17.7.13

Jenis Urang di Minang

Dari cimbuak.net

==>;

Ado anam macam
Partamo urang namonyo
Kaduo urang-urang namonyo
Katigo tampan urang namonyo
Kaampek angkuah-angkuah urang namonyo
Kalimo urang-urangan namonyo
Kaanam urang sabana urang

Nan dikatokan urang
Tau mambedokan antaro jahek jo indak jahek
Tau mambedokan nan tinggi jo nan randah
Dinamokan urang biaso

Nan dikatokan urang-urang
Bantuaknyo manyarupoi urang
Indak ciek juo nan dikatauinyo
Bak anak ketek nan balun tau apo-apo

Nan dikatokan tampan-tampan urang
Dicaliak jauah bantuak urang
Tantang kalakuannyo balun jaleh
Balun dapek dipicayoi atau diyakini

Nan dikatokan angkuah-angkuah urang
Urang nan kalakuannyo sarupo patuang
Hiduiknyo bak kato urang sajo
Hiduik nan indak bapandirian
Utaknyo bak utak katuang (bodoh)
Babanak kaampu kaki


Nan dikatokan urang-urangan
Bukan urang tapi dibuek manyarupoi urang
Umpamo urang-urang tangah sawah
Kalo dielo inyo mangarik
Indak dielo diam sajo


Nan dikatokan urang sabana urang
Tau di awa jo nan akie
Tau di lahie jo nan batin
Tau di hereang sarato gendeang
Tau di malu jo sopan, raso jo pareso

Urang cadiak candokio, arif bijaksano
Budinyo tinggi, ilmunyo banyak
Mamanuahi saraik martabaik manusia
Hiduiknyo manjadi contoh tuladan


Urang mudo manangguang rindu
Urang tuo manahan ragam


Urang nan ampek jinih
Partamo panghulu (andiko)
Kaduo malin (alim ulama)
Katigo manti (cadiak pandai)
Kaampek dubalang (urang mudo-mudo)


Urang nan ampek golongan
Partamo niniak mamak
Kaduo cadiak pandai
Katigo alim ulama
Kaampek bundo kanduang

Sumber: Buku "Kato Pusako"

***
So, dimaa kawan kini tampek no duu? :D
atau di jinih kalimo, -kecek kawan ambo-, ado pulo urang nan co Karah-karah / co sarok-sarok kuaci / urang co kajai pangabek cindua?
ma ncak?

15.7.13

#Ramadhan : Mesjid


 Oke. Ramadhan kali ini saya ingin hadirkan jepretan asalan saya dengan tema mesjid.

Upload foto dan komentar mesjidnya bertahap ya.. soalnya harus nyari-nyari dulu, acak-acak file lappy yang ada mesjidnya pas jalan ke manaaaa gitu.

kali ini dua dulu deh. :)




Mesjid dengan atap hijau ini adalah Mesjid Koto Gadang. Terletak di Nagari Koto Gadang, kecamatan IV Koto, kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di sisi kiri mesjid ada rumah gadang dan tabuah. Halamannya luas. Posisi strategis tepat di persimpangan 'pusat kota' Koto Gadang ini memungkinkan mesjid menjadi sentra aktifitas masyarakat setempat.




Nah, yang kedua, sudah pada kenal kan? :D
Yak, Mesjid Dian Al Mahri alias Mesjid Kubah Emas Depok. Saat pertama melihat langsung mesjid ini, saya teringat dengan Taj Mahal yang dibangun pada masa Syah Jehan. Kagum sama pendiri *pembangun atau apa ya, yang pasti bukan pemilik* mesjid ini. berapa $$$$ nya ya? hahahah.

Tak sekedar dibangun megah, tapi mesjid ini saya lihat memang sangat terawat.

Oke, segitu dulu deh, catatan jalan ke mesjid-mesjid kita. Saya cari-cari dulu stok jepretan, kalau ada kesempatan, langsung turun deh.
SIp!
:)




9.7.13

Sehari di Nagari Lansek Manih Sijunjung

Sijunjung, Sumatera Barat, terkenal dengan nama Nagari Lansek Manihnya. Meskipun masih banyak lahan-hutannya, saya sempat terpikir juga, " kok ga ada ditemukan pohon lanseknya ya". :))

Berbicara tentang Sijunjung, menurut saya, ada beberapa kata kunci yang menjadi kekhasan daerah Sijunjung, Sumatera Barat ini. Mau tau??
:D

1. Jengkol/ Jariang/ Joghiang

Siapa yang ga tau jengkol? hayooo.. :D. Jengkol (Archidendron pauciflorum) merupakan bagian famili Leguminoceae/polong2an/kacang-kacangan. Makanan bau ini rupanya banyak disukai. Bahkan di daerah Sijunjung, jengkol menjadi 'ikon' dan menu wajib makanan masyarakat setempat. Barangkali karena mudah didapat. Meskipun di daerah Jawa harga jengkol kian meroket, di Sijunjung ini masih sangat mudah mendapatkannya. Selain 'enak' -bagi penggemarnya-, jengkol tentu saja memiliki khasiat, diantaranya dapat mencegah diabetes, penyakit jantung koroner, dan kaya serat.

Saya menemukan jengkol ini masih utuh seperti polong-polongan, belum dibuka. Konon katanya jengkol yang paling wueeenak itu, adalah jengkol bareh. Dan, setelah dimasak, ternyata benar sodara-sodara, enak! :D

 2. Hal lain yang menarik bagi saya adalah, rumah gadangnya. Ada berbagai jenis Rumah Gadang Minangkabau, namun yang saya temukan di sini, gonjong rumah gadangnya mestilah empat. Kenapa ya?


Sebetulnya, ada sebuah daerah yang kental sekali budaya Minangnya, yaitu Sumpur Kudus,sayangnya saat itu saya tak sempat main ke sana.

 3. Silokek
Silokek merupakan lembah batuan yang terletak lebih kurang 15 km dari pusat Muaro, pusat kabupaten Sijunjung.

Jarak dan akses yang tidak terbilang mudah itu, dapat terganti dengan pemandangan bebatuan yang indah, goa-goa yang di dalamnya mengalir sungai, dan tentu saja udara yang sejuk.

Sepanjang jalan menuju daerah wisata Pasir Putih Silokek ini akan ditemui penambang emas dengan sederetan perahu motor mereka.

Lebih jauh lagi ke daerah dalam, katanya, ada lokasi arung jeram juga lho! *saya belum sempat ke sana  sih :( *




Satu hal yang kita khawatirkan, yaitu dengan adanya penambang emas, yang terus mengeruk isi sungai, tanpa ada upaya pelestarian alam dan konservasi, dapat beresiko bagi kita dan alam ini. Hilang indahnya, hilang eksotisnya. *Tuhh liat.. airnya aja udah keruh, mana ada ditemukan ikan.

Ok. Perjalanan singkat di Sijunjung ini mesti ada part 2 nih kayanya. Hayoooo...ada yang mau ikut arung jeram bareng?? :D

12.6.13

Tour De Sumpu-Malalo


Memasuki wilayah Sumpu, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, kita disuguhkan dengan pemandangan hamparan bukit di satu sisi, dan danau Singkarak di sisi lain.

Menuju daerah ini, dibutuhkan waktu sekitar 15-25 menit perjalanan dari Kota Padang Panjang.

Sore itu, kami mendapati asap para petani di sela-sela pepohonan bukit sisi danau itu.


Hal lain yang menarik di Sumpu ini adalah adanya PLTA Singkarak. Gambar di samping ini adalah pintu terowongan bawah tanah yang menghubungkan Danau Singkarak dengan PLTA yang terletak di wilayah Lubuk Alung, Pariaman. Terowongan ini dibangun pada tahun 1998 dengan panjang 19 km. (katanya merupakan terowongan terpanjang di Indonesia lho!)
Sisi kiri dan kanan pintu terowongan, dibuatkan menjadi bukit. Dari sini, kita bisa lebih puas menikmati pemandangan sekeliling danau Singkarak.


  Inilah salah satu view yang memanjakan mata saat berada di bukit atas terowongan.

Barangkali akan lebih menarik bila kita bisa berada di bibir danau. Sayangnya, saat itu, lokasi ini dalam keadaan terkunci (petugas). hehe.

Namanya lokasi ini milik PL*, tentu tetap diberikan pesan-pesan keamanannya.
"UTAMAKAN KESELAMATAN".
Namun, view ke arah ini juga tidak kalah menarik bukan?


Secara keseluruhan, dari luar kita bisa melihat jejeran pinus, air danau yang menghijau dan birunya langit di atas bukit yang melingkar Danau Singkarak.

saya dan dua rekan kerja, :)

Satu hal yang menarik pikiran saya saat berada di atas mulut terowongan ini adalah: "Kalau Indonesia bisa membuat terowongan bawah tanah, menembus berbagai jenis batuan, sepanjang 19 km, itu artinya tidak tertutup kemungkinan, jalur transportasi antar kota di Sumatera Barat ini juga bisa dialihkan ke jalur bawah tanah tho? Tidak ada lagi kecemasan longsor, macet dan jalan ambruk.*"  Haaha. pikiran iseng saja.


Nah, ini baru sekeping kecil sisi Danau yang dijepret. Tertarik melanjutkan tournya?
yuukk.. marii... :) :)

***
NB. yang ada justru menembus gunung, mengikuti jalur Patahan Semangka. wuiih.. jadi lebih ngeri ya! :D :D

11.6.13

Tugas Resensi



Mempelajari Perjuangan Politik Bung Hatta

Judul buku               : Berjuang dan Dibuang
Penulis                      : Mohammad Hatta
Editor                         : Mulyawan Karim
Penerbit                     : Kompas
Tahun                        : Februari 2011
Peresensi                   : Miftahul Hidayati


Mohammad Hatta adalah seorang tokoh proklamator Indonesia. Sebagai wakil presiden pertama Republik Indonesia, namanya sering bergandeng dengan nama presiden, Soekarno. Hatta, juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, karena pemikiran ekonomisnya sudah ada sejak awal.
Otobiografi adalah riwayat hidup seorang tokoh yang ditulis sendiri oleh subjeknya. Sebuah otobiografi tidak hanya bermanfaat bagi penulis dan keluarganya saja, melainkan juga bermanfaat bangsanya. Melalui otobiografi, pemikiran-pemikiran penulis, pengalaman hebat, catatan dan opini penulis dapat disampaikannya tentang berbagai bidang. Demikian juga dengan otobiografi Mohammad Hatta, yang banyak bercerita tentang perjalanan politik dalam hidupnya.
Semenjak pendidikan doktoralnya tahun 1929 di Belanda, Hatta sudah mempersiapkan diri untuk organisasi politik. Semula ia bermaksud menempuh ujian doktoral di bidang ilmu ekonomi pada tahun 1925. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu karena minatnya yang besar di bidang politik.
Berkaitan dengan politik dan pemikirannya, Hatta bercerita melalui tulisan-tulisan yang dikirimnya ke media daulat Ra’jat, Pemandangan, dan Nationale Commentaren.
“Politik di negeri jajahan terutama berarti pendidikan. Politik mengenai pengertian biasa tidak dapat dijalankan, kalau raykat tidak mempunyai keinsafan dan pengertian. Sebab itu, didikan harus jalan dahulu. Dan didikan tidak akan sempurna, kalau ia tidak memaki asas yang terang” (hal. 27)
Demikian sepenggal tulisan Hatta yang disiapkannya untuk Harian Daulat Ra’jat No. 37 tanggal 20 September 1932. Melalui tulisan itu Hatta menyampaikan alasannya kenapa setelah ia kembali dari pendidikan di Belanda, ia langsung memilih bergabung dengan Pendidikan Nasional Indonesia. Melalui tulisan-tulisan itulah Hatta dikenal sebagai seorang tokoh pemuda yang berani.
Sikap kritis dan berani seperti Hatta ini berbeda dengan realitas pemuda (mahasiswa) Indonesia hari ini. Jika diamati, semenjak meletusnya gerakan reformasi tahun 1998 lalu, pemuda Indonesia lebih memilih untuk menyatakan pemikirannya melalui aksi (demo) di lapangan dibandingkan melalui tulisan. Aksi lapangan itu, menurut sebagian kalangan tak berarti apa-apa. Seperti anekdot yang berkembang, tulisan kadang lebih tajam dari pedang. Pada aksi lapangan, tenaga dan massa terbuang percuma, ide dan tuntutan kadang tak dihiraukan.
Bahkan beberapa waktu lalu, Indonesia dikenalkan dengan tokoh kritis mahasiswa Universitas Bung Karno. Sondang Hutagalung. Sondang lebih memilih aksi bakar diri untuk mengungkapkan berbagai keresahan politis yang bergejolak pada pikirannya. Terlepas dari pro dan kontra sikap itu, satu yang pasti, bahwa beragam aksi selain menulis kritikan (tajam) lebih dipilih pemuda hari ini. Tapi, Hatta membuktikan, bahwa pikiran dan idenya sampai ke berbagai kalangan lewat tulisan masa itu.
Setelah sampai di Indonesia, Hatta dan Soekarno yang tetap saling menghargai, meskipun berbeda aliran politik, terus berjuang menyiapkan konsep kemerdekaan Indonesia. Melalui pertemuan dan diskusi dengan sejumlah tokoh penting, Hatta menyampaikan pikiran-pikirannya. Ia juga mendirikan organisasi-organisasi kepemu-daan di daerah.
Selain berjuang, Hatta juga siap dibuang. Seperti Soekarno, Haji Mochtar, Bondan dan Sutan Sjahrir ia pernah ditangkap. Hatta sendiri juga pernah diasingkan ke Digul, Papua, saat ia ditawari oleh kepala pemerintahan di sana agar ia mau bekerja untuk kolonial dengan upah 40 sen sehari. Namun Hatta menolaknya. Ia lebih memilih dibuang, lalu hidup dari honorarium menulisnya di surat kabar Pemandangan. Pasca perang pasifik, yang banyak mengubah keadaan dan suasana di seluruh Hindia Belanda, pada tahun 1942 Hatta dipindahkan ke Sukabumi.
Menarik. Meskipun Hatta bercerita detail dalam buku otobiografinya ini, namun tetap saja tidak membosankan. Bahasa tulis yang dengan cara bertutur ini menjadikan persoalan persiapan kemerdekaan yang dibahas menjadi ringan dan jelas. Bahkan pada beberapa cerita perjalanan, ia bertutur terlalu polos. Sehingga pembaca merasa seakan tidak sedang ‘dekat’ dengan Sang Proklamator Indonesia. Seperti pada bagian cerita berikut, yang mengisahkan bahwa seorang Bung Hatta juga mengalami masa-masa sulit menjelang ujian.
“Tiap-tiap hari aku minum Tonikum untuk memperkuat badan dan pikiran.”Akhirnya, semua buku itu dibaca juga. Dan benar, Hatta sama halnya dengan pelajar/mahasiswa sekarang, pusing berhadapan dengan buku. “karena itu, kuhentikan belajar. Tiap-tiap hari aku berjalan-jalan saja dengan meminum Tonikum. Ini rupanya menolong sangat. Kira-kira dua hari sebelum ujian kucoba membalik-balik buku pelajaran, dan segala yang kupelajari sejak empat bulan itu banyak yang teringat kembali dalam otakku.”
Alur cerita dalam buku ini adalah runut kejadian, sehingga memudahkan pembaca memahami peristiwa secara historis. Namun, sedikit kekurangannya adalah kurangnya gambar dan foto kejadian yang bisa menguatkan cerita perjalanan sang penulis. Buku ini pantas menjadi bacaan pemuda, pelajar dan mahasiswa Indonesia ini. Jika ingin mempelajari perjuangang politik Bung Hatta, maka buku ini layak menjadi solusi.


Referensi
Ray Mungo.                                                                                                                            1999    Pedoman Menulis Otobiografi. Jakarta : Pustaka Tangga.
Mohammad Hatta.                                                                                                                  2011    Berjuang dan Dibuang. Jakarta: Kompas Media Nusantara
Yunita T. Winarto, Tatok Suhardiyanto, Ezra M. Choesin.                                       2007    Karya tulis Ilmiah Sosial. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...