20.4.09

Bukan Salah Kartini: Antara Emansipasi dan Kemerosotan Akhlak

Sejarah Indonesia telah mengukir nama Raden Ajeng Kartini sebagai tokoh penggagas pergerakan perempuan Indonesia pertama yang berjuang untuk mempertinggi kedudukan social. Emansipasi perempuan digaungkannya melalui tuntutan kesetaraan hak untuk memperoleh pendidikan dengan kaum laki-laki. Tidak lain emansipasi ini muncul sebagai respon terhadap ketidakadilan budaya dan adat yang memposisikan perempuan sebagai korban hak kemanusiaan dalam perkawinan dan kehidupan berkeluarga. Sebutlah kawin paksa, kekuasaan dan kepemimpinan mutlak lelaki dalam rumah tangga, ‘gadis pingitan’ yang baru menganjak waktu dewasa dan lain sebagainya. Inilah barangkali yang dianggap Kartini disebabkan karena kurangnya pendidikan perempuan.

Setelah bibit awal emansipasi perempuan disemai Kartini, maka bermunculan pula pergerakan perempuan lainnya. Meskipun sebelumnya memang telah ada sederetan nama yang menjadi Srikandi dalam legenda perjuangan rakyat Indonesia. Cut Nya Dien telah lebih dulu bergerak dengan raganya di Tanah Rencong, ada Rahmah El Yunusiyah, Rohana Kudus serta banyak lagi Kartini-Kartini lainnya yang barangkali belum sempat terekam sejarah.

Namun perempuan mulai dalam kesatuan organisasi, pergerakan yang tidak lagi sendiri-sendiri baru ada pada tahun 1912 di Jakarta dengan berdirinya perkumpulan “Putri Madika” yang memang terlahir melalui campur tangan Budi Utomo –organisasi yang didominasi laki-laki-, dimana yang menjadi perhatiannya adalah kemajuan pengajaran anak-anak perempuan. Berikutnya, perkumpulan “Keutamaan Istri” yaitu rumah sekolah untuk perempuan, lainnya Sekolah Kartini (1913) di Jakarta dan disusul di berbagai kota, dan lain sebagainya.

Pergerakan dan perhatian terhadap perempuan tidak semata bermunculan dari perempuan. Piet H. Khaidir (laki-laki) dalam bukunya Nalar Kemanusiaan Nalar Perubahan Sosial menyebutkan, di Indonesia, terjadinya pelecehan perempuan dikarenakan tradisi melestarikan asumsi bahwa perempuan secara konservatif adalah di bawah laki-laki dalam akses komunikasi maupun pendidikan. Sehingga tidak terpikirkan bagaimana perempuan mendapatklan kelayakan pendidikan dan bebas dari kekerasan serta pelecehan yang sejajar dengan lelaki.

Barangkali argument Piet H. Khaidir tidak lagi mutlak dibenarkan jika kita bicara dalam konteks kekinian. Jika dalam aliran filsafat dikenal adanya aliran dualisme, maka perempuan termasuk objek di dalamnya. Perempuan berada pada dua sisi mata uang. Sisi pergerakan emansipasi, dimana perempuan telah mendapat tempat di dunia politik, ekonomi, hukum dan lain sebagainya. Tentunya berbeda dengan emansipasi Kartini yang hanya berbicara pada ranah domestic, bagaimana perempuan memiliki skill wajib semacam menjahit, baca-tulis, membatik dan lain sebgainya.

Ditambah lagi ekslusifisme emansipasi Kartini, dalam artian ketika itu emansipasi hanya menjadi ‘garapan’ kalangan tertentu (elit dan bangsawan Jawa) tidak merata dan mencakup berbagai ranah. Kedua, perempuan -disadari atau tidak- terjebak eksploitasi hak-haknya sebagai manusia. Dipertontonkan, dipekerjakan bahkan jauh dari pemeliharaan harga diri dan martabat perempuan timur yang berbudaya.

Di belahan dunia lain pada saat berdekatan dengan emansipasi Kartini juga tengah terjadi bentuk emansipasi perempuan. Pasca revolusi industry di Inggris (1760-1830 M) tanpa disengaja telah terjadi penghancuran akhlak dan tradisi perempuan Inggris saat itu. Perempuan yang bekerja sebagai buruh, mendapatkan hak yang tidak sama dengan laki-laki, mereka menuntut kesetaraan upah. Diupayakan sedemikian rupa dengan berbagai aliran feminism. Akibatnya, perempuan semakin banyak berkecimpung dalam dunia perburuhan. Kesalahan emansipasikah ini?

Ada dua hal menurut Muhammad Quthub yang menjadi akibat emansipasi tersebut, diantaranya longgarnya tali ikatan kekeluargaan yang tadinya dipegang oleh wanita. Sikap dasar femininnya sudah jauh berubah, juga kelembutan sentimentilnya yang dinilai merupakan satu eksistensi hidup perempuan. Kedua, rusaknya akhlak.
Dua sisi mata uang kepribadian perempuan yang terlahir dari bentuk emansipasi yang menurut rakyat Indonesia disuarakan perdana oleh RA Kartini. Adalah suatu konsekuensi dari aksi emansipasi tersebut.

Maka kesalahan Kartinikah jika perempuan hari ini begitu mengagungkan kemolekan dirinya sebagai wujud eksistensi? “Andakah Miss … itu?” atau, “Jika Anda berpenampilan menarik…” dan lain sebagainya, yang kebanyakan hanya sebatas kompetisi semu. Jika pemudi Indonesia disibukkan dengan cita-cita semu tersebut, kapan lagi waktunya memikirkan anak bangsa ini. Layaknya Kartini, 24 tahun jatahnya telah mampu menjalin pertemanan dan ‘diskusi pena’ dengan perempuan belahan Eropa sana, lalu mengukir nama sebagai emansipator.

Memang berbicara Kartini sama halnya membicarakan perempuan secara umum, yang tidak akan pernah tuntas sampai akhir masa. Namun, jika bukan perempuan itu sendiri siapa lagi yang akan membangunkannya dari lamunan panjang itu. Yang penting bukan salahnya Kartini memancing kemunculan emansipasi hingga apa yang terjadi hari ini tentang akhlak perempuan.

Kartini dan Kepentingan Masa

25 tahun agaknya jatah yang disediakan Allah untuk seorang pemikir dan pemerhati nasib perempuan Indonesia, RA Kartini belumlah cukup. Hanya dengan usia yang terbilang singkat itu, ia mampu mengukir prasasti sejarah dengan pena yang tajam, menggoreskan kesetaraan pendidikan kaum adam dan hawa di nusantara. Kepentingan perempuan Indonesia yang disuarakan oleh seorang gadis muda. Kalau saja jatah itu ditambah satu kali lipat lagi, maka tentu bisa kita bayangkan perubahan apa yang akan terjadi di negara ini atau bahkan sebaliknya, ‘perubahan’ macam apa yang yang akan menjangkiti perempuan Indonesia setelah masanya?

Mengawali pergerakannya, Kartini berkirim surat dengan sahabat-sahabatnya yang ada di Belanda. Pemikiran-pemikiran, gagasan dan idenya mengalir lewat surat-surat tersebut. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia katanya.

Berjawab, respon dan saran pun sampai kepada Kartini hingga akhirnya menetaslah “Door Duisternis tot Licht” Habis Gelap terbitlah Terang karangannya yang menurut penerjemah lainnya lebih tepat diterjemahkan menjadi ’minazh zhulumati ilan nur’ yakni menurut Ahmad Mansur Suryanegara, yang seorang Kartini kemudian populer sebagai awal kebangkitan perempuan Indonesia. Kali ini adalah kepentingan dakwah.
Kepopuleran seorang Kartini muda adalah tuntutan gender dalam pendidikan. Kalau sebelumnya perempuan adalah korban ketidakadilan dan penindasan terutama dalam tataran social, maka perempuan juga berhak mengecap pendidikan layaknya laki-laki, karena menurut Kartini berbagai kerugian yang dialami perempuan itu disebabkan kurangnya pengajaran dan pendidikan. Demi kepentingan perempuan.

Namun, beberapa hal yang diduga menjadi korban pengkaburan sejarah dari kisah ini adalah pertama, sosok Kartini merupakan seorang anak bangsawan Jawa yang turut prihatin dengan kondisi rakyat saat itu. Maka ia tidak pantas disebut pahlawan nasional. Kepentingan politis. Kedua, Kartini sangat akrab dengan ajaran Kristen dan ajaran ketuhanan lainnya sehingga tidak patut usahanya disebut dengan dakwah. Nilai-nilai ajaran agama pun disifatinya secara plural dalam artian mengakui adanya satu tuhan tapi membenarkan ajaran-ajaran yang terdapat pada berbagai agama sahabat-sahabatnya. Kartini dianggap tidak memeluk Islam secara utuh. Kepentingan religius.

Adanya berbagai kontroversi persepsi tentang Kartini dan keyakinannya (Sinkritisme, kristen, islam dan komunis), menggambarkan bahwa Kartini menyapa berbagai kelompok melalui lisan penanya. Semuanya disimpulkan dari versi kepentingan penerjemahan surat-surat yang dikirim Kartini ke berbagai sahabat penanya di Belanda.

''Segenap perempuan bumiputra diajaknya kembali ke jalan Islam. Tidakhanya itu, Kartini bertekad berjuang, untuk mendapatkan rahmat Allah, agar mampu meyakinkan umat agama lain memandang agama Islam, agama yang patut dihormatinya''. (Surat kepada Ny van Kol, 21 Juli 1902.)

''Ibu sangat gembira... beliau ingin sekali bertemu dengan Nyonya agar dapat mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada Nyonya atas keajaiban yang telah Nyonya ciptakan pada anak-anaknya; Nyonya telah membuka hati kami untuk menerima Bapa Cinta Kasih!''.(Suratnya kepada Ny. van Kol tanggal 20 Agustus 1902.)

Siapapun itu yang berkepentingan dengan surat-surat Kartini, yang penting Kartini senantiasa menjadi pembicaraan Indonesia. Kartini dinilai adalah milik bersama, Islam, kejawen, Kristen dan sebagainya. Terlepas pula dari segala kontroversi, pantaskah Kartini disebut pahlawan, Kartini tidak konsisten dengan ajaran agama, Kartini ‘anak’ Budha dan lain sebagainya, yang utama adalah, Kartini mampu memberi warna perubahan status social perempuan Indonesia melalui tulisannya, qalamnya.

Bukankah sejalan dengan Al quran? Perempuan Indonesia tetap berhutang ‘doa’ untuk Kartini, agar dirinya tidak menjadi korban kepentingan kelompok lagi, tapi kepentingan masa, dimana hingga saat ini apa yang disampaikan melalui surat-surat Kartini masih relevan dengan konteks kekinian. Semoga Kartini senantiasa manjadi pelecut semangat juang perempuan.

11.3.09

Kepada : Perempuan



Berawal dari saya iseng nyari buku barunya Nawal El Saadawi di internet, dengan menggunakan kata kunci GENDER. Berbagai artikel dan buku tentang Gender bermunculan. Namun kemudian, saya malah tertarik membaca sebuah artikel. Sayangnya, saya lupa alamatnya. Saya save, pindahkan ke word, terlupa meng-copy situsnya.
Berikut tulisannya:
***
  1. Doa wanita itu lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda, ”Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
  2. Wanita yang salehah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang saleh.
  3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut akan Allah .Dan orang yang takut akan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
  4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah saw di dalam syurga);
  5. Barangsiapa membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya) maka pahalanya seperti melakukan amalan bersedekah.Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki.
  6. Surga itu di bawah telapak kaki ibu;
  7. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adalah surga.
  8. Apabila memanggil akan dirimu dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.
  9. Daripada Aisyah r.a.” Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.
  10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari mana saja pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
  11. Wanita yang taat pada suaminya, maka semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya serta menjaga salat dan puasanya
  12. Aisyah r.a berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab Rasulullah SAW “Suaminya.” ” Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”
  13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dikehendaki.
  14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam surga terlebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
  15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
  16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
  17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
  18. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
  19. Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

***
Apakah lagi yang akan dijadikan alasan untuk isu pemerataan gender itu, Perempuan? Bebas bekerja dan berprofesi, jelas sudah terbuka peluang luas untuk para perempuan. Bebas berpendapat sudah dari dulu diberlakukan di Indonesia. Bebas berkecimpung di dunia politik pun sudah didapat. Bahkan seolah ‘dipaksa’ dengan adanya kuota 30% perempuan dalam setiap partai politik. 

Di sisi lain, kadang kita menganggap sebagian besar bentuk ‘ekspos’ tentang perempuan itu merupakan bagian dari emansipasi. Kita tidak sadar, yang seperti itu adalah bagian eksploitasi semata.
Mari kita amati, berapa persen wanita/perempuan mengisi layar kaca kita? Film, sinetron, iklan, pembaca berita, infotainment dan lain sebagainya. Bahkan untuk iklan yang tidak butuh ekspos fisik perempuan sekalipun tetap dikait-kaitkan dengan tubuh mereka nan elok. Benar kata pepatah Minang, ‘condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak’. Siapa pula yang tak menyukai keindahan? Dan perempuan adalah bagian dari keindahan itu sendiri.  

Mungkin kita butuh lembaga pendidikan perempuan. Girl/woman education. Ya, khusus perempuan. Mengajarkan perempuan kembali bagaimana menjadi gadis remaja yang cerdas dan baik, perempuan dewasa yang mandiri, istri bagi suaminya, menjadi seorang ibu yang memang berperan selayaknya ibu. Semua bentuk pendidikan parsial itu tidak lagi didapatkan melalui lembaga pendidikan formal yang ada. Bahkan, tidak banyak keluarga hari kini yang membekali anak perempuan/gadis mereka dengan pendidikan feminis tersebut.

Ironisnya, pendidikan perempuan yang menjamur saat ini adalah lembaga pendidikan kecantikan. Seperti perusahaan kosmetik raksasa yang mengambil fungsi mendidik gadis –gadis belia tamatan SMA dari desa-desa, mengajarkan cara-cara perawatan kecantikan, kemudian memfasilitasi tempat bekerja untuk mereka. Bisa jadi nantinya bekerja di salon-salon, membuka usaha mandiri perawatan tubuh, dll.
Berbalik dengan masa emansipasi bangsa ini digemborkan. Rohana Kudus ingin perempuan juga memiliki nilai yang sama dengan laki-laki dalam hal pendidikan/intelektual. Kartini menginginkan perempuan mendapat hak serupa dengan lelaki dalam hal belajar, social dan bermasyarakat. Sedang pendidikan tentang perawatan tubuh, kecantikan, keahlian mengurus rumah tangga jelaslah wajib diperoleh lebih dulu. Menjelang gadis semua ‘kehebatan’ itu sudah harus ada di diri masing-masing perempuan, barulah mereka menuju skill sekunder; pendidikan. 

Bisa kita bayangkan, bagaimana jadinya, jika kita kelak. Berlomba-lomba menjadi perempuan nomor satu. Nama dan ‘tubuh’nya dijual/eksploitasi. Berbangga-bangga menjadi putri ini itu. Sementara jiwa sensitifitas keperempuanannya tidak lagi berlaku. 

Apa yang ada hari ini? Toh, mantan perempuan Indonesia yang melejit karirnya, akhirnya harus rela berpisah dengan anak-anaknya? Haruskah terlalu sibuk dengan urusan yang tak sepele itu, sedangkan amanah terbesarnya adalah menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya? Jangan hanya lihat hari ini, lihatlah bagaimana dan menjadi seperti apa anak-anak yang tidak mendapat full attention itu tumbuh dan berkembang. 

Itulah kenapa tak salah adanya adagium, “ketika perempuan di suatu negeri baik, maka baiklah negerinya”. Kita bisa lihat realitanya. Perempuan hari ini bukan tidak baik. Mereka bahkan hebat-hebat. Jauh lebih hebat dari apa yang terlintas dan menjadi cita-cita seorang Rohana Kudus atau Kartini dulu. Mereka hanya berharap agar perempuan mendapat akses pendidikan selayaknya laki-laki. Dan perempuan hari ini sudah mendapatkan lebih dari semua itu, hingga sebagiannya menjadi lupa dengan kodratnya sebagai anak perempuan/istri/ibu.

Selamat Hari Perempuan se-dunia.. :)

2.3.09

Krisis apa lagi yang perlu kita sematkan pada bangsa ini

Krisis apa lagi yang perlu kita sematkan pada bangsa ini, setelah beberapa tahun lalu, menutup abad 19, krisis moneter menjadi gelar yang tersemat di dada bangsa Indonesia. Perekonomian adalah permasalahan utama kala itu. Berbagai upaya membangkitkan bangsa dari kondisi perekonomian yang buruk pun dilakukan. Salah satunya dengan bantuan pinjaman dana moneter internasional. Sesaat bangsa ini berangsur pulih dari krisisnya.

Belum sehat betul, Indonesia mengalami krisis lagi. Kali ini krisis kepercayaan. Berbagai bentuk penyimpangan kepercayaan yang telah diamanahkan teruntuk wakil rakyat dan pejabat Negara, disepelekan. Terbukti dengan maraknya kasus tindak korupsi, kolusi dan nepotisme di lingkungan pemerintahan dan Badan Usaha Milik Negara ini. Krisis kepercayaan pun ikut berserakan bercampur dengan polusi pembakaran hutan di udara masyarakat Indonesia. Klimaksnya adalah ketika demonstrasi besar-besaran menuntut reformasi berlangsung dalam jangka waktu yang tidak singkat, bahkan hingga hari ini krisis kepercayaan masih menggejala di nurani masyarakat Indonesia.

Krisis moral di lingkungan pelajar terlihat dengan maraknya tawuran antar pelajar, mahasiswa dan antar kampung. Entah permasalahan apa yang menyulut emosi kita kala itu, yang menawarkan solusi hanya terlihat dari tawuran. Kembali, layaknya orang-orang Arab Badui yang nomaden, mencari tempat menetap yang baru dengan bangga mempersembahkan “perang antar kaum/suku”.

Lebih-lebih lagi, Putri tidak layak lagi dipanggil putri, ketika pelajar-pelajar putri di berbagai daerah yang melakukan aksi cakar-cakaran, adu jotos layaknya pegulat dan pemain Smax Down di layar televisi. Barangkali karena terlalu menikmati hiburan yang ditayangkan di stasiun televisi, “putri-putri” tadi tersihir dan tersulap memasuki arena adu kekuatan. Berbagai informasi seputar perkelahian sesama siswi silih berganti muncul di surat kabar dan media elektronik.

Seiring dengan itu, krisis intelektual membaur di dunia pendidikan bangsa ini. Teringat ketika Menteri Pendidikan menanyai seorang bocah SD suatu kali di saat perbaikan sekolahnya di Jakarta, “Ananda cita-citanya mau jadi apa?”, dengan yakin dan semangat si bocah menjawab, “Mau jadi artis Pak! Artis kan terkenal, banyak duitnya..”. Pilu memang barangkali yang tersirat di lubuk hati Bapak Menteri Pendidikan kita. Tapi apa mau dikata, wong yang dilihat tiap hari selalu ada acara seleksi dan audisi menjadi artis dadakan alias ngetop instant.

Meski perlu diakui tidak semua anak Indonesia bercita-cita menjadi artis, namun yang satu itu telah menjadi gambaran buruknya mental akademis dunia pendidikan kita hari ini. Krisis intelektual masih berlangsung, entah sampai kapan. Barangkali sampai bangsa tercinta ini mampu menaikkan rating pendidikannya termasuk posisi 3 besar Asia Tenggara. Itu saja sudah cukup membuktikan keberhasilan pendidikan Indonesia dan kembali mendapat tempat di mata dunia.

Sudah cukupkah krisis bangsa sampai disini? Belum. Hari ini, dua dukun cilik bersaing merebut hati masyarakat yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap dunia medis yang “tidak terjamah” saku mereka. Keyakinan dan keberimanan adalah krisis berikutnya. Bolehlah jika batu yang berkhasiat menyembuhkan itu memiliki senyawa khusus yang dapat mengobati suatu macam pengakit. Mungkin seperti belerang yang dapat menyembuhkan penyakit kulit, tentunya kita juga percaya hal itu. Akan tetapi, memposisikan dukun cilik sebagai “dewa penolong” dan berkat batu tersebut penyakit lenyap sesaat setelah minum air rendamannya, inilah dia krisis itu.

Mau berakhir dimana keimanan masyarakat kita? Agaknya keimanan sudah menjadi puncak dari berbagai krisis yang melanda bangsa ini. Semoga tidak ada lagi krisis-krisis lain yang datang menjangkiti jiwa dan kehidupan bangsa ini.


Nimiasata

Menjadi Sepertimu

Bukanlah keangkuhanku yang enggan merinduimu. Tapi gelap ternyata masih kutakuti daripada lenteramu yang jauh dan redup itu. Karena bagaimanapun, cahaya atas cahaya adalah yang terpenting bagiku.
Bukanlah keegoisanku, mengatamu pada posisi ragu. Lalu ngilu terhadap keberadaanku. Siapalah aku yang tidak berarti bagimu. Tapi hari ini, sesuatu mengajarkan aku. Betapa menghargai keyakinan dan hati adalah hal yang penting untuk hidupku.

Yang menjadi dayung penggerak sampanku yang tak kokoh ini. Rapuh. Sesekali kudapati ikan-ikan itu mendekat dan kutangkap dibawah purnama. Namun banyak kali kulewati kesempatan itu. Entah, entah dengan kekuatan dan kelemahan apa. Ku tak tahu. Namun, lagi-lagi aku meyakininya. Hingga kini baru kusadari, betapa aku ternyata lalai selama ini.

Sesaat ku perlu merenungi diri, merunut kelalaian selama ini. Mulai berkaca padamu, yang hari ini lebih baik dariku. Asumsiku.

Semoga senantiasa menjadi lebih baik. Tak apa kau lebih baik dariku, asal kebaikanmu menjadi bagianku, yang tak kan lekang oleh masa hingga menembus ruang dan waktu.

Selama ini, tidak pernah sekalipun aku berharap. Namun tempatmu telah melemahkanku. Ku ingin sepertimu!
Perlahan kubuka pintu, berharap kau mendekat dan bersilaturahim. Namun, entah keegoisankukah, ku tak tahu, hingga kau serupa denganku, sendiri, diam dan angkuh.

Kini kebaikan dan usaha perbaikanmu membuatku cemburu. Ingin kusaingi kebaikan-kebaikan yang hari ini tergenggam erat dijemarimu. Sejalanlah denganku. Tidakkah kau tanyai aku? Bahwa aku mulai mendengarkanmu.

Nimiasata

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...