Orang Ketiga


-Di rumah biru, sebuah perumahan sudut kotaku-

Aku bukanlah seorang perempuan pengganggu rumah tangga orang. Apalah, mau menjadi orang ketiga di antara pasangan suami istri? Bukan, bukan aku! Justru rumah tanggaku tengah terancam seseorang, ya, orang ketiga itu. Kau mau mendengarkan? Baiklah, aku akan bercerita sedikit, kepadamu saja.  (Perempuan seringkali berkata demikian, -saja-, saat itu. Lain kali, ia bercerita kepada orang lain.) 

Perempuan itu. Dia telah hadir dalam kehidupan rumah tangga kami, kira-kira sekitar sebulan yang lalu. Waktu itu kami bertemu di sebuah acara, semacam arisan orang-orang tempat suamiku bekerja. Dia memang sepertinya perempuan baik-baik. Bekerja baik, berasal dari keluarga baik-baik. Aku tau itu, saat sekilas dia pernah menyebut saudara perempuannya, seorang dokter di kampungnya. Padahal orang tuanya hanyalah seorang petani. Dan aku menyimpulkan, keluarga 'anak ini' pastilah baik.

Setelah berkomunikasi, dan merasa akrab, aku lalu mengajaknya, beberapa kali main ke rumah. Satu kali, saat aku membuat kerajinan tangan. Aku mengajaknya melihat ke rumah. Saat itu hanya ada aku. Di kali yang lain, dia ke rumah mengantar oleh-oleh dari Solo. Ia baru saja ditugaskan ke sana. Dan, karena aku menagih oleh-oleh padanya lewat medsos, dia mampir mengantar oleh-oleh itu. Inilah, awal aku merasa curiga.

Kau tau 'kan, feeling perempuan itu terlalu kuat?! Sore itu, si perempuan itu datang ke rumahku. Aku sedang di lantai atas, suamiku di halaman depan, mengecek, mengotak-atik motornya, yang sudah cukup lama tak dipakai. Tiba-tiba aku menyaksikan mereka berbincang, dari lantai atas. Akrab sekali. Suamiku terlihat tertawa lepas. Saat si perempuan itu aku persilakan masuk, jujur, aku memang tidak begitu senang dengan kehadirannya. Aku menerima oleh-olehnya, dan tak sempat memberi minum, lalu ia pamit. Mungkin sadar, bahwa ia sedang berada pada situasi yang tidak tepat.

Aku pun gelisah. Aku sering bertanya pada suami. Kegiatan kantornya, apakah ada rapat gabungan, apakah bertemu dengan si perempuan itu. Memang dari kantor suami ke kantor perempuan itu tidak begitu jauh. Mereka masih satu atasan. Pastinya, kemungkinan bertemu, berpapasan dengan suamiku, ada.

Apakah ia tertarik dengan suamiku? Aku ragu. Dengan daya tariknya begitu, ia pasti dapatkan yang jauh-jauh lebih menarik daripada suamiku -yang biasa-biasa ini-. Selain pintar, tubuhnya masih ideal, ia juga supel. Mana mungkinlah, ia tertarik dengan suamiku. Aku menepis segala kemungkinan.

Sebaliknya, aku curiga, suamiku telah tertarik dengan perempuan itu. Ahh.. feeling perempuan begitu kuat 'kan? Aku yakin, mereka sering komunikasi. Atau, mereka sering jalan bersama? Kalau begitu, apakah menurutmu, perempuan itu masih perempuan baik-baik? Mau-maunya menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang, dimana baiknya, ya 'kan?! 

Hmm. Begitu kesimpulanmu?

Ya. Kau sudah cukup dewasa untuk mengerti kehidupan berumah tangga. Suatu kali, kau akan mengerti kecemasan-kecemasan seorang istri, yang sudah sekian tahun menikah, tak kunjung dikaruniai anak. Suami sibuk bekerja. Kau juga tak punya banyak kawan lagi. Kadang-kadang aku berpikir, untuk bercerita kepada kawan lama. Lebih tepatnya, 'seseorang di masa lalu' itu. Dia pasti mau mendengarkanku, atau mungkin saja dia punya solusi. hmh. 

Jangan. Itu bukan solusi. Lalu, apa respon suamimu, saat kau bertanya macam-macam?


Awalnya biasa saja. Ia menjawab sebisanya. Tidak ada apa-apa antara dia dengan perempuan itu. Tapi, beberapa waktu lalu, aku bersikap dingin terhadapnya. Dia bertanya, aku menjawab datar (untuk tak menyebut: ketus), aku alasan saja, sedang 'M'. Setelah itu, ia seperti selalu menghindari ceritaku, tak banyak komentar, menjadi lebih sibuk dengan laptopnya, sering otak-atik motornya.

Oke, sekarang dengarkan aku. Aku punya beberapa analisa.

Pertama, Kau terlalu mengkhawatirkan hal-hal kecil, yang terkadang (akan) mengganggu kestabilan emosimu. Perempuan yang berada dalam tekanan perasaannya, akan berbicara lebih banyak; cerewet. Ketika kau merasa curiga dengan suamimu sendiri, artinya kau telah melupakan kepercayaan. Bagi laki-laki, kepercayaan terhadapnya, adalah satu jurus utama. Kau akan menjadi lebih posesif, dipenuhi rasa curiga, dan tanya ini itu, termasuk urusannya. Pikiranmu, menggiringmu pada dugaan-dugaan tak beralasan. Suamimu akan muak dengan semua itu.

Kedua, kau menuduh mereka selingkuh, begitu?! Ayolah.. si perempuan pintar, katamu itu, mana mau. Dia juga punya masa depan 'kan? Kau sendiri sudah punya penilaian baik terhadapnya. Jangan racuni pikiranmu dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi menjadi mungkin.
Kau tau, selingkuh bisa saja terjadi, karena salah seorang itu tertuduh. Atau, mumpung sudah menjadi tertuduh, kenapa tidak sekalian, selingkuh? Dan, selingkuh tidak terjadi tiba-tiba, ia seperti bom waktu yang akan meledak, seketika. Suamimu bisa saja memendam, diam-diam, dan mengabaikan kicauanmu, ia lagi ke dalam 'gua', menjadi sebenarnya lelaki. Abai terhadap lingkungannya, terhadap cerita-ceritamu (biasanya). Tapi, suatu waktu, kalau ia meledak? Kau siap?

Ketiga, Orang ketiga -seperti tuduhanmu terhadap perempuan itu- jika benar menjadi penyebab keretakan rumah tanggamu, menurutku, orang ketiga bukanlah sebab. Ia hanya sebagai akibat. Akibat apa? Banyak!
Bisa jadi, akibat ketidak nyamanan suamimu denganmu. Akibat ketidak percayaanmu terhadap dirinya lagi. Akibat ini, itu, dan seterusnya, aku tak tau. Kau perlu introspeksi diri, Nyonya.

Ayolah, jangan menangis. Kau tidak sedang 'M' kan?
Oh ya, tentang 'M' itu, jangan bersandar pada teori-teori bahwa: perempuan merasa punya waktu untuk berkuasa. Saat 'M' adalah waktu paling 'hebat', untuk bersikap seperti apa, berkata bagaimana, atau menanggapi apapun sekehendaknya. Ini tidak tepat. Benar, bila kau perlu memahami suamimu mengotak-atik motornya, setelah lama tak digunakan. Tapi jika setiap hari? Kau harus menerima juga? Sebaliknya, haruskah perlakuan 'moody' itu menjadi kekuasaanmu pada saat-saat tertentu itu? Ah, aku harus menjelaskan sesuatu yang rumit, dan bisa-bisa diserang semua perempuan. Heheh. Yang pasti, kau cobalah, kendalikan emosi dan pikiran-pikiranmu pada saat-saat sensitif itu. Prinsipnya, jangan hanya ingin dipahami, cobalah memahami. Lebih tepatnya, saling.

Lalu,,,

Sudahlah. Kau bisa pulang. 
Wah?! Hahaha. Maafkan aku, aku terbawa suasana ini. Aku bermaksud menyampaikan pendapatku, teman. Maafkanlah, jika kau tak dapatkan seperti inginmu.


Aku juga, maafkan. 
Satu lagi, boleh? Sebelum aku pulang, kelima, kuharap kau cerna kata-kataku tadi. Pertahankan rumah tanggamu! Kabarnya, cekcok itu biasa, penyesuaian. Jangan berlama-lama, komunikasikan. Jangan lebih dulu bercerita kemana-mana, bicarakan dulu berdua. Hubungan yang saling menuntut bisa menjadi baik, bila saling menuntun. Hah, aku ini mengerti apa sih. Haha. Aku pulang ya? Semoga baik-baik saja.


Iya, Sudah sore. Hehehe. Kau memang mengerti apa?! Teorinya saja.. Cobalah! (Ia terlihat benar-benar tersenyum kini)

Haha. Betul juga. 


-Jalan pulang-
 ***
Betul juga. Kadang aku memang tak mengerti apa-apa. Mengerti hanya dari buku. Memperhatikan kasus-kasus dan problem rumah tangga orang. Mendengar cerita semacam ini juga. Mencoba? Takut. 
Hahaha. 
***

Lampu merah. Belok kiri jalan terus. Klakson mobil di belakang membuyarkan lamunan. Dicoba? "Buat anak kok coba-coba", Kata iklan sih begitu. "Hubungan begitu, kok coba-coba.."

Comments

Populer

Prosesi Pelaksanaan Akad Nikah (versi sederhana Adat Minangkabau)

Kantung Mata Perempuan