Agak heran memang. Saat kita ujian-ujian setingkat SMA atau SMP, sekira 20an tahun lalu, lembar buram itu jelas ada isinya. Semakin ke sini (waktu berlallu), semakin kita lihat lembar itu isinya macam-macam. Di jurusan tertentu, dulu-dulu masih bagus diisi dengan komik, gambar-gambar abstrak, dan kada-kadang memang ada yang bagus juga. Ada juga yang meminta maaf "Buk, saya semalam tidak bisa belajar, maaf ujian saya hanya seperti ini."
Namun hari-hari ini, jangankan coretan dan permintaan maaf, lembar itu tak disentuhnya. Kita bertanya, "kenapa tak ada isinya, pencarian jawaban di sini?". Mereka menjawab "Ga ada pena buk." Siswa yang lain menimpali, "Kalaupun ada pena, juga tidak tau jawabannya buk."
Hmh. Menarik nafaslah kita dalam-dalam. Terbayang beban ini sudah lama menumpuk di pundak guru matematika. Sama seperti ketika masih ada siswa satu-dua yang belum mampu mengidentifikasi bacaan alquran, huruf-hurufnya, dan iqra zaman dulu itu. Sama terdengar deru nafas gurunya.
Memprihatinkan.
Saat ujian, siswa mengerjakan soal begitu cepat. Tidak ada coretan di kertas, tidak ada hitung-hitungan panjang, bahkan pena kadang hanya dipakai untuk menghitamkan jawaban. Selesai.
Kadang saya merasa, kita sedang membiasakan anak-anak untuk lebih dekat dengan hasil daripada proses. Yang penting benar. Soal bagaimana sampai ke sana, itu urusan belakangan.
Padahal, bukankah matematika justru mengajarkan langkah?
Dulu kita akrab dengan kertas buram. Penuh coretan, kadang berantakan, kadang salah lalu dicoret lagi. Tapi dari situ terlihat cara berpikir. Terlihat usaha. Terlihat bahwa jawaban itu diperjuangkan, bukan ditebak. Sekarang, yang sering terlihat justru kecepatan. Cepat memilih, cepat selesai, cepat lupa. Dan tidak peduli apa-apa lagi.
Ujian secara online, sebagian mereka punya "caranya" mencari jawaban dari berbagai jenis AI. Ujian dengan HP, baru 10 menit soal dibagikan sudah terdengar celetukan "selesai". Apa yang mereka cari? Apa yang mereka inginkan? Mengejar cepat selesai lalu "Push rank? Mobile legend??"
Sebagai guru, kadang ini yang membuat gelisah. Jangan-jangan kita terlalu sibuk mengejar nilai, sampai lupa mengajarkan cara berpikir. Kita senang melihat angka tinggi, tetapi lupa bertanya: anak ini benar-benar paham, atau hanya hafal bentuk soal?
Hidup, sayangnya, tidak seperti ujian pilihan ganda. Hidup butuh "resistensi". Bagaimana bertahan di saat sulit. Hidup yang bukan sekedar matatika ini butuh logika. Butuh berpikir kritis. yang semua itu tidak lahir begitu saja. Sim salabim. Tidak ada jawaban A, B, C, atau D. Tidak ada kisi-kisi. Tidak ada kesempatan menebak lalu berharap beruntung. Yang ada mungkin buntung.
Hidup meminta kita berpikir. Menimbang. Salah. Memperbaiki. Dan itu semua mirip sekali dengan proses mengerjakan matematika yang sebenarnya. Mungkin karena itu saya masih percaya, matematika bukan sekadar pelajaran hitung-hitungan. Ia adalah latihan hidup. Jangan menyerah, guru matematika dimana pun berada. Ujian memang, saat siswa kita divideokan lalu ditanya kali-kali-bagi-tambah-kurang, -yang dulu kita lakukan sebelum keluar kelas, di sekolah dasar- dan mereka gaya-gayaan, senyum-senyum ga tau.
Aish.

No comments:
Post a Comment