![]() |
Menyulam |
Pernah dengar Sulaman Koto
Gadang?
Sulaman Koto Gadang, adalah
sulaman spesifik Minangkabau yang berasal dari daerah Koto Gadang, IV Koto,
Kabupaten Agam. Salah satu 'rumah produksi' sulaman itu zaman dahulu, adalah di Kerajinan Amai Setia, Koto Gadang.
Di tulisan lain dalam blog ini pernah dibahas juga tentang Kerajinan Amai Setia yang didirikan oleh Rohana Koeddoes tahun 1911 lalu. Sepintas kita ulas lagi, di pusat Kerajinan Amai Setia itu, Rohana mengajarkan bermacam-macam keterampilan rumah tangga untuk perempuan. Lewat kawannya, hasil kerajinan hasil pelatihan keterampilan itu kemudian dipasarkan sampai kepada petinggi Belanda. Bahkan dikirim sampai ke Eropa. Maka terkenallah sulaman koto gadang, hingga hari ini.
Di tulisan lain dalam blog ini pernah dibahas juga tentang Kerajinan Amai Setia yang didirikan oleh Rohana Koeddoes tahun 1911 lalu. Sepintas kita ulas lagi, di pusat Kerajinan Amai Setia itu, Rohana mengajarkan bermacam-macam keterampilan rumah tangga untuk perempuan. Lewat kawannya, hasil kerajinan hasil pelatihan keterampilan itu kemudian dipasarkan sampai kepada petinggi Belanda. Bahkan dikirim sampai ke Eropa. Maka terkenallah sulaman koto gadang, hingga hari ini.
Selendang Koto Gadang disulam dengan jenis sulam Suji Caia dan Kapalo
Samek. Dengan ciri khas warna yang mencolok, bunga besar dan disulam
dengan benang emas selendang ini tentu ada pasarnya. Harga sesuai dengan
kerumitan dan keaslian sulaman itu. Semakin rumit dan detil sulaman, semakin
tinggi harga. Tapi yang namanya produk budaya yang khas, betapapun mahalnya,
ada selalu kolektor/penyukanya.
Saya pribadi bukanlah penyuka hal-hal yang
begitu tradisi. Karena kadang prinsipnya, yang lebih simpel, lebih mudah, lebih
praktis lebih disukai. Namun ternyata, pada kondisi-kondisi tertentu kita wajib tahu dan
mengerti atau bahkan mencoba hal-hal yang bersifat tradisi itu, meskipun sedikit rumit atau unik. Bukan untuk
tetap menjadi tradisional, namun siapa lagi yang akan melestarikan tradisi
budaya kita kan.
Jadilah, dalam suatu
kegiatan, untuk pertama kalinya saya mengenakan Salendang Koto Gadang.
Pasangannya untuk salendang yang dijadikan 'raok' itu, ya busana yang tepat
mewakili budaya Minang, yakni Baju Kuruang atau Baju Basiba.
Katanya, kita akan bertemu
hal-hal yang sedang berada dalam pikiran. Tiba-tiba saya bertemu ibu-ibu Bundo
Kanduang yang sedang menyulam Selendang Koto Gadang. Indah tampaknya
pemandangan itu.
Di saat, hari-hari ini ibu-ibu yang duduk di halaman rumah, atau mengisi waktu santai dengan gadget, pemandangan ibu yang sedang menyulam ini menjadi unik. Padahal, sekian tahun lalu, menyulamlah tradisi para perempuan dalam mengisi waktu. Haha. Lama-lama saya kembali ke masa-masa foto yang hanya berwarna hitam-putih.
Di saat, hari-hari ini ibu-ibu yang duduk di halaman rumah, atau mengisi waktu santai dengan gadget, pemandangan ibu yang sedang menyulam ini menjadi unik. Padahal, sekian tahun lalu, menyulamlah tradisi para perempuan dalam mengisi waktu. Haha. Lama-lama saya kembali ke masa-masa foto yang hanya berwarna hitam-putih.
Setelah bercerita dengan si ibu, ternyata ini bukanlah
'sulaman utuh' suji caia. Sulaman yang ada di foto itu, adalah
versi kekinian yang dibantu sulam oleh mesin bordir komputer. Selanjutnya
bunga-bunga bordirnya diperkuat dengan benang emas. Bagian pinggir selendang
juga disulam dengan benang emas. Sekilas memang tampak mirip, tapi jelas berbeda.
Di satu sisi, teknologi memang memudahkan segalanya kan ya. Tapi di sisi lain, orisinalitas produk budaya dapat berkurang disebabkan penggunaan teknologi. hallaah. teori. :D
No comments:
Post a Comment