24.4.11

Cinta dan Ketulusan

Belajarlah mencintai dengan ketulusan...
Pada cinta romantis.
Pada cinta ayah dan anaknya.
Pada cinta antar sahabat.
karna pada ketulusan itu, ada kesetiaan, pengorbanan dan kesabaran.

Tulus itu, terlihat melalui tatapan, terasa lewat sentuhan, tergetar dalam ujaran.
Tulus itu, selalu ingin tau, apa, mengapa dan bagaimana, bukan pula membatasi dan intervensi.
Tulus itu, selalu memberi kabar, meski sering tak dikabari.
Tulus itu, meyakini hati dan kekuatan doa, meski jarang ditanggapi.
Tulus itu, rela pada apapun asalkan begitulah yang lebih baik.
Tulus itu, mengingat dan mengharap saat terbaik bersama.
Tulus itu, nyaris mendekati kebodohan.
Tulus itu, mencintai apa adanya, mensyukuri dan memaknai.

Ketulusan kadang membosankan. Menyebalkan. Tak ada tantangan.
Dan karna ketulusan itu pula, akhirnya rela MELEPASKAN atau mundur dan MENGHINDAR.

Tentang Tanya



tentu tanya kan berjawab

meski tak sesuai harap.

*

rahasia syurga yang ingin kita ungkap teman.

petunjuknya cuma satu 'kita akan memasukinya',

harap kita juga satu 'firdausi',

namun kadang petunjuk hanya petunjuk,

tak kan sampai lebih dari gapura,

sedang harap?

kitapun mengerti,

harap tinggallah harap, tak kan sama walau dipaksa.

**

begitulah.

hanya tak ingin kehilangan kunci,

untuk sebuah petunjuk,

menuju gapura...

dan menyelesaikan permainan

walau tak menang.

*

teman,

riak nil yang biasanya kau lihat tenang,

sekarang sedang bergejolak.

airnya sama, anginnya saja yang berbeda.

ada angin yang datang dari timur, anginnya angin niaga,

sedang angin barat tetaplah angin semula.

tiada berpendeta apalagi raja tidak jua niaga.



**

jelaslah ia jika memang angin niaga.

saia tak hendak bersua.

dan..angin apakah yang sedang berhembus ke biduk ini?

akan ia karam, sedang laut tenang, riak tak ada

apalah lagi angin yang bermacam itu.



*

inilah kisah yg sedang berlaku,

kalaulah semua mengerti artinya suci,

bahwa ia murni

tiada bertambah

dan sudahlah nyata,

maka tentu niaga akan tinggallah niaga,

tak lebih dari resep cuka yg engkau sebut,

penambah sahaja,

tiadapun tak merusak rasa.

***

matangkanlah dulu

baru kan kubuka, kotak batu dan bulu itu.



Nimiasata,
21 Maret 2011

21.4.11

Ujian Nasional, Masih(kah) Efektif


Mampukah formula baru Ujian Nasional (UN) yang diprediksi lebih efektif ini menjadi standar ukur kemampuan siswa? Agaknya pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan jujur oleh pelaku dan pengamat pendidikan di negeri ini, ternyata UN belum menjadi solusi.

Tentang pengalaman ini, media massa acapkali memuat berita tentang keganjilan dan kecurangan proses UN. Mulai dari kebocoran soal, baik pada proses penggandaan maupun pendistribusian. Pengawas independen yang tidak bisa bekerja maksimal. Ketidak tegasan pengawas silang, dan lain sebagainya.

Beberapa tahun terakhir dapat diamati adanya oknum siswa yang nyata menjadi pelaku kecurangan tersebut. Tanpa persiapan, akhirnya tetap lulus dengan nilai yang tidak dapat disebut pas-pasan. Sangat mengherankan. Bahkan informasi lain disebutkan, siswa-siswa di sekolah yang katanya unggul, telah membeli seperangkat jawaban. Jawaban yang disiapkan itu, jelas menguntungkan bagi mereka yang memang tidak berminat belajar. Sementara, solusi aneh ini sudah menjadi rahasia umum di sekolah-sekolah pelarian. Jadilah, UN sebagai olok-olokan siswa.

Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Ironis, ketika siswa yang dianggap mampu dan pintar dalam pelajaran hariannya tiba-tiba dinyatakan tidak lulus, sementara siswa yang memang sudah di-cap ‘kurang’ dari sekolah mendapatkan nilai yang memuaskan. Itu hanya karena satu diantara mereka yakin dan beriman kepada ‘sms keramat’ yang datang setengah jam menjelang UN. Entah dimana ‘tercecer’nya lembar ujian tersebut. Mungkin penggandaan soal di percetakan, mungkin pula terjadi berbagai ‘kecelakaan’ di perjalanan yang sudah dikawal polisi itu.

Melihat realita ini, pemerintah menyiapkan formula baru pelaksanaan UN tahun 2011 ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya penentuan kelulusan murni ditentukan UN tanpa melibatkan sekolah. Maka, seperti disebutkan Peraturan Mendiknas No 2 Tahun 2011 tentang Ujian Sekolah/Ujian Nasional Tahun 2011, kelulusan siswa SMP dan SMA ditentukan dari nilai sekolah (40%) dan nilai UN (60%). Khusus untuk nilai sekolah ditentukan dari nilai rapor (40%) dan nilai ujian akhir sekolah/UAS (60%).

Inilah bentuk kepedulian sekaligus kecemasan Kemendiknas. Peduli, agar UN benar menjadi standar ukur keberhasilan pendidikan Indonesia. Cemas, jika nyatanya sekian persen siswa peserta UN dinyatakan tidak lulus. Kecemasan ini berujung pada solusi-solusi yang dipikirkan pihak-pihak terkait. Baik orang tua siswa yang tidak siap menerima hasil evaluasi kemampuan anaknya. Guru yang cemas dinilai tidak mampu mengajar. Kepala sekolah yang belum bisa memimpin, serta Kemendiknas yang belum berhasil menetapkan kebijakan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pada formula baru ini tidak hanya UN penentu kelulusan siswa. Tapi juga nilai sekolah. Dilihat lagi proses belajar yang telah dilalui, yang dibuktikan dengan nilai rapor semester 3-5 untuk tingkat SMA. Lalu diakumulasikan dengan nilai UAS. Satu kemungkinan ‘solusi’ dapat disiapkan. Mungkin saja, oknum dari pihak sekolah ‘tertentu’ akan memanipulasi data nilai rapor siswa. Sehingga untuk 40 % nilai sudah aman. Walau berdalih ‘tidak mungkin’, apapun usaha bisa saja dihalalkan, toh itu lah kenyataannya. Layaknya kurva kemampuan siswa di kelas. Hal yang lumrah, padi satangkai ado yang boneh dan hampo.

Jika benar begitu, tidak salah kiranya beberapa Perguruan Tinggi Negeri yang sudah dikenal mutunya, tidak mau percaya penuh pada nilai dan kelulusan siswa. Pun pada penerimaan formasi kerja baik Pegawai Negeri Sipil maupun swasta/industri tertentu, tidak akan merekrut lulusan SMA/SMK, jika hanya bersandar pada nilai dengan menihilkan skill mereka.

Formula baru ini juga menyiapkan soal sebanyak lima paket. Siswa tidak mengetahui paket soal apa yang akan dijawab saat ujian nantinya. Lantas, apa mungkin siswa akan menghafal kunci-kunci jawaban yang telah ditukarnya dengan sejumlah angka-angka rupiah sebelumnya? Jelas tidak mungkin. Tapi, lagi-lagi banyak hal yang mungkin saja terjadi.

Disinilah pentingnya peran pengawas. Pengawas diharapkan benar-benar jujur dalam menjalankan tugasnya. Dilematis. Jika pengawas silang, yang mengawasi suatu sekolah, jika benar-benar jujur, dikhawatirkan akan memuat laporan-laporan ganjil itu dalam berita acara. Panitia dan pihak diknas akan mendapati laporan tersebut. Sebagian menganggap, beginilah seharusnya ‘meng-awas-i’ proses evaluasi itu. Namun sebagian lain akan ‘memuji’ keujujuran tersebut dengan sindiran-sindiran. “Siapkah si guru jujur itu, jika nama yang tertulis dalam berita acara tersebut adalah anaknya atau siswa sekolahnya?”

Pengawas tetap bernama pengawas, meskipun pekerjaan yang dilakukan dengan ber’kaca mata kuda’. Menjalankan absen, lalu duduk diam, mengamati. Pasalnya, jika mondar-mandir dikhawatirkan akan mengganggu efektifitas ujian. Lain lagi dengan pengawas independen yang didatangkan dari perguruan tinggi. Para dosen tersebut, sebelum ini, tidak diperkenankan masuk ruangan ujian. Entah ini hanya di sebagian sekolah saja. Jika demikian, independensi apa yang akan dijamin?

Kita semua jelas bangga dengan cita-cita –mencerdaskan kehidupan bangsa- ini. Tapi, tanpa kontrol bersama, baik stakeholder maupun masyarakat peduli pendidikan, semua akan kembali seperti pengalaman sebelum-sebelumnya. UN seakan masih kebohongan publik yang direncanakan. UN tak akan pernah efektif menjadi alat ukur. Bukankah yang namanya alat akan digunakan, bukan malah diper-alat- lagi.

Tidak saja pada hasil akhir baik yang tentunya diharapkan dan dibutuhkan bangsa ini. Melainkan, adalah keharusan dan tanggung jawab bersama untuk mensukseskan UN standar pendidikan Indonesia. Jika hanya untuk kelulusan, apalah artinya. Kita akan menjadi saksi bagaimana kecurangan dan kebohongan itu masih saja ada dalam pelaksanaan UN.

Pasti, apresiasi tertuju pada Kemendiknas yang menyiasati UN dengan formula baru ini agar bisa lebih efektif. Namun selaku masyarakat yang mendambakan pendidikan yang mencerdaskan anak bangsa, kita juga perlu mengontrol jalannya UN. Bersama-sama untuk berkomitmen, seperti komitmennya Mendiknas Muhammad Nuh, “Prestasi Yes! Kejujuran harus”. Demikian hendaknya diyakinkan dan dilaksanakan sampai ke siswa. Wallahu a’lam. [Miftahul Hidayati]

http://sekolahdalamcatatan.blogspot.com/

6.3.11

Demi Komunikasi

Manusia adalah makhluk sosial, yang tak pernah lepas dari hubungannya satu sama lain. Berbagai definisi juga telah dipaparkan oleh pakar komunikasi. Singkatnya, demi kemudahan hubungan sesamanya, manusia menciptakan berbagai alat komunikasi. Radio, adalah sarana informasi pertama yang saya ketahui.


Saya masih ingat ketika kecil dulu -belum bersekolah-, mempraktekkan alat komunikasi kaleng dan benang. Saat itu, bagi saya alat itu memang sebatas mainan -kreatifitas- saja, bukan teknologi (dalam persepsi saya, teknologi adalah alat-alat canggih yang lebih hebat dari nintendo atau gimbot). Telepon adalah hal yang sudah biasa bagi saya, meski di rumah kami belum ada telepon saat itu. Untuk menelpon keluarga, kami harus ke wartel. Bahkan, untuk menerima telepon -jika sangat penting-, kami menumpang ke hotel Tan Dirih, tetangga kami.

Saat itu juga, di TV nasional -satu-satunya stasiun TV yang tertangkap sinyalnya oleh TV hitam putih di rumah saya - saya melihat apa yang disebut dengan rojer. Alat sebentuk balok yang dapat digenggam, di ujungnya terdapat antena. (saya yakin kita semua tahu dengan alat ini, tapi cuma ingin memaparkan yang dalam gambaran memori saya).
Oh, hebatnya!! saya terkesima, dan bercita-cita 'ingin memilikinya suatu saat nanti.'


Sampai-sampai, 'alat itu' yang setiap hari saya selipkan dalam tas kotak, digandeng dengan kotak nasi dan kotak kue sewaktu saya TK dulu. Yup! Roger Halo-halo berwarna kuning itu adalah tempat/botol minum saya. Sedotannya dari antennanya. hehe ^_^

Teknologi semakin maju. Alat komunikasi tentu terus berkembang. Cita-cita saya memiliki rojer, baru kesampaian ketika sekolah menengah. Tahun 2003, saya diterima sebagai siswa MAPK Padang panjang Sumbar, yang wajib tinggal di asrama. jadilah saya termasuk assabiqunal awwalun yang ber-HaPe di tingkat saya saat itu. Meski biasa-biasa saja, saya tetap bersyukur, sudah punya 'alat komunikasi' secara kongkrit. :)
'gaya gak gaya yang penting punya!' hihi

Abad 20, komunikasi sudah semakin lancar. Alat-alatnya semakin canggih. Saya baru bisa bercita-cita punya rojer sewaktu kecil dulu. Belum terpikir akan punya komputer, sekarang bisa punya komputer lipat, alhamdulillah,, meski sederhana, tapi dengan usaha sendiri. ^_^

Semua demi komunikasi sesama manusia!!
Maka, jika hari ini, saya mulai menikmati fasilitas yang memudahkan -teknologi- semacam ini, sungguh suatu perubahan dalam hidup. Entah macam apa kecanggihan nanti..jangan jauh-jauh, 10 tahun mendatang sajalah. Karya manusia macam apa yang akan membuat kita terkesima..lalu mensyukurinya. dan kembali berfikir, betapa benar,,ajaran agama, untuk belajar dari kecil sampai akhir usia, karna kalau tidak, gapteklah..dan tertinggallah.

Begitulah, kehidupan dan kecanggihannya sudah memudahkan kita untuk tetap saling berkomunikasi. Maka bagaimana mungkin komunikasi menjadi alasan buruknya hubungan sosial manusia?? Saya sangat berharap, agar komunikasi dan alat-alatnya menjadi bantuan-memudahkan hubungan dengan sesama, bukan malah menjadi masalah.

 => ya..ini tentang komunikasi saiaa...
*_*

Ahmadiyah dan Agama Baru

suatu hari, pembicaraan tentang ahmadiyah dan agama baru mengalir antara saya dan seorang senior ketika di MAKN dulu. berawal dari...

Malam ini saya bercerita dengan seorang senior waktu di MAKN dulu, tentang Islam dan persoalan yang muncul pasca tragedy penistaan agama.

Lalu, akan muncul pembagian Islam, islam biasa dan islam Ahmadiyah. Seperti dalam agama Kristen (contoh) ada krsiten katolik dan ada pula kristen protestan, yang keduanya saling menghargai.

Ada istilah untuk umat pertengahan, ummatan wasathan dalam islam. Tapi, islam yang manakah itu? Anggap saja Islam yang dianut dan dilaksanakan oleh orang-orang biasa yang tidak mengkotak-kotakkan dirinya ke dalam suatu kelompok. Itulah Islam biasa.
Islam harakiyah, atau pergerakan seperti ‘ikhwaniyah’, hizbutiyah,

Kalaupun ada kelompok … dalam islam, itu hanyalah persoalan fikrah/ pandangan. Apakah Islam moderat, salafiyah, dan lain sebagainya.

Maka, kesimpulan dari cerita sore itu adalah, lebih baik memilih Islam 'biasa', dengan pertimbangan akidah, keamanan dan sosio cultur standar Indonesia. ^_^

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...