30.1.17

Perjalanan

Memang tak pernah terpikirkan sebelumnya akan menempuh perjalanan itu. Jalan, yang sedari awal tak pernah dipilih, sebelas tahun lalu. Dan kemarin, adalah hari pertama langkah ke arahnya dimulakan. Bagaimana kemudian kesudahannya, kita juga belum bisa prediksi.

Haha, bingung? Saya hanya bercerita soal kuliah S1 kedua ini. Baru sehari belajar. Rasanya nano-nano. Memantik api tauhid di hati. Bahwa, benarlah apa yang selama ini rukun iman tersebut-sebut ada enam itu, adalah fondasi semua aktifitas kita di dunia ini.

Bukankah kita percaya bahwa Tuhan hanya satu. Dia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Bagaimana mungkin zat yang pantas -dan hanya satu-satunya yang pantas- disembah itu memiliki anak? Sedangkan Dia menciptakan -dari sesuatu yang tidak pernah ada, lalu menjadi ada-, yang akan dianggap sebagai anaknya itu? Ya, ya. Tak ada Tuhan selain Dia. Karena itulah hanya Dia-lah Illah yang patut disembah.

Keyakinan kepada malaikatNya, kepada para utusanNya di bumi, Nabi dan Rasul itu adalah keyakinan yang menuntut adanya perbaikan pada diri orang yang berserah diri (untuk itu), dalam kesehariannya. Kalo bukan karena yakin ada malaikat yang ngikutin terus, ga ada rasa bersalah untuk sekedar menyimpan hal-hal yang 'tak jelas' di rumah. Toh itu adalah rumah kita. Ga ada manusia yang tau kan. Tapi, malaikat yang kita yakini itu -menurut keyakinan kita- akan enggan mendekat. Atau, yakin akan dimudahkan dalam belajar, ketika terbayang, bahwa malaikat akan membentangkan sayapnya kepada orang yang terus belajar. Kabar dan risalah-risalah itu sampai secara bersambung hingga kini, karena ada utusan Pencipta itu. Nah, itu ada dimana di fisik kita ini? Otak? Atau hati?

Bahwa dengan meyakini segala yang tertakdir adalah bentuk perjanjian kita sejak dulu kepada Tuhan, memberi kekuatan menjalani hidup yang tak lama ini. Bila ini sedemikian rumitnya, berat, berlikunya, Tuhan sudah tetapkan begitu, karena dipercaya mampu.

Ohya, jika kalian berpikir saya menyoal rukun iman ini seperti pelajaran anak SD, yang baru belajar agama, mungkin sesekali kalian perlu melakukannya. Tanya lagi hati, dimana Allah dalam hati kita. Tanya lagi kenapa perlu ada malaikat, para nabi, peringatan tentang hari esok (hari semua kebaikan dihitung, ditimbang, dikasi reward dan punishment) dan perkara ketetapan Tuhan itu. Bertanyalah, agar kita memikirkannya. Buat apa? Buat merefresh keyakinan. Karena ada masanya keyakinan itu menguat, ada kalanya melemah. Iman, yang terkadang naik tersebab amalan dan terkadang turun karena kemaksiatan.

Sebagian kawan bertanya, apa yang ada di pikiran saya, mau-maunya kuliah lagi, di saat sudah bekerja,  sudah belajar lebih pula satu bidang -dasarnya-, kini mau buang-buang waktu, pikiran dan uang (lagi)? Kurang kerjaan. Hhm, mereka hanya tak mencoba menjadi saya, walau sehari. Haha. Bisakah kalian bayangkan, menjadi saya?

Kamu adalah saya. Mengajar di SMK dengan program keahlian teknologi informasi. Setiap hari kamu disibukkan dengan: belajar otodidak tentang keterampilan komputer (dasar2 sih, hihi), lalu mengajarkannya. Ya, mengajarkan itu semua, yang baru beberapa hari lalu kamu pelajari, di kelas, kepada siswa yang, yaaaa...sebagiannya lebih dulu tau dibanding kamu. (Sebagian.) Karena mereka telah belajar yang lebih rumit di tingkat sebelumnya. Nah, giliran ada hal-hal tak diduga di kelas, kesalahan ini, error ini, itu, kamu (pastilah..) panik, seperti kamu sedang zoom out dari kehidupan ini.

Kamu adalah saya. Yang empat tahun lalu ber-situngkin belajar tentang XX, yang ternyata hingga hari ini, tak berkesempatan menceritakan ulang, membagi tau, mengeksplor lagi, yang sudah kamu fokus dulu itu. Hari-hari kemudian adalah, melakukan hal baru, hal baru, hal baru. Bertemu kawan baru, dunia baru, dan aktifitas baru. Kadang, kita bukan tak butuh hal baru itu, tapi kita merasa belum ingin meninggalkan hal lama, belum ingin berpindah lebih tepatnya. *bukan belum move on, #eh!  Pernah begitu?

Nah, kalau gitu, kamu mau menjadi saya, walau sehari? Ayolah, kita bertukar peran. Mana tau saya ternyata adalah kamu yang tersesat di kehidupan ini. *hahaa, efek inih, efeek K-D****

Riilnya, semua ini dari hari ke hari adalah seperti perjalanan yang tidak bisa kita tebak kesudahannya. Kita hanya melewati, lalu menemukan makna kata "ohh " "ouu.."dan "owhhh". Tidak ingin terjebak menjadi hamba yang: meminta datang waktu sore, ketika hari masih pagi. Meminta disegerakan waktu-waktu. Seperti dalam kitab suci, keinginan sekelompok manusia yang ingin disegerakan baginya balasan, padahal hanyalah demi sebuah penyesalan. Menyesal: ia telah membiarkan semua berlalu sia-sia. *ini juga saya menghindari kesia-siaan.. menuliskan ini karena tak bisa tidur. haha

Dalam sebuah zikir pagi, seharusnya kita bisa ingat (dan sadari), kita baca tiap hari, semoga berefek dalam melalui 'perjalanan' ini. *lebih ngefek dong, dibanding K-D td..

"Kami telah memasuki wakatu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Illah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagiNya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Rabb ku, aku mohon kepadaMu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahny. Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelakan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur."
 Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, sayang engkau tak duduk disampingku kawan. Kalo kata om Ebiet G Ade sih begitu. Tapi tidak bagiku Kawan. Perjalanan ini biarlah menjadi catatan yang enggan terbuang di nimiasata saja. Tak perlu ada engkau di sini, Kawan. Karena kehidupanmu, mungkin saja tak lebih sederhana dari perjalananku ini. Hanya saja, kami tak tau (dan tak kau bagi tau). ya kan.. kan..

Wah. Ayam-ayam di sini mulai berkokok. *bukan fire rooster ya, bukan ayam elektrik juga, ini asli. Ori ayamnya, eh tapi bukan K*C juga lah. Pertanda pagi menjelang. Pertanda, saya harus kumpulkan sisa-sisa 'senjata'  masuk kelas tiga jam lagi. Mungkin sekian tahun lagi saya tak lakukan hal serupa. Mungkin sebulan lagi saya ga ngajar 'ini' lagi, atau mungkin besok tiba-tiba ada yang berbaik hati menggantikan saya masuk kelas. Haha. Iya, mana tau. Siapa yang bisa pastikan kehidupan setelah ini. O-saya maunya setahun lagi tetap di sini-begini lah. Tahun depan aja mutasi nya. O-saya mau terus belajar lah,, ga mau kerja. #hek. Tuhanmu adalah Tuhanmu. Tuhanku adalah yang mengaturku. Tuhan kita sudah merencanakan segalanya. Ga bakalan terjadi sesuatu pun, tanpa campur tanganNya. Dan kamu (saya) mau berlepas diri?

Yaa Hayyu ya Qayyum. Birahmatika astaghiis. Ashlih lii syakni kullahu. wa laa takilnii ila nafsi tharfata 'ain.
"Wahai Tuhan yang Maha Hidup, Yang Maha berdiri (sendiri, tak butuh segala sesuatu) dengan rahmatMu aku meminta pertolongan, perbaikilah urusanku dan jangan diserahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dariMu).

Ya,, selamat pagi. Semoga ga pusing saat upacara.  :D

27.1.17

2017 !

Hi! temans.. :)
Permisi dulu, numpang bersih-bersih ya. Maklum, terasa lama tak pulang ke rumah. Kata orang Nimiasata udah gersang, berlumut dan sepiii.  hehe.

Kenapa punya terlalu banyak media sosial, orang-orang justru kehilangan rasa sosialnya ya?

Berteman di facebook, tapi hanya liat-liat statusnya.
Satu group di BBM, cuma numpang posting berita. 
Ada nomor WA, jarang cerita.
Berada di group WA dan telegram yang sama, paling cuma jadi silent reader aja.
Itu sih di dunia mayaa. Okelah ya.

Nah, di kehidupan nyata. Berangkat kerja pepagian.. mau nyapa tetangga "Selamat pagi..", belum pada bangun.
Hari juga masih rada gelap. Cuma ayam yang balas klakson motor dengan kokokannya.
Giliran pulang, udah sesorean. Hampi-hampir gelap.
Orang-orang yang tadinya mengisi sore di simpang-simpang jalan, gang, dan tanah lapang, mulai pada pulang.
Juga ayam. Ayam mulai ga liat, dia juga pulang ke kandang. Takut ketabrak motor kali ya.
Dan, orang-orangan senja, adalah mereka yang dikejar masa.
Maunya buru-buru sampai rumah. Ga perlu disapa, apalagi mau menyapa.
"Selamat sore.."

Ini udah 2017 loh! Medsos adalah teman (hari-hari) paling baik.
Dulu sih iya, "Buku adalah teman duduk paling baik"
sekarang, jangankan duduk, lagi jalan (ga peduli nubruk orang atau ketabrak, hape tetap di tangan, medsosan), lagi motoran juga, lagi nyetir sambil update-an, ngetwit, nge-path, posting tumblr.

Ini udah 2017 loh! Medsos bikin sesak. Berita-berita bikin mata lelah. Broadcast ini itu, ga jelas lagi hoax apa beneran. Yang penting share dulu. Mancing kerusuhan, aksi damai, aksi demo, aksi apa aja ga lagi di depan kantor pemerintahan, ya cuma di tangan. Modal gadget doank. Group-group kebaikan sih ada, seliweran juga dimana-mana. Sebagiannya menyoal, ini bid'ah-ini isbal, ini syiah-ini kanibal. Atau, cring-cring di telegram, pengingat aktifitas, dzikir pagi juga sore, ceramah harian, motivasi diri, tugas-tugas dari tempat kerja, ga lupa gosip juga ada di sana.

Ini udah 2017 loh.. Tuntut ini itu, ga harus sarjana hukum lah, ga perlu nyari pengacara dulu. Sebar sana sini, ribut ini itu, viral dimana-mana, ya udah, gitu aja. Dilaporkan-ditangkap. Kasus naik. Pengadilan rame. Berita banyak. Bikin komunitas A sampai Zet. Medsos dong, andalannya.

Haiiya! Medsos.. pertarungan sosial dunia maya dan nyata.

Ini baru awal 2017 kawan, mari peduli. Medsos bisa jadi ajang bersosial yang baik sih, asal bisa memilih dan memilah milah waktu dan tempat yang tepat, agar tak kehilangan kawan di dunia nyata.  

Dan, ini udah 2017 loh! Masi gagal move-on?!*
#eh!!

------


*Hahaa. Maafkeun.. keluar tema nih kayanya.
*Untuk waktu panjang, tujuh ***** itu, wow lah ya! :p

21.12.16

Catatan di Desember

Hai. Mumpung nungguin si Cece mandi, mari sedikit kita buat catatan.

Rasanya cukup lama tak mencatat di Nimiasata. *padahal baru pertengahan November lalu. Aktifitas dan kesibukan tengah teralihkan ke beberapa kegiatan baru. Tapi tak mengapa, dalam Catatan di  Desember ini, kita bercerita ringan dulu saja. Membincang banyak hal, atau *terlalu banyak hal. Semua yang kemudian akan kita banggakan, atau sekedar kita kenang, menjadi sebuah catatan di pengujung 2016 ini.

#tentanghobibaru
Desember menjadi bulan kedua bagi saya belajar menjahit. Ya, meskipun menjahit adalah profesi Ayah sejak dulu, tapi rupanya skill itu tak serta merta menurun sebagaimana gen yang berada di diri anaknya. Ayah adalah pejahit laki-laki, yang kira-kira sudah setengah abad menggeluti bidang ini. Karena Ayah tak begitu bagus memotong bahan untuk pakaianan perempuan, saya jadi terpikir, saya harus bisa. Maka jadilah, secara perlahan, minggu ke minggu, belajar menjahit dari dasar. Agak jenuh memang, awal-awal yang harus bekerja mempola dengan kertas, tapi di rumah saya lakukan apa yang ingin saya coba. Jika di tempat kursus saya belajar di kertas, maka di rumah, saya langsung potong dan jahit langsung ke kain. Rupanya pekerjaan/hobi baru ini menyita waktu dan keasikan.

#tentangKeagamaan
Apa yang orang-orang pikir terhadap agama ini setelah menyaksikan dua kali aksi terkait perkara keagamaan? Saya berpikir bahwa, soal iman memang tak bisa dipaksakan, ditahan-tahan, dibendung, apalagi dilawan. Pada awal-awal persoalan ini merebak, saya menilai sederhana saja. 
Cukup bahwa: Seseorang yang tak mengerti sesuatu, telah berbicara sesuatu. Maka biarkan saja. Jika sesuatu yang dibicarakannya itu, berkait dengan X, maka jangankan X, TUVW dan bahkan YZ sekalipun, tak dibenarkan dalam agama. Demikian kita beragama.

Nah, ternyata pemahaman semacam itu tak dipahami oleh banyak orang. Atau orang-orang yang sudah "berilmu" dan diberi 'pengetahuan' oleh Tuhannya, memahami dengan pandangan yang tak sependapat. 

Ini menjadi sebab, ada dua langkah yang ditempuh orang-orang beragama ini. Satu, menyatakan ketidak sukaannya. Dua, diam dan membiarkan seakan tidak terjadi masalah apa-apa. Di sini rupanya keadaan menuntut hati saya bersikap, kemana hendak berpihak.
Aksi kedua pun terjadi. Saya mengikuti dengan sepenuh keyakinan bahwa dalam kehidupan beragama dan sikap keagamaan ini, mesti ada firqah/sekelompok orang yang senantiasa menuntut ilmu, hidup dalam kedamaian pikiran dan fisik, berdialog dan berbagi pandangan. 
Dan, firqah lainnya harus ada yang bersikap tegas, menentukan dan membatasi, tak lagi memberitahu, tapi memperingatkan, bahkan melawan. Di situ kekuatan itu berpadu. Dan, keadaan ini menggaduh di hati, bukan di logika. Demikian kita berkeyakinan.
  
Saya hanya tak suka broadcast yang masuk ke medsos kita, dipenuhi dengan kebencian. Cobalah menimbang, perlu tidak perlunya berkomentar. Baik atau tidak baik setelahnya. Juga dengan kondisi hati. Biarkan saja, bila soal akidah ada Tuhan yang merajai. Perkara pidana, kita punya penegak hukum. Nah, tak bagusnya adalah semua yang tiba2 jadi ahli hadis. Berdalil, padahal tak tau apa itu hadis mungkar, misalnya. Tiba2 menjadi politisi ulung. Sekedar berorganisasi sekali pun tak pernah. 
Aduh. 

#tentangPilihan
Kata orang, dua hal yang perlu pertimbangan matang dalam memilihnya, pertama profesi, kedua partner hidup. Tentang profesi, entah akan seperti apa hari-hari esok datangnya. Sekian tahun berlalu, saya telah memilihnya, menjalaninya dan akan bertahan di pilihan ini. Insya Allah. Perkara apakah selamanya di sini, begini, dengan ini, itu jelas tak pasti. Sekolah lagi, bila benar jadi solusi, ya dijalani.

Baiklah. Marilah kita lewati, bagaimana kehendakNya.
**

Oh ya, cuaca belakangan ini seperti kawan-kawan ya?! 
Datang dan pergi silih berganti. 
Kawan lama yang telah tersibuk kehidupan barunya, dan kawan baru yang datang bersama aktifitas/dunia baru. 
Hanya beberapa mereka yang menetap di 'kehidupan' dan dunia 'hari ini'. :)

Okey. Si Cece ready. Waktunya pulang.. 

13.11.16

Belajar Sabar


Kenapa tak jua belajar kepada sabar

Baru saja terlintas potongan tulisan yang pernah saya tulis dulu. Yang kembali hendak mengulang-ulang pertanyaan itu. Kenapa tak jua belajar (kepada) sabar. Sedangkan Tuhan telah sekian kali banyaknya mengajarkan kita, bersabarlah.. bersabarlah.. Bahwa Dia menyukai orang-orang yang bersabar, bahwa dengan bersabar, itulah yang terbaik.

Jika dihitung melalui Alquran fathurrahman, setidaknya ada 101 kata  صبر dengan berbagai bentuk katanya di dalam Alquran. Ada yang berbentuk pertanyaan, ada pula pernyataan, bahkan ada juga berbentuk kalimat perintah. Dengan begitu banyaknya perintah sabar, kenapa kita tak jua belajar kepada sabar. 

Tentu. Tentu saja kita senantiasa belajar. Tapi menerapkannya, tak semudah membacanya.

Saya sedikit berkesimpulan, kenapa ada anggapan perempuan lebih sabar dibanding laki-laki. Dugaan jawabannya muncul setelah dua minggu lebih ini, saya belajar sabar lewat pekerjaan-pekerjaan perempuan. *--jiah. Ini bukan maksud memunculkan tema gender loh ya. :D

Ketika memasak misalnya, bisa dihitung berapa kali gagal dulu, baru bisa enak masakannya. Menjahit juga, harus belajar dari menggambar, mempola, melakukan hal-hal remeh temeh,, yang wow..benar-benar melatih kesabaran. Harus sabar, untuk tak langsung bisa. *eh! Harus sabar menunggu tahapan demi tahapan pelajarannya. Berkebun pun demikian, menanam, menyirami tiap hari, memberi pupuk, menyiangi dari rerumput, haruslah sabar. Dan hasil untuk semuanya? Hasilnya adalah bahagia.

Barangkali itulah sebabnya, pendidikan perempuan zaman dulu, dari kecil hingga remaja, anak perempuan haruslah melakukan pekerjaan yang detail, seperti tiga contoh saya sebelumnya. Tanpa matang/sukses dalam tiga hal itu, mungkin kesabarannya belum cukup untuk bekerja pada bidang/ranah yang lebih luas.

Sekarang? Tak ada bedanya pendidikan bagi laki-laki dan perempuan. Hal yang merupa kearifan lokal ini pun seakan sirna, dianggap tak berguna barangkali. Atau, karena tersibuk dengan pendidikan yang sifatnya bermanfaat pada ranah publik, maka abailah pada ranah domestik itu. Terlupa belajar memasak, menjahit, beberes rumah dan berkebun, terlupa pula belajar sabar. Tak punya kualifikasi sabar jadinyaa. *hihii. analisa abal2.

Bagaimana kalau kita munculkan pendidikan dasar yang menyesuaikan pada kebutuhan berdasar gender? Anak perempuan harus bisa begini begitu, dan anak laki-laki harus bisa begitu begini. Agar sabar dan tanggung jawab pada masing-masing bisa tumbuh sejak dini. *walaah... mari kembali ke tema semula, belajar (kepada) sabar.

Dalam Alquran surat Al Kahfi, ada banyak pengulangan kata صبر. Misalnya, dalam kisah Musa dan Khidir pada ayat 60-82. Dalam kisah ini, sabar yang diceritakan adalah bagaimana bersabar dalam belajar. Bagaimana menahan diri dari keraguan dan pertanyaan-pertanyaan. Pada waktunya, pada kesudahannya orang yang berilmu itu akan menjelaskan sebab dan karenanya. 

18 : 66 : Musa berkata kepadanya (Khidir), "Bolehkah aku mengikutimu, agar kamu mengajarkanku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
18 : 67 : Dia menjawab: "Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku."

*Nabi Musa saja, terancam tidak sabar. Begitu benarlah sulitnya ilmu sabar.

Dalam qs Ali Imran ayat 200, kita juga diperintahkan untuk bersabar. 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” 

 إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153)
 

Kehidupan sudahlah teramat pelik. Mari sejukkan hati dan latih diri terus bersabar..Baik itu bersabar dan konsisten dalam ketaatan padaNya, menahan diri dari segala yang diharamkanNya, dan bersabar atas segala yang telah menjadi ketentuanNya.


Lalu, sore tadi, seorang senior bertanya : Masih betah di SMK?

*hiks!

 فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Al-Insaan:24)

Komentar Iklan


Di antara acara televisi yang paling saya sukai adalah : IKLAN.

Ya, tak banyak acara televisi hari-hari ini yang menarik. Tidak seperti zaman-zaman SD dulu,, yang setiap jam 10 hari Sabtu ada film vampir yang selalu ditunggu-tunggu. Atau, jam lima sore, ada film-film anak-anak atau.. telenovela yang digandrungi remaja dan ibu-ibu. Entah sejak kapan bermulanya, acara TV tak lebih menarik daripada iklan-iklan yang terus kreatif, dan juga unik.

Saya termasuk yang suka menonton bagian iklan dari tayangan tv ini. Dari iklan lucu, iklan aneh tak jelas, iklan yang buat bingung, iklan tanpa suara, bahkan iklan yang hanya bermodal kata-kata yang ditayangkan berulang kali. Ada juga iklan mengharukan yang sering tayangnya jelang lebaran.

*yahhh..begitulah, para pembuat iklan terus berlomba menjual dagangannya, semenarik dan seunik mungkin. Namanya juga iklan..

Namun begitu, iklan yang mengandung unsur edukatif tetap ada kok ya, *secaraaa..zaman ini loh ya, yg semua dihitung untung rugi*. Yang paling banyak sih iklan edukatif itu ada di tipi 'negeri', pemersatu bangsa. Haha.

Tapi ada satu iklan, beberapa waktu lalu yang menarik. Karena ada adegan anak-anaknya kali ya, dan menjadi lucu saja. Pesan yang disampaikan pun baik. Bagaimana dengan hal kecil pun, kita bisa dapatkan kawan baru.
 *ini mungkin yang mulai langka hari-hari ini. Tak lagi ada rasa peduli. Jangankan menyapa orang baru, dengan orang yang sudah saling kenal pun, seperti ada tembok pembatas, tersibuk gadget yang ada di tangan.

Nah saya paling suka bagian ini:  
- Hi Man!  
- Cris.. --- can i tell u a story.. once upon a time.. there was a gold fish.. --- alone, the end!

*Hahaha, cerita macam apa itu... dahulu kala, ada seekor ikan emas, yang hidup sendiri, dan habis. :D 

ini dia linknya:

https://www.youtube.com/watch?v=sQS8SU98Pjg

So, "when did we forget how to connect with each other?"

Mungkin sejak kita terbiasa memandang curiga dan was-was tak jelas kepada setiap orang baru di sekitar. Melihat dengan sudut mata. Memasang tampang tidak peduli. Justru kemudian aneh, ketika ada orang-orang baru itu tersenyum, menyapa atau bahkan bertanya. Dan, tanggapan berikutnya adalah, kepo. Jadi serba salah kan?! 

"connecting with people is simple. With a little help."
Dalam iklan ini, begitu mudah untuk connecting dengan orang-orang baru. Realitanya, kita bahkan butuh waktu lebih lama dari sekedar menawarkan sesuatu. Orang-orang yang 'dingin tak jelas', merasa cool padahal cuek -bebek-, tidak pedulian, bahkan walau hanya dengan senyum pun, tak dipedulikan.

Untuk realita itu juga sudah ada videonya ternyataa.. hahaha. Parodi iklan m**tos. Begitulah kita. Keseharian kita. Mencoba terhubung dengan banyak orang, berkawan. Kawan lama, yang tergilas masa..tak lagi terjalin komunikasi dengan baik. Kehidupan dan kesibukan mempergulirkan orang-orang yang juga menjadi kawan.  Setiap hari akan bertemu orang baru, yang entah menjadi kawan, atau hanya figuran.

Belajar dulu sama anak-anak ini, how to connect with each other.. heheh.

Selamat Jalan Kuyut

 Malam hari di rumah kami kadang tidak selalu diisi dongeng sebelum tidur. Kadang, saya membacakan puisi kepada anak perempuan saya yang bar...