19.12.11

BERKAMPUS bukan sekedar KULIAH




Baru saja saya membaca catatan seorang junior di facebooknya. Ia bercerita tentang kisah sulit yang sedang dialaminya. Menjadi mahasiswa dengan tantangan persoalan cita-cita, kreatifitas, hobi, keluarga, dan tentu saja ada masalah financial. Ya, kali ini ia berbicara tentang kontraknya di atas materai RP 6000, dengan rector bahwa ia dan kawan-kawannya satu jurusan akan diberi sejumlah dana (beasiswa) sampai tamat. Rupanya ketika rector berganti, kontrak pun bertukar secara sepihak. Ia lalu galau. Bagaimalah, akan protes pada siapa. Ia cukup tahu diri untuk tidak protes pada Tuhan. 

Entah apa tujuan adik saya itu menuliskan cerita sedihnya di jejaring social. Saya tak yakin ia tidak bisa mencari solusi cerdas untuk kesulitan (biaya kuliah) nya itu. Ia seorang aktifis. Di organisasi kami pun tidak sekali dua kali berhadapan dengan persoalan DO-IT (duit). Dengan kemauan, kerja keras (berfikir), berusaha (apa saja yang penting halal), dan tidak lupa berdoa, kami menjadi terbiasa dengan masalah itu. Jalan keluar pun tidak lama-lama akhirnya mendekat.

Ketika kuliah, saya juga sering bertemu persoalan kawan-kawan yang serupa dengan adik saya itu. Alhamdulillah, saya tidak mengalami langsung. Sama seperti anak lainnya, tempat mengadu adalah ibu dan ayah. Bagaimanapun, orang tua akan berusaha memenuhi, jika itu terkait kebutuhan sekolah. Mungkin karena kami (saya) tahu diri. Tidak terbiasa dengan belanja-belanja entah itu. Shopping ini itu, jalan-jalan, cuci mata dan sebagainya yang membuat saya berfikir ulang, berapa dananya.

Sekarang pun, mahasiswa di kampus saya dulu mungkin masih banyak yang berprinsip seperti itu. Mereka masih menimbang orang tua di kampung. Seper-sekian persen saja yang tidak. Hanya mereka yang tidak tahu diri saja yang masih sering kumpul-kumpul, sering main ke taplau, menghabiskan kiriman orang tua dengan berfoya-foya. Positif thinking. 

Saya tak yakin adik saya itu bermaksud memuat kisahnya di facebook agar ada saja ‘orang kaya’ yang kasihan, lalu mengirimkan sejumlah dana ke rekeningnya. Atau, tiba-tiba rector memanggilnya, memberikan dispensasi dan berkata, “baiklah, untukmu saya bebaskan uang kuliah”. Atau, tiba-tiba musim penghujan bertukar dengan segera, ayahnya panen getah karet. Ah, mustahil, kau berhayal bung! Rasionalnya, ia hanya ingin orang-orang tahu, bahwa kuliah itu tak semudah berkampus. 

Kuliah itu mudah dan mengasyikkan bagi yang berfokus pada kuliah tersebut. Tapi berkampus, jauh lebih indah dibanding sekedar kuliah. Mereka yang kuliah itu enak. Tinggal kabari orang tua tentang ini itu. “Pikirkan sajalah kuliah”, kata orang tua mereka. 

Berkampus itu; datang ke kampus, apapun kegiatannya. Mulai dari kuliah, organisasi, pergaulan, kreatifitas, social, cari uang, dan sebagainya. Mereka yang berkampus, bisa saja bukan orang yang berduit. Mereka adalah orang-orang yang berupaya keras mencari jalan agar tetap bisa berkampus. Kalaupun ia ditantang tak bisa kuliah –hanya karna persoalan financial- mereka yang berkampus itu akan yakin; selalu ada jalan bagi yang berusaha, berfikir dan berdoa. Maka adik saya itu adalah kelompok mahasiswa yang berkampus, bukan sekedar kuliah!

Adik saya itu ingin beritahukan pula, bahwa berkampus mesti cerdas. Walaupun ketika masuk kampus mereka adalah anak-anak lugu tamatan SMA/MAN, dari kampung, bukan pula anak siapa-siapa, tapi kemudian berkampus telah mengajarkan mereka banyak hal. Belajar mandiri. Belajar cerdas. Maka dengan cara cerdas pula ia sampaikan pikirannya. Pikiran sejumlah besar teman-teman yang senasib dengannya. Ya, dengan cara cerdas. 

Saya sebetulnya bisa saja memberikan solusi, sekedar uang kuliahnya. Barangkali orang lain (Senior) yang juga membaca tulisannya juga akan berfikir begitu. Tapi tidak. Tidak demikian mengajarkan mereka cerdas. Biarkan mereka berfikir, mencari jalan, mengusahakan. Toh, tidak akan terjadi apa-apa. Setidaknya, cobalah dulu. Jika nanti sudah buntu, bukankah tak ada kayu, jenjang dikeping.  Aman. Yakin itu! 

Selamat belajar cerdas adik-adik! :)

15.12.11

Kantung Mata Perempuan


Menurut Anda, bagian mana di wajah kita yang menentukan fresh/segar tidaknya kita? Mennurut saya : Mata.
Seorang teman kemudian membenarkan. Ia memaparkan banyak hal terkait Kantung Mata.


Mitosnya, perempuan yang berkantung mata adalah indikasi tentang perawan tidaknya ia. Jika terdapat kantung mata, berarti ia sudah tidak perawan lagi. Sedang jika matanya terlihat segar dan kencang, berarti masih perawan. mungkin maksudnya adalah jika mata lelah dan berkantung, seseorang terlihat lebih tua. Yang namanya mitos tetap saja tidak bisa dipercaya.


Kantung mata tidak hanya disebabkan oleh kelelahan saja. Penyebab lain seperti disebutkan (Women health; Cantiq) diantaranya:
  • Genetik
Kantung mata bisa muncul karena faktor genetik atau keturunan. Itu terjadi karena otot mata terlalu besar sehingga terlihat menonjol. Munculnya kantung mata karena faktor genetik memang bisa dikurangi. Namun, tentu hasilnya tidak maksimal karena memang genetiknya terpola seperti itu.
  • Pertambahan Usia
Seperti dijelaskan Aji, penuaan bisa berdampak langsung pada kulit. Makin tua usia seseorang, kualitas kulitnya makin menurun. Hal ini karena pertambahan usia menyebabkan produksi kolagen yang bertanggung jawab terhadap kekenyalan kulit juga menurun. Jika kolagen berkurang, kulit menjadi tidak lentur lagi, sehingga tidak bisa menahan kulit dan cenderung mengatung. Akibatnya timbullah kantung pada kulit di bawah mata.
Pertambahan usia juga menyebabkan semakin munumpuknya lemak di beberapa bagian tertentu, termasuk kulit di bawah mata. Akibatnya muncullah kantung di area tersebut.
  • Menopause
Ini tentu juga berhubungan dengan pertambahan usia. Menopause rata-rata terjadi pada usia 50-an. Pada saat menopause, produksi hormon menurun. Begitu pula dengan produksi kolagen. Hal ini menyebabkan kulit berkurang kekenyalannya, sehingga memicu munculnya keriput. keriput ini membuat kulit di bawah mata membentuk suatu kantung. Selain itu, menopause juga ditandai dengan terjadinya akumulasi lemak di bagian tubuh tertentu, termasuk kulit bawah mata. Timbunan lemak ditambah kulit yang mengendur akan semakin memperjelas kantung mata.
  • Alergi
Kasus alergi tertentu, seperti alergi terhadap serbuk bunga juga bisa memicu munculnya kantung mata. Jika masuk ke mata, serbuk bunga akan menimbulkan rasa gatal, sehingga merangsang untuk menggosoknya. Akibatnya, muncul bengkak di sekitar mata. Bengkak tersebut kemudian terlihat sebagai kantung mata.
  • Sinar Matahari
Menurut Aji, orang yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia, beresiko besar mengalami penuaan dini karena banyak terpapar sinar matahari. Sebab, terpapar sinanr matahari secara terus-menerus dalam waktu lama, bisa merusak kolagen dalam kulit. Sehingga, kulit berkurang elastisitasnya.
Tentunya itu menyebabkan kulit menjadi kering sehingga mempercepat timbulnya kerutan. Begitu pula dengan kulit di sekitar mata, sehingga terjadi kantung mata. Orang-orang Indonesia yang biasa menyetir di sebelah kanan, menyebabkan bagian kanannya sering terpapar matahari. Akibatnya, kerutan-kerutan tampak lebih banyak di bagian tubuh sebelah kanan. Itu juga mempengaruhi tingkat keparahan kantung mata. Selain itu, paparan sinar matahari juga menyebabkan pigmentasi tidak merata. Gangguan tersebut biasanya terlihat seperti vlek-vlek hitam. Vlek tersebut bisa memperparah lingkaran hitam di mata yang biasanya menyertai kantung mata.
  • Gaya Gravitasi
Gaya gravitasi menyebabkan suatu benda cenderung tertarik ke bawah. Saat posisi berdiri, kulit bawah mata yang telah mengendur cenderung menggantung ke bawah. Akibatnya, kantung mata akan semakin terlihat. 

-----

Teman saya tadi juga menilai, perempuan yang berkantung mata cenderung terlihat keibuan. Karena kantung mata yang ada menyiratkan rasa kasih sayang yang besarnya. Dan rasa kasih sayang itu muncul di hati. Perempuan itu mudah menangis. Mata yang berkantung itu adalah stok air matanya.

Ia meneruskan, orang-orang yang berkantung mata adalah orang hebat. Coba lihat, orang -orang hebat kebanyakan berkantung mata. Pak SBY aja matanya berkantung kan?! :D :D *kan bukan perempuan! keluar tema nihh*

"jadi..jangan minder jika mata Anda berkantung" katanya. :)

Dan yang paling penting, sebaiknya kita memang menjaga mata. Merawatnya dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan E. Jika mata sudah -terlanjur- berkantung, bisa memberi cream pencerah atau produk kecantikan yang berguna untuk pencerah mata. Harganya juga bervariasi. Terjangkau. Kita juga perlu memberikan waktu istirahat yang cukup untuk mata. Memberikan waktu dan teknik relaksasi. Mengompres dengan handuk yang telah dicelupkan air es mungkin. Menempelkan mentimun, dan lain sebagainya.

Kecantikan itu perlu dijaga. Mutiara sekalipun, tak kan terlihat berharga jika tak dirawat dan dipelihara. Begitupun tubuh -perempuan-, semuanya mesti dirawat, walau hanya soal KANTUNG MATA.


^__^

9.12.11

Lirik Lagu AYAH

by Rinto Harahap


Dimana…akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku….s`lalu ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi

Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah..aku ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta, daku ingin bernyanyi
Dengan air mata di pipiku…
Ayah, dengarkanlah aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…

~~~~~

Buat Ayah, yang sangat saya sayangi, selalu saya banggakan..
^_^
Selamat Hari Lahir Ayah, (12 Desember 1955)

7.12.11

Catatan HUT LPM SK ke 33 (dari sesenior :D )

Pahit Manis Bergumul Bersamaan (Refleksi 33 Th Suara Kampus)
Catatan: Abdullah Khusairi


Sungguh, saya tak berharap jadi romantisme murahan. Mendadak menangis di hadapan sebuah majelis pada dasarnya memalukan. Apa boleh buat, ia keluar sendiri. Tenggorokan tercekat, lidah kelu. Jiwa saya bergetar. Entah, saya sendiri tak mengerti.

"Bung ikut acara LPM Suara Kampus, ya. Semua sudah ada agenda. Saya sedang urus Pak Biro (Amrul Wahdi) berobat ke Malaka," ujar Pembantu Rektor II, Prof. Dr. H. Salmadanis, M.Ag, beberapa jam sebelum saya mendadak sentimentil itu.

"Siap. Saya akan hadir Prof," jawab saya tegas. Meyakini pimpinan, bagi saya, salah satu tugas, untuk melaksanakan tugas dari pimpinan.

Sabtu (3/12) saya memang tak begitu sibuk, namun ada beberapa agenda. Rencananya, saya tetap akan acara Ultah LPM Suara Kampus walau sedikit terlambat. Karena agenda tabrakan dengan yang lain dan selisih waktu di perjalanan.

Syukurlah, saya dapat mengejar tenggat waktu dalam perjalanan ---tidak kebut-kebut amat lho. Sampai di aula acara segera dimulai. Saya jadi tepat waktu. Alhamdulillah.

Baru saja duduk, saya langsung dipanggil Master of Ceremony (MC) untuk maju ke mimbar. Memberi sambutan 33 Tahun dari pembina. Insya Allah, maju mendadak begitu memang tak membuat saya kelu. Karena sudah terbiasa. Dan sudah tahu apa yang mesti dibicarakan.



Titik Nadir

Setelah "membuka kata" dan basa-basi kepada yang hadir, ketika itulah saya berada di titik nadir. Sebuah emosi yang tak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Kata-kata tak mampu mewakili perasaan saya, kecuali ekspresi dan air mata.

"Hampir saja terjadi hujan," celetuk Founding Fathers Suara Kampus, Shofwan Karim.

Memang. Suara Kampus bagi saya memang memiliki arti besar. Meminjam istilah Maifil Eka Putra (Pengurus Suara Kampus, 1994-1997), ada noktah sejarah hidup di sini. Yang tak mungkin terhapus apalagi dilupakan.

Inilah romantisme terhadap masa lalu yang paling terasa hebat dalam hidup saya. Sehingga harus sedikit terguncang ketika kembali ke masa itu. Sebuah masa dimana gelora muda sedang tumbuh mekar. Belajar tentang seluruh hal. Lalu memaknainya menjadi kedewasaan. Hingga khatam 160 SKS di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah 2000, ada sejarah pahit dan manis bercampur aduk. Rasa Nano-Nano.

Pahit. Harus belajar tanpa henti dengan keterbatasan fasilitas. Memakai istilah Sheiful Yazan, seperti pendulum, keterbatasan biasanya membangun kreativitas. Akan terjadi sebaliknya, tapi itu tak baik bagi "kesehatan" seorang aktivis. Fasilitas yang lengkap tak menjamin seseorang bisa kreatif. Penyakit gila nomor 33 --- seperti itu gaya Andrea Hirata dalam menulis --- menertawakan nasib yang buruk salah satu keniscayaan bagi orang yang belum kalah.

Manis. Bisa berada di dalam kampus dan menjadi bagian yang mesti diikutsertakan. Yang termanis, saya bisa wawancara dengan Amien Rais waktu itu. Ah, kawan, bangga nian saya waktu itu. Terima kasih buat Ketua Senat Fakultas Adab waktu itu, Kartika Roni (Kini, anggota dewan di Tembilahan sana).

Ketika ditunjuk beberapa kali menjadi pembina, saya selalu memosisikan membina teman-teman yang jadi pengurus. Tanpa ingin mengintervensi, saya selalu memberi inspirasi dan motivasi. Beberapa kali saya ceritakan tentang kehidupan saya dan teman-teman di Suara Kampus sepanjang tahun 1995 - 2000. Semoga tak muak untuk itu. Walau kadang saya, terkesan narsis. Tapi tak apa, narsis kadang-kadang baik untuk "kesehatan." He he.

Dan meletusnya "bisul orde baru" ketika sedang menjadi mahasiswa, kami sedikit berbangga diri disebut terlibat menjadi aktivis 98. Kata Muhammad Nasir (Sekretaris Suara Kampus, 1999-2000), "reusliting demokrasi" telah terbuka. Semuanya menjadi buncah. Bebas. Hidup reformasi! Begitu teriak kami.

Menjadi aktivis pers kampus, bisa ikut pelatihan hingga ke "tumit Sumatera" di Lampung sana, adalah nostalgia. Tentu saja, ini manis dikenang. Dan pengurus hari ini, akan mengenangnya dalam sepuluh tahun mendatang.

Saya selalu nyinyir. Mungkin menjadi benci bagi teman-teman pengurus hari ini. Nyinyir untuk mereka, bukan untuk saya. Nyinyir agar mereka jadi orang hebat, melebihi "orang-orang sejarah" yang sudah melewatinya.

Itulah. Akhirnya saya memang tak tahan untuk tidak menangis. Mungkin, waktunya untuk cengeng di hadapan pendiri Suara Kampus yang hadir di Aula Fakultas Dakwah, Sutan Zaili Asril, Shofwan Karim dan generasi Suara Kampus selanjutnya, yang menyempatkan diri dalam kesibukannya, Elfiyon Julinit, Maifil Eka Putra, Islahuddin, Iswanto JA, Ade Faulina, Mifta Hidayati, dan masih banyak yang tak saya kenal. Maaf ---jika tak tertulis di sini.

Tentu, teman-teman, senior-senior, yunior-yunior, yang berkesan dan memiliki sejarah hidup di lembaga ini akan seperti saya juga. Cengeng pada waktunya. Merasakan, pahit manis bercampur baur dalam waktu bersamaan.

Terakhir, saya ingin sekali lagi mengucapkan, selamat ulang tahun, Suara Kampus-ku. Sukses selalu... [] Minggu 4 Desember 2011, ketika langit sedang mendung tapi tak hujan... tayang di www.suarakampus.com






Tentang Selembar Penghargaan
Oleh : Islahuddin



Membaca tulisan Bang Abdullah Khusairi, yang romantisme dan menyentuh itu, saya ingin sedikit mengurai kata, tetang sebait cerita pada HUT ke-33 LMP Suara Kampus.

Dalam scedule yang panitia sampaikan lewat email itu, saya berkali-kali membaca dua susunan acara. Pertama tentang penghargaan untuk almarhum Rahma Switta Syaf, kedua tantang penghargaan untuk pendiri dan alumni SUARA KAMPUS.

Tentang almarhum Ramha Swita Syaf, niat itu telah saya sampaikan. Hati saya terbetik untuk saling berbagi, bukan bermaksud untuk sombong. Semoga yang sedikit itu menjadi berkah untuk keluarganya, terutama ibunda Swita yang hadir waktu itu. Meski saya tidak berkomunikasi panjang lebar, tapi saya sudah salami Dia, sebagai bentuk penghargaan.

Kedua, ini yang paling penting. Panitia, terutama sang Pimpinan Ariya Ghuna Saputra, berkali-kali saya SMS dan telpon, agar tidak memberi apapun kepada Saya. Sebab saya sudah menduga, bahwa akan ada sesuatu yang akan saya bawa pulang ke Muara Bungo, 'paling tidak selembar kertas berharga' pikir saya. Ini karena membaca scedule acara itu, yang salah satunya menyebut 'untuk alumni'.

Maaf, ini tentunya tidak bermaksud 'memprotes' kawan dan senior yang menerima penghargaan itu. Saya, sekali lagi hanya membicarakan diri pribadi dalam acara HUT SUARA KAMPUS ke 33 itu.

Kepada panitia saya katakan, agar tidak ada penghargaan untuk saya. Bahkan saya sempat mengancam tidak akan membawa pulang kalau penghargaan itu diberikan. Beruntung akhirnya panitia mendengarkan saya, dan penghargaan itu tidak dibuat untuk saya.

Saya tahu begitu acara diskusi bersama bang Shofwan Karim dan bang Zaili Asril selesai, maka penghargaan itu akan diberikan. Itulah makanya saya hampir satu jam tidak muncul. "Kama tadi, payah angku mah,"kata Bang Abdullah Khusairi. Saya hanya tersenyum. Dengan beberapa alasan, termasuk temui teman ketika masih di Padek dulu, hehehehe.

Intinya, saya memang merasa belum bekerja apa-apa untuk LPM yang sudah mengantarkan saya menjadi wartawan hampir dua tahun ini. Tentu saya angkat tangan dengan bang Abdullah Khusairi, yang bahkan malam pun siap boyong anak dan istrinya untuk menjenguk kami yang masih di redaksi Suaka waktu itu. Tentu saja alumni yang lain, yang perhatiannya tidak saya ketahui, tapi tentunya ada penguatan yang tersembunyi dari mereka untuk keberlagsungan Suara Kampus kita itu.

Singkat cerita, masih banyak yang harus dilakukan untuk Suara Kampus kita itu. Saya mengapresiasi pendiri, pembina, alumni, pimpinan beserta jajarannya yang sudah banyak berbuat untuk Suaka. Semoga saya bisa berbuat lebih banyak lagi, termasuk memboyong keluarga nantinya malam-malam ke redaksi, seperti bang Abdullah Khusairi, hahahahaha. Atau seperti bang Zaili, yang kata sopirnya saat datang itu bahkan belum makan dari paginya, juga seperti bang Shofwan, yang sopirnya harus tidur di mobil, karena lama menunggu bang Shofwan yang sedang menikmati diskusi itu, hehehe.

Akhirya, kepada bang Maifil, bang Elfion, Iswanto JA, Ade Faulina, Ratna Yulia, Miftahul Hidayati dan Syofia Fitri yang datang saat itu, saya ucapkan selamat. Kemudian kepada alumni yang lain, semoga cepat bergabung.


~~~~~~~

Nah, giliran saia memposting dan mengabadikan tulisan-tulisan tentang Suara Kampus itu di blog saia...hehehe. Sukses selalu untuk kita semua.. Amiinn. ^__^

~SUARA KAMPUS MAJU TERUS~

4.12.11

Catatan HUT LPM Suara Kampus yang ke- 33



Catatan ini saya buat, ketika baru saja saya sempat menonton video-video acara Open Tab kawan-kawan Suara Kampus 2011 di sebuah Villa, Alahan Panjang beberapa waktu lalu. Saya sempatkan pula melihat ulang foto-foto Goes To Skul yang diadakan Pengurus Suara Kampus periode 2010 lalu. Haru. Bangga. Bahagia. Bercampur aduk rasanya.

Lebih-lebih lagi, mengenang momen dan masa-masa penuh perjuangan dengan kawan-kawan panitia HUT LPM SK yang ke-30, 2008 lalu. Saat itu Suara Kampus dinahkodai oleh Islahuddin. Bersama memikirkan kegiatan apa yang akan diadakan. Rapat yang tak kunjung tuntas. Gema acara yang diinginkan nasional, sementara kekuatan pengurus dan panitia tidak sebanding dengan gaungnya itu. Dengan keikutsertaan modal saku Bang Ishlah (yang awalnya mau beli motor tapi diundur untuk menmodali acara). Kak Ade Faulina yang intens dijemput Papanya, karena pulang sudah malam. Masa itu belum banyak yang punya motor, jadi seingat saya, saya dan kawan-kawan perempuan lainnya, berjalan pulang ke kos, kalau sudah jam sembilan malam.

Acara yang disiapkan saat itu tidak sedikit. Ketua Panitia, Andri el Faruqi sampai-sampai mesti bolak-balik lantai tiga rektorat, ke lapangan parkir, ke rektorat lagi, ke lapangan basket. Pasalnya, di rektorat dilaksanakan acara Workshop yang diikuti LPM se-Indonesia. Ini usulan Andri El Faruqi dan Adil Wandi, pasca latihan Jurnalistik yang mereka ikuti di Surabaya. Ade Faulina penanggung jawab di sana. Sementara di lapangan parkir, disiapkan beberapa tenda, untuk acara Cerdas Cermat se-IAIN. Saat itu, saya dan Syofia Fitri pelaksananya. Penanggung jawab CC saat itu adalah Ratna Yulia. Di sekitar arena lomba, disiapkan pula stand buku dan pameran lukisan. Sri Rahmadhena sering berdiri di sana. Juga Pepi R.

Sementara di bagian belakang (Lapangan Basket), disiapkan dinding untuk lomba Graffity. Penanggung jawabnya Adil Wandi. Semua sibuk. Semua berperan aktif. Mahasiswa berkerubung memberi support rekan HMJ mereka yang ikut lomba CC. Atau setidaknya sekedar menambah wawasan dengan mendengarkan soal-soal yang dibacakan. Semua UKM turut serta. Ramailah kampus saat itu. Saling kenal antar UKM dan HMJ.

Tentang soal ini, ada cerita menarik. Lomba mana yang mempersiapkan soalnya jam tiga pagi? Suara Kampus telah memperbuat hal itu. Semenjak sore, Saya, Eka Yulina, Ratna Yulia, Rara Handayani dan dibantu kawan-kawan lain, sudah berpusing membuat ragam soal. Debi vernando, Hendra, dan Hamdan Kusuma stand by mencatat skor di whiteboard. Kami juga berjuang memegangi tiang-tiang tenda, arsip dan soal-soal Cerdas Cermat, karena tiba-tiba saja badai (hujan barangin). :) Menarik sekaligus menantang.

Bukan mudah pula apa yang dijalani Ade Faulina di lantai tiga rektorat. Ia berhadapan dengan kawan-kawan LPM lain se-Indonesia. Timbul masalah saat itu. Peserta protes. Layanan tak maksimal. Akhirnya terjadi aksi walk out.

Peserta dari SKK Ganto -kalau saya tidak salah, saat itu diwakili oleh Salmizul Fitria- kembali ke kantornya, UNP. Tidak hanya mereka. Mereka membawa serta peserta dari Makasar. Maka, berlanjutlah persoalan ini dengan jemput-menjemput peserta. Diplomasi.

Lomba graffity yang disiapkan di lapangan basket rupanya memicu pro kontra. Masyarakat kampus menilai dinding-dinding di kampus Islami tak pantas serupa dengan dinding bawah jalan tol. Tapi, kami menilai semua itu kreatifitas. Mahasiswa bebas berkreatifitas selagi tidak merugikan yang lain. Lagipula gambar yang dibuat di dinding itu juga hanya tulisan bertema “LPM Suara Kampus”. Graffity tetap dijalankan. Sebagai bahan pertimbangan pula, memang peserta graffiti tidak hanya dari LPM di kampus islami saja. Secara kostum jelas mereka berbeda dengan suasana kampus IAIN. Ini bisa diatasi dengan kebijakan panitia, antisipasi awal sebelum acara.

HUT ke 31 Suara Kampus tahun 2009. Tak ada acara saat itu. Hanya diskusi dengan Pak Yulizal Yunus, bang Abdullah Khusairi, kalau tidak salah, juga ikut bang Muhammad Nasir di redaksi. Acara motivasi, tiup lilin, makan kue dan foto-foto. Itu saja.



HUT ke 32 Suara Kampus tahun 2010, disiapkan lebih baik. Setelah launching portal berita Suarakampus.com, pengurus dan anggota berfikir perlunya wadah yang menyatukan alumni, dalam sebuah ikatan. Maka disiapkanlah Ikatan Alumni Suara Kampus. Saat itu, acara diadakan di gedung Kemenag Padang. Atas kerja ekstra dan link Ababil Gufron. Saat itu bermasalah dengan tempat. Semula akan dilaksanakan di gedung Dakwah, rupanya ada kegiatan. Di Adab tak bisa pula. Barangkali bisa-bisa saja, jika yang berurusan saat itu adalah Andri el Faruqi. Tapi saat itu ybs sedang berada di Jakarta untuk urusan keluarga. Maka jadilah, solusinya acara diadakan di luar kampus. Acara yang dilaksanakan tersebut tidak sedikit yang bisa diambil bahan evaluasi dan pelajaran.

Sekarang sudah bulan November. Tinggal menghitung hari, 29 November 2011, Suara Kampus genap berusia 33 tahun. Sejatinya, kita bukan bermaksud menyiapkan peringatan HUT yang berlebihan di Suara Kampus. Tapi, tentu saja yang bermakna. Kalaupun mengadakan acara, benar-benar dengan persiapan yang maksimal.

Benar, mahasiswa yang berproses di organisasi tak kan pernah sama dengan yang hanya studi oriented. Percayalah. Maka, nikmatilah masa-masa kita menjadi anggota, pengurus dan panitia. Semua akan bermanfaat. Belajar membangun karakter dan kepribadian pula. Seperti kata Dahlan Iskan, kerja.kerja.kerja. Jika hasil belum juga memuaskan, barangkali kerja keras kita kurang, atau kesungguhan melakukannya belum maksimal.



Sebagai alumni Suara Kampus yang masih berdiri di pintu, saya masih terkenang masa-masa belajar, berproses di Suara Kampus. Masing-masing angkatan punya catatan yang berbeda. Kali ini saya lebih berbicara tentang acara, belum pada karya (tabloid). Bahwa Lembaga kita adalah organisasi yang menuntut karya, maka keduanya mesti seimbang. Hendaknya, semua yang berproses di Suara Kampus bisa mengambil pelajaran berorganisasi, terutama memiliki skill menulis/jurnalistik/per-media-an (TI, iklan dan pemasaran).

Selamat Hari Ulang Tahun yang ke 33 Lembaga Pers Mahasiswa Pertama di Sumatera Barat, Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang. Merupakan suatu kebanggaan yang besar bagi saya bisa bergabung. Sukses untuk kita semua. :)

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...