8.1.12

Bulan Air, Januari


Semangat tahun baru semuaaa.. ^_^

hey, there's so many reason for us to keep our spirit face the day, right?! :) :)

Saya ingin ada tulisan Bulan Air Januari mengawali tahun 2012 ini. Bukan cerpen. Bukan cuhat pula. (keh.keh.keh) Hanya tulisan "Bulan Air Januari" saja. :) Air Bulan Januari. Januari Air Bulan. Atau Januari Bulan Air. => bingung khan?? :D (yang lengkapnya cuma buat kalangan sendiri ya! :D )

Bagi saya, Januari tahun ini mesti seperti Air. Air yang hukumnya mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Ikhlas. Air yang jernih. Dewasa. Air yang membersihkan. Memaafkan. Air yang mengisi kekosongan. Mengejar asa. Air sumber kehidupan. Menikmati dan memaknai.

Ini bukan tentang langit ataupun laut. Meskipun sama-sama biru. :)

Mungkin hanya cerita sore yang dibagi para musafir. Entah, bodoh atau hanya agar ia terlihat bodoh bahkan sekedar dibodoh-bodohi. Menjauhlah kepercayaan pada yang disebut teman. Tersesat, lalu musafir kembali, sedang mereka hanya mematut. Manggut-manggut. Mungkin pula menertawakan. Perjalananmu bukan karena mereka Musafir. Teruslah! Peduli apa pada mereka. :) Biarkan saja. Kesimpulannya, bekalmu hanya logika dan jiwa sendiri, Musafir. dan.... habis sudah cerita musafir itu. :) :) Sekian, terima kasih. :) :)


oya, copas tulisannya Pak Mario Teguh, like this deh!!


Kedewasaan adalah
TETAP menjadi anak muda yang nakal,
suka ngerjain orang, lucu, unyu-unyu,
spontan, kreatif, dinamis, dan impiannya tinggi,
PADA USIA BERAPA PUN,
SAMPAI AKHIR USIA,

tapi

tidak meratap lemah saat bersedih,
tidak mencak-mencak norak saat marah,
tidak membantah yang tidak diketahuinya,
tidak sombong karena tahu atau punya,
bersahabat dalam ketulusan,
mencintai dengan setia,
tidak berebut mainan dengan anaknya,
mengabdi untuk memuliakan atasan,
memimpin untuk membahagiakan bawahan,
berlaku lembut dan penuh kasih
kepada orang tua, wanita, dan anak-anak.
Dan ituuuuu semua … kau lakukan
karena cinta dan pengabdianmu kepada Tuhan.
Sesungguhnya, kedewasaan yang indah
akan menjadikanmu anak muda yang anggun sepanjang hidupmu.

Bagaimana mungkin engkau tak mensyukuri kehidupan.
Orait? -Mario Teguh-




--------
*****
--------


Okey! Januari. Bulan. Air.  :)
Semangat tahun baru 2012..
Sukses selalu untuk kita semua..


::: Nimiasata 2012   


30.12.11

My Word



...ada banyak pertanyaan, banyak hal, banyak masalah yang hanya bisa di'selesaikan' oleh waktu...





...tidak semua hal bisa kita cari, ada yang mesti diciptakan sendiri, salah satunya: Kesetiaan... :)

...hanya agar kita mengerti satu masalah dari sudut pandang berbeda... :)



2011
nimiasata.blogspot.com
^_^

BULAN AYAH


Bagi saya, Desember itu adalah bulan Ayah. Meskipun hari Ibu diperingati kebanyakan orang juga di bulan Desember. Di pikiran saya dan mungkin keluarga (uni dan adik saya) sudah tertanam “hari besar” untuk Ibu adalah di bulan Juli. Jadi, Desember tetaplah bulan Ayah. 

Baiklah, mumpung masih berada di Bulan Ayah, kita sedikit bercerita tentang Ayah. 

Sore itu, sudah saatnya pulang. Seusai melaksanakan shalat ashar, saya berkemas meninggalkan sekolah. Ah, hujan turun pula. Deras. Saya menuliskan ini.


***
Hari sudah pukul 16.32. Hujan deras. Langit kelam. Saya masih di sekolah. 

Ya, saya sedang merindukan Ayah. Walaupun tadi pagi, saya masih mencium punggung tangannya yang ya, sedikit kasar, namun terlalu lembut untuk saya bertutur apalagi berlaku kasar padanya.  Hari ini Ayah ulang tahun. Tepatnya 12 desember 1955 beliau lahir. Di Lasi, Ampek Angkek, sebuah desa kecil di perut Gunung Merapi.  

Saya teringat waktu mengaji di TPA dulu. Jika hujan deras, Ayah akan menjemput kami ke mesjid. Menjemput saya dan Uni. Selain payung, tak lupa Ayah juga membawa perlengkapan keamanan lainnya, seperti jaket dan kantong plastik. Kantong plastik digunakan untuk menggabungkan tas plastik saya dan tas uni yang berisi Al quran. Dulu, kami belum memakai tas (sandang) pergi mengaji. Baru uni yang punya tas agak bagus. Tas kertas bergambar kartun. Sedang saya, memakai plastik kantong toko. Sisa beli sepatu, baju atau yang lainnya. Bukan masalah.

Mesjid dan rumah kami dibatasi oleh banda (parit) besar. Jika hujan deras, air banda akan tinggi. Bahkan tak jarang meluap. Karena banda dekat rumah kami itu, adalah aliran air dari Rumah Potong Hewan. Padahal di rumah potong itu juga telah dibagi alirannya, ke daerah Jangkak dan ke Pasa Jawi/Tembok. Jika hujan deras, saya melihat bendungan yang ada di Rumah Potong itu, seperti air terjun Niagara. Teringat pelajaran IPS kelas empat SD. 

Kami tak akan melewati banda. Tapi, memutar ke jalan gadang. Berjalan di trotoar lebih aman. Ayah akan berpayung sendiri. Payung bermerk Teh Bendera. Ayah juga yang membawakan tas gadang, gabungan tas Al quran saya dan punya Uni. Kadang-kadang, ada kawan dekat rumah yang menumpang berpayung. Saya dan uni yang semula berdua, akan berdesakan sepayung bertiga. Tak masalah. Payung kami, payung Antan. Payung hitam datuk-datuk itu.Cukup untuk bertiga.

***

Kami terbiasa makan malam (selepas magrib) bersama. Sambil makan biasanya Ayah akan memberikan nasehat-nasehat ringan. Tata krama. Sopan santun. Cara bertutur dan sebagainya. Atau Ayah akan mengeluarkan pepatah atau pantunnya terkait tema yang disinggung. 

Kudo palajang bukik agar kami mendengarkan dulu orang lain bicara, baru ditanggapi, bukan memotong pembicaraan, misalnya.

Sewaktu SD, Ayah akan menemani saya dan uni belajar malam hari. Sambil membaca koran yang tidak tuntas mungkin dibaca Ayah di kedai. Jika mau ujian, ayah akan merautkan pencil kami. Kami tidak menggunakan peruncing. "kalian tak pandai memakai peruncing, patah-patah jadinya," kata Ayah.

Ayah sedikit nyinyir untuk urusan pe-er, tugas, ma-apa (menghafal) dan urusan sekolah lainnya. Barangkali, karena cita-cita Ayah yang tak sampai, ia begitu ingin anak-anaknya sukses. Tidak main-main dalam urusan sekolah. Maka, selepas magrib, kami terbiasa ma-macik (memegang) buku. Tentunya tidak hanya dipegang, tapi juga dibaca. 

Ketika kecil dulu, Ayah akan berdendang jika saya merengek ingin tidur di dekat Ayah. Itulah kenapa, setiap kali mendengar lagu Usah Diratoki - Tiar Ramon ini, hati saya selalu lintuah. Bagi saya ini lagu Ayah. :)

Anak urang si Kubang Putiah
Pai ka balai, hari sanjo
Mamakai baju guntiang cino, guntiang cino
Ulah rayu si daun siriah
Bacarai pinang jo tampuaknyo
Apo katenggang si carano, si carano

Reff:
Urang Kapau pai ka ladang
Sarupo kodek jo bajunyo
Iyo buruak lakunyo alang
Ayam tapauik disembanyo

Urang Sariak babaju ganiah
Pai manggaleh ka Padang Lua
Iyo sarik ba ayam putiah
Kok indak sikok alang manyemba

Jikok mandi denai di hulu
Aia nan usah adiak sauak,
Disauak usah dikaruahi, dikaruahi

Jikok mati denai dahulu
Mati nan usah adiak janguak,
Dijanguak usah diratoki, diratoki
***

Begitulah Ayah saya. Ayah kami. Sebuah cerita singkat menutup Bulan Ayah tahun ini. ^_^

28.12.11

Cinta Bukan Kepemilikan Mutlak



 
Manusia tidak hidup untuk kehidupannya sendiri. Bagai sebuah jaringan, ia bersimpul dan berbuhul dengan yang lainnya. Simpul itu menyambung dan menghidupkan kemanusiaan, sedangkan buhul mematikan dan memutuskan hubungan.

Setiap manusia berhak atas keputusannya memilih simpul ataupun buhul. Tentu saja berdasarkan pertimbangan masing-masingnya. Kita, terkadang memang dihadapkan pada pilihan, simpul atau buhul. Walau dengan pilihan yang tak mudah, semua mesti ditetapkan.

Tuhan yang Maha Rahman menganugerahkan kasihNya kepada semua makhluk yang Ia ciptakan. Dan memberikan sayangNya kepada hamba-hamba terpilihNya. Kasih dan sayang yang diciptakan Tuhan tidak sebatas hubungan horizontal Dia sebagai Pemilik dan hamba sebagai penikmat saja, tapi lebih dari itu. Ia juga biarkan rasa itu menebar diantara nafas-nafas alam, tanaman dan binatang, juga di sela-sela bilik hati manusia.

Cinta bukan kepemilikan individual. Cinta milik bersama. Bahwa ketika kita mencintai satu hal, ada harapan sesuatu memberikan respon dari stimulus cinta yang kita hampirkan. Mencintai alam tentu ada harapan agar alam senantiasa indah. Bukti kecintaan, maka dipelihara dan dilestarikanlah alam tersebut.  Mencintai buku, dirawat dan dibacalah buku itu. Bentuk cinta yang tidak menuntut kepemilikan individual. Ada harapan agar yang lain juga akan beroleh kenikmatan dari  alam dan buku yang dicintai. Agar semua yang juga mencintainya akan memperlakukan hal baik padanya. Harapan yang serupa, di setiap hati yang mencinta.

Bukankah cinta pada porsi itu tidak menuntut kepemilikan?
Mencintai insan, berharap ada stimulus dari respon cinta yang diberikan. Berbicara cinta dalam tatanan yang lebih sempit, antara Adam dan Hawa. Ketika seorang Sulaiman secara berani menantang Bulqis untuk satu keimanan-ketauhidan, adalah sebagai wujud respon pemberian stimulus cinta yang berawal kekaguman pada seorang pemimpin dari kelompok Hawa. Bulqis pun begitu, ketika  stimulus tadi direspon dengan tulus, terjadilah aksi.

Aksi-pernyataan ketaatan pada Dia yang Esa, Yang patut disembah. Cinta Sulaiman dan Bulqis sedari awal tidak berharap untuk saling memiliki. Ternyata, ada kepemilikan lain selain dua hati tersebut. Dia yang menjadi muara segala keputusan yang diambil dan dilakukan Sulaiman dan Bulqis. Hasilnya, dari stimulus-respon dalam aksi ada reaksi yang semuanya tidak menafikan campur tangan takdir Tuhan. Salah satu bentuk keinsafan hamba pada Sang Khaliq.

Mencintai tidak harus memiliki. Karena belum tentu apa yang dicintai tersebut adalah akhir segalanya. Manusia tentu tak pernah tahu rahasiaNya. Bahwa Dia sedang mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuk dipersembahkan kepada hamba pada waktunya. Hanya bersabar menunggu waktu tersebut sembari berikhtiar untuk selalu menjadi lebih baik.

Mencintai apa yang dimiliki barangkali akan lebih indah. Karena cinta bukan garis tangan yang dilukis manusia, melainkan goresan dan perubahan Sang Arsitek alam. Maka dengan melibatkan Dia yang Maha tahu untuk urusan tersebut, diyakini akan berujung pada keputusan terbaik melalui bimbingan dan petunjukNya. Petunjuk selalu ada dariNya ketika ada yang meminta.[]   


***

Ternyata Hamka Juga Bicara Cinta



Ternyata, kisah cinta juga mewarnai kehidupan Hamka –yang seorang mufassir itu.

Suatu kali, saya diingatkan oleh seorang guru tafsir di madrasah aliyah dulu, agar lebih baik mengutip pendapat dari mufasir yang benar-benar hidup dalam lingkungan Islam kental daripada mengutip pendapat dalam kitab tafsir ‘indonesi’ seperti Hamka. Pembahasan saat itu adalah tentang hal-hal kontemporer.

Alasannya adalah, karena Hamka baru menghasilkan karya tafsir itu ketika di penjara. Sedang karya yang sebelumnya adalah karya sastra. Adalah tidak mungkin, Hamka menghasilkan karya sasrta-novel, tanpa turut mengkhayalkan bagaimananya. Berimajinasi. 

Tapi saya tidak setuju. Menurut saya, mesti dibedakan kemampuan fiksi dan non fiksi seseorang. Seseorang pasti melalui berbagai masa. Berbagai perekmbangan dan gejolak psikologis, yang aneh jika terlompati fase per fasenya. 

Maka dalam konteks intelektual, dalam hal ini ilmu tafsir, tidak ada kaitannya antara cinta hamka dan pendapatnya dalam penafsirannya. Toh, bahkan hari ini, sebagian penulis lebih mengklasifikasikan bentuk tafsir. Baik yang berkaitan dengan kecendurngan penulisnya, maupun dari segi cara menyampaikan pandangannya.

Bahkan tidak hanya pengelompokan tafsir seperti tafsir ayat-ayat ahkam, yang berbicara hanya seputar ayat-ayat hukum, atau tafsir ayat perempuan, namun juga Al Quran juga didesain dengan nuansa keperempuanan (jika tidak menyebutnya; feminis)

Semua itu dimaksudkan agar pesan, maksud dari penafsiran/pendapat penulis sampai pada pembaca yang sudah terklasifikasi berdasarkan judul dan fokus penulisnya. Maka, jika perlu, apa salahnya mengutip pendapat Hamka yang juga pernah bicara cinta?

Hamka, mulai menulis tafsir semenjak keluar dari penjara. Sementara tulisan-tulisan beliau sebelumnya lebih ke sastra. Sebutlah, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Dari kisah Zainuddin dan Hayati, hamka bicara tentang cinta anak manusia. Melalui perjuangan panjang, sampai juga pada akhir yang mengharukan. Tidak sedikit biografi para ulama yang juga berkisah tentang kehidupan pribadinya (cinta). Dan tidak sedikit pula, para mufassir/ulama yang (sebutlah) 'berantakan' dalam hal ini.

Ingat juga kisah Adam dan hawa. Dalam qs AL A’raf, Allah mengisahkan sejarah umat manusia yang akhirnya ditempatkan di bumi. Bukankah sebab Adam dan Hawa itu dihijrahkan ke bumi dan tidak lagi mendapat fasilitas surga/jannah karena “pelanggaran cinta”. Tapi, toh Tuhan Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun. Memberikan kesempatan bertobat, dan berbuat lebih baik. Masa sadar.

Barangkali masa sadar akan pilihan karya dan memprioritaskan pada bentuk tafsir itu baru “terjadi” pada Hamka ketika di penjara. Hamka juga manusia, yang juga punya cerita tentang cinta. Bagusnya, HAMKA mengisahkan dan menuliskannya. Menjadi pelajaran bagi yang membaca. Meskipun setelah itu, ia lantas dikenal sebagai ulama yang sastrawan, bahkan Pahlawan.


***
Selamat, gelar pahlawan untuk Buya Hamka pun disematkan. :) :)

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...