Rabu, 27 Maret 2013

PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK


Oleh : Miftahul Hidayati, S.Pd.I

I.         Pendahuluan
Pemerolehan bahasa, sebagaimana telah dijelaskan pada makalah terdahulu, merupakan proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika si anak menerima/memperoleh bahasa pertamanya. Proses itu pun dibagi lagi kepada dua, pertama proses kompetensi, dan kedua, proses performasi. Kompetensi merupakan proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Sedangkan performasi merupakan proses yang lahir dari penguasaan anak tersebut setelah kompetensi dikuasai.
Terdapat berbagai teori atau hipotesis seputar pemerolehan bahasa, diantaranya hipotesis nurani, hipotesis tabularasa dan hipotesis kesemestaan kognitif. Masing-masing teori ini memiliki ciri yang berbeda satu sama lain. Hipotesis nurani misalnya, teori ini lebih memberikan penekanan bahwa pemerolehan bahasa yang terjadi pada anak-anak disebabkan karena manusia lahir dengan dilengkapi oleh suatu alat yang memungkinkan dapat berbahasa dengan mudah dan cepat. Menurut Chomsky, alat khusus tersebut adalah language acquistion device (LAD).
            Berbeda dengan teori tabularasa yang menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan diibaratkan seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulis dengan pengalaman-pengalaman. Bahasa terlahir dari bentuk S-R, stimulus –respon. Lain lagi dengan teori John Locke ini, Piaget mengkaji perkembangan kognitif yang mencakup bahasan tentang bahasa, yang kemudian dikenal dengan hipotesis kesemestaan kognitif.
            Lebih lanjut pembahasan ini mengarah kepada kajian apa yang mula-mula dibahas jika disebutkan tentang pemerolehan bahasa. Banyak pakar yang menganggap bahwa pemerolehan sintaksis dimulai ketika kanak-kanak mulai dapat menggabungkan dua kata atau lebih. Selanjutnya, dalam psikolinguistik dikaji tentang pemerolehan semantik dan fonologi.
Makalah ini akan membahas tentang pemerolehan bahasa pada anak, teori-teori yang berkaitan dengannya, dan bagaimana perkembangan bahasa pada anak.
Pembahasan ini disajikan dengan merujuk kepada beberapa referensi kepustakaan yang berkaitan dengan psikolinguistik. Penyajiannya disampaikan dalam format makalah, kemudian didiskusikan. Semoga makalah ini bermanfaat dan menambah khazanah keilmuan.    

II.      Pemerolehan Bahasa pada Anak-anak

Proses pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa. Pemerolehan bahasa lebih kepada bahasa pertama atau bahasa ibu, sedangkan pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses yang terjadi ketika seseorang mempelajari bahasa kedua dan seterusnya. Dengan demikian, jika mengkaji tentang bagaimana seorang anak berproses dalam berbahasa, lebih tepat tentu digunakan istilah pemerolehan. Meskipun tetap ada yang menggunakan istilah pemerolehan bahasa tersebut untuk bahasa kedua.

A.    Munculnya Bahasa pada Anak-anak
Sejak bayi, anak telah berinteraksi di dalam lingkungan sosialnya. Anak selalu diajak bicara oleh orang tuanya. Bayi diperlakukan seolah-olah dapat berbicara, dan mengerti apa makna pembicaraan. Di sini sudah terjadi komunikasi dua arah antara si anak dan orang tuanya. Orang tua berusaha menanggapi setiap reaksi bayi dan bertindak seolah-olah reaksi bayi tersebut ada maknanya dan perlu ditanggapi. Melalui bahasa khususnya bahasa pertama, seorang anak belajar untuk menjadi anggota masyarakat. Dengan demikian bahasa ibu (bahasa pertama) menjadi salah satu sarana bagi seorang anak untuk mengungkapkan perasaan, keinginan, pendirian, gagasan, harapan, dan sebagainya.
Anak belajar pula bahwa ada bentuk-bentuk  yang tidak dapat diterima anggota masyarakatnya dan ia tahu bahwa tidak selalu ia dapat mengungkapkan perasaannya. Ujaran yang dituturkan secara salah dari seorang anak masih dapat dimaklumi, tetapi ia harus sudah mulai belajar bahwa  ada norma budaya tertentu yang harus diperhatikan.
Ada ciri lain yang khas dari seorang anak ketika sudah masuk sekolah dasar yaitu keinginan yang kuat untuk menyatu dengan anggota masyarakat sekelilingnya, khususnya dengan anak sebayanya. Kalau anak-anak sebayanya menggunakan kata-kata seperti: asyik oke,bo, mah, tea, bokap, nyokap dan sebagainya, maka dengan segera istilah-istilah itu akan digunakannya juga.[1] Dari sinilah muncul dan berkembangnya bahasa pada anak.

B.     Ragam Ungkapan pada Anak dan Ragam Bunyi yang Diungkapkan Anak

Bila dilihat dari sisi perkembangan bicara pada anak, ada tiga bentuk perkembangan, pertama menangis, menceracau dan gesture (gerak-gerik). Meracau muncul saat bayi berusia enam bulan dalam bentuk mengkombinasikan bunyi hidup dan bunyi mati. Seperti ma-ma, na-na. Hal ini mencapai puncaknya pada usia delapan bulan, untuk akhirnya berubah secara bertahap menjadi kata-kata yang jelas.[2] Selanjutnya perilaku bicara bayi adalah tahap pemahaman. Meskipun perkembangan pemahaman bukan sesuatu yang datang otomatis kepada bayi, tapi melalui kata-kata dan ekspresi wajah yang diperkenalkan bayi akan mengerti.
Bahasa pada bayi berkembang melalui beberapa tahapan umum:
1.       Mengoceh (3-6 bulan)
2.       Kata pertama yang dipahami (6-9 bulan)
3.       Instruksi sederhana yang dipahami (9-12 bulan)
4.       Kata pertama yang diucapkan (10-15 bulan)
5.       Penambahan dan penerimaan kosa kata (lebih dari 300 kata pada usia 2 tahun).
6.       Tiga tahun ke depan kosa kata akan berkembang lebih pesat lagi
Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik. Tiga faktor diatas saling mendukung untuk menghasilakan kemampuan berbahasa maksimal. Orang tua, khususnya, harus memberikan stimulus yang positif pada pengembangan keterampilan bahasa pada anak, seperti berkomunikasi pada anak dengan kata-kata yang baik dan mendidik, berbicara secara halus, dan sebisa mungkin membuat anak merasa nyaman dalam suasana kondusif rumah tangga yang harmonis, rukun, dan damai. Hal tersebut dapat menstimulus anak untuk bisa belajar berkomunikasi dengan baik karena jika anak distimulus secara positif maka akan mungkin untuk anak merespon secara positif pula.[3]
                       
C.    Teori Pemerolehan Sintaksis
a.       Teori Tata Bahasa Pivot
Kajian mengenai pemerolehan sintaksis oleh kanak-kanak dimukai oleh Braene (1963), Bellugi (1964), Brown dan Fraser (1964), dan Miller dan Ervin (1964). Menurut kajian awal ini ucapan dua kata kanak-kanak ini terdiri dari dua jenis kata menurut posisi dan frekuensi munculnya kata-kata itu di dalam kalimat. Kedua jenis kata ini kemudian dikenal dengan nama kelas Pivot dan kelas terbuka.
Kemudian berdasarkan kedua jenis kata ini lahirlah teori yang disebut teori tata bahasa Pivot. Pada umumnya kata-kata yang termasuk kelas Pivot adalah kata-kata fungsi (function words), sedangkan yang termasuk kelas terbuka adalah kata-kata isi (contents words) atau kata penuh (full words) seperti kata-kata berkategori nomina dan verba.[4]
Ciri-ciri umum kedua jenis kata ini adalah sebagai berikut:
Kelas Pivot
Kelas Terbuka
1.      Terdapat pada awal atau akhir kalimat
Dapat muncul pada awal dan akhir kalimat
2.      Jumlahnya terbatas, tetapi sering muncul
Jumlahnya tidak terbatas, sehingga tidak begitu seirng muncul
3.      Jarang muncul anggota baru (kata baru)
Sering muncul anggota baru (kata baru)
4.      Tidak pernah muncul sendirian
Bisa muncul sendirian
5.      Tidak pernah muncul bersama dalam satu kalimat
Bisa muncul bersama dalam satu kalimat, atau juga dari kelas pivot
6.      Tidak punya rujukan sendiri, tetapi selalu merujuk pada kata-kata lain dari terbuka.
Mempunyai rujukan sendiri.

Berdasarkan data yang termuat pada kolom kelas pivot dan kelas terbuka di atas, dapat diketahui perbedaan satu sama lainnya. Tentang hal ini, diberikan contoh kata seperti kata want adalah kata pivot pada posisi awal kalimat, sedangkan kata milk adalah kata terbuka yang muncul pada posisi akhir kalimat.

b.      Teori Hubungan Tata Bahasa Nurani
Tata bahasa generatif transformasi dari Chomsky sangat terasa pengaruhnya dalam pengkajian perkembangan sintaksis kanak-kanak. Menurut Chomsky hubungan-hubungan tata bahasa tertentu seperti “subject-of, prediket-of, dan direct object of” adalah versifat universal dan dimiliki oleh semua bahasa yang ada di dunia.[5] Pengetahuan anak-anak tentang hal ini, sifatnya adalah “nurani”.
Selanjutnya, menurut Simanjuntak, hendaknya pengetahuan yang telah diperoleh anak-anak sejak lahir ini mengenai rumus-rumus struktur dasar tata bahasa dan rumus transformasi dan fonologi menentukan bentuk ucapan anak-anak.  Misalnya urutan S (subject) +V (verba) + O (object/yang sifatnya opsional).

c.       Teori Hubungan Tata Bahasa dan Informasi Situasi
Bloom, berpendapat bahwa hubungan tata bahasa nurani saja belumlah memadai, sehingga ia berpendapat bahwa suatu gabungan kata telah digunakan oleh anak-anak dalam situasi yang berlainan. Misalkan kata mommy-sick, kedua kata ini di satu sisi merupakan subjek objek, sedangkan pada situasi kedua bisa menjadi hubungan pemilik-objek.
Digunakannya sebuah kata untuk mewakili beberapa situasi akan menyebabkan gabungan kata itu menjadi taksa (ambigu) dan meragukan. Untuk itu, informasi situasi dianggap menjadi salah satu pertolongan dalam menentukan hubungan kata tersebut.

d.      Teori Kumulatif Kompleks
Teori ini dikemukakan oleh Brown berdasarkan data yang dikumpulkannya. Menurutnya, urutan pemerolehan sintasksis oleh anak-anak ditentukan oleh kumulatif kompleks semantik morfem dan kumulatif kompleks tata bahasa yang sedang diperoleh itu, bukan ditentukan oleh frekuensi munculnya kata tersebut.

e.       Teori Pendekatan Semantik
Teori ini diperkenalkan oleh Bloom. Dia mengintegrasikan pengetahuan semantik dalam pengkajian perkembangan sintaksis ini berdasarkan teori generatif transformasinya Chomsky.
Teori generatif transformasi ini menyatakan bahwa kalimat-kalimat yang didengar dibangkitkan dari struktur dan rumus fisiologi. Sedangkan struktur luar dibangkitkan dari struktur dalam dengan rumus transformasi. Sehingga tata bahasa merupakan satu sistem yang menghubungkan bunyi ke makna. Dalam hal ini, struktur dasar memberi masukan kepada komponen semantik, dan struktur memberi masukan kepada fonologi.
Melalui teori ini dapat disimpulkan bahwa untuk mengkaji atau menganalisis pengetahuan tata bahasa, mesti dilibatkan semantik dan hubungan semantik itu sendiri. Selanjutnya, perkembangan semantik inilah yang menjadi fokus kajian dalam psikolinguistik.

D.    Teori Pemerolehan Semantik

Dalam proses menyusun dan memahami pesan lewat kode kebahasaan, unsur-unsur kejiwaan seperti kesadaran batin, pikiran, asosiasi, maupun pengalaman, jelas tidak dapat diabaikan.[6] Untuk mengkaji pemerolehan bahasa, di samping teori sintaksis, perlu dikaji pula bentuk makna dan arti kata melalui kajian semantik.
Berikut ini teori tentang pemerolehan bahasa melalui makna atau arti kata, diantaranya yaitu:
a.       Teori Hipotesis Fitur Semantik
Clark menyimpulkan perkembangan pemerolehan semantik ini ke dalam empat tahap, yaitu:
1.      Tahap penyempitan makna kata
Teori ini berlangsung antara umur satu sampai satu setengah tahun. Pada tahap ini anak-anak menganggap satu benda tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi nama dari benda itu.
Misalnya guk-guk, meong dan lain sebagainya.
2.      Tahap Generalisasi berlebihan
Tahap ini berlangsung antara usia satu tahun setengah sampai dua tahun. Pada tahap ini anak-anak dapat menggeneralisasikan makna suatu kata secara berlebihan. Anjing atau gukguk adalah semua binatang yang berkaki empat, termasuk kambing dan kerbau.
3.      Tahap medan semantik
Tahap ini berlangsung antara usia dua tahun setengah sampai lima tahun. Pada tahap ini anak mengelompokkan kata yang berkaitan ke dalam satu medan semantik. Misalnya, anjing adalah semua binatang yang berkaki empat, namun setelah mengenal kambing, maka anjing hanyalah untuk makna anjing.
4.      Tahap generalisasi
Tahap ini berlangsung setelah anak berusia lima tahun. Pada tahap ini anak telah mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi. Misalnya mereka telah mengenal apa yang dimaksud dengan hewan. [7]

b.      Teori Hipotesis Hubungan – Hubungan Gramatikal
Teori ini diperkenalkan oleh Mc.Neil. Menurutnya anak-anak telah dilengkapi dengan hubungan gramatikal yang dalam, yang nurani sejak lahir. Adapun fitur semantik hanya perlu pada tahap lanjutan pemerolehan semantik ini.
  
c.       Teori Hipotesis Generalisasi
Teori ini diperkenalkan oleh Anglin. Menurutnya perkembangan semantik anak-anak mengikuti satu proses generalisasi, yakni kemampuan melihat hubungan semantik antara nama-nama benda, mulai dari yang kongkret sampai yang abstrak. Misalkan, mawar, melati, dll, dikelompokkan ke bunga. Lalu selanjutnya, bunga dikelompokkan ke kelompok yang lebih tinggi, tumbuh-tumbuhan.

d.      Teori Hipotesis Primitif-Primitif Universal
Teori ini diperkenalkan oleh Postal, lalu dikembangkan oleh Bierwisch. Menurut Postal, semua bahasa yang ada di dunia ini dilandasi oleh satu perangkat primitif semantik universal, dan rumus – rumus untuk menggabungkan primitif semantik ini dengan butir-butir leksikal. Sedangkan primitif semantik itu mempunyai satu hubungan yang sudah ditetapkan sejak awal, yang ditentukan oleh struktur biologi manusia itu sendiri.
Dalam pemerolehan bahasa, menurut Bierwisch, anak-anak tidak perlu mempelajari komponen-komponen makna itu, karena komponen makna itu telah tersedia sejak dia lahir. Yang perlu dipelajari adalah hubungan komponen ini dengan fonologi dan sintaksis bahasanya.[8]

E.     Teori Pemerolehan Fonologi
a.       Teori Struktural Universal
Teori ini dikembangkan oleh Jacobson, oleh sebab itu teori ini juga dikenal dengan teori Jakobson. Teori ini menjelaskan tentang pemerolehan fonologi berdasarkan struktur-struktur universal linguistik, yakni hukum-hukum struktural yang mengatur setiap perubahan bunyi.
b.      Teori Generatif Struktural Universal
Teori struktural universala ini diperluas oleh Moskowitz dengan menerapkan unsur-unsur fonologi generatif yang diperkenalkan oleh Chomsky dan Halle. Moskowitz menolak pendapat bahwa pemerolehan tahap fonetik berlaku dengan cara-cara yang sama bagi semua anak-anak di dunia. Namun, ia mengakui bahwa ada satu set sekatan yang harus dikenakan pada urutan pemerolehan representasi fonologi yang kurang jelas karena adanya interferensi fonetik.

c.       Teori Proses Fonologi Alamiah
Teori ini diperkenalkan oleh David Stampe. Menurutnya proses fonologi anak-anak bersifat nurani yang harus mengalami penindasan (supres), pembatasan dan pengaturan sesuai dengan penuranian representasi fonemik orang dewasa.

d.      Teori Prosodi-Akustik
Teori ini diperkenalkan oleh Waterson. Ia menganggap pendekatan fonemik yang bersifat segmental perlu diubah menjadi non segmental. Menurutnya pemerolehan bahasa adalah satu proses sosial sehingga kajiannya lebih tepat dilakukan di rumah dalam konteks sosial yang sebenarnya daripada pengkajian data-data eksperimen, lebih-lebih untuk mengetahui pemerolehan fonologi.

e.       Teori kontras dan Proses
Teori ini diperkenalkan oleh Ingram. Teori ini menggabungkan bagian-bagian penting dari teori Jakobson dengan Stampe, kemudian menyelaraskan hasil tersebut dengan teori perkembangan Piaget.
Menurutnya anak-anak memperoleh sistem fonologi orang dewasa dengan cara menciptakan strukturnya sendiri, dan kemudian mengubah struktur ini jika pengetahuannya mengenai sistem ini semakin baik.

F.     Perkembangan Bahasa pada Anak
Setiap anak harus menguasai semua peringkat bahasa, tidak hanya ucapan yang tepat tetapi juga bagaimana cara menggabungkan kata menjadi kalimat untuk mengungkapkan gagasan. Upaya ini dapat diselesaikan anak –dari berbagai budaya- dalam waktu empat sampai lima tahun. Rata-rata mereka mengalami urutan perkembangan yang sama.[9]
Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang perkembangan bahasa pada anak, yaitu:
a.       Teori Perkembangan Bahasa Anak
Penelitian yang dilakukan terhadap perkembangan bahasa anak tentunya tidak terlepas dari pandangan, atau teori psikologi yang dianut. Dalam hal ini ada tiga teori tentang perkembangan bahasa pada anak, yaitu:
                                                              i.      Pandangan Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa pertama, anak-anak (manusia) sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan. Pandangan ini tidak menganggap lingkungan punya pengaruh dalam pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis, sejalan dengan yang disebut “hipotesis pemberian alam.”
Pendapat teori ini, bahasa terlalu kompleks untuk dapat dikuasai dalam waktu yang singkat, sehingga pasti ada beberapa aspek yang sudah ada pada manusia secara alamiah.
Chomsky bahkan berendapat bahwa bahasa tak hanya kompleks, tapi penuh kesalahan atau penyimpangan. Bahasa hanya dapat dikuasai manusia, dan tidak dapat dikuasai oleh binatang. Masih menurut Chomsky, anak dilahirkan dengan bekal Language Acquisition Device (LAD).

                                                            ii.      Pandangan Behaviorisme
Kelompok ini menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh ransangan yang diberikan melalui lingkungan. Bahasa dipahami oleh kelompok ini sebagai perilaku verbal, agar tampak lebih mirip dengan perilaku lain yang harus dipelajari.
Menurut pandangan ini, tidak ada peran aktif si anak dalam pemerolehan bahasa. Proses perkembangan bahasa terutama ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya. Ransangan / stimulus lah yang akan memperkuat kemampuan berbahasa anak.

                                                          iii.      Pandangan Kognitivisme
Jean Piaget menyatakan bahwa urut-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa. Menurutnya perkembangan bahasa pada anak dapat dilihat dari perkembangan intelektualnya. Tahap perkembangan dari lahir hingga usia 18 bulan disebut Pieget sebagai tahap “sensosi motor”. Pada tahap ini belum ada bahasa, karena anak belum menggunakan lambang-lambang untuk menunjuk pada benda-benda di sekitarnya. Anak hanya memahami melalui indranya (sensory), dan gerak kegiatan yang dilakukannya (motor).
Perkembangan bahasa menurut tiga pendapat ini, berkaitan dengan perkembangan-perkembangan lain yang dialami otak.

b.      Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan bayi sejak lahir yang paling tampak, yakni perkembangan yang bertahap dari duduk, merangkak, sampai berjalan. Setelah lahir, bayi menghabiskan waktu 14 – 18 jam untuk tidur. Pada usia 3-4 bulan, bayi sudah mampu duduk sebentar. Usia 7-8 bulan bayi sudah mampu duduk sendiri. Menjelang usia 9 bulan bayi sudah dapat duduk selama sepuluh menit. Kemampuan merangkak bisa pada usia 7 bulan, lalu berdiri, berpegangan pada kursi. Pada usia 11 bulan anak dapat beridir sendiri, dan sekitar usia 13 bulan bayi sudah mampu berdiri.
c.       Perkembangan Sosial dan Komunikasi
Menangis adalah cara pertama bayi berkomunikasi dengan lingkungannya. Pada usia dua minggu bayi dapat membedakan wajah ibunya dengan orang lain. Pada bulan kedua, bayi sering berdekut/bunyi burung merpati sebagai ekspresi senangnya. Lalu usia 12 minggu bayi memberikan tanggapan dari suara yang diberikan ibunya. Menjelang usia lima bulan, bayi menirukan suara dan gerak orang dewasa.
d.      Perkembangan Kognitif
                                                              i.      Tahap Sensomotorik
Tahap ini merupakan tahap pertama dalam perkembangan kognisi anak. Pada tahap ini bayi belum mampu membedakan dirinya dari isi dunia lainnya, tingkahnya terbatas pada penggunaan pola respon. Urutan perkembangannya adalah penggunaan panca indera, lalu motorik, koordinasi keduanya, baru sensomotorik.
                                                            ii.      Tahap Praoperasional
Cara berpikir bayi pada tahap ini masih dalam tahap yang sederhana, belum operasional.
                                                          iii.      Tahap Operasional Konkret
Tahap ini dilalui anak pada usia tujuh sampai sebelas tahun. Pada tahap ini anak dapat menyebutkan sesuatu secara kongkret suatu kesamaan benda, namun belum bisa menjelaskannya.
                                                          iv.      Tahap Operasional Formal
Pada tahap ini anak sudah berusia sebelas tahun ke atas. Anak sudah berpikir logis seperti halnya orang dewasa. Mereka mulai merumuskan dan mengetas hipotesis yang rumit, berpikir abstrak, men-generalisasikan dengan menggunakan konsep abstrak, dari satu situasi ke situasi lain.

e.       Perkembangan Bahasa
Bayi, sudah mampu berkomunikasi tanpa harus berbahasa, baik dengan tangisan, senyum, dan gerak gerik tubuhnya. Tahap perkembangan ini dibagi kepada dua, tahap perkembangan artikulasi dan tahap perkembangan kata/kalimat.
                                                              i.      Tahap Perkembangan Atikulasi
Tahap ini dilalui bayi pada usia 14 bulan. Pada tahap ini bayi sudah mampu menghasilkan bunyi vokal, “aaa”, “eee” atau “uuu”. Adapun tahapan perkembangan artikulasi itu sebagai berikut:
1.      Bunyi Resonansi
Bunyi paling umum yang dibuat bayi adalah bunyi tangis, meskipun ada banyak arti yang diungkapkan bayi melalui tangisan tersebut. Selain bunyi tangis, ada pula bunyi kuasi resonansi. Bunyi ini belum ada konsonan dan vokalnya. 
2.      Bunyi Berdekut
Bunyi ini adalah bunyi kuasi konsonan yang berlangsung dalam satu embusan nafas. Bunyi yang dihasilkan adalah konsonan belakang dan tengah, dengan vokal belakang, tapi tanpa resonansi penuh. Bunyi ini seperti meledak-ledak yang disertai tawa.
3.      Bunyi Berleter
Bayi mengeluarkan suara terus menerus tanpa tujuan. Bayi mencoba berbagai macam bunyi. Bayi sudah mampu membuat bunyi vokal seperti a.
4.      Bunyi Berleter Ulang
Bayi memonyongkan bibirnya, menarik ke dalam tanpa menggerakkan rahang. Konsonan yang mula-mula diucap adalah p, b, bunyi letup t dan d, bunyi nasal dan bunyi j.
5.      Bunyi Vokabel
Bunyi ini menyerupai kata, tapi tidak mempunyai arti, dan bukan tiruan dewasa. Bentuk vokabel ini sudah konsisten secara fonetis. Seiring dengan perkembangan ini, bayi yang normal sudah bisa menirukan intonasi kalimat dan kemampuan mengucapkan kata. 

                                                            ii.      Tahap Perkembangan Kata dan Kalimat
1.      Kata Pertama
Kemampuan mengucapkan kata pertama ditentukan oleh penguasaan artikulasi dan kemampuan mengaitkan kata dengan benda yang menjadi rujukannya.
2.      Kalimat Satu Kata
Kata pertama yang dihasilkan anak, dilanjutkan dengan kata kedua, ketiga dan seterusnya. Yang pertama kali muncul melalui kalimat satu kata si anak adalah ujaran yang seringkali didengarnya dari orang dewasa. Hingga usia 18 bulan, anak telah memiliki 50 buah kosakata, meskipun kalimat satu kata (holofrasis).
3.      Kalimat Dua Kata
Ucapan kalimat dua kata ini diungkapkan anak sudah lebih produktif dibanding kalimat satu kata. Misalnya, hubungan agen + asi pada kalimat mommy come.
4.      Kalimat Lebih Lanjut
Menjelang usia dua tahun, anak rata-rata sudah bisa menyusun kalimat empat kata, yakni dengan cara perluasan, meskipun kalimat dua kata masih mendominasi korpus bicaranya.
                                                          iii.      Tahap Menjelang Sekolah
Yang dimaksud ini adalah menjelang anak masuk sekolah dasar; yakni pada usia lima sampai enam tahun. Anak pada usia ini sudah menguasai hampir semua kaidah dasar gramatikal bahasanya. Dia bisa membuat berita, tanya, dan keontruksi lainnya. Mereka sudah dapat menggunakan bahasa dalam konteks sosial yang bermacam-macam.

III.   Kesimpulan
Ada tiga teori mendasar yang menjelaskan tentang pemerolehan bahasa pada anak, yaitu :
1.      Teori pemerolehan sintaksis
2.      Teori pemerolehan semantik
3.      Teori pemerolehan fonologi
Walaupun masih terdapat perbedaan tentang teori pemerolehan bahasa anak, tetapi dapat diyakini bahwa bahasa merupakan media yang digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama dan nilai-nilai lain yang hidup di masyarakat. Pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan perkembangan sosial anak.
Sedangkan teori tentang perkembangan bahasa pada anak mencakup Teori perkembangan bahasa anak, perkembangan motorik, perkembangan sosial komunikasi, perkembangan kognitif dan perkembangan bahasa.
Daftar Kepustakaan


Aminuddin. Semantik. Sinar Baru Algesindo. Bandung. 2011
Akbar, Reni. Psikologi Perkembangan Anak. Grasindo. Jakarta. 2001
Atkinson, Rita L. Pengantar Psikologi. Erlangga. Jakarta. 1983
Brown, Douglas. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Kedutaan Besar Amerika Serikat. Jakarta. 2008
Chaer, Abdul. Psikolinguistik Kajian Teoretik.Rineka Cipta. Jakarta. 2009
Chaer, Abdul. Telaah Semantik. Rineka Cipta. Jakarta. 2006
Djayasudarma, T.Fatimah. Semantik 1. Refika Aditama. Bandung. 2007


[1] http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODEl/PENDIDIKAN_BAHASA_DAN_SASTRA _INDONESIA_DI_SEKOLAH_DASAR_KELAS_RENDAH/BBM_2.pdf
[2] Reni Akbar, Psikologi Perkembangan Anak. Grasindo. Jakarta. 2008. H. 18
[3] http://yayangy08.student.ipb.ac.id/2010/06/18/perkembangan-bahasa-pada-anak/ 
[4] Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik. Rineka Cipta. Jakarta. 2009. H. 184
[5] Ibid. h. 186
[6] Aminuddin. Semantik.( Sinar Baru Algesindo. Bandung. 2011) H. 20
[7] Abdul Chaer, Psikolinguistik. .. h. 197
[8] Abdul Chaer, Op.Cit. h. 199
[9] Rita L. Atkinson, Pengantar Psikologi. Erlangga. Jakarta. 1983, h. 409

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar