18.11.15
28.10.15
Review Buku: DILAN
DILAN
Dia Adalah Dilanku tahun 1990
Tak ada yang disampaikan buku ini, selain kebanggaan si Aku
kepada laki-laki nakal, usil, tapi asik
bernama Dilan. Si Aku bangga, karena Dilan selain sebagai penggemarnya, juga
merupakan anggota geng motor yang juara kelas.
Dilan suka bersosial. Jago menggambar. Suka bermain gitar
dan cuek terhadap anak perempuan. (lho, jangan-jangan itu karakter penulis pas
SMA. hehe)
Dilan dan Melia, dalam buku Dilan (I), mestinya dibaca para
guru, pengajar SMA sekarang. Dengan demikian, terlihat perbandingan, bahwa
“anak jaman 90-an” saja, “unik”nya sudah minta ampun. Maka, tak perlu
menyalahkan diri, mengutuk zaman, “anak sekarang begini dan begitu”.
Bahwa, “setiap zaman ada anaknya atau setiap anak ada zamannya” mesti kita terima. Karena saya juga guru SLTA, khususnya Kejuruan, dengan perbandingan anak perempuan dan laki-laki adalah 70 banding 30. Artinya, tidak sedikit kisah romantis anak se-usia Dilan yang dihadapi. Apalagi kisah “heroik”, pertarungan antar geng, kelompok, komunitas dan lain sebagainya.
Dan, novel Dilan hadir sebagai jalan tengah, solusi menenangkan diri, dan membuat tawa dan senyum-senyum sendiri sampai akhir cerita. Dilan yang nakal tapi asik, Melia dengan gaya “anak Jakarta”nya, pertemanan dan dunia saling naksir zaman SMA yang kocak.
Penulisnya, Pidi Baiq pantas berbangga, Dilan yang ia ciptakan benar-benar membuat jatuh cinta para gadis remaja usia SMA. Barangkali, penulisnya ingin menyampaikan, “gini loh..cowo keren itu. Bukan yang kayak zaman sekarang, si cowo pemberi harapan palsu, nah si cewe-cewenya mudah digombalin”.
Over all, buku Dilan menjadi buku ringan, enak dibaca, seru dan cukup sekali baca. Hehehe. Karena, sebagai generasi 90an, saya cukup kenal dengan beberapa dialog Dilan dan Melia. Ya, memang begitulah anak 90-an. Meskipun ada beberapa bagian dari dialag yang membuat bingung, dan bertanya, apa zaman itu sudah biasa begini, atau begitu?
Pidi Baiq bercerita sebagai Melia. Penulis laki-laki yang menjadikan “Aku” si tokoh utamanya adalah perempuan, itu hebat menurut saya. Sama hebatnya seperti penulis favo saya, Dee Lestari yang bisa menjadi laki-laki dalam tokoh-tokoh “aku” di ceritanya.
Buku yang anak SMA banget. Mengajarkan cara-cara elegan mendapatkan yang ditaksir, cara unik dan asik dalam berkawan. Dan, terlalu banyak ha ha ha dan he he he nya.
Katanya, setelah Dilan (1991) mau ada cerita versinya Dilan
ya? Kita tunggu saja, gimana seniman Pidi Baiq cerita dari sisi Dilan-nya.
7.10.15
Sehari ke NLS
Pagi itu suasana sekitar Victoria street, Singapore tidak begitu ramai. Ada beberapa orang yang berlalu lalang, dengan langkah tegap besar-besar seakan dikejar waktu. Saat sampai di depan gedung Lee Kong Chian, saya tidak menduga bahwa itu adalah sebuah gedung perpustakaan. Jauh sekali dari bayangan, jika perpustakaan adalah bangunan tua, kuno dan berdebu.
Di lantai dasar terdapat pojok cafe dan "papan" informasi. Lee Kong Chian Reference Library sendiri ada di level 7 gedung itu. Level 5 adalah bagian drama dan koleksinya. Ada lagi level 9, yang memuat koleksi berbahasa melayu.
| Lantai dasar, bagian registrasi dan pusat informasi |
Bangunan bergaya modern ini, diarsiteki oleh mr. Ken Yeang, jelas berbeda dengan tampilan luar perpustakaan negara malaysia, yang klasik dan sudah pernah kita bicarakan. NLS terlihat gagah dan megah.
| Ruang baca National Library Singapore |
| Rangka |
| Bersama petugas perpustakaan NLS |
Dan, masalah terjadi saat saya hendak mengambil barang dari satu di antara empat loker yang saya dan teman gunakan. Saya lupa salah satu kodenya, dan kebetulan itu adalah loker yang isinya keperluan teman seperjalanan. Saya lalu melapor kepada petugas. Seorang Bapak petugas itu menjelaskan dengan ramah, apa yang harus saya lakukan.
Saya melapor lagi ke bagian resepsionis, lalu membuat surat pernyataan bahwa benar saya adalah pengunjung, dan isi dari loker nomor sekian adalah barang milik saya. Disebutkan pula apa isinya. Dilampirkan (tentu saja) identitas dan passport saya. --hallaah. Leganyaa, saat akhirnya proses itu berakhir. Namun saya mendapat pelajaran berharga dari cara-cara itu. Thanks mr and mrs petugas.. hehehe.
Kata si petugas lagi, NLS mendapat penghargaan sebagai perpus terbaik tahun 2013. Oh tentu saja, saya juga mengira demikian. Baik tampilan fisik yang menarik, plus koleksi yang banyak dan beragam, wajar saja jika ini menjadi tongkrongan anak-dan keluarga yang mencerdaskan.
Kita butuh adanya yang 'seperti ini' di sini. Kita butuh petugas yang ramah, fasilitas yang mudah. Kita akan bangga di negeri kita punya yang serupa. Namun kita akan lebih bangga, jika membaca, mengantri untuk membaca, menyediakan jadwal-jadwal membaca adalah budaya kita dari kana-kanak hingga dewasa. Pasti bangga. :)| Pemandangan Vict street dari lantai 5 Lee Kong Chian Library |
| membaca |
| Dan, informasi rute ini penting di simpan lebih dulu :) |
Melawat ke "Jendela Dunia" Negeri Jiran
| Melawat ke "Jendela Dunia" Negeri Jiran |
Pagi itu, Kuala Lumpur masih sepi. Belum banyak kendaraan berlalu lalang di Bukit Bintang. Barangkali, gemerlap malam tadi masih menyisakan lelah pelancong negeri jiran itu. Kehidupan yang begitu ramai menjelang tengah malam. Berbagai makanan justru tesedia waktu-waktu itu. Pengunjung dari berbagai negara, berbagai ras dan warna kulit menyatu di sana.
Saya menyusuri pinggiran toko dan hotel yang masih tertutup. Cukup sepi. Hanya ada petugas toko yang mulai membersishkan kaca, atau petugas kebersihan yang membersihkan sekitar toko. Saya justru menikmati pagi dengan kendaraan yang tak begitu ramai ini. Lebih leluasa memandang, menikmati. Tujuan saya hari ini tak begitu jauh dari penginapan. Saya juga telah menyiapkan catatan-catatan kecil hasil searching, bekal perjalanan. Rute, titik-titik stesyen, dan jenis-jenis transportasi untuk pulang, sudah dalam catatan. Kamera, pasport, ringgit dan makanan kecil juga sudah aman dalam tas.
Saya berjalan santai, meninggalkan area ramai turis itu menuju Titiwangsa. Kira-kira jaraknya 7 km. Dalam perjalanan lancar, bisa ditempuh hanya dalam waktu lebih kurang 15 menit. Karena tidak terburu-buru, saya menikmati setiap perhentian, persimpangan. Lalu sedikit mengingat, kenapa seperti Pasar Raya Padang di pagi hari ya? *ups.
Dan ya, target saya adalah melawat dan melihat, bagaimana rupa perpustakaan negara di negeri itu. National Library of Malaysia itu ada di 232, Jalan Tun Razak, Titiwangsa, 53200 Kuala Lumpur. Dari KL sentral kita bisa menggunakan monorail menuju "TKP". Bisa juga dengan taksi yang langsung turun tepat di depan gedungnya. Namun saya lebih memilih kendarahaan umum yang di Indonesia, masih dalam rencana pembuatannya. Mungkin karena masih minim transportasi jenis ini, jadi lebih menarik saja.
Perpustakaan itu bertetangga dengan Museum Sejarah. Bangunan dengan atap khas itu terdiri dari tujuh lantai. Lantai dasar, terdapat perpustakaan khusus anak-anak. Dari pintu masuk di lantai satu, kita dihadapkan pada ruang terbuka dengan pemandangan area pendaftaran dan sofa/tempat duduk yang bersisian.
| Pemandangan dari lantai satu |
| Buku-buku yang dipamerkan |
| Si Miniatur Kapal yang Tak Mini |
Ada pula bagian ruangan yang digunakan untuk pameran. Ada miniatur *cukup besar* kapal di tengah-tengahnya. Di dalam kapal terdapat foto-foto dan patung -orang-orangan kapal-. Hati-hati menyusuri ruangan gelap di sana. Kalau kata saya, ya jangan sendiri jalan ke dalam kapal itu. Jangan pula kaget dengan kemiripan dan kengerian asli "penghuninya". Cukup horor. Hiiii...
| Di dalam kapal |
| Registrasi |
| Smart Library |
| Tampilan Layar Tablet |
Di lantai satu itu, saya disapa petugas perpustakaan. Ditanya dan ditawari untuk ditemani. Saya perkenalkan diri sedikit, dan jelaskan tujuan bertandang ke sana. Mereka menyambut ramah. Kata mereka, bagian peminjamannya ada di lantai tiga dan empat. Jika berkenan, mereka mau antar ke lantai khusus membaca.
| PNM |
Cukup berpusing-pusing di perpustakaan itu. Tak bisa berlama-lama. Agaknya, seronok lah bila dapat membaca dan berkunjung ke sana seringkali. Kapan lagi ya? Hahaha.
Review Buku : Ketika Elang Kembali ke Sarang
![]() |
| sumber : diwanteen.blogspot |
- Sastrawan Taufiq Ismail -
Buku keluaran tahun 2008 ini, baru saya temukan dan baca pada 2015 ini. Itupun, karena endorsment sastrawan hebat, yang saya kutip di atas. Tertarik dengan judulnya, meski tak menemukan satu kata elang pun dalam ceritanya. Apa elang memang punya sarang? Bukankah elang sudah tertakdir bertualang?
Dan, Ny. Ina Huda menceritakan tentang dua sahabat, Septi dan Lanang, dengan latar pedesaan, yang mengalami proses pendewasaan. Dewasa secara usia, persahabatan mereka berubah menjadi rasa cinta. Proses pendewasaan melalui pendidikan, yang barangkali saat itu, masih kentara bahwa anak gadis desa, setamat SMA sudah pantas berkeluarga. Tapi masing-masing tokoh melanjutkan studinya ke kota yang berbeda. Lalu mereka lost kontak. Putus komunikasi.
Septi, dengan rasa nyaman persahabatannya kepada Lanang, menutup diri dan hatinya dari orang-orang yang menawarkan perhatian. Sedangkan Lanang, atas perjuangan kuliah, dan hutang budinya, rela mengorbankan dirinya untuk masuk ke kehidupan yang tak ia kehendaki. Melarut dan tertekan dengan kehidupan barunya itu.
"Mencintai dan dicintai adalah hal yang sederhana. Jauh lebih sederhana dari membuat orang yang kita cintai mencintai kita, atau mencintai orang yang mencintai kita."
Lanang bertemu lagi dengan Septi, dalam keadaan sudah menjadi milik orang lain. Septi harus merelakan sahabatnya, yang tidak menjadi cinta yang dimilikinya. Dengan kerelaan dan ketulusan masing-masingnya, akhirnya takdir menyatukan kembali.
Nah, elang ada dimana? Barangkali, Lanang yang melalang buana, menjauh dari kehidupan Septi, menghilang, dikesankan sebagai elang. Namun hanya beberapa tahun. Dan, menurut saya, itu sedikit mustahil. Mereka yang bersahabat sejak kecil, tidakkah saling tahu, dan kenal dengan keluarganya. Bukankah mereka juga satu kampung.
Di sisi lain, juga diceritakan tentang perjuangan dokter Iman mendekati dan mendapatkan hati Septi. Hampir-hampir didapatkannya, lalu Lanang kembali mengisi hari-hari dan pikiran Septi.
Cerita ini juga tentang Amel, sahabat Septi yang menyukai dokter Iman, dan Ning, istri Lanang, yang sama-sama melepaskan apa yang mereka inginkan demi kebahagiaan orang yang disayang. Nah, dimanakah elang dalam kisah ini? hehehe.
Btw, terima kasih untuk cerita segarnya, Ny. Ina huda. Saya menikmati, *meski tak bersua elang. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan
Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...
-
Tradisi Manyerak Bareh Kunik, merupakan salah satu bagian upacara adat pernikahan di Nagari Gunung, Padang Panjang. Berikut pantun yang ...
-
Bagian kedua Pantun Manyerak Bareh Kunik .. Janjirak buah janjuri Tiradah daun jilatang Tumbuah di batang baringin sonsang Siriah gal...
-
Menyulam Pernah dengar Sulaman Koto Gadang? Sulaman Koto Gadang, adalah sulaman spesifik Minangkabau yang berasal dari daerah K...



