14.8.12

Dari Kota X ke kota Y [Part II]




Hari itu saya harus kembali ke kota X, menyerahkan kelengkapan bahan. Maka berangkatlah saya menjelang siang itu dengan travel X berwarna putih. Ketika travel itu berhenti di depan saya, hanya ada beberapa mahasiswa yang mengikut naik. Entah kenapa, mereka yang jadi duluan naik, lalu memilih tempat duduk sesukanya. Jadilah saya duduk di tengah, sampai ada penumpang (yang akan saya ceritakan) duduk di samping menggantikan agen.

Setelah kami (saya dan adik-adik mahasiswa) duduk nyaman, naiklah seorang bapak dan anaknya, lalu seorang ibu dan anaknya. Pertama, si Bapak dan anak lelaki kira-kira usia lima tahunnya naik. Bapak ini, ada kekurangan di bagian mata. Jadi agak kesulitan melihat dengan tatapan lurus dan melirik selayaknya orang normal. Saat itu si Agen menyuruh mereka berdua langsung duduk di belakang. Tapi si Bapak menolak.
“Wah, anak saya susah duduk di belakang, nanti mabuk.” Si Bapak berkata.
“Ahh..naik aja. Langsung ke belakang ya! Cepat..cepat..” si agen mendesak balik.

Akhirnya si Bapak naik, langsung ambil posisi di belakang. Meski berat, ia tetap ikuti aturan agen itu.
Saya tidak suka ‘adegan’ ini! Si Agen sok banget. Mentang-mentang apa, ia suruh se-enaknya begitu. Kalau saya jadi si Bapak, saya tak akan jadi naik itu travel. Emang dia aja yang punya travel? Beuuhh!!!

Kedua, seorang ibu agak gemuk naik dengan anaknya. Semula mereka terlihat ragu-ragu akan naik ini travel. Tapi si agen ngotot,
“Muat kok... masih bisa...! “

Padahal di bangku tengah itu, sudah ada saya dan si mahasiswa keriting yang sudah ambil posisi wueenak tidur di pinggir. Masa mau ditambah dua lagi??! Ya, gak jadi travel dunk!! Malah jadi tak nyaman.
Si Agen masih membujuk si Ibu. Saya lalu berkata pada si sopir,
“Uda, kalau berdua gak akan muat. Sempit... mau duduk dimana coba?” saya juga ‘membujuk’.

Akhirnya, berkat rayuan si Agen, ibu dan anak ‘gadis’ nya ini naik. Duduk tepat di samping saya. Menggantikan si agen. Mau apa? Si Sopir hanya bisa menerima. Tak menolak keras. Mungkin ia juga takut, besok-besok si agen itu tak mau lagi ‘meng-agen-i’nya. Karena ia terlalu banyak pilihan dan aturan.

Kalau menurut saya sih ya, si sopir ini harus tegas juga. Biar. Biar saja si agen songong itu tak mau jadi agen nya lagi. Emang dia pikir dia satu-satunya agen di dunia ini?? Ya, dia juga harus diajari tentang ‘tahu diri’.

Ya sudah. Saya pikir, itu takdir. Duduk bersempit-sempit. Di kanan, mahasiswa yang mengingatkan saya pada Nobi Nobita. Belum lima menit sudah tertidur. Di kiri, anak ‘gadis’ si ibu yang mengingatkan saya pada ‘seorang adik’. Lalu, mesti ikhlas, suasana nyaman berganti ribut, oleh celotehan-ribut khas bahasa daerah si Ibu.

Belum jalan berapa jauh, apa yang dikatakan si Bapak yang duduk di belakang tadi benar kejadian. Bocah lelaki – anaknya itu bilang mau muntah. Si Bapak tanya ke saya, ada kantong plastik. Saya ya, tak punya, lalu tanya pada sopir.

“Uda, ada kantong plastik?” Si sopir tampak menepi, lalu mencari-cari.
“Coba tanya atau beli di sana saja Uda..” saya menyarankan. Sopir muda itupun langsung turun dan menuju ke sebuah kedai di pinggir jalan. Belum lagi si Uda Sopir kembali, bocah itu seperti sudah tak tahan akan mengeluarkan isi perutnya.
Si bapak bingung.
“Pak, turun saja. Di luar saja. Buk.. buka pintunya buk. Ibu keluar dulu.. “ Saya panik. *Lho, kok jadi saya yang panik ya?!*

“Ha. Saya tak bisa buka pintunya!!” Si ibu tak kalah panik. Berkata volume tingkat berapa ke saya. Hahaha. Itu sih emang aslinya volume segitu kali ya. :D

Saya lalu membukakan pintu, sedikit mendorong ibu itu agar turun. Mendorong kursi lagi, agar bocah itu juga dapat turun. Keluar sudah. Aman.. dan lega.

Si bocah pasti lega, sedikit ketidaknyamanannya itu tersingkir sudah. Aman. Saya aman dari semburan ‘lahar’ itu. Karena posisi saya tepat di depan mereka. Ya... menakutkan dan menyeramkan memang. Si sopir sudah kembali? Ya. Sama seperti adegan polisi datang saat pencuri sudah terlanjur menghilang, berlari. Si Sopir datang membawa kantong kresek itu setelah semua berubah lega dan aman.

Oke. Kita PAUSE dulu di sini ceritanya. Ibarat film, semua pemeran diam di tempat, suasana diam dan kaku. Narator akan bicara.


...Baik, kita pelajari satu per satu. Si Bapak sedari awal sudah mengingatkan agen dan sopir, tapi mereka tak mengindahkan. Kejadian juga kan?! Si Bapak memang mengaku, ini kali pertama ia membawa anaknya naik mobil. Plis deh!! Hari gini, ternyata masih ada orang yang sebegitu susahnya naik mobil. Jangan berpikir ia akan membawa anaknya tour, liburan, dan berkunjung ke rumah sanak famili di luar kota. Mungkin, sekedar pulang kampung saja jarang ia lakukan.

Lha. Ibu anak ini mana?? Biasanya yang telaten mengurus anak itu kan Ibunya. Yang tidak berlepas tangan membiarkan bocah lima tahun itu turun sendiri. Tidak mengusap punggung anaknya saat mengeluarkan isi perutnya. Yang mengoles semacam minyak penghangat perut, lalu memberi minum dan membuat anaknya nyaman. Tidak ada. Ibunya tak ikut, mungkin sedang ada kerja lain. Atau sudah lebih dulu pulang kampung. Entahlah.

Ini juga aneh. Masa membuka pintu saja, tidak tahu caranya. Halllooo...ibu itu hidup di jaman apa sih ya?? Dan...begitulah realitanya Sayang.. Kita tidak tahu bagaimana mereka menjalani hari-hari. Mungkin ada kendaraan, motor yang tak perlu pembuka seperti Avanza ini. Mungkin aktifitasnya cukup dengan berjalan kaki setiap hari. Atau, kalaupun keluar kota, ia tak perlu membuka mobil lagi, karena angkot dan bus di kotanya itu, sudah terbuka pintunya. Jarang ada yang menutup.

Kita juga tak pernah peduli, sebegitu ‘parah’nya kehidupan di sekitar kita. Kita banyak tak tahu. Itulah kenapa kita diprintahkan “Siiruuu fil ardh..” “berjalanlah..” kita akan banyak belajar dari kehidupan orang-orang di sekitar kita.

Nah, kalian akan bertanya tentang empat mahasiswa yang naik bersamaan dengan saya bukan? Ya, mereka masih ada. Belum turun. Yang satu di samping saya, sudah tidur. Lelap. Kadang-kadang hampir mengenai bahu saya. Seett. Saya langsung gesit, “Maaf..dek.. ini, maaf..” saya sedikit tega untuk memukul-mukul bahunya. Ih..siapa suruh juga, tidurnya itu mengganggu kenyamanan saya. Emangnya dia siapa hah? Adik saya bukan, tetangga bukan, suami bukan. Enak aja, rebah begitu. Hadehh! Ini kan bukan lagi adegan romantis. Toh kalau seperti romantisan begitu, si cewek yang sandaran ke cowok. Bukan sebaliknya. Cemeenn.. ;P

Tiga lagi? Yang dua di belakang, sejak awal sudah sadar kalau posisi wueeenak buat mereka tidur itu adalah di bangku belakang. Ya, mereka dari awal sudah tidur. Lelap. Entah sekalian pura-pura tidak tahu dengan kejadian Bapak dan bocah di samping mereka. Biar tidak ketularan mual. Hahaha.

Satu lagi? Yang satu ini sibuuukk banget. Kayak dapat mainan baru. Kayak anak autis. Bebe-an. Senyum-senyum. Tak peduli dengan orang sekitarnya. Saya iseng ganggu dia.

“Dek, tolong ambilin tisu itu dunk” dia berikan.
Lalu saya minta dikembalikan lagi ke tempatnya, “Dek, taruh lagi aja di sana”.
Dia Bete mungkin ya. Hahaha. Loe juga sih, gak ngeh dengan lingkungan. Orang sudah panik dari tadi, masiiii aja sibuk sendiri. Padahal anak gadis yang beneran autis duduk di belakangnya itu sudah susah dari tadi. Dia mah cuek aja. Ihhh.. anak jaman sekarang...kurang bener sosialnya.
*lha emang saya idup di jaman apa?!*

Okee.. tombol PAUSE ditekan lagi...

Perjalanan dilanjutkan. Posisi saya sedikit nyaman. Si adik mahasiswa sudah sadar. Adik gadis autis juga nyaman duduknya. Si Ibu juga diam.

Saya tertarik bertanya pada si Ibu.
“Berapa umurnya Bu?”
“Tujuh belas tahun” jawab si Ibu.

Saya teringat ‘seorang adik’ yang saya sebutkan di awal. Usia yang sama. Bedanya, gadis autis ini, sakit karena demam panas yang sangat tinggi. Saya juga sudah menduga itu. Rata-rata anak idiot, kembar seribu dan sejenisnya memang karena panas yang terlalu tinggi. Sampai-sampai, menurut cerita si Ibu, anak gadisnya ini baru bisa berjalan saat berusia delapan tahun. Ada Ajo, -kakak laki-laki-nya yang dengan sabar terus melatih ia berjalan.

Sebut saja Putri, saya lupa bertanya namanya. Si Putri ini bisa sekolah pun juga lewat Ajo-nya. Suatu hari, Putri sedang ikut membantu Ajonya yang berjualan sate. Seorang pembeli sate, memberitahukan kalau ada sebuah sekolah yang mencari anak-anak spesial seperti Putri. Sekolah itu gartis. Maka datanglah Ajo mencari sekolah tersebut. Setelah menemui kepala sekolah, dan menanyai Putri, akhirnya gadis itu sekolah, dan diasramakan.

Satu tahun berlalu. Ini liburan Putri. Ia akan dititipkan pada kakaknya yang juga berjualan sate di kota lain. Itulah, ia menumpang travel ini. Satu tahun yang sangat berarti bagi Putri dan Ibunya. Putri sudha bisa mengurus dirinya sendiri. Tahu mana yang rapi mana yang berantakan. Ia mandi dua kali sehari. Dulunya, ia malas mandi. Bahkan, ia sudah bisa membaca dan menulis. Walau masih dalam tahap dasar. Sangat dasar. Tapi, ia sudah mampu menulis namanya, nama Ibu dan Ajo-nya.

Liburan ini Putri pulang dengan baju baru yang diberikan sekolah. Baju lebaran. Lengkap dengan makanan dan uang saku ia dibekali. Ia memang harus dijemput. Sekolah tak sembarangan membiarkan anak-anak special itu pulang sendirinya. Dan, Ibunya menjemput Putri, lalu mengantarnya ‘berlibur’.

Tak ada kesedihan di wajah Putri, meski sejak saya memperhatikan dua beranak itu, si anak selalu ‘dimarahi’ ibunya. Ah,,mungkin ia sudah paham, ibunya bukan bermaksud marah, tapi, ya begitulah logat aslinya. Sesekali ia bersandar pada Ibunya. Tidak. Bukan seperti kejadian seorang Bunda yang kemudian memeluk anaknya. Si Ibu malah berkata, “Ha..duduk yang benar..”. Hehehe. Saya berlinang air mata menyaksikan itu.

Kenapa kemudian harus gengsi dengan kasih sayang?? Kalau sayang ya, katakan sayang. Kenapa segan mengungkapkannya. Sayang memang tak selalu berbalas. Tapi, yang namanya sayang, tak pudar terus dipancarkan. Putri tak bosan. Meski ibunya begitu, ia terkekeh, tertawa, lalu duduk lurus dan benar –menurut ibunya- sebentar, tak lama, ia merengek dan kembali memeluk ibunya.

Si Ibu itu sebenarnya sangatlah sayang pada Putri. Kalau tak sayang, kenapa pula ia tega berpisah dengan bungsunya itu. Membiarkan Putri belajar dengan orang lain. Hari-hari pertama berpisah, -menurut ceritanya yang tak henti- susahlah tidur dibuatnya. Siang teringat malam terbayang. Bapak si Putri sudah sepuluh tahun meninggal. Ia tidur dengan gadis autis kesayangannya itu.

Tapi, Si Ibu bersikap tegas (kasar) kepada Putri agar ia terbiasa dengan perlakuan orang lain yang tak akan pernah sama –sayang dan peduli- kepadanya. Suatu saat, ia akan belajar dan hidup dengan orang lain. Sampai kapanlah si Ibu itu akan terus bersamanya. Usia yang sudah kepala lima itu, tak menjamin bisa selamanya bersama Putri.

Jika kelak, si Ibu pergi, -katanya-, ia pasrahkan. Ia yakin, anak seperti Putri itu Tuhan tak akan sia-siakan. Ada Ajo yang selalu sayang kepadanya. Dan, pastinya, ada jalannya yang sudah digariskan Yang Kuasa.

Haru. Walau semua cerita itu diceritakan dengan volume “WOW”, saya tetap saja terharu. Sepertinya, ini hanya masalah kebiasaan. Ketika satu, dua, dan tiga kali saya risih dengan volume dan logat itu, Empat, lima, dan enam, saya kemudian terbiasa. *Nah, sekarang ceritanya sampai bilangan tiga puluh sekian...gimana tak terbiasa?? Hahaha.

**

Hampir satu setengah jam dari kota X, saya kemudian sampai di kota Y. Urusan ini mesti dilanjutkan. Putri saja, selalu semangat dalam hidupnya yang tak biasa, kenapa lantas saya yang tak semangat dalam kehidupan normal yang alhamdulillah biasa ini? J Putri  dan ibunya, si bocah dan bapaknya telah menginspirasi saya siang itu.

Sebelum saya sampai di kantor tujuan di kota Y, seorang mahasiswa yang saya sebut autis itu, lebih dulu turun. Pantas saja, autis. Dia turun di komplek elit. Kadang bisa dipahami, anak-anak elit emang kurang sosialnya.

*Ehh,,,gak juga kali ya?! Kita salah beranggapan. Justru karena dia mampu, ia harus melatih sense of belonging-nya itu. Tapi, kalo dia emang sebutlah tajir, ngapain juga naik travel murahan begini? Kenapa gak bawa kendaraan sendiri? Gak diantar sopir? Gak naik Heli? Kok kuliahnya dalam propinsi aja? Gak di luar negeri?? Hahaha. Ngawurrr deh.. :p

Okkay..thats all my story. Saya kira ini bisa sedikit mengingatkan kita tentang kehidupan di ‘luar’ sana. Bahwa, ada yang berbeda dari kita. Lebih kaya, atau lebih miskin. Lebih pintar, atau lebih bodoh. Yang pasti, kita akan bertemu semua itu. Kita cukup sadari saja, jika kita berada di salah satu posisi itu, bagaimana pantasnya kita menjadi hamba yang bersyukur. Karena kehidupan ini jelas, sudah sangat jelas, ada yang mengatur.

Dan, alhamdulillah..tak sampai sepuluh menit, urusan saya selesai –Beresss..res..ress..-  di kantor tujuan kota Y itu. Alhamdulillah yaa...tidak seburuk yang dikhawatirkan. “Karena kehidupan ini sudah ada yang mengatur Jenk..jalani saja se-terbaik dirimu mampu..lalu bertawakkallah.”  ^__^
(*)

 

Dari Kota X ke kota Y [Part I]




Ini cerita perjalanan saya beberapa hari yang lalu. Pagi sekali saya sudah berangkat ke kota ‘kerja’, mengurus segala perizinan lanjut belajar yang tertunda seminggu karena suatu kerjaan. Sesampai di kantor X, semua yang saya cemaskan gak terjadi. Semua memang berjalan lancar dan baik. Tapi, ada dua surat lagi yang diminta. Maka jadilah solusinya saya langsung caw ke kota “kuliah” untuk menjemput surat itu. 

Dua jam kemudian, sesampai di kota “kuliah”, saya langsung menuju kampus. Bertanya pada bagian umum, perihal  surat yang saya masukkan kisaran sepuluh hari yang lalu.
“Uni, surat saya yang dimasukin tanggal X untuk kepentingan X udah selesai belum un?” saya bertanya ramaaaahhh sangat. :D

“oh, yang mana? Bukannya udah langsung selesai waktu itu?” si Uni balik nanya ke saya.
“bukan Un..ada lagi, yang surat keterangannya Uni.. “ saya menjelaskan.
“Hm..dulu masukinnya lewat sini?”
“enggak uni..”
“oh, ya udah. Belum sampai sini tuh. Coba ditanya lagi bagian X ya.” Si Uni menyarankan.

Baiklah. Jeng..jeng...saya berpindah ruang. Menemui si Ibu di bagian X itu.
“Maaf bu, sekitar sepuluh hari yang lalu saya masukin surat untuk kepentingan X di sini. Apa sudah bisa diambil bu?”
SI ibu tak menjawab, mencari-cari tumpukan surat dan map di atas mejanya. 
*aihh...alhamd banget niy, saya gak disulitin birokrasi kali ini dang! Si ibu dan si Uni menjawab ramah pulaa.. hihihi
“wah, suratnya sudah jalan. Coba ditanya bagian Y ya. “ si Ibu berkata.

Eits. Bagian Y? Bukannya tadi dari sana?! Katanya dibilang di sini, surat nya belum sampai?? Saya berfikir. 

Hari masih belum terlalu siang. Puasa belum jadi alasan buat godain keimanan si Ibu n si Uni tadi. Saya dan Mereka mestinya masih bisa: sabaaaar... urut dada. Baiklah. Saya kembali tersenyum. Ikhlas. Balik lagi.

“Maaf uni, kata si ibu di Y, suratnya udah gak di sana lagi uni.. gimana ya?” saya pura-pura bingung. Sebenarnya, pura-pura bingung itu juga bisa jadi cara buat nunjukin penghargaan kita ke orang lain. Coba kalo saya sok tahu, kalo surat udah jalan dari bagian Y mestinya udah sampai di X, saya kan bisa-bisa aja bilang gini.. 

“Lho?! Kok gini sih ya, administrasinya. Masak jalan surat aja gak tau,,,udah sepuluh hari lagi.. Kasian bener pemerintah gaji orang-orang kayak begini, surat masuk aja kagak tahu.. ckckck”
Kalo begitu kejadiannya, tamat dah! Tamat riwayat saya di kampus itu. Hahahaha. Mahasiswa songong bener. Baru juga mau masuk, eh udah sok-sok an. :D

“kalau gitu, coba tanya si Bapak deh!” Ngeliat saya bingung, si Uni kasih saran coba tanya ke kepala bagian di ruangannya itu.

Saya pun melangkah ke arah meja si Bapak.
“Maaf Pak. Sepuluh hari yang lalu saya masukin surat untuk kepentingan X di bagian Y. Barusan, pas saya coba konfirmasi jalannya surat, Ibu disana bilang, suratnya udah jalan, mungkin udah sampai sini katanya. Surat saya yang atas nama XX udah sampai sini belum pak?”

Hadeuuh. Ribeeuut. Saya mencoba menjelaskan dengan bahasa “bulan puasee”. Alhamdulillah, mafhum. SI Bapak mencari-cari surat di mejanya. 

Gak iyee bener ah. Masa surat udah jalan sepuluh hari belum apa-apa sih. Nih, masih utuh! Saya melihat surat saya itu.
“Oh. Surat yang ini ya?”
“iya pak.”
“untuk kepentingan X ?”
“iya Pak.”
“Gini aja. Tunggu lah jadwal kita keluar dua atau tiga hari lagi. “
“hm..dua sampai tiga hari ya pak.” Saya kembali pura-pira  bingung.
“Maaf pak. Bagaimana kalau surat keterangan saya saja yang dikeluarkan sekarang, seperti dalam permohonan saya sepuluh hari lalu?” Saya mencoba berdiplomasi.
*Ayoohh...ayolahh.. mau lah pak. Masa saya harus balik, dua sampai tiga hari lagi. Itu kalo bener. Kalo gak bener kan balik sini habis lebaran. Suratnya mau diurus kapan tuh di kota “kerja”?? lagian, surat dari “kota kerja” kan juga mau dikasih lagi ke kampus entar pas pertama kuly. Hallahh.. 
“Kita gak biasa pakai surat itu, palingan juga nunggu jadwal.” Si Bapak menjawab.

“Iya pak.. saya juga nunggu jadwal kok pak.. tapi sementara itu, bagaimana kalau, surat saya juga dikeluarin pak?” Saya menjelaskan, tersenyum. #asiik! Harus mempan nih senyum! :D
“Baiklah. Silakan ditunggu.” Jawab si Bapak. 
#Horeey..biarin ah. Nunggu lagi.. palingan bikin surat begituan juga gak sampai satu jam. Dan, sebenarnya, sepuluh hari lalu, surat itu juga bisa keluar langsung loh. Tapi, kenapa ya? 

Orang-orang seringkali merasa di-ikat aturan yang berlaku. Sedikit-sedikit...”prosedurnya emang begitu”, atau “ya, jalannya memang begitu”. Kalo bisa cepat ngapain juga masih pakai motto : “biar lambat asal selamat”? 

Saya duduk di pelataran sembari menunggu surat itu. Tak lama, saya dipanggil si Uni tadi. Surat saya akhirnya selesai Bro! :D 

“Difotokopi dulu ya. Trus tinggalin aslinya, distempel nanti. “
"terima kasih Uni.." 
 
Sip.sap.sip! Saya segera ke ruangan X. Dan perjuangan berakhir untuk sesi kampus X dan ruangan X.  (*)

13.8.12

Kerja.Kerja.Kerja



Banyak orang sepakat dengan slogan yang dipopulerkan Dahlan Iskan ini. Termasuk saya. Saya suka kata-kata itu. Mungkin hanya orang-orang yang tidak ingin sukses saja yang tak menyukainya. Atau, mereka yang tak mau bekerja keras,tak ingin berusaha maksimal saja yang tak inginkan kata-kata ajaib itu menjadi motto. 

Hari ini, hari terakhir pesantren ramadhan dilaksanakan. Saya kemudian memahami kenapa orang-orang memilih suka dan sebagiannya tidak suka dengan motto ‘kerja.kerja.kerja” tersebut.
Kebetulan, Ramadhan kali ini saya termasuk yang di-SK kan walikota menjadi koordinator pelaksanaan Pesantren Ramadhan. Sesuai instransi, saya mengkoordinir satu mesjid dengan peserta yang terdiri dari 285 orang siswa kelas X sekolah saya. Plus, bekerja sama dengan tujuh orang panitia dari pengurus mesjid dan empat belas guru pembimbing lainnya. 

Meski sudah bertekad kuat dan memasang motto “kerja.kerja.kerja” itu, tetap tidak mudah rupanya melaksanakan tugas secara maksimal. 

Saat rapat koordinasi dengan panitia pada hari pertama dilaksanakan, saya menyambut baik beberapa hal –berupa kemudahan/bantuan- yang ditawarkan oleh pihak panitia. Tentu saja yang lebih disenangkan dengan tawaran tersebut adalah guru pembimbing. Apalagi saya. Saya yang membutuhkan waktu pulang 3 sampai 4 kali lipat teman-teman lain. Wah, beruntungnya kami bisa bekerja sama dengan panitia di sini. Begitu kesimpulan awal. :D

Hari pertama dilewati sudah. Semua persiapan administrasi dilakukan dengan baik. Terkait hal ini, ada sedikit kesalahan saya selaku koordinator yang disebut-sebut panitia. “Kenapa tidak ada koordinasi sejak sehari sebelum pelaksanaan kegiatan.” Mestinya bisa lebih lancar, jika semua data sudah diinput sehari sebelum pelaksanaan. Saya menjelaskan alasan, dan meminta maaf atas hal itu.
Maka tak heran jika pada hari kedua, saya kecewa berat –isitilah orang sekarang-. 

Benarlah, ketika berharap pada hamba, bersiaplah akan dikecewakan. Berapapun kita percaya pada orang itu. Hari itu, saya pegang kata-kata panitia. Saya sedikit terlambat datang pada hari tersebut, kira-kira 20 menit. Dalam pikiran saya, saat itu, sesuai pembahasan dalam rapat koordinasi, akan dihandel oleh panitia. Rupanya tidak. Nihil! Untung saja, saya sudah sampaikan keterlambatan tersebut pada dua orang teman, dan meminta mereka datang lebih awal. 

Okelah, sudah berlalu, pikir saya. Tapi, saya justru ingin membuktikan kata-kata panitia itu untuk siang harinya. Menurut mereka dalam rapat koordinasi, siang, seusai tahfiz, akan dihandel pula oleh mereka. Dan, apa yang terjadi? Alhamdulillah mereka menepati kata-katanya. Panitia yang menghandel. 

Setiap hari laporan diberikan kepada tim monitoring kota yang orangnya selalu berganti. Saya dan teman-teman lain, selalu berusaha memperbaiki kegiatan agar lancar dan berjalan efektif full manfaat setiap harinya. Bagaimana tidak full, pekerjaan menjadi wali kelas itu tidak mudah. 

Menjadi wali kelas untuk 15 sampai dengan 20 orang anak, setiap hari jelas tidak mudah. Mendampingi. Jika tidak ikhlas melakukannya, merugilah dengan semua kepenatan yang didapat. Untuk pembimbing  saya kira ada sekitar 85 % menggunakan motto “kerja.kerja.kerja” itu untuk kegiatan ini. 

Pertama, mereka harus mendata kehadiran siswa. Mendata kemampuan bacaan al quran siswa. Lalu, merekap praktek ibadahnya. Saat materi berlangsung, guru pendamping juga mengikuti perkembangan keaktifan dna partisipasi siswa. Bagaimana akhlak keseharian siswa. Mencek evaluasi materi siswa. Menilai. Tasmi’ atau mendengarkan bacaan al quran siswa satu per satu. Menuliskan jumlahnya. Merekap jumlah setoran hafalannya. Terakhir, mengatur pelaksanaan shalat zuhur. Usai zuhur itulah saat yang diantikan, acara dihandel oleh panitia, -keputusan dalam rapat koordinasi memang bagitu-, tapi.. tak bisa disebut 80 % semua terlaksana sesuai perkataan. 

Bekerja menjadi pembimbing tahun ini, jelas saja berbeda dengan tahun-tahun sebelum ini. Begitu concern-nya pemko dengan kegiatan ini. Saya sangat bangga dan apresiasi dengan langkah dan kebijakan ini. Tapi, memang, tak ada gading yang tak retak. Bagaimanapun maksimal persiapan dan perencanaan, tidak begitu juga dalam pelaksanaannya. Sayang, tak semua berpartisipasi penuh untuk kegiatan ini. Masih saja ada yang culas, curang, kurang bertanggung jawab pada amanah yang diberikan, atau menyepelekan aturan dan kebaikan yang disampaikan. Ah, manusia memang berbeda. J

Kerj.kerja. kerja, itu belum menjiwa bagi sebagian kita. Masih saja ada yang berpikir bagaimana agar ‘ringkas’ –tapi tak tuntas-, atau ‘cepat’ -tapi tak tepat-, atau komen dan protes –asalan- tapi tak paham, atau juga, suka sekali menyebut kekurangan dan menyudutkan orang lain. Ah, manusia memang berbeda. Dari segi motto saja sudahlah berbeda, tak semua inginkan kerja dan hasil yang maksimal. Ada saja, yang inginnya santai, walau hasilnya tak memuaskan, yang penting sudah dilakukan. Begitulah.

Hari berlalu, ini hari terakhir pelaksanaan kegiatan. Evaluasi sudah dilakuakan setiap harinya. Evaluasi terakhir sudah dilaksanakan dengan guru pembimbing. Siswa terbaik, terbanyak hafalan al qurannya, terbaik akhlak dan besar partisipasi dan keaktifannya pun sudah diperoleh datanya. Hadiah pun sudah disiapkan panitia. Reward dari kepala sekolah dan guru-guru pembimbing sudah dikumpulka. Tinggal membagikan saja. 

Lalu saya, konfirmasi ke posko, terkait dengan acara penutupan gabungan yang disebutkan di awal kegiatan. Siswa terbaik masing-masing tempat akan menerima penghargaan dan hadiah dari kota. Begitu serius dan perhatiannya kota saya ini terhadap kegiatan ini. Hal ini sungguh membanggakan dan patut dicontoh oleh kota/ kabupaten lain. (recomended!) 

Hanya, catatan saya ini menyoal tentang motto kerja.kerja.kerja-nya Pak Mentri, tidak semua menyukainya. Menurut saya, keinginan menghandel acara usai zuhur itu, adalah bagian dari bantuan yang ditawarkan. Memudahkan sesama. Tapi lain halnya dengan ketidak optimalan pelaksanaan dengan kata-kata, hanya akan menyisakan ketidakpercayaan. Atau, mengubah jadwal secara sepihak, setelah beberapa jam sebelumnya semua masih seperti yang dibicarakan, dan disepakati. Yang saya dan mereka sepakati. Tau-tau, secara sepihak semua berganti. Dan yang lucunya, ketika saya konfirmasi, pihak tersebut menjawab singkat, “oh ya, lupa mengabari Ibu guru.” Wah..wah.. sayang sekali, begitukah akhir kegiatan yang dipersiapkan tingkat kota ini diperlakukan oleh ‘pihak’ ini?! Pikir saya. 

Saya konfirmasi lagi soal muhasbah, acara terakhir yang juga akan dihandel oleh panitia. Jika tidak ada kegiatan tersebut, dan jika disepakati, kegiatan penutup adalah materi tambahan –yang penetapan adanya materi ini dalam rapat koordinasi juga secara sepihak-, adalah penutup kegiatan, bagi saya, sih oke saja. Tidak masalah. Tapi, pihak tersebut malah menekankan, agar menunggunya kembali ke TKP, ybs akan menghandel langsung muhasabah. Bahkan, berpesan, jika pembimbing tidak bisa hadir, boleh saja, silakan meninggalkan TKP. 

Saya pribadi dan teman-teman, tidak bermaksud curang, tak ada yang ingin meninggalkan TKP. Saya lagi-lagi ingin buktikan kebenaran kata-kata itu dengan kerjanya. Siang itu, usai shalat zuhur, saya langsung konfirmasi pada panitia. Bagaimana dengan acara muhasabah. Masya Allah, jawabannya bertolak belakang lagi dengan kata-katanya beberapa jam yang lalu. Muhasabah di-cancel!
Saya bukannya tak ingin cepat menutup acara, tapi sungguh mengherankan. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba di-cancel, dibatalkan. Dijawab dengan alasan singkat tak memuaskan, dari hasil acara penutupan gabungan yang diikuti barusan di mesjid lain di kota. 

Telusur punya telusur (istilah baru, :D), rupanya ‘pihak’ saya tak senang dengan keputusan dan hasil akhir penetapan yang terbaik. Aih... rupanya tak hanya saya yang kecewa dengan ‘pihak’ itu, ‘pihak’ saya itu rupanya juga memperoleh kekecewaan dari kerja.kerja.kerja  yang sudah beberapa waktu ini disiapkan. Terbaik belum jatuh ke tangan. Bagi saya sih tak masalah, toh siswa dan kegiatan sudah saya dan teman-teman lakukan secara maksimal sejak awal, tanpa embel-embel harap apalah.
Maka jadilah, acara tersebut ditutup dengan wajah lesu sebelah pihak, dan wajah semangat dan seperti biasanya dari pihak saya, guru pembimbing dan siswa.  :D

Kerja.kerja.kerja itu disukai juga oleh sebagian kita, dengan kesalahan sedikit, yaitu terlalu berharap pada ‘sesuatu’ yang bukan Tuhan. Pada nama yang tertulis dan disebut, pada selembar penghargaan, pada jumlah nominal lembaran uang kertas, dan pada apa saja, yang menghapus keikhlasan dari Kerja.Kerja.Kerja yang dilakukannya. 

Saya bangga dengan 85% guru pembimbing saya yang mengikuti perkenalan, acara penutupan dengan slide foto, dan film singkat, yang dibuat mendadak oleh seorang guru. Saya bangga dengan siswa yang menyampaikan target hafalannya setiap hari walau belum sempurna. Saya bangga dengan siswa yang saya dan guru lain hukum, karena kesalahan mereka. 

Saya yakin, siswa-siswa saya itu juga bangga dengan guru pembimbingnya yang 85% -yang bekerja maksimal itu-. Mereka juga bangga dengan diri mereka sendiri. Sudah susah payah seminggu ini, disuruh hafal ini itu, diajari terus-terusan baca al quran, ditanyai ini itu, disuguhi materi ini itu, yang pasti saja melawan kantuk dan rasa bosan. Suatu saat, mereka akan bangga pada diri mereka sendiri. Ketika tersadar, apapun dapat dilakukan, dapat dicapai, jika kesungguhan, pengorbanan, kerja keras menjadi satu sikap dasar diri mereka. Menjadikan Kerja.Kerja.Kerja motto hari-hari belajar dan bekerja mereka. 

Maka, Kerja.Kerja.Kerja itu akan berbuah manis bagi siapa saja yang tulus dan ikhlas melakukannya. Bagi yang menginginkan hasil maksimal, terbaik, itu saja. Tanpa berharap nama dan predikat dan  sebagainya. Itulah yang akan merasakan nikmatnya motto Kerja.Kerja.Kerja tersebut, kesimpulan saya.

Faidza faraghta fanshab, wa ilaa rabbika farghab!
(Al Quran Surat Asy Syarh : ayat 7-8)
“maka jika kamu telah selesai  (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap”

SSSBD (Suir Syam, Si Bapak Dokter)




Tidak berlebihan rasanya, jika Suir Syam, walikota Padang Panjang, meraih berbagai penghargaan atas kinerjanya hingga periode kedua (2012) di kota Serambi Mekah ini.

Ia mampu melihat berbagai titik sentral yang perlu diprioritaskan untuk diubah –diperbaiki-dibenahi  terlebih dahulu.

Lihat saja kebijakannya dalam bidang pendidikan. Pendidikan gratis untuk semua tingkat (sekolah negeri) adalah salah satunya. Kota yang tidak lebih luas dari 23 km persegi ini memiliki tiga sekolah tingkat atas, plus satu dengan label ‘sumatera barat’. Untuk tingkat SLTA saja, jika dikira-kira, satu SMA ada 600 orang siswa, tentulah jumlahnya tidak sedikit. Tidak sedikit jika beranggapan bahwa mereka semua adalah ‘warga SS’. Artinya, sekian persen dari siswa SMA kota ini berasal dari daerah sekitar, kabupaten/kota sekitar. Dan, SS mem-bebas-biayakan semuanya. Hebat bukan?!

Tidak hanya itu, SS juga memberikan berbagai kemudahan untuk warga pribumi. Siswa Padang Panjang asli. Barangkali tidak salah pula. Saya menerka-nerka pikiran SI Bapak Dokter itu, “tentu akan lebih baik mengasuh dan mendidik anak sendiri , daripada membesarkan anak tetangga.” Atau bisa jadi, si Bapak Dokter ini termakan kaji di surau, “quu anfusakum wa ahliikum naaraa”. Hanya soal prioritas. Kebijakan yang memicu polemik ini terus dilaksanakan Si Bapak Dokter.

Adalagi pesantren ramadhannya yang benar dipersiapkan. Saya menantang, kota atau kabupaten mana di Sumbar ini yang mempersiapkan Pendidikan Agama tambahan untuk pelajarnya? Kota mana yang maju dengan program agama itu? Kembali ke surau? Oh, itu hal biasa. Sumbar secara umum memang punya program itu. Asmaul Husna? Apa ada yang menjamin ‘tradisi’ itu? Seberapa besar dampaknya selain ‘hafal’ nama-nama Tuhan, tapi tak tahu arti, tak paham makna, dan tak mengerti aplikasi hariannya.

Peduli pendidikan agama secara kongkrit dan bertanggung jawab, Padang Panjang telah memperbuat itu. Evaluasi dan perbaikan kegiatan pesantren ramadhan ini terus dilaksanakan dari tahun ke tahun. Koordinasi dan kerjasama berbagai pihak turut mensukseskan kegiatan ini. Lihatlah, Tungku tigo sajarangan itu mulai berperan efektif. Pemerintah, Ulama dan masyarakat. Program langsung ditangani kesra. Ya, bukan berarti daerah lain tidak memperbuatnya. Hanya saja, saya tak tahu pasti, kesungguhan untuk hasil maksimal itu. Saya meragukannya.

Saya salutkan lagi pada kota ini, pejabatnya turun langsung ke lapangan. Ke mesjid-mesjid. Memberikan arahan dan harapan dari pelaksanaan pesantren ramadhan itu –langsung- kepada pelajar. Mana pernah, seumur-umur saya mengikuti pesantren ramadhan yang dihadiri pejabat eselon III.

Saya jadi ingat dua orang tokoh negeri ini yang saya idolakan. Dahlan Iskan dan Jusuf Kalla. Dua orang pemimpin sederhana ini benar menginspirasi banyak orang. Barangkali juga Si Bapak Dokter dan jajarannya. Lalu saya bermimpi, jika negeri ini dipimpin oleh satu diantara dua orang idola saya itu.

Atau.. pemimpin-pemimpin tingkat daerah yang tak hanya menarik simpatik rakyat dari baju kotak-kotak sederhana, atau kesuksesan acara olahraga semata. Tapi lebih dari itu. Rakyat membutuhkan pemimpin yang multi kharisma yang tak -sekedar- kharisma. Tapi kharisma yang tercermin dari kepribadiannya yang baik, kesederhanaan, kaya,  tentu saja amanah dan bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya. Tak perlu banyak omong. Toh, kita sudah terbiasa dengan pepatah, tong kosong nyaring bunyinya. Pemimpin banyak omong, banyak mainnya.

Tak perlu gagah atau ganteng lah pemimpin itu. Cukup saja keren. Keren dengan pemikiran cerdas dan langkah-langkah cekatannya terhadap berbagai kebijakan politis. Keren dari gaya sederhana yang tak melulu berdasi. Keren dari mobil dinas yang diparkir di rumah dinas saat ia dan keluarganya mengadakan acara keluarga dan bukan urusan dinas. Keren dari pergaulannya dan keterbukaannya dengan ‘kaum muda’ yang kaya idealisme. Keren, pastilah photonya terpampang di depan kelas setiap ruang belajar sekolah, dan kantor-kantor.

Rakyat sudah haus pada semua itu. Semakin menurunnya tingkat partisipasi masyarakat saat pemilu dan pemilukada sudah menjadi bukti, krisis kepercayaan terhadap calon pemimpin. Apa yang akan dilakukan mereka yang akan maju di 2014 kelak? Hari ini saja, saya sudah bosan melihat debat ini itu. Partai ini itu. Perubahan ini itu. Lebih baik, kembali mengingat dan mengenang Si Bung –Berkacamata- Hatta, atau Si Bung –Gagah- Soerkarno, atau..ah, ya, SSSBD kebanggaan saya, Suir Syam Si Bapak Dokter, walikota negeri kecil saya. Itu lebih kongkrit jika tak akan menyebut hebat secara terang-terangan. :D

Ya, bagi saya semua ini tidaklah ada gunanya. Toh, Si Bapak Dokter tidak akan maju lagi pada pemilukada musim ini. Saya tak berniat pula menjadi tim suksesnya. Sudah dua kali ia menjabat, terhitung sukses pula. Baguslah si Bapak Dokter hidup tenang bersama keluarga, bermain dengan cucu. Itu pikiran saya.

Saya hanya ingin berbagi dengan siapa saja yang merasa sedang menjadi rakyat, wong cilik di sebuah kota atau kabupaten. Pertanyaan saya, pertama; apakah Anda bangga dengan pemimpin negeri Anda? Jika bangga, ceritakanlah kehebatannya, jangan memperkeruh masa kepemimpinannya. Banggalah, dia adalah pemimpin yang Anda pilih dulu. Seperti saya bangga dengan pemimpin negeri kecil saya, meski tak pernah berkesempatan memilihnya. SSSBD! J

7.8.12

Lelaki Kertas



Pernah kau tanyakan padaku tentang lelaki kertas. Aku menjawab, ia hanya akan memenangkan perempuan batu. Kertas dan batu, menanglah kertas. Kertas menggulung batu.

Tak ingat aku, sejak tahun ke berapa di hidupku aku begitu membenci jenis makhluk ini. Yang pasti tak lebih dari usia sepuluh tahun. Saat itu aku duduk di kelas empat sekolah dasar. 

Masa-masa itu adalah bagian sulit di hidupku. Eh, memang bukan yang tersulit. Karena sampai saat ini aku masih merasakan kesulitan-kesulitan pada banyak hal di kehidupanku. 
Bapak. Ia termasuk lelaki kertas. Betapapun seorang anak menyayangi ayah dan ibunya, seringkali ia merasa lebih sayang pada ibu. Begitu pun aku. Aku sangat sayang pada ibuku, dengan kadar yang jauh, jauh lebih banyak, lebih besar daripada bapak. Lebih-lebih lagi, kemudian ada kejadian yang membuat simpati dan sayangku ke Bapak makin berkurang. Memudar. 
Saat kecil dulu, kami hidup bahagia. Seperti yang orang-orang pahami tentang kebahagiaan. Kami dilingkup kemewahan. Bapak yang sifatnya royal, memanjakan kami. Aku dan kedua adikku selalu mendapatkan yang kami inginkan. Tinggal meminta, tanpa harus menangis. Jangankan menangis, merengek saja sudah hal langka. 
Mungkin dengan begitu, kami terbiasa keras. Memaksa. Pasti dapat. Maka, ketika kemudian Ibuk mulai menjaga kami dari foya-foya, kami berontak. Menganggap orang tua sudah tidak sayang lagilah. Kami memaksakan semua keinginan. Uang belum terlalu menjadi masalah ketika itu. 
Masalah saat itu yang kulihat adalah Bapak. Bapakku jauh dari agama. Hidupnya dunia saja. Walaupun ibuk sudah seringkali coba ajak, tetap tak ia hiraukan. Kadang Bapak menjawab keras. Tak jarang pula menghardik, kasar ke Ibuk. Aku masih siswa SD saat itu. Hanya geram dan tak melawan atau berontak. 
Kami hidup di kampung. Masyarakat kampung ini pun mengajarkan foya-foya dan orientasi gaya. Sangat mementingkan strata sosial. Buruk. 
Bagi mereka, sekolah agama hanya jadi olok-olok saat itu. “kenapa masuk sekolah agama?? “ pasti akan ditanya dengan pertanyaan yang tak perlu dijawab itu. Tapi Ibuk memasukkan aku ke sekolah agama,  berharap kehidupanku kelak dapat lebih baik dengan dasar agama yang “setidaknya” dibekalkan sekolah itu. Dua adikku tak mengikuti. Ia memilih sekolah umum unggulan kampung kami. Dan, tentu saja, juga terpengaruh gaya hidup mereka. 
Sementara, saat itu kondisi ekonomi keluarga mulai memburuk. Perusahaan Bapak tutup. CV mati. Anak buah pergi. Mereka meninggalkan Bapak, dan hanya beberapa orang yang setia saja yang tetap bertahan. Walau begitu, Bapak terus bekerja tanpa perusahaan sendiri. Artinya, Bapak tidak mungkin mendapatkan tender besar. Palingan hanya bangun rumah orang komplek dekat kami. Itu saja. 
Tidak ada lagi foya-foya. Hidup susah. Anak buah balik minta gaji. Berhutang sana sini. Ibuk mulai berdagang di pasar kampung kami untuk menyiasati hidup. Semua sulit.
Saking sulitnya kehidupan kami, aku dikirim ke kota lain, tempat bibi. Aku hidup bersama mereka, melanjutkan pendidikan SMA jauh dari orang tua. Kehidupan keluargaku ditopang oleh penghasilan Ibuk yang mulai membaik. Herannya, Bapak masih saja keras. Tak mau ‘tunduk’ pada agama. Kadang juga masih membentak Ibuk. Aku tak tahu pasti, apakah tanpa sepengetahuanku Bapak ada ‘main’di luar, atau minum, atau berjudi, atau..atau.. lainnya. Atau, semoga itu hanya kecemasanku saja. 
Aku mulai berpikir tentang kebahagiaan. Mengingat-ingat, lelaki dan perempuan. Terbandingkan Bapak dengan paman. Jauh. Jauh sekali bedanya. Ya, pendidikan mereka berbeda. Pergaulan juga berbeda. Satu hal yang penting, sikap dan penghormatannya terhadap perempuan sangat berbeda. Paman sangat memperhatikan dan menghormati  bibi. Terlihat jelas sayangnya. Sedang Bapak? Ah, entahlah. 
Aku tak pernah dibekali tentang kehidupan. Yang diberi tahu Bapak sepertinya hanya uang, bahagia, uang lagi, kehormatan. Itu saja. 
Maka, tak salah rasanya, jiwa remajaku begitu berontak dengan semua ini. Aku tak bisa menerima DIA adalah Bapakku. Lelaki itu adalah Bapak yang harus aku hormati dan sayangi. Ia tak pernah perlihatkan sayangnya padaku. Ia seringkali berkata kasar. Membentak Ibukku. Ini masalah besarnya. 
Tak salah pula bagiku, pagi tadi kata-kata kasarku pun meloncat untuknya.
Brengsek! Dia menghardik Ibukku! 
“Buk, mana lelaki setan tadi?!” aku beringas. 
Lelaki setan. Aku menyebutnya begitu. Untuk ia yang tak bertanggung jawab terhadap keluarganya ini. Dia yang hanya santai dengan kehidupannya, tiduran, saat aku dan Ibuk berdagang di pasar. Berdiri. Bertudung payung. 
Lelaki setan itu hanya menyulut api rokoknya, saat kami dari sore sudah berpanas-panas memanggang kue. Menggoreng kacang. Mencari-cari tambahan untuk hidup. 
Lelaki setan itu duduk bermenung, saat kami tersedu di ujung doa, usai shalat.
Lelaki setan itu tetap makan, saat puasa. Saat seharusnya ia mengayomi kami tentang ketaatan. Ah, lelaki setan apalagi, yang akan aku ceritakan.  
Semua tambah berubah, setelah adikku meracau kehidupan kami. Sok bisnis besar-besaran. Buat lubang hutang sebesar entah. Ratusan juta. Bilangan yang tak pernah tercatat dalam rekeningku, yang hanya seorang buruh negara. Apalagi yang akan aku lakukan untuknya? Sudah. Sudahku ku gadaikan semuanya. Semua jaminan itu aku berikan untuknya. Menutupi lubang besar itu. Itulah salah satu tanggung jawabku sebagai kakak. Sebagai KAKAK yang malang! 
Aku bukan BAPAKnya. Bukan orang yang bertanggung jawab atasnya. Aku tak berdosa karena dia salah langkah begitu. Tapi, akhirnya aku yang lakukan semua itu. Oke, semua itu aku relakan. Barangkali Tuhan mengajarkanku keikhlasan. 
Tak hanya sekali rupanya, adikku juga membuat lubang lagi. Entah atas bisnis apa lagi. Aku ragu itu hanya soal bisnis dan hutang –piutang dengan rentenir. Itu lebih besar. Penyekutuan Tuhan. Tuhan marah padanya. Tambah lagi gaya hidup yang sudah mendarah daging itu. Foya-foya. Sok kaya. Masih menyangka dirinya anak siapa. Padahal semua sudah masa lalu. 
Dan. Dimana Bapakku saat itu? Ia ada. Ada di rumah kami. Makan. Merokok. Kencing. Memancing. Ya, itu saja kerjanya lelaki setan itu. Sesekali ia pergi ke kontrakan adikku yang turunan setan itu juga. Berdua mereka. Ber-iya-iya entah tentang apa lagi. Memperbincangkan keburukan keluarga. Menyebut-nyebut orang yang tak peduli. Ah, setan. Aku benci sekali. 
“Dasar kau!” Plak!! Itulah puncak setahun ini. Aku menampar adikku. Tak tahan rasanya. Ia membentak Ibuk. Ibuku!! 
“Apa kau bilang?? Kau yang sopan ya bicara pada ibuku, SETAN! Kau, berani-beraninya bicara begitu pada ibuku hah! Sekali lagi kau begitu, kubunuh kau. Dan, kalian. Siapa saja yang berani kasar pada ibuku, ku bunuh!” Aku juga menjambak rambutnya.
Tak menyangka aku. Kata-kata itu keluar begitu saja. Adikku sesak. Menangis. Berlari.
“Tahan setan itu! Kunci pintu!” aku berteriak pada siapa saja. Kalap.
“Hei, mau kemana kau hah?! Kau mau keluar? Pergi dengan kondisi ini? Lalu kecelakaan? Kau tinggalkan hutang-hutangmu pada kami? Setan!” aku mencekiknya.
Oh Tuhan! Sebegitunyakah sesak yang aku rasa selama ini? Sampai sebegini kasarnya aku. Aku terisak. Ikut menangis. Berdua beradik ini menangis.  
Bapak dimana?
Bapak datang. Mendekat. Dengan langkah patah-patah setelah kecelakaan kemarin. Pagi kemarin itu Bapak terjatuh dari motor, menghindari anak kecil yang menyeberang sembarangan. Bapak menatapku, membentak. 
“Hentikan. Sudah. Sudah!”
Aku tak peduli. Leher setan yang satu itu masih dalam genggamanku walau sudah melemah. Ia terisak. Mengungu. Tak jelas lagi apa yang ia katakan. 
“Sudah apa? Kau jangan ikut campur urusanku!” aku balik membentak Bapak.
Lelaki setan yang satu lagi itu meninggalkan kami. Ia juga tergugu. Terisak. Menangis di ruang tamu. 
Apa? Apa kalian?? Mari kita tuntaskan kesengsaraan ini... Aku membatin. Satu sesak berubah lapang di dadaku. 
Adikku makin sesak. Susah sekali ia bernafas. Aku cemas. Aku raih al quran. Ingin meruqyahnya. Aku bacakan Yaasin. Ku pikir saat itu, ‘setan’ yang mengikutinya itu sedang masuk. Sedang di tubuhnya. Karena tatapan adikku bukan lagi dia. Tangan dan kakinya kaku. Sungguh, aku benar mencemaskannya. 
Aku sebetulnya sayang dia. Aku hanya ingin ‘setan’nya pergi. Ia terlalu berani untuk semua ini, pastilah karna ada ‘setan’ itu. Aku hanya inginkan adikku yang baik. Bukan dibawah kendali setan-setan itu. 
Ibuk meraih tangan adikku. Berkata lemah lembut padanya. Mengajaknya berdiri. Berwudhu. Ia lemah. Berdiri pun tak sanggup. 
Aku membiarkan semuanya berlalu dengan diam. Membiarkan setan-setan itu berkeliaran. Membiarkan pula, diriku kalah, dirasuki setan itu.

***
Bukankah bulan Ramadhan setan itu dibelenggu? Pertanyaan adikku saat belajar agama di sekolah dasar dulu.


Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...