam buku ini. Saat membelinya, saya tertarik dengan buku terjemahan ini, karena tertulis "Pemenang Penghargaan "La Pluma de Plata" Spanyol. Sebuah penghargaan terhadap karya sastra di Spanyol. Dengan judul versi terjemahan, Satu Hari Bersamamu, disertai gambar seorang ibu dengan anaknya, juga menjadi alasan awal memilih buku ini. Setelah begitu lama buku ini di tangan, baru dibaca tuntas dan direview kali ini. *telaat..

Mitch Allom, mengisahkan tentang Chick Benetto alias Charles benetto, ibunya memanggil Charley alias Chikadoo, panggilan khusus Miss Thelma kepada tokoh utama. Charley adalah ayah dari Maria, suami dari Catherine, saudara Roberta, dan anak laki-laki dari pasangan Posey atau Pauline Benetto dengan Leonard. Ia dibesarkan dengan pola asuh masa kecil yang berbeda antara ayah dan ibunya. Ayahnya dengan latar kehidupan dan jiwa keras mengajarkan bagaimana seharusnya laki-laki bersikap. Sedangkan ibunya, sebagaimana layaknya seorang ibu yang terus mengajarkan dan mendidik dengan kasih sayang, kemudian dianggap 'lebay- bahasa sekarang' olehnya.
 Ibu merusak hidupku! teriakku. --- hal.53
Kisah dalam buku merupakan waktu yang singkat. Yaitu ketika Chick tidak sadarkan diri, setelah upaya bunuh dirinya yang tidak berhasil. Chick merasa tak ada lagi orang yang akan mempedulikannya. Anaknya yang telah menikah, tanpa sepengetahuannya. Kehidupan kacau balau. Saat itu ia merindukan ibunya. Ia pun memilih bunuh diri.

"Dan menjadi tak terdengar adalah dasar bagi seseorang untuk menyerah, dan menyerah adalah titik awalmu melepaskan diri" --- h. 16
 
Dalam masa tidak sadar itulah, pikiran Chick berkelana dan bertemu dengan kehidupan masa lalunya. Ia seakan benar-benar hidup dengan ibunya, Posey untuk waktu yang cukup mengembalikan kerinduannya. Ia mengikuti kehidupan Posey yang selama ibunya hidup, tidak berarti apa-apa baginya. Ia menyesali keadaan -kehangatan itu tak sejak ibunya hidup disadarinya. Kalau saja sehari saja, seseorang yang engkau cintai itu telah pergi, bisa bersama denganmu kembali, apa yang akan kau lakukan?

Pelajaran berharga melalui kisah Chick adalah, bagaimana seorang anak dipahami dengan jiwa anak-anaknya, memiliki ingatan kuat dengan kehidupan masa kecilnya. Chick yang dibesarkan dengan kondisi single parent, seperti menolak keadaan tersebut. Psikologis anak yang dibesarkan orang tua tunggal, hanya menuntut bagaimana mestinya ia diperlakukan tanpa mencoba mengerti bagaimana yang dirasakan oleh orang tua tunggalnya itu.

Chick tak pernah mengetahui alasan berpisahnya ayah dan ibunya. Yang ia tahu, ia tidak menyukai keadaan itu. Tak pernah ingin memilih, harus menjadi anak siapa. (("Seorang anak tidak seharusnya memilih." ---Posey. h.234)) Ia ingin menjadi anak keduanya.
Beberapa kisah masa lalu, di saat Chick selalu dibela, diurus dengan baik oleh ibunya pun ada dalam cerita ini. Sebaliknya, bagaimana sejatinya, seorang ibu rela melakukan apa saja demi anaknya. Apalagi dalam kondisi single parent, dan ia bertahan untuk kondisi tersebut hingga membesarkan anak-anaknya. Tapi Chick punya kisah, ia tak membela ibunya.

Barulah ketika pikiran Chick kembali bersama dengan Posey, pasca upaya bunuh diri itu, ia mengetahui alasan perpisahan ibu dan ayahnya. Ayah Chick seorang Katolik dan ibunya Protestan. Ayahnya ikut pasukan militer ke Italy, ketika akan menikah dengan ibu Chick. Karena buruknya situasi, ayah Chick menikah di Italy dengan perempuan setempat. Dan, saat kembali ia menikahi Posey. Dalam perjalanan rumah tangganya, perempuan Italy itu mencari ayah Chick, dan mereka hidup di kota yang tak jauh dari kota keluarga Chick. Di sinilah bermula keretakan keluarga Chick.

Posey mengetahui suaminya memiliki istri yang lain, dan keluarga lain. Dalam ajaran mereka tidak dibenarkan seorang suami memiliki dua istri. Posey memilih berpisah. Ia tidak menceritakan keadaan dan keburukan situasi kepada anak-anaknya. Berbagai kesulitan hidup dijalani Posey demi mendidik anak-anaknya. Menguliahkan Chick juga.

Satu hal yang menyatukan Chick dengan ayahnya adalah baseball. Saat ia kuliah, ayah Chick menemuinya di asrama. Memberitahu dan memotivasi Chick untuk ikut pertandingan dan laga-laga. Akhirnya Chick meninggalkan bangku kuliah. Sebentuk kekecewaan mendalam bagi ibunya.

Kisah paling mengharukan bagi saya adalah, saat Chick pergi, berbohong pada orang-orang. Ia mengatakan ada urusan pekerjaan, padahal hanya untuk pertandingan reuni baseballnya di kota lain. Chick pergi tepat ketika ibunya sedang merayakan ulang tahun. Besoknya, Posey meninggal.

Buku ini sangat direkomendasikan. Siap-siap ya, meneteskan air mata, membandingkan dengan pengalaman pribadi bersama ibumu!

Seorang anak harus mensyukuri keadaan keluarganya, apapun dan bagaimanapun ibunya. Norak, lebay, dan alasan apapun, seorang ibu telah sepenuh jiwa melahirkan dan membesarkan sang anak. Bagi yang sudah kehilangan ibunya, pastilah merindukan saat-saat bersama ibu. Adalah waktu yang tak tergantikan dengan dan oleh siapapun. Bagi yang masih memiliki ibu, bersamanya dan terus membahagiakannya adalah hal yang tepat untuk dijadikan bagian kehidupan.



3.4.17

Orang Ketiga


-Di rumah biru, sebuah perumahan sudut kotaku-

Aku bukanlah seorang perempuan pengganggu rumah tangga orang. Apalah, mau menjadi orang ketiga di antara pasangan suami istri? Bukan, bukan aku! Justru rumah tanggaku tengah terancam seseorang, ya, orang ketiga itu. Kau mau mendengarkan? Baiklah, aku akan bercerita sedikit, kepadamu saja.  (Perempuan seringkali berkata demikian, -saja-, saat itu. Lain kali, ia bercerita kepada orang lain.) 

Perempuan itu. Dia telah hadir dalam kehidupan rumah tangga kami, kira-kira sekitar sebulan yang lalu. Waktu itu kami bertemu di sebuah acara, semacam arisan orang-orang tempat suamiku bekerja. Dia memang sepertinya perempuan baik-baik. Bekerja baik, berasal dari keluarga baik-baik. Aku tau itu, saat sekilas dia pernah menyebut saudara perempuannya, seorang dokter di kampungnya. Padahal orang tuanya hanyalah seorang petani. Dan aku menyimpulkan, keluarga 'anak ini' pastilah baik.

Setelah berkomunikasi, dan merasa akrab, aku lalu mengajaknya, beberapa kali main ke rumah. Satu kali, saat aku membuat kerajinan tangan. Aku mengajaknya melihat ke rumah. Saat itu hanya ada aku. Di kali yang lain, dia ke rumah mengantar oleh-oleh dari Solo. Ia baru saja ditugaskan ke sana. Dan, karena aku menagih oleh-oleh padanya lewat medsos, dia mampir mengantar oleh-oleh itu. Inilah, awal aku merasa curiga.

Kau tau 'kan, feeling perempuan itu terlalu kuat?! Sore itu, si perempuan itu datang ke rumahku. Aku sedang di lantai atas, suamiku di halaman depan, mengecek, mengotak-atik motornya, yang sudah cukup lama tak dipakai. Tiba-tiba aku menyaksikan mereka berbincang, dari lantai atas. Akrab sekali. Suamiku terlihat tertawa lepas. Saat si perempuan itu aku persilakan masuk, jujur, aku memang tidak begitu senang dengan kehadirannya. Aku menerima oleh-olehnya, dan tak sempat memberi minum, lalu ia pamit. Mungkin sadar, bahwa ia sedang berada pada situasi yang tidak tepat.

Aku pun gelisah. Aku sering bertanya pada suami. Kegiatan kantornya, apakah ada rapat gabungan, apakah bertemu dengan si perempuan itu. Memang dari kantor suami ke kantor perempuan itu tidak begitu jauh. Mereka masih satu atasan. Pastinya, kemungkinan bertemu, berpapasan dengan suamiku, ada.

Apakah ia tertarik dengan suamiku? Aku ragu. Dengan daya tariknya begitu, ia pasti dapatkan yang jauh-jauh lebih menarik daripada suamiku -yang biasa-biasa ini-. Selain pintar, tubuhnya masih ideal, ia juga supel. Mana mungkinlah, ia tertarik dengan suamiku. Aku menepis segala kemungkinan.

Sebaliknya, aku curiga, suamiku telah tertarik dengan perempuan itu. Ahh.. feeling perempuan begitu kuat 'kan? Aku yakin, mereka sering komunikasi. Atau, mereka sering jalan bersama? Kalau begitu, apakah menurutmu, perempuan itu masih perempuan baik-baik? Mau-maunya menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang, dimana baiknya, ya 'kan?! 

Hmm. Begitu kesimpulanmu?

Ya. Kau sudah cukup dewasa untuk mengerti kehidupan berumah tangga. Suatu kali, kau akan mengerti kecemasan-kecemasan seorang istri, yang sudah sekian tahun menikah, tak kunjung dikaruniai anak. Suami sibuk bekerja. Kau juga tak punya banyak kawan lagi. Kadang-kadang aku berpikir, untuk bercerita kepada kawan lama. Lebih tepatnya, 'seseorang di masa lalu' itu. Dia pasti mau mendengarkanku, atau mungkin saja dia punya solusi. hmh. 

Jangan. Itu bukan solusi. Lalu, apa respon suamimu, saat kau bertanya macam-macam?


Awalnya biasa saja. Ia menjawab sebisanya. Tidak ada apa-apa antara dia dengan perempuan itu. Tapi, beberapa waktu lalu, aku bersikap dingin terhadapnya. Dia bertanya, aku menjawab datar (untuk tak menyebut: ketus), aku alasan saja, sedang 'M'. Setelah itu, ia seperti selalu menghindari ceritaku, tak banyak komentar, menjadi lebih sibuk dengan laptopnya, sering otak-atik motornya.

Oke, sekarang dengarkan aku. Aku punya beberapa analisa.

Pertama, Kau terlalu mengkhawatirkan hal-hal kecil, yang terkadang (akan) mengganggu kestabilan emosimu. Perempuan yang berada dalam tekanan perasaannya, akan berbicara lebih banyak; cerewet. Ketika kau merasa curiga dengan suamimu sendiri, artinya kau telah melupakan kepercayaan. Bagi laki-laki, kepercayaan terhadapnya, adalah satu jurus utama. Kau akan menjadi lebih posesif, dipenuhi rasa curiga, dan tanya ini itu, termasuk urusannya. Pikiranmu, menggiringmu pada dugaan-dugaan tak beralasan. Suamimu akan muak dengan semua itu.

Kedua, kau menuduh mereka selingkuh, begitu?! Ayolah.. si perempuan pintar, katamu itu, mana mau. Dia juga punya masa depan 'kan? Kau sendiri sudah punya penilaian baik terhadapnya. Jangan racuni pikiranmu dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi menjadi mungkin.
Kau tau, selingkuh bisa saja terjadi, karena salah seorang itu tertuduh. Atau, mumpung sudah menjadi tertuduh, kenapa tidak sekalian, selingkuh? Dan, selingkuh tidak terjadi tiba-tiba, ia seperti bom waktu yang akan meledak, seketika. Suamimu bisa saja memendam, diam-diam, dan mengabaikan kicauanmu, ia lagi ke dalam 'gua', menjadi sebenarnya lelaki. Abai terhadap lingkungannya, terhadap cerita-ceritamu (biasanya). Tapi, suatu waktu, kalau ia meledak? Kau siap?

Ketiga, Orang ketiga -seperti tuduhanmu terhadap perempuan itu- jika benar menjadi penyebab keretakan rumah tanggamu, menurutku, orang ketiga bukanlah sebab. Ia hanya sebagai akibat. Akibat apa? Banyak!
Bisa jadi, akibat ketidak nyamanan suamimu denganmu. Akibat ketidak percayaanmu terhadap dirinya lagi. Akibat ini, itu, dan seterusnya, aku tak tau. Kau perlu introspeksi diri, Nyonya.

Ayolah, jangan menangis. Kau tidak sedang 'M' kan?
Oh ya, tentang 'M' itu, jangan bersandar pada teori-teori bahwa: perempuan merasa punya waktu untuk berkuasa. Saat 'M' adalah waktu paling 'hebat', untuk bersikap seperti apa, berkata bagaimana, atau menanggapi apapun sekehendaknya. Ini tidak tepat. Benar, bila kau perlu memahami suamimu mengotak-atik motornya, setelah lama tak digunakan. Tapi jika setiap hari? Kau harus menerima juga? Sebaliknya, haruskah perlakuan 'moody' itu menjadi kekuasaanmu pada saat-saat tertentu itu? Ah, aku harus menjelaskan sesuatu yang rumit, dan bisa-bisa diserang semua perempuan. Heheh. Yang pasti, kau cobalah, kendalikan emosi dan pikiran-pikiranmu pada saat-saat sensitif itu. Prinsipnya, jangan hanya ingin dipahami, cobalah memahami. Lebih tepatnya, saling.

Lalu,,,

Sudahlah. Kau bisa pulang. 
Wah?! Hahaha. Maafkan aku, aku terbawa suasana ini. Aku bermaksud menyampaikan pendapatku, teman. Maafkanlah, jika kau tak dapatkan seperti inginmu.


Aku juga, maafkan. 
Satu lagi, boleh? Sebelum aku pulang, kelima, kuharap kau cerna kata-kataku tadi. Pertahankan rumah tanggamu! Kabarnya, cekcok itu biasa, penyesuaian. Jangan berlama-lama, komunikasikan. Jangan lebih dulu bercerita kemana-mana, bicarakan dulu berdua. Hubungan yang saling menuntut bisa menjadi baik, bila saling menuntun. Hah, aku ini mengerti apa sih. Haha. Aku pulang ya? Semoga baik-baik saja.


Iya, Sudah sore. Hehehe. Kau memang mengerti apa?! Teorinya saja.. Cobalah! (Ia terlihat benar-benar tersenyum kini)

Haha. Betul juga. 


-Jalan pulang-
 ***
Betul juga. Kadang aku memang tak mengerti apa-apa. Mengerti hanya dari buku. Memperhatikan kasus-kasus dan problem rumah tangga orang. Mendengar cerita semacam ini juga. Mencoba? Takut. 
Hahaha. 
***

Lampu merah. Belok kiri jalan terus. Klakson mobil di belakang membuyarkan lamunan. Dicoba? "Buat anak kok coba-coba", Kata iklan sih begitu. "Hubungan begitu, kok coba-coba.."

29.3.17

Mendidik Anak Multibahasa

Menguasai multibahasa (banyak bahasa) adalah impian sebagian orang, penyuka bahasa. Di samping, menguasai berbagai bahasa sebagai sebuah tuntutan kehidupan, -misalnya orang yang hidup di luar negeri, berbaur dengan orang dari berbagai negara-. Dalam keadaan demikian, bahasa yang digunakan tentunya tak hanya satu, 'bahasa ibu' saja. Berbeda dengan orang yang hanya hidup di satu wilayah sosial, penguasaan bahasa yang diperlukan hanyalah satu bahasa ibu, yang disertai dengan sejumlah dialek-dialek.

Di masyarakat Indonesia sendiri, menguasai multibahasa mungkin adalah hal yang lumrah. Dengan begitu kayanya bangsa ini -beragam suku bangsa, budaya dan juga bahasa-. Saya adalah salah satu yang menginginkan penguasaan multibahasa itu.

Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw, menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi, bahasa Suryani. Tujuan saat itu adalah untuk mengetahui beberapa kalimat yang terdapat dalam kitab umat Yahudi. Dalam riwayat lain kita masyhur pula mendengar, "siapa yang menguasai bahasa suatu kaum, maka ia selamat dari tipu daya kaum tersebut."

Sejarah juga telah mengajarkan kita, bagaimana pertukaran ilmu pengetahuan antara timur dan barat itu terjadi. Masing-masingnya menguasai bahasa tujuan ilmu itu dipelajari. Umat Islam mempelajari bahasa Yunani, lalu menerjemahkan kitab-kitab Yunani. Maka belajarlah orang Timur pendapat-pendapat Aristoteles, Socrates, Plato, Phytagoras dan sebagainya. Sebaliknya, zaman berganti, saat Barat dilanda masa kegelapan, mereka mempelajari bahasa arab, lalu menerjemahkan kitab-kitab yang lahir dari ilmuwan muslim abad itu, ke dalam bahasa mereka.

Terlepas dari semua itu, sebagai seorang muslim yang hidup di Indonesia, kita tentu 'terbiasa' dengan ibadah-ibadah yang hanya bisa dilaksanakan dengan bahasa Arab. Shalat misalnya. Ini tentu juga menjadi gambaran ke-multibahasa-an yang telah populer di kehidupan kita.

Lalu, bagaimana dengan mendidik anak multibahasa?

Sekolah RSBI, sekian tahun lalu telah menggunakan dua bahasa (bilingual) dalam pembelajarannya. Bagi saya, ini adalah salah satu perhatian pemerintah agar anak terbiasa menguasai bahasa selain bahasa ibu nya sejak dalam proses pembelajaran.

Sekolah-sekolah swasta bahkan, sejak usia kanak-kanak telah mengajarkab bahasa asing (kedua) secara intensif kepada anak-anaknya. Memang ada pro kontra terkait pendidikan multibahasa kepada anak. Ada yang berasumsi bahwa anak belum perlu belajar basaha selain bahasa ibu. Ada argumen lain yang menyatakan bahwa, semakin dini anak mengenal bahasa, semakin mudah penyerapannya. Menurut para ahli, masa paling ideal untuk mempelajari bahasa lain selain bahasa ibu adalah usia 6 – 12 tahun.

Dalam teori psikologi anak dikatakan bahwa, stimulasi awal pada usia perkembangan anak melalui pembelajaran bahasa akan memberikan keuntungan dalam perkembangan bernalarnya. Anak akan memiliki kesadaran sistem bahasa sebagai suatu gejala sosial.Tentunya semua ini baik, jika dilakukan dan dipelajari atas dasar kesukaan berbagai bahasa, bukan keterpaksaan.

Kita juga tidak setuju dengan pewajiban belajar bahasa kedua (asing) bagi anak di sekolah-sekolah, khususnya dasar. Hal ini hanya akan menambah beban kurikulum. Di lain sisi, justru mencederai eksistensi bahasa ibu si anak, Bahasa Indonesia.

Maka, rumah dan pendidikan keluarga adalah sarana yang tepat untuk mengajarkan anak berbagai bahasa. Sekali lagi, tentu dengan memperhatikan kecendrungan belajar anak. Bahwa ia memang juga menyukai banyak bahasa. Karena, orang tua hanyalah fasilitator bukan eksekutor. Tak baik pula rasanya hanya tersebab keinginan ibunya, -untuk menguasai berbagai bahasa- anak harus menjadi korban, les bahasa ini itu.

Maksud tulisan ini hanya: jika ada yang sependapat, menyukai berbagai bahasa, ajarkanlah anak-anak sejak dini multibahasa, sekalipun hidupnya di Indonesia. Jika muslim, tentu terbaik adalah mengenalkan bahasa agamanya, bahasa arab. Seperti kata Umar bin Khattab, "Hendaklah kamu sekalian tamak mempelajari Bahasa Arab, karena bahasa Arab itu merupakan bagian dari agamamu." Selanjutnya tentu bahasa-bahasa internasional lainnya. 

* Tulisan ini adalah hasil pikir-pikir saya di jalan menuju sekolah tadi pagi, saat seorang bocah usia dua tahun (kira-kira), menyebut cat dan menunjuk kucing.

** Oya. Bahasa arabnya cat itu ada qith-tun (Ù‚ِØ·ٌّ ) lho. Mirip ya?! :D

28.3.17

Sudah Berpikir Benarkah Kita?

Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, apakah kita sudah berpikir benar. Salah satu instrumen yang bisa dipakai untuk mengukur ke-benar-an cara berpikir kita adalah dengan mencermati hal-hal berikut:


Pertama, Mencintai kebenaran.
Kita seringkali dihadapkan dengan berbagai soalan dan kenyataan yang menggiring kita pada prasangka-prasangka. Atau, justru berpikir dengan mengkotak-kotakkan. Untuk bisa berpikir benar, perlu diwaspadai kecendrungan manusia untuk selalu menerima sesuatu adalah benar, sebagai hal yang dikehendakinya benar. Bersikap mencintai kebenaran, termasuk seperti mematuhi kebenaran-kebenaran yang ditemukan orang lain.

Kedua, Ketahui (dengan sadar) apa yang sedang dikerjakan.
Kegiatan yang sedang dikerjakan adalah kegiatan berpikir. Kita terus menerus mengejar kebenaran, diselingi dengan diperolehnya pengetahuan tentang kebenaran, tetapi sifatnya parsial.

Ketiga, Ketahui apa yang tengah kita katakan.
Pikiran diungkapkan dengan kata-kata. Kalaulah, -seperti kata Ibnu Sina- pikiran itu bisa mengungkapkan dirinya sendiri langsung, tanpa lewat kata-kata, tentu tak perlu lagi kata-kata. Maka orang yang cermat pikirannya, terungkap lewat kecermatan kata-katanya. Terkadang menggunakan istilah (term) yang tidak tepat untuk penunjukan maknanya. Ketidaktertiban istilah yang digunakan itu akan berakibat pada penalaran.

Keempat, buatlah pembedaan dan pembagian.
Jika ada dua hal yang tidak mempunyai bentuk yang sama, hal itu jelas berbeda. Namun ada kalanya, dua hal yang sama bentuknya, tapi tidak identik. Di sini diperlukan pembedaan (distingsi). Hal yang satu secara eksplisit adalah bukan hal yang lain. Bukan justru dipukul rata, sama. Karena luasnya realitas itu, maka diperlukan klasifikasi/pembagian.

Kelima, cintailah definisi yang tepat.
Definisi ditujukan untuk membuat pembatasan. Mencintai definisi, artinya mencintai cara berpikir yang terang, jelas, dan tajam membeda-bedakan. Maka teranglah maksudnya.

Keenam, Ketahui alasan pilihan (mengapa menyimpulkan begini/begitu)
Kesimpulan itu diperlukan. Namun jika bahan yang ada tidak atau kurang cukup, sebaiknya menahan diri untuk menyimpulkan atau membuat pembatasan-pembatasan dalam kesimpulan.

Ketujuh, hindari kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, dan kenali sebab kesalahan pemikiran.
Logika ilmiah melengkapi dan mengantar kita untuk menjadi cakap dan sanggup berpikir kritis.

Itulah tujuh kondisi yang dibutuhkan sebagai upaya berpikir baik, selain berpikir benar dan logis-dialektis.

(disarikan dari buku Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu)

8.2.17

Trip Sehari ke Bintan

Welcome to Bintan! 
Yeye..akhirnya saya mendarat di pulau terbesar di antara 3000 pulau yang termasuk dalam daerah Riau Kepulauan. Akses yang dipilih menuju Bintan saat itu adalah menggunakan kapal Roro (Roll On Roll Off) dari pelabuhan Telaga Punggur, Batam. Sedangkan untuk kembali, dari Bintan ke Batam, kami (saya dan beberapa teman) menggunakan speedboat. 

Ini dia, kak Ve!
Jam tujuh pagi kami sudah sampai di pelabuhan Telaga Punggur. Maklum, karena saat itu, saya bukanlah murni sebagai pengunjung, turis, atau traveler bebas lah. Saat itu, saya ikut serta tim/rombongan trip yang dikelola kakak angkat di sana. Jadinya, harus cepat-cepat sampai, lalu ikut kakak - mari kita sebut saja, kak Ve-, memastikan tiket untuk 80 orang rombongan yang telah disepakatinya dengan agen travel daerah lain sebelumnya.
Nah, tentu saja saya ikut. Ikut-ikutan kesana kemari. Ikut juga diplomasi -yang ga bisa dikatakan diplomasi juga sih, karena petugas pelabuhan di sana sudah kenal semua dengan kak Ve-. Setelah memastikan peserta trip naik kapal, kami ikut naik kapal. Di sini, saya memilih berpisah dengan kak Ve.. saya mau menikmati suasana, mencari spot terbaik, duduk atau cari tempat pegangan yang tepat. haha. *beginilahh orang darat main ke pulau. :D 

Biasanya, kalau pakai kapal Roro, katanya kita butuh waktu satu jam perjalanan. Kita, kelamaan waktu itu menepi, karena harus nunggu kapal lain jalan dulu, yang masih parkir di pelabuhan Tanjung Uban Bintan. Kalau pakai speed, hanya butuh waktu 20 menitan. Selain beda waktu itu, juga beda harga, beda rasa. Saat hendak balik sore, cuaca lumayan gelap, hampir hujan. Dan menurut informasinya, ombak lagi tinggi. Ngeri juga rasanya diombang-ambing air di tengah laut dalam speed. Bikin pusing.

Oke, tujuan trip di sana adalah kolam renang terpanjang se Asia Tenggara (Treasure Island), Gurun Pasir, Lagoi Bay dan kulinernya. Di Bintan sebetulnya masih ada tujuan wisata lainnya, seperti Patung Seribu, Pantai Trikora, Nirwana resort, tapi kita ga jalan ke sana karena hanya sehari jalan. 

*Treasure Bay Bintan
 Inilah paket wisata air kekinian -katanya termegah se Asia Tenggara- yang berada di Bintan. Dia adalah kolam renang yang dikonsep menyerupai pantai. Air yang biru, dipadu dengan "pasir putih buatan" -sepertinya dari bahan fiber- yang bikin mata silau kalo tengah hari, disambung dengan pasir pantai beneran, yang ditata di sana pepohonan pantai dan area serta fasilitas buat berjemur, kursi pantai, payung-payung,dan tenda-tenda. 
Selayaknya wahana bermain di air, disini juga disediakan berbagai fasilitas. Mulai dari balon air, wahana water sport, donat tubing aneka rupa, kapal bertenaga surya dll. Di sekitar kolam renang, kita bisa menggunakan scooter berkeliling, disiapkan juga area bermain segway.  Dan tentunya, ada harga yang mesti dibayar untuk semua fasilitas tambahan itu. Secara umum, tarifna berkisar di 40ribu hingga 300ribuan per 30 atau 15 menit. 
Treasure Island




Ini loh, kolam renang terpanjang itu. Menyerupai laut ya. Padahal buatan loh.. buatan..

*Gurun Pasir
Ini adalah area bekas tambang, yang dikelola masyarakat setempat seakan adalah gurun pasir. Di sana disedikan juga onta-onta buatan (2 dimensi) untuk berfoto. Pengelolaannya masih sangat sederhana. 

*Lagoi Bay
 Berbeda dengan nuansa saat berada di Treasure Bay tadi, di Lagoi Bay, ini beneran pantainya. Bukan kolam renang, bukan pepasir putih fiber. Sekilas saya melihat tak ubahnya pantai ini dengan pantai-pantai yang ada di Sumbar, apalagi kawasan wisata di Pesisir Selatan yang juga cantik. Tapi bedanya ada pada taman yang tertata di sekitar pantai, area parkir yang gratis dan luas, petugas keamanan yang keren, dan pusat hiburan anak-anak dan perbelanjaan -Lagoi Bay Mall- yang dibangun gagah di sekitar pantai. Selain itu, ada Danau (sepertinya buatan sih) dan hotel -Swiss Bel Hotel Lagoi Bay- juga. 

Lagoi sepertinya bisa jadi pilihan menarik untuk wisata pantai di kawasan Batam, Bintan dan sekitarnya. Karena pengelolaannya yang lebih profesional, tampilan lebih modern, memberi warna internasional di pantai lokal ini.

Ada sewa jetski, kayak dan kano juga
Mumpung masi suasana imlek, banyak warna merah beredar di sini
Selpii
Saran saya, kalo jalan sendiri (atau berdua), maksudnya ya ga gabung sama agen travel, kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
* Informasi tiket. Dari Telaga Punggur ke Tanjung Uban, lebih hemat waktu naik speed. Pastikan saat beli tiket, kamu telah berada di bagian tiket dan pelabuhan yang tepat. Bukan di Roro.
** Kapal berangkat setiap setengah jam. Jadi, sepertinya ga masalah mau menyebrang jam berapa pun. (kalo cuaca aman ya). Asal ga ketinggalan kapal, kita pas mau balik, ga perlu beli atau booking tiket dulu, karena kita bisa bayar di speed langsung. 
*** Oya, transportasi selama di Bintan, boleh ditetapkan sejak awal. Karena akses kemana-mana bakalan susah tanpa kendaraan pribadi, dan tarif ojek di sana mahaall beut. Lebih baik sewa motor atau mobil, harganya standar juga kok. 

Dan, ini beberapa dokumentasi saya.
Pastikan pengunjung nyaman dulu
Berpose di depan bus para wisatwan.
*saya nyamar sbg co-tour leader lah kali ini. haha

Melaut kita lagi.. :)

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...