Malam hari di rumah kami kadang tidak selalu diisi dongeng sebelum tidur. Kadang, saya membacakan puisi kepada anak perempuan saya yang baru berusia tiga tahun. Buku puisi bergambar Ayam, -yang semula dia kira adalah Dinosaurus-, ternyata adalah buku puisi tentang identitas manusia di zaman ini. Dengung Tanah Goyah (2024), tentang kritik sosial dan ekologis, perspektif yang bergeser, budaya dan tradisi lokal dan macam lainnya.
Puisi-puisi Iyut Fitra—atau Kuyut, begitu kami juga ikut memanggilnya—punya cara sendiri untuk sampai kepada kami, kepada anak 3 tahun kami. Ada pengulangan kata, bunyi-bunyi yang mirip, ejaan yang seperti sedang bermain, juga ujung kalimat yang terasa seperti berpetualang. Bagi orang dewasa, itu mungkin sekadar gaya bahasa. Tapi bagi anak tiga tahun, itu adalah taman bermain. Taman imajinasi.
Ia akan mengulanginya lagi. Tertawa lagi. Salah mengucapkannya, lalu merasa itu semakin lucu.
Dan kami sering melakukan itu.
Lewat tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada Kuyut. Untuk kata-kata yang ia lahirkan. Untuk puisi-puisi yang diam-diam ikut tumbuh di rumah kami. Untuk sebuah buku kumpulan puisi yang kami dapatkan saat ia datang bertandang ke Padang Panjang, ketika penyakit sudah mulai mengintai tubuhnya yang tipis.
Saya memang harus berterima kasih pada Kuyut. Ia tidak pernah membedakan teman lama atau teman baru. Sama-sama teman. Sama-sama disambut hangat. Ada orang-orang yang hadirnya tidak ramai, tapi tinggalnya lama di ingatan. Kuyut salah satunya.
Karena itu, saya ikut berdoa untuk kesembuhannya. Berkabar kepada ibu Zarni Jamila, menanyakan keadaan, berharap ada kabar baik yang bisa sedikit menyenangkan.
Namun akhirnya, pada suatu sore yang dingin, saya menerima pesan itu.
“Kuyut dah pegi tmn2... mhn doanyaaa.”
Kalimat sederhana yang rasanya panjang sekali. Ada orang-orang yang kepergiannya tidak hanya meninggalkan kehilangan, tapi juga membuat kita sadar: ternyata seseorang bisa hidup lama lewat kata-katanya.
Selamat jalan, Kuyut.
Kini Kuyut sudah tidak sakit lagi.
Semoga Allah menghapus dan memaafkan segala kesalahan. Semoga semua sabar yang dijalani dalam menerima takdir-Nya menjadi jalan yang lapang menuju pulang terbaik.
Dan puisi-puisi itu, akan tetap dibacakan.
Pada malam-malam yang dingin.
Pada anak kecil yang tertawa-tawa.
Pada rumah yang masih menyimpan tulisanmu dengan hangat.
No comments:
Post a Comment