![]() | |
17.5.16
Kamu adalah Usahamu
Sepenggal Cerita dengan Ayah Sudirman
![]() |
| Ayah Sudirman, Sang Pendidik Legendaris |
![]() |
| wefie.. :) |
2.4.16
Ketidakberuntungan itu..
Pernah mengalami ketidak beruntungan nasib? Tentu saja. Pasti ada hal-hal sejenis, sebangsa dan serupa itu kita alami dalam hidup.
Pernah sewaktu sekolah, mendapati nilai ujian 4.5 sebagai "harga awal" pelajaran baru, yang sulitnya minta ampun *saat itu*.
Pernah juga, memperoleh peringkat ke 11, saat yang diberi penghargaan adalah 1 sampai 10.
Atau, IPK saat tamat kuliah, nyaris berada pada level lebih baik, hanya berselisih satu poin. Tepatnya nol koma nol satu.
Itu semua semacam ketidak beruntungan.
Tapi, saya tau, itulah yang terbaik.
Saya masih punya contoh lain Dari ketidak beruntungan nasib. *ya, kata nasib inilah yang membuat mood sy berubah drastis malam ini. Saat seorang kawan yg dulu seperjuangan, menanyakan "nasib" kepada sy. Dan dia beruntung, nasibnya lebih baik.*
Contoh lain itu seperti, sebuah pekerjaan yang sebelumnya tak melibatkanmu. Sedikitpun tak bersinggung denganmu.
Namun, tiba-tiba kamu dimintai tolong untuk membantu timnya.
Oke, kamu membantunya. Dalam perjalanan kerja itu, terjadi sebuah kesalahan. Kamu memang bukan yang dipersalahkan, bukan. Tapi kamu adalah yang terpilih, untuk dipersilahkan menjadi juru solusi. Menyelesaikan pekerjaan Baru yang terbengkalai.
Bagaimana dengan ketua tim?
Entahlah. Dia seperti bukan yang telah menyebabkan kesalahan itu terjadi. Dengan enteng tidak peduli. Kamu meneruskan pekerjaan Baru itu, sampai-sampai butuh waktu lima kali lipat dari kerja semula.
Hahahahhahaa. Mari kita tertawa. Inilah ketidak beruntungan nasib. Dan, saya pastikan, ini bukan sebuah kebodohan.
*Semoga saja.
Suatu kali, saya pernah bercerita dengan seorang guru. Si guru memuji keberuntungan nasib saya, pekerjaan yang saya jalani. Katanya, betapa beruntungnya, selepas kuliah langsung dapat pekerjaan. Cukup nyaman pula. Selang beberapa waktu, bisa melanjutkan cita-cita, Dan..mungkin juga mewujudkan beberapa list dalam daftar impian.
Saya hanya tersenyum. Merasa tidak pantas untuk bercerita, berkeluh kesah perkara ketidak beruntungan yang sedang menimpa. Bisa-bisa ilmu syukur nikmat yang pernah diajarkan guru itu, sirna seketika. Haruskah saya beritahukan, kalau...sebetulnya...yang saya rasakan..adalah... *ah, tidak. Itu adalah ketidak beruntungan yang berada setelah keberuntungan nasib baik saya. Dan semua ini hanya perlu sedikit senyum. Saya lalu mengangguk, seakan membenarkan semua dugaan keberuntungan nasib saya oleh Sang guru.
"Allahummaj 'alni khairan mimma tazhunnun" semoga Allah jadikan saya lebih baik *lebih beruntung* dari yang telah disangka-kan kepada saya. *hihi
Ketidak beruntungan nasib lainnya, mungkin juga pernah singgah di hidupmu. Tapi catat, mari kita tertawakan ketidak beruntungan tersebut. Itulah yang mungkin dilakukan, jika ingin tetap bahagia.
"Perbedaan antara orang yang bahagia dengan orang yang tertekan hanyalah pada cara mereka bereaksi terhadap kemalangan." [Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Ajahn Brahm]
Akan Berlalu
Juga jika kebahagiaan, prestasi dan kenyamanan mendekat, sejatinya kita mesti tanggap, bahwa "semua akan berlalu", maka sangat pantas keadaannya disyukuri. Nikmatilah keduanya.
Karna sangat disayangkan, jika kita berlarut-larut dalam kecemasan dan kekhawatiran kemudian depresi. Padahal semua pasti berlalu.
13.1.16
Tetiba
Tetiba kita menjadi sesuatu yang tak pernah kita ingin menjadi. Melakukan apa yang tak terpikirkan sebelumnya untuk dilakukan. Mungkin juga mengatakan atau menyatakan, sesuatu yang bukan gambaran diri kita yang berkata.
Semuanya bisa saja, tiba-tiba berubah. Berubah belok kanan, tiba-tiba harus ke kiri. Maunya jalan terus, lalu harus berhenti. Atau, inginnya berdiam tapi keadaan memaksa berlari. Bisa saja, tiba-tiba.
Kenapa tiba-tiba bisa terjadi?
Karena kita selalu men-sett rencana demi rencana. Kita terlalu menuhankan agenda dan agenda. Kita terlalu berfokus pada target dan program-program. Lalu, perubahan hadir dengan tiba-tiba.
Kita mungkin lupa, rencana yang lebih besar dari sederet panjang rencana kita. Kita seakan memiliki segalanya. Memiliki waktu, memiliki energy, memiliki potensi, memiliki masa depan. Tidak, tidak. Bahkan kita tak memiliki apa-apa. Sekalipun diri kita.
Kita mungkin enggan merenung, jalan panjang dan titik capai yang kita rela berlelah-lelah mengejarnya itu, untuk apa. Demi siapa. Kita sendiri tak pasti. Maka wajar saja 'tiba-tiba' itu menggantung di langit mimpi kita. Membangunkan. "Hei, ini jalan yang telah ditentukan. Kembalilah."
Maka ketika dikatakan demikian, adakah kita mampu menjawab, "fa aina tazhabun". Kemana lagi engkau akan pergi..
Satu detik pun tak bisa kita menanti. Satu senti ingin memindahkan jarak, tak kuasa. Konon lagi berkata, lari dari kehidupan yang tak selalu ramah dengan rencana-rencana.
Lalu, tetiba kita harus berhenti. Saat kaki hendak berlari kencang. Kembalilah.
Ya Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah.
Irji’i ila rabbiki raa dhiyatam mardhiyyah.
Fadkhuli fi ’ibadi. Wadkhuli jannatii…”
“Wahai jiwa yang tenang…
Kembalillah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhoi-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.
Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
( Qs Al Fajr : 27-30)
Masihkah ada yang terjadi tiba-tiba selain dalam rencana-Nya?
Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan
Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...
-
Tradisi Manyerak Bareh Kunik, merupakan salah satu bagian upacara adat pernikahan di Nagari Gunung, Padang Panjang. Berikut pantun yang ...
-
Bagian kedua Pantun Manyerak Bareh Kunik .. Janjirak buah janjuri Tiradah daun jilatang Tumbuah di batang baringin sonsang Siriah gal...
-
Menyulam Pernah dengar Sulaman Koto Gadang? Sulaman Koto Gadang, adalah sulaman spesifik Minangkabau yang berasal dari daerah K...


