9.10.16

Limit

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (Q.S. Al-A’raf: 34).

Setiap umat ada masanya. Setiap alat ada expirenya. Setiap anak ada zamannya. Setiap zaman ada anak zamannya.
Dan kita, tak akan berada pada keadaan serupa, tempat yang sama, posisi yang tetap, peran yang sama, selamanya.
Mesti ada yang berganti. Tentang perubahan itu, ya wajarlah..
Hm.hm.
Yang lalu, ya akan berlalu. Dan tak  akan kembali siapa yang telah mati.
Itulah limitnya. 

6.10.16

Makna Kata

Tadinya mau nulis makna kata اولياء dengan merujuk kamus dan alquran fathur rahman begitu... Bukan karena ada yang lagi viral di medsos ya. Tapi, karena memang baru beberapa hari lalu lagi baca al quran ketemu ayat tentang larangan menjadikam orang kepercayaan dari selain se-kalangan. Saya bacanya ali imran 118.

Sekarang, ga jadi lah..*ga terlalu serius maksudnya*, udah terlalu banyak yang membahas dan menerjemahkan dengan keinginan akalnya. Dan, pastinya momen pilkada di *sana* saat ini semua jadi serba politis. -_-

Singkatnya, secara umum kita mungkin bisa kelompokkan kepada dua, makna kata itu. Pertama, secara teologis. Kedua, secara sosiologis. Ada ayat yang menggunakan kata اولياء untuk pembahasan teologis. Misalnya, qs 2: 257. Ada juga untuk hal-hal sosial..seperti qs 5:51.

Secara bahasa kata Auliya'/ اولياء berarti wali, wakil, penuntun, mursyid, pembimbing, pelaksana, caretaker, penolong, pemilik, sekutu, penanggung jawab, kepala/pimpinan.

Kalo raain/ راع :lebih kepada yang sifatnya memelihara. Pemelihara. Penjaga. Supervisor.

Sedang kata amri bermakna, urusan, masalah, isu, kasus, problem. Ulil amri ada yang mengartikan ulama (pemerintah/pemimpin dalam hal agama), ada pula yang mengartikan umara (pemimpin secara umum).

Ada lagi, qawwam : mungkin lebih dekat ke makna mitra, partner. *Eh, ini beda kasus n tema ding!

Dari makna etimologi itu, kita lihat auliya' lebih luas cakupannya. Dan, bagi saya semakin bagus pemahaman aqidah seseorang, ia akan memilih pemimpin dari sudut pandang imannya. Udah, gitu aja.  --- No politisasi. No. No.

Si Aku, Siswaku (1)

Siang itu waktu menunjukkan pukul 14.50 Wib. Saya bermaksud melakukan kunjungan rumah (home visit) ke rumah salah satu siswa. Ya, pada kasus-kasus tertentu, saya memang merasa butuh untuk melakukan kunjungan rumah siswa. Melihat langsung kehidupannya, mungkin juga merasakan, memberi makna dan mungkin juga kemudian mensyukuri banyak hal dari kunjungan tersebut. Dan, saya menyukai kegiatan ini. Bersama seorang guru kejuruan, kami berangkat menuju rumah si siswa.

Rumah itu, berjarak hanya beberapa kilometer dari sekolah kami. Nuansa desa yang damai begitu terasa saat saya sampai di rumah itu. Bayangkan saja, kita mendengar aliran gemericik air yang mengalir dari sawah, melintasi parit kecil tepat di depan rumah itu. Sisi kiri rumah itu dan bagian depan, dihadapkan dengan tanaman padi yang mulai menguning. Sisi kanan, selain bersebelahan dengan rumah tetangga, juga ada kolam ikan. Bagian samping rumah, adalah kandang ayam. Arah belakang rumah terdapat dapur kayu. Selain itu, rumah sederhana itu memiliki halaman yang dihampari oleh batu-batu kerikil. Aduhai, betapa ini benar-benar nuansa rumah nenek, saat saya mengarang cerita ketika SD dulu. Nyaman sekali untuk waktu siang yang tak begitu panas hari itu.

Suasana Depan Rumah si Aku
Perkenalkan, namanya adalah Aku. Atau, kita panggil saja dia si Aku. Dia adalah siswa laki-laki kelas dua sekolah menengah kejuruan. Si Aku, menurut wali kelas lamanya, bukan tergolong anak nakal. Dia juga bukan anak yang suka mencari perhatian dengan sikap usil terhadap kawan-kawannya. Ia hidup bersama seorang nenek. Ya, tepatnya mereka hidup berdua. Hanya berdua. 

Saya memperkenalkan diri. Saya bertanya, kemana si Aku. Si nenek menjelaskan, si Aku mengaku tidak sekolah, karena baru saja selesai ujian Mid semester. Jadi libur dulu, katanya. *wahai. saya menemukan satu kebohongan anak itu.

Menurut pengakuan nenek itu, si Aku telah bersamanya sejak ia berumur empat hari. Hanya bermodal kompeng, dot dan susu botol-lah ia membesarkan si Aku. Sebagai seorang nenek, katanya lagi, ia sungguh menyayangi cucunya itu. Ia juga menceritakan bagaimana pengorbanan yang dilakukannya untuk beberapa cucunya yang lain.

Nenek itu, meskipun kadang tak memasak, tapi ia meminta bantuan tetangga untuk memasakkan makanan untuk mereka. Dengan uang pensiunnya, si nenek mencoba memenuhi kebutuhan si Aku. Memberi ongkos dan uang jajan untuk si Aku.

"Tapi buk, payah bana manjagoan nyo." cerita si nenek tentang susahnya ia menjaga dan mendidik anak laki-laki yang bertumbuh remaja itu. "Kadang ia pulang jam dua malam, kadang jam tiga. Kemana anak itu, entahlah." Tambahnya lagi, "Kok pai-pai juo Ang, mati se den di rumah ko sia nan ka tau?" Suara si nenek mulai serak, matanya pun berkaca-kaca. 

Nah! Kebohongan kedua. Pengakuan si Aku, ia selalu di rumah. Bahkan untuk sekedar main bola sore pun, ia jarang lakukan, karena khawatir neneknya yang tinggal sendirian. 

Masalah yang mengantarkan saya ke rumahnya bukan tentang kebohongan itu. Sebabnya adalah, si Aku sudah lebih lima kali hari Selasa tak datang ke sekolah. Dan, hanya hari Selasa. Ada apa dengan hari Selasa?

Bersama si nenek
Ada beberapa kemungkinan yang melintas di pikiran saya, pertama, mungkinkah si Aku bekerja pada hari Senin, lalu ia kelelahan dan tidak bisa datang sekolah hari Selasa. *Senin adalah hari 'balai' di kota kami. Atau, kemungkinan kedua, ia ikut seseorang yang mengantar barang-barang pada malam Selasa itu. *Seperti kasus siswa saya sebelumnya, yang menyetir truk mengantarkan seng/atap ke daerah (kabupaten) lain. Atau, kemungkinan lainnya, apakah neneknya sakit setiap hari Senin? Atau ia tak punya uang untuk berangkat sekolah setiap hari Selasa? Atau, atau yang lain?

Hari itu, memang belum ditemukan, apa sebab si Aku tak kunjung datang sekolah hari Selasa. Tapi, saya menyimpulkan beberapa hal, tentang kebohongannya, tentang cerita-cerita si nenek, tentang mulai menipisnya *mungkin* motivasi sekolah si Aku. Atau, ia sedang menghadapi persoalan lain, yang tak diceritakan kepada si nenek.

Lalu, kami membuat kesepakatan, saya dan si nenek. "Nenek jangan beri tahu si Aku dulu, tentang kedatangan saya hari ini. Besok, di sekolah saya akan panggil lagi, dan tanyakan kabarnya. Mana tau, ia bisa bercerita." Si nenek setuju. 

***
Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya home visit saat itu. 

Pertama, Ini hanyalah bagian perjalanan takdir. Maka adakah yang pantas disalahkan dengan keadaan semacam ini? Si Aku mungkin tak pernah menginginkan terlahir menjadi anak yang tak dibesarkan ibunya. Diurus oleh nenek, yang yaa..bagaimanalah kasih sayang si nenek, yang tak sanggup 'berang' karena terlalu sayang. Seberapa mengertikah si nenek tentang tugas-tugas yang dibebankan sekolah. Ah, diceritakan pun, mungkinkah si nenek mengerti tentang rumitnya hal-hal berkaitan jaringan, matematika, dan bahasa inggris? Saat remaja seusia itu sakit, masih ada ibu tempat mengadukan yang terasa. Si Aku? Tanggunglah saja sendiri. Ceritakan ke puskesmas, antarkan sendiri sakitmu, dan mintalah obat jika kamu memang mau sehat kembali. Bukankah hanya begitu yang mau tidak mau, rela tidak rela, harus dihadapinya?

Kedua, persoalan yang dihadapi si Aku, pastinya tak hanya perkara kasih sayang yang tak sempurna ia peroleh sejak masa kecil. Melainkan juga karena hitung-hitungan keuangan. Kebutuhan anak remaja, apakah terpenuhi dengan gaji pensiunan yang telah potong sana-sini, dan tentunya memenuhi kebutuhan mereka berdua? 

Ketiga, tekanan yang dihadapi si Aku di sekolah, kasus ini itu, mengantarnya bercerita atau mengadu kepada siapa? Ibu jauh, sibuk pula mencari uang. Ayah? Ayah tak tau dimana. Kawan? Seberapalah pedulinya kawan.. Ia memang menjadi korban. Efek keadaan keluarga yang tidak normal. Namun, ketidak beruntungan nasib hendaknya bukan alasan baginya kemudian menjadi lemah.

Keempat, Kalau saja ada lembaga atau yayasan yang peduli pada urusan finansial, juga kasih sayang. Kalau saja, ada banyak orang tua asuh, kalau saja mamak, sanak famili dan keluarga masih peduli. Sayangnya, kita terlanjur tak sabar. Sayangnya, keadaan itu hanya "kalau saja". 

Kelima, si Aku tak boleh berhenti sekolah. Ia harus punya modal keterampilan untuk masa depannya. Tapi yang lebih utama, ia harus tahu : "Berpikirlah Aku. Begini hidup mengajarkan kita..Ya, Beginilah."

4.10.16

Tips Tubing bagi Pemula

Petualangan menyusuri sungai, mengikuti alirannya dengan menggunakan ban karet, dikenal dengan river tubing. Ada banyak daerah di Indonesia yang sudah mengembangkan aktifitas ini sebagai bagian dari wisata daerahnya. Salah satunya, adalah Ombilin River Tubing yang ada di Ombilin, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 

Tubing santai [sumber foto: JR]
Dengan pilihan jalur santai dan level ektrim yang disediakan oleh operator wisata, Karambia Tours, pengunjung dapat menyesuaikan estimasi biaya dan waktunya. Untuk jarak mencapai 6 km, dibutuhkan waktu lebih dari dua jam. Tidak demikian dengan jalur santai. Tingkat tantangan yang diperoleh tentunya juga tidak sama.

Bagi Anda, yang baru pertama kali akan melakukan kegiatan ini, hendaknya memperhatikan beberapa tips berikut. 
  1. Pastikan Anda membawa kelengkapan peralatan dan kebutuhan pribadi.
  2. Terapkan dan gunakan sunblock sebelum memulai. Saat tubing, mengalir bersama aliran sungai, kita akan langsung diterpa sinar matahari. Jadi bila perlu, gunakanlah kacamata hitam (yang murah aja..biar kalo nanti hanyut terbawa arus, jatuh atau pecah, tak perlu bersedih. Haha) 
  3. Gunakan sandal yang nyaman, untuk kondisi air dan tak mudah lepas. Atau pakailah sepatu air, mungkin juga sepatu tua Anda, karena kita tak pernah tau seberapa ramah dasar sungai terhadap kaki kita.
  4. Pastikan Anda memilih pakaian yang tepat, nyaman dan menutup tubuh. (Bagi muslim/muslimah tau lah ya, batasannya.) Bagi yang khawatir warna kulit berubah lebih gelap *mungkin lebih eksotis*, tapi tidak merata, saya sarankan pakailah man(g)set atau baju lengan panjang. 
  5. Sebelum melakukan kegiatan, berdoa dulu tentunya. 
  6. Saat tubing, jangan menentang arus. Jika coba-coba menantang atau melawan arus, bersiap saja badan pegal nantinya. Ya, kira-kira pepatah 'biarkan seperti air mengalir' tepat sekali untuk kita bisa menikmati perjalanan. Biarkan, air yang mengantarkan, kita tinggal duduk nyaman di atas ban.
  7. Luruskan posisi tubuh tepat di atas ban saat berada di jeram. 

8. Dan, jika Anda tubing secara berkelompok, akan lebih seru untuk membentuk berbagai formasi menarik. Untuk bisa melakukannya, kekompakan adalah modal utama. 
9. Tubing secara berkoloni juga baik pada aliran arus deras, jika Anda khawatir akan meluncur sendiri, atau tertinggal sendirian.

Berkoloni lebih asik
  Itulah sembilan tips tubing bagi pemula yang saya dapatkan setelah tubing bareng Karambia Tours di Sungai Batang Ombilin beberapa waktu lalu. 
Jika merasa sudah mahir, dan bosan dengan medan yang itu-itu saja, silakan dicoba tubing berbagai cara dan gaya versi kamu yang lebih menantang. Selamat tubing!

Sosok Perempuan Inspiratif (1)

Yessi Endriani Ramlan N.
  
Indonesia memiliki begitu banyak perempuan inspiratif. Perempuan inspiratif itu, tak hanya punya kepercayaan diri yang kuat tetapi juga mampu menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya. Kota Bukittinggi memiliki sosok perempuan inspiratif yang tak sekedar mandiri secara ekonomi, tetapi juga menjadi teladan dalam membina rumah tangganya. Dialah Yessi Endriani. Seorang perempuan kelahiran Bukik Kulirik, pada tanggal 24 Desember tahun 1967. Yesi merupakan anak dari bapak Y. Dt. Rajo Mogo.

Yessi berpandangan bahwa seorang perempuan tidak boleh melupakan kodratnya selaku istri dan juga ibu. Di samping itu, perempuan tentu saja boleh berkarir, berkarya dan berprofesi di bidang apapun. Tugas terberat dari seorang perempuan adalah menjadi ibu dan teladan bagi anak-anaknya. Perempuan sebagai pendamping suami, lebih bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya untuk menjadi generasi terbaik penerus bangsa.

Pandangan seperti itu, tidak terlepas dari proses pendidikan yang telah dilalui Yessi. Setelah melalui pendidikan Sekolah Dasar di SD Benteng Lamo, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, pada tahun 1981, Yessi lalu melanjutkan ke SMP Pakan Kamih, tamat pada tahun 1985. Ia menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 1988 juga di SMAN Pakan Kamih, Kabupaten Agam.

Setelah lulus dari SMA, Yessi melanjutkan kuliahnya di Universitas Putra Indonesia (UPI YPTK) Padang. Semasa kuliah atas prestasi nilai tertinggi di kelas ia mendapat beasiswa berupa bebas uang kuliah untuk semester berikutnya. Hal itu menjadi motivasinya dari semester ke semester untuk tetap menjadi ‘juara kelas’ di kampusnya. Pengalaman lain yang diperoleh dengan juara itu adalah Yessi difasilitasi jalan-jalan ke Jakarta dan Bandung dari pihak kampus.  

Pada tahun 1990 ia memulai karirnya di Bank Bukopin Padang. Yessi terus belajar dalam tugas barunya saat itu. Tercatat ia mengikuti beberapa training yang diselenggarakan Bank Bukopin. Salah satunya basic credit training yang dilaksanakan di Ciloto Indah Permai, Puncak Bogor, pada tanggal 27 Mei sampai dengan 8 Juni 1996. 

Atas dedikasi dan kesungguhannya, ia kemudian dipercaya menjadi kepala bagian SDM di bank tersebut. Namun pada tahun 2004 ia memilih keluar, atas pertimbangan keluarga. Demi mengiringi perkembangan anak-anaknya yang saat itu masih kecil, Yessi meninggalkan karirnya.

Yessi dan Pola Mendidik Anak

Hal yang sempai saat ini masih diteruskan Yessi dalam mendidik anaknya adalah kegiatan magrib mengaji.  Sejak kecil Yesi sudah dibiasakan oleh orang tuanya untuk mengaji/membaca Al quran setiap selesai shalat magrib. Kebiasaan itu ia ‘wajibkan’ pula kepada anak-anaknya. Menurut Yessi, membaca Alqruan rutin selepas shalat maghrib tak hanya sebagai tradisi yang baik saja, melainkan juga berdampak positif pada perkembangan perilaku dan kecerdasan anak. Itulah salah satu bentuk teladan Yessi di tengah keluarganya.

Bagi Yessi, masing-masing anak memiliki keistimewaan yang tak bisa disamaratakan penilaiannya satu dengan lainnya. Perlakuan yang diberikannya terhadap anak-anaknya juga dengan memperhatikan keistimewaan masing-masing anak tersebut. Hal itu seperti yang pernah didapatkan oleh Yessi melalui Seminar Anak Nasional yang diikuti Yessi pada tahun 2000 lalu di Bukittinggi, dengan tema “Menemukan Pola Strategis Pengoptimalan Multi Potensi Anak Secara Dini Menuju Manusia Yang Utuh.”

Ibunda dari Sultan Fazbir dan Agung Farasky ini, tidak memaksakan anak-anaknya harus menjadi ‘Sang Juara’ di sekolahnya.  Tetapi ia terus mengajarkan anak-anaknya untuk terus berproses menjadi lebih baik. Kepada mereka, Yesi sering sampaikan bahwa berprestasi itu memang suatu keharusan. Untuk mencapainya diperlukan daya juang yang tinggi dan usaha yang maksimal. Sementara untuk bisa menerima hasil akhirnya, dibutuhkan rasa percaya pada ketetapan Allah. Setelah berusaha, hasil selanjutnya diserahkan kepada Allah, katanya.

Tentang kepintaran anak, baginya bukanlah selalu perkara nilai dan nilai, tetapi juga tentang bagaimana pintar bersosial dengan kawan. Saat ia bersekolah dulu, Yessi juga bukan anak yang selalu juara 1 di kelasnya. Katanya, ia hanyalah siswa biasa yang senang berteman. Namun demikian, ia terus belajar dan berusaha menjadi lebih baik. Usaha itu terbukti dengan pencapaiannya menjadi siswa dengan nilai Ebtanas Terbaik di sekolahnya saat itu. Cara seperti itu juga dia ajarkan kepada anak-anaknya.

Selain bimbingan dan perhatian yang senantiasa ia berikan, Yessi berprinsip untuk memberikan makanan yang halal lagi baik, demi kecerdasan dan perkembangan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan tuntunan dalam Islam. Makanan yang baik merupakan awal bagi kebaikan seseorang.

Menurut Yessi, jika ingin anak-anak tumbuh dengan baik, berikan makanan yang halal dan baik untuk tumbuh kembang anak tersebut. Kita perlu memperhatikan apa yang dimakan oleh anak-anak kita, kehalalannya dan kebermanfaatannya bagi mereka.

Jika sudah memberikan perhatian penuh terhadap anak, membimbing dan mendidiknya secara baik, serta memperhatikan makanan mereka, kemungkinan anak akan tumbuh menjadi anak yang baik tentu lebih besar. Lebih jauh lagi, visi perlindungan anak, yakni menjadikan anak Indonesia yang sehat, tumbuh dan berkembang, cerdas-ceria, berkahlak mulia, terlindungi dan aktif berpartisipasi, bisa diwujudkan bersama. Di situlah menurut Yessi, peran besar  seorang ibu dalam rumah tangganya.

Memasuki Dunia Bisnis
Sumber foto : Bukittinggi info
Yessi kemudian memulai usaha mandirinya, dalam bidang konveksi di Pasar Aur Kuning Bukittinggi. Dalam perkembangannya, ia beralih membuka usaha jahit jilbab dan mukena mesin hitam, yang merupakan produk andalan khas ranah minang.

Bagi Yessi, tujuannya berwirausaha selain mengisi waktu luang dalam mendampingi suami, adalah memberi motivasi bagi perempuan di sekitarnya. Bahwa perempuan harus mandiri dan memiliki kepercayaan diri akan peran dan tanggung jawabnya di lingkungan keluarga dan juga masyarakat. Untuk mewujudkan mimpinya itu, Yessi juga membantu gadis-gadis di kampungnya, diajak berdagang di tokonya di Pasar Aur Kuning. 

Dalam hal keagamaan, Yessi tak ketinggalan untuk berpartisipasi aktif mengikuti kelompok pengajian dengan perempuan-perempuan yang berwirausaha. Ia juga membentuk kelompok arisan yang kemudian menggalang dana sosial, untuk disumbangkan ke panti asuhan, panti jompo, dan lingkungan masyarakat yang membutuhkan.

Sebagai wakil ketua di Ikatan Alumni SMA nya, Yessi bersama teman-temannya setiap sebulan sekali mengadakan kegiatan sosial, diantaranya membantu pembangunan mesjid, donator ke panti-panti sosial. Hal lain yang rutin dilakukan Yessi adalah melakukan pendampingan seorang pasien keterbelakangan mental ke psikiater. 

Sebagai seorang istri, Yessi berperan aktif mendampingi suami yang berprofesi sebagai pengusaha. Ketika suaminya diberi amanah sebagai Ketua KPU Kota Bukittinggi, Yessi ikut serta membantu dalam hal administrasinya. Selanjutnya terhitung bulan Februari tahun 2016, Yesi ikut mendampingi dan memberi dukungan penuh kepada suaminya, bapak Muhammad Ramlan Nurmatias, SH yang diamanahi menjadi Walikota Bukittinggi. 

Di antara konstribusi berarti dalam pembangunan bidang sosialnya, adalah keterlibatan langsung Yessi dalam mengelola, mengurus dan memimpin Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Bukittinggi. Ia juga mengetuai Gabungan Organisasi Wanita Kota Bukittinggi.

Mimpi Yessi terhadap perempuan di kota Bukittinggi tak muluk-muluk. Ia hanya ingin, perempuan bisa maksimal dengan peran yang dipilihnya. Bila posisinya sebagai istri dan ibu, tentu keluarga merupakan hal utama yang perlu diselamatkan perempuan itu. Karena bangsa yang kuat itu berawal dari keluarga bahagia. Dan perempuan memiliki peran besar untuk mewujudkannya. Di samping itu, dengan kelebihan dan kemampuan yang dimiliki perempuan, ia pantas dan perlu menyuarakan pendapat dan aspirasinya di ruang publik, melalui kegiatan-kegiatan sosial dan karirnya.

___
Berdasarkan wawancara, 26 Agustus 2016

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...