Salah satu isu hangat tentang perempuan hari ini adalah pemberdayaan perempuan. Pemberdayaan perempuan adalah memberikan kesempatan bagi perempuan untuk dapat menyalurkan berbagai keterampilannya dan diberdayakan sebaik-baiknya.
Namun terkadang ada kesalahan interpretasi dari bagaimana langkah memberdayakan perempuan tersebut? Dengan mempromosikan keberadaannya, atau mengekspos dirinya? Sebagai contoh, media yang berkembang di masyarakat hari ini baik media elektronik maupun media cetak, terlihat tidak terlepas dari sentuhan perempuan. Perempuan menjadi objek paling sering muncul di media tersebut. sebutlah berbagai program acara yang ditayangkan di televisi, bisa dipastikan tidak ada yang tidak diwarnai dengan ”perempuan”. Baik itu hostnya, acaranya sendiri, apalagi iklannya.
Pemilihan Miss Universe, ”Ajang bergengsi” dengan berbagai tawaran kemegahan dan ketenaran yang ditawarkan seakan memenuhi pemikiran sebagian perempuan indonesia saat ini. Trend ini juga menggejala di kalangan remaja putri. Berbagai seleksi pemilihan unjuk kebolehan diri yang notabene adalah pamer diri atau sebutlah ini membudayakan narsis yang tidak beralasan marak dan menjamur. Tidak beralasannya karena hanya berpatokan pada hal yang sifatnya buatan saja, polesan saja, bukan dilihat dan dinilai dari berbagai kemampuan dan skill yang memang bisa diandalkan dan diharapkan menjadi modal dalam kehidupan di remaja putri tersebut.
Atau ketika isu RUU APP beredar di masyarakat, sebagaian perempuan malah menentang dan menyatakan protes untuk penetapannya. Aneh sekali. Ada berbagai LSM perempuan yang menyatakan ketidaksetujuannya dengan adanya RUU tersebut. Kok malah perempuan yang menolak adanya ”perhatian baik” bangsa ini terhadap dirinya. Ironinya, alasan klasik masih saja didengung-dengungkan, ”Nilai Seni dan budaya”. Memang tidak bisa dipungkiri Indonesia yang terdiri dari berbagai ragam budaya, dan kaya akan kesenian daerah. Keanekaragaman tersebut dilandasi dengan budaya timur yang terkenal dengan kesopanan dan kesantunannya. Lalu dari segi apalagi RUU APP tersebut dinilai tidak sesuai dengan budaya dan seni? Barangkali kita perlu merenungkan, apakah yang terjadi sudah merupakan pemberdayaan terhadap perempuan atau bahkan adalah salah satu bentuk eksploitasi hak-hak perempuan itu sendiri.
Setiap kali siaran televisi, apakah itu film, sinetron, dan siaran lainnya sebagian besar memanfaatkan perempuan sebagai komoditi utamanya. Lebih-lebih lagi iklan, yang menjadi promosi adalah produk harian berupa jam tangan, sabun cuci, dan lain sebagainya, namun yang menjadi perhatian eksposnya adalah beberapa bagian tertentu dari tubuh perempuan.
Hari ini sudah tidak ada lagi slogan media sebagai sarana penunjang pendidikan. Barangkali masih jauh dari harapan tersebut, jika kita melihat realita yang ada. Iklan-iklan yang tidak layak tayang sudah menjadi yang biasa di media. Dan semua itu tidak terlepas dari keberadaan perempuan sebagai bintang iklan tersebut. Inikah yang disebut dengan pemberdayaan perempuan? Atau hanyalah sebagai bentuk eksploitasi semu terhadap perempuan itu sendiri yang tidak disadari oleh sebagian besar mereka.
Perempuan dengan segala daya tariknya memenuhi setiap lini kehidupan. Dimana-mana dengan mudah bisa didapatkan apa yang dibutuhkan dari perempuan. Tanpa dicari pun perempuan sudah menjadi ”gula-gula media” yang bisa dinikmati kapanpu dan dimanapun.
Dampak tidak langsung dengan eksploitasi semu ini adalah maraknya pelecehan bernagai hal terhadap perempuan. Penghargaan terhadap bentuk emansipasi perempuan dianggap sebagai hal yang hanya bisa dinilai dengan sebelah mata.
Ternyata menara kehormatan perempuan yang telah dibangun R.A kartini, Rahmah El Yunusiyah, Rohana Kudus, dan lain sebagainya telah roboh dan pupus dilawan ”gula-gula media”. Kepada Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan, semoga ini juga menjadi perhatiannya. Memang juga perlu kita akui masih ada perempuan yang bisa diberdayakan dengan segala kemampuan dan skillnya. Namun persentasenya tidak lagi sebanding antara yang positif dengan negatifnya.
Sebagai suatu ungkapan perasaan, kiranya perlu saya tuliskan, ”Saya turut prihatin melihat kondisi perempuan hari ini yang sudah tertinggal dari berbagai sisi, baik itu martabat, harga diri, bentuk-bentuk emansipasi dan kemampuan intelektual di ranah pendidikan dan kancah politik negeri ini”. Semoga kedepan kita bisa mengembalikan citra dan kehormatan yang selama ini dipinjam oleh sejarah.
9.1.09
Pemberdayaan Perempuan atau Eksploitasi
8.1.09
Mahasiswa Kura-Kura Atau Kupu-Kupu
Pernah mendengar sebutan mahasiswa kura-kura atau mahasiswa kupu-kupu? Secara tidak formal gelar tersebut melekat pada mahasiswa rata-rata di dunia kampus. Masing-masingnya mendapat porsi gelar yang berbeda. Saya, pada suatu kesempatan dipanggil dengan sebutan mahasiswa kura-kura. Kenapa? Karena ransel yang selalu melekat di punggung saya dimanapun dan kapanpun menyerupai rumah kura-kura yang selalu dibawa kemana pergi.
Namun yang saya maksud kali ini bukanlah kura-kura dari style saja, akan tetapi dari bagaimana mahasiswa memaknai nama “mahasiswa”-nya itu. Kegiatan harian mahasiswa itu juga mempengaruhi label kura-kura atau kupu-kupunya. Berawal dari pengalaman pribadi, saya tertarik memperhatikan mahasiswa di lingkungan kampus, apakah kura-kura atau kupu-kupu?
Kura-kura adalah gelar untuk mahasiswa yang kegiatannya sehari-hari adalah kuliah-rapat, kuliah-rapat. Mereka yang termasuk kelompok ini adalah para organisatoris dan aktivis kampus. Mereka perlu membagi waktu untuk kuliah dan juga menjalankan amanah organisasinya dengan berbagai persiapan yang salah satunya dengan rapat itu tadi. Bukan berarti mereka melalaikan kuliah, namun sesekali memang perlu ada pengorbanan untuk satu pilihan. Pilihan untuk mengedepankan ego sendiri atau berpandai-pandai memenej waktu agar kuliah dengan organisasi berjalan mulus dan lancar.
Sedangkan kupu-kupu adalah mahasiswa yang sehari-harinya hanya beraktivitas pada dua tempat saja. Kuliah-pulang, kuliah-pulang. Bagi mereka mahasiswa kupu-kupu, kuliah adalah prioritas dan pulang adalah solusi. Solusi dari berbagai kepenatan kuliah dan muara kegiatan sehari-harinya. Seusai kuliah, maka tidak ada jalan lain selain ke rumah atau ke kontrakan/kost. Perjalanan kuliah mereka mahasiswa kupu-kupu tentunya mulus-mulus saja, mahasiswa kontrakan atau rumahan. Ibarat anak-anak pulang sekolah, “langsung pulang ya, jangan main dulu…!” kata yang selalu diteriakkan orang tua ketika anak-anaknya mau berangkat sekolah.
Tapi tunggu dulu, bukan berarti mahasiswa kupu-kupu tidak mengasyikkan. Bagi saya, teman-teman mahasiswa kupu-kupu bisa memaknai satu lagi kupu-kupunya bukan makna yang tadi, tetapi Kuliah-pustaka. Kalau yang ini, saya yakin mahasiswa benar bisa menjadi mahasiswa. Mahasiswa yang hobi membaca, melihat, dan menulis tentunya akan lebih memahasiswa. Setuju tidak?
Jadi saya sekarang mahasiswa kura-kura atau kupu-kupu?
Namun yang saya maksud kali ini bukanlah kura-kura dari style saja, akan tetapi dari bagaimana mahasiswa memaknai nama “mahasiswa”-nya itu. Kegiatan harian mahasiswa itu juga mempengaruhi label kura-kura atau kupu-kupunya. Berawal dari pengalaman pribadi, saya tertarik memperhatikan mahasiswa di lingkungan kampus, apakah kura-kura atau kupu-kupu?
Kura-kura adalah gelar untuk mahasiswa yang kegiatannya sehari-hari adalah kuliah-rapat, kuliah-rapat. Mereka yang termasuk kelompok ini adalah para organisatoris dan aktivis kampus. Mereka perlu membagi waktu untuk kuliah dan juga menjalankan amanah organisasinya dengan berbagai persiapan yang salah satunya dengan rapat itu tadi. Bukan berarti mereka melalaikan kuliah, namun sesekali memang perlu ada pengorbanan untuk satu pilihan. Pilihan untuk mengedepankan ego sendiri atau berpandai-pandai memenej waktu agar kuliah dengan organisasi berjalan mulus dan lancar.
Sedangkan kupu-kupu adalah mahasiswa yang sehari-harinya hanya beraktivitas pada dua tempat saja. Kuliah-pulang, kuliah-pulang. Bagi mereka mahasiswa kupu-kupu, kuliah adalah prioritas dan pulang adalah solusi. Solusi dari berbagai kepenatan kuliah dan muara kegiatan sehari-harinya. Seusai kuliah, maka tidak ada jalan lain selain ke rumah atau ke kontrakan/kost. Perjalanan kuliah mereka mahasiswa kupu-kupu tentunya mulus-mulus saja, mahasiswa kontrakan atau rumahan. Ibarat anak-anak pulang sekolah, “langsung pulang ya, jangan main dulu…!” kata yang selalu diteriakkan orang tua ketika anak-anaknya mau berangkat sekolah.
Tapi tunggu dulu, bukan berarti mahasiswa kupu-kupu tidak mengasyikkan. Bagi saya, teman-teman mahasiswa kupu-kupu bisa memaknai satu lagi kupu-kupunya bukan makna yang tadi, tetapi Kuliah-pustaka. Kalau yang ini, saya yakin mahasiswa benar bisa menjadi mahasiswa. Mahasiswa yang hobi membaca, melihat, dan menulis tentunya akan lebih memahasiswa. Setuju tidak?
Jadi saya sekarang mahasiswa kura-kura atau kupu-kupu?
29.12.08
Kita Masih Satu Perahu
kita masih satu perahu,
perahu layar berbendera Islam
kita masih satu perahu,
yang hari ini akan berlayar mengarungi kehidupan
menuju kejayaan umat
perahu yang roda-roda putarnya
diminyaki dengan semangat kesatuan
asa, juang, optimisme, dan persaudaraan
tiang-tiangnya sekuat azzam di jiwa
kita masih satu perahu,
bersiaplah,
perahu ini akan berlayar
kita adalah nakhoda
awaknya adalah kita
kita memimpin dan dipimpin
kita masih satu perahu,
kita berangkat, tinggalkan satu yang menyejarah
tinggalkan Mekah menuju tanah Yastrib
tinggalkan jahiliyah menuju ilmiah
menjadi lebih baik
siapkan peluit introspeksi
naikkan layar resolusi
siap nakhoda? siap awak?
tiang-tiang?
"sesungguhnya hijrah itu tidak ada hentinya, sehingga terhentinya taubat,
dan taubat itu tiada hentinya sehingga matahari terbit dari sebelah barat"
(Muhammad bin abdullah)
siapkan diri! kita akan berlayar dalam satu perahu
yang berbendera islam,
dakwah menuju kejayaan umat dan agama
Nimiasata,
Rumah Laskar yang cerah secerah Sang Surya
2008
perahu layar berbendera Islam
kita masih satu perahu,
yang hari ini akan berlayar mengarungi kehidupan
menuju kejayaan umat
perahu yang roda-roda putarnya
diminyaki dengan semangat kesatuan
asa, juang, optimisme, dan persaudaraan
tiang-tiangnya sekuat azzam di jiwa
kita masih satu perahu,
bersiaplah,
perahu ini akan berlayar
kita adalah nakhoda
awaknya adalah kita
kita memimpin dan dipimpin
kita masih satu perahu,
kita berangkat, tinggalkan satu yang menyejarah
tinggalkan Mekah menuju tanah Yastrib
tinggalkan jahiliyah menuju ilmiah
menjadi lebih baik
siapkan peluit introspeksi
naikkan layar resolusi
siap nakhoda? siap awak?
tiang-tiang?
"sesungguhnya hijrah itu tidak ada hentinya, sehingga terhentinya taubat,
dan taubat itu tiada hentinya sehingga matahari terbit dari sebelah barat"
(Muhammad bin abdullah)
siapkan diri! kita akan berlayar dalam satu perahu
yang berbendera islam,
dakwah menuju kejayaan umat dan agama
Nimiasata,
Rumah Laskar yang cerah secerah Sang Surya
2008
11.12.08
Hari Lari
ku ingin berlari meninggalkan hari
melompati diri
menjauh..
menjauh... uh.. uh..
dari alam
melupakan angin yang bertiup sepoi
membiarkan laut menyisir pantai
dan,
musim semi yang senantiasa menawan
sisakan saja senyum
hanya dia milikku
tinggalkan ini
menjadi diri yang terlepas dari asa
”fa akuunu nasyan mansiya”
Maka jadilah aku manusia yang terlupakan
Drama ini sudah berakhir Bung!!
Cukup bagiku skenario lama
Yang sempat membalut jati diri
Hari ini bukan kemarin
Besok pun ada setelah ini
Congratulation!!
Selamat, Anda Menang!!
Padang, 2008
Nimiasata
melompati diri
menjauh..
menjauh... uh.. uh..
dari alam
melupakan angin yang bertiup sepoi
membiarkan laut menyisir pantai
dan,
musim semi yang senantiasa menawan
sisakan saja senyum
hanya dia milikku
tinggalkan ini
menjadi diri yang terlepas dari asa
”fa akuunu nasyan mansiya”
Maka jadilah aku manusia yang terlupakan
Drama ini sudah berakhir Bung!!
Cukup bagiku skenario lama
Yang sempat membalut jati diri
Hari ini bukan kemarin
Besok pun ada setelah ini
Congratulation!!
Selamat, Anda Menang!!
Padang, 2008
Nimiasata
Sapaan
ada Sahabat berteman dengan iklhas
bukan berharap ada nama
biar hati yang bertanya
pada sahabat yang mencinta
walau sempat terluka
satu kata dariku,
bersabarlah!
Nimiasata, untukmu Sahabat!
^-^
bukan berharap ada nama
biar hati yang bertanya
pada sahabat yang mencinta
walau sempat terluka
satu kata dariku,
bersabarlah!
Nimiasata, untukmu Sahabat!
^-^
Subscribe to:
Posts (Atom)
Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan
Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...
-
Tradisi Manyerak Bareh Kunik, merupakan salah satu bagian upacara adat pernikahan di Nagari Gunung, Padang Panjang. Berikut pantun yang ...
-
Bagian kedua Pantun Manyerak Bareh Kunik .. Janjirak buah janjuri Tiradah daun jilatang Tumbuah di batang baringin sonsang Siriah gal...
-
Menyulam Pernah dengar Sulaman Koto Gadang? Sulaman Koto Gadang, adalah sulaman spesifik Minangkabau yang berasal dari daerah K...