Kalau begitu, saia sarankan kepada para ibu, perempuan, gadis-gadis, lebih baik bekerja sebagai ibu rumah tangga. Berbanggalah, bisa bekerja menjadi ibu yang baik. Dibanding 'tersandera' dengan aturan dan alasan-alasan.
30.3.13
My Word #7
27.3.13
PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK
Oleh : Miftahul Hidayati, S.Pd.I
I.
Pendahuluan
Pemerolehan
bahasa, sebagaimana telah dijelaskan pada makalah terdahulu, merupakan proses
yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika si anak menerima/memperoleh
bahasa pertamanya. Proses itu pun dibagi lagi kepada dua, pertama proses
kompetensi, dan kedua, proses performasi. Kompetensi merupakan proses
penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Sedangkan
performasi merupakan proses yang lahir dari penguasaan anak tersebut setelah
kompetensi dikuasai.
Terdapat
berbagai teori atau hipotesis seputar pemerolehan bahasa, diantaranya hipotesis
nurani, hipotesis tabularasa dan hipotesis kesemestaan kognitif. Masing-masing
teori ini memiliki ciri yang berbeda satu sama lain. Hipotesis nurani misalnya,
teori ini lebih memberikan penekanan bahwa pemerolehan bahasa yang terjadi pada
anak-anak disebabkan karena manusia lahir dengan dilengkapi oleh suatu alat
yang memungkinkan dapat berbahasa dengan mudah dan cepat. Menurut Chomsky, alat
khusus tersebut adalah language acquistion device (LAD).
Berbeda dengan teori tabularasa yang
menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan diibaratkan seperti kertas
kosong, yang nanti akan ditulis dengan pengalaman-pengalaman. Bahasa terlahir
dari bentuk S-R, stimulus –respon. Lain lagi dengan teori John Locke ini,
Piaget mengkaji perkembangan kognitif yang mencakup bahasan tentang bahasa,
yang kemudian dikenal dengan hipotesis kesemestaan kognitif.
Lebih lanjut pembahasan ini mengarah
kepada kajian apa yang mula-mula dibahas jika disebutkan tentang pemerolehan
bahasa. Banyak pakar yang menganggap bahwa pemerolehan sintaksis dimulai ketika
kanak-kanak mulai dapat menggabungkan dua kata atau lebih. Selanjutnya, dalam
psikolinguistik dikaji tentang pemerolehan semantik dan fonologi.
Makalah
ini akan membahas tentang pemerolehan bahasa pada anak, teori-teori yang
berkaitan dengannya, dan bagaimana perkembangan bahasa pada anak.
Pembahasan
ini disajikan dengan merujuk kepada beberapa referensi kepustakaan yang
berkaitan dengan psikolinguistik. Penyajiannya disampaikan dalam format
makalah, kemudian didiskusikan. Semoga makalah ini bermanfaat dan menambah
khazanah keilmuan.
II.
Pemerolehan Bahasa pada Anak-anak
Proses
pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa. Pemerolehan bahasa lebih
kepada bahasa pertama atau bahasa ibu, sedangkan pembelajaran bahasa berkaitan
dengan proses yang terjadi ketika seseorang mempelajari bahasa kedua dan
seterusnya. Dengan demikian, jika mengkaji tentang bagaimana seorang anak
berproses dalam berbahasa, lebih tepat tentu digunakan istilah pemerolehan. Meskipun
tetap ada yang menggunakan istilah pemerolehan bahasa tersebut untuk bahasa
kedua.
A.
Munculnya Bahasa pada Anak-anak
Sejak bayi, anak telah berinteraksi di dalam lingkungan sosialnya. Anak
selalu diajak bicara oleh orang tuanya. Bayi diperlakukan seolah-olah dapat
berbicara, dan mengerti apa makna pembicaraan. Di sini sudah terjadi komunikasi
dua arah antara si anak dan orang tuanya. Orang tua berusaha menanggapi setiap
reaksi bayi dan bertindak seolah-olah reaksi bayi tersebut ada maknanya dan
perlu ditanggapi. Melalui bahasa khususnya bahasa pertama, seorang anak belajar
untuk menjadi anggota masyarakat. Dengan demikian bahasa ibu (bahasa pertama)
menjadi salah satu sarana bagi seorang anak untuk mengungkapkan perasaan,
keinginan, pendirian, gagasan, harapan, dan sebagainya.
Anak belajar pula bahwa ada bentuk-bentuk yang tidak dapat diterima anggota
masyarakatnya dan ia tahu bahwa tidak selalu ia dapat mengungkapkan perasaannya.
Ujaran yang dituturkan secara salah dari seorang anak masih dapat dimaklumi,
tetapi ia harus sudah mulai belajar bahwa
ada norma budaya tertentu yang harus diperhatikan.
Ada ciri lain yang khas dari seorang anak ketika sudah masuk
sekolah dasar yaitu keinginan yang kuat untuk menyatu dengan anggota masyarakat
sekelilingnya, khususnya dengan anak sebayanya. Kalau anak-anak sebayanya
menggunakan kata-kata seperti: asyik oke,bo, mah, tea, bokap, nyokap dan
sebagainya, maka dengan segera istilah-istilah itu akan digunakannya juga.[1]
Dari sinilah muncul dan berkembangnya bahasa pada anak.
B.
Ragam Ungkapan pada Anak dan Ragam Bunyi yang Diungkapkan Anak
Bila dilihat dari sisi perkembangan bicara pada anak, ada tiga
bentuk perkembangan, pertama menangis, menceracau dan gesture
(gerak-gerik). Meracau muncul saat bayi berusia enam bulan dalam bentuk
mengkombinasikan bunyi hidup dan bunyi mati. Seperti ma-ma, na-na. Hal ini
mencapai puncaknya pada usia delapan bulan, untuk akhirnya berubah secara
bertahap menjadi kata-kata yang jelas.[2]
Selanjutnya perilaku bicara bayi adalah tahap pemahaman. Meskipun perkembangan
pemahaman bukan sesuatu yang datang otomatis kepada bayi, tapi melalui
kata-kata dan ekspresi wajah yang diperkenalkan bayi akan mengerti.
Bahasa pada bayi berkembang melalui
beberapa tahapan umum:
1.
Mengoceh (3-6 bulan)
2.
Kata pertama yang dipahami (6-9
bulan)
3.
Instruksi sederhana yang dipahami
(9-12 bulan)
4.
Kata pertama yang diucapkan (10-15
bulan)
5.
Penambahan dan penerimaan kosa kata
(lebih dari 300 kata pada usia 2 tahun).
6.
Tiga tahun ke depan kosa kata akan
berkembang lebih pesat lagi
Pengenalan
bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang
baik. Tiga faktor diatas saling mendukung untuk menghasilakan kemampuan
berbahasa maksimal. Orang tua, khususnya, harus memberikan stimulus yang
positif pada pengembangan keterampilan bahasa pada anak, seperti berkomunikasi
pada anak dengan kata-kata yang baik dan mendidik, berbicara secara halus, dan
sebisa mungkin membuat anak merasa nyaman dalam suasana kondusif rumah tangga
yang harmonis, rukun, dan damai. Hal tersebut dapat menstimulus anak untuk bisa
belajar berkomunikasi dengan baik karena jika anak distimulus secara positif
maka akan mungkin untuk anak merespon secara positif pula.[3]
C.
Teori Pemerolehan Sintaksis
a.
Teori
Tata Bahasa Pivot
Kajian
mengenai pemerolehan sintaksis oleh kanak-kanak dimukai oleh Braene (1963),
Bellugi (1964), Brown dan Fraser (1964), dan Miller dan Ervin (1964). Menurut
kajian awal ini ucapan dua kata kanak-kanak ini terdiri dari dua jenis kata
menurut posisi dan frekuensi munculnya kata-kata itu di dalam kalimat. Kedua
jenis kata ini kemudian dikenal dengan nama kelas Pivot dan kelas terbuka.
Kemudian
berdasarkan kedua jenis kata ini lahirlah teori yang disebut teori tata bahasa Pivot.
Pada umumnya kata-kata yang termasuk kelas Pivot adalah kata-kata fungsi
(function words), sedangkan yang termasuk kelas terbuka adalah kata-kata isi
(contents words) atau kata penuh (full words) seperti kata-kata berkategori
nomina dan verba.[4]
Ciri-ciri umum
kedua jenis kata ini adalah sebagai berikut:
Kelas Pivot
|
Kelas Terbuka
|
1.
Terdapat
pada awal atau akhir kalimat
|
Dapat
muncul pada awal dan akhir kalimat
|
2.
Jumlahnya
terbatas, tetapi sering muncul
|
Jumlahnya
tidak terbatas, sehingga tidak begitu seirng muncul
|
3.
Jarang
muncul anggota baru (kata baru)
|
Sering
muncul anggota baru (kata baru)
|
4.
Tidak
pernah muncul sendirian
|
Bisa
muncul sendirian
|
5.
Tidak
pernah muncul bersama dalam satu kalimat
|
Bisa
muncul bersama dalam satu kalimat, atau juga dari kelas pivot
|
6.
Tidak
punya rujukan sendiri, tetapi selalu merujuk pada kata-kata lain dari
terbuka.
|
Mempunyai
rujukan sendiri.
|
Berdasarkan
data yang termuat pada kolom kelas pivot dan kelas terbuka di atas, dapat
diketahui perbedaan satu sama lainnya. Tentang hal ini, diberikan contoh kata
seperti kata want adalah kata pivot pada posisi awal kalimat, sedangkan
kata milk adalah kata terbuka yang muncul pada posisi akhir kalimat.
b.
Teori
Hubungan Tata Bahasa Nurani
Tata bahasa
generatif transformasi dari Chomsky sangat terasa pengaruhnya dalam pengkajian
perkembangan sintaksis kanak-kanak. Menurut Chomsky hubungan-hubungan tata
bahasa tertentu seperti “subject-of, prediket-of, dan direct object of” adalah
versifat universal dan dimiliki oleh semua bahasa yang ada di dunia.[5]
Pengetahuan anak-anak tentang hal ini, sifatnya adalah “nurani”.
Selanjutnya,
menurut Simanjuntak, hendaknya pengetahuan yang telah diperoleh anak-anak sejak
lahir ini mengenai rumus-rumus struktur dasar tata bahasa dan rumus
transformasi dan fonologi menentukan bentuk ucapan anak-anak. Misalnya urutan S (subject) +V (verba) + O
(object/yang sifatnya opsional).
c.
Teori
Hubungan Tata Bahasa dan Informasi Situasi
Bloom,
berpendapat bahwa hubungan tata bahasa nurani saja belumlah memadai, sehingga
ia berpendapat bahwa suatu gabungan kata telah digunakan oleh anak-anak dalam
situasi yang berlainan. Misalkan kata mommy-sick, kedua kata ini di satu
sisi merupakan subjek objek, sedangkan pada situasi kedua bisa menjadi hubungan
pemilik-objek.
Digunakannya
sebuah kata untuk mewakili beberapa situasi akan menyebabkan gabungan kata itu
menjadi taksa (ambigu) dan meragukan. Untuk itu, informasi situasi dianggap
menjadi salah satu pertolongan dalam menentukan hubungan kata tersebut.
d.
Teori
Kumulatif Kompleks
Teori ini
dikemukakan oleh Brown berdasarkan data yang dikumpulkannya. Menurutnya, urutan
pemerolehan sintasksis oleh anak-anak ditentukan oleh kumulatif kompleks
semantik morfem dan kumulatif kompleks tata bahasa yang sedang diperoleh itu,
bukan ditentukan oleh frekuensi munculnya kata tersebut.
e.
Teori
Pendekatan Semantik
Teori ini
diperkenalkan oleh Bloom. Dia mengintegrasikan pengetahuan semantik dalam
pengkajian perkembangan sintaksis ini berdasarkan teori generatif
transformasinya Chomsky.
Teori generatif
transformasi ini menyatakan bahwa kalimat-kalimat yang didengar dibangkitkan
dari struktur dan rumus fisiologi. Sedangkan struktur luar dibangkitkan dari
struktur dalam dengan rumus transformasi. Sehingga tata bahasa merupakan satu
sistem yang menghubungkan bunyi ke makna. Dalam hal ini, struktur dasar memberi
masukan kepada komponen semantik, dan struktur memberi masukan kepada fonologi.
Melalui teori
ini dapat disimpulkan bahwa untuk mengkaji atau menganalisis pengetahuan tata
bahasa, mesti dilibatkan semantik dan hubungan semantik itu sendiri.
Selanjutnya, perkembangan semantik inilah yang menjadi fokus kajian dalam
psikolinguistik.
D.
Teori Pemerolehan Semantik
Dalam proses menyusun dan memahami pesan lewat kode kebahasaan,
unsur-unsur kejiwaan seperti kesadaran batin, pikiran, asosiasi, maupun
pengalaman, jelas tidak dapat diabaikan.[6] Untuk
mengkaji pemerolehan bahasa, di samping teori sintaksis, perlu dikaji pula
bentuk makna dan arti kata melalui kajian semantik.
Berikut ini teori tentang pemerolehan bahasa melalui makna atau
arti kata, diantaranya yaitu:
a.
Teori
Hipotesis Fitur Semantik
Clark menyimpulkan perkembangan
pemerolehan semantik ini ke dalam empat tahap, yaitu:
1.
Tahap
penyempitan makna kata
Teori
ini berlangsung antara umur satu sampai satu setengah tahun. Pada tahap ini
anak-anak menganggap satu benda tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi
nama dari benda itu.
Misalnya
guk-guk, meong dan lain sebagainya.
2.
Tahap
Generalisasi berlebihan
Tahap ini berlangsung antara usia satu tahun setengah sampai dua
tahun. Pada tahap ini anak-anak dapat menggeneralisasikan makna suatu kata
secara berlebihan. Anjing atau gukguk adalah semua binatang yang berkaki empat,
termasuk kambing dan kerbau.
3.
Tahap
medan semantik
Tahap
ini berlangsung antara usia dua tahun setengah sampai lima tahun. Pada tahap
ini anak mengelompokkan kata yang berkaitan ke dalam satu medan semantik.
Misalnya, anjing adalah semua binatang yang berkaki empat, namun setelah
mengenal kambing, maka anjing hanyalah untuk makna anjing.
4.
Tahap
generalisasi
Tahap
ini berlangsung setelah anak berusia lima tahun. Pada tahap ini anak telah
mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi. Misalnya mereka telah
mengenal apa yang dimaksud dengan hewan. [7]
b.
Teori
Hipotesis Hubungan – Hubungan Gramatikal
Teori ini diperkenalkan oleh Mc.Neil. Menurutnya anak-anak telah
dilengkapi dengan hubungan gramatikal yang dalam, yang nurani sejak lahir.
Adapun fitur semantik hanya perlu pada tahap lanjutan pemerolehan semantik ini.
c.
Teori
Hipotesis Generalisasi
Teori ini
diperkenalkan oleh Anglin. Menurutnya perkembangan semantik anak-anak mengikuti
satu proses generalisasi, yakni kemampuan melihat hubungan semantik antara
nama-nama benda, mulai dari yang kongkret sampai yang abstrak. Misalkan, mawar,
melati, dll, dikelompokkan ke bunga. Lalu selanjutnya, bunga dikelompokkan ke
kelompok yang lebih tinggi, tumbuh-tumbuhan.
d.
Teori
Hipotesis Primitif-Primitif Universal
Teori ini
diperkenalkan oleh Postal, lalu dikembangkan oleh Bierwisch. Menurut Postal,
semua bahasa yang ada di dunia ini dilandasi oleh satu perangkat primitif
semantik universal, dan rumus – rumus untuk menggabungkan primitif semantik ini
dengan butir-butir leksikal. Sedangkan primitif semantik itu mempunyai satu
hubungan yang sudah ditetapkan sejak awal, yang ditentukan oleh struktur
biologi manusia itu sendiri.
Dalam
pemerolehan bahasa, menurut Bierwisch, anak-anak tidak perlu mempelajari
komponen-komponen makna itu, karena komponen makna itu telah tersedia sejak dia
lahir. Yang perlu dipelajari adalah hubungan komponen ini dengan fonologi dan
sintaksis bahasanya.[8]
E.
Teori Pemerolehan Fonologi
a.
Teori
Struktural Universal
Teori ini
dikembangkan oleh Jacobson, oleh sebab itu teori ini juga dikenal dengan teori
Jakobson. Teori ini menjelaskan tentang pemerolehan fonologi berdasarkan
struktur-struktur universal linguistik, yakni hukum-hukum struktural yang
mengatur setiap perubahan bunyi.
b.
Teori
Generatif Struktural Universal
Teori
struktural universala ini diperluas oleh Moskowitz dengan menerapkan
unsur-unsur fonologi generatif yang diperkenalkan oleh Chomsky dan Halle.
Moskowitz menolak pendapat bahwa pemerolehan tahap fonetik berlaku dengan
cara-cara yang sama bagi semua anak-anak di dunia. Namun, ia mengakui bahwa ada
satu set sekatan yang harus dikenakan pada urutan pemerolehan representasi
fonologi yang kurang jelas karena adanya interferensi fonetik.
c.
Teori
Proses Fonologi Alamiah
Teori ini
diperkenalkan oleh David Stampe. Menurutnya proses fonologi anak-anak bersifat
nurani yang harus mengalami penindasan (supres), pembatasan dan pengaturan
sesuai dengan penuranian representasi fonemik orang dewasa.
d.
Teori
Prosodi-Akustik
Teori ini
diperkenalkan oleh Waterson. Ia menganggap pendekatan fonemik yang bersifat
segmental perlu diubah menjadi non segmental. Menurutnya pemerolehan bahasa
adalah satu proses sosial sehingga kajiannya lebih tepat dilakukan di rumah
dalam konteks sosial yang sebenarnya daripada pengkajian data-data eksperimen,
lebih-lebih untuk mengetahui pemerolehan fonologi.
e.
Teori
kontras dan Proses
Teori ini
diperkenalkan oleh Ingram. Teori ini menggabungkan bagian-bagian penting dari
teori Jakobson dengan Stampe, kemudian menyelaraskan hasil tersebut dengan
teori perkembangan Piaget.
Menurutnya
anak-anak memperoleh sistem fonologi orang dewasa dengan cara menciptakan
strukturnya sendiri, dan kemudian mengubah struktur ini jika pengetahuannya
mengenai sistem ini semakin baik.
F.
Perkembangan Bahasa pada Anak
Setiap anak harus menguasai semua
peringkat bahasa, tidak hanya ucapan yang tepat tetapi juga bagaimana cara
menggabungkan kata menjadi kalimat untuk mengungkapkan gagasan. Upaya ini dapat
diselesaikan anak –dari berbagai budaya- dalam waktu empat sampai lima tahun.
Rata-rata mereka mengalami urutan perkembangan yang sama.[9]
Ada beberapa teori yang menjelaskan
tentang perkembangan bahasa pada anak, yaitu:
a.
Teori
Perkembangan Bahasa Anak
Penelitian yang
dilakukan terhadap perkembangan bahasa anak tentunya tidak terlepas dari
pandangan, atau teori psikologi yang dianut. Dalam hal ini ada tiga teori
tentang perkembangan bahasa pada anak, yaitu:
i.
Pandangan
Nativisme
Aliran ini
berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa pertama, anak-anak (manusia)
sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah
diprogramkan. Pandangan ini tidak menganggap lingkungan punya pengaruh dalam
pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian
biologis, sejalan dengan yang disebut “hipotesis pemberian alam.”
Pendapat teori
ini, bahasa terlalu kompleks untuk dapat dikuasai dalam waktu yang singkat,
sehingga pasti ada beberapa aspek yang sudah ada pada manusia secara alamiah.
Chomsky bahkan
berendapat bahwa bahasa tak hanya kompleks, tapi penuh kesalahan atau
penyimpangan. Bahasa hanya dapat dikuasai manusia, dan tidak dapat dikuasai
oleh binatang. Masih menurut Chomsky, anak dilahirkan dengan bekal Language
Acquisition Device (LAD).
ii.
Pandangan
Behaviorisme
Kelompok ini
menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri
si anak, yaitu oleh ransangan yang diberikan melalui lingkungan. Bahasa
dipahami oleh kelompok ini sebagai perilaku verbal, agar tampak lebih mirip
dengan perilaku lain yang harus dipelajari.
Menurut
pandangan ini, tidak ada peran aktif si anak dalam pemerolehan bahasa. Proses
perkembangan bahasa terutama ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan
oleh lingkungannya. Ransangan / stimulus lah yang akan memperkuat kemampuan berbahasa
anak.
iii.
Pandangan
Kognitivisme
Jean Piaget
menyatakan bahwa urut-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan
perkembangan bahasa. Menurutnya perkembangan bahasa pada anak dapat dilihat
dari perkembangan intelektualnya. Tahap perkembangan dari lahir hingga usia 18
bulan disebut Pieget sebagai tahap “sensosi motor”. Pada tahap ini belum ada
bahasa, karena anak belum menggunakan lambang-lambang untuk menunjuk pada
benda-benda di sekitarnya. Anak hanya memahami melalui indranya (sensory), dan
gerak kegiatan yang dilakukannya (motor).
Perkembangan bahasa menurut tiga
pendapat ini, berkaitan dengan perkembangan-perkembangan lain yang dialami
otak.
b.
Perkembangan
Motorik
Perkembangan
motorik merupakan perkembangan bayi sejak lahir yang paling tampak, yakni
perkembangan yang bertahap dari duduk, merangkak, sampai berjalan. Setelah
lahir, bayi menghabiskan waktu 14 – 18 jam untuk tidur. Pada usia 3-4 bulan,
bayi sudah mampu duduk sebentar. Usia 7-8 bulan bayi sudah mampu duduk sendiri.
Menjelang usia 9 bulan bayi sudah dapat duduk selama sepuluh menit. Kemampuan
merangkak bisa pada usia 7 bulan, lalu berdiri, berpegangan pada kursi. Pada
usia 11 bulan anak dapat beridir sendiri, dan sekitar usia 13 bulan bayi sudah
mampu berdiri.
c.
Perkembangan
Sosial dan Komunikasi
Menangis adalah
cara pertama bayi berkomunikasi dengan lingkungannya. Pada usia dua minggu bayi
dapat membedakan wajah ibunya dengan orang lain. Pada bulan kedua, bayi sering
berdekut/bunyi burung merpati sebagai ekspresi senangnya. Lalu usia 12 minggu bayi
memberikan tanggapan dari suara yang diberikan ibunya. Menjelang usia lima
bulan, bayi menirukan suara dan gerak orang dewasa.
d.
Perkembangan
Kognitif
i.
Tahap
Sensomotorik
Tahap ini
merupakan tahap pertama dalam perkembangan kognisi anak. Pada tahap ini bayi
belum mampu membedakan dirinya dari isi dunia lainnya, tingkahnya terbatas pada
penggunaan pola respon. Urutan perkembangannya adalah penggunaan panca indera,
lalu motorik, koordinasi keduanya, baru sensomotorik.
ii.
Tahap
Praoperasional
Cara berpikir
bayi pada tahap ini masih dalam tahap yang sederhana, belum operasional.
iii.
Tahap
Operasional Konkret
Tahap ini
dilalui anak pada usia tujuh sampai sebelas tahun. Pada tahap ini anak dapat
menyebutkan sesuatu secara kongkret suatu kesamaan benda, namun belum bisa
menjelaskannya.
iv.
Tahap
Operasional Formal
Pada tahap ini
anak sudah berusia sebelas tahun ke atas. Anak sudah berpikir logis seperti
halnya orang dewasa. Mereka mulai merumuskan dan mengetas hipotesis yang rumit,
berpikir abstrak, men-generalisasikan dengan menggunakan konsep abstrak, dari
satu situasi ke situasi lain.
e.
Perkembangan
Bahasa
Bayi, sudah
mampu berkomunikasi tanpa harus berbahasa, baik dengan tangisan, senyum, dan
gerak gerik tubuhnya. Tahap perkembangan ini dibagi kepada dua, tahap perkembangan
artikulasi dan tahap perkembangan kata/kalimat.
i.
Tahap
Perkembangan Atikulasi
Tahap ini dilalui bayi pada usia 14
bulan. Pada tahap ini bayi sudah mampu menghasilkan bunyi vokal, “aaa”, “eee”
atau “uuu”. Adapun tahapan perkembangan artikulasi itu sebagai berikut:
1.
Bunyi
Resonansi
Bunyi paling
umum yang dibuat bayi adalah bunyi tangis, meskipun ada banyak arti yang
diungkapkan bayi melalui tangisan tersebut. Selain bunyi tangis, ada pula bunyi
kuasi resonansi. Bunyi ini belum ada konsonan dan vokalnya.
2.
Bunyi
Berdekut
Bunyi ini
adalah bunyi kuasi konsonan yang berlangsung dalam satu embusan nafas. Bunyi
yang dihasilkan adalah konsonan belakang dan tengah, dengan vokal belakang,
tapi tanpa resonansi penuh. Bunyi ini seperti meledak-ledak yang disertai tawa.
3.
Bunyi
Berleter
Bayi
mengeluarkan suara terus menerus tanpa tujuan. Bayi mencoba berbagai macam
bunyi. Bayi sudah mampu membuat bunyi vokal seperti a.
4.
Bunyi
Berleter Ulang
Bayi
memonyongkan bibirnya, menarik ke dalam tanpa menggerakkan rahang. Konsonan
yang mula-mula diucap adalah p, b, bunyi letup t dan d, bunyi nasal dan bunyi
j.
5.
Bunyi
Vokabel
Bunyi ini
menyerupai kata, tapi tidak mempunyai arti, dan bukan tiruan dewasa. Bentuk
vokabel ini sudah konsisten secara fonetis. Seiring dengan perkembangan ini,
bayi yang normal sudah bisa menirukan intonasi kalimat dan kemampuan mengucapkan
kata.
ii.
Tahap
Perkembangan Kata dan Kalimat
1.
Kata
Pertama
Kemampuan
mengucapkan kata pertama ditentukan oleh penguasaan artikulasi dan kemampuan
mengaitkan kata dengan benda yang menjadi rujukannya.
2.
Kalimat
Satu Kata
Kata pertama
yang dihasilkan anak, dilanjutkan dengan kata kedua, ketiga dan seterusnya.
Yang pertama kali muncul melalui kalimat satu kata si anak adalah ujaran yang
seringkali didengarnya dari orang dewasa. Hingga usia 18 bulan, anak telah
memiliki 50 buah kosakata, meskipun kalimat satu kata (holofrasis).
3.
Kalimat
Dua Kata
Ucapan kalimat
dua kata ini diungkapkan anak sudah lebih produktif dibanding kalimat satu
kata. Misalnya, hubungan agen + asi pada kalimat mommy come.
4.
Kalimat
Lebih Lanjut
Menjelang usia
dua tahun, anak rata-rata sudah bisa menyusun kalimat empat kata, yakni dengan
cara perluasan, meskipun kalimat dua kata masih mendominasi korpus bicaranya.
iii.
Tahap
Menjelang Sekolah
Yang dimaksud
ini adalah menjelang anak masuk sekolah dasar; yakni pada usia lima sampai enam
tahun. Anak pada usia ini sudah menguasai hampir semua kaidah dasar gramatikal
bahasanya. Dia bisa membuat berita, tanya, dan keontruksi lainnya. Mereka sudah
dapat menggunakan bahasa dalam konteks sosial yang bermacam-macam.
III.
Kesimpulan
Ada tiga teori mendasar yang
menjelaskan tentang pemerolehan bahasa pada anak, yaitu :
1.
Teori
pemerolehan sintaksis
2.
Teori
pemerolehan semantik
3.
Teori
pemerolehan fonologi
Walaupun masih terdapat perbedaan
tentang teori pemerolehan bahasa anak, tetapi dapat diyakini bahwa bahasa
merupakan media yang digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral,
agama dan nilai-nilai lain yang hidup di masyarakat. Pemerolehan bahasa pertama
erat kaitannya dengan perkembangan sosial anak.
Sedangkan teori tentang perkembangan
bahasa pada anak mencakup Teori perkembangan bahasa anak, perkembangan motorik,
perkembangan sosial komunikasi, perkembangan kognitif dan perkembangan bahasa.
Daftar
Kepustakaan
Aminuddin.
Semantik. Sinar Baru Algesindo. Bandung. 2011
Akbar, Reni.
Psikologi Perkembangan Anak. Grasindo. Jakarta. 2001
Atkinson, Rita
L. Pengantar Psikologi. Erlangga. Jakarta. 1983
Brown, Douglas.
Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Jakarta. 2008
Chaer, Abdul.
Psikolinguistik Kajian Teoretik.Rineka Cipta. Jakarta. 2009
Chaer, Abdul.
Telaah Semantik. Rineka Cipta. Jakarta. 2006
Djayasudarma,
T.Fatimah. Semantik 1. Refika Aditama. Bandung. 2007
[1]
http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODEl/PENDIDIKAN_BAHASA_DAN_SASTRA
_INDONESIA_DI_SEKOLAH_DASAR_KELAS_RENDAH/BBM_2.pdf
[2]
Reni Akbar, Psikologi Perkembangan Anak. Grasindo. Jakarta. 2008. H. 18
[3]
http://yayangy08.student.ipb.ac.id/2010/06/18/perkembangan-bahasa-pada-anak/
[4]
Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik. Rineka Cipta. Jakarta.
2009. H. 184
[5]
Ibid. h. 186
[6]
Aminuddin. Semantik.( Sinar Baru Algesindo. Bandung. 2011) H. 20
[7]
Abdul Chaer, Psikolinguistik. .. h. 197
[8]
Abdul Chaer, Op.Cit. h. 199
[9]
Rita L. Atkinson, Pengantar Psikologi. Erlangga. Jakarta. 1983, h. 409
Subscribe to:
Posts (Atom)
Selendang Koto Gadang
Menyulam Pernah dengar Sulaman Koto Gadang? Sulaman Koto Gadang, adalah sulaman spesifik Minangkabau yang berasal dari daerah K...

-
Tradisi Manyerak Bareh Kunik, merupakan salah satu bagian upacara adat pernikahan di Nagari Gunung, Padang Panjang. Berikut pantun yang ...
-
Bagian kedua Pantun Manyerak Bareh Kunik .. Janjirak buah janjuri Tiradah daun jilatang Tumbuah di batang baringin sonsang Siriah gal...
-
Suatu hari, di sela-sela perkuliahan, saya dan beberapa teman terlibat pembicaraan tentang guru masa kini. Bahwa guru, adala...