7.11.12

Hidup Terus Mengalir


 
"Kita hanya bisa memahami keajaiban hidup secara penuh ketika membiarkan yang tak terduga untuk terjadi." (Paulo Coelho)


Kadang kita terlalu egois untuk mengatur kehidupan sendiri, semaunya. Kita tak sadar, bahwa pada setiap urusan dalam kehidupan ini ada lakon-lakonnya. Dan setiap lakon pasti ada sutradaranya. 

Kehidupan yang seperti air ini, akan terus bergulir, senantiasa mengalir. Kita tak pernah tahu, kemana akan bermuaranya aliran ini. 

Tugas kita, kembali hanya menjalani dengan peran terbaik yang kita bisa. Mengambil pelajaran di pengujung episodenya. Belajar untuk  episode berikutnya. Menikmati setiap lakon yang diperankan. Lalu memaknai apa saja yang bisa dimaknakan. 

Hei! Bukankah hidup seperti sandiwara? Hanya peran nyata dan pura-pura itu kadang sulit kita batasi dan pahami. 

Hidup akan terus mengalir, seburuk apapun kau menjalaninya. Hidup akan terus melaju, meski kau berhenti semaumu. Hari akan berganti. Masa terus bertukar. Kesempatan akan beakhir sia-sia jika saja kau tak mampu mendeteksinya. 

Bersemangatlah! Bahwa hidupmu bukan di tangan orang lain. Bahwa harimu bukan karena orang lain. Jalankan peranmu dengan baik, karena kau yang menginnginkannya, bukan tersebab orang lain. Hidupmu adalah hidupmu. 

Never compare ur journey with someone elses. Ur live is urs! So, just do ur best for Ur Best Future! 



Mari, menjalani, menikmati, memaknai, bersabar dan ikhlas dengan semuanya. Semua akan indah, karena memang begitu ketentuanNya. :)

Jeda




Dan, sepertinya kita memang butuh satu waktu untuk melarikan diri dari segala rutinitas yang mengikat. Mengikat pikiran, melelahkan raga, mematikan rasa. Hanya agar tak jenuh dan bosan saja.

Maka jika kau telah kembali esok, dan hari selanjutnya, kau akan temukan sesuatu yang baru yang bisa menyita energi positifmu, lalu mengubahnya menjadi rindu dan semangat yang menggebu.

Kita hanya perlu rehat sejenak dari apapun pekerjaan, tugas, dan kewajiban. Kita perlu berhenti sebentar dalam perjalanan yang panjang ini. Sekedar menarik nafas lebih dalam. Sekedar melepaskan penat yang menggelayut di jiwa.

Karena kita tahu, tugas dan kewajiban dalam hidup ini tak akan pernah berakhir. Selalu berganti, terus bertukar. Kehidupan seperti kita menapaki tilas sejarah yang terus berganti. Kita tahu, ada amanah di sana. Kita tahu, kewajiban akan ditukarNya dengan hak yang sepadan. Kita tahu semua tidak berakhir sia-sia. Tapi jeda itu juga menjadi hak kita.

Jeda hanya waktu sejenak yang kita butuhkan untuk kembali menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang. Dan kita bukan robot yang bisa terus-menerus hidup. Bahkan robot sekalipun, hidup sampai energinya habis. Lalu ia akan mati. Jeda. Sampai dihidupkan kembali dengan energy baru.
Jeda yang kita butuhkan juga tak akan lama. Karena kita akan kembali bangun, sadar lalu bergerak lagi. Kita menyadari bahwa ada keterbatasan waktu dalam kehidupan ini. Hingga jeda pun tak perlu berlama-lama.
Kita sadar, bahwa kita memiliki keterbatasan yang rapuh, dan kita juga tahu bagaimana mensiasati keterbatasan itu untuk tetap bisa bertumbuh, bergerak dan maju menjadi lebih baik.
  
Maka, tak ada yang salah jika kau memberi space dalam kata-katamu, memberi jeda dalam bicaramu, memberi rehat dalam urusanmu. :)

Mengeja Kata



Kalau kau sulit mengeja kata, belajarlah dulu mengenal huruf. Kenali detailnya. Perlahan, satu persatu, gabungkan huruf-huruf itu. Menjadi kata. Satu kata kau cerna. Kembali analisa, huruf-huruf yang ada di dalamnya. Kenali kata itu. Kau baca. Baca lagi. Baca lagi. Sampai kau menjadi sangat kenal. Bahkan lelah. Sudah, berhenti.
Lalu apa? 

Lalu, kau beranikan diri merangkai kata-kata itu menjadi sebuah idiom. Gabungkan saja. Apa artinya, bagaimana maksudnya. Pahami lagi. Terus pahami. Tidak mudah? Kau bisa.

Kemudian kau coba rangkaikan idiom dan kata-kata itu menjadi sebuah kalimat. Terus begitu. Rangkai terus. Jadilah ia kalimat. Apa susahnya?

Jika kau telah membaca kalimatmu sendiri, sadarilah bahwa kalimat itu adalah susunan huruf dan gabungan kata-kata yang sejak awal telah kau kenali. 

Dengan mengenal sesuatu yang dari dasar membuat kau benar paham hal-hal kecil sebelum menjadikannya sesuatu yang besar. 

Singkatnya, ide besar adalah rangkaian proses dari ide-ide kecil dan sederhana yang biasa kau ciptakan, gabungkan dan rangkaikan. 

Lalu, apa kau masih kesulitan mengeja kata? :)
 

20.10.12

Dari PNS, Partai ke Marah Istri




Siang itu, saya pulang menumpang sebuah minibus jurusan Padang-Payakumbuh. Duduk di sese –kata orang- pula. Bersebelahan dengan saya seorang bapak kira-kira di atas 50 tahun usianya. Tubuhnya sedikit besar, tidak terlalu tinggi, dari wajahnya terlihat agak ramah. Ramahnya itu terbukti ketika ia langsung menggeser duduknya, mempersilakan saya duduk dengan nyaman. Lalu menyapa. 

“Dima dinas Buk?”[1]

Saya lalu menjawab biasa. Sedikit basa basi. Maklumlah, di kampung kami masih berlaku tradisi basa basi untuk silaturahim seperti itu.

Siang itu pembicaraan kami, -lebih tepatnya- cerita si Bapak bermula. Dari PNS sampai ke marah istrinya. Saya dengan khidmat kemudian mendengarkan. Tak berminat banyak komentar. Bisa benar apa yang disampaikannya, boleh jadi juga jauh panggang dari api. Ota-ota lapau[2] saja kata orang.

Si Bapak tak segan, terus antusias berbagi argumen dengan saya. Walau hanya dibalas “o” atau “iya”, dan kata singkat lainnya, tampaknya khafilah tetap berlalu, cerita terus berlanjut.

“Owh. Berarti sudah SK ya?”

“Sudah pak.”

“owh, ya, baguslah.”

“Saya heran, anak muda jaman sekarang, apalah yang dimimpikannya. Terus menerus berharap pada PNS. Padahal, apalah yang bisa diharapkan,” ia melanjutkan.

“Kalau dihitung-hitung, beribu orang hendak ikut dalam tes CPNS itu. Sarjana-sarjana kita ini, ikut pula. Nah, yang akan diterimanya, berapalah. Sedikit sekali. Berapa kali berapa itu peluangnya.”

“Apalagi nanti, sekitar 2018, mana ada tes PNS lagi. Paling juga orang-orang honor itulah yang diangkat.”

“Hmm.” Saya tersenyum simpul.

Masa sih? Kayaknya ga deh. Trus kalau begitu, pensiunan mau digantikan siapa? Formasi-formasi baru dalam aparatur negara mau diisi siapa? Ah, sotoy juga nih Bapak.

“Saya ya, ada anak muda di kampung saya. Sarjana-sarjana itulah, saya sampaikan kepada mereka. ‘Kalian, kalau mau berharap pada tes PNS, kapan mau jadi orang. Kita itu hebat bukan karena enaknya kerja. Tapi pengalaman dan susah payah itu yang menjadikan kita hebat. Pemerintah itu, hanya ndak mau saja bilang ke rakyat, kalau tak cukup anggaran untuk menggaji orang lebih banyak lagi. Nah, gaji itu kan dari pajak, dari retribusi, dari rakyat. Kan susah nanti pemerintah.” Si Bapak menjelaskan.

“Pemerintah itu berharap pada sarjana agar membuka lapangan pekerjaan baru, bukan malah hanya jadi pekerja, pekerja, pekerja.”

“Saya sarankan mereka agar ikut dalam partai politik Buk. Kan, 2014 tidak lama lagi. Coba dihitung-hitung Buk, setidaknya satu partai itu harus ada 14 orang sarjana. Tapi banyak yang tidak termakan kaji saya ini oleh mereka. Haha.”

“Coba Buk! Sebenarnya tidak sulit. Kalau satu partai itu butuh 14 orang sarjana, suara yang perlu dicari masing-masingnya anggaplah 150 suara. Nanti dalam partai, alihkanlah suara yang lain pada suara terbanyak dalam partai itu. Sudah dapat itu dua kursi. Mudah kan?”

“Nanti, kalau sudah pasti, sudah bekerja, kan bisa itu pinjam uang. Pinjamlah 150 juta. Kembalikan lagi ‘bantuan’ kawan-kawan separtai tadi. Kita kan ndak mengantar uang ke rumah-rumah. Ndak ada sogokan. Hanya kepercayaan. Kalau sudah begitu, tidak mungkinlah kalau ia seorang tokoh berpengaruh di kampungnya, tak bisa kumpulkan 150 suara.”

“Lain halnya kalau beda daerah. Dia orang Payakumbuh, men-calon pula di Bukittinggi, jauh itu. Iyalah nanti tak dapat suara.”

“Saya Buk, memang baru dua bulan ini di partai. Tapi saya terus menyemangati anak muda agar masuk bergabung di partai. Kapan lagi? Siapa lagi yang akan jadi wakil rakyat? Syaratnya juga tak sulit-sulit. Sudah 21 tahun. Setidaknya tamat SMA. Bisa itu. Ah, saya saja yang tamat SMA ini berani. Kenapa sarjana-sarjana kita ini tak berani. Padahal kan sekolah atau kuliah itu ya, untuk mengembangkan pikiran kan. Kalau pintar itu sudah dasar, pikiran itu yang dibangun di kuliahan. Nah, soal sosial ini kurangnya. Banyak sarjana kita tak bisa terjun langsung dengan ilmunya ke masyarakat. Tidak aktif sosial. Kurang peduli. Apa jadinya nanti, oi, pintar-pintar sajalah sendiri. Tak ada pula pedulinya pada negeri.”

“Ada benarlah S2, kadang tiba di masyarakat itu kesulitannya Buk.”

“Ada juga, sudah susah-susah disekolahkan orang tuanya, bukan lapangan kerja yang dibuatnya, beternak ayam saja kerjanya di rumah. Apalah itu. Kalau akan beternak ayam juga, kenapa akan tinggi-tinggi sekolah. Baguslah tamat SMA langsung beternak. Toh, kalau sekedar menyuntik dan memvaksin ayam tak perlu ijazah S1 kan. Haha.”

            “Oh..iya..ya”

“Istri saya juga guru loh Buk.” Si Bapak mengalihkan tema.

            “O, iya pak?”

“Iya. Guru SD tapi. Dia terus-terusan jadi guru di kelas satu. Hahaha.”

“Heran pula. Tampaknya berbeda cara kalau jadi guru kelas satu ini dengan guru kelas lain. Kalau guru kelas satu, mereka mengajar lebih, bagaimana ya, istilahnya. Agak parabo/pemarah di rumah. Ya, kadang-kadang suami yang jadi korban.”

“Saya sering kanai Buk. Kadang, ya laki-laki ini, lelah pulang bekerja, ingin pula berkumpul dengan teman-teman di lapau. Tapi ya, itu tadi. Istri saya marah. Hahaha.”

“Kadang, kata teman saya, ‘Ha. Baa. Lah Megawati pulo kini tu nan di ateh?’ –hahaha.”

“Dia ada ditawarkan jadi kepala sekolah. Tapi saya sarankan, berapalah tambahannya kalau jadi kepala sekolah. Apa sudah siap, jika nanti lebih banyak masalahnya. Prestasi sekolah yang akan dipikirkan. Kerja lembur, pulang sore. Belum lagi urusan guru-guru yang bermacam itu. Nah, tekanan-tekanan itu sajalah, tidak sebanding dengan uang ganti lelah pikiran tadi. Nanti, ujung-ujungnya, marabo saja kerjanya. Suami pula sasarannya. Hahaha.”

“Itulah Buk, susah juga ya. Mau PNS, mau anggota dewan. Susah. Hehe.”

            “hmm. “ Tersenyum.

Saya lalu pamit, turun duluan. Berterima kasih.

Tentu saja saya harus berterima kasih pada Bapak itu. Persepsi saya jadi lebih terbuka tentang profesi dan pekerjaan, khususnya perempuan. Sebagian apa yang disampaikannya jelas jadi pelajaran, sedang sebagian lain, mari dibuang saja. Kadang persepsi salah itu muncul dari orang yang tak mengerti ‘lebih’ baik. :)






[1] Dimana dinas/kerja
[2] Cerita di kedai (ringan)

Refleksi Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan

  Tiga hari terakhir saya fokus pada satu kegiatan yang bagi saya cukup istimewa: menjadi fasilitator dalam kegiatan Kesiapsiagaan Bencana b...