7.11.12

Ringtone Aneh Untuk Orang Aneh


 

Siang itu, perjalanan kota kuliah pulang ke rumah, saya mendengar tangis perempuan di bus yang saya tumpangi. 

“Hiks.hiks.“
“Huhuu.. huhuu..” Terdengar suara sedu sedan, tangis 

Aduh, saya kaget alang kepalang. Tangis perempuan dari manalah sumbernya ini.
Berhenti sejenak, lalu menangis lagi. Saya mulai berpikir, apakah ada yang menghuni bus ini? Atau, si sopir berani-beraninya menyimpan perempuan yang diikat, dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan di bagasi belakang? 

Atau kalau bukan begitu, lalu darimana sumber suara ini? 

‘Perempuan’ itu menangis lagi. Makin lama semakin keras, jelas terdengar sedu sedannya. Lalu berhenti. 

Alamak. Apa-apaan ini. Saya saling lihat dengan mahasiswa yang duduk di samping kiri. Lalu bertanya,
“Ringtone hape?”

Si Mahasiswa tersenyum dan mengangguk.

Sumpah, heran deh! Masa sih orang se-macho  itu ringtone hapenya suara tangis perempuan?
Tangisan itu masih berbunyi lebih dari tujuha kali berikutnya. Lalu si  ‘macho’ itu mengangkat hapenya, 

“Halo?!”  Suara berat, khas lelaki perokok berat.
Arrghhh….Plis deh! Saya minta ampun, dunia ini emang aneh. Jangan sekali-kali menebak hal-hal ‘aneh’ jika tak mempunyai kemampuan membaca pikiran. Hahaha. 

Heran ya, lelaki dewasa bisa saja iseng menjadikan tangis perempuan dengan suasana horror dan mencekam itu menjadi ringtone hapenya. 

Atau jangan-jangan, ada pula perempuan manis, kemayu, anggun dan bitipul-lah, yang mau-maunya menjadikan suara tawa raksasa jadi ringtone hapenya? Atau, salakan anjing galak, atau, klakson mobil suasana macet, atau, lolongan serigala malam yang mencekam?

Hahaha. Ada-ada saja, memang di dunia ini selalu saja yang masuk kategori minal gharaaibil makhluqaat ( di antara makhluk aneh) wa ‘ajaaibil maujudaat (hal/sesuatu yang ajaib). 

Ringtone aneh hanya untuk mereka yang mau tampil aneh. :D 

*sensasidoank*

Pencinta dan Peminta



Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: Memberi. Ia akan terus menerus memberi, dan selamanya begitu.
Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Sama seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang serupa.

Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga. Hal ini pula yang membedakan para pencinta sejati dengan para pencinta palsu.

Jika kau memilih untuk mencintai seseorang dengan tulus, maka ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kau berikan padanya. Apa saja yang bisa membuat kehidupannya menjadi lebih baik, selalu lebih baik.

Maka, kau adalah air. Air yang membasuh segala yang kumuh. Air yang menjernihkan semua yang keruh. Air yang membasuh luka agar tak infeksi dan selalu terjaga.

Maka kau adalah mentari. Mentari yang selalu bersinar di setiap ada pagi. Mentari yang selalu memancarkan cahaya meski awan gelap menutupi hangatnya. Mentari yang tak pernah bosan melalui hari-hari dan berotasi pada sunnahnya.

Ada yang akan tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ada yang akan besar dan berbuah dari sinar cahayamu.

/life is like a riddle/just find out the solutions/it would be nice/easy or hard riddle that U feel/there is always something good behind it/so just take it easy/coz He always gives U THE BEST/ (my best friend says :))

Lalu, apakah kau akan memilih menjadi pencinta sejati?
Meski kadang nyata tak sesuai pinta? Walau harap kadang tak berjawab. Tentu, kita harusnya begitu. 

Konsekuensi dari sebuah pilihan puzzle kehidupan. Kau yang meletakkan kakimu pada langkah-langkah takdir itu bukan? Tentu kau berkewajiban menjalaninya dengan sepenuh hati.
Maka biarkan, biarkan saja jika realita yang kau dapati belum lagi seperti pintamu. Biarkan saja, harapmu padanya bergelayut pada setiap doa. Itu hanya belum di-ijabah-Nya. Bersabar dan ikhlaslah saja. 

Karena tugasmu hanya mencinta, dan mencinta tak selamanya menerima. 

Jika saja semua manusia di dunia ini berprinsip serupa, barangkali taka da galau dan patah hati. Karena semua kemudian ikhlas menjalani dan melakukan tugasnya sebagai pencinta, bukan peminta.  

Barangkali hidup ini akan selalu damai, jika pencinta itu memerankan lakon terbaik di kehidupannya, yang kemudian menghabiskan para peminta cinta. 

***
Selamat menempuh kehidupan baru kawan. Kami yakin, pencinta sejati tak akan disia-siakan oleh cinta-Nya. Teruslah memberi walau tak selalu kau menerima.  Di sanalah hakikatnya cinta.
Barakallah lakum.. :)

**

Tulisan ini didedikasikan untuk : Sahabat-sahabat terbaik yang pernah bersama dalam puzzle kehidupan saya.

Inspirasi : Tulisan (AM)

Hidup Terus Mengalir


 
"Kita hanya bisa memahami keajaiban hidup secara penuh ketika membiarkan yang tak terduga untuk terjadi." (Paulo Coelho)


Kadang kita terlalu egois untuk mengatur kehidupan sendiri, semaunya. Kita tak sadar, bahwa pada setiap urusan dalam kehidupan ini ada lakon-lakonnya. Dan setiap lakon pasti ada sutradaranya. 

Kehidupan yang seperti air ini, akan terus bergulir, senantiasa mengalir. Kita tak pernah tahu, kemana akan bermuaranya aliran ini. 

Tugas kita, kembali hanya menjalani dengan peran terbaik yang kita bisa. Mengambil pelajaran di pengujung episodenya. Belajar untuk  episode berikutnya. Menikmati setiap lakon yang diperankan. Lalu memaknai apa saja yang bisa dimaknakan. 

Hei! Bukankah hidup seperti sandiwara? Hanya peran nyata dan pura-pura itu kadang sulit kita batasi dan pahami. 

Hidup akan terus mengalir, seburuk apapun kau menjalaninya. Hidup akan terus melaju, meski kau berhenti semaumu. Hari akan berganti. Masa terus bertukar. Kesempatan akan beakhir sia-sia jika saja kau tak mampu mendeteksinya. 

Bersemangatlah! Bahwa hidupmu bukan di tangan orang lain. Bahwa harimu bukan karena orang lain. Jalankan peranmu dengan baik, karena kau yang menginnginkannya, bukan tersebab orang lain. Hidupmu adalah hidupmu. 

Never compare ur journey with someone elses. Ur live is urs! So, just do ur best for Ur Best Future! 



Mari, menjalani, menikmati, memaknai, bersabar dan ikhlas dengan semuanya. Semua akan indah, karena memang begitu ketentuanNya. :)

Jeda




Dan, sepertinya kita memang butuh satu waktu untuk melarikan diri dari segala rutinitas yang mengikat. Mengikat pikiran, melelahkan raga, mematikan rasa. Hanya agar tak jenuh dan bosan saja.

Maka jika kau telah kembali esok, dan hari selanjutnya, kau akan temukan sesuatu yang baru yang bisa menyita energi positifmu, lalu mengubahnya menjadi rindu dan semangat yang menggebu.

Kita hanya perlu rehat sejenak dari apapun pekerjaan, tugas, dan kewajiban. Kita perlu berhenti sebentar dalam perjalanan yang panjang ini. Sekedar menarik nafas lebih dalam. Sekedar melepaskan penat yang menggelayut di jiwa.

Karena kita tahu, tugas dan kewajiban dalam hidup ini tak akan pernah berakhir. Selalu berganti, terus bertukar. Kehidupan seperti kita menapaki tilas sejarah yang terus berganti. Kita tahu, ada amanah di sana. Kita tahu, kewajiban akan ditukarNya dengan hak yang sepadan. Kita tahu semua tidak berakhir sia-sia. Tapi jeda itu juga menjadi hak kita.

Jeda hanya waktu sejenak yang kita butuhkan untuk kembali menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang. Dan kita bukan robot yang bisa terus-menerus hidup. Bahkan robot sekalipun, hidup sampai energinya habis. Lalu ia akan mati. Jeda. Sampai dihidupkan kembali dengan energy baru.
Jeda yang kita butuhkan juga tak akan lama. Karena kita akan kembali bangun, sadar lalu bergerak lagi. Kita menyadari bahwa ada keterbatasan waktu dalam kehidupan ini. Hingga jeda pun tak perlu berlama-lama.
Kita sadar, bahwa kita memiliki keterbatasan yang rapuh, dan kita juga tahu bagaimana mensiasati keterbatasan itu untuk tetap bisa bertumbuh, bergerak dan maju menjadi lebih baik.
  
Maka, tak ada yang salah jika kau memberi space dalam kata-katamu, memberi jeda dalam bicaramu, memberi rehat dalam urusanmu. :)

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...