Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup
istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana bagi GTK
sasaran dari lima satuan pendidikan, dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang.
Kegiatan ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar tiba-tiba. Sekitar
satu minggu sebelumnya, saya mengikuti kelas Training of Trainers (TOT).
Sebelumnya lagi, saya juga sudah mendapatkan pelatihan singkat di instansi
induk. Saat mengikuti TOT, sebenarnya kami sudah menyadari bahwa setelah
pelatihan, tugas kami adalah mengimbaskan pengetahuan yang diperoleh di satuan
pendidikan masing-masing.
Tetapi ternyata, praktiknya tidak sesederhana itu. Ketika menjadi peserta,
mungkin kita cukup memahami dan mengikuti. Tetapi ketika menjadi fasilitator,
kita dituntut untuk memahami lebih dalam. Kita harus tahu bukan hanya apa
yang disampaikan, tetapi juga mengapa hal itu penting, bagaimana
menerapkannya, dan apa yang mungkin terjadi jika bagian tersebut terlewat. Kita
merasa hal kecil saja, lalu terabaikan, ternyata terlihat saat praktik dan
simulasi.
![]() |
| Fasilitator kelas C |
Tentang keberanian mencoba sesuatu yang baru
Hal lain yang saya catat adalah tentang melatih diri menjadi pembicara.
Berbicara di depan orang baru, yang tidak mengenal kita, dan berbicara di depan
orang lama, rekan kerja sehari-hari yang sudah akrab, jelas tidak sama. Menjadi
apa adanya, lebih jujur, membuat beban fasilitator terasa lebih ringan. Namun
tidak dapat dipungkiri, bagian mula-mula selalu ada gugup yang dikuat-kuatkan.
Haha.
Kalau tentang ini, saya teringat pada masa-masa menjadi mahasiswa, sekitar
dua puluh tahun yang lalu. Masa ketika banyak hal untuk pertama kalinya kita
lakukan.
Pertama kali melakukan wawancara. Sampai sekarang kita mungkin masih ingat
siapa yang kita wawancarai, apa yang dibicarakan, bahkan bagaimana rasanya
ketika harus membuka percakapan.
Pertama kali melakukan siaran radio. Rasanya seperti sebuah hari bersejarah.
Kata-kata yang sudah disiapkan berhari-hari, bagian pembuka yang dilatih
berulang-ulang, bahkan mungkin latihan berbicara di depan cermin. Haha. Semua
terasa begitu mengesankan.
Atau ketika pertama kali turun menjadi relawan. Saat itu yang kita punya
mungkin hanya keberanian. Teori sudah diberikan saat latihan dan briefing
bersama mentor. Tetapi ketika benar-benar berada di lapangan, ternyata
situasinya tidak selalu berjalan sesuai skenario. Ada saja hal baru yang muncul
dan membutuhkan inisiatif, kreativitas, serta keberanian untuk mengambil
keputusan.
Dulu kita melihat bagaimana tim medis bertindak, bagaimana proses evakuasi
dilakukan, bagaimana koordinasi berlangsung, bagaimana pendataan dilakukan, dan
bagaimana keputusan-keputusan harus diambil.
Sebagai bagian dari media, saya menyaksikan semua itu.
Tetapi saya tidak benar-benar melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Hari ini saya memiliki satu penyesalan kecil:
"Mengapa dulu saya tidak coba hal itu?"
Seolah-olah setiap orang hanya memiliki satu peran dan tidak perlu
mengetahui peran yang lain.
Hari ini saya justru melihatnya dengan perspektif yang berbeda.
Ternyata tidak ada yang salah dengan mempelajari banyak hal.
Dan saya merasa, pengalaman dulu berada di pusaran tim dalam situasi
bencana, meskipun hanya di bagian media dan trauma healing, ternyata cukup
membantu saya hari ini ketika menjadi memahami kesiapsiagaan bencana. Setidaknya
saya pernah melihat dan merasakan suasana di lapangan. Pernah melihat bagaimana
tim bekerja, bagaimana koordinasi dilakukan, dan bagaimana situasi bencana bisa
menghadirkan banyak hal di luar skenario.
Hal lain yang saya catat dari kegiatan ini adalah bahwa bencana
tidak pilah pilih. Jika bencana terjadi pada kita, maka kita adalah
korban. Bencana tidak memilih siapa kita, apa profesi kita, atau apa peran kita
di sekolah.
Maka tugas tim siaga bencana di sekolah bukan hanya membangun pengetahuan
tentang bencana, namun juga perlu membangun kesiapsiagaan bagi semua warga
sekolah. Lebih baik lagi ada kesiapan menjadi bagian dari "relawan"
ketika bencana terjadi.
Karena bencana bisa datang kepada siapa saja, maka belajar tentang kesiapsiagaan bencana bukan hanya tugas tim siaga bencana, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab seluruh warga satuan pendidikan.
![]() |
| Foto dengan sebagian peserta di SMAN 1 Padang Panjang |

