17.2.13

#inisoalrasa- A Great Notes By Tere Liye

*Urusan perasaan, perasaan dan perasaan

Saya akhirnya menulis tentang ini, sebenarnya akan lebih baik jika kalian berproses menemukan pemahaman ini, proses yg kelok-kelok, terjaga, penuh kehormatan, selamat tiba di ujungnya. Itu akan lebih spesial, membekas, lantas mengenang semuanya sambil tertawa, ah, dulu ternyata semua itu lucu ya.

Tapi baiklah, karena page sy ini persentase anggota remaja hingga usia 22-nya tinggi sekali, dan jika sy tdk hati2, malah bisa salah paham, ada yg seolah2 mendapatkan pembenaran, maka akan sy rangkum beberapa poin penting urusan perasaan menurut versi tere liye (yg akan kalian jumpai paralel konsepnya dgn di novel, buku2).

1. Jatuh cinta itu manusiawi. Urusan perasaan, urusan membolak-balik hati itu adalah milik Allah. Boleh jatuh cinta? Ya boleh, tidak ada ulama dari mazhab manapun yg melarang jatuh cinta lawan jenis, mengharamkannya. Apalagi, duhai, seperti terjatuh, kita tdk pernah tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Tiba2 perasaan itu sudah mekar tak berbilang.

2. Lantas, kalau kalian jatuh cinta, so what? Nah, ini bagian yg menariknya. Kalian mau menyatakan perasaan itu? Lantas so what? Kalian mau dekat2 dgn seseorang itu? Kalian mau telpon2an, tahu dia sedang apa, apakah bisulnya sudah sembuh, apakah panunya tidak melebar, apakah konstipasinya sudah hilang, sudah bisa ke belakang? Kebanyakan di usia remaja, hingga 20-an something, lantas kemudiannya ini yg tidak jelas. Pacaran? Tidak pacaran? Langsung menikah?

3. Ketahuilah, kita hidup dalam norma2, nilai2, batasan2 yg harus dihormati. Kecuali kalau kalian menolak norma2, nilai2, batasan2 tersebut, silahkan (dan berhenti sudah meneruskan membaca notes ini, karena kalian sudah tdk se-zona waktu lg dgn tulisan ini). Itu benar, memiliki perasaan itu kadang serba salah, makan tak enak, tidur tak enak. Itu benar, ada keinginan utk tahu apakah seseorang itu balik menyukai, keinginan utk bilang, cemas nanti dia digaet orang. Tapi kalau hanya ini argumen kalian, oh dear, orang2 sakau, ngobat, lebih tersiksa lagi saat dipisahkan dr hobinya tersebut. Mereka bisa mencakar2, bahkan melukai diri sendiri hingga begitu mengenaskan dan (maaf) is dead. Sy rasa, seingin apapun kalian jumpa dia, paling cuma nangis, tidak akan mati. Itulah kenapa hidup kita ini punya peraturan, agar semua orang bisa punya pegangan, selamat dr merusak dirinya sendiri. Sy tdk akan menggunakan dalil2 agama dalam notes ini--karena orang2 yg pacaran, kadang risih mendengarnya. Jadi kita sama2 kuat, sy pakai logika kalian sj.

4. Tapi saya harus bilang agar lega, bagaimana dong? Ya silahkan saja kalau mau bilang. Tapi camkan ini baik2, cinta sejati adalah melepaskan. Catat itu baik2, tanyakan pd pujangga kelas dunia, hingga pujangga amatiran narsis tere liye, semua bersepakat, cinta sejati adalah melepaskan, lepaskan dia jauh2, maka kalau memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terjadi. Jadi? Kalau kalian belum jelas so what-nya, lantas kemudian mau apa setelah bilang, maka mending ditahan, disimpan dalam hati. Tuhan itu mendengar, bahkan desah tersembunyi anak manusia di pojok kamar paling gelap, paling sudut, di salah-satu kampung paling terpencil, paling jauh dari peradaban, paling tdk ada aksesnya. Jodoh itu misteri. Kalau nggak pakai usaha, nanti nggak dapat, gimana dong? Tentu saja usaha, tapi bukan dengan pacaran. Usaha terbaik mencari jodoh adalah: dgn terus memperbaiki diri. Nggak paham, kok malah aneh, malah disuruh memperbaiki diri. Ya itulah, dalam banyak hal, kalau kita nggak nyambung, memang nggak ngerti. Misalnya, banyak orang yg mikir kalau mau dapat ikan itu harus mancing di sungai. Padahal sebenarnya sih, kalau mau ikan, ya tinggal pergi ke pasar ikan. Lebih tinggi kemungkinan dapat ikannya--asumsinya punya uang.

5. Tapi apa salahnya pacaran? Boleh2 saja dong? Saya justeru merasa lebih semangat, lebih kreatif, lebih apa gitu setelah pacaran? Nah itu dia, kalian benar2 menyimpan bom waktu jika meyakini pacaran itu memberikan energi positif. Pacaran itu bentuk hubungan, dan sebagaimana sebuah bentuk hubungan antar manusia, posisinya rentan rusak, gagal, dan binasa. Boleh jadi betul, riset canggih akademik membuktikan orang2 pacaran bisa memperoleh motivasi baik, tapi saya, tidak akan memilih menggunakan 'pacaran' sbg sumber energi, mengingat sifatnya yg temporer sekali. Mending sy milih kekuatan bulan, jelas2 bulan itu sudah ada milyaran tahun, pacaran paling mentok hitungan jari tangan bertahannya.

6. Baik, baik, lantas kalau tidak boleh pacaran, gimana dong? Kongkretnya apa yg harus sy lakukan? jawabannya mudah: Tidak ada yg perlu dilakukan. jatuh cinta, alhamdulillah, itu berarti tanda kita normal. lantas? Biarkan saja. Sibukkan diri sendiri dgn hal2 positif, isi waktu bersama teman2, keluarga. Belajar banyak hal, mempersiapkan banyak hal. Hanya itu. Nggak seru, dong? Lah, memangnya kalau pacaran seru? Paling juga cuma nonton ke manalah, pergi kemanalah. Pacaran itu seolah seru, karena dunia telah menjadi etalase industri entertainment. Pesohor2 menjadi teladan--padahal akal sehat siapapun tahu itu bahkan rendah sekali nilainya. Dari jaman batu, hingga kelak dunia ini game over, pegang kata2 saya: menghabiskan waktu bersama orang tua, kakak, adik, teman2 terbaik selalu paling seru. Apalagi jika ditambah dgn terus belajar, produktif, dsbgnya.

7. Lantas bagaimana sy melewati masa2 galau ini? Lewati seperti kebanyakan remaja lainnya. Lurus. Boleh kalau kalian mau menulis diary tentang perasaan2 kalian. Boleh galau menatap langit2 kamar. Boleh cerita2 curhat sama teman dekat dan orang tua. Boleh, tapi ingatlah selalu perasaan itu punya kehormatan. Kalian pasti sebal kan lihat teman sekelas yg tiba2 datang ke sebuah pesta ultah (padahal dia tidak diundang), sudah tdk diundang, makannya paling banyak, teriakannya paling kencang, paling gaya, norak, tidak tahu malu. Nah, ada loh--bahkan banyak-- orang2 yg tdk sadar kalau dia sebenarnya juga norak dan tidak tahu malu dalam urusan perasaan. Ya, kita sih kadang tdk merasa kalau sudah genit, ganjen, lebay. Sy tahu, istilah menjaga kehormatan perasaan ini boleh jd susah dipahami, tapi itu nyata, orang2 yg bisa menjaga perasaannya, maka se galau apapun dia, sesengsara apapun dia menanggung semua perasaan, besok lusa, kemungkinan untuk tiba di ujungnya dgn selamat akan lebih besar. Jangan coba2 berdua2an, jangan coba2 pergi kemanalah hanya berdua, bergandengan tangan, dsbgnya. Itu benar2 menghabisi kehormatan kalian.

8. Nah, bersabarlah. Tunggu hingga kalian memang telah siap. Jika sudah yakin, silahkan kirim sinyal2, menyatakan perasaan, lantas silahkan libatkan orang tua. Btw (masih ngeyel), tapi banyak juga orang2 yg menikah tanpa pacaran bercerai, kok. Dan sebaliknya, orang2 yg pacaran malah langgeng? Itu benar. Sama benarnya dgn banyak orang2 yg mabuk2an, ngobat, tetap saja umurnya panjang. Eh, ada tetangga, alimnya ampun2an, malah meninggal lebih dulu. Harusnya kan kalau mereka melanggar peraturan, langsung ada petir menyambar. Menikah, membina keluarga, langgeng atau tdk, bahagia atau tidak, boleh jadi tdk ada korelasinya dgn pacaran atau tidak. Kita mungkin tdk pernah tahu misteri ini, tapi dengan menjalani prosesnya dgn baik, mengakhirinya dgn baik, semoga fase berikutnya berjalan dgn baik.

Sy konsen sekali masalah pacaran ini, karena sy tdk ingin kalian menghabiskan masa2 penting kalian utk urusan perasaan yg sebenarnya di usia kalian tdk penting2 amat. Dan sy harus bilang, orang2 yg paham, mengerti benar bahwa pacaran adalah pintu gerbang pergaulan bebas. Itu mengerikan. Masa' kalian mau dekat2 dengan pintu yg ada tandanya 'pergaulan bebas'. Saya bisa menjaga diri kok, tenang saja. Well, rasa2nya tidak ada orang di muka bumi ini, di zaman sekarang, yg bisa bilang dia sempurna bisa menjaga dirinya. Kalau bisa, maka setan akan gigit jari.

Sy membuat beberapa novel tentang perasaan, semoga itu bisa menjadi salah-satu alternatif kalian memahami beberapa poin di atas, hidup ini memiliki batasan2 yg tdk bisa dilanggar, bahkan sekuat apapun cinta tsb. Selalu ambil sisi positif dlm cerita2 tsb, lihat dr sudut pandang berbeda, maka boleh jd kalian akan menemukan pemahaman baru yg baik. Bukan sebaliknya, mengambil yg bisa memberikan argumen buat kalian--karena namanya novel, tentu sj sy harus memasukkan tokoh2 buruk, jahat. Sy juga menumpahkan banyak postingan soal ini, konsen saya.

Sy benar2 tdk bisa melakukan hal yg lebih kongkret dalam urusan ini, selain dgn tulisan2. Tapi itu hanya tulisan2. Itulah kenapa sy sangat menghormati guru2, orang2 dewasa, orang tua di sekitar remaja yg lebih kongkret, secara terus menerus menanamkan pemahaman itu ke remaja2 mereka. Dan di atas segalanya, yg akan membuat itu berhasil atau tidak, adalah kalian sendiri.

Mari kita janjian, yuks, hari ini, 13 September 2012, maka dua puluh tahun lagi, 2032, kalau umur kita panjang, dan kalian masih ingat postingan ini, kenanglah kembali masa remaja, masa usia 20-an something kalian. Rasa2nya sy bisa menebak, kalian akan nyengir mengingatnya. Boleh, nanti tiba2 mengirimkan email ke saya, Bang tere, sy masih ingat postingan 20 tahun lalu itu--asumsi sy masih ber narsis ria di mana2. Dan Bang tere ternyata salah. Boleh. Atau kalau sebaliknya, tentu saja boleh, kirim email, bilang, ternyata Bang tere benar.


***
Saya juga perlu forward pemahaman ini kepada siapa saja yang berada di sekitar saya. Siapa saja yang mau belajar dan memahaminya. Thanks banget buat great notesnya Bang Tere. Superb!

Coz I luv U all! :))
#keep spirit!

Nimiasata_2013

15.2.13

Fenomena Bahasa Indonesia #1



Ada berbagai fenomena bahasa yang nyata terjadi di lingkungan berbahasa Indonesia kita. Salah satunya adalah yang muncul lewat dialog antara saya dengan Fachry di awal bulan Februari ini. Fachry adalah adik sepupu saya yang masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar di kampung kami.

***
--terdengar lirik lagu : kulihat ibu pertiwi/sedang bersusah hati/ air matanya berlinang/....dst
Fachry   : Uni, si pertiwi itu adiknya Kartini ya?
Saya       : ha? –Terkejut. Melihat ke arah Fachry. Lalu tertawa.-
Fachry   : iya ni?
Saya       : Bukan Ai. Tidak ada hubungannya antara Pertiwi dengan Kartini. Ai mungkin beranggapan begitu karena ada TK Pertiwi, juga ada TK Kartini ya?
Fachry   : iya. –mengangguk-
Saya       : Baiklah. Pertiwi itu bukan nama orang, bukan nama perempuan hebat, bukan nama ibu-ibu seperti halnya Kartini. Pertiwi itu istilah yang digunakan sebagai pengganti nusantara-Indonesia ini. Ibu pertiwi berarti wilayah nusantara kita.
Fachry   : oo. –meng-o seadanya-.

***
Sumber gambar : google/wahyusiswaningrum.blogspot

Sungguh, saya cukup kesulitan menjelaskan hal itu. Mencari perbedaan kongkrit antara ibu kartini dengan ibu pertiwi, yang secara bahasa -nyata- sama-sama menggunakan kata IBU. Sementara pengertiannya sangat jauh berbeda. 

Ada banyak kosa kata lain dalam bahasa Indonesia yang juga sulit –bagi saya- dicarikan penjelasannya. Misalnya soal akronim dan singkatan. Bagaimana sebenarnya kaidah dalam bahasa indonesia mengatur? 
Ada kalanya singkatan itu diambil dari huruf pertama dari setiap katanya. Seperti, SD singkatan dari Sekolah Dasar. Atau BI : Bank Indonesia. Atau BPSNT : Badan Pusat Sejarah dan Nilai Tradisi. 

Ada kalanya singkatan itu diambil bukan dari satu huruf pertama, melainkan dari sembarang kata yang terdapat pada kata itu. Seperti Bawaslu: Badan Pengawas Pemilu. Sementara PEMILU  sendiri juga kata yang sudah disingkat Pemilihan Umum. 

Semakin hari singkatan itu semakin “keren” saja. Entah sengaja dibuat keren atau tren bahasa sekaranglah yang menuntun menjadi “ke-keren-keren-an”. Contohnya seperti lalin: lalu lintas.

Barangkali menyingkat-nyingkat kata itu sudah menjadi candu bagi pengguna bahasa saat ini. Katanya agar lebih efektif. Tapi menurut saya, tidak pula susah menyebut kata itu baik-baik. Menyelesaikan kata itu sebagaimana mestinya. Yang ada kini, biar terlihat keren (mungkin), disingkatlah kata-kata itu. Walau tanpa aturan tertentu. Sembarang(an) saja.

Ada pula singkatan dari bahasa asing yang tak jelas penggunaannya, seperti WC yaitu water-closet. Padahal ada padanan kata dalam bahasa Indonesia seperti jamban. Sayangnya kebanyakan masyarakat terbiasa menggunakan WC.
 

Contoh lain seperti (maaf) BH : bustehouder yang jika diterjemahkan menjadi penyangga payudara. Berbeda dengan jamban, yang bahasa Indonesia-nya terkesan lebih baik, untuk BH ini, masyarakat (menurut saya) tidak salah jika memilih menggunakan kata tersebut, daripada versi Indonesianya; kutang.  

Singkatan kata itu juga –kadang- tidak menghargai. Seperti singkatan MITA untuk Minyak Tanah. Apa alasannya coba? Padahal ada banyak orang bernama demikian bukan? Judul media pun kadang “main-main” dengan kata ini, seperti “Mita kembali bergejolak”, atau “Taslim: Tindak Penyelundup Mita”, atau “Mita langka, harga pun melambung di Dharmasraya”. Aih! Risih dengan judul berita usil seperti itu -kalau tidak akan disebut kreatif-. Hahaha.

Nah, baru-baru ini saya dengar di media istilah baru lagi, Sprindik. Kata yang cukup sulit mengejanya, sama seperti spritus. Sprindik adalah Surat perintah penyidikan. Kenapa bukan SPP saja? Bukankah ada banyak kata lain yang juga merupakan singkatan yang sama, tapi kepanjangannya berbeda. Kita bisa mengetahui maknanya dari konteks pembicaraan kata tersebut. Seperti LPM. Ada banyak LPM. Lembaga Pengabdian Masyarakat, atau Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, atau juga Lembaga Pers Mahasiswa. Mudah saja bukan?   

Kita tentu berbangga dengan keragaman bahasa yang dimiliki bangsa ini. Semakin hari semakin bertambah istilah yang muncul lewat media. Namun ada kekhawatiran, jika tidak ada aturan yang jelas tentang akronim dan singkatan itu. 

Barangkali jika para pakar bahasa dan pemerhati bahasa terus mengikuti perkembangan itu,  akan kesulitan meng-input (Bahasa Indonesianya: memasukkan) kosa kata baru tanpa aturan itu ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau, semua kata yang semakin begaram tak beraturan ini tak perlu saja dikumpulkan dalam KBBI? (eh? akhirnya, saya pakai singkatan juga nih!)

Dan, seperti itulah fenomena bahasa kita sehari-hari.  Ini baru satu soal akronim dan singkatan saja, belum lagi jika kita komentari tentang bahasa alay, lebay, dan gaul anak muda sekarang. (ceileee, berasa tua aja! :D) Akan semakin membingungkan. Saya juga. Selamat ber-bingung-bingung-lah kalau begitu. :)
                                                       

17.1.13

Kaum Muda Kita



Seminggu yang lalu, saya menerima kabar duka tentang kepergian seorang sahabat. Boy Fitra Ad namanya. Kabar duka itu saya dapat lewat pembicaraan kawan-kawan di jejaring sosial, facebook. Meskipun saya tak berkesempatan langsung hadir saat pemakaman jenazah, namun saya bisa turut merasakan suasana duka mendalam di keluarga besar angkatan muda Muhammadiyah Sumatera Barat saat itu. 

Boy [Tepat di samping kanan saya; sisi kanan], Foto : Dok. IMM, 2010

Boy, demikian panggilan akrabnya, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di daeran Pasaman, setelah menghadiri acara Musyawarah Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Pasaman Barat. Kecelakaan itu terjadi pagi harinya, saat Boy bermaksud kembali ke Padang. 

Boy, memang telah dulu berpindah alam. Ia –seperti kata Habibie-, telah berada di dimensi lain, dimensi baru kehidupannya, yang kelak kita pun akan ke dimensi itu. Tapi bagi saya, dan kawan-kawan lain, masih merasakan kehadiran Boy, lewat semangatnya yang tertulis di majalah Lorong, atau status dan komen facebook, atau kata-katanya yang sempat singgah dan menetap di memori kami masing-masing. Sekarang, kami hanya bisa mengenang semua itu. 
Bukan saja tentang Boy, saya juga tengah mengenang semangat ber-IMM yang telah berangsur pudur di diri saya. Barangkali bukan saja soal IMM nya. Lebih tepatnya semangat berorganisasi.

Konon kabarnya, semangat berorganinasi itu yang juga kian hambar di kalangan muda Indonesia. Tak ada lagi aktivis. Tak ada gejolak. Yang ada hanya tudingan. Saling tuding satu dan lainnya. Saling memojokkan. Saling mencela. 

Boleh jadi inilah pendidikan tidak langsung yang didapat kaum muda menjelang 2014 ini. Ya, kita tahu, tahun-tahun ini kita disibukkan dengan persiapan pilpres mendatang. Jelas saja tidak mudah menghadapi semua itu. Yang namanya politik tentu bermain taktik. Memilih atau menjaring kader. Bahkan sampai ke tingkat ranting. Menata partai dan mengganti pemimpinnya. Boleh juga bermain-main dengan internalnya. Guling menggulingkan. Menemu letak koalisi atau oposisi. Inilah, setidaknya pendidikan politis kaum muda sekarang itu.

Lalu senior mereka akan berkata, “Kalau tak busuk itu bukan politik Bung!”, ketika salah seorang mereka kemudian ‘dikhianati’ atau mencoba bermain di sana. 

Ada juga yang akan menyemangati, “Teruslah! Ini belum akhir segalanya. Tujuan kita belum sampai.” Saat kader mereka mulai putus asa dengan berbagai problema. Mereka hanya menyemangati. Ya, sampai di sana, lalu berhenti. Yang mengalami dan menanggung segala resiko, toh juga bukan mereka. 

“Maaf ya, resiko tanggung sendiri”, ujar mereka ketika hal yang dikhawatirkan itu kemudian benar terjadi.

Persoalan kendurnya semangat dan dinamika organisasi kaum muda, rupanya tidak hanya di lingkungan saya saja. Ketika berbincang dengan seorang teman dari organisasi lain, ia juga mengeluhkan hal serupa. Tidak ada lagi dinamika pergerakan. Tidak ada debat yang hangat. Tidak ada perang pemikiran lewat tulisan yang pedas dan tajam.  

Oh ya, soal tulisan itu, sudah lama saya dengar. Bahkan ketika saya masih mahasiswa pun, para senior juga berujar demikian. 

“Kalian menang di retorika, kalah di tulisan. Lemah!” Begitu katanya. Tapi, setidaknya, ada juga satu dan dua yang terus menulis di media. Menyampaikan pikiran dan ide lewat cara ilmiah itu. Walaupun, realitanya memang lebih didominasi dengan diskusi dan bicara semata. 

Hari ini, kita terkenang akan seorang teman yang masih menyisakan semangat perubahan. Sama halnya terkenang akan semangat perubahan mahasiswa, kaum muda kita yang kian melemah. 

Sayang, saya tidak lagi berada di jalur aktivis itu. Jalur yang dipilihkan takdir sekarang ini tidak memungkinkan untuk terus bersama mereka –para aktivis-, yang masih semangat berorganisasi. Jalur ini lebih banyak diam. “Nggeh..”, kata orang Jawa-nya. 

Saya hanya komentator. Hanya ingin berkomentar. Dan jika dilihat di dunia persepakbolaan, komentator selalu merasa lebih hebat dari pemain, bahkan juga pelatih. Maklum saja. Hahaha.
Kaum muda, teruslah bersemangat. Biar hidup dalam dinamika, daripada mati pada stagnasi ide, pikiran dan gerakan. Teruslah bersemangat. Sebelum ada penyesalan, terlambat. Selagi masih ada kesempatan. Dan tentu saja, selagi masih ada kehidupan. 

*
Selamat jalan kawan. Jangan bawa serta semangatmu. Sisakan untuk kami, untuk mereka. :)

**
Nimiasata_2013

7.1.13

MY WORD #6

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

'Sebesar kengerian dan kesulitan dalam mencapai sesuatu, sebesar itulah kesenangan dan kelezatan yang dirasakan' - Ibnul Qoyyim-

 

..tak ada yang akan MENJADI jika tak pernah MEMULAI.. :))

**** 2013 ****


#Keep Spirit!
Nimiasatta_2013

2.1.13

IKA MAPOKUS SUMBAR Gelar Reuni Seperempat Abad




Foto : Radhiyatul Fajri/2012
 
Ikatan Alumni Madrasah Aliyah Program Khusus (IKA MAPOKUS) Koto Baru Padang Panjang, menggelar Alek Gadang dalam rangka Reuni Seperempat Abad MAPK, Sabtu-Minggu (29-30/12) lalu di Aula Komplek Kampus MAN Koto Baru Padang Panjang.

Ketua panitia H. Irwandi, S.Ag, MMdalam laporannya menyebutkan,di samping untuk tujuan silaturrahim, agenda Seperempat Abad MAPK ini juga mengangkat dan menghidupkan kembali corak pendidikan ‘ala MAPK’, di Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya. 

Acara yang dihadiri oleh lebih dari 300orang alumni IKA MAPOKUS ini, menghadirkan sejumlah pembicara terkait dengan tema “Pembinaan Program Pendidikan Khusus di Lingkungan Kementerian Agama Guna Menciptakan Generasi Yang Berkarakter”. Diantaranya hadir pakar Ushul Fiqh, Prof. Amir Syarifuddin selaku tokoh yang “dekat” dengan MAPK, mengulas tentangkemunculan dan perkembangan pedidikan berbasis madrasah di Sumatera Barat.

Menurutnya, pada awalnya, pendidikan madrasah memiliki kurikulum dengan konten 100% ilmu pengetahuan agama mencakup fiqh, ushul fiqh, bahasa arab, dan lain sebagainya. Namun dalam perkembangannya, pada masa penjajahan Belanda mulai diintegrasikan sejumlah ilmu pengetahuan umum. Saat itu madrasah dikelola oleh swasta.

Sedangkan madrasah yang pertama dibina oleh kementrerian agama adalah PGA (Pendidikan Guru Agama). Kemudian berkembang menjadi Madrasah Aliyah yang menggabungkan kurikulum umum dan agama. Namun kurikulum pada periode ini tidak mencerminkan pendidikan madrasah karena (realitanya) lebih didominasi oleh ilmu pengetahun umum. Madrasah aliyah tidak memiliki diferensiasi.Berbeda dengan kurikulum Madrasah Program Khusus, yang mencakup 30% umum dan 70% agama.

Pada seminar tersebut, Amir Syarifudin juga menegaskan perlunya pendidikan madrasah dengan program khusus dipertahankan.

Sedangkan perwakilan dari Gubernur Sumatera Barat hadir staf Ahli Gubenur Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Surya Budhi. Dalam paparannya, Surya Budhi menyebutkan adanya fenomena krisis moral dalam masyarakat saat ini. Kondisi ini sangat membutuhkan madrasah dengan Program Khusus,  yang mampu melahirkan output yang berkarakter.
Turut pula Kepala MAN Koto Baru Padang Panjang, Drs Syukri, menyampaikan tentang penghapusan program khusus terkait undang-undang Kemenag yang menghilangkan program khusus di madrasah. Sedangkan program khusus yang ada sekarang merupakan program keagamaan regular/mandiri. Namun demikian, ia juga berharap agar Program Khusus dapat diterapkan kembali. 

Program pendidikan dan pembelajaran seperti MAPK/MAKN harus tetap dipertahankan, hal ini juga ditegaskan oleh Dr. Saidan Lubis, M.Ag, selaku ‘guru besar’ MAPK. Sedangkan dari alumni sendiri, H Irsyad Syafar, Lc, M.A, menyampaikan bahwa Kemenag seharusnya mampu melahirkan SDM yang unggul dibidang agama.

“Kehadiran MAPK/MAKN telah melahirkan SDM yang unggul di bidang agama,” demikian ujar Pemimpin Yayasan Pondok Pesantren Ar Risalah Padang ini.

Acara ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi, pertama, yang ditujukan kepada pemerintah, yaitumeminta kepada Kemenag untuk menghidupkan kembali lima MAPK/MAKN awal, khususnya MAPK/MAKN Koto Baru Padang Panjang, minimal menerapkan sistem pengajaran berbasis MAPK/MAKN. Kepada pemerintah daerah, diharapkan dapat memberikan dukungan dalam bentuk moril dan materil.

Kedua, rekomendasi yang ditujukan kepada alumni, meminta pengurus IKA Mapokus untuk berkomunikasi dengan organisasi alumni MAPK/MAKN di seluruh Indonesia dengan tujuan mensosialisasikan usaha untuk menghidupkan kembali MAPK/MAKN di Indonesia. Di samping itu juga diupayakan penguatan database dan profil alumni dan profil MAPK/MAKN secara umum.

Ketiga, kepada lembaga legislatif, direkomendasikan agar DPR RI mempertanyakan kepada Kemenag kenapa MAPK/MAKN dihapuskan.

Dan keempat, kepada pihak sekolah, diharapkan agar dapat memberikan perhatian yang proaktif dan proposional kepada Program Unggulan Keagamaan yang diawali dengan seleksi ketat terkait input siswa, pembinaan tutorial, penggunaan kitab standar dan meningkatkan kualitas tenaga pengajar serta memberikan ruang bagi alumni.

“Kita berharap, rekomendasi ini dapat diteruskan, dan menjadi bahan pertimbangan bagi semua pihak dalam upaya Menuju Kebangkitan MAPK,” ujar Ahmad Wira, Ph.D, selaku Ketua IKA MAPOKUS. (*)

Laporan : Miftahul Hidayati, Kabid Keputrian IKA MAPOKUS 2010-2014

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...