27.9.26

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

 

Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana bagi GTK sasaran dari lima satuan pendidikan, dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang.

Kegiatan ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar tiba-tiba. Sekitar satu minggu sebelumnya, saya mengikuti kelas Training of Trainers (TOT). Sebelumnya lagi, saya juga sudah mendapatkan pelatihan singkat di instansi induk. Saat mengikuti TOT, sebenarnya kami sudah menyadari bahwa setelah pelatihan, tugas kami adalah mengimbaskan pengetahuan yang diperoleh di satuan pendidikan masing-masing.

Tetapi ternyata, praktiknya tidak sesederhana itu. Ketika menjadi peserta, mungkin kita cukup memahami dan mengikuti. Tetapi ketika menjadi fasilitator, kita dituntut untuk memahami lebih dalam. Kita harus tahu bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi juga mengapa hal itu penting, bagaimana menerapkannya, dan apa yang mungkin terjadi jika bagian tersebut terlewat. Kita merasa hal kecil saja, lalu terabaikan, ternyata terlihat saat praktik dan simulasi.


Fasilitator kelas C 


Tentang keberanian mencoba sesuatu yang baru

Hal lain yang saya catat adalah tentang melatih diri menjadi pembicara. Berbicara di depan orang baru, yang tidak mengenal kita, dan berbicara di depan orang lama, rekan kerja sehari-hari yang sudah akrab, jelas tidak sama. Menjadi apa adanya, lebih jujur, membuat beban fasilitator terasa lebih ringan. Namun tidak dapat dipungkiri, bagian mula-mula selalu ada gugup yang dikuat-kuatkan. Haha.

Kalau tentang ini, saya teringat pada masa-masa menjadi mahasiswa, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Masa ketika banyak hal untuk pertama kalinya kita lakukan.

Pertama kali melakukan wawancara. Sampai sekarang kita mungkin masih ingat siapa yang kita wawancarai, apa yang dibicarakan, bahkan bagaimana rasanya ketika harus membuka percakapan.

Pertama kali melakukan siaran radio. Rasanya seperti sebuah hari bersejarah. Kata-kata yang sudah disiapkan berhari-hari, bagian pembuka yang dilatih berulang-ulang, bahkan mungkin latihan berbicara di depan cermin. Haha. Semua terasa begitu mengesankan.

Atau ketika pertama kali turun menjadi relawan. Saat itu yang kita punya mungkin hanya keberanian. Teori sudah diberikan saat latihan dan briefing bersama mentor. Tetapi ketika benar-benar berada di lapangan, ternyata situasinya tidak selalu berjalan sesuai skenario. Ada saja hal baru yang muncul dan membutuhkan inisiatif, kreativitas, serta keberanian untuk mengambil keputusan.

Dulu kita melihat bagaimana tim medis bertindak, bagaimana proses evakuasi dilakukan, bagaimana koordinasi berlangsung, bagaimana pendataan dilakukan, dan bagaimana keputusan-keputusan harus diambil.

Sebagai bagian dari media, saya menyaksikan semua itu.

Tetapi saya tidak benar-benar melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Hari ini saya memiliki satu penyesalan kecil:

"Mengapa dulu saya tidak coba hal itu?"

Seolah-olah setiap orang hanya memiliki satu peran dan tidak perlu mengetahui peran yang lain.

Hari ini saya justru melihatnya dengan perspektif yang berbeda.

Ternyata tidak ada yang salah dengan mempelajari banyak hal.

Dan saya merasa, pengalaman dulu berada di pusaran tim dalam situasi bencana, meskipun hanya di bagian media dan trauma healing, ternyata cukup membantu saya hari ini ketika menjadi memahami kesiapsiagaan bencana. Setidaknya saya pernah melihat dan merasakan suasana di lapangan. Pernah melihat bagaimana tim bekerja, bagaimana koordinasi dilakukan, dan bagaimana situasi bencana bisa menghadirkan banyak hal di luar skenario.

Hal lain yang saya catat dari kegiatan ini adalah bahwa bencana tidak pilah pilih. Jika bencana terjadi pada kita, maka kita adalah korban. Bencana tidak memilih siapa kita, apa profesi kita, atau apa peran kita di sekolah.

Maka tugas tim siaga bencana di sekolah bukan hanya membangun pengetahuan tentang bencana, namun juga perlu membangun kesiapsiagaan bagi semua warga sekolah. Lebih baik lagi ada kesiapan menjadi bagian dari "relawan" ketika bencana terjadi.

Karena bencana bisa datang kepada siapa saja, maka belajar tentang kesiapsiagaan bencana bukan hanya tugas tim siaga bencana, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab seluruh warga satuan pendidikan.

Foto dengan sebagian peserta di SMAN 1 Padang Panjang





No comments:

Post a Comment

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...